So In Love

So In Love
EP. 28. Pergi


__ADS_3

********


Shien kembali duduk di kursi kerjanya begitu ia selesai membereskan beberapa berkas yang sedikit berserakkan di atas meja.


Memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut nyeri, pekerjaan hari ini cukup membuat lelah tubuh dan pikirannya. Dan sepertinya Shien membutuhkan hiburan untuk menghilangkan sedikit kemumetan yang memenuhi kepalanya.


Sambil memikirkan hiburan yang cocok, Shien meraih ponselnya yang sedari tadi tidak di sentuhnya, kemudian dilihatnya pesan chat yang dikirim Langit tadi pagi.


“Jadwal operasiku padat. Untuk beberapa hari ke depan, aku mungkin gak bisa ketemu kamu dulu.”


“Tolong, selama itu kamu yakinkan diri kamu dengan baik.”


“Jangan berpikir untuk terus melarikan diri dan nolak aku lagi.”


Shien menghela napas pelan. Tak habis pikir dengan Langit yang mengatakan akan memberinya waktu, tapi terkesan memaksa dan terus memperingatkannya.


Tapi, gadis itu juga merasa lega setelah membaca pesan Langit yang mengatakan bahwa laki-laki itu akan sibuk selama beberapa hari ini. Dengan demikian, Shien memiliki jeda beberapa hari sebelum waktunya tiba memberikan jawaban yang tepat untuk pernyataan cinta Langit. Lebih tepatnya, membuat dirinya sendiri benar-benar siap mengambil langkah untuk bersama dengan Langit.


Shien sama sekali tidak menyangka bahwa akan menjadi seperti ini pada akhirnya. Keyakinan yang selama ia bangun untuk tidak boleh mengikat dirinya dengan siapapun, pada akhirnya runtuh oleh sosok laki-laki bernama Langit. Tapi walaupun begitu, Shien masih belum berani mengambil langkah. Ada beberapa hal yang masih mengganggu pikirannya untuk benar-benar menerima Langit.


Tidakkah Shien terlalu serakah untuk menerima cinta dari laki-laki sebaik Langit? Apa yang membuat gadis penyakitan seperti dirinya pantas bersama dengan Langit? Dan. . . . Shanna. Tidakkah ia terlalu jahat padanya jika melangkah maju?


Rentetan pertanyaan itu berputar-putar dalam pikirannya setiap saat, hingga membuat Shien menggantung perasaan Langit.


Dan tanpa Shien sadari, sikapnya ini justru malah membuat hati Langit terluka. Shien menutup kedua matanya rapat-rapat diiringi dengan helaan napas berat, berusaha menghilangkan kegelisahan di hatinya yang terus-menerus muncul.


Namun, di tengah keasyikannya tenggelam dalam lamunan, kepala Fina menyembul di balik pintu kaca ruangan Shien, diikuti dengan kepala lain di belakangnya. Shien memutar bola matanya malas, Fina benar-benar seperti jelangkung yang selalu datang tanpa pemberitahuan.


“Boleh masuk?” Tanya Fina dengan cengiran lebar, memamerkan giginya yang berderet rapi.


Shien menoleh jutek. Cih, biasanya juga nyelonong masuk. Apa yang merasuki Fina sampai dia minta izin segala?


Dan belum sempat Shien menjawab, Fina langsung masuk begitu saja dengan Reno yang membuntutinya seperti anak ayam.


“Abis ini mau kemana, Shi?” Fina kembali bertanya sesaat setelah ia menghempaskan pantatnya dan duduk di hadapan Shien dengan kaki bersilang. Sementara Reno memilih untuk berdiri dan sedikit menyandarkan tubuhnya pada kursi yang diduduki Fina.


“Pulang kayaknya.” Jawab Shien ragu sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas, tanpa berniat untuk membalas pesan Langit.


“Nonton bentaran, yuk. Sama nih bocil juga” Ajak Fina sambil menunjuk Reno dengan ibu jarinya. Dan yang ditunjuk hanya mendengus sebal karena semua orang terus memanggilnya bocil.


Shien tampak berpikir, mempertimbangkan untuk menerima ajakannya tau tidak. “Boleh, tuh.” Karena merasa dirinya juga butuh hiburan, Shien akhirnya menyetujui.


“Ya udah, ayo pergi.”


Fina bangkit berdiri, lalu disusul Shien. Dia menggandeng tangan Shien dan bergerak keluar dari ruangan itu.


********


Shanna terperangah sejenak di belakang Langit. Matanya menjelajah ke setiap bagian dalam cafe yang berada di dalam mall itu. Walapun hanya terilihat punggungnya, tapi Shanna jelas mengenal dengan baik siapa pemilik punggung lebar dan kekar itu.


“Langit.” Shanna menarik lengan Langit. “Lho, Sha. Di sini juga?” Langit tampak terkejut melihat Shanna.


Shanna mengedikkan bahunya sambil tersenyum cerah. “Mungkin jodoh, kali.” Sahutnya seraya bergerak untuk duduk di sebelah Langit tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.


“Sendirian aja, nih?” Shanna celingukkan. Barangkali, Langit pergi bersama seseorang dan orang itu sedang pergi ke toilet atau entah kemana, lalu Langit memilih untuk menunggunya di cafe. Namun, tak ada seorang pun yang bergerak menghampiri meja Langit.


“Tadi sama temen, tapi pulang duluan.” Sahut Langit sambil tersenyum tipis. Memang benar tadi ia pergi mengantar Jingga membeli hadiah untuk Senja yang baru melahirkan, tapi gadis itu pulang lebih dulu bersama suaminya, Biru. Padahal, mereka baru duduk di cafe. Tapi, entah apa yang terjadi tiba-tiba Biru memaksa Jingga pulang, mereka bahkan belum sempat memesan makanan.


Langit tidak mau ikut campur urusan pribadi mereka. Jadi, ia tidak terlalu memikirkan Jingga yang tiba-tiba diseret suaminya pergi.


“Kamu pesan sana, Sha. Sekalian ketemu, kita bisa nongkrong bareng bentaran.” Imbuh Langit kemudian seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Langit masih memiliki jadwal untuk memeriksa pasien dan satu jadwal operasi di malam hari. Jika bukan karena Jingga memaksanya, Langit tidak akan mau pergi keluyuran di mall seperti ini. Ia akan memilih menggunakan waktu luangnya yang hanya sedikit itu untuk beristirahat.


“Oke.” Seru Shanna sembari membentuk tanda oke dengan menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran. Gadis itu beranjak untuk memesan makanan. Tidak lupa, ia meraih kartu yang diserahkan Langit padanya.


“Lain kali, kita rencanain buat hangout atau sekedar nongkrong bareng kayak gini.” Ujar Shanna sekembalinya ia memesan makanan dan kembali duduk di sebelah Langit.


“Boleh, tuh. Emang paling enak kalau libur keluar bareng teman.” Balas Langit.


Shien sedikit kecewa mendengarnya. Kata teman itu sangat tidak enak didengar. “Kamu tentuin aja waktunya. Sekalian ajak Shien.” Tambah Langit.


Shanna masih memasang raut wajah kecewa. Langit hanya menganggapnya sebagai teman? Shanna mendesah, sepertinya sulit sekali menembus hati Langit. Walaupun sangat hangat dan asyik saat bersama, tapi Shanna merasa bahwa hati Langit sangat jauh darinya. Langit tidak pernah melihatnya sebagai seorang perempuan. Shanna jelas tahu itu.


Sebenarnya gadis seperti apa yang laki-laki di sebelahnya ini sukai? Pertanyaan itu memenuhi benak Shanna.


“Sha, kok bengong?” Tanya Langit, heran karena Shanna tak menggubrisnya.


Shanna hanya menggeleng lemah. Sejenak percakapan mereka terhenti saat pelayan datang mengantarkan makanan mereka.


“Kamu gak punya pacar, ya, Lang?” Tanya Shanna, ia hanya ingin memastikan. Dan seandainya Langit punya, ia harus tahu gadis seperti apa itu, lalu mencari cara untuk menyingkirkannya. Jahat, sih. Tapi tidak apa-apa. Namanya juga usaha. Dan Shanna adalah tipe orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.


Langit mengerutkan keningnya, lalu menjawab. “Enggak.” Shanna merasa lega mendengarnya.


“Belum. On process.” Ralatnya dalam hati. “Aku bahkan belum pernah pacaran.” Lanjut Langit, membuat Shanna terperangah tak percaya. Cowok seganteng Langit belum pernah pacaran? Kalau tidak ada yang mau, sih, sepertinya tidak mungkin.


“Serius? Gak percaya aku.” Tanya Shanna mendesak hingga membuat Langit kembali mengerutkan keningnya.


“Duhh, emang salah, ya, kalau gak pernah pacaran?” Langit seperti berontak dan memprotes.


“Gak salah, sih. Aku juga belum pernah. Hehe.” Shanna nyengir kaku. Tapi, rasanya itu berbeda. Walaupun tidak pernah berpacaran, tapi Shanna sering keluyuran menggaet banyak para cowok ganteng untuk bersenang-senang. Dalam artian, hanya mengajak mereka nongkrong, belanja, dan jalan-jalan. Shanna masih tahu batasan untuk tidak melakukan hal-hal yang mencoreng moral.

__ADS_1


“Ada pernah deket sama cewek?” Tanya Shanna berusaha mengorek informasi.


Langit terdiam sebentar untuk menyesap ice blended miliknya. “Dua kali.”


Shanna sontak menoleh. Di satu sisi, ia sedikit terkejut dengan terbukanya Langit, dan di sisi lain ia sangat ingin mendengarkan.


“Yang satu teman semasa kecil. Aku suka sama dia sejak jaman SMA, kita deket banget sampai semua orang yang lihat iri dan mengatakan kalau kami perfect couple.” Langit menghela napas sejenak untuk kemudian melanjutkan ceritanya.


“Tapi endingnya, pas SMA dia jadian sama kakak kelas, terus nikah baru-baru ini.”


Shien memasang raut wajah mengiba. Sungguh naas nasib Langit. Shanna ingin tahu siapa gadis itu, berani-beraninya menolak Langit yang setampan pangeran ini.


“Kamu masih sayang sama dia?” Tanya Shanna penasaran.


“Sayang, lah.” Sahut Langit, membuat raut wajah Shanna kembali berubah kecewa. “Tapi sebagai saudara.” Lanjut Langit. Shanna bernapas lega mendengarnya.


Namun, sejurus kemudian Shanna kembali teringat sesuatu. “Yang kedua?”


Langit menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menggigit bibir bawahnya, Langit tampak bingung. Ia ragu untuk menceritakan ini pada Shanna.


“Dia. . . .” Langit salah tingkah. Terlihat sekali gerak-geriknya. Shanna menelan ludah. Ahh, jangan bilang gadis itu adalah gadis yang sedang disukai Langit saat ini.


“Who, who’s that?” Tanya Shanna penasaran.


“Orang yang aku sukai saat ini.” Dan itu adalah jawaban yang sangat tidak ingin Shanna dengar. Gadis itu tampak menggeram dengan tangan mengepal, namun sebisa mungkin ia tetap menyunggingkan senyum paksanya.


“Tapi dia masih belum yakin sama aku.” Langit terlihat murung. “Juga, sama dirinya sendiri.” Kemudian mendesah pelan.


Shanna bedecak sebal. Bisa-bisanya ada gadis yang meragukan Langit. Seandainya saja, gadis itu adalah Shanna. Ia tidak akan pernah ragu barang sedikit pun.


Baiklah, kalau begitu Sanna harus gencar menyerang Langit dengan segala bentuk perhatian. Ia tidak boleh kalah dan mengalah.


“Jadi, dia ngegantungin kamu gitu aja?” Tanya Shanna sedikit ketus.


Langit hanya tersenyum sambil menggeleng lemah, kemudian beralih pada pasta miliknya yang mulai mendingin.


“Aku panasaran, dia kayak gimana. Apa dia tipe ideal kamu?” Shanna kembali melayangkan pertanyaan. Kenapa gadis itu beruntung sekali bisa mendapatkan hati Langit?


Langit terdiam sebentar untuk menelan makanannya. “I think so. Karena dia orang yang aku sukai, jadi dia adalah tipe ideal aku.”


“Maksud kamu?” Shien mengernyitkan keningnya tak mengerti.


“Gini, lho. Sebenarnya aku gak punya tipe ideal.” Langit menyesap minumannya sejenak. “Tapi, kalau aku udah suka sama seseorang, dia otomatis jadi tipe ideal aku.”


Shanna bergeming sambil menggenggam garpunya erat. Rahangnya terlihat mengeras. Penuturan Langit Benar-benar membuat hatinya iri.


********


Pukul tiga dini hari. Shien terbangun karena suara dering ponsel mengganggu tidurnya. Sedikit merengek kesal, tangannya lantas meraba-raba di sekitar bantal, mencari benda pipih yang terus berkedip-kedip memunculkan satu nama, Langit.


Lalu, dengan keheranan penuh. Shien menggeser icon warna hijau dan mulai berbicara dengan nada sedikit kesal.


“Shi, kamu udah tidur?” Shien mendengus. Ini termasuk pertanyaan bodoh atau bukan?


“Udah bangun. Kenapa?” Jawab Shien malas seiring dengan hembusan kasar napasnya.


Langit terdengar berdehem. “Bisa keluar sebentar? Aku ada di depan rumah kamu, nih.”


Shien yang semula menanggapinya sambil berbaring malas-malasan dan gerutuan kesal, mendadak bangun dari posisinya. Gadis itu lompat dari tempat tidur, lalu berjalan menuju balkon untuk memastikan bahwa laki-laki itu tidak berbohong.


Kedua mata Shien membulat. Benar. Walaupun samar, ia melihat sosok Langit yang selalu berkilauan di matanya itu berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Saat ini dia bahkan melambaikan tangan ke arahnya dengan ponsel yang menyala, bermaksud agar Shien bisa melihat keberadaannya dengan jelas.


“Ada apa? Ini masih terlalu pagi.” Tanya Shien masih dengan kening yang berkerut. Jelas saja, kemarin pagi Langit mengatakan tidak bisa menemuinya untuk beberapa hari ke depan. Tapi belum juga genap satu hari, ehh sudah muncul lagi saja.


“Makannya sini turun. Dingin, nih.”


Walaupun terlihat kesal, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar untuk mencari jawaban dari kedatangan Langit. Shien lantas beranjak keluar dari kamar. Tentu saja dengan berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang mengganggu agar tidak membangunkan orang-orang rumah.


Shien merapatkan cardigan kuning yang tadi ia kenakan untuk menutupi piyamanya begitu ia sampai di luar. Udara dingin di pagi buta ini benar-benar menusuk kulitnya.


Mendadak jantung Shien berdebar-debar hebat ketika dilihatnya Langit yang berdiri menunggunya sambil tersenyum senang ke arahnya.


Shien tidak menyangkal jika ia selalu dibuat terpesona oeleh sosok Langit. Bahkan saat Langit hanya tampil sederhana dengan t-shirt putih dan cardigan abu-abunya serta celana jeans, laki-laki itu tetap terlihat berkilauan di mata Shien.


“Ada apa” Shien kembali melemparkan pertanyaan ini karena masih belum mendapat jawaban. Alisnya bertaut karena masih diserbu rasa heran. Dia mengamati Langit yang nyengir, tetapi sedikit terlihat menggigil.


Laki-laki itu tersenyum geli. Matanya terjun bebas mengamati Shien di balik piyama bermotif pisangnya. “Lucu.” Komentarnya. Shien hanya mendelik.


“Kalau gak ada yang penting, aku masuk lagi.” Dengus Shien yang mendapati Langit masih anteng mengamatinya tanpa kedip.


“Kita jalan-jalan sebentar. Aku lihat, di sana ada taman kompleks.” Langit menahan lengan Shien yang hendak beranjak, lalu menunjuk ke arah taman kompleks yang tadi dilewatinya saat dalam perjalanan menuju ke rumah Shien.


“Ini masih pagi, Lang.” Shien terlihat protes.


“Jangan protes. Ayo.” Sahut Langit, lalu meraih tangan Shien dan menggandengnya.


Langit tersenyum senang karena kali ini Shien tidak bersikap defensif lagi. Shien menjadi penurut setelah malam itu. Sepertinya gadis ini benar-benar sudah mulai membuka dirinya.


“Ada sesuatu?” Shien berusaha menebak, kepalanya mendongak menatap wajah Langit yang masih terlihat tampan di bawah keremangan lampu jalan.


Laki-laki itu hanya mengangguk. Kemudian menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada kendaraan saat mereka akan menyebrang untuk memasuki taman kompleks.

__ADS_1


“Langit. . . .” Shien terperanjat kaget saat Langit tiba-tiba memeluknya sesaat setelah mereka mendudukkan diri di kursi taman.


“Aku kangen kamu, Shi.” Langit menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Shien yang tertutupi rambut.


“Baru sehari gak ketemu, tapi udah kangen. Tinggal sama aku aja mau, gak?” Pertanyaan nyeleneh Langit ini membuat Shien mendaratkan pukulan pelan di pundaknya. Laki-laki itu hanya terkekeh sebelum kemudian melepaskan pelukannya.


“Jadi?” Shien mengernyitkan keningnya penuh tanya.


“Jadi. . . .” Langit berdehem. Ia kemudian merogoh saku celana jeansnya. Telapak tangannya yang besar itu seperti menyembunyikan sesuatu begitu ia menarik tangannya dari saku celana, lalu mengambil satu tangan Shien.


Dengan gerakan lembut, Langit membuat Shien melebarkan telapak tangannya. Sentuhan tangan Langit seketika membuat tengkuk Shien meremang.


“This is for you.” Shien merasakan benda dingin, kecil dan terasa ringan di telapak tangannya.


Gadis itu mengerjap bingung tatkala ia melihat cincin emas putih bermata berlian kecil di sana, tampak berkilau pucat. Ahh, Shien tidak tahu harus berekspresi seperti apa.


Ini maksudnya apa? Langit sedang melamarnya atau hanya memberi hadiah cincin cuma-cuma karena dia banyak uang?


“Pake ini kalau kamu udah siap.” Tutur Langit kemudian dengan senyum yang tak menyurut.


“Kalau kamu terima cinta aku nanti, otomatis kita udah tunangan.” Lanjut Langit.


Shien hanya bergeming sambil menggerutu dalam hati. Langit ini apa tidak bisa jika tidak terburu-buru dan mengambil langkah sembarangan?


“Should I say that four magic words?” Goda Langit, tapi ia sungguh-sungguh.


“Will you marry . . . .” Belum selesai ia mengucapkan kata terakhir, Shien malah membungkamnya mulutnya dengan pukulan di bibir.


“Jangan ngaco kamu.” Sambar Shien sambil memasukkan cincin itu ke dalam saku piyamanya. “I will think about it.”


“But. . . , give me a moment.” Lanjutnya kemudian.


Ucapan Shien barusan sontak membuat mata Langit berkilat-kilat. Walaupun itu bukan jawaban pasti, tapi cukup membuat Langit bahagia bukan main karena Shien mengatakan atas kehendaknya sendiri bahwa dia akan memikirkannya.


“You got it.” Lalu dengan cepat Langit meraih kedua sisi wajah Shien dan mendaratkan kecupan ringan berulang-ulang pada bibir gadis itu.


“Langit, aku belum bilang mau terima kamu.” Protes Shien saat berhasil menjauhkan tubuh Langit darinya.


“Tapi, aku udah yakin sama jawaban kamu nanti.” Langit lantas membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


“Langit, lepasin. Nanti ada orang lihat.” Ucap Shien sedikit was-was sambil berusaha mendorong tubuh Langit, namun pelukan laki-laki itu terlalu erat.


“Itu bagus. Paling kita langsung dinikahin.” Celetuk Langit nyeleneh. “Iya, tapi predikatnya pasangan mesum.” Cebik Shien seraya memukul punggung Langit dengan keras.


Langit terkekeh pelan, lalu semakin mengeratkan pelukannya. “Let me hold you for a second.”


Sejenak, mereka terdiam dalam posisi Langit mendekap tubuh Shien. Hanya suara hembusan napas dan semilir angin, serta suara binatang malam yang memecah keheningan.


Walaupun Shien tidak membalas pelukan Langit, tapi tak bisa dipungkiri jika ia menikmati pelukan itu. Hangat, menenangkan, dan menyenangkan.


“Aku harus pergi, Shi. . . .” Shien mendongakkan kepalanya untuk menjangkau wajah Langit. Meskipun diam, tapi tatapan gadis itu penuh tanya.


“Aku ada dinas ke luar negeri. Rumah sakit mengharuskan aku ke sana.” Jelas Langit tanpa bermaksud untuk menjelaskannya secara detail.


“Ehh, luar negeri? Ke mana? Kapan” Rentetan pertanyaan itu refleks keluar dari mulut Shien. Entah kenapa, ia merasa sedikit tidak rela mendengar laki-laki ini akan pergi jauh darinya. Dan juga, kenapa pemberitahuannya sangat mendadak?


“Hari ini ke Spanyol. Aku berangkat pagi, makannya ke sini dulu nemuin kamu.” Jawab Langit dengan seulas senyum tipis tersungging dari bibirnya.


“Lama?” Masih di luar kendalinya, Shien bertanya seperti itu dengan nada lirih.


“Sekitar sepuluh hari, mungkin. . . .” Jawab Langit tak kalah lirih. Tapi, ia senang karena Shien menanyakannya.


Keduanya lalu terdiam hingga sekian menit terlewati. Mereka seperti sedang berbicara dalam pikiran masing-masing.


“Kenapa?” Tanya Langit tersenyum meledek.” Gak mau aku tinggal? Takut kang. . . . Aaaaw.” Langit memekik begitu Shien mendaratkan satu cubitan keras di pahanya.


“Mau pergi seratus hari pun, aku gak peduli.” Shien mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya. Masih pagi-pagi buta begini, Langit sudah menggodanya saja. Menyebalkan.


“Ahh, masa?” Langit memiringkan wajahnya untuk bisa melihat wajah Shien. “Bodo.” Sambar Shien ketus. Langit tersenyum geli melihatnya.


“Uhh, gemesin. Jadi pengen masukin kamu ke koper, terus aku bawa ke Spanyol bareng aku.” Langit dengan gemas menciumi pelipis Shien hingga membuat gadis itu protes risih, lalu mendorong kepala laki-laki itu agar berhenti menciuminya


“Udah, kan? Kalau gitu aku mau pulang.” Shien melepaskan tangan Langit yang masih anteng melingkar di perutnya dengan sedikit rasa kesal. “Take care.” Lanjut Shien sambil beranjak dari duduknya.


“Mana ada udah.” Shien terkejut saat tangan Langit dengan cepat meraih pinggangnya hingga membuatnya terjatuh di atas pangkuan laki-laki itu.


“Langit. . . .” Shien memukul pundak Langit dengan keras. Tapi laki-laki itu tidak peduli.


“Ada yang ketinggalan. . . .” Dan tak butuh waktu lama untuk Langit memiringkan wajahnya, dan mencium bibir gadis itu seduktif.


Kali ini Langit melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Jika biasanya Langit harus memancing Shien untuk membuka mulutnya, tapi gadis itu mulai mengerti dan berinisiatif sendiri membuka mulutnya. Lidah Langit lantas menerobos, memasuki mulut manis Shien yang membuatnya tidak bosan untuk terus menikmatinya.


Tangan Langit tidak tinggal diam. Ia mengusap dan mengelus punggung Shien hingga membuat gadis itu melenguh, mengeratkan pegangan tagannya pada pundak Langit.


Langit melepaskan ciumannya untuk memberi jeda. Memberi waktu untuk mengambil napas bagi keduanya. Mata Shien yang sempat terpejam lantas terbuka saat tautan bibir mereka terlepas.


Pandangan mereka saling beradu, napasnya saling bersahutan. Masih dengan napas terengah, Langit menempelkan kening Shien dengan keningnya.


“Saat aku pulang nanti, aku harap kamu bisa kasih aku jawaban yang pasti.” Langit mengecup ujung hidung Shien.


“Aku gak mau dengar jawaban yang mengecewakan.” Lalu kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Shien untuk mengulang ciumannya.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2