So In Love

So In Love
EP. 58. One Sided Love


__ADS_3

Sorry kalau kurang nge****feel.


Selamat membaca.


********


“Eungh. . . , Lang.” Shien mendorong dada Langit dengan susah payah, sehingga tautan bibir mereka terlepas.


“Kenapa?” Langit menatap gadis itu dengan tatapan protes. Bagaimana tidak? Shien tiba-tiba menghentikan kegiatan mereka di saat sedang panas-panasnya.


“Kayaknya ada orang masuk.” Jawab Shien seraya menoleh ke arah pintu yang masih tertutup rapat itu. Langit mengikuti arah pandang Shien, dan ia tidak melihat siapa-siapa ataupun mendengar seseorang masuk.


“Gak ada, kok.” Langit memutar kembali kepalanya, lalu mencari bibir Shien untuk melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terhenti.


“Tapi aku denger suara knop pintu ketutup.” Shien menahan pundak Langit saat dia mulai mendekatkan kembali wajahnya.


Langit memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napasnya dalam-dalam. Gemas sekali dengan gadisnya yang tetap keukeuh. Padahal, jelas tidak ada siapa-siapa yang masuk. “Kamu salah denger kali.”


Shien terdiam dengan kening sedikit mengkerut, pandangannya masih belum beralih dari arah pintu. Shien yakin, ia tidak salah dengar, kok. Tadi ia mendengar seseorang menutup pintu. Tidak mungkin itu hantu, kan? Karena setahu Shien, yang ia lihat di dalam film, hantu itu bisa keluar masuk tanpa harus melalui pintu.


“Shienna.” Panggil Langit gemas, namun dengan suara selembut mungkin. Kedua tangannya lantas menangkup sisi wajah Shien agar kembali menghadapnya.


“Daripada mikirin itu, mending kita lanjutin yang tadi.” Lalu, tanpa aba-aba, Langit segera menyatukan bibir mereka.


Shien membelalak, terlalu terkejut mendapatkan ciuman yang tiba-tiba seperti itu. Langit bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengambil napas terlebih dahulu.


Ketika Langit mulai bergerak, Shien hanya menggeram. Gadis itu hanya mampu mencengkram seragam scrub di depan dada Langit ketika dia menyudutkannya pada sandaran ranjang.


Shien bisa merasakan sebelah tangan Langit yang bergerilya di pahanya yang tertutupi selimut, mengusap bagian itu membentuk sebuah pola abstrak. Perlahan matanya terpejam, menikmati bagaimana cara Langit menyentuhnya.


Ia menepuk-nepuk dada Langit dengan keras saat dirasa oksigen yang melingkupi paru-parunya mulai menipis, dan itu langsung dimengerti oleh Langit yang kemudian melepas tautan bibir mereka untuk sejenak, hanya untuk membiarkan Shien mengambil oksigen.


Detik berikutnya, Langiit kembali menyatukan bibir mereka, Kali ini lebih tergesa karena ia mulai memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir bawah Shien, menuntut gadis itu untuk membuka mulutnya, sehingga ia bisa menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Shien yang selalu terasa manis.


Saat kesadarannya mulai kembali, dan sebelum Langit melakukannya semakin jauh karena dua kancing baju pasien Shien sudah terbuka entah kapan tepatnya, Shien mendorong dada Langit sekuat tenaga hingga pagutan mereka terlepas.


“Mama masih di luar.” Ujar Shien mengingatkan dengan napas terengah. Satu tangannya menahan lengan Langit yang nyaris saja membuka kancing ketiganya.


“Tante Risa masih di kedai kopi.” Sahut Langit, suaranya terdengar berat, matanya tampak sayu. Ia kemudian menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Shien, mulai mengecupi leher jenjang itu. Shien menggelinjang merasakan geli.


“Iya, tapi ini udah satu jam lebih. Dia pasti lagi balik ke sini. Uhh. . . .”


Sial. Bukannya menahan Langit melakukan itu, Shien malah mengeluarkan desahan pelan seiring dengan kepalanya yang ikut mendongak, sehingga semakin memudahkan Langit untuk mengecupi lehernya.


Dan di saat Langit akan memberikan love bite di leher jenjang itu, suara deritan pintu terdengar hingga membuat Langit refleks melompat dari ranjang, memutus kegiatan intim itu dengan segera.


“Lho, cuma berdua? Kamu lagi ngapain, Lang?” Seseorang dengan suara bariton tegas, berjalan menghampiri dan menatap mereka penuh curiga, menyelisik dua sejoli itu siapa tahu sedang atau telah melakukan hal yang tidak pantas.


“Lagi benerin infusnya Shien, Om.” Sahut Langit seraya berpura-pura memperbaiki transparant film yang melintang di punggung tangan Shien untuk mempertahankan kateter jarum infus agar tidak bergerak ke mana-mana.


Langit bernapas lega, meskipun jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya. Beruntung dia cepat tanggap. Kalau sampai Om Sendy memergokinya tadi, mungkin Langit akan keluar dari ruang rawat Shien dalam kondisi babak belur. Tapi, itu akan bagus kalau ia dan Shien langsung diarak ke depan Penghulu.


“Kamu sih gerak-gerak. Jadi lepas gini, kan? Untung gak berdarah.” Omel Langit, bersandiwara. Sementara Shien hanya mendelik sebal. Sebal karena Langit tadi tidak mengindahkan peringatannya. Alhasil, mereka jadi blingsatan seperti ini, kan?


“Kenapa Papa kamu bisa ke sini?” Tanya Langit berbisik. Shien hanya menjawabnya dengan gerakan mulut sambil mengedikkan bahu. “Mana aku tahu.”


“Kalian ngomongin apaan, kok pake bisik-bisik segala?” Tanya Papa curiga, saat ini beliau sudah berdiri di samping ranjang pasien. Sorot matanya mengawasi keadaan di sana layaknya seorang Detektif. Tidak ada yang aneh, hanya ranjang Shien tampak berantakan dengan mahkota bunga Mawar yang berceceran sampai ke lantai, dan. . . .


Mata Papa langsung terbelalak kala melihat beberapa kancing baju anak gadisnya terbuka.


“Kami gak lagi ngomong apa-apa. Papa mungkin salah denger.” Sahut Shien berusaha setenang mungkin. Begitu pula dengan Langit yang kini sudah berdiri tegap di samping gadis itu.


“Kalian gak habis melakukan sesuatu yang enggak-enggak, kan?” Sudah tidak tertarik lagi dengan pertanyaan sebelumnya, Papa lantas kembali melontarkan pertanyaan lain, tatapannya penuh selidik.


Layaknya kucing yang kedapatan mencuri ikan, baik Langit ataupun Shien, wajah mereka menegang seketika.


Langit menyentuh tengkuknya yang mendadak kaku sebelum kemudian ia menjawab gugup. “Kami. . . , gak ada ngapa-ngapain kok, Om.”


“Bener, Shi?” Kali ini sorot mata Papa tertuju pada Shien. Tatapannya begitu tajam hingga membuat Shien kesulitan menelan ludahnya karena takut.


Shien lantas mengangguk ragu. “Papa boleh gundulin kepala Langit kalau kami kedapatan melakukan sesuatu di luar batasan.” Ujarnya sangat santai.


Langit yang mendengar itu langsung menoleh dengan mulut sedikit menganga serta tatapan protes, bisa-bisanya Shien menggunakan rambutnya sebagai jaminan. Shien merasakan tatapan itu, tapi ia tidak peduli. Yang penting, mereka harus segera keluar dari situasi menegangkan ini.


Papa menghela napas dalam-dalam guna mencari kesabaran di sana. Ia tahu, kedua anak yang ada di depanya itu sedang berbohong. Kentara sekali dari gelagat mencurigakan mereka. Kalau sudah begini, sepertinya ia harus segera mendiskusikan pernikahan mereka dengan temannya, Wijaya.

__ADS_1


“Pa. . . .” Panggil Shien takut-takut, karena Papa hanya terdiam dengan wajah sedingin es, membuat ruang rawat itu seketika membeku, angin dingin seolah berhembus menyentuh tengkuk Langit dan Shien.


“Ini sudah malam. Langit, kamu lebih baik segera pulang. Bukannya besok masih harus kerja?” Usir Papa secara halus.


“Kamu bisa datang ke sini besok lagi.” Imbuh Papa, takut-takut Langit berpikiran bahwa ia tidak menyukainya. Bukan, Papa bukannya tidak menyukai Langit. Hanya saja, ini memang sudah larut malam.


“I. . ., iya, Om.” Jawab Langit gelagapan. Tidak pernah ia merasa segugup ini dalam hidupnya. Wajah dingin Om Sendy benar-benar menyeramkan. Langit sekarang tahu Shien menuruni sikap seperti itu dari siapa.


“Kalau gitu. Aku pamit pulang, Om.” Ujarnya kemudian, Om Sendy hanya mengangguk.


“Aku pulang dulu, Shi.” Langit menyunggingkan senyumnya yang sedikit kaku ke arah Shien. Padahal, jika tidak ada Om Sendy, sudah dipastikan Langit akan mencium kening gadis itu sebagai tanda berpamitan.


Dan seperti istilah like dady like daughter, Shien juga menanggapinya dengan anggukan sebagai jawaban.


Setelah itu, Langit kemudian keluar dari ruang rawat Shien dengan helaan napas lega. Ternyata, orang di luar sana yang mengatakan bahwa Ayah dari gadis cantik kebanyakan galak, ehh, bukan galak, lebih tepatnya over protective itu adalah benar. Langit mungkin masih bisa becanda dengan Tante Risa, tapi berhadapan dengan Om Sendy itu lebih menegangkan dari ujian masuk Sekolah Kedokteran saat di Oxford dulu.


Setelah kepergian Langit, Shien terjebak sendiri di sana. Gadis itu langsung mendapat omelan, serta ceramah penuh nasihat selama satu jam tanpa jeda dari Papa.


********


Shanna termenung, berdiri dengan kedua tangan bersandar pada tembok pembatas yang terbuat dari beton, di atap gedung rumah sakit. Angin berhembus sedikit kencang, sehingga menerbangkan rambut warna-warni Shanna yang tergerai.


“Jahat.” Gumam Shanna pelan.


Pemandangan yang ia lihat di ruang rawat Shien tadi masih terus berputar di kepalanya seperti roll film. Shanna hanya tersenyum getir saat mengingatnya.


Keadaan jika Langit tidak menyukainya, mungkin Shanna masih bisa menerima itu. Tapi, kenyataan bahwa Langit mencintai adiknya, Shanna tidak bisa menerimanya.


“Apa ini semacam, cinta bertepuk sebelah tangan?” Shanna tersentak kala mendengar suara seseorang. Saking terlalu larut memikirkan Langit, ia sampai tidak sadar jika orang yang menyeretnya ke sini masih berdiri di sebelahnya.


“Kamu masih di sini?” Tanya Shanna begitu ia menoleh. Namun, ia tidak berniat mengusirnya.


Nathan mendengus, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya. “Bagus, aku dianggap patung.”


“Lagian, kamu ngapain masih di sini, Dok. . . .”


“Nathan. Panggil aku begitu. Aku bukan dokter kamu.” Sambar Nathan, meminta Shanna untuk memanggil namanya akrab.


Shanna mendengus geli. “Wait, sejak kapan kita seakrab itu?”


“Sejak hari ini.” Sahut Nathan enteng.


“Ngawasin kamu yang mungkin saja bisa tiba-tiba lompat dari atas sini.” Sahut Nathan. Wajahnya sesekali mengernyit, merasakan geli karena rambut Shanna yang diterpa angin mengenai wajahnya.


Shanna menatap Nathan dengan raut wajah bingung. “Ngapain lompat dari sini? Kamu pikir aku mau bunuh diri?”


Nathan mengangkat bahu sambil mengerlingkan matanya seolah mencibir. “Bisa jadi. Orang patah hati biasanya gak segan-segan untuk melakukan hal-hal ekstrim.”


Bibir Shanna mengerucut sebal. “Siapa juga yang patah hati? Elaknya kemudian, lalu memalingkan wajahnya, menatap pemandangan malam kota Bandung yang terlihat jelas dari atas sana.


“Kamu nangis hampir setengah jam setelah melihat adik kamu dan pacarnya berciuman. Kalau bukan patah hati, apa namanya?” Sahut Nathan, mengingat tadi ia tak sengaja mendapati Shanna berdiri mematung di ambang pintu menyaksikan Langit dan Shien dengan wajah sedih menahan tangis.


Dan begitu ia membawanya ke atap gedung, barulah tangis gadis itu pecah sampai sesenggukan. Nathan tidak bodoh untuk tidak bisa mengartikan kenapa Shanna bisa menangis parah seperti itu.


Shanna menghembuskan napas berat, lalu menunduk sedih. “Kamu bener. . . .”


“Aku patah hati dan itu. . . .” Shanna menjeda kalimatnya untuk mengambil napas sebelum kemudian ia kembali bercerita. Sebenarnya, tidak buruk juga Nathan menemaninya di sini. Shanna sepertinya memang butuh teman bicara saat ini.


“One sided love?” Tebak Nathan seraya menatap lekat-lekat wajah Shien yang sedang menunduk sedih itu dari samping.


Sudut bibir Nathan tertarik sedikit, sehingga menampilkan ekspresi aneh di wajahnya antara iba dan ingin tertawa. Iba karena melihat Shanna yang bersedih, dan ingin tertawa karena maskara Shanna luntur hingga membuat riasan di wajah gadis itu berantakan. Wajah cantik Shanna sekarang lebih terlihat seperti hantu Valak yang dikejar waktu saat berdandan, tapi dalam versi cantiknya. Mungkin tepatnya hantu cantik.


Shanna hanya tersenyum kecut, seolah membenarkan tebakan Nathan.


“Ck, bodoh.” Cibir Nathan yang sontak berhasil membuat Shanna menoleh ke arahnya dengan tatapan tak terima.


Nathan lantas mengubah posisinya dengan menyandarkan punggungnya pada pembatas beton itu, sehingga ia bisa memandang wajah Shanna lebih baik dengan posisi seperti itu.


“Cinta bertepuk sebelah tangan itu cinta yang bodoh. Lebih baik, cari saja orang yang sudah jelas mencintai kamu, agar kamu tidak terlalu sakit dan buang-buang waktu.” Tutur Nathan bijak.


“Kamu hanya akan terluka, kalau kamu terus memupuk rasa cinta kamu pada orang yang jelas-jelas tidak menginginkan kamu.” Imbuhnya kemudian.


“Dan kamu lupa, kalau dalam hidup ini ada istilah berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.” Shanna berusaha menyanggah, sorot matanya berubah tajam.


“Ya, dan gak semua yang kita perjuangkan, bisa kita dapatkan.” Balas Nathan penuh penekanan di setiap kata dalam kalimat yang diucapkannya.

__ADS_1


“Dan usaha tidak akan mengkhianati hasil.” Sahut Shanna tak ingin kalah.


Nathan melemparkan senyum meledek. “Hasil seperti apa yang akan kamu dapatkan dari memperjuangkan sesuatu yang nggak seharusnya diperjuangkan?”


Shanna terdiam, seolah kalimat Nathan yang baru saja diucapkan berhasil membungkam mulutnya.


Nathan menghela napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan cepat sebelum kemudian ia kembali berujar. “Jangan melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan. Karena kemampuan manusia itu terbatas.”


Sesaat keduanya membeku di tempat, saling melempar tatapan yang sulit diartikan satu sama lain. Tidak ada yang saling bicara.


“Dan kalau kamu tetap melakukannya, bukan cuma kamu yang akan kecewa, tapi Shien juga.” Tutur Nathan, membuat Shanna menghunuskan tatapan sebal ke arahnya.


“Jangan karena kamu dokternya Shien, kamu membelanya.” Tuding Shanna dengan salah satu sudut bibir terangkat membentuk senyum sinis. Selalu seperti itu, semua orang berada di pihak Shien.


“Aku nggak membela siapapun. Aku cuma mengingatkan kamu.” Balas Nathan setenang mungkin.


“Dan kamu gak berhak mengingatkan aku.” Seru Shanna geram, raut wajahnya merengut, menatap Nathan dengan tatapan kesal.


“Aku berhak karena aku. . . .” Nathan tiba-tiba menggantungkan kalimatnya, ia mengerjap seolah menyadari sesuatu.


“Karena aku orang baik. Orang baik selalu mengingatkan seseorang agar tetap berada di jalan yang benar.” Sambungnya sambil mengulum senyum simpul. Sementara Shanna hanya mendelik sebal.


Sejurus kemudian, Nathan melirik jam tangan mewah buatan Swiss yang melingkar di pergelangan tangannya sambil mengernyitkan kening. “Aku harus pergi sekarang.” Lalu menegakkan tubuhnya.


Shanna berdecih geli. “Gak akan ada yang nahan kamu untuk tetap di sini.” Ujarnya sewot. Tapi, Nathan tidak peduli dengan ucapan Shanna.


Tak lantas pergi, laki-laki tampan itu nampak merogoh sesuatu dari saku jas bagian atasnya, sebuah kain berbentuk persegi yang langsung diserahkan pada Shanna.


Shanna mengernyit bingung, menatap kain bermotif kotak-kotak warna coklat yang disebut sapu tangan itu.


Meraih tangan Shanna, Nathan lalu menyerahkan sapu tangan itu sambil mengulum senyumnya. “Jangan turun dari sini sebelum wajah kamu benar-benar bersih, atau kamu jadi bahan tertawaan orang.”


Shanna masih bergeming dalam kebingungan, tidak mengerti apa maksud Nathan memberikan sapu tangan padanya, juga ucapan laki-laki itu barusan.


Dan sampai Nathan sudah berlalu pergi dari hadapannya pun, Shanna tidak menyadarinya.


********


Pagi harinya, Shien duduk bersila, sendirian di atas ranjang pasien di ruang rawatnya sambil menghitung jumlah obat yang harus diminumnya. Raut wajahnya tertekuk murung.


“Apa sesulit itu minum obat?” Shien terlonjak kaget saat Nathan tiba-tiba sudah ada di ruangannya saja.


Shien mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan Nathan sejenak, lalu menghembuskan napas lemah sebelum kemudian kembali menatap kosong obat yang ada di telapak tangannya.


“Kamu harus mencoba minum obat setiap hari, baru bisa mengerti.” Balas Shien, walaupun suaranya terdengar lemah, tapi tidak menghilangkan nada juteknya.


“Jangan cuma ngasih sama nambahin obat buat orang doang.” Sindirnya kemudian.


Nathan diam tak menyahuti, ia lantas mendudukkan dirinya di tepi ranjang Shien.


“Kamu gak pernah mengeluh waktu kecil. Kenapa sekarang jadi sering mengeluh kayak gini, hem?” Ujar Nathan sambil mengacak-acak rambut Shien gemas.


Shien mengerjap, bukan karena ia terganggu dengan sentuhan tangan Nathan di kepalanya. Hanya saja, sepertinya ada yang salah dengan kalimat pertama yang diucapkan laki-laki yang sedang duduk di sebelahnya ini.


“Jangan bersikap seolah kita sudah lama kenal, Dokter Nathan.” Seru Shien dingin seraya menepis tangan Nathan dari kepalanya.


“Kita emang udah lama kenal.” Sahut Nathan terseyum, membuat Shien menatapnya penuh tanya.


Nathan menghela napas panjang sambil menatap wajah Shien lekat-lekat. “Aku masih ingat, wishes kamu setiap ulang tahun adalah ingin jantung yang sehat.”


Shien bergeming seraya berusaha mengingat-ingat sesuatu. Tapi, ia merasa tidak memiliki kenangan apapun dengan dokter cerewet bernama Nathan ini. Lantas, kenapa Nathan mengatakan sudah lama mengenalnya?


“Aku juga masih ingat, impian kecil kamu yang mau jadi Putri, terus nikah sama Pangeran ganteng.” Lanjut Nathan.


Shien terbelalak. Hanya satu orang di dunia ini yang tahu hal itu, tepatnya Shien hanya pernah mengatakan hal itu pada satu orang.


Satu orang. Orang itu yang merupakan teman pertama dan teman satu-satunya Shien, yang sering bermain dengannya dan Shanna. Shien juga pernah mengatakan pada orang itu jika dirinya tumbuh dewasa dengan tinggi melebihi dia, maka dia harus menikahinya. Dan itu hanya celotehan anak kecil, Shien tidak tahu apa arti menikah saat itu. Ahh, Shien geli sendiri mengingatnya.


“Sayang banget aku masih lebih tinggi dari kamu.” Ujar Nathan, dan sekali lagi dia mengelus puncak kepala Shien gemas.


“Beruang.” Raut wajah Nathan berubah merengut mendengar bagaimana cara Shien memanggilnya.


Tapi, yang pertama muncul dalam ingatan Shien memang tubuh tambun seseroang layaknya tokoh bernama Giant dalam film Doraemon, tapi dalam versi seratus kali lebih lucu.


“Nathan. . . .niel?” Ucap Shien ragu.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2