So In Love

So In Love
EP. 35. Three Magic Words


__ADS_3

********


Shien berlari keluar dari taman rumah sakit, ia harus segera pergi dan menemui Langit, entah laki-laki itu sudah datang atau belum, Shien akan mencari tahu dan menjemputnya di Bandara nanti.


Shien akan meamstikannya hari ini. Memastikan Langit menjadi miliknya, menjadikan dia satu-satunya yang Shien butuhkan, dan satu-satunya yang Shien inginkan.


Gadis itu lantas bergegas menuju parkiran basement rumah sakit dimana ia meminta Reno menunggunya di sana. Namun siapa sangka, sesampainya di sana Shien malah melihat sosok yang sangat dirindukannya baru saja turun dari mobil, terlihat berkilauan seperti biasanya.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Shien segera memanggil nama laki-laki yang sangat dirindukannya itu tak sabaran. “Langit.” Dan dia menoleh dengan tatapan sama berbinarnya dengan Shien.


Langit cukup terkejut dengan Shien yang tiba-tiba berlari dan berhambur memeluknya. Tapi sejurus kemudian, Langit membalas pelukannya lebih erat dan penuh sayang.


“Baru aja aku mau cari kamu.” Ucap Langit sambil membelai lembut rambut Shien yang halus.


“Tadinya mau ngasih surprise. Ehh, malah aku yang terkejut.” Terangnya kemudian, sementara Shien sabar menunggu laki-laki itu selesai berbicara sambil mengusap-usap punggungnya.


Tak lama, Langit kemudian menarik diri untuk menjangkau pandangannya dengan Shien, lalu ditangkupnya kedua sisi wajah itu lembut.


“Do you know that I’m counting the days until I see you again?” Shien tersenyum geli mendengarnya.


“I miss you, and I love you, Shi. . . .”


Dan bertepatan dengan kalimat Langit yang belum selesai, Shien berjinjit. Tanpa mempedulikan beberapa orang yang ada di parkiran saat itu, termasuk Reno, Shien menempelkan bibirnya ke bibir Langit.


Sentuhan itu langsung membuat Shien merasakan kehangatan sedang mengalir ke seluruh tubuhnya. Shien sendiri terkejut dengan tindakannya yang di luar akal sehat. Tapi, hasrat itu seolah menggiringnya untuk memberitahu Langit bahwa Shien juga mencintainya. Dan ini adalah jawaban atas ungkapan cinta Langit, Shien ingin bersamanya. Apapun yang terjadi, Shien ingin menghabiskan saktu yang dimilikinya hanya dengan Langit.


Shien ingin menarik diri saat tersadar, tapi buru-buru Langit menahannya. Langit menarik tubuh Shien dan menciumnya dengan gerakan perlahan serta lembut. Hingga perlahan, Shien pun membalas kecupan itu. Sangat manis dan terasa begitu memabukkan.


Untuk beberapa saat, waktu seakan berhenti dan memberi kesempatan bagi dua orang itu untuk menikmati letupan-letupan perasaan masing-masing.


“Lanjut nanti.” Ucap Langit lirih setelah menarik diri seiring dengan napasnya yang terengah. Ia lantas menempelkan keningnya dengan kening Shien, sorot matanya dipenuhi binar kebahagiaan. Tapi, juga terselip keterkejutan yang tak bisa ia tutupi.


Kedua tangannya mengelus lembut sisi wajah Shien, lalu kembali mendaratkan satu kecupan singkat pada bibir manis gadis itu, kemudian membawanya masuk ke dalam mobil.


Sementara seseorang yang sejak tadi menyaksikan adegan itu, Reno, tetap bergeming di tempatnya dengan pandangan melongo. Sesekali mengerjap, antara percaya dan tidak percaya Shien melakukan itu.


Melihat itu dari awal hingga akhir, Reno merasa lututnya melemas, wajahnya terasa memanas. Duhh, yang melakukannya Langit dan Shien, kenapa ia yang harus malu, coba?


“Dimarahin pasti gue, nih.” Reno menggerutu begitu melihat mobil Langit baru saja melewatinya. Laki-laki itu terlihat mengacak-acak rambutnya frustrasi. Sudah bisa dipastikan ia akan mendapat teguran dari Mama Shien karena tidak membawa gadis pulang bersamanya. Alasan apa yang harus Reno berikan? Ahh, sungguh menyebalkan.


********


Suasana di dalam mobil begitu canggung. Baik Langit maupun Shien, tidak ada yang membuka suara. Mereka sama-sama terdiam dengan emosi yang berbeda. Bahkan alunan musik lembut yang sengaja Langit putar pun tak mampu mencairkan kekakuan diantara mereka.


Shien melirik Langit sekilas yang sejak tadi hanya diam sambil menggenggam tangannya seolah takut gadis itu pergi. Entah kemana laki-laki itu akan membawanya, Shien tidak ingin bertaya karena terlalu malu dengan apa yang sudah dilakukannya beberapa saat lalu di parkiran rumah sakit.


Ahh, Shien ingin berteriak karena malu atas tindakannya sendiri. Wajah Shien kembali memanas kala mengingat itu, ia bahkan tidak berani menoleh ke arah Langit terang-terangan sekarang.


Sementara Langit yang melihat tingkah malu-malu Shien, hanya tersenyum gemas, sesekali ia menciumi tangan Shien yang sedang digenggamnnya, tapi hal itu tetap tak membuat gadis itu menoleh.


Langit sangat bahagia hari ini, hingga senyum mengembang yang terbit di wajahnya sejak tadi tak menyurut sedikitpun. Ahh, Langit berharap waktu berhenti saat ini juga.


“Ayo turun.” Seru Langit setelah mobilnya berhenti dan terparkir rapi di parkiran basement apartemennya.


Shien mengerjap, saking tenggelam dengan rasa malunya, sampai-sampai ia tidak menyadari jika mobil Langit sudah berhenti. Pandangan gadis itu lalu mengitari sekitar, Shien tahu mobil Langit kini sudah berada di sebuah parkiran. Tapi ia tidak tahu tepatnya dimana itu.


“Ini parkiran basement apartemen aku.” Ujar Langit seolah mampu menebak kebingungan Shien.


“Kok ke apartemen kamu?” Tanya Shien bingung.


“Kalau mau protes sekarang, itu udah terlambat.” Sahut Langit dengan tatapan penuh cibiran. “Salah sendiri tadi kamu diam aja dan gak nanya aku mau bawa kamu kemana.” Lalu senyum meledek tersungging di bibir kemerahannya.


Shien menatap Langit tidak suka. “Tahu gini aku tadi harusnya langsung pulang aja.”


“Yaaa, udah sampai sini, mau gimana lagi?” Balas Langit acuh sambil membuka sabuk pengamannya.


Tidak peduli dengan Shien yang terlihat kesal, Langit lantas membuka pintu mobil dan keluar dengan santai. Sementara gadis itu masih duduk di dalam dengan wajah yang merengut kesal. Kenapa harus ke apartemennya, coba? Tidakkah ini sedikit berbahaya jika seorang gadis masuk ke rumah laki-laki, terlebih mereka hanya berdua. Shien jadi harus meningkatkan kewaspadaannya kalau begini. Bukannya Shien berpikiran mesum, hanya saja mengingat kelakuan Langit yang sedikit berani, membuat Shien harus waspada.


Dan Shien juga tidak yakin ia bisa meningkatkan kewaspadaannya, karena pada kenyataannya Shien sendiri selalu tidak bisa mengendalikan dirinya jika itu sudah terlibat dengan Langit.


“Apa yang kamu pikirin? Ayo turun.” Shien tersentak, tahu-tahu Langit sudah membukakan pintu mobil untuknya saja.


“Shienna. . . .” Langit berucap dengan intonasi selembut mungkin saat melihat Shien yang masih asyik bergeming dalam posisinya.


“Anterin aku pulang aja, deh.” Pinta Shien dengan wajah memelas.


“Iya, nanti sore.” Balas Langit yang membuat Shien semakin kesal.


“Lagian gak asyik banget, masa baru aja mau pacaran kamu udah minta pulang.” Gerutu Langit tak kalah kesal.

__ADS_1


Shien mengerjap, dia bengong sesaat, memandang Langit dengan tatapan melongo. Apa katanya tadi? Pacaran? Ahh, Shien masih sangat aneh mendengar hubungan semacam itu kini menjadi status baru mereka.


“Turun, gak?” Langit dengan gemas menyambar bibir plum gadis itu hingga membuatnya membelalakkan mata. Shien dengan cepat menutup mulutnya sendiri menggunakan telapak tangannya. Kedua matanya lantas menyoroti Langit dengan tatapan penuh protes. Sementara Langit hanya balas menatapnya dengan santai.


“Kamu mau turun sendiri atau aku gendong, Shien?” Langit gregetan sendiri melihat Shien yang tak kunjung ingin turun.


Langit menghela napasnya dalam-dalam, kemudian berujar. “Oke, kayaknya kamu lebih suka pilihan yang kedua.”


Lantas Langit membuka sabuk pengaman yang menyilang di tubuh Shien. Tapi saat Langit mulai menyelipkan tangannya diantara punggung dan bagian belakang lutut Shien, gadis itu dengan cepat berontak dan memukul bahu Langit sekeras mungkin hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. Shien tidak menyangka jika Langit benar-benar akan menggendongnya.


“Kamu apa-apaan, sih? Aku bisa jalan sendiri.” Shien mendengus kesal.


Memalukan sekali. Seandainya Langit benar-benar menggendongnya, otomatis ia akan menjadi pusat perhatian seluruh penghuni gedung apartemen ini.


“Nurut kek dari tadi.” Ujar Langit sambil mengacak-acak rambut Shien gemas.


“Ayo, Nona Langit.” Shien menahan tawanya, merasa geli mendengar kata-kata Langit di bagian akhir hingga kekesalannya meluap seketika.


Tidak perlu berpikir lagi, Shien meraih uluran tangan Langit. Mereka kemudian memasuki gedung apartemen sambil bergandengan tangan.


Shien tertegun saat mereka baru saja memasuki lift yang akan membawa ke lantai dimana unit apartemen Langit berada. Shien merasa suasana apartemen Langit ini sangat familier. Seperti pernah mengunjunginya, tapi kapan?


“Tunggu, ini. . . .” Shien bergumam, mencoba mengingat-ingat dengan satu jari telunjuk terangkat. Tapi lamunannya buyar kala Langit menarik tangannya untuk keluar dari lift.


“Ehh. . . .” Langkah Shien gelagapan mengekori langkah Langit yang panjang saat mereka berjalan melewati lorong apartemen Langit hingga kemudian berhenti tepat di depan unitnya. Laki-laki itu terlihat tak sabaran bahkan saat membuka pintu apartemennya, Langit melakukannya dengan gerakan cepat.


Setelah pintu tertutup, Langit lantas memutar tubuh Shien hingga menghadapnya. Tak kuasa menahan perasaan bahagianya yang meluap-luap terhadap gadis itu. Tanpa ragu lagi Langit mencari bibir Shien dan menciumnya. Tidak tergesa-gesa, Langit melakukannya dengan perlahan dan lembut.


Shien terkejut dengan ciuman Langit yang tiba-tiba. Tapi ciuman yang begitu dalam dan bergairah itu, tak bisa dipungkiri jika lama-kelamaan membuat Shien turut menikmatinya. Menikmati ciuman yang selalu terasa manis dari laki-laki yang sedang merengkuhnya itu.


Darah Langit seakan dengan cepat terpompa naik hingga membuat jantungnya berdegup tak terkendali begitu Shien membuka bibirnya untuk menyambut ciumannya. Langit tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik tubuh Shien lebih dekat padanya, mencengkram pinggang ramping gadisnya, lalu menciumnya penuh serakah.


Dengan bibir yang masih bertautan, Langit menggiring tubuh Shien menuju sofa dan membiarkan gadis itu terduduk di atas pangkuannya.


Tangan Langit berpindah menuju punggung Shien, mengelusnya dengan lembut. Sementara satu tangan yang lain mengusap tengkuknya, lalu menekannya utuk memperdalam ciuman mereka.


“Tunggu. . . .” Shien menahan kedua sisi wajah Langit hingga tautan bibir mereka terlepas. Bersamaan dengan deru napas mereka yang saling memburu, Langit menatap Shien protes.


“Langit, are you sure you won’t regret it?” Tanya Shien dengan tatapan yang terlihat sendu.


Langit mengerjap bingung, dahinya mengekerut. “Menyesal? Untuk?”


“Memilih aku.” Lirih Shien.


“Tapi kamu tahu kondisi aku.” Shien menunduk sedih.


“I don’t mind that.” Langit mengangkat dagu Shien hingga pandangan mereka kembali bertemu. “And you’re becoming healthy, that’s all.” Lalu kembali mengecup bibir plum itu dengan lembut, seolah ingin membungkam mulut gadis itu untuk tidak membahas kondisinya lagi. Langit tidak suka, kondisi jantung Shien bukan alasan untuk ia tidak bisa memilihnya.


Sejak awal, Langit memilih Shien karena Shien adalah Shien. Jika bukan Shien, Langit tidak akan memilih yang lain. Itu saja.


“Aku bisa saja meninggalkan kamu lebih dulu.” Shien melepas paksa ciumannya, membuat Langit menyorotinya dengan tatapan tajam. “Dan kamu gak akan baha. . . .” Langit kembali membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya, menggigit bibir Shien hingga berdarah, seakan memberinya peringatan untuk berhenti membicarakan hal yang bukan-bukan.


Langit tidak ingin menyakiti gadisnya, tapi ia terlalu marah karena Shien terus berbicara seperti itu.


“Bodoh, kamu bisa dapetin cewek yang lebih baik di luar sana.” Shien menarik diri, matanya tampak berkilat-kilat memandang Langit yang juga sedang menatapnya dengan tatapan dingin seolah siap membekukannya.


“Dan yang lebih sehat tentunya. . . ..” Cicit Shien kemudian. Langit menghela napas dalam guna mencari kesabaran di sana. Dia tidak bisa menghentikan Shien yang terus berbicara ngawur.


Shien sendiri tidak peduli, tidak masalah jika Langit akan menggigit bibirnya lagi setelah ini. Shien harus mengungkapkan semua perasaan yang selama ini mengganjal di hatinya.


“Aku bisa drop kapan aja.” Shien menghela napas sejenak. “Dan jauh lebih buruk, dengan kondisi jantung aku saat ini bukan tidak mungkin aku bisa ninggalin kamu tiba-tiba, Tuhan bisa jemput aku kapan aja, entah mungkin beberapa jam setelah ini ataupun besok.”


Langit bergeming, kedua matanya masih setia menyoroti wajah gadis itu dengan tatapan tajam seolah siap menusuk.


“Jadi, sebelum kita melangkah lebih jauh. Kamu boleh memikirkannya lagi.” Ucap Shien dengan suara tercekat.


“Dan aku gak akan keberatan kalau kamu mau menyerah sekarang.” Setelah itu Shien terdiam dan hanya memandang Langit dengan tatapan sedih.


“Sudah selesai?” Tanya Langit sedingin es, tatapannya sangat tajam, membuat Shien menunduk tak berani menatapnya lagi.


“Shien kamu udah tahu dari awal, satu-satunya alasan aku sayang sama kamu yaitu karena kamu adalah kamu. Asalkan itu kamu, aku gak peduli yang lainnya. I love you just the way you are.” Tutur Langit sungguh-sungguh.


Hati Shien terenyuh mendengar itu. Tidak pernah Shien merasa seistimewa ini. Shien semakin menundukan wajahnya untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.


“Jangan pernah meminta aku untuk menyerah sama kamu, dan jangan pernah berpikir kamu ingin menyerah sama aku. Diantara dua kalimat itu, kalau kamu mengatakannya lagi, aku akan hukum kamu kayak gini . . . .”


Lantas yang dilakukan Langit selanjutnya adalah menempelkan bibirnya di atas bibir kemerahan itu. Mengecupnya berulang-ulang, memagut, menghisap hingga sapuan napas memburu bisa Shien rasakan menerpa wajahnya.


Langit menggigit kuat bibir bawah Shien, memaksa mulutnya untuk terbuka dan langsung meneroboskan lidahnya ke dalam rongga mulut gadis itu.

__ADS_1


Shien mencengkram bahu Langit kuat-kuat saat merasakan ciuman laki-laki itu semakin tak terkendali. Tanpa memberikan jeda untuk mengambil napas, lidah Langit terus bergerak lihai, membelit dan menggoda setiap jengkal bibir Shien.


Lalu ketika Shien merasakan pasokan oksigen mulai menipis hingga membuat dadanya sakit, gadis itu mendorong kuat tubuh Langit, tapi tidak berhasil karena Langit malah semakin menekan kepalanya. Maka yang Shien lakukan selanjutnya adalah menggigit bibir bawah Langit kuat-kuat.


“Emmh. . .” Lenguh Langit diiringi ringisan tertahan begitu pagutan mereka terlepas. Bibirnya terasa asin, gadis itu menggigitnya hingga berdarah.


Shien menatap kesal Langit dengan napas yang berantakan. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dengan pandangan yang saling beradu.


“Jangan bicara ngawur lagi. Kamu tahu, aku bisa menghukum kamu lebih dari ini? Dan yang tadi itu cuma peringatan.” Langit mengusap bibir Shien yang basah menggunakan ibu jarinya.


“Jangan mikirin hal-hal yang belum tentu terjadi.” Lalu kembali mengecup bibir Shien sekilas, kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher Shien yang tertutupi rambut, sementara kedua tangannya mendekap tubuh gadis itu posesif.


“Cukup memikirkan satu sama lain dan ayo lakukan semua hal yang hanya akan membuat kita bahagia, di setiap saat kita bersama. Saat ini, gak ada saat setelahnya untuk kita. Aku mau saat ini sangat panjang.”


Langit menarik diri, membuat sedikit jarak untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Shien. “Ayo kita hidup untuk saat ini. Jangan mengkhawatirkan detik setelahnya, menit setelahnya, jam setelahnya, hari esok, atau esoknya lagi.”


Shien tersenyum penuh kelegaan. Kalimat yang baru saja Langit ucapkan mampu meleburkan kekhawatiran yang selama ini mengganjal di hatinya.


Ya, lebih baik menikmati dan menghabiskan waktu saat ini dengan baik dan sebahagia mungkin. Apa yang akan terjadi setelahnya, tidak perlu Shien pikirkan. Itu adalah urusan Tuhan. Dan Shien berharap, semoga Tuhan memberi kesempatan kepadanya dan Langit untuk saling mencintai dalam waktu yang lama dan bahagia bersama dalam waktu yang lama pula.


Mencari bibir Langit, gadis itu lantas menciumnya, perasaannya yang meluap-luap membuat Shien mencium Langit dengan agresif. Tangannya mencengkram rambut Langit, menekan kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka. Langit jelas senang dengan tindakan Shien, lalu yang dilakukan laki-laki itu adalah membalas ciumannya dengan tak kalah menggebu-gebu. Bahkan tangannya tak tinggal diam, merambat turun, menyusup ke dalam dress yang dikenakan Shien, mengelus kulit punggung serta perut gadis itu seduktif.


Langit sangat mencintai Shien setulus hatinya, sejak awal ia sudah memantapkan hatinya dan memilih untuk mencintai Shien apapun konsekuensinya. Dan jika Langit sudah memilih, maka ia aan bertanggung jawab, dan menghadapi apapun resikonya.


Percayalah, Langit tidak akan pernah menyesal atas pilihannya. Sesakit atau sepahit apapun yang mungkin dialaminya, Langit akan menerjemahkan itu sebagai buah dari pilihan yang sangat manis.


Dulu, Langit selalu mengatakan. Seandainya Shien adalah miliknya, pasti ia akan melakukan segalanya untuk Shien. Termasuk mencintainya, melindunginya, dan memastikan gadis itu tersenyum setiap saat.


Dan sekarang Shien sudah menjadi miliknya, Langit akan ingin mengisi setiap moment bersama Shien dengan kebahagiaan dan penuh cinta.


Langit menarik diri, memandangi wajah Shien yang terpejam dengan deru napas yang tidak beraturan. Wajah gadis itu memerah, membuat Langit gemas untuk mendaratkan satu kecupan singkat di pipinya.


“Kamu gak merasa ada sesuatu yang kelupaan?” Shien membuka matanya dengan alis yang terangkat sebelah seraya mengingat-ingat. Apa sekiranya sesuatu yang sudah ia lupakan?


“Tiga kata ajaib.” Langit memberi clue seraya mengangkat tiga jarinya.


“Apa itu penting?” Tanya Shien. Ia terlalu malu untuk mengucapkan kata itu. Bukankah tindakannya sudah sangat jelas mengatakan jika ia mencintai Langit? Kenapa perlu kata-kata dari mulut juga?


“Hiish, dasar nona kaku.” Lantas dengan gemas, Langit mengecup ujung hidung gadis itu hingga membuatnya merengut geli.


“Ayo cepetan bilang. Aku mau dengar.” Titah Langit kemudian. Shien menggelengkan kepala seraya memalingkan wajahnya.


“Shienna. . . .” Dan nada suara Langit terdengar seperti ancaman untuk Shien, tapi ia masih enggan untuk mengatakannya.


“Masih gak mau bilang?” Tanya Langit gregetan. Lantas dengan cepat tangannya bergerak ke belakang punggung Shien, menurunkan sebagian resleting dress yang Shien kenakan, lalu menarik dressnya sedikit hingga bahu mulus gadis itu terpampang jelas di hadapannya.


Shien yang merasakan hawa dingin menyentuh kulit bahunya langsung menoleh panik ke arah Langit. “Kamu ngapain?” Tanyanya waspada.


Langit tak menjawab. Ia malah menempelkan bibirnya di bahu Shien, lalu menciuminya sampai meninggalkan bekas merah di sana.


“Okay, STOP! I will say.” Shien mendorong sedikit tubuh Langit untuk menghentikan kegiatannya yang bisa saja kebablasan.


“Okay. Tell me now.” Ucap Langit seraya merapikan kembali baju Shien. Namun, sebelumnya ia mencuri satu kecupan lagi di bahu gadis itu hingga membuat tangan Shien gemas untuk memukulnya.


“Ayoooo.” Desak Langit kemudian.


Shien menelan salivanya susah payah. Langit sudah sangat memojokannya, Shien tidak bisa menolaknya lagi. Mau tidak mau, Shien harus menuruti permintaan pacar barunya ini. Ahh, medengar kata pacar saja sudah sangat aneh baginya.


“A. .aku. . . .” Uhh, lidah Shien terasa kelu.


“Aku gak bisa.” Dan kalimat itu yang malah meluncur dari mulut Shien. Langit mendengus sebal.


“Kalau gitu, rasakan ini.” Langit sudah bersiap-siap menyerang leher Shien. Namun dengan cepat Shien menahannya.


“Oke, I love you. I love you more and more, I love you to the moon and back, puas?” Ujar Shien tepat di hadapan wajah Langit.


Setelah mendengar ucapan Shien, Langit langsung menyembunyikan wajahnya ke dalam ceruk leher gadis itu. Shien melongo sekaligus terdiam menyaksikan reaksi Langit yang menurutnya tidak bisa ditebak itu.


Tangan Shien terulur untuk menyentuh rambut Langit dengan ragu. “K-kamu kenapa?”


Namun belum sempat tangan Shien hinggap di atas kepala Langit, laki-laki itu sudah mengangkat kepalanya sambil tersenyum lebar pada Shien.


“I’m fine. Aku seneng banget akhirnya denger kata-kata itu keluar dari mulut kamu. Harusnya tadi aku rekam.” Sahut Langit antusias.


“Jangan berlebihan.” Shien meninju pelan dada Langit. Sementara laki-laki itu hanya terkekeh pelan.


Melihat wajah Langit yang memerah hingga menjalar ke telinganya, serta alasan yang ia dengar, membuat Shien tersenyum geli. Dalam hantinya, Shien tidak menyangka jika Langit begitu bahagia hanya dengan ia mengucapkan tiga kata itu.


Shien jadi semakin merasakan kesungguhan cinta Langit padanya.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2