
********
Minggu pagi beringsut siang. Shien setengah berlari menuruni anak tangga di rumahnya.
Sudah hampir jam setengah sepuluh, tetapi Shien baru selesai mempersiapkan diri gara-gara bangun sedikit kesiangan.
Hari ini adalah hari peluncuran buku Jackson, dan Shien harus menghadirinya. Shien sedikit meringis, karena sudah hampir terlambat dan ia belum membeli buket bunga untuk ucapan selamat.
Bunyi klakson yang melengking sedikit panjang dan terjadi berulang-ulang yang berasal dari luar merambat ke dalam rumah. Shien menebak, itu pasti Fina yang membunyikannya. Terang saja, kalau ia di posisi Fina pasti akan melakukan hal itu juga. Siapa yang tidak akan kesal menunggu seseorang nyaris lebih dari setengah jam?
Shien terdiam sejenak begitu kakinya menyentuh anak tangga terakhir.
Matanya menyusuri setiap sudut ruangan. Rumah tampak sepi. Hanya suara dengugan dari mesin vacuum cleaner yang sedang digunakan Bibi Sumi menggema di sana. Ia kembali menebak jika semua orang sudah pergi dari rumah. Dengan kata lain, menikmati hari libur masing-masing.
Papa pasti pergi bermain golf seperti biasa dan Mama mungkin menemaninya, atau paling tidak, wanita paruh baya itu pasti pergi ke acara arisan bersama teman-teman sosialitanya. Sedangkan Shanna, Shien tidak tahu dia ada di mana karena gadis itu belum pulang sama sekali sejak ditegur oleh Papa.
“Bi, kalau Papa sama Mama pulang sebelum aku, tolong bilangin aku lagi pergi.” Pesan Shien pada Bi Sumi. Sejenak wanita yang lebih tua usianya dari Mama itu menghentikan mesin vacuum yang digunakannya untuk membersihkan debu di rumah.
“Ke mana, Non? Lama?” Tanya Bi Sumi. Shien mendelik jutek, karena tidak biasanya wanita itu kepo. Dan Shien paling tidak suka orang lain yang banyak tanya pada urusannya.
“Pokoknya pergi aja, gak tahu lama atau enggak.” Sahut Shien, kemudian berlalu pergi dari hadapan Bi Sumi yang nyalinya sedikit ciut dengan kejutekan anak dari majikannya itu.
“Ohh, iya.” Shien berhenti dan berbalik saat baru saja mengambil beberapa langkah. “Ada hadiah buat Bibi sama yang lainnya di mobil. Nanti dilihat, ya. Kuncinya ada sama Pak Yudha, kok.” Lanjut Shien, teringat akan sesuatu yang dulu sempat dibelinya untuk orang rumah, termasuk Papa, Mama, dan Shanna. Tapi ia sudah menyimpannya di kamar mereka.
“Iya, Non. Makasih.” Sahut Bibi dengan wajah yang berubah berseri-seri. Jelas, siapa saja akan senang dengan satu kata itu, hadiah.
Setelah itu, Shien kembali bergerak untuk keluar dari rumah. Namun langkahnya kembali terhenti karena pintu tiba-tiba terbuka, dan muncullah Shanna dari balik daun pintu berwarna putih itu.
Mata mereka saling beradu pandang dalam satu garis lurus. Namun, Shanna langsung melengos tak acuh.
“Childish.” Seru Shien, berhasil menghentikan langkah Shanna.
“Melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu, apa membuat perasaan kamu lebih baik, Kak?” Shien berbalik dan menatap tajam Shanna yang juga sedang menatapnya.
“Itu gak seberapa.” Sahut Shanna tersenyum miring. Lalu tanpa banyak bicara lagi, Shanna melangkahkan kaki dan berlalu dari sana. “Seandainya aku benar-benar melepaskan Langit. Apa kamu akan berhenti?” Tanya Shien menaikkan sedikit oktaf suaranya, dan itu kembali membuat Shanna berhenti melangkah.
Gadis berambut warna-warni itu membalikkan badan.
“Dengan senang hati.” Sahutnya dingin. “Lepaskan Langit dan pergi sejauh-jauhnya dari dia. Kalau bisa pergi juga dari juga dari dunia ini sekalian!” Shanna menjerit pada kalimat terakhir. Kedua telapak tangannya mengepal erat, wajahnya memerah padam, dan pundaknya naik turun seiring dengan deru napasnya yang menahan emosi.
Namun, detik itu juga Shien merasa seperti ditikam tepat di ulu hatinya. Hanya karena Langit. Si laki-laki pencemburu yang hanya bisa mengandalkan insting dan emosinya, Shanna sampai tega mengeluarkan kata-kata seperti itu padanya? Sebesar itukah kebencian Shanna padanya hingga tidak ingin melihatnya lagi di dunia ini?
“I love you more than anything.”
Seketika kalimat yang pernah Shanna ucapkan saat dirinya baru kembali ke rumah terngiang-ngiang di kepala Shien. Lalu, ke mana perginya Shanna yang pernah mengatakan hal itu padanya?
“Silahkan, Kak. Ambil Langit. Lagian aku gak tertarik lagi sama sampah gak berguna kayak dia.” Shien menyeringai tipis.
“Dan kalau dilihat-lihat. . . .” Ada jeda sebentar di sana. Shien menatap Shanna penuh cemooh. “Orang jahat seperti kalian emang cocok bersama.”
Lalu, Shien buru-buru pergi dari sana.
Sebenarnya Shien tidak ingin mengatakan itu. Namun, harapannya sudah redup. Dan Langit sendiri yang mengubahnya.
********
Selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Langit langsung bergegas menuju Cafe yang menjadi salah satu fasilitas di apartemennya untuk menemui Tante Risa yang mungkin sudah menunggunya saat ini. Selama perjalanan menuju ke sana yang ditempuh dengan berjalan kaki, Langit terus bertanya-tanya kenapa Tante Risa tiba-tiba memintanya bertemu?
“Maaf, Tante, aku terlambat.” Ucapnya tak enak hati karena sudah membiarkan orang tua menunggu. Langit kemudian menarik kursi, lalu duduk di hadapan Tante Risa. Terlihat dua cangkir Cappucino sudah ada di atas meja, dan sudah pasti Tante Risa yang memesannnya.
“Gak apa-apa. Tante yang salah karena ngasih tahu kamu secara mendadak.” Sahut Tante Risa, lalu menyeruput kopinya dengan anggun setelah sebelumnya mempersilahkan Langit untuk meminumnya juga.
“Eung. . . .” Langit sedikit ragu untuk memulai pembicaraan. Tapi rasa penasaran mendorong Langit untuk cepat-cepat bertanya, ditambah ia melihat sikap Tante Risa yang mendadak serius, padahal biasanya beliau selalu berkelakar saat bertemu dengannya.
“Maaf, Tan. Sebenarnya ada apa sampai Tante harus datang jauh-jauh ke sini buat ketemu sama aku? Padahal Tante bisa minta aku buat datang ke rumah. Aku, kan, jadi gak enak, Tan.”
Tante Risa tersenyum kaku. Dari raut wajahnya, beliau terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.
“Oke. Tante langsung ke intinya aja.” Ujar Tante Risa, lalu terdiam sejenak untuk mengambil napas, sesekali mengusap tatakan gelas untuk menutupi kegugupannya. Sementara Langit hanya menatapnya penuh tanya, menunggu wanita paruh baya itu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Langit, Tante bukannya gak suka sama kamu. Bukan juga gak mendukung hubungan kamu sama Shien. . . .” Tante Risa kembali menghela napas diiringi desahan pelan, beliau seperti berat hati.
“Tan, sebenarnya ada apa, sih?” Desak Langit penasaran.
“Tante mau kamu melepaskan Shien.” Ucap Tante Risa, membuat perut Langit serasa dihantam sesuatu, lalu menjalar ke dadanya.
Langit mengerjapkan mata. Tidak ingin mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Ia lantas memeremas kuat lengan cangkir kopi yang masih ada dalam kaitan jarinya.
“Tapi kenapa, Tan?” Protes Langit, tatapannya meminta penjelasan lebih. Wanita paruh baya itu bahkan mengatakan jika dia menyukai dan mendukungnya. Tapi kenapa dia tiba-tiba memintanya untuk melepaskan Shien?
“Karena Tante lebih memilih anak-anak Tante akur, daripada mereka harus saling melukai hanya karena Shanna dan Shien menyukai orang yang sama.” Sahut Tante Risa sedih, meski sebenarnya ia tidak tega melakukan ini pada Langit. Tapi, ia sudah pernah mengatakan, bukan? Jika seandainya terjadi sesuatu di antara kedua putrinya karena Langit, maka ia tidak akan segan menjauhkan laki-laki itu dari mereka. Dan jika itu bukan Langit pun, ia akan tetap melakukannya.
“Kamu tahu, kan, kalau Shanna juga menaruh hati sama kamu?” Lanjut Tante Risa.
Langit mengangguk. “Tapi Shanna udah menerima hubungan aku sama Shien, Tante. Itu seharusnya tidak ada masalah lagi.” Sanggahnya kemudian, mengingat dulu Shanna pernah mengatakan jika dia sudah merelakan Langit dan menerima hubungannya dengan Shien.
Menghembuskan napas berat, Tante Risa menebak jika Langit tidak megetahui apa yang sudah terjadi belakangan ini. “Sepertinya kamu melewatkan sesuatu, Langit.”
“Maksud Tante?” Kening Langit berkerut tanda tak mengerti, ia tatap wajah Tante Risa yang menyendu.
Tante Risa melipat bibirnya ke dalam sejenak untuk menyusun kalimat di dalam otaknya sambil memainkan cangkir kopi.
“Kamu tahu? Akhir-akhir ini Shanna melakukan hal buruk pada Shien. . . .”
Tante Risa kemudian menceritakan kepada Langit tentang apa yang sudah Shanna lakukan pada adiknya, Shien, termasuk Shanna yang melukai Shien dengan menyimpan pecahan beling ke dalam sepatu Shien, hingga kakinya terluka parah. Bukan Shien yang mengadukan hal itu padanya, tapi Tante Risa mengetahui itu dari salah satu CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah.
“. . . . dan alasannya adalah kamu.” Ucap Tante Risa lemah. Ia pandangi wajah Langit yang seketika memucat setelah mendengar ceritanya.
Sementara Langit terdiam dengan tubuh menegang kaku. Bagaiamana mungkin Langit tidak tahu hal ini? Kenapa Shien menyembunyikan hal ini darinya?
__ADS_1
“Maaf, Langit, Tante harus minta hal ini sama kamu.” Sambung Tante Risa.
“Dari kecil, hidup Shien tidak sebaik yang orang lain kira. Shien pernah mengalami sesuatu yang sangat berat yang mengguncang hatinya.” Lanjutnya, tanpa berniat untuk menceritakan secara gamblang mengenai apa yang pernah dialami Shien semasa kecil hingga gadis itu mengalami luka emosional yang cukup mendalam.
“Dan Tante tidak bisa melindunginya waktu itu.” Tante Risa tersenyum miris, mengingat ketidakberdayaan yang sebenarnya adalah kebodohannya yang tidak bisa melindungi anak sendiri.
Sementara Langit masih bergemning dalam posisinya. Mendengarkan Tante Risa menyelesaikan ceritanya walaupun ada sebagian hal yang tidak bisa ia cerna dari kalimat yang Tante Risa ucapkan. Tapi Langit tahu jika wanita paruh baya itu sangat serius. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Shien waktu kecil hingga membuat Tante Risa begitu sedih saat menceritakannya? Langit ingin menanyakan detailnya, tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat.
“Tapi sekarang tidak lagi. Tante tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Shien lagi, termasuk saudaranya sendiri.” Ucap Tante Risa sungguh-sungguh. “Maka dari itu, Tante minta kamu untuk melepaskan Shien, karena mungkin kalau Tante yang minta Shien untuk melepaskan kamu, dia akan keberatan.”
“Apa Tante pikir aku gak keberatan?” Protes Langit tak terima. “Aku gak mau, Tante. Bagaimanapun caranya Tante minta aku buat melepaskan Shien. Aku gak akan melakukannya sampai kapanpun.” Lanjutnya tegas.
“Tapi kalau seperti itu Shanna gak akan berhenti menyakiti Shien. Apa kamu tega? Ke depannya gak ada yang tahu, mungkin Shanna bisa melakukan sesuatu di luar akal sehatnya pada Shien. Kamu mau itu sampai terjadi seandainya kalian masih bersama?” Sambar Tante Risa putus asa. “Ini perintah. Jadi Tante mohon kamu melakukannya.”
“Masih ada cara lain untuk membuat Shanna berhenti dan sadar, Tante.” Sanggah Langit tak kalah putus asa.
Tidak. Langit tidak akan pernah melepaskan Shien walau diancam untuk mati sekali pun.
“Kamu gak tahu bagaimana keras kepalanya Shanna, Lang. Itu gak akan mudah. Dan Tante pikir ini adalah jalan satu-satunya untuk menghentikan dia dari perbuatannya yang terus menyakiti Shien.” Balas Tante Risa. “Tante mohon. Demi Shien. . . .” Pelasnya kemudian.
“Enggak, Tante! Itu bukan jalan satu-satunya dan jelas bukan yang terbaik.” Seru Langit tak ingin dibantah.
“Lagipula Tante akan membawa Shien ke Jerman. Jadi ada baiknya kalau kalian putus. Shien bisa pergi tanpa beban dan lebih fokus dengan pengobatannya.” Tante Risa tak mengindahkan ucapan anak muda di hadapannya itu. Namun kalimatnya barusan sukses membuat Langit terkejut sekaligus tak mengerti.
“Pengobatan di Jerman, Tante?” Ulang Langit memastikan. Tante Risa hanya mengangguk.
“Tapi bukannya Shien udah dapat donor?” Langit mengernyit bingung. Ia ingat betul saat di Lembang Shien mengatakan bahwa dia sudah mendapat donor dan akan melakukan operasi transplantasi dalam waktu dekat. Dan jika diingat-ingat, seharusnya itu akan berlangsung beberapa hari lagi. Shien juga seharusnya sudah tinggal di rumah sakit, tapi gadis itu masih berkeliaran di luar.
Kening Langit semakin berkerut dalam memikirkannya.
Tante Risa ikut mengernyitkan keningnya heran, karena sebagai salah satu orang yang cukup dekat dengan Shien, Langit seharusnya mengetahui ini. Tapi jika mengingat tabiat Shien yang tertutup, tidak bisa dipungkiri juga jika gadis itu pasti tidak menceritakannya, dan pantas saja saja Langit tidak mengetahuinya.
“Shien gak cerita?” Tanya Tante Risa memastikan. Sedangkan Langit hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Tante?” Tanya Langit akhirnya, penuh dengan rasa penasaran.
“Dia. . . .” Suara hembusan napas berat terdengar dari bibir Tante Risa.
“Donornya batal. . . .” Ia lantas menjelaskan alasan operasi transplantasi Shien yang mendadak batal, persis seperti Nathan menjelaskannya beberapa waktu yang lalu.
“A-apa? Batal, Tan. . . .” Langit tak melanjutkan. Mendadak suaranya tercekat dan seluruh persendiannya melemas, begitu pun dengan wajahnya yang ikut memucat setelah mendengar kalimat Tante Risa.
Lagi. Sebenarnya berapa banyak yang tidak ia ketahui? Hal sepenting ini, kenapa Shien tidak menceritakan padanya? Padahal, terakhir kali saat mereka di Lembang, Shien masih semangat berbagi cerita.
“Iya. Maka dari itu, sekali lagi Tante minta sama kamu lebih baik melepaskan Shien. Tante gak mau terjadi apa-apa lagi sama Shien, Tante ingin hidupnya tenang.”
Telinga Langit berdenging. Kalimat Tante Risa barusan seolah memantul begitu saja sehingga tidak terdengar sama sekali.
“Tante, Shien di mana?” Langit benar-benar tak menghiraukan ucapan Tante Risa.
“Kamu denger omongan Tante gak, sih, Lang?” Tante Risa sedikit kesal.
“Di rumah.” Sahut Tante Risa tanpa sadar. “Eh, tapi Tante belum selesai bicara, lho, Lang.” Ujarnya saat tersadar.
Namun, Langit kembali tak mengindahkannya. Laki-laki itu sekarang malah berdiri, lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja.
“Eh, mau ke mana kamu?” Tante Risa blingsatan sendiri saat melihat gelagat Langit yang hendak pergi di tengah pembicaraan mereka yang masih menggantung.
“Maaf, Tante. Aku akan pura-pura gak pernah denger ini, karena perintah Tante itu sesuatu yang gak mungkin aku bisa lakukan.” Langit kemudian beranjak untuk kembali ke unit apartemennya dengan wajah linglung, bermaksud untuk mengambil kunci mobil.
Dia mengabaikan Tante Risa yang terus memanggil-manggil namanya.
********
Pikirannya berkecamuk, benar-benar kacau layaknya benang kusut.
Sebenarnya, apa saja yang ia lewatkan selama dirinya pergi ke Yogyakarta waktu itu?
Masuk ke kamarnya, Langit mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja nakas, lalu terduduk di tepian tempat tidur.
Dia termenung dengan dahi sedikit berkerut, berusaha menyusun puzzle yang sepertinya ada bagian yang hilang atau mungkin salah susun.
Ingatannya melayang pada hari di mana ia bertemu dengan Shien sekembalinya dari Yogyakarta, dan mereka bertengkar karena foto-foto Shien bersama Sagara dan Nathan. Langit juga ingat Shien seperti mencoba menjelaskan sesuatu saat itu, tapi karena terlalu terhasut oleh satu kata ‘cemburu’ membuatnya menjadi buta dan tuli. Ia tidak ingin mendengar apapun dari Shien dan hanya percaya dengan apa yang dilihatnya.
Egoiskah ia karena tidak mau mendengarkan Shien?
Kalimat itu terlintas dalam benaknya.
“Jelas banget kalau kamu gak pernah ngasih aku sedikit pun kepercayaan.”
“Kamu berani-beraninya ngatain aku. Berani-beraninya!”
“Aku gak nyangka kamu lebih milih buat percaya sama orang yang ngirim foto ini daripada dengerin penjelasan aku.”
“Ternyata pikiran kamu hanya sedangkal ini, ya?”
“Semua yang kamu lihat di foto ini salah.”
Begitu pun dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan Shien saat ia melemparkan berbagai tudingan berkelebat cepat di kepalanya, dan itu seketika membuat hatinya bimbang.
Entah semua kalimat itu hanya sekedar kalimat pengelakan Shien atau benar-benar kalimat pembelaannya dan Langit sudah salah paham mengenai foto-foto tersebut.
Langit mendesah, meraup wajahnya dengan kasar. Ragu mana yang benar, mana yang salah. Terkaannyakah? Atau Shien?
Tapi jika diteliti lagi, apa yang ada di foto itu memang belum tentu benar adanya. Rupanya, akal sehat Langit mulai berjalan kembali.
Perasaan bersalah itu muncul, walaupun otaknya mati-matian menyangkal jika dirinya sudah salah paham.
PRANG!!
__ADS_1
Suara benda jatuh membuyarkan lamunan Langit di mana otak dan hatinya sedang bergelut.
Refleks kepala Langit menoleh ke arah datangnya suara benda jatuh tersebut.
Dapat ia lihat bingkai foto kebersamaannya dengan Shien yang semula berada di atas meja kerja terjatuh dan pecah di lantai. Ia mengernyit heran, padahal hanya ada angin sepoi-sapoi yang bahkan hanya menggerakkan sedikit gorden kamarnya, tapi kenapa bingkai foto itu bisa jatuh?
Sejurus kemudian ia berpikir, mungkin karena bingkai foto tersebut terlalu menempel di sisi meja, maka dari itu bingkainya terjatuh.
Langit lalu bangkit dan bergerak menghampiri meja kerja, bermaksud untuk membereskan pecahan bingkai foto tersebut. Namun, perhatiannya teralihkan pada sebuah goodie bag berukuran sedang bertuliskan merk sebuah brand kamera tercetak tebal di tengahnya.
Termenung sesaat, otaknya berusaha mencerna keberadaan benda tersebut. Goodie bag itu bukan miliknya, dan ia menebak jika itu mungkin milik Bunda, Papa, Kak Senja, atau Shien. Karena merekalah orang-orang yang memiliki akses masuk ke apartemennya.
Mengitari meja kerja, lalu mendudukkan dirinya di kursi. Perlahan ia raih goodie bag tersebut, tapi gerakan tangannya kembali terhenti tatkala atensinya jatuh pada benda lain yang tergeletak di atas tumpukan buku kedokteran miliknya.
Beberapa lembar foto yang sengaja diletakkan dengan posisi terbalik.
Langit lantas memutuskan untuk mengambil beberapa lembar foto itu terlebih dahulu. Dilihatnya bahwa foto tersebut adalah foto Shien yang ia dapatkan dari Terry dan si pengirim anonim. Sampai di sini Langit mengerti jika Shien yang datang ke kamarnya dan meletakkan foto serta goodie bag itu.
Tapi ada yang sedikit berbeda dari foto-foto tersebut, ada tulisan di belakangnya.
Karena kamu gak mau dengerin penjelasan aku, tapi aku harap kamu mau baca tulisan-tulisan ini. Percaya atau enggak, itu hak kamu. Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku bukan seseorang seperti yang kamu tuduhkan.
Aku ke Bandara karena Tante Hilda yang minta buat jemput Jackson dan aku gak sendiri. Ada Fina bersama aku.
Aku gak tahu bagaimana kamu kenal Jackson. Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui kalau Jackson memiliki kebiasan memeluk orang saat menyapa mereka. Kamu tahu itu American style, kan?
Langit membalik foto tersebut, foto Shien dan Sagara sedang berpelukan di Bandara. Suhu dingin mulai menjalar di telapak tangannya. Pikirannya melayang, mengingat orang seperti apa Sagara itu, dan Shien benar. Terlalu lama tinggal di luar negeri membuat Jackson mengikuti kebiasaan budaya orang Barat.
Setelah itu, Langit kembali melanjutkan membaca tulisan-tulisan di setiap lembar foto tersebut.
Mungkin kamu terbiasa rapat di ruang rapat atau aula besar. Tapi kami terkadang menggunakan kamar hotel untuk membahas proyek buku terbaru.
Itu tulisan di belakang foto Shien dan Sagara saat masuk ke hotel.
Merangkul sebagai teman seharusnya tidak terlalu masalah, bukan? Oke, mungkin di mata kamu salah besar. Tapi tolong jangan berpikiran sempit dan sembarangan, karena kami benar-benar teman biasa, dan kami gak pernah melakukan hal di luar batasan sebagai teman.
Itu adalah tulisan di belakang foto, di mana Sagara merangkul Shien akrab.
Dan satu lagi. . . .
Kak Nathan cuma datang menghibur aku, dia merasa bersalah karena donornya batal. Dia ngasih aku kelinci. Kamu boleh datang ke rumah dan melihatnya. Kita juga bisa ngasih makan bareng.
Ohh, iya. Kak Nathan nyaranin aku buat berobat ke luar negeri juga waktu itu. Apa aku harus pergi dan ngikutin sarannya? Dan mungkin aku gak akan pergi kalau kamu nahan aku.
Tapi, sebelum itu kamu harus minta maaf dulu sama aku.
Dan itu adalah tulisan di belakang foto Shien dan Nathan saat mereka bermain dengan kelinci.
Langit terdiam dengan tubuh menegang kaku seiring dengan sudut hatinya yang terluka. Tangannya terkulai lemas hingga semua foto yang dipegangnya terjatuh ke lantai.
Jadi benar ia yang salah?
Dadanya tiba-tiba bergemuruh hebat. Teringat ia sudah menyakiti gadisnya begitu kasar. Ia benar-benar sudah tidak dewasa dan menyimpulkan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu.
Semua tuduhan tidak berdasar itu, perlakuaannya yang kasar. . . .
Mengingat itu, Langit benar-benar merasa dirinya seperti sampah yang tidak berharga.
Saat itu mungkin Shien ingin menumpahkan segala keluh kesahnya, tapi ia malah menambah beban di hati dan pikirannya, di saat Shien mungkin membutuhkannya sebagai tempat untuk berbagi.
Langit jadi teringat saat Shien mencoba mengatakan sesuatu saat ia menudingnya sengaja pergi ke Cafe milik Sagara untuk menemuinya. “Itu karena tadi di kantor. . . .” Dan juga teringat cerita Tante Risa tadi. “Karya baru Shien dicuri dan diklaim orang lain.”
“Udah deh, gak usah bikin alasan klasik pake urusan kantor segala.” Ditambah kata-katanya sendiri.
Langit mengusap wajahnya dengan kedua tangan seraya menghela napas dalam-dalam di sana.
Mungkin saat itu. . . .
Shien ingin memang ingin mengatakan yang sebenarnya. Shien datang ke Cafe untuk menghibur dirinya sendiri karena Langit tidak ada saat itu. Tapi, lagi-lagi Langit mendadak tuli.
“Ya Tuhan, Shi. . . .” Ucapnya lirih. Langit merasakan matanya berkabut, lalu setetes air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.
Pandangan Langit kini beralih pada goodie bag, di dalamnya ada satu kotak berwarna hitam berisi action cam beserta perlengkapannya, dan sebuah kartu ucapan cantik berwarna merah muda.
Dari berbagai karakter orang. Tanpa kamu tahu, kamulah satu-satunya yang benar-benar penting dan paling istimewa dalam hidup aku hingga saat ini.
Kamu adalah hal terbaik yang terjadi dalam hidup aku.
Selamat hari jadi ke seratus hari.
Haha. Aku konyol banget, ya, sampai ngitungin hari?
Ohh, iya. Kadonya buat aku. . . .
Say sorry and trust me. Itu cukup.
Ingat, kan, kamu udah nuduh aku sembarangan?
Napas Langit tercekat bersamaan dengan remasan kertas di tangannya. Setelah apa yang dilakukannya, Shien masih peduli dengan hal ini dan menganggapnya orang paling berharga dan istimewa. Ia merasa malu dan tidak pantas.
Langit kamu brengsek, aku benci kamu. Tapi cinta aku lebih besar.
I love you to the moon and back.
Tapi meskipun demikian, Langit tidak ingin Shien meninggalkannya.
********
To be continued. . . .
__ADS_1