So In Love

So In Love
EP. 95. Tunangan


__ADS_3

********


Langit berjalan santai di koridor rumah sakit setelah beberapa saat yang lalu ia menyelesaikan pekerjaannya. Wajahnya tampak berseri-seri dengan senyum semringah terukir jelas di bibirnya.


Satu tahun berlalu, dan hari ini adalah saatnya. Saatnya ia dan Shien kembali bertemu. Langit jadi tidak sabar untuk segera tiba di apartemen untuk membersihkan diri untuk kemudian mengenakan pakaian terbaiknya untuk menyambut kedatangan gadis itu.


Langkah Langit terhenti saat ada sebuah koin menggelinding dan berhenti tepat di bawah kaki karena koin tersebut menabrak sepatu pantofelnya yang mengkilap.


Tubuh Langit membungkuk dan mengambil koin tersebut. Sebuah koin perak Australia berlambang koala. Ia tersenyum memandanng koin itu, seketika ingatannya jatuh pada hari di mana ia dan Shien dipertemukan untuk pertama kalinya.


Berawal dari sebuah koin yang tidak sengaja jatuh menggelinding, ia bertemu dengan Shien dan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Gadis itu membuatnya terpesona dan penasaran sekaligus.


Shien. Si gadis pertama yang tidak mau menerima uluran tangannya, bahkan di saat Langit sendiri menawarkannya.


Ahh, Langit merindukannya. Benar-benar merindukannya. Apakah gadis itu akan datang sesuai janjinya? Langit harap begitu. Ia tidak tahu Shien akan kembali atau tidak hari ini karena akhir-akhir ini Shien sulit sekali dihubungi. Dan sebaliknya, Shien belum menghubunginya sampai sekarang.


Hubungan jarak jauh memang cukup sulit. Apalagi lintas negara seperti halnya Langit dan Shien.


Di awal-awal, mereka berhubungan dengan sangat lancar baik melalui telepon, pesan chat, atau panggilan video. Tapi seiring berjalannya waktu, hal itu semakin jarang dilakukan karena kesibukan masing-masing dan juga perbedaan waktu yang cukup jauh.


Terkadang Langit ketiduran saat menunggu Shien menghubunginya karena di Indonesia sudah larut malam, atau sebaliknya.


Tapi meski demikian, baik Langit ataupun Shien tetap berusaha untuk saling menghubungi. Dari yang setiap hari, menjadi tiga kali dalam seminggu, lalu seminggu sekali, satu bulan sekali, dan ke depannya semakin jarang. Apalagi saat Shien memberitahu Langit akan pergi tour keliling dunia bersama orang tuanya, gadis itu semakin tidak bisa dihubungi dan komunikasi keduanya benar-benar terputus.


Pernah sekali Shien mengirim foto yang menunjukkan dirinya sedang berada di taman bunga Keukenhof, Belanda, dan menyematkan pesan bahwa dia akan segera kembali. Itu adalah pesan dari dua bulan yang lalu. Setelah itu tidak ada kabar lagi, sampai hari ini. Dan Langit tidak bisa melihat aktivitasnya dari kejauhan karena Shien tidak memiliki media sosial. Ingatkan saja jika gadis itu sangat menjaga privasi dalam hidupnya.


Walaupun demikian, Langit percaya Shien tidak akan meninggalkannya dan pasti kembali seperti yang sudah dijanjikannya.


“April?” Satu Alis Langit terangkat begitu mendapati anak perempuan berusia sepuluh tahun itu berdiri di hadapannya, sedang menatapnya datar. Dia adalah pasien Langit yang satu minggu lalu menjalani operasi transplantasi hati.


“Itu koin keberuntugan.” Ucap gadis kecil itu, membuat Langit speechless karena mendengar ini untuk yang kedua kalinya.


Ia tersenyum geli, sebenarnya dari mana anak-anak di sini mendapatkan koin seperti ini dan mengatakan itu adalah koin keberuntungan? Tapi untuk keberuntungan, itu sedikit ada benarnya karena ia mengalaminya sendiri. Langit beruntung karena bertemu Shien gara-gara koin perak Australia itu.


“Punya kamu?” Langit menyerahkan koin di tangannya pada April.


Gadis kecil itu menggeleng. “Aku udah beruntung dapat hati yang baru. Ini buat Om Dokter aja.” April mendorong tangan Langit yang diulurkan padanya. “Ini hadiah karena Om Dokter udah ngobatin aku. Semoga beruntung.”


“Hey, Nak.” Langit berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan April. “Tidak ada sesuatu semacam benda keberuntungan atau apapun sejenisnya di dunia ni. Itu mitos.” Ujar Langit sambil mengusap puncak kepala gadis itu dengan gemas.


“Tapi kakek tua bilang kalau itu koin keberuntungan.” Sahut April sambil menunjuk koin dalam genggaman tangan Langit.


Langit mengernyitkan keningnya heran. “Kakek tua?” Tanyanya. “Siapa? Apa Om bisa ketemu dia?” Langit benar-benar akan menegur kakek tua itu karena sudah menanamkan pemikiran primitif pada anak kecil.


“Ini rahasia. Tapi. . . .” April melirik ke kanan dan ke kiri serta depan dan belakang seolah ingin memastikan bahwa situasi aman, ia lalu menggerakkan tangan, menginstruksi Langit untuk menundukkan kepalanya. “Katanya, kakek itu yang punya rumah sakit ini.” Bisiknya kemudian.


Mata Langit membola, ia bahkan hampir tersedak ludahnya sendiri. Kali ini ia menemukan dari mana koin Australia itu berasal sekaligus penyebar mitosnya. Tapi ia tidak menyangka kalau itu adalah Om Rendy, Presiden Direktur Rumah Sakit sekaligus Ayah dari sahabatnya, Biru.


Kalau seperti ini, mana berani Langit menegurnya, yang ada malah dipecat.


Langit memutar bola matanya jengah. Tidak heran juga, sih, kalau Om Rendy menyebar mitos seperti itu. Karena yang ia dengar dari Biru, lelaki tua itu lebih pantas disebut sebagai cenayang alih-alih Presdir. Terang saja karena perilakunya yang suka mempercayai hal-hal semacam itu.


“April, tapi semua itu bo–” Langit tidak melanjutkan kalimatnya karena tahu-tahu April sudah pergi dari hadapannya.


Mendengus geli, ia lantas beranjak. Nyaris saja melupakan tujuannya untuk segera pulang dan membersihkan diri. Ohh, iya. Langit juga lupa belum membeli kembang api pesanan gadisnya.


********


White printed T-shirt yang dipadukan dengan setelan jas dan celana warna mocca menjadi pilihan Langit malam itu. Sebuket bunga Calla lily dan tiga bungkus kembang api jenis sparkle juga sudah disiapkannya.


Langit sudah duduk manis di kursi di taman bermain untuk menunggu kedatangan Shien. Taman itu sangat sepi. Hanya ada dirinya sendiri di sana. Maklum, hampir sebagian orang lebih memilih merayakan tahun baru di pantai, taman kota, atau di rumah bersama keluarga.


Langit mendongak. Di atas sana terlihat kerlap-kerlip. Rupanya kembang api tahun baru yang dinyalakan orang-orang masih bisa ia lihat dari sana.


Berulang kali Langit melirik jam bertali kulit yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam setengah dua belas malam. Hampir lima jam setelah kedatangannya ke taman bermain itu ia menunggu, dan Shien tak kunjung datang.


Menghembuskan napas berat, Langit mulai pesimis, kepalanya menunduk sedih. Apakah Shien melupakan janjinya? Janji untuk kembali pada malam tahun baru dan menghitung mundur pergantian tahun bersama-sama, apakah Shien melupakannya?


Langit merogoh ponsel dari saku jas dan mengambilnya, bermaksud untuk menghubungi Shien. Siapa tahu saja bisa.


Tapi setelah sepuluh menit berlalu, Langit kembali menghembuskan napas kecewa. Nomor Shien tidak bisa dihubungi, sama seperti sebelumnya.


Ia lirik lagi jam tangannya, dan pergantian tahun hampir tiba. Alhasil, Langit menghitung mundur sendiri, berharap Shien akan datang saat ia sampai di hitungan satu.

__ADS_1


“Lima. . . .”


“Empat. . . .”


“Tiga. . . .”


“Dua. . . .”


“Satu. . . .”


Dan Shien tetap tidak muncul. Langit menatap bunga dan kembang api yang tergeletak di sebelahnya itu dengan tatapan kecewa.


Ia sudah tidak berarti lagi untuk Shien. Gadis itu sudah melupakannya.


Langit tahu alasan Shien pergi ke Amerika adalah untuk menenangkan diri. Tapi bukan berarti gadis itu harus melupakannya juga, kan? Benar-benar egois.


Kalau akhirnya akan seperti ini, kenapa Shien harus meminta Langit menunggunya waktu itu? Cih, Langit bahkan sudah membeli kembang api sesuai permintaannya.


Lantas dengan perasaan kesal, kecewa, dan juga sedih, Langit membakar satu per satu dari sebanyak tiga bungkus kembang api yang dibelinya tadi. Masih dengan harapan Shien akan datang di tengah-tengah ia membakar benda yang menimbulkan percikan api cantik itu.


Tapi sampai tiga bungkus kembang api tersebut habis terbakar, Shien tetap tidak ada. Tahun baru bahkan sudah lewat lima belas menit. Dan Langit memilih untuk beranjak dari tempat itu dengan perasaan kecewa memenuhi hatinya.


********


Sementara itu Shien. Gadis itu masih dalam perjalanan menuju taman bermain sambil sesekali menggerutu kesal karena jalanan begitu padat. Tentu saja dipenuhi oleh orang-orang yang akan memeriahkan tahun baru.


Lima belas menit lagi tahun baru tiba dan Shien masih di dalam mobil. Hal ini terjadi karena setelah pulang dari pemakaman tadi Shien harus mengantar Papa ke Pet Shop guna mencari perlengkapan untuk peliharaan barunya. Seekor kucing sphynx yang menurut Shien sangat menggelikan karena kucing ras tersebut nyaris seperti tidak memiliki bulu.


Hampir tidak ada Pet Shop yang buka karena hari menjelang tahun baru. Ia dan Papa nyaris mengelilingi Bandung hanya untuk mencari satu toko hewan peliharaan yang masih buka. Beruntung mereka menemukannya satu.


Tapi karena hal itulah yang membuat Shien terlambat untuk menemui Langit. Ia tiba di rumah hampir jam sembilan malam, belum lagi ia harus mandi dan berdandan terlebih dahulu. Kacaulah kejutan yang ia rencanakan untuk Langit. Shien bahkan sengaja tidak menghubungi laki-laki itu kalau ia sudah kembali ke Indonesia sejak tadi siang.


Sebenarnya Shien bisa saja menolak Papa. Tapi berhubung ia adalah anak satu-satunya sekarang, Shien tidak bisa lagi memperlakukan orang tuanya seperti itu. Kalau bukan Shien, siapa lagi yang akan membahagiakan mereka? Permintaan Papa bahkan bukan hal besar. Hanya menemaninya ke toko hewan peliharaan.


Shien memukul setir mobilnya keras-keras saat kendaraan lain di depannya tidak bergerak barang satu senti meter pun.


Ohh, iya. Satu lagi kemajuan. Sekarang Shien bisa mengendarai mobilnya sendiri. Shien juga sudah pandai membaca maps, sehingga tidak perlu khawatir lagi jika ia ingin pergi ke mana-mana sendiri karena buta arah.


Shien tiba di taman bermain tepat jam satu malam. Ia sangsi jika Langit masih ada di sana. Tapi, kalau Langit mempercayainya, dia pasti akan menunggu Shien.


Shien langsung lari dan kembali ke mobil setelah ia melihat sebuket bunga dan bekas kembang api berceceran di kursi.


Shien sudah memastikan bahwa Langit tadi datang ke sana dan sudah pergi. Gadis itu kembali dengan cepat bukan semata-mata karena mengetahui Langit sudah pergi dari taman bermain, tapi Shien takut berlama-lama berada di sana sendirian.


Hingga akhirnya Shien tiba di belakang kemudi mobilnya, ia tak lantas menyalakan mesin. Shien terdiam beberapa saat untuk menetralkan napasnya yang memburu karena dikejar rasa ketakutan. Setelah tenang, barulah Shien mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menghubungi Langit. Tapi berulang kali ia menghubunginya, Langit tidak menjawab.


Shien mengerti, pasti laki-laki itu sedang marah padanya. Maka dari itu, ia terus mengubunginya. Hingga pangilan ke sepuluh, panggilannya terjawab, tapi bukan Langit yang berbicara, melainkan suara seorang wanita.


“Siapa kamu? Di mana Langit?” Tanya Shien dingin, detak jantungnya berpacu dengan cepat, pikirannya mulai liar menerka-nerka.


“Aku rekan kerjanya Dokter Langit. Dia mabuk sekarang. . . .”


“Di mana?” Shien kembali bertanya dengan nada sedingin es, sebelah tangannya mencengkram setir mobil, wajahnya tampak marah. Berani-beraninya Langit mabuk. Awas saja, Shien pasti akan memukulnya nanti.


“S Bar–”


“Share loc.” Sela Shien, lalu mematikan sambungan teleponnya.


********


“Oh My God.” Shien menutup kedua telinganya saat mendengar dentuman musik yang sangat memekakkan begitu ia masuk ke dalam klub malam itu.


Ia mendelik ke arah sekumpulan gadis yang mungkin seusianya, mereka menggoyang-goyangkan tubuh dengan pakaian kurang bahan.


Matanya memicing, melongok ke sana ke mari mencari-cari keberadaan Langit. Awas saja. Ia akan memukulinya karena sudah berani datang ke tempat seperti ini. Terlebih bersama seorang wanita.


Butuh waktu sepuluh menit dan ia baru menemukan Langit. Laki-laki itu sudah terkulai lemas, tepar, teler, ahh Shien tidak tahu apa sebutannya untuk orang yang pingsan setelah mabuk. Laki-laki itu benar-benar.


Dan yang membuat Shien geram adalah keberadaan seorang gadis berpakaian minim yang duduk di hadapan Langit yang sudah teler.


“Langit, ayo pulang.” Shien mengguncang tubuh Langit begitu ia menghampirinya, tanpa menyapa atau berbasa-basi terlebih dahulu pada gadis yang duduk satu meja bersama Langit itu.


“Maaf, kamu siapa?” Tanya gadis itu seraya menyelisik Shien dari atas sampai bawah. Merasa pernah bertemu dengan Shien sebelumnya.

__ADS_1


“Yang tadi telepon.” Sahut Shien singkat, wajahnya merengut kesal.


Gadis itu mengangguk-angguk, lalu menyodorkan tangannya ke arah Shien. “Aku Mia, rekan kerjanya Dokter Lang–”


“Maaf, aku harus bawa dia pulang sekarang.” Sambar Shien tidak berminat untuk berkenalan, membuat Mia kembali menarik uluran tangannya canggung.


“Tapi Dokter Langit mabuk.” Dari ekspresinya, Mia seperti tidak rela Shien akan membawa Langit.


“Bukan berarti aku gak bisa bawa dia pulang, kan?” Sahut Shien sinis. Entahlah, ia tidak suka dengan cara gadis itu menatap Langit.


“Tapi. . . .” Mia tampak bergerak gelisah dalam duduknya. “Biar aku yang bawa dia pulang. Lagian dari tadi dia sama aku.”


Shien mendengus, menatap Mia dengan tatapan tidak ramah. “Kalian datang bareng ke sini?”


Gadis itu menggeleng. “Kami kebetulan ketemu dan minum bersama.”


Setidaknya Shien bernapas lega mendengar jawaban gadis itu. Kalau sampai Langit benar-benar datang bersama, Shien pastikan akan membuang laki-laki itu ke danau setelah keluar dari sana.


“Kalau gitu gak alasan untuk kamu nganterin dia pulang.” Ujar Shien sebal. “Lagipula aku tunangannya. Aku yang lebih berhak bawa dia pulang.” Tambahnya. Jangan lupa, Shien mengatakan kata tungangan itu penuh dengan penekanan. Shien juga menunjukkan cincin pasangan yang diberikan Langit. Beruntung laki-laki itu masih memakainya. Dan itu membuat Shien sedikit percaya jika Langit tidak bermain-main di belakangnya selama ia tidak ada. Tapi di dalam hati ia mencibir dirinya sendiri. Cih, tunangan dari mana? Dari Hongkong?


Mia mengerjap, kemudian menatap cincin yang tersemat di jari manis Langit dan Shien bergantian. “O-oh, gitu ya?” Gadis itu tersenyum kaku. Shien bisa membaca dari raut wajah Mia yang terlihat syok. Kentara sekali gadis itu menunjukkan ketertarikannya pada Langit. “A-aku gak tahu kalau Dokter Langit udah punya tunangan.”


“Bahkan sebentar lagi kami berencana mau menikah.” Imbuh Shien, membuat wajah Mia semakin menegang kaku.


Sumpah. Shien tidak pernah berpikir untuk membuat orang bete dengan cara seperti ini. Tapi ia harus melindungi miliknya. Dan beruntunglah karena Langit sedang tidak sadar saat ini, kalau sampai laki-laki itu mendengarnya, bisa-bisa dia besar kepala.


“Ka-kalian seserius itu?” Mia seperti terkena serangan jantung.


“Undangannya menyusul.” Balas Shien sambil menyunggingkan senyum yang dibuat-buat.


Lalu tanpa berlama-lama lagi, ia memanggil seorang waiter untuk membantunya membawa Langit masuk ke mobil, meninggalkan Mia yang terdiam kaku dengan wajah terbengong-bengong.


********


Shien membanting tubuh Langit ke atas tempat tidur setelah ia berhasil memapahnya dengan susah payah. Beruntung Langit tidak mengganti passcode apartemennya, sehingga ia tidak harus repot membangunkannya untuk bertanya.


Shien duduk di ujung tempat tidur sambil memandangi wajah tidur Langit yang sesekali meracau menggumamkan namanya itu dengan tatapan kesal.


Hidung mancungnya terlihat kembang-kempis seiring dengan napasnya yang memburu. Jelas, memapah tubuh Langit yang nyaris dua kali lipat lebih besar darinya membuat tenaga Shien cukup terkuras habis.


Baru saja Shien ingin beranjak untuk mengambil air minum di dapur karena merasakan kerongkongannya sangat kering, Langit tiba-tiba menahan lengannya.


Shien kembali menoleh, dilihatnya Langit yang perlahan membuka mata, mengerjap kecil, lalu tersenyum ke arahnya.


“Shien?” Mata Langit memicing, lalu mengerjap lagi, memicing lagi, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.


“Iya. Ini aku, kenapa?” Sahut Shien ketus. Ia masih kesal karena Langit tidak menunggunya dan malah pergi ke klub malam. Padahal, Shien, kan, hanya terlambat satu jam.


Langit terkekeh kecil, lalu tersenyum mesem-mesem. “Shien pacar aku, kan?” Racaunya, membuat Shien mendengus. “Aku percaya kamu bakal pulang. Hehe”


Shien mencebik. “Percaya apanya?”


“Aku kangen kamu. Sini peluk.” Dan dengan cepat Langit menarik lengannya hingga tubuh Shien jatuh tepat di atas tubuh kekar laki-laki itu, lalu dengan cepat pula Langit membalik tubuh mereka hingga kini Shien berada di bawah kungkungannya.


“Jangan pergi lagi.” Tatapan Langit berubah sendu, membuat hati Shien meringis. Merasa bersalah karena sudah meninggalkan laki-laki ini selama satu tahun dan tidak memikirkan perasaannya. Lantas diusapnya dengan lembut sisi wajah Langit sambil balas menatapnya lekat-lekat.


“Gak akan! Aku gak akan ke mana-mana lagi.” Shien berujar lirih, kemudian kepalanya terangkat sedikit dan mencium bibir Langit. Tidak bergerak, tapi Shien menahannya lama, seolah melepaskan kerinduannya terhadap Langit melalui ciuman itu.


Shien melepaskan ciumannya, tanpa melepaskan tangkupan tangannya dari kedua sisi wajah Langit. Mereka saling bertatapan dalam diam untuk sejenak.


Langit menyentuh pipi kanan Shien, mengusapnya lembut. “Aku akan membuat kamu gak bisa pergi lagi dari aku.”


Dan tak butuh waktu lama setelah kalimat itu terucap, Langit mendekatkan wajahnya untuk kemudian mencium bibir Shien. Ciuman yang begitu lembut, tapi penuh gairah.


Shien yang terbuai akhirnya menutup kedua mata dan melingkarkan tangannya di leher Langit, membalas ciuman itu dengan intens.


Seolah hilang kesadaran, Shien dengan agresif meremas rambut Langit, menekan kepalanya agar laki-laki itu memperdalam ciumannya. Begitu pun saat ciuman Langit berpindah turun ke leher hingga tulang selangkanya.


Shien melenguh dengan napas putus-putus begitu tangan Langit menyusup ke dalam dress yang dikenakannya. Ini gila. Shien selalu hilang kewarasannya saat bersama Langit. Sistem saraf di otaknya tidak bisa bekerja dengan baik.


Tubuhnya melumpuh seketika dan menerima apapun yang dilakukan Langit.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2