
********
“Hari ini kalian gak boleh pulang terlambat. Sore harus sudah ada di rumah.” Ucap Papa, membuat Shanna dan Shien yang tengah menikmati sarapannya mendongak, kemudian menatap Papa dengan heran.
“Emang ada apa, Pa?” Tanya Shanna penasaran. “Hari ini ada evaluasi Program Kerja di tempat les aku. Kayaknya gak mungkin kalau gak pulang malem.” Lanjut Shanna. Sementara Shien tak berkomentar apapun.
“Diundur aja. Pokoknya Papa gak mau tahu, kalian harus pulang tepat waktu hari ini.” Sahut Papa tak peduli.
Shien sedikit mengerutkan keningnya. Sebenarnya ada hal penting apa sampai Papa meminta dirinya dan Shanna pulang tepat waktu dan bahkan menyuruh untuk meninggalkan pekerjaan penting.
“Kok, gitu? Emang ada apaan sih, Pa?” Shanna mendesak, seolah tak terima jika ia harus meninggalkan pekerjaannya untuk hal yang tidak terlalu penting.
“Nanti kita akan makan malam bersama dengan teman Papa.” Jelas Papa akhirnya. “Kita sekeluarga harus menjamunya dengan baik.” Imbuh Papa menutup pembicaraan, kemudian beliau kembali melahap nasi gorengnya.
Dan tentu saja Shien dengan segera mengatur rencana pelarian dirinya. Malas sekali terjebak dalam acara penjamuan makan malam yang sudah pasti membosankan itu.
Tak lama kemudian, tampak asisten rumah tangga berjalan tergopoh-gopoh menghampiri keluarga kecil itu.
“Ada apa, Bi?” Tanya Mama pada Bi Sumi, sang asisten rumah tangga.
“Kata Pak Satpam, orang yang mau jemput Non Shanna dan Non Shien sudah nunggu di depan.” Jawan Bi Sumi.
“Lho, kamu gak mau pake mobil hadiah ulang tahun kamu itu, Sha?” Tanya Mama heran karena Shanna malah dijemput seseorang. Padahal, jelas-jelas gadis itu tadi malam sangat antusias dan tak sabar ingin mengendarai mobil pemberiannya.
“Nanti aja, deh, Ma. Orang yang jemput aku lebih menarik daripada mobil baru itu.” Sahut Shanna seraya mengedipkan sebelah matanya genit. Mama mencebik geli, dirinya yang sudah mengetahui kelakuan Shanna tahu betul pasti yang menjemput Shien adalah salah satu cowok ganteng yang dikejarnya.
Shanna lantas beranjak dari duduknya, lalu berpamitan pada kedua orang tuanya. “Aku berangkat duluan ya, Ma, Pa.” Shanna menghadiahi satu kecupan di pipi Mama dan Papa, sebelum kemudian ia berlalu.
Detik berikutnya, Shien ikut beranjak. “Aku juga berangkat.” Shien membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum kemudian ia menyusul Shanna yang sudah berjalan keluar rumah lebih dulu.
“Sabar, Ma. Shien mungkin butuh waktu.” Ucap Papa, menyemangati Mama yang terlihat sedih akan sikap Shien yang masih enggan membuka diri dan hatinya.
********
Shanna dan Shien berjalan beriringan menuju gerbang rumahnya, tempat dimana mobil yang menjemput mereka terparkir.
Shanna berseru senang saat matanya menangkap sosok Langit yang tengah berdiri sambil bersandar pada badan mobil BMW i8 Coupe warna hitamnya. Laki-laki itu tampak mempesona bak model iklan L-Men.
“Langit.” Sanna dengan riang langsung berlari kecil menghampirinya. Sementara mata Langit masih tertuju pada gadis yang berjalan di belakang Shanna.
Shien menyadari tatapan itu, namun sebisa mungkin ia menghindarinya dan mengalihkan perhatiannya dengan mencari mobil Tante Hilda yang biasa dikendarai Fina.
Mengernyitkan keningnya, Shien heran karena mobil itu tidak ada. Bukankah tadi Bi Sumi mengatakan sudah menunggunya? Sontak ia menjadi serius mencari-cari keberadaan Fina.
“Pak, teman saya mana? Katanya tadi udah jemput?” Shien tanpa basa-basi langsung bertanya pada Satpam yang menjaga rumahnya.
“Tadi memang udah jemput. Non, tapi pergi lagi.” Jawab Pak Satpam bernama Pak Nono itu. Shien yang mendengarnya otomatis semakin mengerutkan keningnya dalam.
“Kenapa, Shi?” Tanya Shanna yang melihat sang adik tampak kebingungan dan sepertinya juga kesal. Shien tak menyahutinya, gadis itu dengan segera mengambil ponsel dari tasnya untuk menghubungi Fina.
“Kamu dimana?” Sambar Shien langsung begitu panggilannya terjawab.
“Ini aku lagi jalan ke kantor.” Jawab Fina di seberang sana.
“Lho, kok gitu? Kamu bukannya tadi udah di depan gerbang rumah?” Shien terus menginterogasi. Wajahnya mulai merengut masam, tak terima Fina meninggalkannya begitu saja.
“Iya. Tapi tadi dokter Langit nyuruh aku pergi. Katanya dia yang mau ngantar kamu.” Jawab Fina, membuat Shien mengangakan mulutnya lebar-lebar, kemudian melempar pandangannya pada Langit dengan tatapan tajam seolah siap mencabik-cabik laki-laki itu. Tapi, yang ditatap hanya mengedikkan bahunya tak peduli seraya menyunggingkan senyuman tanpa rasa bersalah.
Ya, tadi Langit dan Fina datang bersamaan. Saat Langit mengetahui Fina hendak menjemput Shien, Langit langsung menyuruhnya pergi dengan alasan bahwa ia juga menjemput Shien dan akan mengantarnya ke kantor. Ia tahu betul bahwa Shien sekarang ada di rumah ini karena Shanna menceritakannya. Pada awalnya Fina ragu, namun Langit terus meyakinkannya.
“Shien, apa hubungan kamu sama dia? Aku kira dia pacar kakakmu.” Tanya Fina merasa heran. Pasalnya, pertama kali ia bertemu Langit adalah saat Langit datang bersama Shanna di peluncuran buku Shien beberapa waktu lalu.
“Kembali sekarang juga.” Perintah Shien tegas, membuat Fina yang mendengarnya kesulitan menelan ludah. Gadis itu sepertinya sadar bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan.
“A. . aku gak mungkin putar arah, ini macet banget. Kamu bareng dia aja, ya. Atau naik taksi. Maaf, Shi.” Sahut Fina sedikit terbata, kemudian ia memutus sambungan teleponnya tanpa ragu. Untuk saat ini Fina bernapas lega karena bisa lepas dari kemarahan Shien, tapi ia harus menyiapkan diri. Setibanya di kantor, pasti Shien langsung mengomeli dan siap membekukannya.
“Fina. . . .” Shien menggeram tertahan karena Fina menutup teleponnya begitu saja.
“Shi, Fina kemana?” Tanya Shanna yang juga ikut keheranan. “Katanya sakit perut, makannya pergi duluan.” Jawab Shien yang sebenarnya itu adalah kutukan. Ia harap Fina mengalami sembelit pagi ini karena sudah berani meninggalkannya dan lebih percaya pada orang lain.
“Ya udah, kamu bareng kita aja.” Usul Shanna yang sontak membuat Langit senang, karena secara tidak langsung gadis itu sudah mewakili dirinya. Jika Shanna tidak mengusulkan terlebih dahulu, maka Langit yang akan melakukannya. Seperti itu, sesuai rencananya.
“Gak usah, aku pesen taksi aja.” Tolak Shien sambil mencari aplikasi taksi online di ponselnya.
“Udah bareng aja. Lagian, kamu sama Langit juga searah. Kamu gak keberatan, kan, Lang?” Shien dengan cepat merampas ponsel milik Shien, lalu melemparkan pandangannya pada Langit untuk meminta persetujuan.
__ADS_1
“Mana mungkin aku keberatan.” Jawab Langit refleks. Ia tak bisa menahan rasa senang yang membuncah dalam hatinya. “Maksudnya, kita searah. Lebih baik kamu bareng sama aku daripada naik taksi harus nunggu dulu.” Terang Langit kemudian. Sorot mata kemenangan ia hunuskan pada Shien yang saat ini menatapnya dengan tatapan kesal.
“Ayo.” Seru Langit yang sudah membukakan pintu depan dan belakang untuk kedua gadis kembar itu. Shanna lebih dulu masuk di kursi depan, sementara Shien masih diam mematung di tempatnya.
“Cepat naik, atau ponsel kamu aku buang.” Teriak Shien sedikit melongokkan kepalanya karena mendapati sang adik masih terdiam, sejurus kemudian ia menutup pintu mobilnya.
“Ayo. . . .” Langit meraih pundak Shien untuk membimbinng gadis itu masuk ke mobil. Namun, detik berikutnya ia melepaskan tangannya dari pundak Shien saat gadis itu menginjak kakinya dengan kesal dan tanpa ampun. “Aww, ssssh. . . .” Langit meringis tertahan. Ujung strap heels yang dikenakan Shien menancap tepat di atas kakinya hingga terasa berdenyut ngilu.
Shien menatap puas Langit yang tampak kesakitan. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya keras-keras, berharap pintu mobil milik Langit rusak.
Langit yang melihat itu tersentak kaget, lalu bergidik ngeri. Besok-besok ia harusnya membawa mobil murah saja. Perempuan benar-benar menyeramkan saat kesal. Apa gadis itu tidak tahu mobil miliknya ini pernah mejeng di Avengers: Endgame?
“Lolipop, leher kamu udah sembuh. Harusnya aku gak usah jemput kamu.” Ujar Langit yang mulai melajukan mobilnya.
Sebenarnya ia tidak keberatan jika harus menjemput Shanna setiap hari, karena dengan begitu ia juga bisa menjemput Shien juga. Ia berkata seperti ini hanya untuk berbasa-basi.
“Mana boleh kayak gitu? Kamu, kan, udah sepakat sebelumnya buat ngantar jemput aku selama seminggu. Terserah leher aku udah sembuh atau belum.” Protes Shanna bersungut-sungut.
“Iya-iya, cerewet.” Sahut Langit berpura-pura terlihat malas. Sesekali matanya melirik Shien dari kaca spion. Langit mengedipkan sebelah matanya saat tak sengaja pandangan mereka beradu.
“Orang aneh.” Shien buru-buru memalingkan wajahnya untuk memutus kontak. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Langit. Shien merasa Langit seperti tengah menggodanya saat ini. Dan jika dugaannya benar, maka yang dilakukan Langit adalah kesalahan.
Suasana di dalam mobil cukup ramai dengan celotehan Shanna dan Langit. Sementara Shien hanya diam mendengarkan sembari melempar pandangannya keluar.
Shanna banyak bertanya mengenai Langit mulai dari usia, pendidikan, hobi, bahkan sekaya apa Langit, Shanna menanyakannya. Bukan apa-apa, Shanna hanya penasaran karena setiap kali bertemu, Langit selalu membawa mobil yang berbeda dan jelas itu bukan mobil murah jika dilihat dari merknya. Dan Langit menjawab dengan asal bahwa itu semua hanya mobil bekas.
Tak hanya Shanna, Langit juga melemparkan pertanyaan yang sama pada Shanna dan Shien bergantian. Namun tak seperti Shanna yang antusias menjawabnya, Shien hanya menjawab pertanyaan dari Langit singkat-singkat. Shien tidak terlalu tertarik untuk menceritakan tentang dirinya pada siapapun. Lebih tepatnya, ia kurang suka.
Dan dari hasil mencuri dengar, Shien bisa menyimpulkan bahwa Shanna belum lama mengenal Langit. Sekarang Shien tahu bahwa laki-laki itu usianya satu tahun lebih tua di atasnya. Latar belakang pendidikan sangat bagus, dan memiliki hobi berbelanja. Hobinya sama dengan Shanna, sehingga mereka sangat nyambung saat membicarakan berbagai barang branded. Cukup cocok, mereka bisa berbelanja sambil berkencan setiap hari. Shien berpikir seperti itu.
Ada yang pernah meramalkan ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta. Salah satu tandanya adalah merasakan waktu yang berjalan lebih cepat saat tengah bersama orang tersebut.
Dan itulah yang dirasakan Shanna saat ini. rasanya, baru beberapa menit yang lalu ia menaiki mobil dan duduk di samping Langit, tahu-tahu sekarang mobil itu sudah berhenti di depan tempat lesnya. Dan dengan sangat menyesal, ia harus melepas seatbelt, lalu turun dari mobil Langit.
“Thanks, Langit. Aku titip dia, ya. Suka kabur soalnya.” Ucap Shanna seraya mengedikkan dagunya menunjuk ke arah Shien. Shien yang mendengarnya hanya mendengus, dikira dia anak kucing atau apa?
Sementara Langit yang mendengar itu terkekeh pelan, untuk kemudian ia berujar. “Tenang aja. Aku anterin sampai ke dalam kantornya kalau bisa.” Shien mendelik sebal ke arahnya.
“Haha, sip, deh.” Shanna terkekeh kecil seraya mengacungkan jempolnya. Shanna lantas menutup pintu mobil dan berlalu dari sana tanpa menunggu mobil Langit pergi terlebih dahulu.
Shien menegakkan tubuhnya, merasa heran karena Langit tak kunjung menjalankan mobilnya. Padahal, Shanna sudah pergi.
“Aku bukan sopir kamu.” Terang Langit.
“Kalau kamu gak mau pindah, aku gak mau jalan.” Ancam Langit kemudian.
Shien menggeram tertahan. Langit benar-benar tukang maksa dan sangat ribet. Perkara duduk saja dipermasalahkan.
“Terserah, sih, kalau kamu gak mau jalan. Aku masih bisa kerja jarak jauh. Nah, kamu?” Shien memutar balik keadaan. Langit kalah telak. Jelas, ia adalah seorang dokter yang pekerjaannya tidak mungkin bisa dilakukan dari jarak jauh karena harus berhubungan dengan manusia secara langsung.
Sejenak Langit bergeming, memutar otak untuk menemukan cara agar Shien pindah ke depan. Ia kemudian turun dari mobil, hingga membuat Shien yang melihatnya terheran-heran.
“Ayo pindah.” Shien terperanjat mendapati Langit yang kini sudah membukakan pintu, lalu melepas paksa seatbeltnya. “Langit.” Protes Shien kesal.
“Pindah sekarang.” Perintahnya lagi sambil menarik lengan Shien agar cepat turun dan pindah ke kursi bagian depan.
Shien menghentakkan kakinya kesal sesaat setelah dirinya turun dari mobil.
“Bisa gak, sih, gak maksa orang?” Gerutu Shien setelah ia dan Langit kembali masuk ke dalam mobil.
“Salah kamu gak nurut.” Sahut Langit yang mulai melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Kamu bukan suami aku.” Seru Shien spontan. Detik berikutnya, ia menyesal telah mengatakan hal seperti itu. Akibatnya, Langit kini menoleh ke arahnya dengan senyum dan tatapan meledek.
“Ohh, jadi gitu.” Langit mengangguk-anguk kecil seraya mengulum senyumnya.
“Ya udah, kalau gitu kita nikah aja biar kamu bisa dan cepat nurut.” Ucap Langit enteng.
Mendelik sebal, Shien memilih untuk tak meladeninya dengan cara menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil dan memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur. Laki-laki itu memang selalu asal bicara.
Melihat Shien yang pura-pura tidur, Langit jadi gemas sendiri. “Terus aja pura-pura tidur. Lebih mudah aku apa-apain.” Ancam Langit sambil senyum-senyum. Senang sekali bisa menggoda Shien seperti ini.
Spontan Shien membuka matanya, lalu memukul lengan Langit yang masih betah menggodanya. “Ciee, udah berani pukul-pukulan.” Langit terkekeh geli saat melihat wajah kesal Shien.
“Itu gak lucu.” Shien menatap tajam Langit agar laki-laki itu berhenti tertawa dan menggodanya. “Itu lucu.” Balas Langit seraya mengusap sudut matanya yang sedikit berair.
__ADS_1
“What’s so funny?” Shien memalingkan wajahnya dengan kesal, lalu menatap lurus ke arah jalanan pagi yang mulai padat hingga menyebabkan laju mobil Langit seperti keong. “Kamu.” Jawab Langit.
“Stop teasing! Lihat tuh, mobil di depan udah jalan jauh.” Langit tersadar, ia juga tersentak saat suara klakson di belakang mobilnya berkoar-koar seolah tengah memarahinya karena tidak bergerak. Ia lalu kembali menjalankan mobilnya.
“Tapi kamu emang lucu.” Langit sepertinya belum puas menggoda Shien, sehingga membuat gadis itu menggertakkan giginya kesal. Ingin sekali ia menjahit mulut Langit agar tak bicara lagi.
“Apalagi kalau kesel kayak gitu, gak cuma lucu, tapi tambah cantik.” Tambah Langit menoleh sekilas ke arah Shien. Benar apa yang dikatakan Shanna. Shien harus diganggu untuk menarik perhatiannya agar mau berbicara.
“Apa kamu bisa jahit bagian tubuh orang?” Shien menoleh cepat ke arah Langit masih dengan ekspresi kesalnya.
“Bukan bisa lagi, itu emang kerjaan aku. Dan kemampuan aku menjahit luka orang adalah yang paling baik dan rapi.” Shien mencebikkan bibirnya. Apa orang di sebelahnya ini sedang membanggakan dirinya sekarang? Cih, benar-benar percaya diri.
“Kalau gitu, aku boleh minta kamu buat jahit sesuatu?” Tanya Shien.
“Kamu punya luka robek?” Langit balik bertanya dengan raut khawatir.
“Bukan itu.” Sambar Shien cepat. Langit mengernyitkan dahinya tak mengerti.
“Tapi mulut kamu. Aku minta kamu buat jahit mulut kamu sendiri, soalnya kamu ngeselin kalau ngomong.” Sungut Shien berapi-api. Ia benar-benar dibuat kesal, padahal hari masih terlalu pagi.
“Jahatnya.” Langit mendesis ngeri tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Senyum tipis tampak tersungging di sudut bibirnya. Ke depannya, ia akan lebih sering menggoda Shien seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Langit memperlambat laju mobilnya, berbelok dan masuk ke halaman kantor Snow Candy, lalu mobil itu berhenti tepat di hadapan pintu masuk utama kantor itu.
Tak lantas turun, Shien masih bergeming di tempatnya. Ia teringat sesuatu yang sejak awal ingin disampaikan pada Langit, namun ia lupa karena tadi Langit malah membuatnya kesal dengan terus menggodanya.
“Kenapa kamu lancang ngusir Fina?” Tanya Shien dengan tatapan tak suka.
“Ya karena aku mau kamu berangkat bareng aku.” Jawab Langit santai.
“Kenapa?” Shien kembali bertanya. Setahunya, ia dan Langit tidak dalam hubungan yang dekat untuk bisa berangkat bersama. “Karena kita searah.” Langit menyahut dengan asal. Shien yang mendengar itu mendengus seraya memutar bola matanya jengah.
“Karena aku suka sama kamu, dan aku mau kamu dekat sama aku.” Langit meralat jawabannya, namun ia hanya bisa mengatakannya dalam hati.
“Lain kali, jangan pernah lakukan itu lagi.” Shien memberi peringatan.
“Aku gak bisa bilang iya.” Langit tersenyum menyeringai.
“Jangan harap. Aku gak akan biarin ini terjadi lagi.” Ujar Shien dingin.
“Coba saja.” Balas Langit dengan tatapan menantang. Sejenak pandangan mereka saling terkunci, sebelum kemudian Shien lebih dulu mengakhirinya.
Shien berusaha membuka sabuk pengaman yang dikenakannya, tapi entah kenapa benda itu mendadak sulit dibuka. Sabuk pengaman itu seperti macet karena Shien berusaha membukanya dengan tergesa-gesa.
Melihat Shien yang kesulitan, Langit inisiatif membantu gadis itu untuk membuka sabuk pengamannya.
“Kamu gak sabaran, makannya macet.” Shien menahan napasnya saat menyadari jarak dirinya dan Langit terlalu dekat.
Posisinya ini, jika ada yang melihat bisa membuat orang salah paham. Posisi Langit yang terlalu condong pada tubuh Shien, benar-benar seperti adegan kalau mereka tengah melakukan apa-apa.
“Done.” Seru Langit saat ia berhasil membuka sabuk pengaman yang terkunci itu. Ia heran kenapa itu bisa macet, padahal mobilnya masih baru.
Langit hendak beranjak dari posisinya, namun terurungkan saat matanya malah beradu pandang dengan mata Shien yang jernih. Wajah gadis itu tampak menegang.
Hati Langit mendadak berdesir berada dalam posisi sedekat ini dengan Shien. Bulu kuduknya seperti berdiri dan darahnya mengalir cepat ke seluruh tubuh.
“Langit.” Ucap Shien yang lebih dulu tersadar. Gadis itu terlihat gugup karena Langit terus menatapnya tanpa kedip.
Entah apa yang mendorong Langit untuk terus mendekatkan wajahnya, mendadak ia tak bisa mengendalikan diri. “Aku harus tu . . . .” Mata Shien membulat sempurna saat tiba-tiba Langit membenamkan ciuman di bibirnya. Tangan Shien yang tadi hendak mendorong bahu Langit seketika terkulai lemas saking terkejutnya.
Shien semakin dibuat membeku tatkala Langit mulai menggerakkan bibirnya dengan lembut.
Sejenak Shien merasa jantungnya sudah berhenti berdetak saat merasakan lidah Langit menjilati bibirnya, lalu menekannya semakin dalam, seolah berharap Shien membalasnya. Namun, gadis itu tetap mematung.
Apa ini? Kenapa Langit menciumnya? Bukankah hal seperti ini hanya dilakukan untuk orang yang saling menyukai? Atau Langit adalah laki-laki mesum yang selalu memanfaatkan keadaan seperti ini? Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam kepala Shien.
“Sialan.” Umpat Shien dalam hati. Ia tak terima karena Langit sudah mencuri ciuman pertamanya. Lantas dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Langit hingga ciumannya terlepas.
Dengan napas yang terengah, Shien menatap Langit penuh kemarahan. “Shi, aku. . . .” Ucapan Langit terpotong tatkala satu tamparan dari tangan Shien mendarat di pipinya. Rasanya cukup perih.
“Jangan pernah muncul di hadapan aku lagi.” Shien memperingati dengan raut wajah yang sama sekali tak ramah.
“Cause i don't want to see you again.” Tambah Shien penuh penekanan.
Kemudian dengan cepat gadis itu turun dari mobil. Meninggalkan Langit yang masih bergeming akan keterkejutannya. Terkejut karena dirinya hilang kendali dan terkejut karena baru saja Shien menamparnya.
__ADS_1
********
To be continued . . . .