
Huhu, maaf terlambat. Niat update tadi malam, tapi wifi di rumah mati belum bayar tagihan dan aku gak punya kuota. Waks 😂😂😂😂
Happy reading, yes.
Minggu ini gak slow up lagi.
********
Langit menyugar rambutnya sambil sesekali mendesah frustrasi. Sejak tadi, sejak gadis itu melihatnya bersama Shanna di toko perhiasan, Shien yang marah masih menutup mulutnya rapat-rapat.
Sial sekali. Langit bahkan belum mengetahui apa penyebab Shien mendiamkannya kemarin, dan sekarang Shien salah paham karena apa yang dia saksikan di toko perhiasan beberapa saat lalu.
Ahh, siapa yang menyangka jika Langit akan bertemu dengan Shanna di sana? Langit pergi ke sana hanya untuk membeli perhiasan untuk Senja, sang kakak yang akan berulang tahun dalam beberapa hari lagi. Ia juga membelinya satu untuk Shien dan berniat memberi gadis itu kejutan setelah pulang dari sana. Tapi, sungguh kebetulan yang tidak diharapkan ia bertemu dengan Shanna dan temannya, dan Shien datang di waktu yang tidak tepat.
Shien begitu defensif, dia bahkan tidak ingin mendengarkan penjelasan Langit dan keluar dari mall, lalu menghentikan taksi yang melintas di depannya.
Langit berusaha mencegah Shien untuk menaiki taksi tersebut, tapi tidak berhasil. Lantas ia buru-buru mengambil mobilnya di parkiran dan mengikuti taksi yang ditumpangi Shien yang ternyata berhenti tepat di depan gedung apartemennya.
Langit bergegas turun dari mobil yang ia parkirkan sembarang dan menyusul Shien yang berjalan menuju taman yang ada di apartemen itu.
Shien terduduk lesu di salah satu kursi yang ada di taman tersebut. Sejenak Langit terdiam memperhatikan Shien yang tengah duduk memunggunginya. Ia melipat bibirnya ke dalam dengan pikiran sibuk menerka-nerka. Apakah Shien sangat marah padanya? Apakah Shien sedang menangis sekarang? Langit tidak tahu pasti.
“Shi. . . .” Panggil Langit setelah ia menghampiri dan duduk di sebelah Shien yang bergeming dengan wajah tanpa ekspresinya, tidak merespon panggilan Langit. Gadis itu menatap lurus ke sembarang arah dengan jari tangan yang saling memilin di atas celana yang masih menjadi setelan kerjanya. Cahaya lampu taman yang cukup terang dari belakang membuat wajah sendu Shien tersamarkan oleh bayang.
“Shien. . . .” Meraih satu tangan Shien, Langit menyatukan telapak tangan mereka lalu mengeratkan genggaman tangan itu. “Aku minta maaf ya. . . .”
Menghela napas berat, Shien lantas menoleh sehingga pandangannya bertemu dengan wajah Langit yang tampak menyesal. “You know? I thought I knew you. But somehow I was wrong.”
Langit menggeleng cepat. “Aku bisa jelasin. Tadi aku gak sengaja ketemu Shanna sama temannya, dan. . . .”
“Dan kamu memilih diam karena gak enak sama kak Shanna.” Sambar Shien cepat, ia tersenyum miris. “Biar aku tebak, kamu gak mau membuat dia malu atau kehilangan muka. Makannya kamu memilih diam, iya?”
Langit menunduk dengan perasaan menyesal. Merutuki kebodohannya yang tidak tegas dalam mengambil sikap. Bibirnya terbuka hendak menyahuti ucapan Shien yang memang tidak salah, tapi terkatup lagi karena ia terlalu bingung.
“Langit, apa bisa kamu jangan bersikap terlalu baik?” Tanya Shien dengan tatapan kecewanya.
Shien tahu, Langit memiliki hati yang baik dan terbiasa memperlakukan semua orang dengan baik pula. Langit terlalu menjaga perasaan orang lain, tapi dia tidak mengindahkan batasan sehingga sikapnya itu tanpa sadar menyakiti Shien yang notabenenya adalah kekasihnya, dan seharusnya perasaan Shien lebih diutamakan, baru orang lain kemudian.
Shien benar-benar kecewa akan hal ini.
“Kamu tuh. . . .” Shien menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. “Gak tahu batasan dan gak punya pendiriran. Aku gak nyangka, ternyata kamu orang yang seperti ini.”
Shien hendak melepaskan tangannya dari genggaman tangan Langit. Tapi laki-laki itu tidak membiarkannya dan menggenggam tangannya semakin erat.
“Maafin aku, Shi.” Ujar Langit sekali lagi dengan tatapan memohon.
Shien berdecak, melepas genggaman tangannya dari laki-laki itu dengan sentakan penuh. “Kalau begini, aku jadi ragu sama perasaan kamu ke aku.” Shien menjeda kalimatnya sebentar, air mata yang menggenang sudah siap untuk terjun bebas membasahi pipinya. “ Kalau kamu cuma mau main-main, tolong jangan sama aku.” Lanjutnya dengan suara bergetar, lalu beranjak meninggalkan Langit untuk masuk ke dalam gedung apartemen.
Shien kecewa. Ia tidak mau mendengar apapun dari mulut Langit saat ini. Tidak sebelum Langit benar-benar sadar dan memperbaiki letak kesalahannya. Shien tidak ingin Langit hanya bisa meminta maaf tapi kemudian mengulanginya lagi.
Bukannya Shien meminta atau menuntut Langit untuk merubah sikapnya. BUKAN. Shien hanya ingin Langit membuat batasan pada Shanna atau gadis lain yang diklaim sebagai teman dan lebih memikirkan perasaannya, itu saja.
__ADS_1
Shien sudah cukup toleran, bukan?
Langit bangkit berdiri dengan gerakan cepat, lalu segera berlari untuk mengejar Shien yang sudah berjalan jauh di sana.
“Shien, aku tahu kamu marah sama aku.” Langit menahan tangan Shien yang hendak membuka pintu apartemennya, lalu menariknya untuk kemudian membalikkan tubuh gadis itu hingga menghadap ke arahnya.
“Aku salah dan aku minta maaf.” Ujar Langit dengan wajah memelas. Ia benar-benar menyesal sudah bersikap demikian. Seketika hatinya terasa sakit, merasa dirinya sangat buruk dan juga bersalah karena sudah mengecewakan dan membuat Shien menangis, terlihat jelas dari sisa-sisa air mata yang mulai mengering di pipinya.
“Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh maki-maki aku, kamu boleh pukul aku. Tapi, tolong jangan meragukan perasaan aku sama kamu. Trust me, please.” Mohonnya lagi seraya membawa tubuh Shien ke dalam pelukannya, namun Shien masih defensif. Gadis itu mendorong dada Langit dengan sisa-sisa tenaganya hingga tercipta jarak di antara mereka.
“Aku gak tahu. Aku bingung.” Ucap Shien lelah. “Hubungan kita. . . .”
“Enggak, Shi. . . .” Sambar Langit cepat, ia tidak ingin mendengar kemungkinan kalimat Shien selanjutnya.
“Sepertinya kita harus mempertimbangkannya lagi.” Sambung Shien, lalu bergegas masuk ke dalam apartemennya, meninggalkan Langit yang berdiri terpaku di tempatnya. Dalam beberapa detik setelah kalimat terakhir Shien, ia hanya bisa terdiam mematung memandang punggung Shien yang kini sudah menghilang di balik pintu yang tertutup rapat itu.
Hatinya mencelos sakit. Jelas sekali, Shien melontarkan kalimat itu dengan diliputi kekecewaan yang mendalam terhadapnya.
“Shien, buka pintunya. Jangan ngomong kayak gitu, aku minta maaf.” Langit terus menekan bel dan berulang kali mengucap kata maaf, berharap Shien membuka pintu dan menemuinya. Tapi nihil, bahkan setelah beberapa jam berlalu dan kaki Langit terasa kebas karena terlalu lama berdiri di depan pintu, gadis itu tak kunjung keluar.
Sebenarnya, Langit bisa saja menerobos masuk ke apartemen Shien, mengingat ia mengetahui passcodenya. Tapi jika ia melakukan itu, Langit takut Shien akan bertambah marah padanya. Jadi ia memilih untuk menunggu gadis itu membuka pintu sesuai keinginannya saja.
Menghembuskan napas lemah, Langit memutuskan untuk pergi dan masuk ke apartemennya sendiri dengan langkah gontai. Mungkin Shien butuh waktu untuk menenangkan amarahnya saat ini, Langit akan menemuinya besok lagi. Sunggguh, Langit tidak ingin bertengkar lama-lama dengan Shien.
********
Langit termenung di atas kursi kerjanya seraya menggerakkan kursi tersebut ke kiri dan ke kanan dengan kepala menengadah memandang langit-langit ruangan. Sudah terhitung empat hari sejak terakhir ia bertemu Shien di apartemen, Shien menolak untuk menemuinya. Gadis itu juga mengabaikan panggilan telepon dan pesan chatnya.
“Hubungan kita. . . .”
“Sepertinya kita harus mempertimbangkannya lagi.”
Kalimat terakhir Shien terngiang-ngiang di kepalanya. Begitu pun dengan wajah kecewa Shien yang masih tergambar jelas dalam ingatannya.
Apa sikapnya itu sangat menyakiti hati Shien sampai dia meragukan perasaannya? Bahkan berpikir untuk mempertimbangkan hubungan mereka?
Langit menggelengkan kepalanya. Tidak. Langit tidak ingin itu terjadi. Langit tidak ingin Shien meninggalkannya bahkan jika Shien hanya berpikir untuk itu.
Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Langit menyahuti dan mempersilahkan siapapun itu untuk masuk ke ruangannya. Saat pintu terbuka, terlihat Biru yang masih mengenakan seragam scrub berjalan ke arahnya dengan membawa dua buah cup minuman bubble penuh whipped cream di atasnya. Cukup cocok untuk mengatasi hipoglikemia yang sering dialami beberapa Dokter termasuk dirinya, karena minuman tersebut mengandung kadar gula yang bisa dibilang tidak rendah.
“Kusut banget muka lo belakangan ini. Kenapa?” Tanya Biru dengan pandangan menyelisik, seolah tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
“Cuma banyak kerjaan aja.” Dalih Langit, membuat suaranya terdengar santai. Ia tidak berniat menceritakan masalah pribadinya pada siapapun selama ia masih bisa mengatasinya sendiri. Ia lantas meraih satu cup minuman bubble yang disodorkan Biru, kemudian meminumnya dengan meraup whipped creamnya terlebih dahulu. Laki-laki itu terlihat sangat manis dengan cream yang berantakan di sekitar mulutnya.
“Ngapain ke sini?” Tanya Langit kemudian. Heran saja Biru tiba-tiba datang ke ruangannya, padahal mereka tidak ada janji untuk berkumpul atau menikwati waktu santai bersama.
“Ya mau aja. Emang gak boleh?” Sahut Biru sewot, lalu menjilati whipped cream yang belepotan di sekitar mulutnya, persis seperti anak kecil. Mungkin jika ada Dokter atau Perawat lain yang melihat Kepala Rumah Sakit mereka seperti ini, Biru benar-benar akan kehilangan wibawanya.
“Gak biasanya aja.” Gumam Langit dan kembali menikmati minuman bubblenya, cukup mendinginkan kepalanya yang sebelumnya terasa mumet.
“Ohh, iya. . . .” Ucap Biru setelah beberapa saat terdiam, dia menghentikan kegiatan menikmati minumannya saat teringat sesuatu. Langit mendongak dengan sebelah alis terangkat mewakili pertanyaan yang tidak terucap di mulutnya.
__ADS_1
“Gue lihat belakangan ini lo makan siang bareng sama si cewek gila. Maksudnya, si Shanna.” Lanjut Biru sedikit meralat ucapannya, mengingat dua hari ini ia tidak sengaja melihat Langit dan Shanna makan siang bersama di restoran dekat rumah sakit. Tidak hanya itu, ia juga melihat mereka terkadang nongkrong berdua di kedai kopi di sore hari. “Gue sama Jingga juga lihat elo sama dia kemarin malam di mall. Abis ngapain? Belanja bareng? Kalian seneng banget kayaknya.” Tambahnya dengan sorot mata penuh selidik. Ia merasa kurang nyaman melihat itu. Mungkin jika ia tidak tahu Langit adalah kekasih Shien, perasaannya tidak akan terganggu. Biru hanya merasa itu tidak benar.
Langit mengangguk, tidak menyangkal apa yang dikatakan Biru. “Dia datang ke sini dan gue gak enak nolak ajakan dia. Dan yang di mall, gue gak sengaja ketemu dia waktu mau beli sesuatu, kebetulan toko yang dituju sama, jadi sekalian bareng.”
Biru terperangah dengan mulut sedikit menganga mendengar penuturan Langit. Sadarkah dia dengan ucapannya itu? Selama ini, ia kira Langit lebih baik darinya.
“Lo harusnya jaga jarak sama dia.” Bukan Biru ingin mencampuri urusan Langit. Hanya saja, sebagai teman ia merasa harus sedikit memberinya teguran. Biru tidak mau apa yang terjadi padanya dulu juga dialami oleh Langit.
“Jaga jarak gimana? Gue sama dia cuma temenan, gak lebih.” Sahut Langit.
“Dan lo tahu sendiri kalau Shanna gak nganggap lo cuma sekedar teman. Perasaan dia lebih dari itu. Lo sendiri yang bilang gitu sama gue dan Jingga.” Balas Biru mengingatkan. “Lo pikir gimana perasaan Shien kalau tahu ini? Walaupun kalian gak ngapa-ngapain, tapi gue yakin dia gak akan nyaman.” Sambungnya, membuat Langit bungkam tak bisa membalas kata-katanya.
“Itu gak bener, Lang. Kalau kayak gini, lo sama aja kayak ngasih kesempatan sama Shanna buat deketin lo. Sikap gak enakan lo itu bisa bikin siapa aja salah paham, dan secara gak langsung bisa nyakitin Shien.” Langit tepekur mendengar ucapan Biru. Ya, dia benar. Langit menyaksikannya sendiri betapa kecewanya Shien padanya setelah kejadian di toko perhiasan itu.
“Lo harus punya batasan dalam berteman sama lawan jenis. Karena sekarang ada perasaan seseorang yang harus lo jaga, Shien. Lo harus menjaga perasaannya baik di depan maupun belakang.”
Langit masih terdiam. Seolah tertohok, ia merasakan tubuhnya memanas diiringi dengan sudut hatinya yang terluka. Ia sadar akan sesuatu, Langit sudah membuat kesalahan sekali lagi. Ia ingin Shien menjaga perasaannya, tapi ia sendiri tidak bersikap sebagaimana ia ingin diperlakukan. Langit jadi merasa sangat egois terhadap Shien.
“Lo tahu persis bagaimana terganggunya Jingga lihat kedekatan gue sama Luna dulu. Gue gak mau lo ngalamin apa yang terjadi sama gue.” Ujar Biru tulus. Bayangan Jingga yang meninggalkannya karena kebodohannya kembali berkelebat di kepalanya Beruntung gadis yang sudah menjadi istrinya itu masih memberi kesempatan kepadanya. Jika tidak, maka Biru tidak tahu lagi bagaimana cara ia akan melanjutkan hidup.
“Gue yakin, lo lebih tahu bagaimana cara mengambil sikap. Gue cuma ngingetin lo sebagai teman. Karena gak setiap orang bisa mendapatkan kesempatan kedua, jangan sampai lo nyesel di kemudian hari.” Biru lantas beranjak setelah membaca pesan yang memintanya untuk pergi ke ruang IGD, lalu menepuk pundak Langit untuk kemudian berlalu pergi dari ruangan sahabat yang lebih muda darinya itu.
Setelah Biru menghilang dari balik pintu, Langit lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia termenung sendiri, terus mengulang kata-kata Biru dalam benaknya.
Dering notifikasi dari salah satu aplikasi media sosial pada ponselnya seketika membuyarkan lamunan Langit. Ia lantas meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu melihat pop up notifikasi tersebut.
@bright_shanna mentioned you in their post
Langit mengernyitkan keningnya, kemudian membuka aplikasi yang biasanya dijadikan tempat ajang pamer bagi kebanyakan orang di belahan dunia ini. Begitu aplikasi dengan logo berbentuk kamera itu terbuka, nampaklah foto kebersamaannya dengan Shanna saat mereka bermain di Dufan beberapa waktu lalu dengan caption tanda hati warna merah mengiringinya.
Ada sekitar lima foto yang Shanna posting, dan kelimanya adalah foto berdua bersama Langit. Mereka begitu dekat dalam foto itu di mana Langit merangkul pundak Shanna dan kepala mereka saling menempel, tidak lupa senyum semringah yang tersungging di bibir keduanya ikut mempercantik foto-foto tersebut.
Seketika mata Langit membulat sempurna dengan tubuh menegang kaku. Ia kembali disadarkan, sadar akan sesuatu yang membuat Shien mendiamkannya setelah pulang dari Dufan.
Ternyata ia sudah membuat kesalahan sejak hari itu. Ia sudah mengabaikan Shien dan bersenang-senang sendiri. Ahh, bukan. Lebih tepatnya, ia bermain dengan Shanna dan mengabaikan Shien. Ia bahkan melupakan ajakan Shien yang ingin masuk ke Ice Age. Padahal, katanya itu adalah pengalaman pertama Shien menginjakkan kakinya di Dufan.
Tidak hanya itu, foto-foto tersebut juga menggiring ingatan Langit pada hal yang lainnya.
“Sebenarnya, emang ngebosenin. Bikin ngantuk.”
“Dari dulu, ini wahana yang paling aku hindari. Aku paling nggak suka ini.”
Sudut hati Langit kembali berdenyut nyeri mengingat ucapan tanpa sadarnya saat di istana boneka. Mungkinkah Shien mendengar hal itu juga?
Sungguh. Langit benar merasa lebih buruk sekarang. Ia berjanji pada dirinya sendiri ingin menjadi pelindung sekaligus pemberi kebahagiaan pada Shien, tapi yang dilakukannya justru sebaliknya. Ia malah menjadi orang yang paling melukai gadis itu.
Menyadari kebodohannya, lantas Langit segera mengganti pakaiannya dan keluar dari ruangan untuk mencari Shien.
********
To be continued. . . . .
__ADS_1