
********
“Lang. . . . ngit.” Nathan yang semula hendak berteriak langsunng menurunkan nada suaranya begitu pintu terbuka sempurna. Baik Nathan maupun Shien yang berdiri di sebelahnya, mereka mematung dengan wajah terbengong-bengong kala melihat pemandangan acara makan malam di depannya. Lain halnya dengan sekelompok orang di depannya yang menatap mereka terheran-heran.
“Maaf, sepertinya kami salah ruangan.” Cicit Nathan buru-buru menutup kembali pintu tersebut, kemudian menarik tangan Shien untuk beranjak dan kembali ke parkiran.
“Malu-maluin banget, Shi. Langit bener-bener lagi makan sama timnya, aku tahu mereka yang di sana itu beberapa Dokter dan Perawat di RH Hospital.” Omel Nathan dalam perjalanan mereka ke parkiran.
“Harusnya kamu percaya aja sama dia. Untung aja aku belum sampai mukulin dia, Shi. Malunya sampai ke ubun-ubun deh pasti.” Lanjut Nathan sambil mendudukkan dirinya di kap mesin mobil bagian depan, Shien mengikutinya. “Aku juga udah bilang kalau yang lainnya pasti udah nunggu di restoran.”
“Mana aku tahu dia gak bohong, namanya juga lagi curiga.” Sahut Shien membela diri dengan nada suara rendah, ia juga sama malunya dengan Nathan. Tapi meski demikian, Shien tetap kesal pada Langit karena suaminya itu berangkat berdua dengan seorang gadis.
“Makannya jadi orang jangan nethink.” Nathan dengan gemas mencubit sebelah pipi Shien hingga membuat gadis itu meringis kesal.
“Udah ahh, ayo anterin aku pulang. Jadi bete aku.” Ujar Shien seraya melompat turun dari atas kap mesin mobil Nathan.
“Bete gara-gara gagal mergokin suaminya selingkuh?” Ledek Nathan menahan tawanya kesal. Shien hanya mendelik sebal.
“Hey, kalian!” Teriakan seseorang membuat keduanya menoleh. Dilihatnya Langit yang sedang berjalan ke arah mereka.
Langit yang dikejutkan dengan kedatangan istrinya dan Nathan secara tiba-tiba, langsung meninggalkan mejanya setelah berpamitan dan meminta maaf karena tidak bisa mengikuti acara makan malam hingga selesai pada rekan kerjanya.
“Sayang, kamu kok bisa ke sini sama dia.” Tanya Langit merangkul bahu Shien mesra setelah ia berhasil menghampirinya. Sementara Shien hanya terdiam dengan wajah keruh.
“Istri lo nih yang ngajakin gue ke sini buat buntutin elo. . . .” Sahut Nathan, membuat Langit mengernyitkan keningnya tak mengerti. Nathan lantas menceritakan apa yang terjadi tanpa ada yang terlewat hingga ia dan Shien masuk ke ruangan restoran private tadi.
Langit yang mendengar cerita Nathan malah tergelak. Pasalnya, sangat tidak biasa sang istri yang selalu berkepala dingin tiba-tiba mencurigainya seperti ini.
“Sayang, kamu salah paham. Gak mungkin lah aku selingkuh, kepikiran aja enggak.” Langit mencubit gemas dagu istrinya itu. Namun Shien masih betah dalam keterdiamannya. Gengsi untuk mengakui kesalahannya karena perasaan kesal masih bercokol di hatinya.
“Lagian kenapa kamu gak bilang kalau mau datang ke rumah sakit? Aku kan bisa ajak kamu sekalian ke sini.” Tanya Langit lagi.
“Ya tadinya aku mau ngasih surprise.” Jawab Shien ogah-ogahan. “Udah ahh aku mau pulang.” Ucapnya kemudian seraya melengos pergi menuju mobil milik Langit yang tidak jauh dari tempat di mana mobil Nathan terparkir. Masa bodoh dengan kotak bekal yang dibawanya tadi yang tertinggal di mobil Nathan, Shien malas mengambilnya.
“Ayo.” Seru Shien tak sabaran karena melihat Langit malah mengobrol dengan Nathan.
********
Sesampainya di rumah, Shien masih menekuk masam wajahnya. Selama di perjalanan, ia tidak berbicara sepatah kata pun pada Langit. Hal itu jelas membuat Langit kelabakan, bingung letak kesalahannya di mana, padahal sudah jelas Shien melihatnya sendiri tadi ia sedang makan malam bersama dengan timnya.
“Sayang, kok kamu diem terus, sih? Kan udah tahu kalau kamu tuh tadi salah paham.” Langit menghampiri sang istri yang sedang membersihkan make upnya di depan meja rias, lalu mendekapnya dari belakang.
“Tapi kamu semobil berdua sama Perawat itu. Mana seksi banget roknya. Aku gak suka.” Terang Shien tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaplikasikan cairan pembersih menggunakan kapas pada wajahnya.
Sejurus kemudian, Shien mendelik sebal karena melihat suaminya dari pantulan cermin malah tersenyum tidak jelas.
“Jadi kamu cemburu, nih?” Goda Langit seraya membenamkan satu kecupan lembut di puncak kepala Shien. Tapi Shien hanya mengedikkan bahunya. Memang salah kalau istri mencemburui suaminya? Cih.
“Aku berangkat bareng Mia tuh terpaksa, katanya dia ketinggalan rombongan, terus dia gak punya mobil, ya aku gak enak dong biarin dia naik taksi sementara tujuan aku dan dia sama.” Jelas Langit kemudian, berharap Shien bisa mengerti.
Menghembuskan napas kasar, Shien lantas menghentikan kegiatannya membersihkan wajah. Sekalian sedang membahas Mia. Shien sepertinya harus mengutarakan perasaan yang selama ini sedikit mengganggu pikirannya terhadap gadis yang berprofesi sebagai Perawat itu.
“Lang. . . .”
“Hum?” Sahut Langit yang sejak tadi tidak berhenti mengendus dan menciumi rambut Shien yang wangi.
“Aku gak suka sama Mia.”
Sontak ucapan Shien membuat kening Langit berkerut bingung, bibirnya tertarik seiring dengan kekehan geli yang keluar. “Ya gak normal namanya kalau kamu suka sama dia.” Kelakar Langit melucu. Tapi wajah Shien yang merengut sebal membuat kekehannya itu terhenti.
“Mia tuh suka sama kamu. Aku gak suka kamu deket-deket sama dia.” Ujar Shien.
“Jangan mikir aneh-aneh deh, Shi.” Sahut Langit seraya menarik satu kursi yang ada di sebelah Shien untuk ia duduki. Dan sekarang ia dalam posisi berhadapan sehingga bisa leluasa memandang wajah polos Shien yang tanpa polesan make up.
“Kamu mungkin gak ngerasa karena gak peka. Tapi aku tahu dari cara dia melihat kamu. Waktu aku ketemu di klub malam, di resepsi pernikahan kita, terus di rumah sakit, Mia tuh jelas nunjukin ketertarikannya sama kamu.”
“Tapi dia gak ada ngegodain aku.” Langit masih tidak ingin mempercayainya.
__ADS_1
“Terus dia pake baju seksi di depan kamu tuh apa namanya? Terus juga dia sok perhatian ngasih kamu bekal makan siang, ngasih camilan, kalau bukan berusaha ngegodain apa namanya?” Sambar Shien.
Beberapa minggu yang lalu ia pernah mendapati Mia datang ke ruangan Langit untuk memberikan bekal makan siang. Beruntung saat itu Shien sedang ada di sana dan menegurnya untuk tidak perlu memberikan perhatian seperti itu lagi pada suaminya.
“Tapi masa sih, Shi? Mia tahu jelas lho aku udah punya istri.” Sanggah Langit.
“Yang namanya penggoda mana peduli keadaan.” Shien tak mau kalah. Sementara Langit terdiam tidak bisa melawan ucapan Shien.
“Aku mau kamu cari aman.” Ucap Shien kemudian.
“Cari aman gimana?”
“Ya jangan masukin Mia di tim kamu lagi. Perawat lain masih banyak, kan?”
Menghembuskan napasnya pelan. Langit terdiam seraya berpikir. Well, sebenarnya pekerjaan Mia di luar itu sangat baik, jadi sangat disayangkan jika ia mengeluarkannya dari tim. Tapi jika yang dikatakan Shien itu benar, mau tidak mau ia harus mengikuti saran Shien demi keamanan rumah tangganya.
“Lang. . . .” Shien memukul pelan lengan Langit, kesal karena suaminya itu malah terdiam.
“Aku pikir-pikir dulu, ya?” Langit mencoba menawar.
“Ya udah, tapi selama itu kamu tidur di kamar sebelah.”
Namun penawaran yang diberikan Shien seperti ancaman yang menyeramkan baginya hingga membuat Langit dengan cepat memutuskan. “Oke aku janji bakal keluarin dia dari tim aku secepatnya.”
Shien tersenyum geli sekaligus puas, ia kemudian membereskan sisa-sisa kapas bekas pakai yang tadi digunakannya untuk dibuang ke tempat sampah.
“Udah sana mandi, aku mau siapin bajunya buat kamu.” Titah Shien sambil beranjak dari duduknya.
“Siap, Nyonya.” Sahut Langit ikut beranjak, tidak lupa ia mencuri satu kecupan di pipi Shien sebelum masuk ke kamar mandi.
********
Langit terlihat jauh lebih segar dan tampil lucu dengan baju tidur motif monyet yang disiapkan Shien langsung menghampiri sang istri yang terlihat sedang berselonjor santai sambil bermain ponsel di atas tempat tidur.
“Lagi ngapain?”
“Aku lagi chat sama Fina. Dia bilang Reno dapat beasiswa kuliah di luar negeri dari perusahaan.” Jawab Shien jujur.
Langit hanya mengangguk, sama sekali tidak tertarik. Ia kemudian merampas ponsel Shien hingga membuat istrinya itu berteriak protes.
“Besok lagi aja main ponselnya, sekarang waktunya kamu sama aku.” Ucap Langit setelah menyimpan ponsel Shien ke atas nakas, lalu membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
“Kangen, Shi. Hampir dua minggu gak bisa kayak gini. Tiap aku pulang, kamu pasti udah tidur.” Langit mengeratkan pelukannya.
“Siapa suruh kamu sibuk terus?”
Langit mendesah pelan, tidak bisa menjawab keluhan Shien. Akhir-akhir ini pekerjaannya memang cukup sibuk. Bukan hanya jadwal operasi yang begitu padat, tapi ada pasien yang hanya bisa ditangani olehnya.
“Maaf, sayang.” Hanya itu yang bisa ia ucapkan, ia lantas memberikan satu kecupan di kening Shien lama-lama.
“Tapi besok kamu beneran libur, kan? Gak kayak minggu kemarin, libur tapi masih pergi ke rumah sakit.” Tanya Shien dengan wajah merengut, satu tangannya terangkat memainkan kancing piyama Langit.
“Iya beneran libur. Tiga hari malah. Kenapa emang?” Langit balik bertanya.
“Gak apa-apa, sih. Kangen aja seharian di rumah sama kamu atau jalan-jalan berdua pake motor.” Shien menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Langit dengan manja, sesuatu yang jarang sekali dilakukannya.
“Ciyeee.” Langit otomatis menggoda sang istri yang kini kembali asyik memainkan kancing piyamanya. “Tadi cemburu, sekarang kangen. Mulai bucin nih istrinya aku.”
Shien mengerucutkan bibirnya lucu. “Bucin-bucin! Wajar kali istri cemburu dan kangen sama suami, orang udah lama dianggurin suaminya jarang pulang.” Sungutnya kemudian.
“Tapi ngomong-ngomong kamu kangen yang mana, nih? Sama aku? Atau. . . .” Langit meraih tangan Shien yang digunakan untuk memainkan kancing piyama, kemudian mengarahkan tangan lembut itu untuk menyentuh pusat tubuhnya yang menegang. “Sama dia?” Bisiknya dengan seringai nakal tertarik di salah satu bibirnya.
“Ihh, Langiiiiiiit.” Shien yang gemas dan juga kesal sontak mencubit benda yang menonjol di balik celana Langit itu hingga membuat suaminya mengaduh kesakitan, namun tetap tidak bisa menahan gelak tawanya karena sudah berhasil menggoda Shien.
“Tapi kengen juga, kan– aaw.” Langit kembali menjerit saat Shien kini mencubit kecil pahanya. Cubitan kecil, sih. Tapi sakitnya luar biasa.
“Kamu kalau ngomong gak jauh-jauh dari itu, ya?” Shien yang masih kesal pun memukul pelan dada Langit yang bidang. Sementara Langit yang masih terkekeh sambil menahan ngilu yang ditimbulkan cubitan Shien lantas meminta maaf dan berkata akan berhenti menggodanya.
__ADS_1
“Udah sini peluk lagi.” Langit merentangkan tangannya pada Shien yang sedikit menjauhkan diri. Namun meski terlihat masih kesal, Shien tetap berhambur ke dalam pelukan Langit.
“Lang. . . .” Panggil Shien setelah beberapa saat hening.
“Hum?”
“Emang aku gendutan, ya?” Tanya Shien.
“Eh?” Langit mengerjap. Kenapa Shien tiba-tiba menanyakan sesuatu seperti ini? Pertanyaannya sama saja buah simalakama untuknya. Dijawab jujur pasti marah, tidak jujur pasti tetap marah.
“Kak Nathan bilang aku agak gendutan. Terus dia ngeledekin aku hamil.” Adu Shien kemudian.
“Ya emang lagi hamil kali.” Sahut Langit santai seraya mengelus lembut perut Shien yang rata.
“Ish.” Shien memukul lengan bahu Langit.
“Ya gak mungkin, lah. Kamu, kan, tahu sendiri aku minum pil kontrasepsi.”
“Ya bisa aja kebobolan. Mending besok kamu periksa deh, Shi. Bisa pake testpack dulu atau langsung aja ke Dokter Alice gimana?” Langit mendadak bersemangat, ia bahkan sampai beranjak duduk.
“Aku gak pernah kelewat minum obatnya, kok. Jangan ngaco kamu. Kayaknya aku emang kurang olahraga belakangan ini.” Ujar Shien seraya menarik pinggiran baju Langit agar kembali berbaring di sampingnya. “Lagian ukuran tubuh gak bisa jadi patokan buat mastiin seseorang itu lagi hamil atau enggak. Yang aku tahu tuh ya kalau orang hamil biasanya mual-mual, terus ngidam. Aku gak ada gejaja kayak gitu, tuh.”
“Ya kan gak semua ibu hamil ngalamin itu juga, Shi.” Ucap Langit yang kembali berbaring dan mendekap tubuh Shien. “Lagian kenapa sih kamu gak mau punya anak?”
Shien yang mendengar itu terdiam sejenak, merasa bersalah. “Bukannya gak mau, tapi belum siap. Aku aja belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, gimana kalau jadi ibu nanti? Aku takut gak bisa merawat anak kita dengan baik.”
“Ya ampun, Shi. Jadi cuma itu alasannya?” Tanya Langit terperangah tak percaya. “Shi, di mata aku, kamu tuh udah jadi istri yang terbaik. Dan untuk merawat anak, kita bisa sama-sama belajar seiring berjalannya waktu. Kalau kamu takut terus, kapan doong siapnya?” Langit sedikit kesal. Beberapa tahun lagi usianya akan menginjak kepala tiga, jelas ia ingin segera mendapatkan keturunan agar jarak usia antara dirinya dengan sang anak nanti tidak terpaut terlalu jauh. “Kalau aku ketuaan punya anaknya, nanti semua orang ngira aku kakeknya anak aku lagi.” Imbuhnya kemudian.
“Tapi. . . .” Shien menggantungkan kalimatnya, menatap Langit dengan mata yang tiba-tiba berlinang hingga membuat suaminya khawatir dan panik sekaligus. “Aku takut kalau bayi yang aku lahirkan nanti keadaannya sama kayak aku dulu.” Lanjut Shien. Itulah yang selama ini menjadi hal yang paling ditakutkannya untuk memiliki anak. Shien dilahirkan dengan penyakit jantung bawaan, dan Shien takut hal itu akan menurun pada anaknya kelak. Shien tidak akan tega melihat keturunannya mengalami hal yang sama seperti dirinya.
“Maafin aku.” Shien tiba-tiba terisak hebat dalam dekapan Langit. Sementara laki-laki itu hanya terdiam sambil mendekap erat tubuh rapuh istrinya. Selama ini ia penasaran sebenarnya apa yang membuat Shien keukeuh untuk menunda kehamilan. Sekarang ia tahu, dan kenapa Shien malah memendamnya sendiri alih-alih berbicara padanya dan berusaha menghadapi ketakutan itu bersama-sama?
“Ya ampun, Shi. Untuk itu kita serahkan semuanya sama Tuhan, jangan takut dan mendahului takdir.”
“Maafin aku. . . .” Shien melirih. “Maafin aku, Lang. . ., maaf.” Isaknya tersengal di tengah-tengah suara tangisannya. “Maaf.”
“Shuut, udah jangan nangis. Kamu gak salah apa-apa. Justru aku yang minta maaf karena selalu mendesak kamu untuk punya anak tanpa tahu perasaan kamu bagaimana.” Langit mengusap-usap lembut punggung Shien untuk menenangkannya.
“Tapi, setelah ini kamu siap, kan, melawan ketakutan kamu? Ayo hadapi bersama-sama. Kita punya Tuhan. Aku yakin anak kita pasti akan lahir baik-baik saja.” Tutur Langit.
Shien mengangkat wajah untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit. “But give me a moment.” Pintanya dengan tatapan memohon. Sebentar saja. Shien butuh waktu untuk mempersiapkan dirinya.
Langit mengangguk sambil tersenyum tipis. “Tapi jangan lama-lama, soalnya aku gak sabar mau lihat duplikatnya aku.”
Shien mendengus dalam sisa-sisa tangisnya.
“Ohh, iya. Tapi kalau beneran kebobolan gimana? Kalau tahu-tahu kamu besok hamil gimana?” Tanya Langit lagi saat teringat pembahasan sebelumnya.
“Gak mungkin, ihh.” Shien tetap berusaha menyangkalnya.
“Kan ada sebagian kecil kasus yang kayak gitu. Kalau semisal itu terjadi sama kamu gimana? Kamu kan belum siap hamil?”
“Ya jalanin, mau gimana lagi?” Jawab Shien karena tidak mungkin, kan, ia tidak mau menerima anaknya?
Langit tersenyum lega mendengarnya. “Aku kira. . . .”
“Jangan ngomong aneh-aneh. Aku juga mau punya anak.” Sela Shien. Langit hanya terkekeh pelan.
“Ya udah kalau gitu ayo bikin dulu.” Lalu tanpa aba-aba Langit sudah merubah posisi tidurnya dengan mengungkung Shien di bawah tubuhnya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
“Langit. . . .” Jerit Shien tertahan saat Langit berhasil melucuti baju tidur yang ia kenakan di bawah gulungan selimut.
********
To be continued. . . .
To be continued. . . .
__ADS_1