So In Love

So In Love
EP. 45. Promise


__ADS_3

********


Sore itu, Shien kembali ke hotel dengan rasa sakit yang luar biasa menyerang dadanya. Begitu pun dengan kepalanya yang teramat berat. Padahal, hari ini Shien bersama orang tuanya hanya bermain di pantai dan mengunjungi pusat perbelanjaan. Tapi, Shien sudah mengalami kelelahan yang luar biasa.


Mungkin juga karena Shien terlalu bersemangat. Bersemangat karena satu lagi impian dalam daftar keinginannya terwujud, yaitu pergi berlibur bersama Papa dan Mama.


Tiga hari menghabiskan waktu di Bali bersama mereka, membuat kebekuan diantara Shien dan orang tuanya kian mencair. Shien juga sudah mulai banyak bicara. Bahkan setiap malam gadis itu berdiskusi bersama Papa dan Mama untuk menentukan tempat wisata yang akan mereka kunjungi esok hari.


Keadaan semakin membaik. Kembali merasakan kasih sayang orang tua, Shien tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Tuhan untuknya. Rasanya, Shien ingin waktu berhenti saat ini juga. Kebahagiaan dan kelimpahan kasih sayang ini sudah lebih dari cukup untuknya.


“Shi, kamu baik-baik aja, kan?” Mama yang berjalan mengekori Shien tampak khawatir melihat Shien yang berjalan limbung ke arah tempat tidur.


“Ke rumah sakit aja, ya?” Saran Mama, lantas ia buru-buru mengambil kotak obat milik Shien yang tergeletak di atas meja nakas. Sengaja Mama simpan di sana agar mudah dijangkau.


“Aku gak apa-apa, kok, Ma.” Shien berdalih, padahal napasnya sudah teramat sesak. Shien tidak ingin mengacaukan liburannya dengan dirawat di rumah sakit. Ia sangsi jika akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi ke depannya.


“Cuma sedikit pusing, minum obat juga reda.” Sambung Shien sekuat tenaga. Namun, tetap saja suara yang keluar sangat pelan hingga membuat Mama semakin khawatir.


“Mama khawatir, Shi.” Mama menoleh dengan kening berkerut dan tatapan mata sayu, menandakan jika wanita itu benar-benar mengkhawatirkannya.


Shien menggeleng lemah dengan seulas senyum tipis tersungging dari bibir pucat yang tertupi lipstick berwarna terracottanya. “I’m okay” Lirihnya pelan, nyaris seperti berbisik.


Mama mendesah pasrah, tidak bisa memaksa jika Shien memang tidak mau. “Ya udah, kalau gitu kamu minum obat dulu.”


Shien mengangguk, kemudian bangun dari pembaringannya untuk meminum obat yang sudah Mama siapkan.


“Maaf.” Cicit Shien seraya menyerahkan gelas pada Mama dengan tangan gemetar. Mama sedih melihatnya, namun sebisa mungkin ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


“Kenapa minta maaf? Emang kamu salah apa? Hem?” Tanya Mama sesaat setelah ia menyimpan gelas bekas minum Shien ke atas meja nakas, lalu diusapnya kepala gadis itu dengan lembut.


“Udah ngerepotin.” Jawab Shien seraya tersenyum getir. Seandainya Shien sehat, mungkin mereka bisa berlibur dengan nyaman tanpa harus ada rasa was-was setiap harinya. Seandainya Shien boleh meminta, Shien ingin Tuhan menguatkan tubuhnya, setidaknya selama ia menghabiskan beberapa hari di sini bersama orang tuanya.


“Shien, kamu kecapekan. Biarkan dia istirahat, Ma. Biar ngomongnya gak ngelantur.” Sahut Papa yang datang menyusul ke kamar dengan kedua tangan penuh tas belanjaan hasil buruan Mama dan Shien di pusat perbelanjaan tadi.


“Mama anggap gak pernah dengar ini.” Tutur Mama menatap Shien tak suka. Lebih tepatnya, tidak suka dengan ucapan yang baru saja dilontarkan gadis itu.


“Cepat tidur. Katanya mau kulineran malam, harus sehat dulu.” Dan usapan lembut kembali Shien rasakan menyentuh kepalanya. Gadis itu hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.


“Perlu panggil dokter ke sini gak, Ma?” Tanya Papa setelah meletakkan tas belanjaannya di samping tempat tidur.


Mama melirik Shien untuk meminta persetujuannya, namun gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Kayaknya gak usah, Pa.” Jawab Mama ragu. Sebenarnya, ia berharap Shien menyetujuinya. Setidaknya Mama akan lebih tenang jika dokter sudah memeriksa dan menangani putri bungsunya itu.


Sama halnya dengan Mama, Papa hanya bisa mendesah pasrah. Ia harap, semoga Shien baik-baik saja.


Laki-laki paruh baya itu lantas pamit pergi ke ruang tamu yang terpisah dengan kamar hotel itu untuk mengangkat telepon dari kantor, dan yang pasti itu berkaitan dengan pekerjaannya.


“Tidur di sini, Shi. Udah lama banget, lho, gak kaya gini.” Mama menepuk bantal yang ia letakan di pahanya sesaat setelah dia membuat posisi nyaman dengan duduk berselonjor dan menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang.


Shien mengerjap, menatap Mama ragu. Waktu kecil, Shien sangat menyukai tidur di pangkuan wanita itu. Tangan halus yang menyentuh kepalanya, serta lagu pengantar tidur, membuatnya sangat tenang dan nyaman. Shien merindukan itu. Tapi, melakukannya setelah ia beranjak dewasa rasanya sedikit aneh.


“Ya udah kalau kamu gak mau.” Ucap Mama terlihat kecewa.

__ADS_1


“Aku gak bilang gitu.” Sambar Shien cepat, sehingga mengurungkan niat Mama yang hendak menurunkan bantal dari pahanya.


Mama tersenyum geli, mendengar Shien berujar dingin dan terlihat gengsi. Lantas dengan gerakan kaku, gadis itu meletakkan kepalanya di atas pangkuan Mama.


Sudut hati Mama terenyuh seketika. Ini adalah momen yang sangat ia rindukan, melihat Shien tertidur di pangkuannya.


Penyesalan terbesar dalam hidup Mama yang membuat hatinya sedih yaitu sudah menelantarkan Shien.


Perjalanan waktu sebagai orang tua berjalan dengan cepat dan tidak bisa dikembalikan. Shien sudah besar, dan Mama menyesal tidak mengiringi pertumbuhannya. Seandainya Mama diberi kesempatan untuk hidup kembali di kehidupan berikutnya, Mama ingin kembali menjadi orang tua Shien dan melakukan yang terbaik untuknya, sehingga bisa menghapus segala kesalahan yang sudah ia lakukan pada Shien di kehidupan saat ini.


“Shien. . . .” Panggil Mama lirih.


Shien mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan wajah wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu.


“Kamu masih marah sama Mama?” Tanya Mama dengan suara parau, berusaha menahan nyeri di dadanya setelah melihat ekspresi Shien yang berubah sendu.


Shien bukannya sudah tidak marah, bahkan rasa sakit itu masih sangat menyayat hati jika ia mengingatnya. Hanya saja, sekarang Shien ingin melepaskannya. Melepaskan segala bentuk kemarahan pada orang tuanya. Dan ia sedang berusaha. Lalu, bagaimana ia menjawab pertanyaan Mama?


“Sedikit.” Cicit Shien seraya menyematkan senyuman kecil dari bibirnya. Shien tidak tahu harus menjawab seperti apa. Shien tidak ingin membohongi perasaannya dengan mengatakan sudah tidak marah, padahal di dalam hatinya masih tersimpan kekecewaan.


“Maafin Mama, ya. Maaf udah buat kamu sedih selama ini.” Mohon Mama dengan air mata yang mulai berlinang-linang.


Shien melihat ekspresi pilu Mama di hadapannya itu. Shien pun tahu bahwa wanita paruh baya itu memang teramat menyesali kesalahannya.


“Waktu itu, Mama udah bersikap gak bijak sampai mengabaikan dan nyerahin kamu sama pengasuh. Dan waktu Shawn pergi. . . .” Mama menggantungkan kalimatnya sejenak, seiring dengan air matanya yang sudah tidak terbendung lagi. “Mama gak bisa mengendalikan diri dan berpikir jernih sampai-sampai menyalahkan kamu atas segalanya.”


Sudut mata Shien mencuat ke bawah. Shien ingat sangat jelas saat-saat itu. Dan itu adalah saat yang paling menyakitkan dalam hidupnya.


“Tapi, Mama gak bermaksud buat menyalahkan kamu, Shi. Mama gak sadar waktu itu. Maafin Mama.” Mama meraih tangan Shien dan menggenggamnya. Rasa bersalahnya pada Shien begitu besar hingga Mama tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Ucapannya waktu itu benar-benar kesalahan. Justru sebaliknya, Mama tidak ingin Tuhan mengambil Shien sebelum dirinya. Saat itu, Mama hanya kewalahan memproses emosinya pasca ditinggal, hingga tanpa sadar meluapkan segalanya pada Shien.


“Maaf udah jadi orang tua yang gagal buat kamu.” Beber Mama atas perasaanya. Sudah lama Mama ingin mengungkapkan semua ini pada Shien. Dan baru hari ini ia mendapatkan keberanian untuk meminta maaf serta mengakui kesalahannya. Harus mama akui, ia terlalu malu untuk melakukan hal itu. Malu karena merasa kesalahannya pada Shien terlalu besar dan tak termaafkan.


Bersamaan dengan semua kalimat demi kalimat yang terlontar, mama terisak sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada perasaan lega dan juga malu menyeruak dalam hatinya setelah ia mengutarakan perasaannya.


Melihat Mama yang terisak hingga bahunya berguncang, air mata Shien pun ikut berlinang. Ia lantas bangun dari posisi tidurnya dan menarik Mama ke dalam pelukannya.


“Aku ngerti kok, Ma. Kepergian kakak adalah kenyataan terberat yang sulit diterima. Mama pasti mengalami waktu yang berat saat itu.” Shien mencoba mengerti. Walau bagaimanapun, tidak mudah untuk Mama yang telah melahirkan Shawn menerima kenyataan bahwa putra semata wayangnya sudah pergi meninggalkannya.


Mendadak atau tidak. Kita pasti tidak akan siap untuk ditinggal pergi seseorang yang kita sayangi. Mengingat orang itu biasanya ada di tengah-tengah kita, kini tiba-tiba tidak ada. Dan itu pasti sangat sulit untuk dihadapi, termasuk untuk Mama.


“Dan Mama bukan orang tua yang gagal. You’re the best mom ever!” Sambung Shien seraya mengusap-usap punggung Mama untuk membuat wanita itu tenang. Shien tidak suka dengan kalimat yang Mama ucapkan terakhir kali.


Oke. Mungkin Mama sudah melakukan kesalahan waktu itu, tapi bukan berarti dia adalah orang tua yang gagal. Seperti yang pernah Shanna katakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.


Sebagai manusia, kita pasti pernah berbuat salah, termasuk kesalahan orang tua pada anak.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan kecewa saat merasa diri terkhianati itu adalah hal yang wajar. Kesalahan memang tidak bisa dihapuskan, tapi itu bisa diperbaiki. Seperti halnya yang terjadi dengan Shien dan orang tuanya. Mereka bisa membangun kembali hubungan yang lebih baik dan sehat bersama-sama.


“Terima kasih untuk mencoba mengerti. Mama gak tahu malu banget ya, Shi?” Mama sedikit mendorong tubuh Shien agar bisa menjangkau wajah cantik anaknya itu.


Shien menggeleng lemah. “Jangan ngomong kayak gitu lagi.” Suara Shien terdengar serak, tangannya lantas terulur mengusap air mata yang masih berhamburan memenuhi wajah Mama.

__ADS_1


“Jadi, kamu gak keberatan buat maafiin Mama?” Tanya Mama sambil menatap lekat-lekat ke arah Shien.


Gadis itu balas menatap Mama lekat dan menangkap kesungguhan wanita paruh baya itu memohon maaf padanya. Tak lama, akhirnya Shien menganggukkan kepalanya lemah seiring dengan obat yag tadi ia minum mulai berkerja pada tubuhnya, Shien merasakan matanya mulai memberat.


“Terima kasih, Nak.” Mama berhambur memeluk Shien saking senangnya. Mama tahu, Shien pasti belum bisa memaafkan dirinya sepenuhnya. Tapi, setidaknya perasaan bersalah yang mengganjal di hatinya selama ini perlahan mulai meluap setelah Mama mengutarakan kata maaf.


“Ma. . . .” Panggil Shien dengan suara lemah. “Hem?” Tanya Mama yang masih enggan melepaskan pelukannya seolah tidak ingin terpisahkan lagi.


“Aku ngantuk.” Balas Shien nyaris seperti berbisik. Mama tersenyum geli, lalu dengan lembut dilepaskannya pelukan yang cukup erat itu secara perlahan.


“Ya udah tidur, gih.” Ucap Mama, sekali lagi wanita itu mengusap kepala Shien penuh sayang.


Shien kembali tidur dan mencoba menyamankan posisi kepalanya di pangkuan Mama dengan menghadap ke perut wanita paruh baya yang sudah melahirkannya dua puluh lima tahun yang lalu itu, kemudian memeluknya tanpa ragu.


“Shien. . . .” Mama membelai lembut kepala Shien hingga membuat gadis itu merasa lebih tenang, Shien merasa sudah menemukan kenyamanannya kembali.


“Iya. . . .” Sahut Shien, berusaha terjaga walaupun matanya sudah sangat berat.


“Mama mau kamu tahu ini. Kamu adalah milik Mama yang paling berharga. Seluruh keluarga ini adalah harta Mama. Mama sayang sama kamu.” Mama berusaha menahan tangisnya lagi.


Shien mengangguk lemah. Rasanya, ia tidak sanggup berbicara lagi, walaupun ia ingin membalas ucapan Mama. Shien benar-benar mengantuk sekarang.


“Shien. . . .” Mama kembali memanggil anak gadisnya, seolah tidak ingin percakapannya berakhir. Shien hanya menjawabnya dengan lenguhan pelan, seiring dengan mataya yang perlahan mulai terpejam.


“Janji sama Mama, Shi.” Mama menyelipkan rambut Shien yang berantakan ke belakang telinganya.


“Jangan pernah tinggalin Mama kayak kakak kamu.”


Tidak ada sahutan dari gadis itu. Shien bukan tidak mendengarnya. Hanya saja, dia tidak bisa berjanji. Dadanya sering terasa sangat sakit akhir-akhir ini hingga membuatya tidak tahan. Belum lagi tubuhnya yang terlalu cepat lelah. Shien bukannya tidak mau berjanji, tapi Shien tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya nanti, sebesar apapun semangatnya untuk bertahan hidup.


Seandainya Tuhan memberinya satu doa untuk dikabulkan. Maka, Shien akan meminta untuk bisa hidup lebih lama lagi. Karena Shien menyayangi Papa, Mama, Tante Hilda, Shanna, dan juga. . . , Langit.


********


Shien terbangun dengan rasa sakit di dadanya yang sedikit mereda. Perlahan, Shien membuka mata, dilihatnya kamar President Suite itu tampak sepi. Mama juga tidak ada di sampingnya lagi. Namun, detik berikutnya ia melihat pintu balkon terbuka. Samar-samar Shien mendengar suara Papa dan Mama yang entah sedang membicarakan apa. Dan itu cukup menjawab pertanyaan Shien akan keberadaan orang tuanya.


Shien meraih tasnya yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu merogoh ponselnya yang terdengar bergetar di dalam sana. Dan Shien mendapatkan beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan chat dari Langit.


Langit :


Duhh, yang lagi liburan sampai gak sempat angkat telepon aku.


Ohh, iya. Sore ini aku mau jalan-jalan ke mall bareng kakak kamu.


Trust me, would you?


Love you, Shien. ❤


Shien meletakkan ponselnya ke atas bantal, lalu menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. Shien tidak akan cemburu karena Langit dan Shanna berteman. Tapi, yang menjadi ganjalan di kepala dan hatinya saat ini adalah bagaiamana cara memberitahu Shanna tentang hubungannya dengan Langit.


Shien beranjak dari tempat tidurnya begitu Mama datang dari arah balkon dan menyuruhnya untuk bergegas membersihkan diri karena mereka akan kulineran malam. Gadis itu pun berjalan gontai menuju kamar mandi. Mungkin setelah ini Shien akan membicarakannya dengan Langit, karena Shien tidak ingin menyembunyikan hubungannya lebih lama lagi dan menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan Shanna yang mungkin saja bisa terjadi nantinya.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2