
Hallaw, gaes. Duhh, sedih banget Ramadhan udah mau berakhir. 😢
FYI aja nih, cerita ini gak akan up selama beberapa hari ke depan. Soalnya sibuk mau bantuin bikin ketupat lebaran. 😀
So, sampai bertemu kembali setelah Idul Fitri.
Selamat membaca.
Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. 😊
********
“Shanna.” Teriak Terry begitu turun dari mobil. Lantas kaki jenjangnya berjalan anggun menghampiri Shanna yang nampaknya baru tiba di pelataran parkir tempat les bernama Little Brown itu.
Gadis cantik dengan rambut warna-warni itu berbalik, tangannya yang nyaris saja menyentuh pintu mobil seketika terhenti. Shanna lalu mendengus tidak suka dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajah ramahnya berubah jutek ketika Barbie jadi-jadian itu berdiri di hadapannya.
“Mau ke mana lo?”
Shanna langsung memasang wajah jengah, dan menyandarkan punggungnya pada badan mobil dengan gerakan angkuh. “Mau kemanapun gue pergi, itu bukan urusan lo.”
Sontak Terry menggeram tertahan dengan wajah masam. Namun, sebisa mungkin gadis licik itu menahan emosinya agar tidak meledak.
“Langsung aja, ada apa? Jangan buang-buang waktu. Gue masih banyak urusan, gak kayak elo yang kerjaannya cuma bisa luntang-lantung doang.” Shanna berujar dengan nada angkuh seraya melirik jam tangan buatan Jerman-nya yang berharga ratusan juta. “Dan gangguin orang tentunya.” Imbuh Shanna dalam hati.
Sedangkan Terry, dia hanya bisa mengepalkan kedua tangan di samping dress yang dikenakannya dengan hati menggerutu kesal. Kalau bukan karena rencana untuk menghancurkan Shanna dan saudara kembarnya agar bisa mendapatkan Langit, Terry tidak akan sudi menahan geram di hatinya. Kalau bukan karena itu, sudah dipastikan ia akan menyerang dan menjambak rambut Shanna sekarang juga.
“Oke. Gue langsung ke intinya aja.” Ujar Terry.
Shanna memutar kedua bola matanya malas, lalu dengan ogah-ogahan ia menunggu Terry untuk menyampaikan apa yang akan gadis itu katakan padanya.
“Waktu itu lo bilang gak akan pernah nyerah sama Langit, walaupun dia punya seseorang yang dia suka. . . .”
“Gak usah pake kata pengantar. Lo mau minta gue nyerah lagi? Jangan harap! Gila kali ya, waktu gue itu gak banyak buat ngeladenin orang kayak lo. Gak penting banget bahas sesuatu yang udah jelas jawabannya.” Sambar Shanna cepat.
Terry merasa kesabarannya mulai habis untuk menghadapi Shanna. Tapi demi mendapatkan Langit, ia harus sedikit lebih bersabar menghadapi gadis menjengkelkan itu. Ck, lihat saja kalau dia sudah hancur, apa Shanna masih bisa bersikap seangkuh ini?
“Gimana kalau itu Shien?” Tanya Terry seraya tersenyum menyeringai.
Mendengar nama adiknya disebut, membuat Shanna memfokuskan perhatiannya pada gadis di depannya itu. Sebelah alisnya sedikit terangkat dan wajah juteknya perlahan menghilang.
“Ngomong apaan, sih, lo?” Shanna menatap Terry sebal. Kenapa Terry tiba-tiba membawa serta adiknya coba?
“Beberapa hari yang lalu gue lihat Shien sama kak Langit di rumah sakit.” Terry menyeringai dalam hati. Tatapan liciknya tidak lepas memandangi wajah Shanna, berharap gadis itu terpancing lalu marah.
Tarikan napas jengah terdengar keluar dari bibir Shanna. Ia kira yang akan disampaikan Terry adalah hal penting. Jika yang Terry maksud Langit dan Shien bertemu di rumah sakit, itu bukanlah hal yang aneh. Hidup Langit dan Shien tidak jauh dari tempat itu, mereka bisa saja bertemu secara kebetulan.
Jadi, menurut Shanna informasi seperti ini benar-benar sudah membuang waktu berharganya yang akan ia gunakan untuk berburu barang branded.
“Terus, masalahnya di mana?”
Reaksi Shanna tentu membuat Terry mengerjap kaget sekaligus bingung. Ia kira, Shanna akan memasang wajah marah seperti biasa saat ada orang mengusiknya.
“Mereka ada affair. Dan gue lihat dengan jelas mereka masuk ke ruangan sambil gandengan tangan mesra. Lo ngebiarin Shien gitu aja? Atau kalian anak kembar rela berbagi?” Terry belum menyerah. Sejurus kemudian, seringai licik tersungging dari salah satu sudut bibirnya tatkala ia melihat raut wajah Shanna berubah marah.
Shanna menegakkan tubuhnya, lalu berjalan mendekati Terry seraya memasang senyuman sinis.
Mencengkram dagu V line milik Terry menggunakan ibu jari dan telunjuknya, lalu menatap Terry semakin tidak suka.
“Ehh, lo denger, ya. Kalau lo mau bersaing buat dapetin Langit, ya bersaing aja secara sehat. Gue tahu lo gak suka sama gue. Tapi, jangan bawa-bawa Shien dan coba-coba ngadu domba kami. Ck, cara lo murahan banget.”
Shanna lantas menghempaskan dagu Terry dengan sentakan penuh, sehingga membuat gadis itu sedikit terhuyung ke samping, oleng karena stiletto high heels yang dikenakannya terlalu tinggi, 18 cm.
Setelah itu, Shanna memutar tumitnya untuk beranjak dari sana dengan dengusan kesal. Tapi, sebelum Shanna benar-benar masuk ke mobilnya, Terry mencoba berkata lagi dan itu sukses membuat gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil terhenti sejenak.
“Gue serius, Shien itu munafik.”
“Kalau mau nyinyir, lo salah tempat. Pergi ke acara variety show yang biasa lo pandu sama teman-teman lo sana.” Ujar Shanna penuh sindiran, lalu dengan cepat bergegas masuk ke mobilnya.
********
Tidak terasa, hubungan Langit dan Shien semakin lengket setiap harinya, mereka juga semakin mengenal satu sama lain. Namun walaupun demikian, masih ada satu hal yang mengganggu pikiran dan hati Shien. Shanna. Ia ingin berterus terang, tapi ia belum sempat menyinggung hal ini dengan Langit untuk dipikirkan bersama.
__ADS_1
Shien duduk berselonjor di sofa apartemennya sambil membaca buku. Sementara Langit duduk lesehan di bawahnya dengan kedua ibu jari sibuk menari-nari di atas layar ponsel, bermain games. Sengaja mereka menghabiskan waktu bersama sekitar satu sampai dua jam setelah pulang bekerja. Baik itu sekedar jalan-jalan, atau diam-diaman seperti saat ini, yang penting setiap hari mereka harus menghabiskan waktu bersama, tidak peduli lama atau sebentar dan melakukan apa.
Dan entah itu kebetulan atau takdir, apartemen baru milik Shien adalah apartemen yang pernah ditempati Jingga sebelumnya. Mendapati kenyataan itu, Langit senang bukan main karena apartemen mereka bersebelahan. Laki-laki itu bahkan terkadang meminta Shien untuk menginap di apartemen agar memudahkannya untuk ngapel.
“Shi, coba lihat, deh.” Pinta Langit seraya berbalik dengan satu tangan menyingkap poninya, sehingga memperlihatkan dahi paripurnanya yang lebar.
“Sakit banget.” Keluhnya manja, di sisi kanan atas nampak benjolan kecil yang masih memerah, bisa dibilang cukup menodai dahi glowing itu.
“Jerawat satu doang, lebay banget.” Komentar Shien, lalu kembali pada bacaannya yang sempat terhenti sejenak.
“Tapi ini beneran sakit, Shi. Aku gak perah punya jerawat segede ini.” Sahut Langit sambil mengusap-usap jerawatnya. “Tiupin.”
Shien terdiam. Ia menghela napas berat dan panjang. Langit terkadang menjadi amit-amit begini kalau sudah kumat kolokannya.
“Mana sini aku lihat.” Ucap Shien dengan rencana jahil di kepalanya.
Langit lantas mendekatkan wajahnya pada Shien. Dan detik berikutnya suara pekikan nyaring terdengar, karena bukan mengelus atau meniup-niup jerawat, malah dengan jahilnya Shien memencet jerawat tersebut.
“Tambah sakit, Shien. Jahil banget jadi orang.” Langit mendumel, sementara Shien hanya tersenyum tak peduli.
“Bisa-bisa makin gede ini, Shi. Jadi gak ganteng lagi aku nanti.” Langit lalu meringis saat ia menyentuh jerawatnya.
Shien yang memperhatikan Langit hanya bisa melongo takjub. Apa ini tidak terbalik? Seharusnya Shien yang notabenenya sebagai perempuan yang khawatir akan penampilan wajahnya.
Tak lama, Langit kemudian meminjam cermin kecil milik Shien untuk melihat sudah sebesar apa jerawat di dahinya. Dan Shien mengatakan untuk mencarinya sendiri di dalam tas. Sementara ia kembali membaca bukunya.
Langit merogoh tas milik Shien yang tergeletak di atas meja. Namun bukannya cermin, Langit malah menemukan fotonya bersama Shien saat mereka berada di Bali yang sengaja ia cetak tertimpa benda lain yang ada di dalam tas itu. Langit mengernyit sebal, lalu mengeluarkan foto dari dalam tas Shien.
Shien yang sedang fokus dengan deretan tulisan yang berjajar rapi pada buku yang dibacanya, dia hanya mengerjap, sesekali tangannya bergerak untuk membalik halaman. Tidak tahu jika Langit sudah melayangkan tatapan sebal ke arahnya.
Barulah setelah Langit berdehem, Shien mengalihkan perhatian dari bukunya.
“Kenapa?” Tanya Shien polos sambil menutup bukunya, sehingga kini pusat perhatiannya hanya tertuju pada Langit. Gadis itu lalu duduk dengan posisi yang lebih baik.
“Kenapa? Aku yang seharunya tanya kenapa.” Sahut Langit berang, membuat Shien mengernyit kebingungan.
“Kenapa kamu menelantarkan foto kita?”
Shien menatap fotonya dan Langit yang sekarang sudah diacung-acungkan laki-laki itu tepat di depan wajahnya.
“Itu doang? Shienna ini bukan hanya sekedar itu doang, tapi kamu udah menelantarkan foto kita yang berharga.” Omel Langit. “Kenapa nggak dirawat, sih?” Tambahnya bersungut-sungut.
“Dirawat?” Gumam Shien semakin bingung. “Hei, itu cuma foto, bukan bayi.”
“Tapi Shien, harusnya kamu masukin ini ke dompet.” Ujar Langit, gemas sendiri dengan gadisnya yang buta romantis itu.
Shien terdiam, lalu memandang Langit sebal. “Apa aku kelihatan kayak orang yang akan melakukan itu?” Tanyanya sinis, karena menurutnya itu sedikit, errr. . . , terlalu bucin. Dan Shien tidak termasuk kaum itu.
Langit menghembuskan napas kesal. Shien ini benar-benar.
“Aku gak peduli. Mana dompet kamu?” Langit menadahkan tangannya, sementara Shien hanya memutar bola matanya malas. Jelas-jelas dompetnya ada di dalam tas. Apa Langit tidak melihatnya tadi?
“Kan ada di dalam tas, emang kamu gak lihat?” Sahut Shien ketus.
Lalu tanpa berkomentar, Langit kembali merogoh tas Shien untuk mengambil dompet gadis itu dan langsung membukanya begitu benda tersebut ditemukan.
Tidak ada yang spesial dari isi dompet Shien, hanya KTP, kartu nama, dan beberapa ATM, termasuk black card American expresnya.
“Gini baru normal.” Ujar Langit setelah berhasil menyelipkan foto tersebut di tempat foto dalam dompet Shien. Ia lantas tersenyum melihat foto mereka yang terpajang di sana.
Namun, bukannya segera dikembalikan. Langit malah kembali memeriksa dompet Shien. “Shi, kamu gak nyimpan uang cash?” Tanyanya karena ia mendapati bagian tempat untuk menyimpan uang nampak kosong melompong.
“Aku jarang nyimpan uang cash. Kan ada mobile banking sekarang.” Jawab Shien enteng, karena saat ini virtual account sudah memudahkan berbagai transaksi dan sangat praktis serta aman. Jadi, bagi Shien tidak terlalu penting menyimpan uang cash di dalam dompet. Dia hanya perlu ponsel pintarnya.
“Setidaknya kamu harus nyimpan beberapa, Shi. Jangan dibiarkan kosong begini. Gimana kalau kamu tiba-tiba nyasar dan gak bawa ponsel?” Omel Langit, sangat kolot seperti orang tuanya. Tapi, Shien tidak menyangkal jika ucapan Langit itu memang ada benarnya.
“Iya, deh. Besok-besok aku isi uang cash dompetnya.” Ujar Shien akhirnya, ia tidak ingin berdebat dan mendengar si kelinci energizer itu terus mengomelinya.
“Sekarang, ayo pulang! Udah mau malam.” Ajak Shien kemudian. Walau bagaimanapun, ia tidak boleh melewatkan makan malam bersama dengan keluarganya.
“Sebentar.” Langit mengambil dompet miliknya sendiri yang terselip di saku celana bagian depan, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan memasukannya ke dalam dompet milik Shien.
__ADS_1
“Kenapa gak semuanya aja? Sekalian kartu-kartunya juga.” Ujar Shien terdengar menantang saat mengamati isi dompet Langit yang masih menyisakan beberapa lembar uang.
“Boleh.” Balas Langit dengan tatapan tak kalah menantang. “Asal kamu bersedia kalau aku nikahin besok.” Lalu menaik turunkan alisnya, menggoda gadis kaku itu.
Shien mendengus malas. Sejurus kemudian ia menyesal sudah coba-coba becanda dengan menantang laki-laki itu. Ujung-ujungnya ia akan berakhir digoda habis-habisan oleh Langit. Si kelinci energizer itu benar-benar pandai berbicara, dan Shien tidak akan pernah menang melawannya.
********
“Shi, pinjam gunting kuku punya kamu, dong.”
Shien yang sedang melepaskan perhiasan yang menempel pada tubuhnya sontak terlonjak kaget saat Shanna tiba-tiba nyelonong masuk ke kamarnya begitu saja.
“Ngagetin.” Protes Shien, lalu membuka salah satu laci yang menyatu dengan meja riasnya dan menyerahkan benda yang termasuk ke dalam tuas jenis pertama itu pada Shanna. Sementara Shanna yang melihat adiknyavterkejut hanya terkekeh geli.
Namun, bukannya cepat bergegas karena sudah mendapatkan benda yang ingin dipinjamnya, Shanna malah menyandarkan tubuhnya pada meja rias dan memperlihatkan sang adik melepas satu per satu aksesoris yang melekat pada tubuhnya dari mulai dari jepit rambut bentuk daun yang di pasang di bagian samping kepalanya, anting, kalung, hingga bros berlogo LV di bajunya.
Mata Shanna memicing begitu Shien melepaskan jam tangan. Pasalnya, benda itu terlihat familier. Mungkin jam bermerk Rolex itu memang pernah Shanna lihat di katalog, tapi entah kenapa jam tersebut cukup mengganggu pikirannya.
“Tumben gak pake smartwatch?” Tanya Shanna. Ia berpikir, mungkin hal itulah yang mengganggu pikirannya, karena Shien biasanya hanya memakai jenis jam tangan pintar yang memiliki fitur canggih yang terdapat sensor detak jantung alih-alih memakai jam tangan biasa.
“Lagi mau pake jam tangan biasa.” Jawab Shien. Gadis itu kemudian membuka laci khusus penyimpanan jam tangan, lalu meletakkan jam tangan tersebut di antara puluhan jam tangan yang berbaris rapi di dalam sana. Jam tangan itu paling mencolok karena satu-satunya yang merupakan jam tangan biasa milik Shien.
“Itu jam Rolex keluaran terbaru, kan?” Tanya Shanna. Shien terdiam sejenak, tangannya yang hendak mendorong laci untuk menutupnya seketika terhenti.
Kening gadis itu sedikit berkerut mengamati jam tangan yang diberikan Langit saat mereka berada di Bali waktu itu.
“Hmm.” Sahut Shien singkat dan agar mempercepat urusan. Tidak mungkin, kan, jika Shien mengatakan tidak tahu itu keluaran terbaru karena jam tangan tersebut pemberian dari Langit? Sebenarnya Shien merasa tidak nyaman terus mengelak seperti ini. Dan untuk alasan yang tidak jelas, Shien merasa bersalah.
“Kenapa?” Tanya Shien, heran karena Shanna terus memperhatikan jam tangan tersebut hingga sebegitunya.
“Ohh.” Shanna tampak terperanjat kaget mendengar suara Shien karena terlalu fokus mengamati jam tangan itu. “Enggak, aku cuma ngerasa pernah lihat jam tangan ini.”
“Mungkin kakak pernah lihat di toko atau katalog.” Ujar Shanna, mengingat jam tangan seperti itu sudah banyak dijual di dealer resminya.
“Iya juga, sih.” Sahut Shanna sambil tersenyum kaku. Shien hanya mengangguk, lalu menutup kembali lacinya.
“Aku mandi dulu.” Pamit Shien dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Ohh, iya. Kudapan malamnya jangan dihabisin.” Ujar Shien yang menoleh sebentar untuk memperingati kakaknya yang sedikit rakus pada makanan.
“Kalau kamu bisa keluar dalam waktu lima menit.” Balas Shanna seraya tersenyum jahil.
Shien mendengus. “Aku bukan kadal.” Lalu gadis itu membuka pintu kamar mandi.
Bersamaan dengan suara pintu yang tertutup, Shanna duduk di kursi meja rias milik sang adik dengan perasaan tidak nyaman yang memenuhi hati dan kepalanya. Lantas ia membuka laci berisi jam tangan dan kembali mengamati jam yang baru saja Shien simpan ke dalam sana.
Berusaha mengingat-ingat. Dan detik berikutnya kedua mata Shanna membulat lebar. Ia ingat jika jam tangan itu adalah jam tangan couple keluaran terbaru yang ia lihat di mall beberapa waktu lalu.
“Ini pasangan.” Gumam Shanna seraya mencari-cari satu lagi jam tangan yang menjadi pasangannya di dalam laci. Pasalnya, jam tangan itu satu set, tidak bisa dibeli salah satunya saja. Tapi nihil, hanya ada satu jam biasa di dalam sana.
Menggigit kuku ibu jarinya, pikiran Shien menerawang dengan tatapan lurus pada satu objek, jam tangan itu. Mungkinkah itu pemberian seseorang? Atau Shien yang memberikan pasangannya pada seseorang? Shanna menerka-nerka. Hanya ada dua kemungkinan itu.
Tapi siapa?
Dan untuk kemungkinan nomor dua, Shanna merasa itu tidak mungkin karena Shien bukan gadis romantis yang akan membeli barang pasangan.
“Langit juga beli ini waktu itu.” Shanna menghela napas gusar.
Seketika ucapan Terry tadi sore terngiang-ngiang di kepalanya, membuat otak Shanna otomatis menghubungkan variabel tersebut. Jam tangan couple yang dibeli Langit, Shien yang memiliki satu pasangannya, serta ucapan Terry mengenai Langit dan Shien yang diam-diam sudah menjalin hubugan di belakangnya.
Shanna menggeleng, membuang pikiran aneh itu. Tidak. Shanna tidak boleh terhasut dengan ucapan Terry. Gadis itu lantas menutup kembali laci berisi jam tangan itu. Shanna sebaiknya segera keluar dari kamar Shien dan memakan camilan malamnya untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang menggerayangi kepalanya.
Namun, baru saja Shanna beranjak dari duduknya, ia melihat benda berkilauan di atas meja rias. Shanna ingat betul, tadi Shien melepaskannya sebelum pergi ke kamar mandi. Gadis itu memang memiliki kebiasaan untuk melepas semua perhiasan sebelum membersihkan diri.
Dan entah kebetulan atau bukan. Shanna merasa jika cincin emas putih dengan berlian kecil di tengahnya itu terlalu mirip dengan cincin yang tersemat di jari manis milik Langit yang ia lihat saat di mall.
“Ini pasti cuma cincin biasa punya Shien.” Lantas dengan hati gusar, tangan Shanna terulur untuk meraih cincin tersebut.
“Langit.” Mata Shanna memicing, berulang kali mengerjapkannya, lalu membaca kembali goresan nama yang terukir di balik cincin tersebut.
“Gak mungkin.” Shanna menggeleng. Seluruh tubuhnya berusaha menolak mati-matian kenyataan yang baru saja ditemukannya.
__ADS_1
********
To be continued. . . .