
********
“Aku harus pergi ke mana?” Sahut Langit, tapi Shien memilih untuk tak mengindahkan dan terus berjalan tertatih dengan bantuan tongkatnya.
“Aku harus pergi ke mana?” Langit kembali bertanya dengan suara yang terdengar putus asa. Pandangannya menatap sendu punggung rapuh yang perlahan menjauh di depannya itu, lalu beralih menatap kedua kaki Shien yang berjalan tanpa alas.
“Aku bisa pergi ke mana sementara tempat yang aku tuju ada di sini?” Tanya Langit lagi dengan suara yang semakin terasa tercekat. Namun, Shien masih tak mempedulikannya dan terus berjalan dengan langkah yang tidak stabil. Sepertinya Shien cukup kesulitan dengan tongkat yang di apit oleh masing-masing ketiaknya itu.
Melepaskan sandal milik Shien dari tangannya, Langit kemudian mengambil langkah cepat untuk menghampiri gadis itu, sebelum kemudian mendekapnya dari belakang. Cukup membuat Shien terkejut hingga kedua tongkatnya terlepas, lalu jatuh ke lantai. Kakinya yang masih lemah nyaris membuatnya ikut terjatuh, tapi tangan Langit yang melingkar di sepanjang bahu Shien mendekapnya erat, sehingga hal itu tidak terjadi.
“Aku gak akan ke mana-mana, Shien. Aku gak bisa.” Cicit Langit nyaris seperti berbisik, tidak bisa membendung air matanya lagi. Sementara Shien hanya terdiam dengan air mata yang sudah berhamburan sejak tadi.
Shien lantas berbalik dengan satu tangan memegang erat lengan Langit untuk menyangga tubuhnya agar tetap bisa berdiri, sementara sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk memukuli dada laki-laki itu.
“Pergi.” Ucap Shien dengan suara berat, tapi Shien jelas tahu apa yang dikatakannya itu adalah bohong. Shien tidak pernah menginginkan Langit pergi darinya. Tidak. Hatinya tidak pernah menginginkan hal itu sedikit pun.
Melepaskan Langit itu jauh lebih sulit daripada menerimanya dulu. Shien tidak bisa.
“Jahat, brengsek, orang paling bodoh.” Langit terdiam, membiarkan gadis itu puas melampiaskan amarahnya. “Aku benci kamu.” Tapi nyatanya, Shien lebih mencintai Langit.
Merasa tangannya cukup lemas, Shien beralih menggigit lengan bahu Langit sekeras yang ia mampu. Langit tetap terdiam tanpa perlawanan, membiarkan rasa perih dan nyeri yang mulai menjalar di lengannya akibat gigitan Shien yang perlahan gigitan itu melemah. Sepertinya gadis itu mulai kehabisan tenaga.
Setelah dirasa Shien sudah cukup tenang. Langit lantas membawa gadis itu untuk duduk di kursi yang berderet di salah satu sisi koridor.
“Maafin aku, Shi.” Ucap Langit dengan wajah teramat menyesal, jemarinya meremas telapak tangan Shien yang digenggamnya.
Shien bergeming, tidak merespon ucapan Langit ataupun melakukan perlawanan seperti mengusir Langit dari hadapannya. Ia hanya menatap kosong tangannya dalam genggaman tangan Langit. Air matanya yang berhenti menetes menyisakan jejak kering, sehingga membuat wajah Shien seperti memakai masker.
“Aku gak akan minta kamu buat maafin aku. Kamu berhak marah dan gak maafin aku. Aku sadar, aku udah sangat keterlaluan sama kamu.” Ia menunduk sedih, nada suaranya terdengar pasrah. “Tapi aku cuma mau bilang kalau aku udah salah sama kamu, aku salah paham sama kamu dan aku benar-benar menyesal, aku minta maaf karena udah kasar dan nyakitin hati kamu.”
“Terus, setelah nyakitin aku, kamu mau pergi gitu aja? Iya?” Sahut Shien dengan suara serak. Ia menatap Langit sinis, kemudian membuang pandangannya kembali. “Ck, enak banget.” Shien lantas menarik tangannya dari genggaman tangan Langit dengan sedikit sentakan.
Langit menggeleng, lalu meraih tangan Shien kembali untuk digenggamnya.
“Kalau boleh jujur, aku gak pernah mau ninggalin kamu atau ditinggalkan sama kamu. Tapi kalau kamu mau aku pergi, aku akan melakukannya. Dan sebaliknya. . . .” Ia menjeda kalimatnya untuk mengambil napas yang mendadak terasa berat. “Kalau kamu mau ninggalin aku, aku gak akan nahan kamu lagi.” Terdengar nada ketidakrelaan dari kalimat yang diucapkannya.
Hati Shien mencelos seketika. Ia ingin marah, tapi tenaganya sudah cukup terkuras hari ini. Bisa-bisanya Langit berkata seperti itu.
Apakah Langit benar-benar tidak bisa melihat perasaannya?
Jika Shien memang ingin meninggalkannya. Untuk apa ia jauh-jauh datang ke bangsal anak dengan kaki yang masih belum bisa berjalan normal seperti ini?
Shien memang sempat berpikir untuk melupakan Langit. Tapi itu karena Shien putus asa. Shien tidak bisa meyakinkan Langit saat itu.
Mungkin Shien akan baik-baik saja jika ia kehilangan Langit karena ia benar-benar sudah berbuat salah. Tapi apa yang terjadi adalah kesalahpahaman, dan Shien tidak akan tahu apakah ia bisa bertahan hidup dengan kenyataan itu hanya karena salah paham.
“Kamu boleh pergi dan bertemu dengan orang yang lebih baik. Kamu gak seharusnya tetap bersama orang kayak aku.” Ucap Langit tersenyum pelik sambil merapikan rambut Shien yang sedikit berantakan, lalu mengelus lembut sisi wajahnya.
Shien mengangkat wajahnya, sehingga kini pandangannya bertemu dengan mata Langit yang sedang menatapnya sendu. “Jangan pergi bahkan kalau aku mengatakan itu.”
Menggenggam tangan Langit yang berada di sisi wajahnya, Shien menatap wajah tampan di depannya itu memelas. “Dan kalau aku mengatakannya, itu pasti bohong.”
Langit tertegun. Merasa Shien pernah mengatakan hal itu, seolah de javu. Detik berikutnya, ia ingat Shien mengatakan itu di dalam mimpinya.
__ADS_1
“Kenapa, Shi?” Tanya Langit lemah. “Kenapa kamu gak benci aku? Aku udah keterlaluan sama kamu. Aku udah nuduh dan bersikap kasar sama kamu. Harusnya kamu benci sama a–”
“Siapa bilang aku gak benci sama kamu?” Shien memotong ucapan Langit. “Justru karena aku benci banget sama kamu, aku gak akan ngebiarin kamu pergi. Aku akan membuat kamu berada di sisi aku dan menyiksa kamu selamanya.”
Bahu Langit merosot. Mendadak ia merasa semua persendiannya melemas. Ada perasaan haru dan bahagia sekaligus yang perlahan menjalar di hatinya. Namun Langit masih bergeming menatap Shien, ragu apakah ia pantas mendapatkan ini atau tidak. Kesalahannya sudah teramat banyak terhadap Shien.
Shien memang tidak mengatakan sudah memaafkan atau menerimanya kembali. Tapi apa yang baru saja diucapkan gadis itu barusan jauh lebih baik dari yang ia harapkan.
“Pergi sana!” Shien mendorong dada Langit kesal. “Aku gak mau lihat wajah kamu lagi.”
Langit terdiam menatap Shien sebentar, sebelum kemudian berhambur merengkuh tubuh kurus gadis itu dan memeluknya erat. “Bodoh! Jangan berbohong seperti ini lagi.”
“Kamu yang bodoh, dasar brengsek.” Shien memukul punggung Langit dengan sisa-sisa tenagannya. Ia lantas membalas pelukan Langit tak kalah erat.
“Maafin aku, Shi. . . .” Langit melirih sambil membenamkan wajahnya di antara rambut Shien yang halus dan wangi. “Maaf . . .” Suaranya semakin memberat seiring dengan air matanya yang meleleh.
“Berisik.” Ucap Shien dalam dekapan Langit. Ia mengusap-usap lembut punggung laki-laki itu yang tampak berguncang di tengah-tengah isakan tangisnya yang tertahan.
Langit bersumpah tidak akan menyakiti Shien lagi barang sedikit pun. Tuhan akan menghukumnya lebih berat kalau sampai ia melakukannya.
“I love you more than any word can say.” Bisik Langit mencium rambut Shien dalam-dalam. “I love you more than every action I take. And I’ll be right here loving you till the end.” Lanjut Langit dan kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Shien yang tertutupi rambut sambil terus mengucap janji di dalam hati bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Shien lagi.
“Me too. I love you. I love you still, I always have, and I always will.” Balas Shien, namun ia hanya mengucapkannya dalam hati. Bagaimanapun, ia masih kesal pada laki-laki yang sedang memeluknya ini.
“I’m so in love with you, Langit.” Imbuh Shien, masih di dalam hatinya.
Shien tersenyum kecut di balik pelukan Langit. Memaki dirinya sangat bodoh karena begitu mencintai laki-laki itu. Terlalu bodoh sampai Shien tidak bisa membencinya, apalagi meninggalkannya. Shien tidak bisa.
********
“Kenapa?” Tanya Nathan yang baru saja menyusul dan duduk di belakang kemudi. Namun laki-laki itu tidak lantas menyalakan mesin. Ia memilih untuk menikmati wajah semringah Shanna untuk sejenak. Nathan penasaran, apa sebenarnya yang membuat gadis di sebelahnya ini terlihat begitu bahagia?
“Aku seneng aja karena Shien udah bangun, terus hubungan kami juga udah baik-baik aja.” Sahut Shanna tersenyum cerah, secerah floral dress warna kuning yang dikenakannya. “Tapi sayang hubungan Shien sama Langit gak baik-baik aja. Shien bilang, dia mau balik ke Amerika dan ngelepasin Langit. Aku jadi ngerasa bersalah.” Shanna menunduk dengan perasaan teramat bersalah sekaligus sedih.
“Mungkin kamu emang pernah berbuat kesalahan sama Langit dan Shien. Tapi masalah hubungan mereka baik-baik aja atau enggak, itu bukan urusan kamu dan gak ada hubungannya sama kamu. Pasti ada alasan tertentu yang membuat Shien mengambil tindakan seperti itu. Shien punya keputusannya sendiri dan kamu gak boleh ikut campur.” Ujar Nathan, lalu tangannya terulur mengusap lembut kepala Shanna.
“Iya, sih, tapi tetap aja aku–”
“Udah deh gak usah bahas mereka.” Sambar Nathan memotong ucapan Shanna. “Sekarang kamu mau pinjem aku buat apa?” Tanyanya kemudian, ia baru sempat menanyakan ini karena tadi mereka masih berada di tengah-tengah keluarga. “Tumben banget ngajak keluar. Yaaa, walaupun biasanya juga ngajak sih. Tapi gak biasa aja ngajaknya menda– ” Tambah Nathan bergumam sendiri, namun ucapannya tergantung saat Shanna tiba-tiba menyela.
“Buat jadi pacar aku.” Sela Shanna menghentikan kalimat yang belum selesai Nathan ucapkan.
“Ya?” Nathan mengerjap, menatap Shanna yang sudah menatapnya lebih dulu.
Shanna mendengus geli. “Aku mau pinjam ini sehari.” Ia menunjuk letak jantung Nathan. Sementara Dokter tampan itu masih terdiam, berusaha mencerna dengan baik setiap kalimat yang Shanna ucapkan.
“Kenapa? Gak suka?” Tanya Shanna yang melihat Nathan masih anteng dengan keterdiamannya.
Shanna bukannya tidak mengerti perasaan Nathan padanya. Ia sadar setelah percakapannya dengan Nathan di taman beberapa hari yang lalu. Hanya saja, saat itu Shanna belum siap untuk menerima itu semua karena selama ini hanya menganggap Nathan benar-benar sebagai seorang sahabat.
Mungkin sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk membuka hatinya pada Nathan.
Sejak awal Langit memang bukan untuknya, Shanna sudah mengubur perasaannya pada laki-laki itu, dan Shanna juga sadar ternyata merelakan sesuatu itu bukan akhir dari segalanya, justru itu bisa menjadi titik awal kehidupan yang lebih baik.
__ADS_1
Walaupun hatinya masih belum menerima Nathan sepenuhnya, tapi dengan membuka diri seperti ini, Shanna berharap suatu saat nanti hatinya bisa ia berikan sepenuhnya untuk laki-laki yang sedang menatapnya dengan wajah polos di sebelahnya ini.
Nathan benar. Cinta bertepuk sebelah tangan adalah cinta yang bodoh, dan hidup dengan orang yang mencintai kita itu sebenarnya lebih baik.
“Ya udah, sih, kalau kamu gak bersedia minjemin. Aku gak maksa.” Shanna berpura-pura kecewa dan bersiap-siap membuka pintu mobil untuk turun. Namun dengan segera Nathan menahan lengannya.
“Bukan begitu. . . .” Ucap Nathan menggantung, sebelum kemudian kembali berucap. “Kalau gitu, aku juga mau pinjam kamu buat jadi pacar aku. Bukan cuma hari ini. . . .” Ada helaan napas gugup di sana. “Tapi juga buat besok, besoknya lagi, dan seterusnya.”
Shanna tertegun memandang Nathan. Mendadak jantungnya berdentum hebat, sehingga ia takut jika Nathan akan mendengarnya.
“Eung. . . .” Shanna pura-pura berpikir. “Aku pikir-pikir dulu, ya. Sekalian mau ngitung biaya sewa per harinya berapa.” Ucapnya, kemudian tertawa menyebalkan.
“Huh, ngeselin.” Cebik Nathan sambil menjitak pelan kepala Shnana.
Detik berikutnya, suasana di antara mereka menjadi sedikit kikuk. Keduanya sama-sama salah tingkah.
“Jadi, kita harus mulai dari mana?” Tanya Nathan mencoba kembali mencairkan suasana.
Shanna terdiam sejenak sambil menatap Nathan ragu, kemudian jari telunjuknya terulur menyentuh bibir kemerahan milik Nathan. “Dari sini.”
Lantas yang ia lakukan selanjutnya adalah menarik tengkuk Nathan dan menempelkan bibirnya di atas bibir laki-laki itu.
Tentu saja Nathan terperangah dengan mata melebar sempurna. Reaksinya nyaris sama saat Shanna tiba-tiba menciumnya saat mabuk dulu. Tapi kali ini berbeda. Gadis itu menciumnya dalam keadaan sadar. Namun meskipun begitu, Nathan tetap tidak membalas ciuman Shanna. Rasanya terlalu gugup saat ini hingga membuat tubuhnya membeku.
“Ciuman pertama kita.” Ucap Shanna malu-malu setelah menarik dirinya. Shanna juga merasakan wajahnya memanas seiring dengan rona merah yang muncul di pipinya.
Nathan mendengus, lalu berucap di dalam hati. “Ini yang kedua, dasar bodoh.” Ia tersenyum kecil, mengacak rambut Shanna gemas, lalu kembali merapikannya lagi dengan gerakan selembut mungkin.
“Habis ini kita mau ngapain?” Tanya Nathan seraya menyelipkan anak rambut Shanna ke belakang telinga.
“Aku mau kita jalan-jalan sepuasnya dari sore ini sampai semalaman penuh, soalnya besok lusa pacar kamu yang cantik ini mau pergi ke Pare selama seminggu.” Jawab Shanna sambil mengibaskan rambut menggunakan jari lentiknya yang dihiasi kutek warna kuning senada dengan baju yang dikenakannya. “Bisa lebih juga, sih.” Tambahnya kemudian.
“Lho, ngapain ke Pare?” Tanya Nathan penasaran, juga merasa tidak rela.
Shanna lantas menjelaskan alasannya pergi ke sana adalah untuk kegiatan study tour yang sudah menjadi program setiap semester di tempat lesnya. Karena study tour diadakan bertepatan dengan libur sekolah, jadi kegiatan itu berlangsung cukup lama. Bisa satu minggu atau bahkan lebih. Shanna juga menambahkan kalau biasanya luar negeri menjadi pilihan. Tapi tahun ini Pare, Kediri, masuk ke dalam daftar di antara beberapa tempat yang diusulkan para Pengajar di tempat lesnya.
“Jadi aku ditinggal, nih?” Wajah Nathan berubah sedikit murung.
“Kamu aja pernah ninggalin aku lebih dari tujuh belas tahun, tuh.” Sindir Shanna, membuat Nathan tak bisa protes. “Seminggu mah apa, cuma bentaran doang.”
“Iya, deh, iya.” Sahut Nathan pasrah, walaupun sebenarnya dalam hati tetap tidak rela. Tapi ia juga tidak boleh bersikap seperti anak ABG yang childish. Shanna juga memiliki kesibukan sendiri dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
“Atau. . . .” Mata Shanna tiba-tiba berbinar saat terpikirkan sesuatu. “Gimana kalau kamu ikut aku aja ke sana, Kak? Sekalian liburan? Siapa tahu pulang dari sana dapat anak, abis itu dinikahin.” Celetuknya kemudian sambil menaik-turunkan alisnya penuh arti.
Nathan terperangah dengan mulut sedikit menganga mendengar hal seperti itu terlontar dari mulut Shanna yang notabenenya adalah seorang gadis.
Sejurus kemudian, Shanna merasakan keningnya berdenyut nyeri. Nathan menyentilnya dengan sangat keras, bahkan sampai meninggalkan bekas sedikit merah di sana.
“Mulai sekarang, jangan memikirkan sesuatu yang sembarangan tanpa izin aku.” Ujar Nathan gemas sekaligus kesal. Sementara Shanna hanya tergelak, tak peduli jika ucapannya itu terlalu sembarangan atau tidak.
********
To be continued. . . .
__ADS_1