
Berikan komentar terbaik kalian untuk cerita ini. Boleh juga kritik dan saran agar Author bisa menyempurnakan tulisannya. 😊
********
Shien mengerjap, berusaha membuka mata saat mendapatkan kesadarannya kembali. Matanya menyipit, menyesuaikan cahaya yang masuk di ruangan yang dominan putih dengan bau desinfektan yang khas itu.
“Hai.” Sapa sesorang berperawakan jangkung dengan balutan jas putih yang berdiri di hadapan tiang infus. Tangannya yang besar tampak sedang menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan bening tersebut.
“Udah bangun?” Tanyanya, dia menyunggingkan senyum hangat begitu mata Shien terbuka sempurna.
Tak lantas menjawab, gadis itu bergeming dengan pandangan kosong seraya mengingat-ingat apa yang terjadi terakhir kali sebelum ia berakhir di kamar rumah sakit.
Shien memegangi kepalanya yang terasa ngilu diiringi ringisan kecil begitu kilas balik saat dirinya dan Shanna berada di taman kompleks berputar layaknya film.
Tidak hanya kepalanya. Hatinya kembali sakit mengingat perkataan Shanna saat itu.
“Kamu seharusnya udah tahu kapan waktunya harus pergi ke rumah sakit.” Dokter Nathan terdengar seperti seseorang yang sedang mengomel. Pandangangannya menatap lurus pada alat pengatur laju aliran infus yang sedang ia sesuaikan kecepatannya.
Sementara Shien yang mendengarnya hanya mendengus sebal. Baru saja ia bangun, tapi dokter itu sudah mengomelinya saja. Dasar cerewet.
“Kepala kamu sakit?” Dokter Nathan lantas mendekat ke arah Shien dan menempelkan telapak tangannya pada dahi mulus gadis itu.
Shien mendelik. Itu bukan urutan yang benar. Seharusnya dokter itu menanyakan keadaan terlebuh dahulu. Huuh.
“Dengkul yang sakit.” Sahut Shien seraya memutar bola matanya malas. Dokter Nathan mendengus, tapi tidak menyahutinya, ia tidak ingin melakukan adu mulut dengan Shien yang baru saja sadar.
“Demam kamu belum turun. Gak heran kalau kepala kamu sakit.” Dokter Nathan bergumam sendiri.
Shien hanya diam tak menyahuti. Ia teringat saat itu dirinya kehujanan. Pantas saja ia terserang demam juga di samping serangan jantungnya.
“Ngomong-ngomong, udah berapa lama aku di sini?” Tanya Shien dengan suara serak. Shien ingat, kemarin masih sore, tapi ia tidak tahu sudah berapa lama berada di rumah sakit. Entah satu jam, satu hari, atau satu minggu. Karena sebelumnya, Shien pernah tidak sadarkan diri selama hampir satu minggu.
Dokter Nathan kemudian menarik kursi dan duduk di samping ranjang Shien agar mereka bisa berbicara dengan lebih santai.
“Satu.” Dokter Nathan mangangat satu jari telunjuknya.
“Jam?” Sambung Shien.
Dokter Nathan menggeleng. “Satu hari satu malam, dua puluh empat jam.” Terangnya kemudian.
“Dan sekarang udah sore hari lagi.” Sambar dokter Nathan seolah mengetahui apa yang hendak gadis itu ucapkan saat Shien hampir saja membuka mulutnya.
Shien mengangguk pelan. Lalu, keheningan terjadi setelah itu.
Shien lantas mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari-cari seseorang yang menemaninya. Papa, Mama, atau Shanna sang kakak.
Shien mulai terbiasa melihat wajah mereka begitu ia terbangun di ruangan yang serba putih ini. Jadi, saat ia tidak mendapati mereka atau salah satu dari ketiganya berada di sana, Shien merasa sedikit, err. . ., sedih. Shien tidak ingin sendirian lagi sekarang.
“Pak Sendy lagi keluar sebentar. Katanya mau angkat telepon. Kalau Bu Risa, katanya mau ngambil pakaian ganti ke rumah.” Sekali lagi, dokter Nathan berhasil membaca apa yang sedang dipikirkan gadis cantik berwajah sepucat salju yang ada di hadapannya itu.
Shien menghembuskan napas lega mendengarnya. Tidak bisa dipungkiri jika Shien masih menyimpan ketakutan di dalam hati kecilnya, takut jika Papa dan Mama kembali mengabaikannya.
“Kamu sering sakit akhir-akhir ini?” Dokter Nathan mulai menginterogasi, tangannya menekan remote control dari ranjang pasien elektrik untuk membuat posisi Shien lebih nyaman.
“Hmm.” Sahut gadis itu singkat.
“Bisa tiga sampai empat kali dalam sehari.” Imbuh Shien, berterus terang akan kondisinya belakangan ini.
“Harusnya kamu datang ke rumah sakit kalau sudah tahu seperti itu, Shienna.” Omel dokter Nathan. Sudah berulang kali ia mengingatkan pada pasiennya yang satu ini untuk segera datang ke rumah sakit jika gejala dari serangan jantungnya lebih sering muncul, tapi Shien selalu mengabaikan anjurannya.
Jika jenis pasien itu terbagi menjadi beberapa tipe. Maka, dokter Nathan pastikan Shien termasuk pasien bandel alih-alih penurut.
“Tapi itu gak apa-apa setelah istirahat sebentar dan minum obat pereda nyeri.” Sanggah Shien. “Gak minum obat juga oke.” Imbuhnya dalam hati.
“Dan itu bukan penanganan yang tepat. Kamu sendiri sangat tahu.” Sembur dokter Nathan, membuat Shien bungkam tak bisa melawan ucapannya. Gadis itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil melirik dokter Nathan takut-takut.
Suara deritan pintu yang terbuka dari luar mengalihkan perhatian mereka, lantas keduanya menoleh ke arah pintu.
Terlihat Papa masuk, senyumnya langsung mengembang kala melihat putri bungsunya itu sudah duduk bersandar di ranjang pasiennya. Dokter Nathan lantas beranjak dari duduknya dan sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai ungkapan sapaan dan rasa hormat terhadap lelaki paruh baya itu.
Papa kemudian berjalan menghampiri ranjang pasien Shien dan menanyakan keadaannya pada dokter Nathan. Dokter muda itu kemudian menjawab jika kondisi Shien baik-baik saja sekarang dan perlu mendapatkan perawatan selama beberapa hari di rumah sakit.
“Dan ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan. . . .” Dokter Nathan menatap Papa dan Shien bergantian. Seketika suasana menjadi lebih serius. Baik Papa ataupun Shien, keduanya berharap jika yang akan disampaikan dokter Nathan itu adalah kabar baik, seperti mendapatkan donor atau penyakit jantung Shien sembuh secara ajaib. Mereka harap-harap cemas menunggu dokter Nathan melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Saya akan menambahkan beberapa obat lagi untuk Shien.” Lanjut dokter Nathan, membuat Shien menghembuskan napas kecewa. Begitu juga dengan Papa, namun laki-laki itu tidak menunjukannya dengan tetap memasang ekspresi setenang mungkin.
“Aku gak mau!” Seru Shien tiba-tiba, dan untuk pertama kalinya ia memberontak. Biasanya, ia akan menurut bagaimanapun cara dokter Nathan mengobatinya. “Aku udah punya banyak obat yang harus diminum. Dan tanpa minum obat pun, sakitnya juga bisa hilang sendiri.”
“SHIENNA.” Teriak Papa marah, ia tidak suka mendengar penolakan anaknya.
Shien jelas terkejut mendengar Papa yang tiba-tiba berteriak. “Lho, kok Papa marah?” Protesnya kemudian dengan nada kesal.
“Shien, Papa kamu cuma khawatir.” Ujar dokter Nathan seolah menasihatinya. Tapi, Shien hanya membuang pandangannya dengan wajah ditekuk masam.
“Kalau begitu, saya permisi dulu.” Pamit dokter Nathan setelah sebelumnya menegaskan kembali bahwa dirinya akan menambah obat untuk Shien.
Suasana begitu hening selepas kepergian dokter Nathan. Papa memilih untuk pergi dari hadapan Shien dan berdiri di dekat jendela, melihat ke arah luar dengan tatapan kosong.
Sementara Shien hanya terdiam sedih. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, sebenanya berapa banyak lagi waktunya yang tersisa? Sudah sangat jelas arti penambahan obat itu untuk menggambarkan kondisi jantungnya saat ini.
Hingga satu jam berlalu, suasana di ruang rawat VIP itu masih hening seperti tak berpenghuni. Baik Papa ataupun Shien, tidak ada satu pun di antara keduanya yang berinisiatif membuka suara lebih dulu, Seperti tengah terjadi perang dingin di sana.
Shien menatap punggung Papa yang sejak tadi masih bergeming dalam posisinya.
Menggigit bibir bawahnya diiringi helaan napas berat, Shien lantas menjulurkan kakinya ke lantai yang dingin, memberanikan diri untuk menghampiri Papa dengan sebelah tangan mendorong tiang infusnya.
“Pa. . . .” Panggilnya ragu begitu ia sudah berdiri di samping laki-laki yang selalu menjadi pahlawan super bagi semua anak di dunia ini.
Papa menoleh, wajahnya yang biasa tenang terlihat sangat sedih. Senyumnya yang tersungging tipis bahkan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
“I’m sorry for being a ****.” Ucap Shien, meminta maaf atas sikap kekanak-kanakannya tadi yang membuat Papanya marah. “Sorry I got mad.” Imbuhnya.
Papa mengulum senyumnya, ia kemudian balas meminta maaf pada gadis bungsunya itu. “Papa juga minta maaf karena gak bisa melakukan apapun buat kamu.”
Lelaki paruh baya itu berujar dengan nada sedih. Sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa atas kondisi Shien. Ia hanya bisa menggantungkan harapannya kepada Tuhan sebagai dzat yang maha menyembuhkan.
“Aku tahu perasaan Papa.” Shien kemudian memeluk Papa dari samping.
“Jantung aku yang lemah sejak kecil, pasti membuat Papa khawatir.”
Papa diam tak menyahuti, dia hanya tersenyum getir dengan kedua mata yang tampak berkilat-kilat.
“Aku. . .” Shien menggantungkan kalimatnya sejenak untuk mengambil napas. “Akan meminum semua obatnya.” Gadis itu kemudian menarik diri dan menujukkan senyum tipisnya pada Papa, mencoba menenangkan lelaki paruh baya itu.
Alis Papa terangkat sebelah dengan kening yang ikut terlipat. “Kamu mau apa? Papa bisa ngasih kamu apapun. Bahkan kalau kamu mau minta Papa buat ngambil bintang di langit, Papa akan melakukannya.” Tanya Papa sambil berkelakar, sehingga membuat Shien mendengus geli.
Shien menghela napas, lalu memejamkan matanya, seolah apa yang hendak ia minta adalah sesuatu yang sulit untuk dikatakan. “Aku mau meni. . . .” Shien mengghentikan ucapannya saat ia tersadar. Dasar gila, sejak kapan keinginan untuk menikah itu terlintas di kepalanya? Tapi, ia memang ingin menikah dengan Langit. Shien ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Langit. Ahh, tapi permintaan untuk menikah itu terlalu mainstream setelah Shien berpikir ulang.
“Ya?” Papa mengerutkan keningnya bingung karena melihat anaknya malah terdiam dengan mata tertutup.
Shien mendesis pelan sambil membuka matanya. “Aku mau mendaki gunung.” Ralatnya kemudian. “Aku mau lihat sunrise dari ketinggian.”
Tapi, permintaannya yang satu itu juga tidak salah. Melihat matahari terbit dari tempat yang tinggi adalah salah satu hal yang tertulis di dalam daftar keinginannya.
“Gak akan mudah mencapai puncak dengan kaki pendek kamu.” Ledek Papa yang melihat tinggi badan Shien tidak lebih tinggi darinya.
Mendengar itu, Shien kembali merasa sedih, namun tidak menunjukannya. Shien tahu, Papa hanya menghiburnya. Dan pada kenyataannya, Shien memang tidak akan bisa naik ke puncak gunung. Tubuhnya tidak akan sanggup.
“Gak masalah. Papa bisa gendong aku.” Balas Shien, membuat Papa tersenyum geli.
“Anything for you. . . .” Dan bersamaan dengan ucapannya yang terlontar, terlintas sebuah ide untuk mewujudkan keinginan anaknya itu.
“So, Papa beneran mau ngajakin aku lihat sunrise?” Tanya Shien dengan tatapan tak percaya.
“Yep. Papa tahu tempat yang lebih baik dari puncak gunung. Kita bisa melihat sunrise yang bahkan bisa kelihatan hanya berjarak sejengkal saat kita berada di sana.” Sahut Papa percaya diri.
“Where is it?” Tanya Shien penasaran.
“Rahasia.” Jawab Papa jenaka, membuat Shien mendengus mendengarnya.
“Papa. . . .” Panggil Shien setelah beberapa saat terdiam.
“Aku. . . , sayang Papa.” Ucap Shien susah payah. Tiga kata ajaib yang selalu ingin ia ungkapkan sebagai ekspresi rasa cinta kepada orang tuanya akhirnya terlontar juga. Rasanya, ini memalukan. Tapi, Shien merasakan kelegaan di hatinya setelah ia mengucapkan itu.
“Dan seandainya ada kehidupan lain setelah ini, aku mau jadi anak Papa lagi di kehidupan aku berikutnya.” Ujar Shien sungguh-sungguh, sehingga membuat Papa terharu dan juga sedih mendengarnya.
“Papa juga mau tetap jadi Papa kamu di kehidupan berikutnya.” Balas Papa, lalu memeluk tubuh rapuh putrinya itu.
__ADS_1
********
Malam harinya, Shien terus menghembuskan napas bosan di atas ranjang pasiennya. Karena selama berada di rumah sakit, ia tidak diperbolehkan melakukan apapun. Padahal, Shien ingin sekali menggarap buku barunya yang belum selesai itu.
Malam ini hanya Mama yang menemaninya. Dan wanita paruh baya itu malah sibuk menonton acara televisi yang disukainya sambil sesekali menggerutu, lalu mengumpat pada aktor dan aktris yang bermain dalam film yang ditontonnya. Film tontonan ibu-ibu yang berisi para pelakor dan suami tidak tahu diri, yang alurnya sebenarnya sama saja.
Rasanya, Shien bosan sendiri melihat Mama menyaksikan tayangan itu, terlebih saat lantunan kalimat ku menangis dari suara khas Penyanyi Rosa mengalun begitu indah, Shien ingin sekali mematikan televisinya, itu berarti film tersebut sudah mencapai klimaks dan sudah dipastikan Mama akan uring-uringan sendiri dibuatnya.
Kembali menghembuskan napas bosan. Pandangan Shien lantas menerawang kosong. Seandainya ada Shanna di sini, Shien tidak akan sebosan ini. Mungkin sekarang ia dan saudara kembarnya itu sedang bertengkar kecil mengenai sesuatu yang tidak penting seperti biasanya.
Namun, sayang sekali Shanna tidak ada. Dia bahkan tidak mengunjunginya sama sekali atau sekedar menanyakan kabar lewat ponsel.
Papa dan Mama mengatakan jika Shanna sedang sibuk di tempat lesnya. Tapi, Shien yakin alasan ketidakhadiran Shanna bukan karena itu.
Shien menunduk sedih. Bagaimana caranya ia memperbaiki keadaan? Shien tidak ingin hal-hal menyebalkan tapi menyenangkan yang biasa ia lakukan bersama kakaknya itu hilang begitu saja. Shanna adalah saudaranya satu-satunya, Shien tidak ingin kehilangannya. Tapi, Shien juga tidak ingin kehilangan Langit.
Tidak. Melepaskan Langit bukanlah jalan satu-satunya untuk memperbaiki hubungannya dengan Shanna.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Mama dan Shien. Mereka menoleh. Saat pintu terbuka lebar, mereka menemukan sosok Langit berdiri di sana dengan senyum mengembang dan kedua tangan penuh.
Masing-masing tangannya memegang buket bunga yang berbeda jenis, bunga Mawar di tangan kanannya dan bunga Anggrek di tangan kiri. Tidak lupa satu paper bag kecil ikut tergantung di lengan kanannya.
Laki-laki itu lantas menyapa Mama dengan ramah dan sopan seperti biasa.
“Ya ampun, kamu heboh banget, Lang. Jualan bunga?” Tanya Mama meledek setelah ia memperbaiki duduknya yang semula berselonjor di sofa.
“Wahh, kalau aku jualan bunga, auto semua spesies bunga di dunia ini punah Tante. Soalnya kalau orang ganteng yang jual, pasti laku keras.” Sahut Langit jenaka.
Shien yang mendengarnya hanya mencebik. Tingkat kepercayaan diri Langit ini benar-benar di atas normal.
Lain halnya dengan Mama, wanita paruh baya itu malah terkekeh mendengarnnya. “Bisa aja kamu ngomongnya.”
“Buat Tante.” Langit menyerahkan buket bunga Anggrek pada Mama.
“Kok dikasih ke Tante?” Tanya Mama heran, tapi tetap menerima bunga tersebut.
“Itu sebagai ucapan terima kasih aku karena Tante udah melahirkan Shien dan menurunkan gen Tante sampai dia bisa secantik itu.” Jawab Langit seraya melirik Shien menggunakan ekor matanya. Namun, Shien malah memasang ekspresi seperti ingin muntah mendengar ucapan Langit. Dasar raja gombal.
Berbeda dengan Mama yang malah tersipu-sipu. “Tahu aja kalau Shien cantik itu turunan dari Tante.” Lalu menghirup bunganya yang mengeluarkan bau harum.
“Tahu dong, Tante. Semua orang juga bisa lihat. Miss Universe kalah, deh, sama Tante.” Ujar Langit. Uhh, rasanya Shien ingin menyumpal mulut laki-laki itu dengan jeruk yang ada di atas meja nakas.
“Ahh, berlebihan.” Mama mengibaskan tangannya malu-malu.
“Padahal, Tante tahu. Ini cuma sogokan, kan, biar kamu bisa berduaan sama Shien?” Lantas Mama memicingkan matanya penuh curiga.
Sementara Langit hanya nyengir lebar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tapi Tante beneran cantik, kok.”
“Mulut kamu, tuh.” Mama menunjuk-nunjuk mulut Langit dengan buket bunganya. “Kayaknya Mama kamu kebanyakan makan madu waktu hamil kamu. Makannya jadi kemanisan kayak gini.”
“Haha, Tante bisa aja.” Sahut Langit sambil terkekeh.
Menghembuskan napasnya cepat, Mama kemudian beranjak dari duduknya setelah ia meletakkan buket bunga pemberian Langit di atas meja.
“Oke, deh. Penyuapan kamu berhasil. Tante izinin kamu berduaan sama Shien. Lagian, Tante juga gak mau jadi kambing congek di sini.”
Langit tersenyum senang mendengarnya. Tante Risa benar-benar pengertian.
“Tapi, lain kali nyogoknya pake sesuatu yang lebih mahal dikit. Pake tas Hermes, misalnya.” Canda Mama.
Langit yang mendengar itu tergelak sebelum kemudian ia berkata. “Apa aja deh buat Mama mertua.”
Mama yang mendengar itu hanya mendengus geli, kemudian berlalu dari hadapan Langit untuk memberikan kesempatan pada dua anak muda itu menghabiskan waktu berdua sebentar.
“Ohh, iya.” Mama yang baru saja meraih handle pintu kembali berbalik untuk mengingatkan sesuatu. “Tante kasih kamu waktu selama Tante menghabiskan secangkir kopi di kedai kopi.”
“Lho, sebentar banget, Tan?” Protes Langit.
“Kamu nyogoknya aja cuma pake bunga doang, masa iya Tante kasih kamu waktu lama-lama.” Jawab Mama berkelakar. Langit berpura-pura memasang wajah cemberut mendengarnya.
Tidak. Mama tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Walau bagaimanapun, ia tidak mungkin membiarkan anak gadisnya berduaan berlama-lama dengan seorang laki-laki yang belum menjadi suaminya.
Mama tetap harus waspada dan tidak boleh terlalu membebaskan mereka karena gaya berpacaran anak zaman sekarang berbeda dengan zamannya dulu. Ia tahu betul itu, mengingat banyaknya kasus married by accident di luar sana yang seolah sudah menjadi budaya, bukan problema lagi.
__ADS_1
********
To be continued. . . .