
********
Siang itu, Shien terdiam melamun sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan, pandangannya menerawang kosong, bahkan lalu lalang orang-orang yang keluar masuk kafetaria yang menjadi salah satu fasilitas di Snow Candy itu pun seolah tidak terlihat.
Terlihat guratan kegelisahan di wajahnya, begitu pun dengan perasaannya yang ikut gamang. Selama satu minggu ini, Shien benar-benar memedam perasaan dongkolnya atas sikap Shanna yang dirasa terlalu menempel dengan Langit. Mungkin ini prasangka Shien yang salah, tapi ia merasa jika Shanna selalu mengawasi Langit layaknya baby sitter, tidak membiarkannya dekat dengan Langit bahkan untuk sekedar berpegangan tangan. Gadis itu selalu berada di tengah-tengah mereka, dia bahkan mengambil tempat duduk di depan saat sedang pergi bertiga.
Jelas Shien terganggu, apalagi saat ia melihat Shanna melakukan kontak fisik seperti menggandeng tangan, mengacak-acak rambut, atau menyeka makanan yang menempel di sekitar mulut Langit, walaupun pada akhirnya meminta maaf dengan alasan tidak sengaja karena refleks.
Mungkin dulu Shien akan baik-baik saja melihat Shanna melakukan hal seperti itu pada Langit, tapi situasinya sekarang berbeda. Langit adalah kekasihnya, yang dilakukan Shanna itu tidak benar karena seharusnya dia lebih menjaga sikap, dan tentu saja Shien cemburu.
Tidak hanya itu, Shien juga merasa jika Shanna mulai membuat semangat Shien turun, sehingga membuat Shien merasa rendah diri di hadapan Langit. Entah perasaannya yang terlalu sensitif, tapi itulah yang dirasakan Shien.
“Ehh, Lang. . . .” Panggil Shanna saat mereka sedang berada di cafe setelah mereka menonton film di bioskop.
Sore itu Langit dan Shien yang ingin menonton tidak sengaja bertemu dengan Shanna yang tiba-tiba juga ada di sana dan menyapa mereka. Shanna yang senang karena bertemu dengan adik dan temannya itu lantas menyarankan untuk menonton bersama. Alhasil, karena tidak tahu bagaimana caranya menolak, Langit dan Shien dengan sangat terpaksa mengiyakannya.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Shien menonton film horror dengan wajah ditekuk masam selama satu jam pertama penayangannya. Selanjutnya, Shien yang memang sangat menyukai film itu pun akhirnya tetap bisa hanyut dengan isi ceritanya.
Shien melupakan kegondokannya pada Shanna yang bersikeras ingin duduk di tengah-tengah di antara dirinya dan Langit. Toh, itu hanya tempat duduk. Lagipula ia percaya pada Langit yang pasti tidak akan melakukan apa-apa seperti saat sedang menonton berdua bersamanya. Wajah laki-laki itu pun terlihat sama keruhnya. Sesekali dia menoleh ke arah Shien dengan ekspresi mengeluh.
Namun, kegondokan Shien kembali mencuat saat Shanna tiba-tiba menjerit manja kala hantu di dalam film muncul memenuhi layar lebar itu. Ada perasaan tidak rela melihat Shanna menyusrukkan kepala serta tangannya ke dalam lengan Langit.
Shien tetap berusaha menampilkan ekspresi seolah ia baik-baik saja, walaupun sebenarnya hatinya tidak ikhlas melihat sikap sang kakak.
Shien jadi curiga, sebenarnya Shanna itu memang menonton atau sengaja mencari-cari perhatian Langit?
Walaupun Shien menepis pikiran buruk itu, namun nyatanya jawaban atas kecurigaannya itu terjawab begitu film berakhir. Langit masih membahas film tersebut dan ketika sesekali dia melempar pertanyaan, Shanna terlihat seperti orang blo*on yang sama sekali tidak tahu akan film yang ditontonnya.
“Kamu pernah ke Bromo, gak? Kamu pernah bilang suka mendaki, kan?” Tanya Shanna seraya menunjukkan foto pemandangan sunrise di puncak gunung Bromo dari ponselnya.
“Gak pernah. Di Indonesia pernahnya ke Ciremai sama Burangrang doang, seringnya di luar negeri waktu masih kuliah.” Balas Langit tersenyum memandangi foto pemandangan tersebut.
“Udah lama banget gak hiking.” Gumamnya seraya mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mendaki gunung. Dan kalau tidak salah, itu mendaki gunung Burangrang bersama Jingga satu tahun yang lalu.
“Kangen, gak?” Tanya Shanna lagi.
Sementara Shien hanya diam memperhatikan kakak dan kekasihnya itu mengobrol. Langit terlihat nyaman menanggapi Shanna, mungkin karena sedari tadi Shanna membahas hobinya yang tidak jauh berbeda Langit.
“Banget. Tapi susah banget nyari waktunya kalau mau pergi hiking bareng teman-teman.” Jawab Langit antusias seraya mengungkapkan keluhannya.
“Gimana kalau sama aku?” Celetuk Shanna, membuat kening Langit dan Shien berkerut seketika. Apa maksudnya?
“Ehh, maksud aku. Gimana kalau kita bertiga ke Bromo? Aku juga suka mendaki, walaupun bikin dekil, tapi sebanding lah sama pengalaman yang didapat.” Shanna dengan cepat meralat ucapannya.
“Gimana, Shi? Kamu setuju, kan, kalau kita pergi hiking bertiga? Pasti seru banget di sana nanti.” Pertanyaan Shanna tidak membuat Shien langsung menjawabnya. Dia hanya terdiam dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Mungkinkah Shanna lupa? Mendaki adalah hal yang mustahil Shien lakukan dalam kondisinya saat ini.
“Ehh, maaf Shi. . . .” Ucap Shanna setelah tersadar, ia lantas memasang raut wajah bersalah. “Aku telalu semangat sampai lupa kalau kamu belum bisa naik gunung sekarang.”
Shien yang mendengar itu hanya tersenyum tanpa minat, lalu meneguk air minum untuk mendorong kunyahan pasta di dalam mulutnya yang mendadak sulit ia telan.
“Padahal, seneng banget kalau kita bisa mendaki bareng pacar, pasti romantis gitu. Sayang banget, Shi, kamu gak bisa ngikutin hobinya Langit sekarang.” Ahh, perasaannya mungkin memang sesensitif ini. Shien merasa tersinggung dengan ucapan Shanna yang satu ini.
“Mungkin untuk sekarang aku gak bisa ngikutin hobinya Langit naik gunung, tapi yang pasti aku selalu ngedukung hobinya dia.” Balas Shien, tidak ingin membuat dirinya terlihat lemah. Tidak peduli jika ia dikatakan sudah berprasangka tidak baik pada kakaknya, tapi Shien merasa jika Shanna memang sengaja mengatakan hal itu untuk menyinggungnya.
“Iya, sih. Tapi emang lebih bagus kalau kita punya pasangan yang sehobi, ke mana-mana bisa bareng dan juga nyambung tentunya.” Tutur Shanna tiba-tiba, membuat Shien mengernyitkan keningnya penuh tanya. Begitu pun dengan Langit.
“Emang itu bagus.” Langit yang sejak tadi hanya diam kini menyahuti. Wajah Shanna tampak berseri-seri mendengar itu, sementara Shien hanya menatapnya sendu. Ia lantas mengalihkan pandangannya melihat ke arah luar jendela cafe sembari memejamkan kedua matanya diiringi dengan helaan napasnya yang terasa berat. Langit berkata seperti itu, apakah dia keberatan karena Shien tidak bisa mengikuti hal-hal yang dia sukai seperti halnya naik gunung, berkeliling untuk berbelanja, dan hal lain yang tidak mungkin Shien bisa lakukan bersamanya?
“Tapi, kesamaan itu bukan standar penentu kecocokan. Justru karena aku sama Shien banyak perbedaan, kami bisa saling melengkapi, menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing, bisa melihat dunia dari sudut pandang baru, dan tentunya juga bisa saling menghargai keunikan satu sama lain.” Sambung Langit penuh ketegasa. Ia sangat paham dengan perubahan raut wajah Shien tadi. Shien sangat mudah terpengaruh. Maka dari itu, sebelum Shien berpikiran ke mana-mana, Langit harus segera mengalihkan perhatiannya kembali. Dan Langit juga heran kenapa Shanna bisa mengatakan sesuatu yang bisa membuat perasaan Shien tersinggung seperti itu.
__ADS_1
“A-aku, aku gak bermaksud bilang kalau kalian gak cocok. Maksud aku, tadi aku mau bilang kalau aku punya pacar, maunya hobi kami sama gitu.” Shanna tersenyum kaku, gadis itu mendadak gelagapan.
“Iya, aku tahu. Santai aja kali, Sha.” Sahut Langit yang melihat wajah Shanna berubah panik.
Langit tersenyum, menatap Shien yang kini menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan gadis itu di bawah meja.
“Ohh, iya. Aku pernah denger teman aku bilang kayak gini, kalau kita mencintai seseorang, daripada melakukan seribu hal yang dia sukai. Lebih baik, jangan melakukan hal yang dia benci.” Ujar Langit, mengingat kata-kata Jingga yang sangat percaya diri dalam menghadapi berbagai macam perbedaan dengan Biru suaminya.
“Jadi, Shien, kamu gak usah khawatir kalau gak bisa ngikutin hobi aku, aku gak keberatan. Lagian, masih banyak tempat romantis yang bisa kita kunjungi selain gunung.” Lanjut Langit menenangkan.
Shanna terdiam seolah kehilangan kata-kata, ia lalu menundukkan kepala dan fokus pada pastanya yang mulai dingin, menyembunyikan wajahnya yang berubah keruh di sana.
Shien yang melihat itu tersenyum kecut, ia mengerti sekarang. Shanna hanya melakukan gencatan senjata sebelumnya. Shanna belum menyerah. Gadis itu tahu kelemahan Shien, sehingga ia tahu harus menyerang dari mana. Hatinya.
Shanna ingin membuat Shien sendiri yang menyerah atas Langit dengan menyerang hatinya, perasaannya.
Shien kecewa sekaligus sedih. Ternyata, Shanna benar-benar sudah mengibarkan bendera perang padanya. Shien tidak tahu ia mampu bertahan atau tidak, tapi yang jelas Shien juga tidak akan menyerah. Ia tidak akan membiarkan siapapun meruntuhkan pertahanannya.
********
“Eh, Langit, sini!”
Shien terperanjat begitu mendengar Fina meneriakkan nama Langit, hingga tanpa sadar kepalanya celingukkan mencari-cari keberadaan laki-laki itu.
“Pfft. . . .” Fina menahan tawanya. “Ngelamunin apaan, sih? Dari tadi dicariin, ehh tahunya di sini.” Tanyanya sesasat setelah ia menarik kursi di hadapan Shien untuk ia duduki.
Tatapan kesal lantas Shien layangkan kepada teman sekaligus rekan kerjanya itu, Fina mengerjainya lagi. Dan bodohnya, Shien selalu saja tertipu.
“Ohh, iya. Reno gimana?” Shien buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, lalu menyesap jus jeruknya untuk menghindari sorot mata Fina yang sedang berusaha membaca raut wajahnya.
“Seperti yang kamu bilang. Dia emang punya kemampuan di bidang itu.” Fina terdiam sebentar untuk menyambut kopi pesanannya yang baru saja diantarkan pelayan.
“Dia bisa mulai dari asisten Editor.” Imbuhnya, lalu menyesap cairan berwarna hiam pekat bernama espresso yang masih mengeluarkan asap mengepul itu dengan perlahan sambil menikmati aromanya.
“Not bad.” Komentar Shien singkat
Untuk sejenak mereka terdiam menikmati alunan musik jazz yang iramanya mampu menenangkan hati dan pikiran siapa saja yang mendengarnya di tengah-tengah cuaca yang cukup terik siang itu.
“Ohh iya, Shi. Kamu beneran mau vakum dari pekerjaan abis karya baru kamu terbit?” Tanya Fina ingin memastikan saat teringat Shien mengatakan hal ini beberapa hari yang lalu sebelum naskahnya diserahkan pada tim Editor untuk digarap.
Shien hanya menganggukkan kepalanya yakin sebagai jawaban.
“Berapa lama?” Tanya Fina, seolah tidak rela jika ia harus berpisah dengan temannya di kantor.
Shien menggeleng lemah seraya menyunggingkan senyumnya tipis. “Sampai sembuh, mungkin. . . .” Nada suaranya terdengar ragu.
“Kenapa mungkin? I’m sure that Supergirl is gonna be fine soon.” Fina menyemangati. Sudut bibir Shien tertarik membentuk senyuman tipis seraya menggumamkan kata amin di dalam hatinya.
“Tapi, donor jantung gak mudah didapat kayak di film-film.” Keluh Shien yang sudah menunggu hampir dua tahun sejak kondisinya semakin memburuk.
Shien hanya bisa memasrahkan hal itu pada Tuhan. Seperti yang pernah Nathan katakan, Shien yakin Tuhan akan memberinya jantung baru jika waktunya sudah tepat.
Tuhan merahasiakan masa depan, Tuhan sedang mengujinya untuk senantiasa berprasangka baik, merencana dengan baik, berusaha yang terbaik, serta bersyukur dan bersabar.
Semuanya butuh waktu dan proses. Kesabaran adalah pohon dengan akar yang pahit, tetapi berbuah sangat manis. Dan Shien yakin, apa yang ia inginkan dan menurut Tuhan baik akan tiba pada waktunya.
Fina menghembuskan napas berat seraya menatap Shien prihatin. Dalam hal ini, Fina sebagai teman tidak bisa membantu apa-apa selain mendoakan dan menyemangatinya. “Aku harap, akan ada kecelakaan di luar sana, terus korbannya mening. . . .”
“Heii. . . .” Shien dengan cepat melempar sedotan ke arah Fina untuk menghentikan ucapannya yang meracau itu sambil melotot tak suka. Shien tahu, Fina berdoa untuknya, tapi bukan berarti harus mendoakan hal-hal yang buruk terhadap orang lain.
__ADS_1
“Iya, deh, maaf.” Fina meringis seiring dengan cengiran lebar serta dua jari tangan ia acungkan membentuk tanda V.
“Shi. . . .” Panggil Fina setelah beberapa saat hening.
“Hmm.” Shien menyahutinya singkat. Satu tangannya memainkan sedotan di dalam gelas dengan malas.
“Kamu inget gak ini hari apa?” Tanya Fina yang membuat Shien langsung mengernyitkan keningnya heran. Apa pengaturan waktu di ponsel Fina bermasalah hingga dia lupa hari ini adalah hari apa?
“Jumat.” Jawab Shien cepat, tanpa harus berpikir lagi.
Fina yang sedang memainkan gagang cangkir bening itu mendengus samar. “Iya ini hari Jumat. Maksudku, itu tanggal ini ada apa gitu lho, Shi?”
Shien mengerjap, ia lantas mengamati Fina dengan kernyitan di dahi.
“Ohh.” Mata Shien membulat saat memorinya menangkap ingatan tentang hari besar nasional hari ini. “Tanggal dua Mei, itu Hari Pendidikan Nasional. Emang kenapa, Fin?” Tanyanya masih dengan keheranan penuh.
Fina yang sebelumnya sudah memasang senyum semringah kembali mendengus, wajahnya terlipat kesal karena Shien tidak mengerti kodenya itu. Padahal, sudah sejak kemarin ia memberikan kode pada temannya itu bahwa hari ini ia akan berulang tahun. Alih-alih ingat, diberi kode saja tidak peka.
“Ahh, payah.” Decak Fina. “Ya udah lah, lupain aja.”
Salah satu sudut bibir Shien terangkat sedikit, nyaris tidak terlihat. Ingin sekali ia tertawa melihat wajah Fina yang ditekuk itu.
Sebenarnya Shien tahu apa yang dimaksud Fina. Tidak mungkin ia tidak mengetahui hari ulang tahun orang-orang terdekatnya. Hanya saja, ia sengaja berpura-pura tidak mengetahuinya untuk membuat gadis yang duduk di depannya ini jengkel. Shien juga sudah menyimpan hadiah di dalam laci meja kerjanya tadi pagi-pagi sekali, bodoh saja Fina belum menemukan itu.
“Udah punya Langit, jadi lupa apa-apa tentang temannya.” Rajuk Fina dengan wajah merengut.
Shien mendengus geli, lalu berucap santai. “Aku inget, kok. Ini ulang tahun kamu.”
“Terus, kenapa gak ngucapin?” Sahut Fina cepat.
“Happy birthday.” Balas Shien datar, lalu kembali menyesap jus jeruknya yang sudah tidak dingin lagi itu.
Fina terperangah tak percaya, sekali saja gadis itu mengucapkan selamat ulang tahun padanya dengan antusias, Fina berjanji akan berjalan kaki dari apartemen ke kantornya. Tapi itu adalah hal yang paling mustahil yang akan Shien lakukan. Tahun lalu lebih parah. Fina ingat betul Shien mengucapkan selamat ulang tahun seperti ini dengan wajah tanpa ekspresinya. “Ohh, kamu ulang tahun? Selamat.”
Benar-benar menyebalkan. Tapi, tidak sepenuhnya menyebalkan karena Shien nyatanya selalu memberi hadiah sesuai dengan apa yang diinginkannya, bahkan tanpa Fina harus menyebutkannya. Bisa dibilang, Shien memang pengertian sebagai teman.
“Ya udah, mana hadiahnya.” Fina menadahkan kedua tangannya ke arah gadis itu untuk menagih hadiahnya.
“Gak nyiapin.” Jawab Shien santai. Fina memasang wajah cemberut dan mengatakan bahwa Shien benar-benar tega, tapi Shien hanya menanggapinya dengan kedikkan bahu tak peduli.
“Kalau gitu, ayo jalan-jalan hari ini sebagai hadiahnya. Mumpung di kantor lagi gak banyak kerjaan.” Ajak Fina penuh harap.
“Tapi. . . .” Shien menggantungkan kalimatnya sejenak untuk membaca pesan chat yang masuk ke dalam ponselnya.
“Langit udah nunggu aku di kantor, sorry.” Sambung Shien tanpa merasa bersalah atau menyesal, seolah posisi Fina memang sudah bergeser menjadi nomor dua di bawah Langit.
“Besok weekend, gimana kalau jalan-jalan ke mana gitu? Udah lama gak refreshing bareng, Shi.” Tanya Fina, berharap Shien bisa mengiyakannya. Memang sejak gadis itu menjalin hubungan dengan Langit, Fina menjadi tersisihkan dan jarang memiliki waktu hangout berdua bersama Shien seperti dulu. Dan Fina tidak memiliki teman lain di Indonesia untuk diajak jalan selain Shien. Sial sekali, ia kesepian.
“Tapi. . . .” Shien menatap Fina yang sedang menghembuskan napas pasrah itu sejenak. “Langit udah ngajak aku ke Dufan.”
“Udahlah, sana pergi.” Usir Fina dengan wajah memberengut.
“Kamu boleh ikut kalau mau.” Tawar Shien, membuat bola mata Fina langsung berbinar.
“Tapi jadi tukang jagaain tas.” Tambah Shien terdengar penuh ledekan.
“SHIEN.” Teriak Fina yang melihat Shien langsung ngacir begitu saja dari hadapannya.
********
__ADS_1
To be continued. . . .