So In Love

So In Love
EP. 07. One Night Stand


__ADS_3

********


“Tapi, kamu tahu darimana Shien ada di sini? Maksudku, kamu kenal adik aku Shien?” Tanya Shanna yang sebenarnya keterkejutannya itu sangat terlambat. Ia baru tersadar Langit mengetahui dirinya memiliki saudara kembar.


“Karena suatu kejadian, aku tahu Shien.” Jawab Langit seraya menyesap jus miliknya. Kedua sudut bibirnya tersungging tatkala ia mengingat gadis yang terjebak bersamanya di dalam lift kemarin. Entah kenapa, walaupun wajah Shanna dan Shien sama, mata Langit hanya tertarik pada Shien. Si gadis patung es yang sedikit angkuh.


“Kejadian?” Shanna yang masih sibuk dengan steak salmonnya seketika mendongak dengan sebelah alis terangkat. “Apa mungkin kalian terjebak one night stand?” Tanyanya menatap Langit penuh curiga.


“Sembarangan.” Seru Langit tak terima, ia lantas melempar Shanna dengan tissue bekas hingga membuat gadis itu bergidik jijik.


“Kemarin kami terjebak di lift.” Terang Langit kemudian. “Apa dia baik-baik aja?” Sambar Shanna dengan raut wajah berubah khawatir. Jelas, Shien sangat tahu saudara kembarnya memiliki jantung yang lemah.


“Emm . . . .” Langit menganggukkan kepalanya. “Ahh, syukur deh.” Cicit Shanna pelan, ia lalu melanjutkan kegiatan makan siangnya yang sempat terhenti.


“Tapi, dia kayaknya pendiam.” Tanpa sadar Langit mengutarakan penilaiannya terhadap gadis itu.


“Bukan pendiam, tapi emang kurang pandai bergaul aja dia.” Shanna mengoreksi. Ia sangat mengerti Shien, gadis itu sejak kecil tidak pernah memiliki teman, jadi wajar sikapnya seperti itu. Shien hanya perlu didekati dengan sedikit usaha.


“Harus sering-sering digangguin, biar dia cerewet.” Imbuh Shanna, ia tersenyum mengingat masa kecilnya dulu yang sering mengganggu Shien agar gadis itu mau bermain dengannya.


“Dan sebentar lagi waktunya aku gangguin dia.” Seru Shanna kemudian seraya menyunggingkan senyum jahil. Sementara Langit hanya mengernyitkan keningnya tak mengerti.


“Langit, kayaknya kita pisah di sini aja.” Shanna melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Kenapa? Bukannya tadi kamu minta aku antar pulang?” Tanya Langit heran karena Shanna tiba-tiba berubah pikiran. Walaupun dalam hatinya ia cukup senang karena akhirnya bisa terlepas dari Shanna hari ini.


“Aku gak jadi pulang. Aku lupa, ternyata hari ini waktunya ketemu Shien.” Jawab Shanna saat teringat bahwa hari ini ia akan menemui adiknya. Ia bahkan sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari. Memberi Shien kejutan kedatangannya.


“Kamu sibuk, kan? Kamu bisa pergi setelah ini. Lagian, tempat Shien gak jauh dari sini, aku bisa naik taksi.” Ujar Shanna yang tiba-tiba berubah menjadi pengertian.


“Aku masih banyak waktu. Gak apa-apa, aku bisa antar kamu ke sana.” Sambar Langit dengan cepat. Jelas saja, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui dimana tempat tinggal atau tempat Shien bekerja.


“Beneran?” Tanya Shanna dengan mata berbinar. Langit hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Kalau gitu, gimana kalau sekalian kamu ikut aku nemuin Shien? Dia pasti terkejut.” Usul Shanna yang sontak saja membuat Langit kegirangan dalam hati. Tentu saja ia sangat setuju.


“Boleh.” Jawab Langit berusaha sesantai mungkin. Padahal, dalam hatinya bersorak senang.


“Okay. Let’s give her a surprise.” Seru Shanna dengan senyum mengembang. Ia membayangkan reaksi adik kembarnya yang sedikit jutek itu saat ia menemuinya nanti.


********


Sementara itu di salah satu toko buku yang ada di dalam sebuah mall, tampak di sana terdapat antrian memanjang orang-orang yang hendak meminta tanda tangan Shien. Ya, hari ini adalah hari peluncuran buku baru Shien. Selain toko buku yang dipadati pengunjung, terlihat beberapa reporter juga ada di sana setelah beberapa saat yang lalu mereka melakukan sesi tanya jawab dengan Shien.


Shien menandatangani buku, tampak napasnya mulai terengah dan kepalanya terasa pusing. Penyakit jantung membuatnya mudah kelelahan seperti ini. Padahal, ia baru duduk selama tiga jam dan yang dilakukannya hanya menandatangani buku. Ia berdoa, semoga saja ia tidak sampai pingsan, melihat antriannya yang masih begitu panjang. Setidaknya, sampai acara peluncuran bukunya berakhir. Shien berharap bisa bertahan karena selain pusing, mudah lelah, dan kesulitan bernapas, jantungnya yang lemah juga membuatnya mudah kehilangan kesadaran.


“Are you okay?” Fina yang duduk di sebelahnya terlihat khawatir, ia lantas menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diterima dan diminum Shien.


“I’m okay.” Jawab Shien setelah ia meneguk air mineralnya. Sejenak ia memejamkan matanya, lalu kembali menandatangani buku.


“Shi, Tante pulang duluan. Di kantor ada sedikit masalah.” Bisik Tante Hilda setelah beberapa saat lalu wanita paruh baya itu menerima telepon. Shien hanya meganggapinya dengan anggukkan.


“Kalau udah selesai, jangan lupa langsung temuin dokter Nathan.” Ujar Tante Hilda mengingatkan. Lagi-lagi, Shien hanya mengangguk. Ia lebih memilih untuk fokus dengan buku yang tengah ditandatanganinya agar pekerjaannya cepat selesai dan segera keluar dari ruangan yang mulai terasa sesak ini.


“Fin . . . .” Tante Hilda kemudian beralih pada Fina, seolah memberi kode bahwa beliau mempercayakan Shien padanya dan meminta Fina untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu pada keponakannya itu.


“Ibu tenang aja.” Sahut Fina menenangkan. Tante Hilda lantas mengangguk serta menyunggingkan tersenyum tipis untuk kemudian ia berlalu pergi dari toko buku.


Dua jam berlalu, acara peluncuran buku selesai. Para pengunjung satu per satu mulai undur diri, begitupula dengan para reporter yang sudah pergi setelah sesi foto selesai beberapa saat yang lalu.


Shien kembali duduk di kursi diikuti Fina. Shien merasa tubuhnya benar-benar lelah, wajahnya juga sudah terlihat pucat dengan keringat dingin membasahi kening dan pelipisnya. Beruntung ia tidak terkena gejala sianosis yang membuat kulitnya tampak kebiruan. Mungkin jika itu terjadi, Fina akan melarikannya ke rumah sakit saat ini juga.

__ADS_1


“Apa aku harus telepon dokter Nathan?” Tanya Fina yang khawatir saat melihat Shien memijat keningnya.


“Gak usah, aku baik-baik aja.” Jawab Shien terdengar lemah, dan itu membuat Fina semakin khawatir.


“Aku cuma butuh istirahat sebentar.” Tambah Shien menenangkan. Fina hanya bisa menurutinya sembari mengawasi gadis itu.


Suasana mendadak hening diantara mereka, Fina memilih untuk diam memperhatikan Shien sibuk menenangkan dirinya.


Sejurus kemudian, tampak seorang laki-laki dan dan seorang gadis dengan buku baru karya Shien di tangannya berjalan beriringan menghampiri meja tempat Shien duduk.


Fina memicingkan matanya, merasa mengenali sosol gadis berambut warna-warni itu. “Maaf, sesi tanda tangan sudah sele . . . .” Fina menggantungkan kalimatnya saat si gadis berambut warna-warni itu membuka kacamata hitam seraya menyimpan telunjuk di depan mulutnya seolah mengisyaratkan Fina untuk diam.


Fina seketika mengatupkan mulutnya, bukan karena isyarat gadis itu. Tapi karena ia mengenali gadis itu yang ternyata saudara kembar Shien yang ia lihat beberapa waktu lalu di depan gedung lesnya.


“Long time no see, Princess Elsa.” Shien yang saat itu masih sibuk memijat keningnya yang berdenyut ngilu, seketika mendongak begitu ia mendengar seseorang memanggil dengan nama penanya.


Tak ada reaksi terkejut, heboh, atau terharu untuk dua orang yang sudah tidak bertemu selama enam belas tahun. Baik Shanna ataupun Shien, mereka sama-sama terlihat santai. Malah terkesan santai hingga membuat Fina dan Langit terheran-heran melihatnya.


Shien sedikit terkejut dengan kedatangan kakaknya yang tiba-tiba. Ia tidak perlu bertanya-tanya lagi bagaimana Shanna bisa mengetahui dan menemuinya di sini, sudah jelas pasti Tante Hilda yang memberitahu saudara kembarnya itu.


Shien lantas menatap Shanna yang memasang senyum menjengkelkan ke arahnya itu tanpa ekspresi. Setelah itu, ia kemudian mengalihkan perhatianya pada orang yang berdiri di sebelah Shanna. Langit. Laki-laki itu tersenyum manis ke arahnya begitu pandangan mereka bertemu. Pertanyaan kenapa laki-laki itu bisa datang bersama sang kakak seketika terlintas di kepalanya, namun dengan cepat Shien menyingkirkan rasa penasarannya. Selama beberapa detik tatapan mereka saling terkunci sebelum kemudian suara Shanna membuyarkannya.


“Tanda tangan punyaku, Nona penulis.” Shanna menggeser buku cerita berjudul Good Morning Sun yang tadi dibelinya ke arah Shien.


Walaupun enam belas tahun terpisah, bukan berarti Shanna tidak mengetahui kabar adiknya itu. Ia selalu mengikuti perkembangan adiknya dan mencaritahu keadaannya melalui Tante Hilda. Begitupula dengan Shien yang melakukan hal yang sama. Itulah kenapa mereka tidak terlalu terkejut ketika mereka bertemu lagi untuk yang pertama kali. Terlebih, mereka satu sama lain selalu merasa hati mereka sangat dekat walaupun berjauhan. Dan Shanna menyebutnya karena mereka adalah belahan jiwa.


“Sesi tanda tangan sudah selesai, Shanna.” Balas Shien dengan penuh penekanan pada kata terakhirnya, ia lalu kembali menggeser buku cerita itu ke arah Shanna.


Shanna mendengus kesal saat mendengar Shien tidak menyebut dirinya kakak, ia lantas menyentil dahi adiknya itu sekeras-kerasnya hingga membuat Shien mengaduh kesakitan.


“Awww.” Pekik Shien seraya mengusap-usap dahinya yang tampak memerah akibat sentilan tangan Shanna.


“Gadis nakal. Panggil aku kakak.” Dan sekali lagi Shanna mendaratkan sentilan keras di dahinya. “SHANNA.” Teriak Shien memelototi Shanna dengan tatapan kesal.


“Shien, apa kamu kena gangguan telinga?” Teriak Shanna tak kalah kesal.


“Aku bilang, panggil aku kakak. Aku lebih tua lima menit, kalau kamu lupa.” Lanjut Shanna mengingatkan. Shien hanya mencebikkan bibirnya tak peduli.


Sementara itu, Fina dan Langit hanya diam menyaksikan pertengkaran kecil kakak beradik itu dengan santai. Hal seperti ini sudah biasa terjadi antara adik dan kakak, bukan? Langit sendiri bahkan pernah saling menjambak rambut dengan sang kakak, Senja.


Mendesis, Shien lantas menyoroti penampilan Shanna dari atas sampai bawah, sebelum kemudian ia berujar “Aku gak yakin kalau kamu kakakku.” Sorot mata Shien penuh ledekan, Shanna bisa melihat itu.


“Ayo pergi, Fina.” Shien yang sudah merasa lebih baik lantas beranjak dari duduknya, lalu dengan acuh berlalu begitu saja pergi dari hadapan Shanna. Sekilas ia melirik ke arah Langit yang sedari tadi terpaku memandanginya.


“Gadis nakal, apa begini cara kamu menyapa kakakmu?” Shanna mendengus kesal, mereka sudah enam belas tahun tidak bertemu. Tapi, kenapa adiknya itu berubah jadi semakin menyebalkan seperti ini setelah beranjak dewasa? Apa Tante Hilda salah memberinya makan?


Berdecak malas, Shien kemudian memutar tumitnya dan berbalik. “Kakak, aku pergi dulu.” Ujar Shien dengan menyunggingkan senyum yang dibuat-buat.


“Hallo, apa kabar, peluk.” Shanna melipat tiga jarinya satu per satu. “Harusya itu yang kamu lakukan, Shien.” Imbuh Shanna kemudian, memberitahu bagaimana cara menyapanya dengan benar.


“Lain kali. Sekarang aku lagi buru-buru.” Sahut Shien santai, ia lalu kembali membalikkan tubuhnya, namun ia urungkan saat ia mengingat sesuatu yang lupa ia katakan pada kakaknya itu.


“Ohh, iya. Ngomong-ngomong, selera fashion kamu buruk, kak. Siapapun yang lihat kamu pasti sakit mata.” Cibir Shien membuat Langit yang mendengarnya otomatis menahan tawa. Namun, tidak dengan Shanna yang lebih terlihat kesal.


“Ini style seksi ala Korea, Shien. Kamu aja yang ketinggalan mode.” Protes Shanna tak terima selera fashionnya dikatai buruk. Ia lantas memperhatikan penampilannya sendiri. Menurutnya tidak ada yang salah. Baju macan yang di mix dengan jacket denimnya menampilkan kesan seksi dan keren.


“Seksi apanya? Kamu lebih mirip banci mau manggung.” Cebik Shien terang-terangan untuk kemudian ia berlalu pergi, meninggalkan Shanna yang terperangah dengan mulut yang sedikit menganga.


“Aku telepon kamu nanti, Sha.” Teriak Shien seraya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang. Salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. Dalam hatinya, ia sangat puas membuat kakaknya kesal. Memang dari dulu selalu seperti ini, Shanna dengan segala keanehannya membuat Shien tak tahan untuk tidak meledeknya.


Shanna dan Shien memang tidak seperti sibling goals pada umumnya yang selalu terlihat kompak dan akur. Sejak kecil, mereka memiliki cara tersendiri untuk membangun kedekatan.

__ADS_1


“SHIEN.” Shanna berteriak seraya menghentakkan kakinya kesal, namun Shien tak mengindahkannya sama sekali.


“Mata kamu yang rusak, Shien.” Shanna masih tak bisa terima dengan cibiran Shien. Ia bahkan sudah melepas sebelah stilettonya dan diarahkan pada Shien untuk dilemparkannya. Tapi itu tidak sungguh-sungguh, ia hanya merasa gregetan dengan sikap adiknya yang menyebalkan.


“Dia gak salah, lolipop.” Seru Langit tiba-tiba, sudah sejak tadi ia ingin mengatakan bahwa penampilan Shanna seperti banci mau manggung, dan Shien mewakilinya.


“Kamu jangan ikut-ikutan Shien.” Shanna sontak mendelik sebal ke arah Langit.


“Ayo beli baju baru yang lebih enak dipandang dan bahannya pas.” Ajak Langit, mengingat ia sudah dua kali bertemu dengan Shanna dan pakaian yang dikenakan gadis itu tidak pernah ada yang benar.


“Mungkin Shien pergi karena malu lihat kakaknya yang mirip banci kaleng.” Ujar Langit kemudian dengan senyum meledeknya.


“Hiish. . . .” Shanna mendengus sebal. Ingin sekali ia melempar stilettonya ke wajah Langit saat ini juga, namun ia tak ingin merusak wajah tampan laki-laki itu.


********


Dalam perjalanan pulang, Shien tak berhenti tersenyum mengingat wajah kesal kakaknya. Hal itu jelas membuat Fina sedikit merinding ketakutan. Pasalnya, selama ia mengenal Shien, Fina tidak pernah melihat Shien memasang ekspresi seperti itu. Yang ia lihat setiap hari adalah wajah datar seperti robot, bahkan Fina mengira bahwa bibir Shien sudah membeku hingga membuat gadis itu tak bisa tersenyum barang senyuman tipis.


“Seneng banget kayaknya bikin orang kesel.” Cebik Fina seolah bisa menebak apa yang menjadi penyebab Shien mengembangkan senyumnya sepanjang perjalanan seperti ini.


“Tapi aku bener, kan? Baju macan itu jelek banget.” Tanya Shien meminta persetujuan Fina.


“Sebenarnya, aku suka gaya kakak kamu yang berani. Tapi, baju macan itu emang sedikit . . .eung . . . .” Fina menggantungkan kalimatnya, ia berusaha mencari kata-kata yang tepat. Namun, dengan segera Shien menyambarnya. “Kampungan.”


“Bukan kampungan, tapi terlalu nyentrik. Aku lebih baik gak pake baju daripada harus pake baju macan itu.” Sahut Fina memilih kata-kata yang lebih baik, ia tak setega Shien yang bisa mengatai orang seenaknya. Yaa, Shien memang tak berperasaan. Gadis itu tega-tega saja mencibir gaya kakaknya sendiri kampungan.


“Bodoh. Aku lebih baik pake baju macan itu daripada harus telanjang.” Fina mendengus kasar mendengar penuturan Shien, bibirnya tampak menggerutu tak jelas sembari mencengkram setir mobil kuat-kuat, menandakan bahwa ia tengah kesal pada gadis yang duduk di sebelahnya ini. Bukankah tadi Shien meminta pendapatnya? Ahh, Shien benar-benar juara membuat orang kesal.


“Tapi . . . , Shien. Bukannya kalian udah lama gak ketemu? Harusnya kalian kangen-kangenan, kan? Kenapa malah ninggalin kakak kamu gitu aja?” Tanya Fina penasaran, ia bahkan mengabaikan perasaannya yang masih dongkol pada gadis ini.


“Kangen-kangenan?” Shien menoleh ke arah Fina yang tengah menyetir dengan alis yang bertaut.


“Emm, semacam menghabiskan waktu berdua, terus berbagi cerita, banyak hal yang kalian lewatkan selama kalian berpisah, kan?” Jawab Fina. Jika ia jadi Shien, mungkin itu yang akan dilakukannya.


“Dan lagi, kenapa kamu gak pulang ke rumah orang tua kamu, Shi? Kamu udah lama tinggal di Indonesia, tapi aku gak pernah lihat kamu pulang ke sana atau minta aku antar ke rumah orang tua kamu.” Tana Fina kemudian, ia heran kenapa Shien masih tinggal bersama Tante Hilda, sementara gadis itu bukanlah anak yatim piatu. Bahkan yang ia dengar, kedua orang tua Shien lebih dari mampu.


“Karena itu bukan rumahku. Tempat aku pulang ya ini, rumah Tante Hilda.” Jawab Shien bertepatan dengan mobil yang dikendarai Fina tiba di halaman rumah Tante Hilda.


“Tapi . . . .”


“Aku turun dulu, Fina.” Sambar Shien memotong ucapan Fina, gadis itu secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya akan pembahasan orang tua.


“Dia kenapa?” Fina bertanya-tanya dalam hati saat menyadari Shien yang kembali berubah dingin dalam sekejap. Tak ingin terlalu memikirkannya, ditambah tubuhnya yang juga sudah lelah, gadis itu memilih untuk menyalakan kembali mesin mobilnya dan pergi dari halaman rumah yang cukup besar itu.


********


Shien memasuki rumah dengan langkah gontai, tubuhnya benar-benar lelah, ia ingin segera mengistirahatkannya di atas kasur yang empuk dan terbangun keesokan harinya dengan tubuh yang lebih segar.


“Shien . . . .” Tante Hilda yang tengah duduk di sofa ruang tengah tiba-tiba memanggilnya begitu ia baru saja menapakan kakinya ke ruangan itu. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu duduk bersama seseorang yang juga tak kalah cantiknya.


“Iya, Tante?” Tante Hilda lantas melambaikan tangannya, memberi instruksi agar Shien menghampirinya.


Kening Shien mengeryit, Tantenya itu sepertinya sedang menerima tamu, tapi kenapa malah memanggilnya? Tak inging berlarut-larut dalam kebingungan, Shien kemudian berjalan menghampiri Tante Hilda.


“Sini, Shi.” Tante Hilda menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya begitu Shien mendekat.


Menjatuhkan tas yang ditentengnya, alangkah terkejutnya Shien saat mendapati orang yang tengah duduk bersama Tante Hilda. Ia sangat mengenal wajah ini, wajah yang selalu dirindukannya setiap malam sebelum tidur. Ibunya. Ibunya yang dulu ia selalu panggil dengan sebutan Mama.


“Shien . . . .” Ia menatap sang ibu yang kini tersenyum hangat ke arahnya dengan pandangan kosong.


Sosok sang ibu yang nyata, yang ia lihat di hadapannya saat ini membuat semua kenangan di masa lalunya berkelebat cepat di otaknya tanpa kendali. Semuanya benar-benar memusingkan kepalanya, sehingga Shien tidak dapat bergerak, lalu seketika itu pula pandangannya perlahan menjadi kabur dan gelap. Shien kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


********


To be continued . . . . .


__ADS_2