
********
Shien mendengus saat tiba-tiba mendapati sosok laki-laki yang tadi malam membuatnya kesal berdiri dan menghadang tubuhnya. Lalu, tanpa permisi merampas lolipop dari mulut Shien, kemudian mengemutnya sendiri.
“Enggak lagi setelah kamu datang.” Gadis itu mendelik kesal, lalu memutar tubuhnya ke arah berlawanan, meninggalkan Langit yang menggaruk-garuk belakang kepalanya frustrasi.
Langit yang melihat Shien pergi langsung kalang kabut. Benar dugaannya, gadis itu pasti marah padanya. Terlihat dari tatapan tajamnya tadi, menandakan bahwa Shien begitu kesal. Tidak hanya itu, Shien bahkan meninggalkannya ke car free day, padahal sebelumnya mereka sudah sepakat untuk pergi bersama.
Shien mempercepat langkah agar Langit yang sedang mengejarnya tidak dapat mencapainya. Namun, langkah Langit yang dua kali lebih besar darinya membuat laki-laki itu berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Shien.
“Shi, kamu marah?” Shien menghempaskan tangan Langit yang menyentuh lengannya. Gadis itu terus berjalan menuju sebuah cafe yang ada di seberang jalan.
“Ya ampun, Shi. Gak ada salahnya ramah sama orang.” Shien mendelik dalam langkahnya. Ramah? Memuji seorang gadis dengan kata cantik, menurut Shien itu terlihat seperti Langit sedang menggodanya saja. Terlebih yang dipuji adalah Terry, mungkin jika itu orang lain, Shien tidak akan terlalu kesal seperti ini.
Oke. Bersikap ramah memang baik. Tapi, tidak bisakah sikap ramah Langit itu normal sedikit?
“Jangan childish gini dong, Shi.” Lalu, tanpa sadar Langit menyentak tangan Shien dengan kasar hingga gadis itu berbalik menubruk dada bidangnya. Langit kesal sendiri karena sejak tadi malam Shien terus mengabaikannya. Apalagi gadis itu mengerjainya dengan membiarkan Om Sendy menjawab panggilan teleponnya. Entah apa yang dikatakan gadis itu pada Om Sendy hingga membuat beliau mengira Langit berandalan yang mengganggu anak gadisnya. Sungguh menjengkelkan.
Shien menatapnya kesal, cukup terkejut dengan ucapan dan tindakan Langit. “Iya, aku kekanak-kanakan. Kalau gitu kamu bisa mempertimbangkan lagi hubungan kita.”
Mendengar kata-kata Shien, membuat mata Langit membelalak. Langit tidak suka dengan kalimat terakhir Shien, tapi ia juga menyesali ucapannya yang sudah menyebut Shien kekanak-kanakan. Sorot kecewa sangat kentara pada mata jernih milik gadis itu.
Shien kembali berjalan cepat setelah ia menghempaskan tangan Langit. Dalam hatinya Shien menggerutu. Bisa-bisanya Langit menyebutnya kekanak-kanakan.
Shien hanya cemburu, apa itu tidak boleh? Lagipula, gadis mana yang tidak akan kesal jika laki-laki yang disayanginya tersenyum dan memuji gadis lain, apalagi tepat di depan matanya? Sama halnya dengan Langit yang tidak suka melihat Shien dekat dengan Reno, padahal jelas-jelas dia adalah sopir. Ingin rasanya Shien membeberkan jika yang Langitlah yang sebenarnya kekanak-kanakan. Huuh, laki-laki itu bahkan dulu marah-marah tidak jelas hanya karena sebuah foto. Namun, Shien tidak ingin mengungkit itu, karena hanya akan memperkeruh suasana.
Dan yang Shien inginkan adalah tidak melihat wajah Langit saat ini. Cukup tidak memunculkan wajahnya di hadapan Shien dan kekesalannya akan reda dengan sendirinya. Shien hanya ingin mendapatkan hari Minggu yang tenang sekarang.
“Shi, maaf, aku. . . .” Langit kembali meraih lengan Shien untuk menghentikan langkahnya.
“Kamu gak ada salah apa-apa, kok.” Ujar gadis itu terdengar datar, tatapannya terlihat sendu. “And I want to be alone right now. So, you can go now.” Shien melepaskan tangan Langit yang bertengger di lengannya dengan gerakan perlahan untuk kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Langit yang melihat itu lantas meraup udara banyak-banyak, sekedar mencari kesabaran dalam menghadapi gadisnya yang sedang merajuk ini.
“Shit.” Langit mengerang frustrasi seraya mengacak-acak rambutnya gusar, lalu kembali mengejar Shien yang terlihat sudah memasuki cafe. Tidak, ia tidak boleh membiarkan Shien marah terlalu lama padanya.
Berdecak kecil, Langit teringat dirinya sering mengejek Biru yang terkadang putus asa saat menghadapi Jingga yang marah. Ternyata memang membujuk seorang gadis yang sedang merajuk itu sangat merepotkan.
“Shien.” Panggil Langit setelah ia berhasil menyusul dan mendudukkan dirinya di hadapan gadis itu. Dia menunggu sejenak reaksi apa yang akan ditunjukan Shien. Namun, Shien malah mengalihkan pandangannya pada smartwatch yang melingkar di pergelangan tangannya untuk memeriksa detak jantung karena mulai merasa tidak nyaman dengan dadanya.
Shien memejamkan mata diiringi helaan napas berat setelah melihat angka yang menunjukkan kecepatan irama jantungnya di bawah normal. Raut wajahnya seketika berubah sendu disertai dengan kernyitan dalam pada keningnya, seolah tengah mengkhawatirkan sesuatu.
Ya, Shien khawatir. Sebenarnya, berapa lama jantungnya yang sudah semakin lemah ini mampu bertahan untuk terus memompa darah dalam memenuhi kebutuhan tubuhnya? Shien takut, takut jika kemungkinan terburuk lebih dulu menghampirinya sebelum donor ditemukan.
Karena selain dirinya sendiri, sekarang Shien memiliki alasan lain untuk ia ingin bertahan hidup. Orang tuanya, Shanna, dan Laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
“Shi, kamu kenapa?” Shien tersentak saat merasakan sentuhan tangan Langit terasa jelas di punggung tangannya. Laki-laki itu terlihat khawatir.
“Gak apa-apa.” Jawab Shien singkat seraya berusaha memasang ekspresi setenang mungkin, padahal dadanya sudah terasa semakin sakit, sehingga membuat napasnya mulai sesak.
“Pergi sana.” Usir Shien dengan suara lemah, lalu memalingkan wajahnya ke luar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dari balik dinding kaca cafe.
“Jangan gini dong, Shi.” Bujuk Langit. Namun, Shien tak mengindahkannya.
“Aku gak bermaksud kok bilang Terry cantik. Itu gak dari hati, beneran deh.” Langit mencoba menjelaskan, dua jarinya terangkat membentuk tanda V. “Jangan marah lagi, ya? Hem? Karena di mata dan hati aku, cuma kamu yang paling cantik.”
Shien mendengus. Cih, Langit benar-benar bermulut manis.
“Aku cuma becanda.” Lanjut Langit, terus berusaha membujuk gadisnya yang masih enggan berpaling dari fokusnya saat ini.
“Becanda atau emang sengaja godain dia? Dasar centil.” Shien menggerutu tanpa menoleh ke arah Langit. Rasa kesal Shien pada Langit sekarang sepertinya benar-benar tidak teratasi. Ditambah Langit yang tidak peka jika Shien cemburu, membuat Shien semakin kesal.
“Ya ampun, Shi. Kamu kok mikirnya gitu?” Balas Langit tak terima, sementara Shien hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
Laki-laki itu terlihat penuh frustrasi, tidak tahu lagi bahaimana caranya membujuk Shien agar berhenti kesal padanya. Walau bagaimanapun, ini adalah pengalaman pertamanya membujuk seorang gadis yang ngambek.
“Shi. . . .”
“Langit.”
Langit terperanjat saat sebuah tangan menyentuh lembut bahunya, sehingga menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih tangan Shien.
__ADS_1
Mendengar suara indah menyapa, membuat Langit dan Shien menoleh ke arah sumber suara. Nampak seorang gadis cantik dengan balutan pakaian olah raga dan laki-laki tampan yang berdiri di sampingnya. Biru dan Jingga.
Jingga memperhatikan Shien dengan tatapan aneh hingga membuatnya sedikit risih. Namun, dia segera mengalihkan pandangannya pada Langit begitu Shien balas menatapnya.
“Lang, ternyata lo ke CFD juga. Padahal, kita bisa janjian sebelumnya. . . .” Kalimat Biru terhenti begitu saja saat pandangannya menangkap sosok Shien. Laki-laki itu menatap Shien sebagaimana Jingga menatapnya tadi.
Shien mendengus dalam hati. Apa-apaan mereka ini melihat Shien hingga sebegitunya? Dasar tidak sopan. Apa Shien ini terlihat seperti makhluk asing yang nyasar ke bumi hingga terasa aneh untuk dilihat?
“Shanna?” Telunjuk Biru terangkat dengan dahi mengernyit. Tatapannya terlihat meremehkan, sehingga membuat Shien semakin risih. Namun, Shien dibuat bertanya-tanya kala laki-laki itu menyebut nama Shanna. Mungkinkah mereka mengira dirinya adalah sang kakak? Itu berarti, mereka sudah mengenal Shanna sebelumnya?
“Lo bareng Shanna, Lang?” Tanya Biru dengan tatapan tak percaya. Sementara Langit hanya diam tak menyahuti. Bingung bagaimana cara menjelaskannya.
Langit merasa ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu kedua sahabatnya ini karena suasana hati Shien sedang tidak baik. Langit harus mengatasi itu dulu.
“Hiish. Apa hari Minggu ini gak bisa sedikit lebih tenang?” Shien menggerutu kesal. Tatapan Biru dan Jingga kepadanya benar-benar membuat Shien tidak nyaman. Shien lantas balas menyoroti Jingga dan Biru satu per satu dengan ekspresi sedingin esnya, dan berakhir pada Langit untuk kemudian ia beranjak dari duduknya, dan berlalu begitu saja.
“Ini gara-gara kalian.” Tuding Langit, membuat Biru dan Jingga mengerjap bingung. Laki-laki itu lalu ikut beranjak untuk mengejar gadisnya.
“Bayar tuh makanannya.” Teriak Langit berbalik sejenak, dan tepat saat itu juga seorang pelayan membawakan pesanan makanan yang Shien sempat pesan tadi.
Sementara Biru dan Jingga hanya bisa melongo dengan kepala dipenuhi pertanyaan. Terlebih Jingga. Bagaimana bisa Langit bersama dengan gadis gila yang pernah menggoda suaminya itu? Tidak. Jingga tidak rela sahabat baiknya bersama gadis gila seperti itu. Masih ada gadis lain yang lebih baik di kuar sana, bukan?
“Sayang, kok dia marah?” Tanya Biru, heran dengan sikap gadis yang dikira Shanna itu karena tiba-tiba berubah jutek dan tatapan dinginnya sangat menyeramkan.
“Mana aku tahu. Kenapa? Kamu merasa kehilangan karena dia gak godain kamu lagi?” Sahut Jingga sewot. Hormon ibu hamilnya membuat mood gadis itu berubah secepat kilat. Raut wajah Jingga tidak lebih dari seekor induk ayam yang siap mematok siapa saja orang yang mengganggu anaknya.
“Maksud aku bukan gitu lho, Ji. Tapi. . . .”
“Tapi apa?” Sambar Jingga. “Udah ahh, males aku sama kamu.” Lalu gadis dengan perut sedikit membuncit itu pergi dengan kesal, tidak memberi kesempatan sang suami untuk menjelaskannya.
Biru hanya menghembuskan napas kasar. Kehamilan Jingga membuat gadis itu terkadang sangat menyebalkan, sehingga membuat Biru harus melipat gandakan kesabarannya.
“Hiish.” Biru menyugar rambutnya frustrasi. Hamil ya hamil saja, lalu melahirkan. Tidak bisakah seperti itu saja? Kenapa harus ada antek-antek mood swing segala, sih?
“Maaf, Mas. Ini bill untuk pesanan makanannya.” Biru menghentikan langkahnya yang hendak mengejar Jingga saat seorang pelayan menyerahkan bill pembayaran padanya.
Dalam hati, Biru mengumpat pada sahabatnya. Sial sekali. Bertemu Langit benar-benar sial. Gara-gara bertemu dengan Langit, Jingga jadi marah padanya. Dan satu lagi, kenapa Biru yang harus bertanggung jawab membayar pesanan makanan mereka coba?
********
“Shien, tunggu. . . .” Teriak Langit seraya terus mengikuti langkah gadis itu yang kian cepat. Shien bahkan tidak memperhatikan lalu lalang kendaraan yang mulai beroperasi kembali setelah beberapa saat yang lalu jalanan kembali dibuka.
Suara klakson Honda Jazz yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi terdengar melengking di telinga saat Shien melangkahkan kakinya ke jalan raya. Langit sontak melotot kaget, wajahnya medadak pucat pasi melihat mobil itu semakin dekat ke arah Shien.
“Shienna apa kamu gak bisa lebih ceroboh lagi?” Bentak Langit terdengar marah setelah ia berhasil menarik tubuh Shien dan membawanya ke tepi jalan.
Deru napas Langit naik turun, tatapannya nyalang tajam hingga membuat Shien tidak berani untuk balas melihatnya. Nyaris saja Langit melihat krmbali kejadian yang dialami ibunya enam belas tahun yang lalu.
“Gimana kalau kamu. . . .” Tidak mampu melanjutkan kalimatnya, lantas Langit membawa gadis yang sama-sama sedang ketakutan itu ke dalam dekapannya.
Langit merasakan tubuh gadis itu gemetar, begitu pula dengan dirinya, Langit merasa seluruh persendiannya melemas. Langit tidak bisa membayangkan jika ia harus kehilangan dunianya untuk yang kedua kali. Mungkin bukan hanya aphasia, tapi Langit bisa gila seumur hidup jika sampai ia kehilangan Shien.
“Maaf.” Cicit Shien, nyaris tak mengeluarkan suara. Merasa bersalah, terkejut, dan juga takut.
Langit yang jantungnya sudah ketar ketir saat melihat Shien hampir tertabrak tadi hanya bisa memejamkan mata seraya menghirup dalam-dalam pundak gadis itu guna mencari ketenangan di sana. Kedua tangannya yang melingkar di sepanjang tubuh gadis itu semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Shien kesulitan untuk bernapas.
Shien mencoba menepuk-nepuk pundak Langit agar laki-laki itu segera melepaskan pelukannya.
Langit mengerjap setelah menyadari pelukannya pada gadis itu sudah terlalu erat dan terlalu lama, juga baru sadar jika mereka tengah menjadi pusat perhatian banyak orang. Hingga kata maaf pun meluncur dari bibir laki-laki itu.
“Maaf, Shi. Aku terkejut lihat kamu hampir ketabrak.” Ujar Langit dengan sedikit mendorong tubuh Shien menjauh dari tubuhnya. “Untungnya kamu gak apa-apa.” Lalu elusan lembut Shien rasakan di salah satu sisi wajahnya.
“Ayo kita ke mobil. Kamu masih kuat jalan, kan?” Ajak dan tanya Langit, melihat Shien yang masih gemetar dengan wajah pucat, Langit sangsi jika gadis itu sudah sadar dari keterkejutannya. Kentara sekali Shien masih linglung.
“Atau mau aku gendong?” Tawar Langit karena Shien tak kunjung menyahutinya, tatapan gadis itu terlihat kosong.
“Shien.” Panggil Langit dengan nada selembut mungkin, membuat Shien tersadar dan otomatis mendongak hingga pandangan mereka beradu dalam satu garis lurus.
“Masih bisa jalan sendiri, kan?” Tanya Langit sekali lagi, Shien hanya menjawab dengan anggukan lemah.
Langit kemudian menggandeng tangan Shien dan membimbing gadis itu menuju mobilnya yang terparkir di depan minimarket, tak jauh dari cafe yang disinggahinya bersama Shien tadi.
__ADS_1
“Tunggu di sini sebentar.” Pinta Langit seraya mengelus lembut kepala Shien sekilas sesaat setelah laki-laki itu mendudukkan Shien di dalam mobilnya.
“Aku ke sana dulu.” Terangnya kemudian sambil menunjuk ke arah minimarket. Shien kembali menjawabnya dengan anggukan kepala.
Tidak butuh waktu lama, Langit kembali dengan membawa sebuah kantong plastik di tangannya dan duduk di balik kemudi. Namun, laki-laki itu tak langsung menjalankan mobilnya.
Tangannya lantas merogoh ke dalam kantong plastik yang ternyata sedang mengambil air mineral botolan. Kemudian, disodorkannya botol air mineral itu pada Shien yang duduk di sampingnya.
“Minum dulu, Shi.” Shien menerima botol air mineral yang sudah Langit buka tutupnya itu dan langsung menenggaknya hingga membuat perasaannya sedikit lebih tenang.
“Kita ke rumah sakit, ya?” Tanya Langit seraya melajukan mobilnya. Sebenarnya Langit bertanya seperti itu bukan untuk meminta persetujuan, tapi hanya untuk memberitahu Shien. Langit takut jika terjadi apa-apa pada Shien karena wajahnya terlihat sangat pucat.
Shien berpikir sejenak. Setelah menenggak air mineral tadi, memang pikirannya menjadi jernih kembali. Dia juga menjadi lebih tenang. Kekesalannya pun sudah menguap begitu saja, tergantikan dengan perasaan bersalah karena sudah membuat Langit khawatir.
Namun, Shien merasa tidak ada yang salah ataupun sakit pada tubuhnya karena memang mobil tadi tidak mengenainya sama sekali. Dan itu karena Langit buru-buru menariknya. Jadi, menurut Shien mungkin pergi ke rumah sakit adalah hal yang percuma. Itu juga akan membuat orang tuanya khawatir, terlebih jika mereka mengetahui dirinya hampir tertabrak mobil.
Shien memang merasa dadanya sedikit sakit. Tapi itu tidak apa-apa, itu sudah biasa terjadi, dan Shien hanya perlu beristirahat sebentar untuk menangani itu. Pergi ke rumah sakit hanya akan membuatnya mendapatkan perawatan yang berlebihan.
“Gak usah. Aku gak apa-apa, kok. Cuma kaget aja tadi.” Jawab Shien kemudian.
“Beneran?” Tanya Langit sambil menoleh ke arah Shien singkat. Raut wajahnya masih terlihat khawatir.
“Iya.” Jawab Shien mantap, seulas senyum tipis ia sunggingkan untuk membuat laki-laki itu tenang.
“Ya udah, kalau gitu aku antar kamu pulang, ya?” Tanya Langit lagi.
Wajah Shien sedikit merengut. Mengingat ia akan liburan ke Bali, mungkin ia dan Langit tidak akan bertemu untuk waktu yang lama. Garis bawahi, walaupun Shien hanya pergi satu minggu, tapi itu akan terasa seperti tujuh bulan baginya.
“Tapi, aku mau jalan dulu sebentar sama kamu.” Sahut Shien, memandang Langit dengan tatapan penuh harap.
“Besok kan bisa. Aku mau kamu istirahat aja hari ini. Wajah kamu udah pucat banget, Shi.” Ujar Langit sambil melirik Shien sekilas.
Shien yang mendengar itu mendesah pelan, lalu mengerucutkan bibirnya lucu seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan gerakan sedikit menyentak.
“Besok aku berangkat ke Bali.” Tutur Shien sambil melipat kedua tangannya di dada, pandangannya lurus menatap kendaraan yang berjalan di depannya.
“Ke Bali? Ngapain? Kamu ada kerjaan di sana? Berapa lama? Kok ngasih tahunya mendadak?” Rentetan pertanyaan yang dilontarkan Langit seperti bentuk protes dari laki-laki itu, seolah tidak ingin Shien pergi dan jauh dari jangkauannya.
“Liburan keluarga.” Jawab Shien, gadis itu lalu menghela napasnya sejenak untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Dan aku gak tahu berapa lama. Mungkin semingguan.”
“Kok gak ngasih tahu aku sebelumnya?” Tanya Langit lagi, belum puas dengan jawaban Shien yang tidak lengkap.
“Ya ini aku udah ngasih tahu.” Jawab Shien seraya memutar bola matanya malas.
“Maksud aku dari jauh-jauh hari giu lho, Shi.” Tutur Langit gemas sendiri.
“Aku juga baru dikasih tahu sama kak Shanna kemarin pagi.” Dan Shien tidak mengatakannya pada Langit karena kekesalan sudah menguasai dirinya kemarin.
“Terus aku gimana? Masa baru tunangan udah kamu tinggal jauh?” Protes Langit dengan wajah ditekuk masam. “Kamu gak usah ikut deh.”
Shien hanya mengedik, seolah mengatakan “No comment.”
Ya, karena memang tidak mungkin ia tidak ikut liburan itu, walaupun sebenarnya Shien ragu dan tidak terlalu ingin untuk pergi. Tapi, membayangkan Shanna pasti akan mengomelinya habis-habisan jika sampai dia tidak ikut, Shien tidak punya pilihan lain.
“Terus aku gimana?” Tanya Langit merengek seperti anak kecil yang tidak rela ditinggal ibunya pergi.
“Ya makannya ajak aku jalan.” Sahut Shien kesal.
“Kemana?” Langit kembali bertanya dengan wajah merengut.
“Tempat yang gak terlalu rame.” Jawab Shien.
Langit mendengus. Tidak bisakah Shien menyebutkan tempatnya secara spesifik? Kalau seperti ini sama saja dengan jawaban terserah yang biasa digunakan kebanyakan perempuan setiap kali menjawab pertanyaan pasangannya.
Tapi, detik berikutnya senyum jahil tersungging dari salah satu sudut bibir Langit.
“Kamar aku sepi, Shi. Kita kencan di sana aja gimana?” Tanya Langit seraya menaik turunkan alisnya.
“Mau mati?” Kedua mata Shien melotot tajam seolah-olah memang siap membunuh Langit saat itu juga.
********
__ADS_1
To be continued. . . .