
Enjoy. 😉
********
Langit keluar dari ruang NICU setelah menangani pasien pasca operasi. Langkahnya bergerak menuju ruang ICU di mana Shien berada. Ia memijat pelipisnya sebelah saat dirasa kepalanya berdenyut nyeri.
Pusing dan sedikit mual. Mungkin karena Langit belum makan sejak pagi, ia juga menyela jatah makan siangnya, dan hari hampir menjelang sore. Tapi, ia lebih memilih untuk menemui Shien terlebih dahulu ketimbang memikirkan urusan perutnya. Memang sejak Shien dirawat di rumah sakit, Langit menjadi kehilangan nafsu makannya. Terlihat dari wajahnya yang menirus.
Langit buru-buru memutar tumitnya kembali saat ia melihat Shanna baru saja keluar dari ruang ICU. Setelah kejadian itu, ia memang menghindari Shanna walaupun gadis itu selalu berusaha mencoba untuk mengajaknya berbicara.
Wajah kecewa Shien saat melihat ia dan Shanna di kamar waktu itu terngiang-ngiang di kepala Langit setiap kali ia melihat Shanna.
Ia tidak ingin menyalahkan Shanna karena lebih merasa jika dirinya sendirilah yang paling bersalah. Tapi hati kecilnya berkata lain dan selalu mengatakan seandainya saat itu Shanna tidak melakukan trik murahan dengan berpura-pura sakit, mungkin kecelakaan yang terjadi pada Shien masih bisa dihindari. Setidaknya niat untuk meminta maaf pada Shien mungkin akan berjalan dnegan lancar walaupun gadis itu tidak akan memafkannya.
“Berhenti!” Teriak Shanna sambil mengejar Langit yang berjalan cepat di depannya.
“Langit, tolong jangan menghindar lagi.” Ucap Shanna setelah berhasil meraih pergelangan tangan Langit. “Can I talk to you for a minute?” Tanyanya, mata jernih itu tampak memelas. Ia lalu melepaskan tangannya dari lengan Langit dengan hati-hati.
“There’s nothing to talk about, Shanna.” Sahut Langit dingin sambil membuang pandangannya enggan melihat Shanna.
“Tapi aku harus.” Ucap Shanna. “Terserah setelah ini kamu mau menjauh lagi dari aku. Tapi aku mohon, sekali ini aja aku mau ngomong sebentar sama kamu.” Mohon Shanna lagi.
Ingin urusan cepat selesai, Langit kemudian mengiyakan permintaan Shanna. Karena ia tahu jika tidak menyetujuinya, maka Shanna tidak akan berhenti memintanya.
“Aku gak akan ngasih kamu toleransi kalau melakukan sesuatu yang murahan atau mengatakan sesuatu yang menjelek-jelekan Shien lagi.” Ujar Langit, lalu berjalan mendahului Shanna menuju tempat tertinggi dari bangunan rumah sakit megah tersebut. Atap gedung rumah sakit.
Keduanya berdiri berdampingan dengan pandangan mengarah jauh menatap helicopter yang baru saja mendarat di helipad. Bunyi gemuruh dari benda berbentuk seperti capung itupun terdengar di sana walaupun jarak dari tempat mereka berdiri cukup jauh.
“Aku minta maaf untuk semua yang aku lakuin sama kalian. Kamu dan Shien. . . .” Ucap Shanna tulus setelah suasana di sana kembali tenang. Langit tetap bergeming dalam posisinya. Tidak menoleh untuk menatap Shanna sebagai lawan bicaranya, tapi telinganya mendengarkan dengan seksama.
“Kamu bener.” Shanna meraup napas sejenak seraya menyelipkan sejumput anak rambutnya yang dimainkan angin sore yang cukup kencang di atas sana. “Memaksakan kehendak hanya membuat diri sendiri dan orang sekitar kita tersiksa. Kamu bener, sesuatu yang berusaha didapatkan dengan cara memaksa itu gak akan berhasil. Malah hasilnya sangat buruk.”
Langit masih belum mau berkomentar. Ia memilih untuk mendengarkan Shanna mengatakan segala hal yang ingin dikatakannya.
“Dan aku nyesel gak nerima kenyataan lebih awal.” Langit menghembuskan napas berat mendengar itu. Percuma saja mengatakan itu sekarang. Tapi Langit kembali tak ingin berkomentar. Langit merasa bahwa dirinya dan Shanna itu tidak jauh berbeda. Sama-sama orang yang terlambat sadar dari kebodohannya.
“Alih-alih melakukan itu, aku malah terus nyerang mental Shien biar dia mau nyerah sama kamu dan lebih buruknya aku juga melukainya secara fisik.” Shanna tersenyum nanar mengingat semua perlakuan buruknya terhadap Shien. Shanna juga menambahkan jika ia mmemanfaatkan sifat Langit yang cemburuan dengan mengirim foto-foto kebersamaan Shien dan Nathan.
Langit ingin marah saat mendengarnya. Selama ini ia mengira jika semua foto itu juga dari Terry. Tapi Langit mengurungkan niatnya untuk memarahi Shanna. Lagipula untuk apa marah-marah setelah apa yang terjadi pada Shien? Itu percuma dan hanya akan menambah daftar dosanya saja.
“Seandainya aku gak ngelakuin itu, mungkin Shien gak akan. . . .” Shanna tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bola mata jernihnya berkilat-kilat lagi, siap menitikan cairan beningnya.
Shanna menarik napas dalam-dalam guna menahan tangisya agar tidak pecah. “Aku tahu ini gak akan mengubah apapun setelah apa yang terjadi. Tapi aku bener-bener minta maaf untuk semua hal buruk yang udah aku lakuin sama kalian.” Ada nada penyesalan yang begitu besar sepanjang Shanna mengatakan kalimatnya.
“Shien lebih berhak mendengar itu.” Kali ini Langit menyahuti dengan dingin, tapi raut wajahnya sangat sedih, mengingat Shien adalah orang yang paling terluka.
“Aku tahu.” Shanna mengusap air mata tang tahu-tahu sudah mengalir di pipinya. “Tapi aku tetap harus minta maaf juga sama kamu. Aku harap, kamu mau berbesar hati dan maafin aku.” Ujarnya penuh harap. “Gak apa-apa kalau kamu gak bisa maafin aku sekarang, aku ngerti karena aku udah sangat keterlaluan sama kalian berdua. Tapi, aku harap kamu bisa maafin semua kesalahan aku suatu saat nanti.”
“Aku akan jadi orang sombong kalau sampai gak memberi maaf sama orang yang udah mau minta maaf dengan tulus.” Tutur Langit, kali ini ia menoleh ke arah Shanna walaupun dengan memasang wajah datar.
“Jadi?” Mata jernih Shanna tampak berbinar-binar.
“Tapi, mungkin hubungan kita gak akan sama lagi seperti dulu.” Sahut Langit.
Shanna tersenyum senang dengan mata berkaca-kaca. Mendapatkan maaf dari Langit saja itu sudah cukup dan membuat hati Shanna terasa lebih tenang.
__ADS_1
“Gak apa-apa. Kamu maafin aku aja itu udah cukup.” Ucap Shanna. “Mulai sekarang, aku janji gak akan gangguin kalian lagi.” Sambungnya sunggguh-sungguh. Langit hanya mengangguk kecil dan kembali melempar pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang. Akankah Shien menerimanya kembali jika dia terbangun nanti?
Setelah itu, Shanna berpamitan untuk beranjak dari sana. Pergi dengan hati yang merasakan kelegaan yang amat sangat. Menerima kenyataan ternyata tidak terlalu buruk.
Namun penyesalan itu tetap menggelayuti hatinya. Menyesal karena ia tidak melakukan hal ini lebih awal.
Memang benar apa kata pepatah, menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang pasti diterima. Tapi jangan sampai berlarut-larut dalam penyesalan, karena itu hanya akan membuat kita lupa bersiap untuk memperbaiki. Dan di balik itu semua, penyesalan terkadang menjadi satu di antara kunci dari kehidupan seseorang yang bisa membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.
********
Presenter cantik terkenal tanah air, Terry Monica tertangkap kamera tengah mengadakan pertemuan makan malam keluarga di sebuah restoran mewah. Kabarnya, pertemuan keluarga tersebut untuk membahas pernikahan.
Presenter kontroversial – Terry Monica ternyata diam-diam menjalin hubungan dengan Putra tunggal dari CEO Wijaya Property Group, yang merupakan perusahaan properti terbesar di Indonesia dan termasuk ke dalam jajaran 15 besar perusahaan properti terbaik di dunia. Diduga keduanya akan segera melangsungkan pernikahan.
Dokter muda berbakat dan pernah bekerja di John Hopkins Medicine Baltimore, Maryland, Amerika Serikat – inilah sosok pewaris tunggal dari crazy rich, Albert Wijaya, yang diduga kekasih dari Presenter cantik Terry Monica.
Menjalin hubungan dengan anak Pengusaha Properti Terkenal, Presenter seksi Terry Monica sudah mengadakan pertemuan keluarga untuk membahas tanggal pernikahan.
Langit mendesah pelan seraya mematikan layar tablet yang berada di tangannya.
Pagi-pagi sekali, bahkan baru satu detik pantatnya menyentuh kursi kerja di ruangannya. Bisma tiba-tiba datang dan menunjukkan kepadanya beberapa berita yang sedang trending di portal media online.
Ada seseorang yang dengan sengaja menjadi paparazzi dan mengirimkan beberapa foto candid dari jarak jauh ke situs media online. Dan Langit yakin betul siapa pelaku di balik ini.
Di dalam foto tersebut, menunjukkan kebersamaannya dengan Terry saat mereka bertemu di apartemen tiga bulan yang lalu, beberapa pertemuan tidak sengaja di cafe, dan tadi malam kemarin lusa saat ia masuk ke restoran untuk makan malam dengan Papa serta saat Terry mengejarnya di parkiran. Semua foto itu diambil dengan sangat baik, sehingga siapapun bisa tertipu dengan semua berita bohong yang disertai bukti palsu itu.
Dampaknya, identitas Langit yang selama ini disembunyikan dengan baik sebagai anak Pengusaha kaya tersebar begitu saja. Jelas itu akan mengubah pandangan orang-orang padanya, terlebih bagaimana cara semua orang bersikap. Dari dulu, Langit tidak suka bergaul dengan membawa-bawa latar belakang keluarganya.
Langit menyentak tablet milik Bisma ke atas meja dengan emosi, membuat Bisma yang sedang duduk di hadapannya berjengit kaget. Ayah satu anak itu lantas menatap tablet miliknya dengan tatapan nanar. Tapi ia juga tidak berani protes karena melihat wajah Langit yang penuh kemarahan.
Dilihatnya nama si pemanggil yang tertera di layar, Papa. Langit tebak, pasti laki-laki paruh baya itu sudah membaca beritanya juga.
“Seekor tikus kecil mencari celah untuk masuk ke gudang keju.” Sahut Langit sarkas begitu penggilan telepon tersambung. Tampak salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk seringai, seolah di balik senyuman itu mengandung maksud seperti berani-beraninya seseorang seperti Terry mengganggunya. Padahal, ia sudah memperingatkan gadis itu sebelumnya, tapi Terry malah berbuat ulah seakan tidak takut akan akibat dari perbuatannya itu.
Bisma yang melihat ekspresi Langit yang tak biasa merasa sedikit ngeri. Pasalnya, ia hanya melihat laki-laki di hadapannya itu cengengesan dengan wajah manis hampir setiap hari.
“Papa tahu. Biar Papa yang selesaikan, kamu cukup tahu beres.” Ujar Papa di seberang telepon. Memang beliau menelepon Langit hanya untuk menenangkannya.
“Hmm. Makasih, Pa.” Balas Langit singkat, lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
Namun, baru saja ia meletakkan ponselnya ke atas meja, benda itu kembali berbunyi.
“Itu cuma scandal yang dibuat orang kurang kerjaan.” Sahut Langit cepat, dan secepat itu pula mengakhiri panggilan yang berasal dari Biru. Ia tahu, mendapat kabar seperti ini pasti membuat sahabat-sahabatnya itu peduli dan menayakan kebenarannya meski yakin jika berita tersebut tidak benar.
Lalu, di saat kepalanya masih penuh dengan kekesalan terhadap berita tersebut, secara tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lebar, dan Albi langsung nyelonong masuk tanpa peduli jika pemilik ruangan memberinya izin masuk atau tidak.
“Elo apa-apaan, sih, Lang? Kok bisa ada berita kayak gini? Apa berita ini emang bener? Gila, ya. Shien masih terbaring di sana.” Cecar Albi seraya menunjuk ke arah ruang ICU berada.
Langit berdecak kecil, masih dengan kekesalan menghiasi wajahnya. “Lo tahu itu pasti gak mungkin.”
“Tapi lo ceroboh. Lo harusnya lebih berhati-hati kalau deket sama orang media kayak Terry.” Satu lagi teguran dari sahabatnya, Bian, yang tiba-tiba datang ia dapatkan.
Baru saja Langit hendak menyahuti ucapan Bian, satu lagi orang yang butuh penjelasan muncul dengan wajah garang seolah siap memakannya hidup-hidup.
“Lo. . . .” Nathan langsung menyerang Langit di saat semua orang terbengong-bengong mendapati kehadirannya yang tiba-tiba. Langit tersungkur di lantai, ia merasakan pelipis sebelah kirinya berdenyut keras. “. . . . emang.” Lalu menyerang pipi kanan Langit sebelum dia sempat untuk bangkit. “BRENGSEK!!!” Dan Langit terkapar di lantai dengan mulut yang terasa sangat perih dan juga asin.
__ADS_1
“Sialan lo, ya! Brengsek! Gue tahu Shien lagi down banget, tapi lo gak boleh seenaknya kayak gini.” Nathan hendak memukulnya lagi, namun Bisma dan Albi dengan segera menahannya. Sementara Bian membantu Langit untuk bangun.
“Jangan deketin Shien lagi mulai sekarang!” Ucap Nathan marah seraya mencoba berontak dari cekalan tangan Albi dan Bisma yang menahan tubuhnya.
“Nate, lo salah paham. Seseorang mencoba manfaatin situasi, ini gak seperti yang lo pikirin.” Ujar Langit mencoba menjelaskan. Dalam hati ia meringis, ternyata seperti ini rasanya berada di posisi Shien dulu.
“Halaah, alasan.” Sahut Nathan tak percaya. “Shien udah cukup kesulitan. Apa salah dia sama elo sampai lo tega jahatin dia kayak gini, hah?” Bentaknya kemudian.
“Gue bisa jelasin, Nate.” Langit menyeka darah yang keluar dari mulutnya sembarangan. “Gue bakal ngebuktiin kalau semua berita ini gak bener, dan gue bisa pastiin semuanya kelar hari ini juga.”
Nathan berdecih geli, lalu berhasil membebaskan dirinya dari cekalan tangan Albi dan Bisma. Ia menatap tajam Langit dengan rahang mengetat. Sebelumnya ia sudah memperingatkan untuk jangan menyakiti Shien yang sudah dianggapnya adik sendiri. Tapi apa yang dilakukan Langit hari ini? Benar-benar mengejutkan. Nathan yang sudah digelapkan dengan emosi tidak ingin mempercayai ucapan Langit begitu saja.
“Trust me, okay.” Ucap Langit sekali lagi, terdengar penuh kesungguhan.
Nathan memandang Langit ragu, kemudian mendengus kasar.
“Kalau lo gak bisa ngebuktiin omongan lo hari ini juga. Gue punya ribuan cara buat jauhin lo dari Shien.” Ujar Nathan penuh peringatan, sebelum kemudian Dokter tampan itu berlalu pergi dari ruangan Langit, masih dengan rasa gondok di hatinya.
********
Langit memutuskan pulang lebih awal di sore hari. Beruntung tidak ada jadwal operasi hari ini, sementara untuk kunjungan pasien, ia bisa meminta asistennya mewakilinya. Dan tentu saja ia pulang setelah sebelumnya menemui Shien dan orang tua gadis itu terlebih dahulu. Beruntungnya lagi, Om Sendy dan Tante Risa tidak terhasut dengan berita tersebut, sehingga mereka tidak marah padanya.
Tubuhnya lelah, kepalanya cukup pusing, begitu pun dengan wajahnya yang lebam karena tinjuan Nathan yang tidak bisa ia elakkan tadi.
Langit memandang santai seorang gadis yang berdiri tepat di depan pintu unit apartemennya, seringai tipis yang penuh arti yang ia pancarkan seolah ingin menunjukkan pada gadis itu bahwa kekacauan yang terjadi hari ini sama sekali tidak berpengaruh sedikit pun untuknya, dan tentu saja sangat tidak menguntungkan bagi si pelaku kekacauan.
Tadi siang ia kembali mendapat kabar dari Papa jika semuanya sudah diselesaikan dengan baik. Berita-berita itu sudah ditarik, Kuasa Hukum dari perusahaan Papa mewakilinya untuk menglarifikasi berita bohong tersebut, dan hukuman untuk dalang dari terbitnya berita tersebut tentu saja sudah diberi hukuman yang cukup setimpal.
Perusahan Papa membatalkan kerja sama dengan perusahaan kontraktor milik Tante Tera. Dan kabarnya, perusahaan kontraktor tersebut langsung kehilangan kepercayaan dari beberapa tender besar dalam beberapa jam setelah kemunculan berita itu. Sudah dipastikan juga jika perusahaan tersebut akan gulung tikar secara perlahan. Tidak hanya itu, Terry juga mendapatkan blacklist dari semua stasiun TV besar di Indonesia, sehingga dia tidak akan mudah untuk mendapat panggung kembali.
Sebenarnya Papa Wijaya tidak suka melakukan sesuatu seperti ini. Tapi itu pengecualian terhadap orang-orang yang sudah berani mengusiknya, apalagi yang diusik adalah anak kesayangannya.
“Langit kamu keterlaluan.” Cecar Terry begitu Langit tiba di hadapannya. Wajahnya yang dipoles blush on semakin memerah. Rahang gadis itu sampai mengetat. Langit tebak jika Terry sedang menahan emosinya saat ini. Sudah jelas gadis itu menghilangkan panggilan ‘Kak’ yang biasa disematkannya saat memanggil nama Langit.
Tersenyum santai, Langit lantas menyeringai tipis. “Well, aku udah ngasih kamu peringatan sejelas-sejelasnya sebelum ini.”
“Aku tahu aku udah sedikit keterlaluan. Tapi, tolong jangan usik perusahaan.” Pintanya terdengar putus asa, tapi tidak menghilangkan kesombongan dan emosi yang masih tercetak jelas di wajahnya.
“Maaf. Tapi aku gak ikut campur urusan itu.” Sahut Langit santai sambil memasukkan satu per satu passcode untuk membuka pintu apartemennya. “Lagipula aku itu Dokter yang nggak tertarik sedikit pun sama urusan perusahaan.” Sambung Langit, untuk kemudian melenggang masuk. Meninggalkan Terry yang diliputi kemarahan.
Gadis itu menggeram dengan tangan mengepal keras. Sorot matanya penuh dendam seolah ingin membunuh Langit saat ini juga. Tapi, sejurus kemudian senyum setan tersungging dari salah satu sudut bibirnya yang cantik.
Ada hal lain yang lebih tepat untuk membalas perbuatan Langit padanya.
********
Terry masuk ke ruang ICU di mana Shien sedang berbaring sekarang. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang pasien Shien, lalu berdiri di samping Shien dan menatapnya cukup lama.
“Ini salah kamu karena kamu terlalu beruntung.” Terry bergumam geram dengan suara pelan. “Semua ini salah kamu karena berhasil mendapatkan hati Langit.” Imbuhnya dengan tatapan penuh rasa iri dan dendam.
Terry kemudian menunduk dan membisikkan sesuatu di telinga Shien. “Aku cuma mau bantu mempermudah kamu biar gak kesakitan lagi.” Lalu menarik diri dengan menegakkan kembali tubuhnya.
Memejamkan mata seraya menarik napasnya panjang. Terry mengeraskan hati, sebelum kemudian tangannya dengan gemetaran terulur untuk menarik selang ventilator dari mulut Shien sebagai alat bantu pernapasannya. Namun gerakannya terhenti saat melihat tangan Shien bergerak.
********
__ADS_1
To be continued. . . . .