
********
Mobil Shanna berhenti tepat di depan sebuah bangunan apartemen yang katanya sang adik sudah membeli satu unit hunian di kawasan yang terbilang mewah itu.
Baik Shanna ataupun Shien, mereka cukup terkesima dengan penampakan luar gedung apartemen itu begitu mata mereka menyusuri setiap bagian gedung hingga titik teratas. Shien memuji Fina dalam hati karena sudah memilih tempat yang sesuai dengan seleranya dan sangat strategis. Sementara Shanna, ia juga ingin memilikinya satu setelah melihat ini.
“Tempatnya oke juga, Shi.” Komentar Shanna sambil memicingkan matanya untuk menghindari cahaya matahari yang semakin siang semakin menyilaukan.
“Fina yang siapin. Tahu, deh, dalamnya.” Sahut Shien sambil mengedikkan bahu. Ya, ia tidak boleh memuji Fina berlebihan dulu sebelum melihat unit apartemennya apakah sudah didekorasi sesuai keinginannya atau tidak.
“Udah, yuk, masuk. Keburu Fina marah kalau kelamaan nunggu.” Ajak Shien sambil berjalan mendahului Shanna.
“Beli apartemen buat apa, sih? Papa sama Mama juga pasti gak bakal ngelepasin kamu. Yang ada mereka ngurung kamu kalau berencana pindah. Tahu sendiri, kan, mereka bisa melakukan apapun?” Oceh Shanna seraya berusaha mensejajarkan dirinya dengan Shien yang berjalan sedikit cepat.
“Emang aku ada bilang mau pindah?” Sahut Shien sambil mencebik, salah satu sudut bibirnya lalu tersungging membentuk senyum yang sangat tipis.
“Aku cuma butuh ruang pribadi.” Lanjut Shien saat mereka memasuki salah satu lift yang tersedia di gedung apartemen itu.
Shanna mengangguk-angguk sambil ber-ohh ria. Hatinya seketika merasa lega mendengar penuturan Shien yang ternyata membeli apartemen bukan untuk ditinggali. Jelas saja, pasti akan menimbulkan keributan antara orang tuanya dan Shien seandainya itu terjadi.
“Kamar kamu di rumah juga udah yang paling luas. Ngapain nyari ruang pribadi lagi?” Shanna kembali berkomentar. “Lantai berapa?” Tanyanya kemudian karena Shanna yang berdiri di dekat tombol lift.
“Delapan.” Jawab Shien yang langsung diangguki Shanna. “Ya aku butuh aja. Kalau semisal aku lagi bosan dan butuh suasana baru.” Jelas Shien saat teringat pertanyaan Shanna sesaat setelah pintu lift tertutup dan mulai berjalan untuk membawa mereka ke lantai yang dituju.
“Lagian kamar di rumah mana bisa dibilang ruang pribadi?” Shien mendengus, mengingat semua orang bisa masuk dan keluar seenaknya. Terlebih Shanna, gadis itu nyaris setiap hari membuat rusuh di kamar Shien padahal dia memiliki kamar sendiri.
“Iya juga, sih.” Shanna terkekeh geli.
Mereka lalu segera keluar dari dalam lift begitu bunyi dentingan yang menandakan lift tersebut sudah tiba di lantai tujuan terdengar.
“Unit kamu nomor berapa, Shi?” Tanya Shanna dengan pandangan mengedar ke seluruh lantai apartemen tempat mereka berdiri.
“208.” Jawab Shien singkat sambil celingukan mencari pintu dengan tulisan nomor dua kosong delapan sebagai nomor unit kamarnya.
Dan tidak butuh waktu lama bagi Shien untuk menemukannya karena unitnya itu tidak jauh dari lift lantai tersebut. Hanya selisih satu kamar saja dari sisi kanan pintu lift kerena memang hanya terdapat delapan unit dalam setiap satu lantai gedung.
Empat unit di sisi kanan lift dan empat unit lainnya di sisi kiri lift yang masing-masing unit saling berhadapan dua-dua. Cukup ekslusif.
Apartemen ini semakin menambah nilai eksklusifnya karena yang Shien dengar dari Fina, apartemen calon huniannya ini juga dilengkapi berbagai fasilitas yang tidak jauh dari kata sederhana diantaranya residence lounge yang bisa dijadikan tempat bersantai atau ketika bosan dengan suasana perkotaan yang monoton dan membosankan, tidak lupa juga fasilitas lainnya seperti private lift, sky pool, bar dan cafe, berbagai fasilitas olahraga, keamanan dua puluh empat jam, serta theather room. Shien tidak perlu khawatir jika membutuhkan hiburan.
“Bener yang ini, Shi? Fina dimana?” Tanya Shanna ragu. Kepalanya masih celingukan ke kiri dan ke kanan untuk memastikan, juga mencari-cari keberadaan Fina yang katanya sudah menunggu.
“Kata Fina gitu.” Ujar Shien karena memang Fina yang mengurus semuanya.
“Dia kayaknya udah di dalam, coba aku tekan belnya, deh.” Lanjut Shien. Ia lupa menanyakan passcode kamarnya sendiri dan sepertinya Fina juga sama lupanya dengan Shien karena tidak memberikannya.
Namun belum sempat telunjuk Shien menekan mobile intercome doorbel yang terletak pada dinding di sisi pintu, tiba-tiba terdengar bunyi bip diiringi dengan deritan pintu terbuka. Dan kepala Fina melongok keluar dari balik pintu yang baru terbuka itu.
“Bukannya langsung masuk, malah berdiri di sini kayak tamu.” Tegur Fina yang meliihat Shien dan Shanna malah berdiri di depan pintu dari layar monitor alih-alih langsung masuk.
Shien mendengus seraya memutar bola matanya jengah, sepertinya Fina memang melupakan sesuatu. “Kamu aja gak ngasih tahu passcodenya.” Cebik Shien sambil menerobos tubuh Fina untuk masuk ke apartemen miliknya. Sementara Fina hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sadar bahwa dirinya belum memberitahu Shien passcode apartemennya.
“Emang enak kena semprot?” Ucap Shanna sambil mencebik hingga membuat Fina merengut, lalu mengikuti saudara kembarnya masuk, disusul dengan Fina yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
“Gimana? Sesuai ekspektasi, kan?” Tanya Fina sambil tersenyum bangga saat memperlihatkan isi apartemen Shien yang didekor sendiri olehnya sedemikian rupa sesuai keinginan Shien.
“Not bad.” Sahut Shien begitu mengedarkan pandangannya ke setiap sisi dari apartemen bertipe convertible yang setiap ruangnya terpisah oleh sebuah dinding partisi, memang hunian yang cocok untuk Shien yang suka dengan tampilan modern dengan fusngsionalitas yang maksimal.
“Gak bisa apa muji dikit? Huuh.” Gerutu Fina. Gadis yang tampil boyish dengan ripped jeans dan kaus putih bertuliskan GUCCI itu lantas menghempaskan pantatnya di atas sofa. Shien tak mengindahkannya, gadis itu lebih tertarik memusatkan perhatiannya dengan meyusuri setiap sudut apartemen.
Shien tersenyum tipis saat melihat ruang tengah yang seharusnya menjadi ruang tamu itu sudah diubah menjadi perpustakaan pribadi dengan rak buku di setiap sisinya. Tidak lupa, terdapat sofa tunggal yang diletakkan tepat di tengah. Tidak ada TV karena Shien memang menginginkan ruang yang tenang. Ruang tengah itu menjadi terlihat luas tanpa ditambahi perabotan lain, walaupun pada dasarnya minimalis.
“Biasa aja, lah. Ya, gak, Shi?” Timpal Shanna jahil sambil menyenggol lengan Shien.
“Call.” Sahut Shien sambil berlalu untuk melihat kamar tidurnya.
“Ngeselin kalian.” Fina kembali menggerutu kesal. Selain wajah, Fina juga menemukan kemiripan lain dari Shanna dan Shien. Mereka sama-sama suka menindas orang.
“Pintu kamar mandinya udah terhubung sama kamar tidur belum?” Tanya Shien setengah berteriak saat tangannya baru saja meraih handle pintu kamar.
“Lihat aja sendiri.” Sahut Fina ketus, seolah ia memiliki kesempatan untuk balas menindas Shien.
“Wahh, Shi. Gak usah dikasih bonus dia.” Seru Shanna yang terus mengekori adiknya dari tadi.
Fina mendengus. Benar, melawan dua orang menyebalkan, mana bisa ia menang? Ck, ini tidak adil. Lantas ia segera melompat dan mengikuti Shien ke kamar. Tidak apa-apa menahan kekesalan sebentar, itu akan terbalas dengan bonus yang akan ia dapatkan. Dan tentu saja dengan jumlah yang tidak sedikit.
“Pemilik sebelumnya udah nyatuin kamar mandi sama kamar tidur. So, aku cuma dekor ulang kamar sama ganti perabotan yang sesuai sama style kamu.” Jelas Fina setelah melihat Shien keluar memeriksa kamar mandi. Kedua mata Shien lalu kembali mengitari kamarnya yang didesain dengan tema monokrom yang memadukan warna abu-abu dan putih, hingga memberikan kesan yang cozy dalam kamar.
“Oke juga, Shi. Boleh nih kita nginep di sini sesekali buat main.” Ujar Shanna seraya merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
“Ruang pribadi mana boleh dibuat main.” Protes Shien sambil melemparkan boneka gajah berukuran sedang yang langsung ditangkap Shanna dengan sigap.
“Kan aku bilang sesekali.” Sanggah Shanna, lalu beranjak dan merapikan rambut panjang warna-warninya yang sedikit berantakan.
“Siapa pemilik sebelumnya?” Tanya Shien begitu ia mencapai dapur dan memeriksa saluran air di wastafel.
Fina mengerutkan keningnya, heran karena Shien menanyakan hal yang menurutnya tidak cukup penting itu.
“Mana aku tahu. Kan aku belinya lewat agen.” Jawab Fina sambil mengedikkan bahunya, kemudian duduk di kursi meja makan.
“Cuma nanya, emang gak boleh? Siapa tahu aja nih tempat dijadiin tempat maksiat sebelumnya.” Balas Shien sengit.
“Lagian kamu nanyanya gak penting banget.” Sahut Fina tak kalah sengit. Shien hanya mendengus kesal.
“Tapi yang aku denger, pemilik sebelumnya itu cewek. Katanya sih, dia dokter. Jadi gak mungkin lah dipake maksiat.” Jawab Fina kemudian.
“Mau itu dokter, pengacara, atau pemuka agama. Gak ada yang tahu, kan?” Cibir Shien yang menurutnya Fina sudah menilai orang sedikit berlebihan.
“Yayaya, terserah nona muda Shien, deh.” Fina memutar bola matanya jengah. Dalam hal berpendapat, Shien memang keras, Fina tidak akan dan atau bisa memenangkannya.
“Gak ada yang tahu juga kalau penulis kayak nona muda Shien mungkin bisa berbuat maksiat. Siapa tahu aja nih apartemen bukan buat ruang pribadi, tapi dialihfungsikan jadi ruang pacaran sama dokter Langit, malah bisa dipake tempat buat uwuw-uwuw.” Tapi Fina masih ingin beradu mulut dengan Shien, gadis itu membuka suaranya lagi yang justru malah melantur, kedua telunjuknya ia satukan diiringi dengan senyuman dan kerlingan mata penuh arti.
Seolah menggali lubang kuburnya sendiri karena tak lama jitakan maut dari Shien mendarat tepat di kepalanya. Fina pun otomasis mengerang tanpa suara, merasakan kepalanya berdenyut nyeri sebagai efek dari jitakan tangan Shien.
“Jangan ngaco kamu.” Sungut Shien berapi-api. Matanya nyalang tajam ke arah Fina yang sedang mengelus kepalanya.
“Yaaa, gak nutup kemungkinan juga.” Sahut Fina yang sepertinya tidak kapok sama sekali, malah gadis itu kini menjulurkan lidahnya, meledek Shien habis-habisan.
__ADS_1
Fina cukup paham dengan hubungan Langit dan Shien yang sepertinya berjalan cukup baik setelah tak sengaja ia melihat hickey di leher gadis itu. Dan Fina yakin itu buatan Langit, mengingat laki-laki yang sedang dekat dengan Shien hanya dia. Walaupun Shien berdalih dengan mengatakan itu diakibatkan karena terbentur pintu, tapi Fina adalah gadis dewasa yang tidak polos.
Tidak disangka, ternyata gadis pendiam seperti Shien lebih berani. Pikiran Fina, kan, jadi menjelajah kemana-mana setelah melihat itu.
“FINA.” Teriak Shien kesal. Tapi yang diteriaki hanya mengerlingkkan matanya tak peduli.
“Ada apa, nih? Kok ribut-ribut?” Tanya Shanna begitu keluar dari kamar Shien dan menghampiri mereka di dapur.
Shanna lantas berjalan ke arah lemari es, lalu membukanya. Gadis itu tampak mengangguk-angguk puas melihat lemari es yang ternyata sudah terisi banyak air mineral, berbagai minuman kemasan, serta beberapa camilan. Ternyata Fina begitu totalitas menyiapkan apartemen untuk Shien. Pantas saja pekerjaan gadis itu selalu mendapat pujian dari Tante Hilda.
“Tadi aku bilang, kalau mungkin apartemen ini dijadiin tempat. . . .”
“Fina. . . .” Sambar Shien cepat, tatapan matanya yang tajam otomatis membungkam mulut Fina, sehingga gadis itu berhenti berceloteh ngawur.
“Tempat apa?” Shanna sepertinya masih penasaran dengan jawaban Fina. Menutup pintu lemari es setelah mengambil satu kotak susu full cream, Shanna kemudian bergerak untuk ikut duduk di sebelah Fina.
“Tempat kerjanya. Hehe.”Jawab Fina sambil terkekeh kaku. Takut-takut ia melirik Shien yang masih menatap tajam ke arahnya.
“Kerja bikin bayi, mungkin. . . .” Imbuh Fina dalam hati. Pikirannya yang ngawur membuatnya harus menahan tawa sekuat tenaga. Ia kemudian menggelengkan kepalanya untuk menepis semua pikiran kotor itu. Tidak mungkin Shien akan melakukan hal sejauh itu dengan Langit.
Sementara Shanna tidak menyahuti lagi. Ia hanya mengedik, merasa tingkah Fina sedikit aneh. Gadis itu lalu memilih untuk meminum susunya setelah menancapkan sedotan.
“Ngomong-ngomong. Ini udah hampir jam dua belas, nih.” Ucap Shanna tiba-tiba sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“DO makanan, yuk. Kamu yang traktir, Shi. Itung-itung pesta penyambutan rumah baru.” Lanjut Shanna yang sebelumnya sudah bisa Shien tebak. Memang kakaknya itu sangat pandai memanfaatkan kesempatan. Ahh, bukan. Bahkan saat tidak ada kemsempatan pun, Shanna sering meminta Shien mentraktirnya makan atau membayar belanjaan lainnya. Selama tinggal di rumah orang tuanya, Shien merasa sudah jadi bank berjalannya Shanna.
“Gak di sini!” Seru Shien tegas, tentunya penuh penolakan. Shien tidak mau Fina dan Shanna mengotori apartemennya.
“Ya udah, kalau gitu kita makan di cafe yang ada di sini aja, gimana? Katanya makanan di sana oke-oke.” Saran Fina dengan santai dan sangat nyaman saat mengatakannya.
Sementara Shien yang melihat Fina dan kakaknya sangat bersemangat hanya bisa merengut.
“Oke, kalau gitu ayo pergi.” Shanna bangkit berdiri, disusul Fina. Dia lantas menggandeng tangan Fina dan bergerak keluar dari apartemen Shien.
“Kita pesan yang banyak dan yang paling mahal. Katanya, nona muda kita siap bayar.” Ucap Shanna, lalu terdengar suara cekikikan dari mulut mereka. Shien yang berjalan di belakangnya hanya mendelik sebal. Apa Shien sedang menjadi adik yang tertindas sekarang? Huuh.
********
Sekitar jam setengah sembilan malam, Shien baru tiba di rumahnya. Lantas ia berjalan gontai ke arah tempat tidur, merasakan seluruh tubuhnya sangat lelah setelah seharian Shanna dan Fina mengajaknya jalan-jalan di mall setelah makan di cafe tadi. Dan tentu saja, Shien kembali membayar belanjaan kakak dan asistennya itu.
Walaupun sambil menggerutu, tapi Shien tetap menyerahkan kartu hitam tanpa batasnya itu untuk digunakan Shanna sesuka hati. Anehnya, Shien tidak bisa menolak jika Shanna yang meminta. Dan bukankah ini terbalik? Seharusnya kakaklah yang melakukan hal semacam itu. Jarang sekali ada kakak yang memoroti uang adiknya. Ck, benar-benar adik yang tertindas.
Shien memilih untuk merebahkan dirinya sejenak sebelum mandi. Memejamkan mata, ia merasakan napasnya sangat berat, dadanya juga sakit. Shien cemas, akhir-akhir ini dadanya sering sakit dan juga cepat lelah bahkan saat dirinya tidak mengerjakan banyak hal atau sesuatu yang menguras tenaga lainnya.
Shien takut kalau ini adalah pertanda dia akan meninggalkan dunia sebentar lagi. Tapi buru-buru ia menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran buruk itu. Ia lantas mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang sama sekali tidak ada panggilan atau pesan masuk dari. . . . Langit. Dia seharusnya sudah sampai, bukan?
Shien mengerjap, terkejut dengan dirinya sendiri yang mengharapkan Langit menghubunginya.
“Ahh, gila.” Shien kesal sendiri sambil mengacak-acak rambutnya kasar, lalu melempar ponselnya ke sembarang tempat. Beruntung tidak jatuh, padahal ponsel tersebut menempel tepat di sisi tempat tidur.
“Langit, who are you?” Shien mendesah dengan pandangan menerawang kosong ke atas langit-langit kamarnya. Sampai sekarang Shien masih bertanya-tanya, kenapa bisa perasaannya pada Langit malah semakin besar dan kuat setiap harinya? Siapa sebenarnya Langit sampai bisa mengusik hatinya seperti ini? Sihir apa yang dia gunakan sampai isi kepala Shien dipenuhi olehnya? Dan sekarang, Shien mungkin. . . . , merindukannya.
Shien lalu bangkit dari pembaringannya dengan sentakan penuh, lalu berjalan menuju kamar mandi. Guyuran air di bawah shower adalah satu-satunya yang ia butuhkan saat ini, untuk meredam hatinya yang sedang panas, membara karena perasaannya pada Langit semakin menjadi-jadi setiap detiknya, sampai tidak bisa dikendalikan.
__ADS_1
********
To be continued. . . . .