
Sampai jumpa minggu depan untuk tiga episode terakhirnya. 😉
Semoga belum bosan.
Happy reading. 😊
********
Shien yang kesal pulang ke rumah orang tuanya dengan diantar Pak Bayu, sopir pribadi Papa Wijaya. Ia membanting pintu mobil keras-keras setelah turun, hal itu sontak membuat Pak Bayu sedikit tersentak karena tidak biasanya melihat Shien yang biasanya sangat tenang tiba-tiba emosi seperti itu.
Gadis itu lantas berjalan memasuki rumahnya dengan hati dongkol setelah sebelumnya memberi ultimatum kepada Pak Bayu untuk jangan memberitahu Langit bahwa ia pulang ke rumahnya. Pak Bayu hanya mengangguk takut-takut dan menelan ludah karena Shien mengancam akan meminta Papa Wijaya untuk memotong gajinya kalau sampai Pak Bayu memberitahu Langit.
Shien melangkah gontai ke ruang makan di mana orang tuanya berada dan sepertinya mereka baru saja akan memulai sarapan.
“Ma, Pa. . . .” Panggil Shien seraya menghampiri orang tuanya yang sedang duduk di kursi meja makan.
Mama dan Papa yang mendengar suara putrinya sontak menoleh, lalu tersenyum senang karena putrinya benar-benar ada di rumahnya. Bukan suara halusinasi. Tapi mereka cukup heran karena melihat wajah sang putri yang ditekuk masam.
“Shien. . . .”
Mama menyambut putri kecilnya dengan wajah berbinar, bahkan ia sampai beranjak dari duduknya dan mengurungkan niatnya untuk memulai sarapan hanya untuk memberi pelukan pada Shien.
“Kangen banget.” Ujar Mama mengelus lembut punggung Shien.
“Hmm.” Sahut Shien tak bergairah sambil mengurai pelukannya, kemudian beralih pada Papa yang duduk di ujung meja.
“Seneng banget kamu udah datang pagi-pagi gini.” Ujar Papa tak kalah senang dari Mama. “Langitnya mana?” Tanyanya kemudian karena tidak melihat keberadaan Langit bersama putrinya.
“Aku pulang sendiri dianterin Pak Bayu.” Shien menarik diri, lalu duduk di kursi yang semula ditempati Mama sehingga posisinya berada di tengah-tengah antara Mama dan Papa.
“Lho, kok sendiri?” Tanya Mama dengan kening mengernyit. Shien hanya mengedikkan bahunya kesal, kemudian meraih segelas air putih yang ada di atas meja dan meminumnya hingga tandas, lalu meletakkan kembali gelasnya dengan gerakan sedikit menyentak.
Mama dan Papa saling melempar pandangan bingung melihat sikap aneh putrinya.
“Kamu berantem sama Langit?” Tembak Mama menatap Shien lekat-lekat, wajahnya berubah khawatir. Shien terdiam tak menyahutinya seolah membenarkan.
“Kalian berantem, terus Langit nyuruh kamu pulang pada kami? Ya ampun, masa belum genap tiga bulan nikah anak Mama udah jadi janda muda.” Panik Mama dengan segala pikiran liarnya.
Shien memutar bola matanya jengah. “Ya gak gitu juga, Ma.” Ia buru-buru mengkonfirmasi seraya menggumamkan ribuan kata amit-amait di dalam hati. Mana rela ia jadi janda muda, sudah tidak perawan lagi. Itu tidak akan dan tidak boleh terjadi.
“Gitu, ya?” Mama nyengir kaku karena sudah heboh sendiri. “Terus kamu kenapa sampai pulang sendirian ke sini?” Tanya Mama hati-hati seraya menyelipkan anak rambut Shien yang sedikit berantakan ke belakang telinga. Namun, gadis kecilnya itu hanya terdiam dengan wajah merengut.
“Shi. . . .” Papa angkat suara setelah beberapa saat keheningan tercipta. Mereka bahkan mengabaikan sarapan yang hendak dimakannya. Shien hanya mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan Papa tanpa menyahut.
Papa lantas meraih sebelah tangan Shien dan menggenggamnya. “Sekarang kamu sama Langit sudah menikah, bukan pacaran lagi. Jadi kurang baik rasanya kalau kamu malah pergi saat ada masalah.” Nasihat Papa. “Kalian harus menyelesaikannya bersama saat sudah menikah, dengan kepala dingin.” Imbuhnya kemudian.
Shien mendesah pelan seraya menarik tangannya dari genggaman Papa. Rupanya kedua orang tuanya itu sudah salah paham terlalu jauh. Ia memang pulang ke rumah, tapi bukan karena bertengkar dengan Langit, melainkan sedang kesal sekesal-kesalnya pada laki-laki itu.
“Aku gak lagi berantem sama Langit, kok, Ma, Pa.” Ucap Shien, membuat Mama dan Papa sama-sama mengerutkan dahinya bingung. “Aku pulang sendiri ke sini karena lagi kesel aja sama Langit.” Terangnya sambil memukul pelan meja makan dnegan tangannya yang terkepal geram.
“Emang Langit udah apain kamu?” Tanya Mama sabar seraya membelai lembut rambut panjang Shien.
“Karena dia udah. . . .” Shien mengerjap bingung dan menggantungkan kalimatnya, ragu untuk melanjutkan. Namun Mama dan Papa terus menyorotinya meminta kejelasan sehingga mau tidak mau ia melanjutkan kalimatnya. “Dia udah hamilin aku.”
Gerakan tangan Mama yang sedang mengelus rambut Shien seketika terhenti. Beliau cukup speechless mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut putri kecilnya itu. Sementara Papa hampir tersedak ludahnya sendiri, merasa lucu, gemas, jengkel, dan juga bahagia tentunya mendengar itu.
“Jadi kamu hamil?” Tanya Papa memastikan pendengarannya tidak salah, Shien hanya menganggukkan kepalanya lesu sebagai jawaban.
“Ya bagus kalau gitu. Kita semua harus bersyukur akhirnya kamu dan Langit dikasih kepercayaan sama Tuhan untuk memiliki anak.” Sahut Mama dengan wajah berbinar. Begitu pun dengan Papa yang langsung mengembangkan senyum bahagianya.
“Kok bagus, sih, Ma?” Protes Shien. Bukan tentang ia yang sedang hamil, tapi ditujukan pada Langit yang sudah menghamilinya. Hamil tanpa kesepakatan sebelumnya maksudnya.
“Lho, kok kamu gak seneng gitu?” Tanya Mama heran, juga sedikit kesal karena Shien terkesan tidak mensyukuri anugerah yang sudah diberikan Tuhan padanya.
“Tapi Langit yang hamilin aku.”
Mama dan Papa kembali mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Gagal mencerna ucapan Shien. Memang apa salahnya jika seorang suami menghamili istrinya sendiri?
“Ya emang udah seharusnya. Lagian itu juga bukan sesuatu yang buruk. Kamu udah nikah sama Langit, kalau belum nikah terus udah hamil, baru itu namanya gak bagus. Kayak waktu itu tuh kamu sama Langit uwuw-uwuw sebelum nikah, itu gak bagus.” Ujar Mama menyindir di akhir kalimatnya. Shien memutar bola matanya malas, kenapa Mama masih yakin kalau ia dan Langit melakukan hubungan terlarang sebelum menikah? Padahal, kan, kenyataannya tidak seperti itu. Ck, menyebalkan.
Sementara Papa hanya terdiam memperhatikan anak dan istrinya berdebat kecil. Walaupun apa yang sedang mereka bicarakan sedikit frontal, tapi Papa senang karena ruang makan yang biasanya sangat sepi ini jauh lebih menghangat.
__ADS_1
“Terus usia kandungan kamu berapa? Jangan-jangan kamu hamil di luar nikah lagi.” Tanya Mama yang kembali berpikiran buruk.
“Enggak, Ma. Aku udah bilang gak pernah kempul kebo sama Langit.” Sahut Shien mendelik sewot. Rasanya ia lelah sendiri menjelaskannya pada Mama dan Papa.
“Dihh, gak percaya Mama.” Cebik Mama dengan tatapan seolah tak percaya.
“Terserah.” Ucap Shien malas.
“Berapa bulan?” Tanya Mama lagi.
“Kata testpack tujuh sampai delapan minggu.”
Mama mengangguk-angguk, kemudian mulai berpikir, membandingkan usia pernikahan dan usia kandungan Shien, jemarinya terlipat satu per satu, mulutnya tampak berkomat kamit. Sejurus kemudian, ia bernapas lega sambil mengelus dadanya karena usia kandungan Shien dua minggu lebih jauh setelah pernikahannya. Bagaimanapun, hamil di luar nikah tidak pernah terjadi dalam sejarah keluarganya.
“Udah aku bilang kalian salah paham waktu itu.” Shien menegaskan kembali. Namun sepertinya Mama tetap tidak mempercayainya, begitu pun dengan Papa yang diam saja.
“Tapi lebih baik kamu ke Dokter habis ini buat pastiin usia sama keadaan kandungan kamu.” Ujar Mama tak mengindahkan ucapan Shien.
“Hmm.” Sahut Shien ogah-ogahan seraya menggarpu scrambled egg dari piring Mama. Walaupun sudah dingin, tapi itu tetap terasa enak di mulut Shien. Mungkin karena dirinya lapar belum sarapan.
“Kamu kenapa kelihatan gak senang gitu, Shi?” Tanya Papa heran.
Menelan kunyahan telur orak-arik di dalam mulutnya, Shien mendesah pelan sebelum kemudian menjawab. “Sebenarnya aku belum siap punya anak. . . .”
Shien lantas berterus terang kepada orang tuanya tentang pil kontrasepsi dan alasan ketidaksiapannya memiliki anak. Sampai akhirnya, Shien mengadu kepada orang tuanya tentang Langit yang entah bagaimana caranya mengganti pil kontrasepsi dengan vitamin untuk meningkatkan nafsu makan sehingga membuat dirinya hamil.
Selama ini Shien terheran-heran kenapa Langit tidak keberatan dirinya mengkonsumsi pil kontrasepsi, padahal Langit sangat menginginkan seorang anak. Ternyata ini alasannya. Langit tidak khawatir dan tidak protes karena yang selama ini Shien konsumsi hanyalah vitamin.
Namun, Papa yang mendengar cerita Shien malah tergelak pelan sambil geleng-geleng kepala. Merasa gemas dengan putra menantunya. Tapi ia tidak akan memarahinya, justru Papa akan memberikan pujian padanya karena yang dilakukannya bukanlah hal yang buruk. Karena jika itu tidak terjadi, mungkin sampai saat ini ia belum akan mendapatkan cucu yang diidam-idamkannya. Selama ini Papa dirundung rasa iri karena setiap berkumpul bersama kolega yang seusianya, mereka terkadang membahas cucu, dan hanya dirinyalah yang belum memilikinya.
“Jadi kamu kesal sama Langit gara-gara itu?” Tanya Mama yang juga ikut tergelak. Shien hanya mengangguk malas.
“Aku takut, Ma. Aku belum siap.” Raut wajah Shien berubah sedih, ia membuang pandangannya pada scrambled egg di hadapannya. “Aku takut terjadi sesuatu sama anak a–”
“Shien. . . .” Sela Mama menyentuh lembut bahu sang anak hingga membuat Shien mengangkat wajahnya. “Dengerin Mama, Nak.” Lalu mengangkup kedua sisi wajah Shien. “Anak kamu pasti baik-baik aja. Gak akan terjadi apa-apa, dia pasti lahir dengan sehat dan normal.” Mama menenangkan.
“Kamu tahu kenapa?” Tanya Mama tersenyum sambil menatap lekat-lekat bola mata jernih milik Shien. Sebelah tangannya lantas bergerak turun menyentuh lembut perut Shien yang masih rata. “Karena dia punya Mama yang kuat.” Ucapnya, lalu kembali memandang Shien. “Karena kamu Mamanya, dia akan baik-baik aja.” Mama menjawil ujung hidung Shien gemas.
“Jangan mengkhawatirkan apapun, sayang.” Tambah Mama sambil mengelus sisi wajah Shien.
“Benar kata Mama kamu. Jangan mengkhawatirkan apapun.” Papa menimpali. “Daripada berpikiran buruk, lebih baik berdoa yang baik-baik. Jangan mendahului takdir, Shi. Tuhan gak suka itu.” Nasihat Papa terdengar bijaksana.
Shien terdiam seraya terus mengulang ucapan Papa untuk menyadarkan dirinya. Apa yang dikatakan Papa nyaris sama dengan yang pernah Langit katakan padanya. Memang benar, pikiran buruklah yang membuatnya terus terkungkung dalam rasa takut.
“Kamu juga harus pikirin perasaan Langit. Dia melakukan ini karena benar-benar menginginkan seorang anak dari kamu. Papa harap, kamu bisa ngertiin dia.” Tutur Papa kemudian sambil mengacak gemas rambut Shien.
********
Sementara itu Langit yang sedang dalam perjalanan menuju rumah mertuanya untuk menyusul Shien sesuai informasi yang ia dapat secara paksa dari Pak Bayu. Laki-laki itu tidak bisa menyurutkan senyumnya sejak ia menyadari hasil testpack yang beberapa saat lalu dilemparkan Shien padanya. Selain itu, ia juga tidak berhenti mengucap rasa syukur kepada Tuhan karena sudah memberikan kepercayaan padanya dan Shien untuk memiliki keturunan.
Langit merasakan kebahagiaan yang luar biasa di hatinya meski ia masih harus menghadapi kekesalan Shien yang marah karena sesuatu yang dilakukannya. Ia masih berhutang penjelasan pada gadisnya itu. Tentang dirinya yang sudah bekerja sama dengan Dokter kandungan Shien dan memintanya untuk memberikan vitamin yang aman walaupun dikonsumsi dalam keadaan hamil alih-alih pil kontrasepsi. Padahal, sebelumnya ia sudah berniat untuk terus terang, tapi takdir mendahuluinya. Tuhan memilih Shien mengetahuinya lebih awal.
Pada awalnya, ia melakukan hal ini karena tidak tahu alasan Shien yang sangat ingin menunda kehamilannya. Dan setelah mengetahui alasan yang sebenarnya, Langit merasa sedikit bersalah. Hanya sedikit karena keinginannya untuk memiliki anak dari Shien lebih besar. Ia harus memiliki anak dari gadis itu agar hubungan mereka semakin terikat kuat. Jadi, Langit akan menerima konsekuensinya meski Shien sangat marah padanya saat ini.
Sesampainya di sana, Langit segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tidak langsung naik ke kamar Shien, Langit memilih untuk menemui mertuanya terlebih dahulu yang tengah bersantai di halaman belakang rumah.
“Langit.” Papa yang sedang duduk bersantai di gazebo langsung meletakkan koran yang tengah dibacanya begitu melihat kedatangan Langit, begitu pula dengan Mama ikut menghentikan kegiatannya merangkai bunga.
“Ma, Pa. . . .” Langit mengampiri dan langsung memeluk Mama dan Papa bergantian.
“Susulin Shien?” Tanya Mama yang paham maksud kedatangan Langit.
“Iya, Ma. Dia marah sama aku.” Langit mendesis seraya mendudukkan dirinya di hadapan Papa dan Mama.
“Ya lagian kamu usil banget jadi orang. Pil kontrasepsi diganti vitamin.” Omel Mama. Langit hanya nyengir kaku sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Tapi Shiennya juga mudah ketipu, ya, sampai-sampai gak sadar selama ini dia minum apa.” Mama lantas terkikik geli mengingat kebodohan putrinya.
“Pantesan Shien makannya banyak semenjak nikah sama kamu, ehh ternyata dicekokin vitamin penambah nafsu makan tiap hari. Haha.” Papa ikut tergelak.
“Mama sama Papa gak marah?” Tanya Langit hati-hati, mengingat ia sudah membuat kesal anak mereka.
“Kenapa marah? Justru kami senang karena kamu udah berhasil kasih kami cucu.” Sahut Papa yang langsung disetujui oleh Mama.
__ADS_1
“Selamat ya, Lang, sebentar lagi kamu akan segera jadi Ayah.” Ucap Papa sambil menepuk lengan bahu Langit bangga.
“Makasih, Pa.” Sahut Langit tersenyum hangat.
“Mama harap, kamu bisa lebih memperhatikan Shien. Dia butuh dukungan kita semua, terutama kamu untuk menghadapi ketakutannya dan selama masa-masa kehamilannya nanti.” Ujar Mama. Langit hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Mama juga minta sama kamu untuk lebih sabar. Kalau suatu waktu Shien minta sesuatu yang aneh-aneh atau bersikap menyebalkan, tolong kamu jangan marah sama dia.”
Lagit kembali mengangguk. “Iya, Ma. Aku ngerti.”
Mama tersenyum seraya mengusap lembut lengan bahu Langit. “Ya udah, sekarang kamu susulin Shien ke kamar sana. Jangan lupa habis itu kamu ajak dia ke Dokter buat periksa kandungannya.”
“Iya, Ma.” Ucap Langit untuk kemudian ia berpamitan dan beranjak untuk pergi ke kamar Shien.
********
“Shi. . . .”
Langit disambut dengan bantal dan guling yang melayang begitu ia membuka pintu kamar Shien. Ia menghampiri sang istri yang sedang duduk di atas tempat tidur seraya menghunuskan tatapan tajam padanya. Tangannya tidak berhenti melempar benda apa saja yang ada di tempat tidur, termasuk boneka buah-buahan kesukaannya.
“Udah, Shi. Kalau kamu marah-marah terus, kasihan dedenya.” Bujuk Langit sambil menghalau lemparan benda yang menghampirinya menggunakan kedua tangan.
Mendengar itu, Shien langsung menghentikan aksinya melempar barang. Ia lantas menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil mengatur napasnya yang tak beraturan. Namun sebelum itu ia menyempatkan untuk menimpuk wajah Langit dengan boneka pisang sekali lagi.
Setelah melihat Shien cukup tenang, Langit kemudian merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Shien.
“Maafin aku, Shi. Aku gak ada niatan buat nyembunyiin ini dari kamu. . . .” Langit menggenggam satu tangan Shien, beruntung gadis itu tidak bergerak defensif, hanya masih enggan melihatnya. “Aku cuma telat aja ngasih tahu kamu.” Suara Langit sedikit mencicit.
“Kamu ngeselin banget, ya.” Ucap Shien yang kini menoleh ke arahnya dengan wajah merengut. “Padahal aku cuma minta waktu sebentar sama kamu, tapi aku gak nyangka kamu malah ngelakuin ini. Harusnya kamu jujur aja waktu itu kalau gak setuju aku pake kontrasepsi.”
“Iya maaf, sayang, aku gak mau ngecewain kamu waktu itu.” Ujar Langit sambil mengusap-usap lembut punggung tangan Sien. “Aku gak tahu alasan kamu nunda kehamilan waktu itu, terus aku sengaja minta Dokter Alice buat kasih kamu vitamin. Karena aku pikir, kalau kamu udah terlanjur hamil, mau gak mau kamu pasti nerima itu.”
Shien mendengus pelan, lalu kembali membuang pandangannya dari Langit.
Sejenak mereka terdiam, Langit menatap sendu sang istri yang engggan melihat dan berbicara padanya.
“Ya udah kalau gitu kamu maunya gimana?” Langit melepaskan tangan Shien dari genggaman tangannya. “Kamu gak mau nerima kehadiran dia karena kamu takut dan terus tenggelam dalam bayang-bayang pikiran buruk kamu, iya? Kamu mau gimana?” Tanya Langit kecewa. Ia mengehela napas, lalu menghembuskannya kasar sebelum kemudian kembali berujar. “Kamu mau gugu–”
“Aku gak segila itu, Lang.” Sambar Shien cepat dan menatap Langit tidak suka.
“Ya terus kenapa kamu marah-marah sama aku dan kayak gak suka sama kehamilan kamu?” Sahut Langit kesal, namun tetap menjaga nada suaranya agar tidak terdengar membentak.
“Itu karena aku kesel sama kamu. Kamu udah gak jujur sama aku. Gimana kalau semisal kita telat mengetahui keberadaan dia di perut aku, terus terjadi sesuatu karena aku salah makan atau melakukan kegiatan yang bisa membahayakan dia?” Jawab Shien tak kalah kesal, matanya sudah berkaca-kaca saking kesalnya.
Sementara Langit terdiam. “Ja-jadi, kamu marah sama aku bukan karena kamu hamil?”
“Aku gak mungkin gak nerima keberadaan anak aku, Lang.”
Langit tersenyum lega. Ia kira, Shien akan tetap bertahan pada ketidaksiapannya. Tapi ternyata dugaannya salah.
“Yang benar itu anak kita.” Langit lantas menarik tubuh Shien untuk dibawa ke dalam pelukannya, namun gadis itu malah berontak.
“Ihh, apaan sih peluk-peluk? Udah sana jauh-jauh, aku masih kesel sama kamu.” Dumel Shien kesal sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Langit.
“Ihh, orang aku mau peluk dede, bukan ibunya.” Ledek Langit semakin mengeratkan pelukannya.
“Tapi Bapaknya ngeselin, dia bilang gak mau deket-deket, udah sana.” Shien berhasil mendorong tubuh Langit hingga tersungkur di kasur, lantas dengan buru-buru ia membaringkan tubuhnya sendiri dan menutupinya dengan selimut.
“Pergi sana.” Usir Shien, suaranya teredam di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Langit yang melihat tingkah kekanak-kanakan Shien hanya tersenyum geli, kemudian ia menarik selimut yang menyutupi tubuh Shien, menyibaknya, kemudian ikut bergabung dan dengan cepat mendekap tubuh sang istri dari belakang.
“Langit kamu ngapain masih di sini? Peluk-peluk lagi. Aku bilang pergi.” Protes Shien sambil menggeliatkan tubuhnya agar terlepas dari Langit. Namun suaminya itu tak mengindahkannya dan malah mendekapnya semakin erat.
Shien merasakan tengkuknya meremang saat hembusan napas Langit yang hangat menerpa kulitnya di sana.
“Lepasin aku.” Pinta Shien sambil memukul pelan tangan Langit.
“Gak mau.” Sahut Langit sambil menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Shien. Ia lantas berbisik. “Aku dengar, dede mau ketemu Papanya.”
“Ya?” Shien mengerjap tak mengerti. “Ahh, Langit.” Pekik Shien begitu gerakan tangan Langit yang cepat sudah menurunkan kain hitam berenda yang dikenakannya di bawah sana.
********
__ADS_1
To be continued. . . .