So In Love

So In Love
EP. 99. I Want you


__ADS_3

Hallaw, I’m comeback. Btw ada yang masih nungguin cerita ini gak, sih?


Tadinya aku mau up sampai episode terakhir. Tapi setelah dipikir-pikir, aku putuskan upnya besok aja. Hihi


Happy reading, yes. 😉


********


Ini adalah kali pertama untuk Shien menginjakkan kakinya di rumah Langit setelah beberapa jam yang lalu ia dan Langit kembali ke Indonesia setelah menghabiskan enam hari di Maldives untuk berbulan madu. Mereka benar-benar menghabiskan liburan romantis dan bersenang-senang menikmati berbagai spot-spot wisata terbaik di sana.


Keduanya sangat bahagia, terutama Shien karena itu adalah pengalaman pertamanya datang ke Maldives. Shien sangat bahagia karena bisa pergi ke sana dan menghabiskan liburan bersama Langit tanpa harus khawatir akan kelelahan atau sakit karena tubuhnya sudah lebih kuat sekarang.


Papa Wijaya menolak saat putra kesayangannya berkata akan tinggal di apartemen selama rumah yang akan ditempatinya dengan Shien direnovasi. Laki-laki paruh baya itu meminta agar mereka tinggal satu atap dengannya sampai renovasi rumah selesai, alhasil Langit dan Shien menyetujui untuk tinggal di rumah besar milik Papa Wijaya yang mungkin selama beberapa bulan karena proses ronovasi rumah sesuai style atau keinginan Langit akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Selepas membersihkan diri seraya menunggu Langit yang masih berada di kamar mandi, Shien memilih untuk melihat-lihat perpustakaan pribadi yang langsung terhubung dengan kamar Langit.


Membuka perlahan pintu yang di cat warna putih, senada dengan semua pintu di rumah megah itu, Shien langsung disuguhkan dengan ruangan luas dengan rak-rak buku menjulang tinggi, desain perpustakaan yang serba putih membuat buku-buku yang dipajang di rak-rak semakin cerah dan berwarna. Konsep perpustakaan tersebut mirip dengan desain bangunan Stuttgart Municipal Liblary di Jerman, Shien ingat itu karena pernah melihatnya di sebuah laman internet.


Mata Shien menyusuri setiap sudut ruangan dengan mulut sedikit ternganga, cukup takjub dengan perpustakaan pribadi yang menurutnya terlalu besar itu, mungkin dua kali lipat lebih besar dari perpustakaan kecil di kamarnya.


Shien jadi bertanya-tanya, sebenarnya berapa banyak kekayaan yang dimiliki Ayah mertuanya sampai-sampai bisa membangun rumah super mewah bak istana kerajaan itu? Ia juga merasa iba karena bisa-bisanya Papa Wijaya tinggal di rumah sebesar ini sendirian, apa beliau tidak merasa kesepian? Terlintas dalam benaknya agar ia dan Langit tinggal di sana saja. Tapi tetap saja semuanya tergantung pada keputusan Langit. Sebelumnya saja laki-laki itu menginginkan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya, jadi sepertinya itu tidak mungkin bagi mereka untuk tinggal bersama Papa Wijaya.


Jari telunjuk Shien senyusuri buku yang berderet di rak perpustakaan seiring dengan kakinya yang bergerak perlahan. Sebagian besar buku yang ada di sana adalah buku kedokteran dan jurnal-jurnal internasional, dan sebagian kecil adalah novel-novel karya Penulis terkenal dunia. Namun yang menarik perhatian Shien adalah ternyata di sana juga terdapat banyak buku cerita anak-anak termasuk buku karyanya. Bahkan ada karya pertama Shien. Ternyata Langit sudah mengoleksi buku karya Shien jauh sebelum dia mengenalnya. Shien tersenyum senang melihat itu.


Telunjuknya yang lentik itu lantas berhenti pada satu buku lusuh yang sangat familier di matanya. Sebuah buku cerita anak-anak dengan judul Little Mermaid dan Shien yakin itu adalah miliknya yang dulu sempat tertinggal di kamar mandi restoran Perancis saat ia tidak sengaja bertemu Jingga.


“Aku cariin, ternyata di sini.”


Shien tersentak saat Langit tiba-tiba datang dan memeluk tubuhnya dari belakang. Ceruk leher Shien menjadi tempat favorit Langit untuk menenggelamkan wajahnya di sana, menghirup aroma tubuh Shien yang sudah seperti candu untuknya.


“Ngagetin.” Shien memukul pelan punggung tangan Langit yang melingkar di perutnya. Langit hanya tersenyum di balik ceruk lehernya.


“Lagi ngapain, sih?” Tanya Langit penasaran karena istrinya begitu fokus sampai tidak menyadari kedatangannya tadi. Ia lantas mengangkat wajah untuk kemudian meletakkan dagunya di atas kepala Shien, sesekali diciuminya puncak kepala gadis itu dengan sayang.


“Lihat-lihat ini.” Shien menunjuk deretan buku cerita anak-anak karyanya yang dikoleksi Langit.


“Dulu aku gak terlalu merhatiin siapa Penulisnya, tapi gak nyangka ternyata sebagian besar buku cerita anak-anak yang aku koleksi ternyata karyanya istri aku di masa depan.” Sama halnya dengan Shien, Langit juga merasa bahwa takdir itu benar-benar penuh kejutan. “Dan aku adalah orang yang paling beruntung karena dapat istri kayak kamu.” Lanjutnya seraya kembali membenamkan ciuman di puncak kepala Shien cukup lama.


Shien mencebik, merasa kalimat yang diucapkan Langit barusan terdengar sedikit menggelikan. “Gombal mode on.”


“Seriusaan.” Langit dengan gemas mengeratkan pelukannya, lalu menggiring Shien untuk melangkah perlahan menyusuri rak buku.


“Ohh iya, Shi.” Ucap Langit saat teringat sesuatu. Shien mendongak untuk menjangkau pandangannya dengan Langit, namun hal itu justru dijadikan kesempatan untuk Langit menyambar bibir kemerahannya sekilas.


“Ihh, colongan.” Protes Shien sambil memukul lengan Langit.


Langit terkekeh melihat wajah istrinya yang merengut. “Gak apa-apa kali. Kan sekarang udah bebas mau cium-cium kamu, lagian sebelum nikah kita juga udah sering kayak gini.”


“Kamu mau ngomong apa tadi?” Buru-buru Shien mengalihkan topik pembicaraan sebelum Langit menggodanya lebih lanjut.


“Ohh, iya.” Langit hampir saja melupakan itu. Ahh, istrinya memang sangat menggemaskan sehingga ia selalu ingin menggodanya. “Minggu lalu pas habis akad, Tante Hilda nemuin aku, yaa ngasih wejangan gitu. Terus habis itu dia bilang kayak pernah ketemu aku di mana gitu. Tapi anehnya, aku juga merasa agak familier aja sama Tante Hilda.”


Shien terdiam sejenak seolah berpikir. “Mungkin emang pernah ketemu gak sengaja kali, atau lihat di TV atau majalah. Kamu sama Tante Hilda, kan, cukup terkenal.”


“Mungkin juga, sih. Tapi aku ngerasa kalau kami bener-bener pernah ketemu, Shi.” Ujar Langit.


“Perasaan kamu aja kali. Kayak aku yang merasa pernah ketemu sama Bunda dan Biel sebelumnya.” Balas Shien yang seperti tidak asing dengan wajah Bunda dan anak laki-laki bernama Biel yang sekarang menjadi keponakannya itu.


“Ya kamu, kan, emang pernah lihat Bunda dulu waktu kita pertama kali pacaran. Pas di apartemen aku itu lho, Shi. Aku dulu umpetin kamu di kamar.” Kenang Langit mengingatkan.


Shien membulatkan bibirnya membentuk tanda O, lalu manggut-manggut. “Pantesan wajah Bunda gak asing.”


“Dan mungkin kamu emang pernah gak sengaja ketemu Biel di suatu tempat. Wajar sih lupa kalau kejadiannya udah lama.” Sambung Langit, Shien hanya manggut-manggut menyetujui, merasa ucapan Langit ada benarnya.


Sejenak tidak ada percakapan lagi yang keluar dari mulut keduanya. Mereka melangkah perlahan melewati buku-buku yang berderet rapi di rak perpustakaan.


“Eung. . . , Lang.” Panggil Shien seraya menghentikan langkahnya dan berbalik. Wajahnya nyaris saja terbentur dada bidang Langit yang ternyata juga ikut berhenti secara mendadak.


“Hum?” Sebelah alis Langit terangkat penuh tanya, kedua tangannya ganti melingkari pinggang Shien yang ramping.


“Emm. . . .” Gadis itu terlihat ragu untuk menyampaikan sesuatu yang ingin diucapkannya. Sementara Langit hanya terdiam menunggu Shien melanjutkan kalimatnya. “Kenapa kita gak tinggal di sini sama Papa?” Tanya Shien akhirnya seraya ikut melingkarkan kedua tangannya di leher Langit mesra.


Langit tersenyum hangat, ia bisa membaca niat baik Shien yang tidak ingin membiarkan Papanya kesepian. “Emang kamu gak keberatan?” Diajukan pertanyaan seperti itu, Shien langsung menggeleng tanpa ragu.


“Tapi aku yang gak mau.” Ujar Langit sambil mencuri satu kecupan di bibir Shien.


Shien mengernyit bingung. “Kenapa?”


Kembali tersenyum, Langit lantas mulai menjelaskan dengan sabar. “Bukannya aku gak mau tinggal di sini sama Papa. Tapi Shi, kita sekarang udah dewasa, udah menikah, maka dari itu kita harus mulai membiasakan diri untuk mandiri. Udah saatnya kita berhenti mengandalkan orang tua dan mulai hidup mandiri berdua.” Langit menjeda kalimatnya untuk mengambil napas sejenak. “Yaa walaupun rumah yang akan kita tempati tetap pemberian Papa, sih. Tapi ke depannya, aku mau kita mengusahakan semuanya sendiri. Lagian, aku mau kalau kita bisa merasakan bagaimana perjuangan orang tua kita dulu, belajar membina rumah tangga di atas kaki sendiri dan membesarkan anak-anak kita nanti dengan tangan kita sendiri.”


Shien terdiam, menatap lekat-lekat Langit sambil mengulum senyumnya. Sejak kapan coba suaminya ini pandai berkata bijak? Pasalnya, selama ini Langit hanya bisa mengatakan sesuatu yang bersifat gombal.

__ADS_1


“Dan kita bisa mengunjungi orang tua kita seminggu sekali.” Tambah Langit.


Shien mendesis sambil menahan senyumnya. Ia lantas menangkup kedua sisi wajah Langit. “Kamu gak salah makan, kan? Atau kamu gak lagi kesurupan, kan? Tumben bisa ngomong kayak gini?”


“Lagi serius gini, bisa-bisanya kamu ngajak becanda.” Langit dengan gemas memberi ciuman bertubi-tubi di wajah Shien hingga membuat gadis itu terkekeh geli.


“So, kamu siap, kan, untuk hidup berdua sama aku selamanya?” Tanya Langit setelah menarik diri, mempertemukan tatapan mereka hingga saling mengunci.


“Selama itu sama kamu.” Lalu tanpa aba-aba, Shien mendekatkan wajah mereka, mencuri satu kecupan di atas bibir Langit. Tapi suaminya itu seperti tidak puas. Lantas Langit menekan tengkuk Shien dan mulai memberi sapuan lembut di atas benda lembab berwarna kemerahan itu hingga keduanya larut saling berbalas kecupan, jalinan benang saliva yang bertaut membuat decapan mereka terdengar nyaring di ruangan yang cukup luas itu.


Masih dengan posisi berdiri, tangan Langit bergerak turun meraba bagian belakang tubuh Shien, menyusupkan kedua tangannya ke dalam baggy pants motif kotak-kotak yang dikenakan gadis itu dan meremas sesuatu di dalamnya dengan sensual hingga terdengar suara lenguhan tertahan dalam ciuman mereka.


Langit menyudahi pagutan mereka dengan kening yang saling menempel. Keduanya sama-sama terpejam seiring dengan deru napas mereka yang saling bersahutan.


“Datang bulan kamu udah selesai, Shi?” Tanya Langit dengan suara serak sambil mengeluarkan tangannya dari dalam celana Shien.


“Dari kemarin.” Sahut Shien di sela-sela deru napasnya yang masih memburu.


Langit menarik diri untuk mempertemukan pandangan mereka. “Kok gak bilang? Mungkin kita masih punya kesempatan buat ngelakuin itu di Maldives, Shi.”


Sampai sekarang, Langit masih menyayangkan karena ia dan Shien tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pengalaman pertama mereka sebagai suami istri saat berbulan madu di sana.


“Kemarin keasyikan berburu oleh-oleh soalnya. Jadi lupa.” Jawab Shien seperti sedang berdalih.


“Sengaja, kan?” Langit memicingkan matanya penuh curiga. “Kamu sengaja gak ngasih tahu aku karena takut gak jadi jalan-jalan buat beli oleh-oleh?”


Sementara Shien hanya diam sambil tersenyum, raut wajahnya kentara sekali membenarkan ucapan Langit.


“Ihh, tega.” Langit merengut. Tidak tahukah Shien bahwa selama satu minggu ini Langit susah payah menahannya? Huhh.


“Kan bisa di sini. Sama aja, kan?” Shien lalu berjinjit, melingkarkan satu tangannya di tengkuk Langit untuk kemudian memberikan satu kecupan di bibir suaminya itu.


“Iya, tapi tetap aja bulan madu kita jadi kurang spesial.” Rupanya, Langit masih merajuk.


Memutar bola matanya jengah, Shien lantas bertanya. “Terus kamu maunya gimana? Balik ke Maldives cuma buat malam pertama?”


“Ya gak gitu juga.”


“Terus?” Shien mencubit gemas kedua pipi Langit yang halus.


“Kalau gitu. . . .” Shien menatap Langit curiga begitu melihat seringai nakal Langit. “Aku mau sekarang.” Bisik laki-laki itu seduktif. Ia lantas merengkuh bahu Shien, lalu mendorong pelan tubuhnya hingga punggung gadis itu menempel di rak buku.


Mendadak Shien menjadi gugup dan gelisah tak karuan, ia juga tidak bisa bergerak ke mana-mana karena tubuhnya terhimpit di antara rak buku dan tubuh Langit yang tinggi.


Shien merasakan tengkuknya meremang begitu bibir Langit menyentuh daun telinganya, pun dengan hembusan napas hangat Langit yang menerpa kulit lehernya.


“Tapi. . . .” Shien menahan dada Langit menggunakan kedua tangannya sehingga menghentikan gerakan Langit yang baru saja menempelkan bibirnya di leher Shien. Laki-laki itu menarik diri dan menatap istrinya itu penuh tanya.


“Ini masih sore.” Ucap Shien menundukkan wajahnya malu-malu, rona merah sudah menghiasi pipinya.


“Gak ada aturan waktu untuk melakukan itu.” Lalu dengan cepat Langit menyatukan bibir mereka, memulai kembali tautan bibir itu dengan mesra.


Shien melingkarkan tangannya di leher Langit, membalas ciuman itu hingga keduanya larut dalam cumbuan panas yang telah mereka ciptakan. Tidak bisa dipungkiri, Shien juga sama menginginkannya seperti Langit.


Saling menyentuh, saling meraba, Langit menyusupkan tangannya ke dalam kaus oversize putih yang dikenakan Shien, mengelus perut ratanya, lalu merayap ke belakang dan naik hingga bertemu pengait dari kain pembungkus bagian kesukaannya yang selama ini selalu ia sentuh dengan tangan dan bibir nakalnya.


“Lang. . . .” Desah Shien menahan tangan Langit yang sedang memberi pijatan lembut di dadanya.


“Kenapa?” Tanya Langit dengan suara berat sesaat setelah ia melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap Shien yang memasang wajah malu-malu dengan tatapan sayu.


“Jangan di sini.” Ucap Shien malu, ia merasakan wajahnya sudah memanas lagi. Padahal, mereka belum melakukan sesuatu yang lebih jauh.


Langit tersenyum, lalu tanpa banyak bicara langsung mengangkat tubuh Shien hingga gadis itu otomatis melingkarkan kedua kakinya di pinggang Langit.


Mereka kembali berciuman panas dalam perjalanannya ke kamar. Dan sore itu, di atas sebuah tempat tidur king size yang membentang lebar di kamar Langit, dengan baju mereka yang berceceran sembarang di lantai, Langit mendapatkan apa yang selama ini ia tunggu.


Shien menjerit kesakitan saat Langit mulai menyatukan tubuh mereka. Namun isakan tangis yang keluar bukanlah dari mulut Shien, melainkan dari Langit. Laki-laki itu menghentikan pergerakannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shien dengan air mata yang terus menetes dari matanya, dan hal itu jelas membuat Shien mengernyit keheranan.


“Lang. . . .”


“Maaf. . . .” Ucap Langit lirih. Kilasan-kilasan saat ia menyakiti hati Shien satu tahun yang lalu tiba-tiba berputar di kepalanya begitu ia menyatukan tubuhnya dengan Shien dan mendengar gadis itu menjerit kesakitan, membuat Langit kembali merasakan sesak di dadanya karena perasaan bersalah.


Shien mengangkat wajah Langit, menatap suaminya itu dalam-dalam sembari menyeka air matanya menggunakan ibu jari. “Aku yang sakit, kenapa kamu yang nangis?” Gadis itu tersenyum geli di tengah-tengah rasa perih di pusat tubuhnya.


“Aku keinget kesalahan aku yang udah nyakitin kamu dulu. Maafin aku, Shi.” Dan air mata Langit menitik lagi.


“Tinggalkan masa lalu, ayo fokus ke masa depan dan hidup bahagia.” Tutur Shien menenangkan. Ia mengelus lembut sisi wajah Langit, lalu menariknya untuk memberikan satu kecupan lembut di bibir suaminya itu.


Masa lalu yang menyakitkan, Shien memilih untuk meninggalkannya di belakang daripada menyimpannya di dalam hati yang hanya akan bertumpuk menjadi sebuah dendam. Layaknya sebuah buku usang tak terpakai yang tersimpan di rak buku, tidak dibuka lagi, namun isi di dalamnya terekam dalam memori pembacanya dan menjadi pembelajaran seumur hidup.


“Aku udah janji gak akan nyakitin kamu lagi, tapi sekarang aku membuat kamu sakit lagi, malahan sampai berdarah.” Langit teringat jeritan kesakitan Shien beberapa menit lalu saat ia berusaha memasuki gadisnya dengan susah payah, padahal ia melakukannya sangat pelan.

__ADS_1


“Itu wajar, kok.” Shien tersenyum menenangkan dengan tangan yang terus mengelus lembut wajah Langit. “Aku baca di internet, sebagian besar perempuan merasakan sakit waktu pertama kali.”


“Apa udahan aja ya, Shi, nunggu sakitnya kamu hilang?” Langit sudah bersiap-siap menarik diri untuk turun dari atas tubuh Shien, tapi Shien buru-buru menahannya. Lantas dengan malu-malu ia mengatakan. “Katanya lama-lama gak sakit lagi, kok. Jadi kamu boleh lanjutin.” Gadis itu lalu menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah di ceruk leher Langit.


Sungguh, Shien merasa sangat malu mengatakan itu, tapi penyatuan tubuh mereka juga membuatnya merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Langit memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, Shien menyukainya.


“Kamu yakin?” Tanya Langit memastikan. Shien mengangguk di balik ceruk lehernya.


Langit tersenyum tipis, kemudian menarik diri hingga sekarang ia bisa memandangi wajah cantik Shien yang merona. Ia kemudian mencium kening, kelopak mata, hidung, dan pipi Shien dengan hati-hati. Sementara bagian tubuhnya di bawah sana mulai bergerak perlahan memberi hujaman-hujaman nikmat di pusat tubuh Shien hingga suara desahan, erangan, dan rintihan penuh kenikmatan yang lolos dari bibir keduanya menggema di kamar Langit yang luas itu.


Takdir membawa mereka sore hari itu, di tengah hawa dingin karena gemericik hujan di luar yang semakin deras. Langit sangat bersyukur karena kini Shien sudah menjadi miliknya seutuhnya, dan selamanya Shien hanya akan menjadi miliknya.


********


“Lho, Shien mana, Lang?” Tanya Papa yang melihat putranya itu datang ke ruang makan sendirian. Senja dan Bintang yang kala itu sedang berkunjung ke rumah Papa Wijaya untuk menginap ikut menyoroti Langit penuh tanya. Padahal, ini adalah kali pertamanya Shien bergabung dengan keluarga yang seharusnya tidak absen untuk makan malam bersama.


“Udah tidur, Pa.” Jawab Langit seraya bergerak duduk di hadapan Bintang, tepatnya di sebelah Papa yang duduk di ujung meja. Ia lantas meneguk segelas air putih untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering.


“Jam segini udah tidur?” Sambar Senja yang merasa waktu masih terlalu dini untuk tidur.


“Shien kecapekan, Kak.” Sahut Langit yang mulai menyentong nasi untuk kemudian ia letakkan ke dalam piringnya. Namun jawaban Langit membuat pikiran semua orang menggerayang ke mana-mana salah pengertian.


“Pengantin baru ya gitu. Belum puas waktu bulan madu, pulang dari sana langsung main lagi.” Cibir Senja yang seketika menghentikan gerakan tangan Langit yang hendak menyentong nasi untuk kedua kalinya. Ia nyaris saja tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan kakaknya itu.


“Maksud aku, kami kan habis melakukan perjalan jauh. Penerbangan kami lebih dari dua belas jam. Jadi Shien kecapekan dan masih tidur sampai sekarang. Aku gak tega banguninnya.” Dan beruntunglah otak Langit yang pintar itu bisa menemukan alasan yang masuk akal.


“Ciee, perhatian banget. Padahal kalau kamu ada perlu sama kakak, terus kakak lagi tidur, kamu biasanya paksa bangunin kakak sambil teriak-teriak, tuh.” Ujar Senja yang merasa sedikit tidak terima karena Langit memberi perlakuan padanya dan Shien secara berbeda.


“Bodo! Shien, kan, istri aku.” Balas Langit seraya menjulurkan lidahnya sekilas pada Senja, lalu melanjutkan kegiatannya mengambil nasi. Sementara Papa dan Bintang hanya terdiam sambil geleng-geleng kepala memperhatikan pasangan kakak beradik yang tidak pernah akur itu.


“Mentang-mentang pengantin baru.” Dengus Senja sebal.


“Dih, kayak sendirinya gak pernah ngerasain.” Langit mendelik sewot, tangannya sibuk mengambil lauk pauk untuk dipindahkan ke atas piringnya.


“Ohh iya, Pa. Maaf ya, malam ini aku sama Shien makan malam di kamar.” Izinnya kemudian yang sebenarnya adalah sebuah pemberitahuan.


Papa mengangguk mengerti. “Tapi besok-besok jangan absen lagi. Mumpung kakak kalian masih ada di sini. Jarang-jarang bisa kumpul bareng keluarga kayak gini lho, Lang.” Ucap Papa memperingati.


“Oke siap, Bos.” Sahut Langit sambil memberi hormat ala Tentara, lalu beranjak untuk kembali ke kamar.


“Huuh, bilang aja habis ini mau keukeupin Shien lagi.” Ledek Senja setengah berteriak. Namun Langit hanya mengedikkan bahunya tak peduli.


********


Sekembalinya ke kamar, Langit melihat sang istri masih terlelap di balik gulungan selimut putih yang membalut tubuh polosnya. Ia lantas duduk di tepi ranjang dan mengguncang lembut tubuh Shien untuk membangunkannya.


Langit tersenyum begitu melihat Shien membuka matanya, lalu menenggelamkan wajahnya yang tiba-tiba memerah di balik selimut karena malu.


“Ngapain sih pake malu-malu segala? Lagian depannya kita bakal sering ngelakuin itu, kok.” Ujar Langit sembari menarik selimut yang digunakan Shien untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Langit tersenyum lagi saat melihat banyak tanda merah mahakaryanya tercetak jelas di atas kulit Shien yang mulus.


Detik berikutnya setelah kalimat itu terlontar dari mulut Langit, Shien langsung memberikan cubitan keras di paha Langit hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. “Kamu tuh. . . , emang gak punya malu.”


“Ihh, emang bener, kan? Gak mungkin dong kalau kita ngelakuinnya cuma sekali ini doa– aww!” Kali ini Shien mendaratkan pukulan di bibir Langit. Merasa kesal karena Langit menggodanya dengan sesuatu yang mesum seperti itu.


“Ngeselin.” Shien mendengus kesal, lalu ia beranjak duduk dan mengapit selimut di balik ketiaknya.


“Tapi suka, kan?” Langit menaik-turunkan kedua alisnya. Rupanya, laki-laki itu masih betah menggoda sang istri.


“Apaan, sih? Udah ahh, aku mau mandi dulu.” Ujar Shien ketus seraya berusaha beranjak dari kasur, namun Langit mencegahnya.


“Makan malam dulu. Aku udah bawain itu buat kita.” Langit menunjuk nampan berisi sepiring penuh nasi beserta lauk pauknya yang tergeletak di atas nakas.


Shien mengernyitkan keningnya dalam. “Kok di sini? Harusnya kita makan malam di bawah sama Papa dan kakak.”


Menghembuskan napasnya pelan, Langit lantas menjawab. “Udah telat kali, Shi. Aku juga udah bilang sama mereka kalau kita makan malamnya di kamar. Kamu sih tidurnya kelamaan.”


Shien sedikit terkejut, lalu melirik jam digital yang tertempel di dinding kamar Langit sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. “Kenapa gak bangunin aku?” Protesnya kemudian. Ia mendengus kesal dengan mata memicing tajam. Sudah menjadi istri yang belum kompeten, dan sekarang ia malah menambah kesan buruk di hadapan mertuanya.


“Aku gak tega, sayaaang.” Langit menyentuh pipi Shien, mengelus wajah halus itu penuh sayang. Namun Shien hanya terdiam merengut. “Udah deh gak usah ngambek. Papa, Kak Senja, dan Kak Bintang ngerti, kok. Mereka gak marah.” Rayunya kemudian seolah mengerti apa isi pikiran Shien saat ini.


“Ya udah kalau gitu aku mau mandi, awas.” Shien menepis tangan Langit dari wajahnya, tapi laki-laki itu kembali menahannya. “Makan dulu, Shi.”


“Iya, tapi aku mau mandi dulu.” Shien berusaha menyingkirkan tubuh Langit yang menghalanginya.


“Gak usah mandi. Lagian nanti kita mau itu lagi, kok.” Langit mulai tersenyum-senyum tidak jelas, membuat Shien menatapnya penuh waspada seraya memperketat pegangan selimut di ketiaknya agar tidak turun.


“I-itu apa?” Tanya Shien gelagapan. Sementara satu tangan Langit sudah merayap di atas pahanya yang masih tertutupi selimut.


“Mau makan dulu atau enggak?” Bisik Langit terdengar sangat serius, bibirnya sudah menempel lagi di bawah cuping telinga Shien hingga membuat tubuh gadis itu menegang.


“Ma-makan. Aku mau makan dulu.” Sahut Shien tidak ada pilihan lain selain kembali membiarkan Langit menjamah tubuhnya. Tapi ia butuh energi lebih sebelum itu. Percayalah, tubuh jangkung Langit tidaklah ringan.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2