So In Love

So In Love
EP. 90. Tidur


__ADS_3

********


“Pantesan gak mau ditemenin.” Sindir Mama diiringi kerlingan mata meledek saat mendapati Langit masuk ke ruang rawat dengan tubuh Shien di punggungnya.


Mama tersenyum geli sekaligus senang melihat dua anak muda di depannya itu. Tidak perlu bertanya atau menebak-nebak lagi. Dari ekspresi keduanya yang berbunga-bunga, Mama yakin mereka pasti baru saja berbaikan.


Langit tersenyum dan langsung menyapa Mama, sementara Shien melempar delikan sebal karena Mama meledeknya.


“Tapi tongkat kamu di mana, Shi?” Tanya Mama yang baru menyadari Shien tidak kembali bersama tongkatnya.


Shien terdiam sebentar setelah Langit mendudukkannya di sofa di sebelah Mama. Ia mengingat-ingat di mana tepatnya ia meninggalkan tongkat itu. Sejurus kemudian, ia menatap Mama dengan wajah innocent. “Kayaknya ketinggalan.”


Mama memutar bola matanya malas, sebelum kemudian berujar. “Mentang-mentang udah ada kuli panggul, tongkatnya dilupain.”


Shien mendelik sewot. “Ketinggalan, Ma.” Ia berucap malas. Malas meladeni Mama yang masih betah meledeknya.


“Iya, deh, ketinggalan.” Mama masih dengan nada meledek. “Kalau gitu, Langit ambilin sana.” Titahnya kemudian sambil mengedikkan dagunya pada Langit.


“Kenapa gak beli yang yang baru aja, Tan?” Tanya Langit sedikit protes karena tongkat itu mungkin sudah hilang atau paling tidak sudah masuk gudang jika petugas kebersihan yang menemukannya.


“Walaupun kita mampu, tetap harus menghargai apa yang kita miliki sekarang. Gak baik, Lang, boros-boros kayak gitu.” Sahut Mama yang lebih terdengar seperti ceramah bagi Langit dan Shien.


“Udah ambil sana. Lagian Shien harus bersih-bersih dulu, kalau ada kamu di sini bisa bahaya.” Tambah Mama, mengusir Langit terang-terangan.


“Gak butuh bantuan aku, Tan?” Langit malah menyahuti sambil mesem-mesem tidak jelas, membuat Shien otomatis melempar bantal sofa dan tepat mengenai kepalanya.


Mama mendengus geli. Dlam hati beliau mencibir kalau kemarin-kemarin saja wajah Langit masih murung dan terkadang ia memergokinya menangis, tapi sekarang sudah berani becanda.


“Kamu ini. Kalau Papanya Shien datang, terus denger, bisa-bisa kamu keluar dari sini gak bisa jalan, Lang.” Ujar Mama.


“Udah sana kamu keluar dulu. Nanti malam kamu bisa balik lagi ke sini.”


Mendesah pelan, Langit memasang raut wajah tidak rela dengan sedikit mengerucutkan bibirnya. Ia baru saja berbaikan dan belum mendapatkan waktu bersama Shien, dan sekarang sudah harus berjauhan lagi saja. Tidak lama, sih. Tapi tetap saja Langit tidak rela. Tidak tahukah Tante Risa kalau Langit sangat merindukan gadisnya itu?


“Ekspresi kamu itu, lho, Lang, gak usah dimiris-mirisin gitu. Tante cuma nyuruh kamu buat ambil tongkat dan keluar sebentar, bukan ngusir.” Gerutu Mama yang merasa dipandang seolah ia adalah mertua kejam seperti di film ikan terbang. “Khusus malam ini Tante izinin kamu jagain Shien, deh. Kebetulan banget Tante lagi ada urusan di rumah.” Imbuh Mama yang langsung membuat mata Langit berbinar otomatis.


“Beneran, Tan?” Tanya Langit memastikan, takut-takut wanita paruh baya itu hanya mengerjainya dan mengatakan itu prank. Calon ibu mertuanya itu, kan, sedikit jahil.


“Beneran, Lang. Kalau bohong, Tante ikhlas deh kamu putus sama Shien.” Jawab Mama dengan sedikit berkelakar.


“Aku baru baikan, lho, Tan.” Protes Langit langsung manyun. Mama lalu menyahuti kalau ia hanya becanda, tidak serius dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan.


“Tapi aku gak setuju. Masa iya aku harus tidur bareng dia.” Shien menimpali seraya mengedikkan dagunya ke arah Langit.


“Mama bilang jagain, Shi. Gak nyuruh Langit tidur bareng kamu.” Terang Mama menegaskan, dirasa pikiran anaknya itu menjelajah terlalu jauh.


“Kalau dia apa-apain aku?” Tanya Shien, masih tidak terima jika malam ini ia akan ditinggal berdua dengan Langit, walaupun sebenarnya ia cukup senang. Tapi tetap saja ia tidak percaya pada Langit.


“Ya ampun, Shi. Curigaan banget.” Protes Langit, tapi Shien hanya menatapnya tak percaya dengan wajah juteknya. Ahh, ia benar-benar masih kesal dengan laki-laki yang duduk di hadapannya ini.


Benar-benar kesal, tapi sayang. Sialan. Shien merasa ia sudah berubah menjadi bodoh karena mencintai Langit.


“Kalau berani apa-apain Shien, Tante pites kamu.” Mama menatap Langit penuh peringatan.


Langit sedikit meringis. “Tenang, Tan. Shien tetap utuh kalau aku yang jagain.” Ucapnya meyakinkan. Tapi Langit benar-benar serius dengan ucapannya. Ia akan melindungi Shien sepenuh hati dan sekuat tenaga.


********


“Maaf terlambat. . . .” Langit memberikan sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar pada Shien yang sedang duduk bersandar di ranjang pasiennya. Hanya ada mereka berdua di ruang rawat itu sepeninggal Mama beberapa menit yang lalu.


“Selamat dan terima kasih karena kamu udah kembali.” Lanjutnya dengan binar penuh rasa syukur dalam sorot matanya yang jernih.


Langit benar-benar bersyukur. Kenyataan bahwa Shien masih berada di sampingnya adalah kebahagiaan terbesar bagi dirinya.


Shien menatap buket bunga itu sebentar, kemudian menerimanya, lalu menghirup aroma bunga tersebut yang menguarkan wangi lembut dan feminim.


“Suka?” Tanya Langit tersenyum senang mengamati Shien yang masih menikmati wangi bunga mawar tersebut.


“Biasa aja.” Sahut Shien tak ingin mengakui seraya menyerahkan kembali buket bunga itu pada Langit.


“Aku pesan ini khusus, lho, Shi. Masa dikembaliin lagi.” Langit pura-pura cemberut.


“Tolong simpan bunganya di sana.” Ucap Shien sambil menunjuk meja nakas yang tak jauh dari ranjang pasiennya. Langit nyengir mendengarnya.


“Kirain mau nyuruh aku buat buang.” Langit segera bergerak ke arah meja nakas untuk menyimpan bunganya.


“Enggak, lah. Kan sayang.” Ujar Shien.


“Sayang aku?” Tanya Langit sambil tersenyum penuh arti, lalu duduk di samping Shien.


“Ngarep.” Cebik Shien seraya mengusap penuh wajah Langit yang sedang memandangnya itu.


“Kok masih jutek aja, kan udah baikan?” Langit mencolek dagu Shien yang masih melayangkan tatapan sewot ke arahnya seakan-akan Langit itu makhluk paling menyebalkan di muka bumi.


“Kamu masih dendam sama aku?” Tanya Langit sambil mengusap-usap dagu Shien menggunakan ibu jarinya.


Shien menggeleng, tatapannya yang berubah sendu menatap lekat-lekat mata Langit yang sudah lebih dulu menatapnya hangat.


Shien tidak tahu. Mungkin benar ia masih dendam sedikit pada Langit karena perasaan dongkol terhadap laki-laki itu bercokol di hati, sehingga saat ia melihat wajah Langit bawaannya kesal. Atau mungkin juga perasaannya terlalu sensitif hari ini. Entahlah.


“Atau kamu nyesel udah maafin aku?” Tukas Langit, tapi tetap berujar dengan suara lembut.


Shien kembali menggeleng pelan untuk kemudian ia berucap. “Wajah kamu tuh ngeselin.”


Langit tersenyum menahan tawa begitu mendengar ucapan Shien barusan. Lantas yang ia lakukan selanjutnya adalah menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


“Langit.” Shien memukul dada laki-laki itu protes.


“Katanya pelukan itu bisa bikin suasana hati jadi lebih baik.” Ucap Langit memeluk Shien semakin erat, lalu membenamkan ciuman di puncak kepala gadis itu penuh sayang.


Shien mendengus, tapi tidak protes lagi. Entah ucapan dan apa yang dilakukan Langit itu modus atau bukan, tapi pada kenyataannya itu sedikit ada benarnya. Rasanya menyenangkan berada dalam pelukan Langit seperti ini, terlebih saat Shien menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuh Langit yang terasa menenangkan. Lebih menenangkan daripada aroma bunga apapun yang ada di dunia ini.


Keduanya berpelukan dalam diam untuk beberapa saat, seolah sama-sama sedang menyalurkan cinta dan kerinduan masing-masing melalui pelukan itu.


“Aku sayang kamu.” Bisik Langit. Ia lantas menyusupkan wajahnya pada perpotongan leher Shien yang tertutupi rambut dengan kedua tangan mengelus lembut punggung gadis itu.


Sementara Shien bergeming. Ia memilih untuk menikmati aroma tubuh Langit yang seperti aromatherapy baginya. Pun dengan suara hembusan napas hangat Langit yang sedikit menggelitik telinganya bagaikan lulllaby, membuat Shien ingin tertidur dalam dekapan laki-laki itu sekarang juga.


“Shien. . . .” Panggil Langit tiba-tiba, sehingga membuat Shien yang nyaris memejamkan mata untuk tidur sontak membuka matanya kembali. Ia lantas mengangkat wajahnya dan menatap Langit penuh tanya.

__ADS_1


Melepaskan pelukannya, Langit lalu mengorek-ngorek sesuatu dari saku celananya, dan mengeluarkan sesuatu yang berkilauan. Cincin yang tiga bulan lalu dilempar Shien di taman restoran tampak berkerlap-kerlip ditimpa cahaya lampu yang menggantung di langit-langit ruangan.


“Jangan dilepas lagi, ya.” Ucap Langit setelah menyematkan kembali cincin itu pada pemiliknya. Sudut hatinya berdenyut nyeri mengingat bagaimana Shien melemparkan benda itu dulu. Bukan tentang bagaimana Shien melepas dan melemparnya, tapi lebih kepada alasan yang membuat Shien melakukan hal itu.


“Aku belinya mahal soalnya.” Sambung Langit berkelakar, membuat Shien langsung melayangkan pukulan di dadanya. Langit terkekeh, lalu meraih tangan Shien untuk digenggam.


“Aku pastiin kamu gak akan melepaskan ini lagi.” Langit mencium punggung tangan Shien. Ia sungguh-sungguh akan mencintai Shien sampai gadis itu tidak ingin pergi darinya. Langit tidak akan menyakitinya lagi, bahkan berpikir untuk itu.


“Buktiin kalau kamu gak sekedar bermulut manis.” Sindir Shien yang sudah cukup sering mendengar hal-hal seperti itu dari Langit. Tapi ia harap ucapan Langit itu benar. Shien tidak ingin kejadian menyakitkan seperti sebelumnya terulang lagi.


“Trust me.” Sahut Langit dan sekali lagi ia mengecup punggung tangan Shien lama-lama.


Shien terdiam tidak menjawab ucapan Langit. Namun sorot matanya sudah jelas jika Shien ingin kembali mempercayai laki-laki itu.


“Aku mau tidur.” Ucap Shien setelah beberapa saat terdiam dan dirasa tidak ada tanda-tanda Langit akan menyampaikan hal lainnya.


“Ya udah ayo.” Seru Langit seraya memperbaiki posisinya untuk tidur di samping Shien, lalu menyibak selimut yang sedari tadi menutupi setengah tubuh gadis itu untuk kemudian ikut menyelimuti dirinya sendiri.


“Aku bilang mau tidur, bukan ngajak kamu tidur.” Sahut Shien menatap Langit garang.


“Terus, aku tidur di mana?” Tanya Langit tak menghiraukan protes yang dilayangkan Shien.


Shien meraih dagu Langit, kemudian memutar dan mengarahkannya ke samping hingga pandangan laki-laki itu jatuh pada sofa yang terletak tidak jauh dari ranjang pasien Shien berada.


“Kamu nyuruh aku tidur di sofa?” Tanya Langit lagi, dan keterdiaman Shien membenarkannya.


“Aku gak biasa tidur di sofa.” Ucap Langit santai, lalu melipat kedua tangan di dada sambil memejamkan matanya.


“Ish.” Shien memukul bahu Langit keras hingga membuat mata Langit yang terpejam terbuka kembali.


“Lagian ini bukan yang pertama kalinya, Shi. Udah sini. . . .”


Dan pekikan tertahan terdengar dari bibir Shien saat Langit tiba-tiba menarik lengannya hingga tubuh Shien jatuh tepat di lengan laki-laki itu. Langit langsung mendekapnya.


“Kita bisa tidur kayak gini.” Ucap Langit sambil menempelkan bibirnya di puncak kepala Shien.


“Nanti ada orang masuk.” Shien meronta berusaha melepaskan diri, tapi dekapan tangan Langit di tubuhnya terlalu erat.


“Aku udah kunci pintunya tadi.” Sahut Langit, mengingat tadi ia mengunci pintu ruang rawat Shien setelah Tante Risa pergi. “Jadi kamu tenang aja, walaupun kita mau ngapa-ngapain di sini juga gak bakal keganggu.” Seringai mesum terbit dari bibir manisnya.


Sontak Shien melayangkan sebuah cubitan di perut laki-laki itu. Hanya cubitan kecil yang lebih terasa seperti gelitikan, sehingga membuat Langit terkekeh.


“Becanda, Shi. Aku cuma mau tidur sambil peluk kamu kayak gini.” Ujar Langit meyakinkan. Shien menatap lekat-lekat wajah tampan di depannya, menyelisik apakah ada usaha modus di sana. Hingga sejurus kemudian, Shien membalas pelukan itu.


Shien percaya Langit tidak akan melakukan apa-apa padanya. Lagipula berada dalam dekapan laki-laki itu tidak buruk. Nyaman dan menyenangkan. Kalau boleh jujur, Shien malah meyukainya.


“Sleep tight.” Ucap Langit setelah membenamkan ciumannya di puncak kepala Shien.


Shien hanya mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Langit, membiarkan aroma maskulin dari tubuh laki-laki itu menyentuh indra penciumannya.


“Shien. . . .” Panggil Langit lirih.


Shien hanya menanggapinya dengan singkat seiring dengan matanya yang mulai terpejam. “Hmm.”


“Kamu ke mana aja selama tiga bulan ini?” Tanya Langit sambil membelai lembut rambut Shien, sehingga membuat gadis itu semakin ingin tidur.


“Aku cuma tidur. . . .” Terdengar helaan dan hembusan napas panjang Shien sebelum kemudian gadis itu melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan. “Terlalu nyenyak sampai aku sulit buat buka mata walaupun aku terus berusaha. Setelah itu aku denger Mama nangis dan teriak-teriak. Itu sangat menyedihkan dan membuat hati aku sakit. Tapi karena itu, aku tiba-tiba bisa bangun dengan mudah.”


“Kamu nakutin semua orang tahu, gak?” Ucap Langit. Shien hanya tersenyum sambil terus menghirup aroma tubuh Langit dalam-dalam.


“Shi. . . .” Langit menyatukan jemari tangannya dengan jemari tangan Shien yang mendekap dadanya, lalu dikecupinya punggung tangan gadisnya itu.


“Hmm.” Shien kembali menyahut singkat. Matanya mulai memberat seiring dengan kesadarannya yang ikut terkikis akibat rasa kantuk yang mendera.


“Gimana kalau kita menikah dalam waktu dekat ini?” Tanya Langit sungguh-sungguh.


“Hmm.” Sahut Shien semakin terdengar lemah.


“Aku akan datang ke rumah kamu sama Papa dan kakak aku. Mungkin setelah kamu selesai menjalani pemulihan dan keluar dari rumah sakit. Menurut kamu gimana?”


“Hmm.”


Kening Langit berkerut, merasa Shien meledeknya padahal ia sedang tidak becanda. “Aku seris, lho, Shi. Kok kamu jawabnya gitu?” Tanyanya sedikit kesal. Dan kali ini hanya terdengar lenguhan kecil gadis itu.


Langit menunduk untuk menjangkau wajah Shien. Detik berikutnya ia berdecak kecil sambil memutar bola matanya malas. Shien sudah tidur.


Walaupun sedikit dongkol karena Shien meninggalkannya tidur di tengah-tengah obrolan, sekali lagi Langit membisikkan ucapan selamat malam romantis di telinga Shien sebelum kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka hingga sebatas leher dan ia ikut terlelap bersama Shien.


*******


Shien memakan sup yang disiapkan rumah sakit untuk makasn siangnya itu dengan sedikit terburu-buru, seolah sup tersebut adalah makanan langka yang tidak akan ditemuinya dalam waktu dekat.


“Pelan-pelan, kamu masih punya banyak waktu, El.” Tegur Sagara yang kebetulan datang menjenguk Shien tepat di waktu gadis itu baru saja memulai makan siangnya beberapa menit yang lalu. Laki-laki tampan itu mengambil sebutir nasi yang menempel di pipi Shien. “Cara kamu makan tuh udah kayak kiamat mau datang besok aja tahu, gak?”


Shien lantas menjelaskan kalau sebenarnya ia sangat bosan dengan makanan rumah sakit. Maka dari itu, ia berusaha menghabiskannya secepat mungkin karena jika ia membiarkannya terlalu lama, ia akan mual.


“Aiish, gara-gara jawab pertanyaan kamu. Aku jadi gak mau makan lagi. Habisin!” Gerutu Shien seraya menggeser nampan makanannya ke arah Sagara.


“Makanan kuda kayak gini walaupun aku dibayar ratusan juta tetap gak mau makan.” Sahut Sagara sambil menunjuk-nunjuk makanan milik Shien di atas meja itu penuh cibiran.


“Kalau gitu bantu aku membuangnya.” Pinta Shien serius. Ia benar-benar tidak ingin memakan makanan rumah sakit lagi.


“Dokternya nanti marah, El. Mama kamu kalau tahu pasti juga marah.” Sahut Sagara menolak.


Shien mendengus sebal, kemudian memukul kepala Sagara dengan sendok hingga membuat laki-laki itu meringis sambil mengusap-usap kepalanya.


“Makin tua jangan malah tambah bodoh.” Cibir Shien, tidak peduli jika Sagara adalah orang yang lebih tua darinya. Ia memang terbiasa seperti itu dengan Sagara. “Di sini cuma ada kita berdua, sana buang ini ke kamar mandi.”


Sagara tak kalah mendengus kesal. “Elsa, kamu tahu kalau aku itu kakak ipar Kepala Rumah Sakit ini?”


“Yes, I know. Why?” Tanya Shien menantang seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan bersedekap.


“Aku bisa laporin ada pasien yang melanggar aturan.” Ancam Sagara.


“Tapi aku pasien yang membayar paling mahal fasilitas dan pelayanan di sini. Pihak rumah sakit gak akan marah walaupun mereka tahu.” Shien menjulurkan lidahnya dan memasang wajah sombong.


Merengut sebal, Sagara lantas beranjak dai duduknya dan menuruti apa yang Shien minta. Dari dulu selalu seperti ini. Ia tidak pernah bisa menang dari Shien. Selalu saja ia yang ditindas.


“By the way, itu apa?” Tanya Shien menunjuk paper bag milik Sagara yang tergeletak di meja sesaat setelah laki-laki itu kembali duduk di hadapannya.

__ADS_1


Sagara memandang Shien ragu-ragu sesaat, lalu mengeluarkan kertas yang cukup tebal dengan aksen pita sebagai hiasan dari dalam paper bag tersebut. Sagara menyodorkan benda itu pada Shien.


“Jackson, i–ini?” Shien melebarkan matanya antara senang dan terkejut sekaligus. “Oh My God, Jackson. Are you serious?”


“Kenapa? Kamu gak rela? Kamu mau aku batalin itu? Aku rela kalau kamu yang minta.” Sahut Sagara semangat, memandang Shien yang sedang menatap tak percaya undangan pernikahannya sendiri.


“Sembarangan.” Shien lantas melempar bantal sofa ke arah laki-laki itu, tapi Sagara berhasil menghindarinya.


Sagara mendesah pasrah, lalu menurunkan pandangannya pada undangan pernikahan itu dengan tatapan tidak rela. Tidak rela karena dirinya akan menikah, tapi bukan dengan Shien.


“Kamu, kan, udah putus sama si brengsek Langit, Shi. Ayolah, sebelum ijab kabul terucap.” Sagara kembali memohon.


Shien sedikit terperangah. “Hey, Om. Apa gak takut ketahuan calon istrinya? Lagian siapa bilang kami udah putus?”


Berdecak geli. Shien heran, bisa-bisanya Sagara meminta gadis lain menikah di saat pernikahannya sendiri sudah di depan mata dan dengan calon istri yang sudah jelas.


Sagara lantas menjawab jika dia tidak peduli karena gadis yang akan menikah dengannya itu pilihan orang tuanya. Menjengkelkan, mereka bahkan menyiapkan pernikahan untuknya dalam waktu dua minggu. Orang tuanya memang luar biasa.


Shien ingin sekali tertawa, tapi ia mencoba menahan itu. Tidak ingin bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. “Apa mereka pikir ini zaman Siti Nurbaya? Mereka terlalu kolot.” Namun Shien tidak tahan untuk tidak mengomentari cara berpikir orang tua Sagara yang menurutnya cukup primitif.


Sagara hanya mendesah seraya mengusap wajahnya frustrasi, memikirkan kebebasannya yang sebentar lagi akan hilang gara-gara perjodohan bodoh itu.


“Apa itu ekspresi orang yang akan segera menikah?” Cibir Shien yang melihat Sagara tidak bersemangat.


“Langit brengsek, lho, Shi.” Sagara tak mengindahkan ucapan Shien. Ia malah meminta gadis itu untuk mempertimbangkan dirinya.


“Aku gak peduli.” Shien mengedik acuh.


“Ck, bodoh.” Decak Sagara mencibir.


“I know.” Sahut Shien santai.


“Selamat atas pernikahan kamu. Aku gak tahu bisa datang atau enggak. Tapi aku seneng akhirnya kamu gak akan menua sendirian.” Ucap Shien kemudian sambil mengulurkan tangan pada Sagara, tapi tidak mendapat sambutan sehingga Shien menariknya kembali.


“Lebih baik gak usah datang, deh. Males aku lihat kamu sama Langit di sana nanti.” Cebik Sagara dengan wajah merengut. Shien hanya tersenyum geli melihat itu.


Sekitar satu jam berlalu, setelah puas berbincang-bincang dan berulang kali gagal membujuk Shien untuk menjadi pengantinnya di hari pernikahan nanti, Sagara lantas beranjak dan berpamitan untuk pulang.


Sagara berpapasan dengan Langit, tepat saat ia baru saja membuka pintu.


Keduanya saling melempar tatapan sengit sejenak, sebelum kemudian Sagara memukul kepala Langit keras. Ia masih kesal dengan Langit setelah mendengar dia menuduh Shien sudah bermesraan di hotel dengannya.


“Bego.” Umpatnya, kemudian menerobos tubuh Langit yang masih berdiri di ambang pintu sambil memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut nyeri hingga membuat tubuh jangkung laki-laki itu sedikit terhuyung ke belakang.


Sementara Langit hanya diam tak melawan, merasa ia memang pantas mendapatkan itu. Matanya mengawasi Sagara sampai benar-benar menghilang ke dalam lift untuk kemudian ia bergerak masuk menghampiri Shien.


Shien menatap datar Langit yang juga sedang menatapnya tajam. Ingatan saat Langit melayangkan berbagai tuduhan padanya kembali berputar.


“Kenapa?” Tanya Shien dingin, tidak suka Langit menatapnya seperti itu. “Mau bilang kalau aku udah ngelakuin apa-apa lagi sama Jackson?”


Langit masih terdiam, lalu duduk di samping Shien yang kini memalingkan wajah darinya.


“Mau ngasih ini sama kamu.”


Shien menoleh saat merasakan Langit memasangkan sesuatu di lehernya. Laki-laki itu tersenyum manis, Shien lantas menunduk dan mendapati sebuah kalung dengan aksen daun yang terlihat cantik menggantung di lehernya.



“Ini. . . .” Shien menatap Langit bingung karena tiba-tiba memberikan sebuah kalung.


“Tanda permintaan maaf aku.” Ucap Langit. “Dan aku janji gak akan pernah meragukan kamu lagi.” Tambahnya untuk kemudian mengecup bibir Shien sekilas. “Kamu suka?”


“Mana sertifikatnya?” Shien menadahkan tangan pada Langit.


“Ada di mobil. Kenapa? Kamu ragu kalau itu asli?” Tanya Langit diiringi dengusan kecil.


Shien mengerling usil. “Siapa tahu aja kamu ngasih aku barang palsu.”


“Ihh, enak aja.” Langit mencubit kecil pinggang Shien hingga membuatnya terkekeh pelan.


“Madep sini. Aku mau lihat.” Titah Langit dan Shien menurutinya.


“Cantik.” Ucap Langit seraya menyelipkan anak rambut Shien ke belakang telinga. “Yang pake kalungnya.”


Wajah Shien mendadak memanas, tapi rona merah yang timbul tidak menutupi warna pucatnya.


“Apaan, sih?” Ujarnya tersipu.


Langit tersenyum gemas, mengelus pipi Shien lembut, dan tak butuh waktu lama Langit langsung mempertemukan bibir mereka. Tapi belum apa-apa, seseorang dari luar masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga membuat keduanya dengan cepat saling menjauhkan diri.


“Ups. Kayaknya kita datang di waktu yang salah, Kak.” Ucap Shanna pada Nathan yang baru saja tiba di belakangnya. Gadis itu menatap dua orang di depannya dengan tatapan meledek.


Dan Langit hanya bisa merutuki dirinya saat iitu.


Sial. Ia lupa mengunci pintu.


********


Malam harinya, Shien duduk bersandar di ranjang pasiennya sambil memainkan kalung pemberian Langit tadi. Senyum di bibirnya tidak menyurut sedari tadi hingga membuat Papa terheran-heran dan menghampirinya.


“Apa yang kamu lakukan seharian ini? Sama siapa sampai kamu kelihatan sesenang itu?” Tanya Papa duduk di samping Shien.


“Rahasia.” Sahut Shien tersenyum penuh arti.


“Apa tuh? Papa jamin bisa tutup mulut.” Tanya Papa lagi.


Shien kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Papa dan berbisik. “Aku senang banget karena aku terlahir sebagai anak Papa.”


Papa mendengus geli, tapi merasakan senang yang luar biasa. “Bisa aja kamu.” Lalu mencubit gemas ujung hidung Shien.


Mama yang baru saja membereskan peralatan bekas makan malam mereka otomatis merajuk. “Papa sama anak main rahasia-rahasiaan. Mama resmi diabaikan, nih?”


Shien terkekeh pelan, lalu meminta Mama menghampirinya. Setelah itu Shien memeluknya, kemudian berbisik. “Aku senang banget karena bisa terlahir sebagai anak Mama.”


Mama speechless, tapi senang. “Diajarin gombal sama siapa kamu?” Cibirnya sambil mengusap-usap lembut punggung Shien dalam pelukannya.


Shien kembali terkekeh. Tapi tidak berlangsung lama saat ia merasa dadanya sakit dan menjalar ke tulang rusuk serta perutnya. Sangat sakit hingga ia tidak tahu bagaimana carannya untuk bernapas lagi. Shien meremas baju di depan dadanya sebelum kemudian pandangannya mengabur. Kepalanya langsung terjatuh tepat di bahu Mama.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2