So In Love

So In Love
EP. 98. D-Day


__ADS_3

Minggu ini bakalan slow up atau mungkin juga gak up. Agak sibuk dikit soalnya. Hihi


Nanti aku upnya mungkin minggu depan, langsung beberapa episode sampai tamat. 😊


Enjoy. 😉


********


Sore itu, Shien pulang ke rumah dengan wajah lelah. Hari pernikahannya tinggal dua hari lagi. Entahlah, perasaannya mendadak tak karuan. Terkadang sangat senang dan menantikan hari itu tiba, terkadang khawatir berlebihan karena memikirkan bagaimana kehidupannya nanti setelah menikah, terkadang Shien uring-uringan tidak jelas, dan yang paling parah Shien pernah menangis malam-malam tanpa alasan. Ahh pokoknya perasaannya benar-benar gelisah tidak karuan, Shien bahkan sampai kesulitan tidur akhir-akhir ini.


“Kamu dari mana, Shi? Kok sore banget?” Tanya Mama yang saat itu sedang bersantai di gazebo bersama Papa.


“Aku habis ziarah dulu ke makamnya Tante Rosa, terus setelah itu lihat rumah yang dikasih Om Wijaya.” Jawab gadis itu sambil menjatuhkan dirinya tepat di tengah tengah antara Mama dan Papa.


“Mama, Papa . . .” Koreksi Mama menegur. “Kamu biasain, dong, Shi.”


“Hmm.” Sahut Shien singkat, lalu meminum teh dari gelas milik Mama.


“Lusa kalian udah mau nikah. Harusnya kamu sama Langit diam di rumah, jangan bepergian terus.” Ujar Papa mengingatkan.


“Bener tuh, Shi. Kata orang tua zaman dulu, itu kurang baik buat calon pengantin.” Mama ikut menambahkan. Ia lantas menyelipkan anak rambut Shien yang sedikit berantakan ke belakang telinga.


“Iya, Ma. Mulai besok aku gak ke mana-mana lagi, kok.” Jawab Shien seraya mengambil sepotong roti bakar dengan isian cokelat dan mulai memakannya.


“Ya bagus kalau gitu. Kebetulan salon teman Mama terima jasa home service, jadi besok kita bareng-bareng perawatan di rumah. Biar kamu fresh, gak lusuh gini.” Ucap Mama sedikit meledek sambil mencubit gemas salah satu pipi Shien.


“Ohh iya, kamu udah ngambil cuti, Shi? Berapa lama?” Tanya Mama saat teringat akan hal itu. “Mama harap sih agak lamaan biar bulan madu kalian gak keburu-buru. Mama gak sabar pengen punya cucu lho, Shi.” Tambahnya, membuat Shien langsung memutar bola matanya malas seiring kunyahan roti di dalam mulutnya. Benar-benar. Menikah saja belum, sudah menuntut cucu saja.


“Papa juga kali, Ma. Kalau bisa, bikin kayak keluarga Petir itu lho, Shi, yang anaknya sebelas. Gak masalah kalau semisal nanti kamu sama Langit kerepotan atau malas ngurusin anak-anak, biar mereka Mama sama Papa yang urus.” Timpal Papa berucap sangat enteng hingga membuat Shien nyaris tersedak roti yang masih dalam kunyahannya.


“Program pemerintah aja bilangnya dua anak lebih baik, Pa.” Sanggah Shien penuh penekanan, lalu meminum teh milik Mama untuk mendorong masuk roti yang mendadak sulit ditelan. Ini pasti gara-gara ucapan Papa yang nyeleneh.


“Ngomong-ngomong, aku udah mundur dari posisi Wakil Direktur.” Shien lantas buru-buru mengalihkan pembicaraan. Tapi apa yang baru saja dikatakannya cukup membuat Mama dan Papa senang.


“Yang bener, Shi?” Tanya Papa memastikan, sorot matanya tampak berbinar.


“Sesuai saran Papa.” Sahut Shien, mengingat dua minggu yang lalu Papa memberinya saran untuk melepaskan jabatannya di perusahaan dan cukup menjadi Penulis saja. Bukan tanpa alasan, Papa berharap anaknya itu bisa fokus dalam membina rumah tangga. Lagipula karir Shien sebagai Penulis sudah lebih dari bagus. Jadi menurut Papa, Shien tidak perlu lagi bekerja merangkap seperti itu karena ada hal lain yang harus diperhatikan setelah menikah nanti. Shien tidak bisa terlalu sibuk dengan pekerjaan seperti saat masih lajang.


Walaupun ini cukup berat bagi Shien untuk melepaskannya. Tapi setelah ia mempertimbangkannya selama satu minggu, saran Papa ada benarnya. Terlebih saat ini Shien belum bisa melakukan apa-apa. Jadi dengan mengundurkan diri dari posisinya di perusahaan, Shien bisa fokus belajar untuk menjadi istri yang baik. Dan sekarang, posisi tersebut diambil alih oleh Fina, Tante Hida sendiri yang menunjuknya sesuai dengan saran Shien.


“Itu keputusan yang tepat, sayang.” Ucap Papa memuji sembari mengusap puncak kepala Shien bangga. “Lagian jadi Penulis itu fleksibel karena bisa bekerja di rumah. Karir kamu masih tetap bisa berkembang, terus urusan rumah tangga juga gak akan terbengkalai.” Tambah Papa menenangkan. Shien hanya mengangguk dan melemparkan senyum tipis.


“Tapi mungkin setelah ini aku bakalan bosan.” Keluhnya sambil menghembuskan napas berat.


“Kalau bosan, kamu bisa ikut gabung sama klub ibu-ibu sosialitanya Mama, Shi.” Sahut Mama berkelakar, lalu tergelak ringan yang disusul pula dengan gelak tawa Papa. Sementara Shien langsung memasang wajah cemberut.


“Ohh, iya. Kamu udah kasih tahu Langit soal ini?” Tanya Mama di tengah sisa tawanya sambil mengusap sudut matanya yang berair.


Shien hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia sudah memberitahu Langit tadi, dan reaksinya jelas sekali menunjukkan kalau laki-laki itu sangat senang dengan keputusan yang Shien ambil. Langit bahkan memberinya tas branded sebagai hadiah ucapan selamat karena Shien sudah berhenti dari pekerjaannya di perusahaan. Ucapan selamat yang aneh, bukan? Shien mendengus geli mengingat itu.


********


Suara dentingan piano dan alat musik lain yang dimainkan instrumental musik menggema di ballroom hotel yang luas dan megah itu. Begitu pun dengan lagu romantis yang dilantunkan Wedding Singer mengalun indah, menambah kemeriahan dan suasana romantis resepsi pernikahan Langit dan Shien malam itu setelah tadi sore acara akad nikah selesai dilangsungkan.


Pesta resepsi itu digelar dengan sangat megah dan mewah bak pesta kerajaan. Dekorasinya bergaya Eropa modern. Dan sudah jelas ini bukan pilihan Shien yang hanya menginginkan pesta sederhana agar cepat selesai. Tapi, Mamaya itu menolak karena menurutnya, tidak mungkin bagi mereka yang notabenenya adalah keluarga dari kalangan kelas atas, terutama keluarga Langit, hanya mengadakan pesta sederhana. Ditambah Shien adalah anak satu-satunya dalam artian yang masih hidup, sudah pasti Mama ingin memberikan yang terbaik dari yang terbaik.


Malam itu, Shien benar-benar tampil cantik layaknya Disney Princess. Dia tampil elegan mengenakan feather ball gown dengan detail floral yang menambah keanggunannya, plus tiara yang bertengger manis di kepalanya melengkapi kemewahan pesta resepsi malam itu.


Langit yang sejak beberapa jam lalu berdiri gagah di samping Shien dengan tuxedo hitamnya bahkan tidak bisa lepas memandangi gadis yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu, sehingga membuat ia kurang fokus pada para tamu yang hendak menyalami atau mengajaknya berfoto.


Seperti halnya saat ini, Jingga menghampiri bersama Biru dengan seorang anak perempuan lucu berusia kira-kira satu tahun di pangkuan lengannya, Langit tidak menyadari kedatangan mereka, bahkan di saat Jingga sudah menyapa Shien dengan heboh.


“Luntur cantiknya Shien kalau lo pelototin kayak gitu.” Cibir Biru seraya menoyor kepala Langit menggunakan satu tangannya yang bebas, sehingga membuat Langit tersentak kaget.


“Ngeselin lo.” Langit mendelik sebal karena aktivitas memandangi wajah cantik istrinya terganggu.


“Lo bisa keukeupin Shien sepuasnya habis ini. Tapi sekarang lo jangan cuekin tamu kayak gini, doong. Pegel nih gue berdiri dari tadi mau nyalamin, tapi lo cuekin.” Biru menggerutu kesal.


Langit mendengus, tapi ekspresinya berubah saat melihat anak perempuan di pangkuan Biru.


“Winter, semoga aja kalau udah besar, kamu gak mirip Papa kamu yang gak ada manis-manisnya ini.” Ucap Langit sambil mengusap gemas pipi gembil bayi satu tahun yang tampak sudah mengantuk itu.


“Jangan ngomong aneh-aneh sama anak aku. Terus lepasin juga tangan kamu, nanti pipi Winter iritasi gara-gara tangan kamu banyak bakterinya.” Dan ibu si bayi tiba-tiba memukul pelan tangan Langit hingga terlepas dari pipi gembil bayi bernama Winter itu.


Langit langsung mendesis diiringi wajahnya yang merengut. “Ishh, pelit banget.”


“Makannya habis ini langsung bikin biar cepet punya yang kayak gini.” Ujar Jingga seraya mencium putri kecilnya yang lucu. “Dan yang kayak gini juga.” Sambungnya sembari mengelus perutnya yang kini sudah membuncit lagi.

__ADS_1


Langit dan Shien yang mendengar itu hanya tersenyum geli.


“By the way, selamat ya, Lang.” Ucap Jingga sambil memberikan pelukan hangat pada sahabat yang sudah tumbuh bersamanya sejak dari kecil itu. Langit sedikit kesulitan membalas pelukan tersebut karena terhalang perut buncitnya. “Aku kira kamu bakalan jadi jomblo seumur hidup. Tapi untungnya ada yang mau.”


“Ujung-ujungnya gak enak didenger banget, Ji. Ngeselin.” Dengus Langit setelah ia dan Jingga mengurai pelukannya. Gadis dengan perut buncit itu tergelak pelan.


“Tapi emang kamu yang paling diuntungin, kan, dapat Shien?” Sahut Jingga dengan kerlingan mata seolah menggoda sepasang pengantin baru di depannya.


“Iya deh, iya.” Balas Langit yang malas berdebat.


“Banyakin sabar aja, ya, Shi, punya suami kayak gini.” Ledek Jingga kemudian sembari mengacak gemas rambut Langit, sehingga membuat tatanan rambut yang sebelumnya ditata rapi sedemikian rupa oleh hair stylish menjadi sedikit berantakan.


Mendapati rambutnya berantakan, padahal acara belum selesai, Langit jelas saja mencak-mencak kesal pada Jingga. Sementara Biru dan Shien yang menyaksikan mereka bertengkar kecil hanya geleng-geleng kepala tidak peduli.


Sedikit lama berbincang, dan karena Winter terlihat sudah mengantuk berat, Biru dan Jingga akhirnya memilih untuk beranjak dari hadapan mereka.


“Ohh iya, Shi. Hadiah yang kemarin aku kasih jangan lupa dipake, ya.” Bisik Jingga sebelum kemudian gadis itu benar-benar beranjak, tidak lupa dia juga mengedipkan sebelah matanya pada Shien.


Shien mendengus geli, kemudian bergidik ngeri saat mengingat hadiah dari Jingga yang berupa sebuah lingerie berwarna merah terang dan menerawang. Shien bukannya tidak mengerti, hanya saja warna merah terlalu berkilauan.


“Jingga bilang apa?” Tanya Langit penasaran sesaat setelah Biru dan Jingga berlalu dari hadapan mereka.


“Ihh, kepo.” Sahut Shien jahil.


“Ihh, kamu ketularan nyebelinnya Jingga, ya.” Langit mendaratkan cubitan kecil di perut Shien hingga membuatnya meringis geli.


“Langit, di sini banyak orang.” Shien memukul pelan tangan Langit yang tahu-tahu meremas bagian belakang tubuhnya.


Laki-laki itu menyeringai mesum, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Shien untuk kemudian berbisik. “Jadi kalau nanti udah gak banyak orang boleh?”


Shien menggeram kesal. Selalu saja menggodanya seperti ini. Dasar menyebalkan! Seandainya saja mereka tidak sedang berada di depan khalayak ramai, sudah dipastikan Shien akan memukul mulut laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya ini.


********


Pesta berjalan lancar. Sekitar jam setengah dua belas malam, Langit dan Shien baru bisa keluar dari ballroom karena sebelumnya tertahan oleh beberapa kerabat dekat yang terus mengajak mereka berbincang.


Keduanya kini memasuki kamar bridal suite yang tentu saja disiapkan oleh Mama.


Seperti kamar jenis bridal suite pada umumnya, kamar tersebut didekorasi seromantis mungkin dengan lilin aromatherapy yang semerbak menenangkan, taburan mahkota bunga mawar di atas tempat tidur, serta pencahayaan ruang yang remang-remang. Tapi hal itu tidak terlalu membuat Langit maupun Shien tersihir karena mereka lebih merasakan lelah yang teramat sangat di tubuh masing-masing.


Hari ini memang hari yang cukup panjang, mulai dari tadi sore saat melakukan akad nikah, serta pesta resepsi yang nyaris semalaman dan baru selesai beberapa menit lalu.


“Aku capek banget.” Keluh Shien seraya ikut melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kepala berbantalkan perut Langit yang berotot.


“Padahal kalau lihat orang lain atau tokoh utama di drakor nikahan kayaknya so sweet banget, tapi pas kita ngalamin sendiri ternyata gak se so sweet itu ya, Shi?” Ujar Langit dengan napas yang sedikit terengah, satu tangannya memijat kening Shien lembut.


“He’em.” Shien mengangguk menyetujui. “Gak mau lagi deh aku ngadain pesta pernikahan kayak gini.” Tambahnya.


“Ya emang cukup sekali, Shi.” Sahut Langit, lalu menarik hidung istrinya dengan gemas. “Emangnya kamu mau nikah lagi? Mau cari suami baru? Jangan harap! Seumur hidup, kamu cuma boleh nikah sama aku.”


Shien terkekeh kecil seraya melepaskan tangan Langit dari hidungnya. “Ya enggak, lah! Udah punya suami crazy rich kayak kamu, mana mau aku cari yang baru.” Kelakarnya kemudian, membuat Langit yang mendengarnya langsung mendengus geli dan sekali lagi mencubit gemas hidung istrinya itu hingga membuat Shien mengaduh kesakitan.


Setelah dirasa lelah di tubuhnya sedikit hilang, Shien lantas beranjak duduk dan meminta bantuan Langit untuk melepas tiara serta jepitan pada rambutnya yang disanggul. Shien ingin segera membersihkan diri lalu tidur.


Langit ikut beranjak dan duduk di balik punggung Shien. Memandangi sejenak rambut sang istri yang disanggul, ia sedang berpikir untuk memulai membuka jepitan yang mana dulu.


Saat tangannya terangkat untuk meraih salah satu jepitan di rambut Shien, Langit seketika menelan ludah susah payah saat pandangannya jatuh pada leher jenjang sang istri di depannya. Lalu detik itu juga Langit tersadar bahwa malam ini adalah malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Hampir saja ia lupa gara-gara kelelahan, dan ia tidak ingin melewatkan kesempatan malam pertama.


“Bisa gak, Lang?” Tanya Shien. Tapi tidak ada sahutan dari Langit, sehingga ia dibuat bingung, lalu menoleh ke belakang. “Lang, kok lam–?”


“Shi. . . .”


Shien tersentak saat tiba-tiba Langit malah memeluk tubuhnya dari belakang.


“La–Langit kamu ngapain?” Tubuh Shien mendadak gelisah dan jantungnya berdebar cepat. Shien menahan napasnya saat Langit mulai mengecupi tengkuknya lembut sebelum kemudian melabuhkan gigitan kecil di sana.


“Langit, aku minta kamu bantuin lepasin jepitan.” Protes Shien sambil menggeliatkan tubuhnya, berusaha untuk melepaskan pelukan Langit. Tetapi laki-laki itu tak mengindahkannya, kini Langit malah menurunkan resleting dan gaun Shien hingga sebatas dada, sehingga membuat Langit lebih leluasa untuk menjelajahi tubuh bagian atas Shien.


Tidak ingin berlama-lama lagi, satu tangan Langit langsung menyentuh bagian yang selama ini disukainya, meremas dada Shien walaupun masih berpenghalang.


“Eungh. . . .” Shien melenguh, ia menggigit bibir bawahnya agar suara desahannya tidak terdengar kencang.


“Langit. . . .” Shien lantas menahan tangan Langit sehingga gerakan yang sedang memberi pijatan di dadanya itu terhenti. “Aku mau mandi dulu.” Gadis itu menoleh, menatap Langit dengan tatapan sayu.


“Besok aja.” Langit menarik dagu Shien, lalu mempertemukan bibir mereka seraya kembali meremas dada Shien.


Sesuatu di balik celananya mulai mengeras. Langit tidak ingin menunggunya lebih lama lagi. Langit ingin segera menanggalkan seluruh pakaian mereka dan segera menyatu di atas tempat tidur king size itu.

__ADS_1


“Langit. . . .” Shien susah payah melepas pagutan mereka dengan menahan kedua sisi wajah Langit. “Tapi ini pengalaman pertama kita, dan aku mau menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.” Ucap Shien dengan wajah memelas.


Langit terdiam seraya mendesah pelan. Ia lalu menyusupkan wajahnya di leher Shien. Tangannya yang semula berada di atas dada gadis itu kini sudah turun dan beralih melingkar di perut ratanya sejenak.


“Aku gak mau ngelakuin itu dalam keadaan lengket dan berkeringat kayak gini.” Cicit Shien malu-malu.


“Nanti juga keringetan lagi.” Sahut Langit kembali mengecupi leher Shien.


“Iya, tapi aku mau malam pertama kita sespesial mungkin.” Balas Shien sambil menahan kepala Langit agar berhenti menciumi lehernya.


Mendesah lagi, Langit kemudian menarik diri. Bagaimanapun, ia tetap harus menghargai keinginan Shien. Ini adalah pengalaman pertama untuk gadis itu, begitu juga untuknya. Jadi, tidak ada salahnya bagi Langit untuk menahan diri sebentar saja.


“Mandi bareng aja gimana, Shi?” Tapi Langit belum menyerah untuk merayunya selama ada celah.


“Habis mandi aja, ya?” Shien balik merayu seraya memberikan satu kecupan di bibir Langit sekilas.


Langit tersenyum melipat bibirnya ke dalam. Kalau dirayu seperti ini, bagaimana bisa ia menolak permintaannya?


“Ya udah, kalau gitu kamu cepetan mandinya.” Ucap Langit.


“Tapi sebelumnya bantuin aku dulu lepasin ini.” Pinta Shien menunjuk rambutnya.


“Oke siap, Non.” Sahut Langit, dan kali ini benar-benar fokus melepaskan jepit rambut dan tiara di kepala Shien.


“Cepetan, nanti kamu keburu mau kayak tadi.” Seru Shien karena suaminya itu tak kunjung selesai. Baru dua jepit rambut yang terlepas, dan tiaranya bahkan masih menempel.


“Ini juga aku udah mau, Shi. Banget malah.” Gumam Langit pelan sambil terus berusaha untuk membuka jepitan di rambut Shien dengan cepat.


********


Sambil menunggu Langit yang masih membersihkan diri di kamar mandi, Shien duduk di atas tempat tidur seraya menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang.


Shien mengambil ponselnya yang sejak tadi sore ia matikan. Didapatinya puluhan pesan masuk di sana, dan sebagian besar isinya adalah ucapan selamat disertai doa atas pernikahannya. Tapi ada yang berbeda dari isi pesan yang dikirim Fina. Dia membagikan beberapa link artikel pada Shien.


Agar Tidak Grogi, Ini Tips Memempersiapkan Malam Pertama Untuk Wanita


Aturan Malam Pertama Supaya Lancar Tanpa Gugup


Rahasia Malam Pertama Biar Sukses


Cara Memuaskan Suami di Atas Ranjang


Gaya Bercinta Agar Suami Puas


11+ Rahasia Agar Suami Minta Lagi dan Lagi, Catat!


Shien terperangah dengan mulut sedikit menganga setelah membaca beberapa dari sekian banyak link beserta judul artikel dari Fina. Mau melakukan ritual malam pertama ya tinggal lakukan saja, kenapa harus membaca tips segala kalau ujung-ujungnya yang digunakan adalah naluri alami? Cih. Shien bergidik ngeri melihat judul-judul artikel itu. Memalukan sekali jika ia sampai membacanya.


Lantas buru-buru Shien membersihkan seluruh pesan dari Fina. Ia akan kehilangan muka kalau Langit tidak atau dengan sengaja melihat semua pesan berisi link nyeleneh tersebut.


“Lagi lihat apa, sih? Fokus banget.”


Suara Langit yang tiba-tiba datang sontak membuat Shien terlonjak kaget seolah sudah terpergok melihat sesuatu yang mesum.


“Eh?” Shien langsung mematikan ponselnya refleks. “Itu, aku cuma lihat foto pas acara akad yang diambil Reno di ponselnya. Dia share sama aku.” Dalihnya kemudian seraya menyimpan ponselnya ke atas nakas. Beruntung Langit hanya mengangguk dan tidak mempermasalahkannya lagi.


Laki-laki itu merangkak naik ke atas tempat tidur dan beringsut mendekati Shien.


“Ehem. . . .” Langit berdehem, ekspresinya tampak gugup. “Shi. . . .” Panggilnya kemudian.


“Hum?” Sahut Shien seraya menautkan alisnya, menatap Langit penuh tanya.


Langit mendengus. Kenapa masih harus bertanya, sih?


“Aku udah mandi. . . .”


Shien tersentak kaget saat tangan suaminya itu merayap, menyusup ke dalam gaun tidurnya yang tipis dan hanya sepanjang paha.


“Langit, maaf. . . .” Shien menahan tangan Langit yang sudah mencapai paha bagian dalamnya.


Langit mengerjap diikuti dengan dahinya yang mengernyit. Seketika ia merasakan firasat buruk begitu melihat gelagat Shien yang memandangnya tidak enak hati.


“Aku lagi. . . .” Shien mengarahkan tangan Langit untuk menyentuh pusat tubuhnya. “Kamu bisa sabar tujuh hari lagi, kan?” Gadis itu menatap Langit dengan perasaan bersalah. Shien juga tidak tahu jika datang bulannya benar-benar datang tepat di malam ini.


“Ya?” Langit merasakan seluruh tenaga di dalam tubuhnya seperti dicabut. Rasanya, ia ingin pingsan saja sekarang.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2