
Ohh, iya. FYI nih, yang mau tahu rambut lolipopnya Shanna, visualnya ada di episode 6. Siapa tahu aja masih ada yang belum lihat dan bingung ngebayangin rambut warna-warni Shanna. 😉
********
********
Shien memejamkan matanya sambil menghela napas panjang guna mencari kesabaran di sana.
Moodnya jatuh sejatuh-jatuhnya setelah beberapa saat lalu Fina membawanya ke ruangan Tante Hilda, lalu menunjukkan berita acara peluncuran buku seseorang yang diadakan tadi malam. Dan yang menjadi fokusnya adalah buku tersebut sama persis dengan buku baru Shien yang akan diterbitkan sebentar lagi.
Selain cover dan nama Penulis, isi di dalamnya persis sama.
Beberapa orang mungkin bisa memiliki ide yang sama dalam menciptakan suatu karya, tapi dalam cara penuangannya sangat tidak mungkin sama layaknya sebuah duplikat, seperti yang terjadi pada karya baru Shien sekarang.
Shien melempar buku sastra bergambar yang mirip dengan miliknya itu ke atas meja dengan kasar. Antara ingin marah dan menangis sekaligus.
“Gak mungkin aku plagiat karya orang, Tante.” Shien mengusap wajahnya frustrasi.
Shien berusaha meredam emosi dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Berkali-kali dia menghembuskan napas berat. Kepalanya terasa berat, menatap ke atas langit-langit. Sesekali dia memijat keningnya.
“Iya. Tante tahu dan Tante percaya.” Sahut Tante Hilda sungguh-sungguh. Dia adalah orang yang paling tahu kemampuan Shien. Jadi, atas dasar apa Tante Hilda tidak mempercayai keponakan kesayangannya itu?
Shien berdecak. Sedikit banyak menyesali kecerobohan dalam menyimpan tablet miliknya sampai benda itu hilang entah ke mana. Dan lebih cerobohnya lagi, Shien tidak memasang security password pada benda itu. Sekarang, karyanya dicuri orang tak bertanggung jawab. Buku barunya yang ia buat dengan sepenuh hati dan cukup menguras tenaganya itu kini sudah tidak mungkin bisa diterbitkan lagi.
Setelah emosinya cukup reda, Shien bangkit dengan sedikit sentakan dan duduk tegap. Ia menyadari sesuatu. Tabletnya bukan hilang, tapi jelas seseorang mengambilnya untuk tujuan tertentu. Salah satunya ya mungkin seseorang ingin mencuri karyanya, atau lebih parahnya mencuri informasi atau data-data penting perusahaan.
“Itu direncanakan, Shien. Tablet kamu yang hilang. Dan kamu ceroboh.” Ujar Tante Hilda, sedikit menegur Shien, tapi sikapnya masih terlihat sangat tenang.
“I think so.” Gumam Shien membenarkan terkaan Tante Hilda.
“Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Menuntut penulis itu? Sudah jelas dia yang nyuri karya kamu.” Tanya Tante Hilda, geram dengan Penulis yang sudah berani-beraninya mencuri karya baru milik keponakannya.
“Berdasarkan latar belakang yang Fina dapatkan, dia adalah Penulis karya sastra anak-anak yang cukup kontroversial. Tidak banyak prestasi yang dia dapatkan selama hampir lima tahun menjadi Penulis. Beberapa karyanya ada yang diprotes publik untuk ditarik kembali karena isinya tidak sesuai dengan buku bacaan yang seharusnya dibaca oleh anak-anak.” Jelas Tante Hilda seraya menyerahkan tablet miliknya yang berisi informasi Penulis yang sudah mencuri karya Shien.
Shien menerima tablet itu dan membaca kembali informasi yang ada di sana dengan seksama. Termasuk mengamati foto si Penulis bernama Lala yang sepertinya dia seumuran dengan Shien.
“Apa kamu pernah nyinggung dia, Shi?” Tanya Fina hati-hati.
Shien menggeleng dengan sebelah tangan memijat keningnya yang berdeyut nyeri. “Ketemu aja gak pernah.”
“Kalau gitu ayo tuntut dia. Penulis gak bermoral kayak gitu harus diberi pelajaran. Selain hukuman penjara, dia juga harus dapat sanksi sosial biar sekalian gak bisa nulis dan nerbitin karyanya lagi. ” Ujar Fina dengan emosi yang meluap-luap, sebelah tangannya meninju lengan sofa geram.
Tante Hilda menyetujui penuturan Fina. Beliau mengatakan jika ia bisa membantu Shien untuk menghancurkan reputasi Lala sehancur-hancurnya.
“Gak semudah itu. . . .” Sahut Shien, membuat Tante Hilda dan Fina mengernyitkan keningnya heran. Shien lantas menjelaskan kalau ia tidak memiliki bukti yang cukup kuat jika ingin menuntut Lala, terlebih Lala sudah menerbitkan bukunya lebih dulu. Ada kemungkinan Lala bisa memutar balikan fakta dengan menganggap Shien sendirilah yang melakukan plagiat karya.
“Dan karena aku gak pernah nyinggung Lala, aku pikir ada seseorang yang di belakang Lala yang mendukungnya.” Sambung Shien terdengar ragu. Jelas, seekor semut saja tidak akan menggigit kalau tidak diganggu. Manusia seharusnya lebih beradab, bukan?
“Kamu mencurigai seseorang?” Tanya Tante Hilda penuh selidik.
Shien mengangguk ragu. “Tapi aku harus memastikannya dulu.” Ucapnya kemudian. Dan Shien menyimpan harapan penuh jika kecurigaannya salah.
“Tapi, sekarang apa yang harus kita lakukan? Diam saja?” Fina masih dengan emosi yang menyelimuti hatinya.
Shien adalah seseorang yang sudah Fina lindungi seperti adik sendiri. Jelas ia sangat marah mendapati hal murahan semacam ini menimpa Shien. Fina adalah orang yang menemani perjalanan Shien sejak gadis itu mulai merintis karirnya hingga sampai ke titik ini. Fina tidak akan membiarkan siapun itu yang berusaha menghancurkan Shien begitu saja.
“Untuk sekarang, walaupun mungkin udah terlambat. Tapi kita membutuhkan teknisi jaringan perusahaan untuk meretas tablet aku yang hilang dan menghancurkan semua data-data penting perusahaan yang ada di dalamnya.” Walaupun dalam hatinya Shien masih sangat marah dan ingin sekali menangis, tapi ia tetap harus mengendalikan emosinya saat ini dan berpikir jernih untuk mengatasi segala kemungkinan yang mungkin terjadi.
“Syukur-syukur kalau orang itu gak ada niat membocorkan atau mencuri data perusahaan. Tapi setidaknya kita harus mengantisipasinya.” Lanjut Shien.
Tante Hilda mengangguk-angguk mengerti.
Salah satu yang Tante Hilda suaki dari Shien, gadis itu memiliki kemampuan problem solving yang bagus. Pembawaannya sangat tenang di tengah emosi yang sedang melanda hati dan pikirannya. Itu persis seperti dirinya.
“Yang kedua, hubungi semua tim yang terlibat dalam proyek buku aku dan beri pengumuman pembatalan proyeknya.” Shien kembali menghela napas berat. Mau tidak mau ia harus merelakan buku barunya.
__ADS_1
“Tap-”
“Aku bisa buat yang baru. Bukan sesuatu yang sulit buat aku.” Sela Shien cepat, memotong ucapan Fina yang sepertinya sangat menyayangkan jika proyek buku baru Shien dibatalkan begitu saja. Padahal, buku itu sudah digadang-gadang akan mendapatkan penghargaan American Indian Youth Literature tahun ini.
“Okay.” Sahut Fina pasrah dan tidak rela tentunya.
“Kayaknya udah, itu aja.” Shien mengakhiri pembicaraannya, ia kemudian mengambil tas yang tergeletak di ujung sofa dan bersiap-siap untuk pergi.
“Fina, saya mengandalkan kamu.” Ujar Tante Hilda, tidak perlu menjelaskan lagi bahwa ia meminta Fina untuk melakukan apa yang Shien katakan tadi.
“Saya akan melakukannya dengan baik.” Sahut Fina yakin, dan dapat diandalkan seperti biasanya.
“Satu lagi.” Suara Tante Hilda menghentikan gerakan Fina yang hendak mengambil buku Lala yang tadi Shien lempar di atas meja. Ia menatap Tante Hilda penuh tanya.
“Jangan sampai ada rumor buruk tentang Shien di perusahaan.” Ucap Tante Hilda penuh penekanan.
“Baik, Bu.” Fina mengangguk mantap.
Setelah tidak ada lagi hal yang perlu dibahas, Shien bangkit dari tempat duduk, lalu bergegas keluar dari ruangan Tante Hilda tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Hal itu jelas membuat Tante Hilda dan Fina memandangnya khawatir, tapi mereka mencoba mengerti perasaan Shien dan memilih untuk membiarkannya terlebih dahulu, karena menghibur Shien bukanlah saat yang tepat sekarang.
********
Secangkir cokelat panas dan tablet dengan halaman kerja di dalamnya, diiringi dengan suara gemericik air hujan menemani pagi yang berarak menuju siang itu, semakin menambah dingin suasana di dalam ruangan akibat udara yang mengalir lembut dari pendingin.
Shien duduk di salah satu bangku paling sudut sambil memandang ke luar melalui jendela kaca besar yang berembun akibat hujan. Sebuah Liblary Cafe milik temannya yang baru saja dibuka satu minggu lalu, menjadi lokasi pilihannya untuk menyingkir dari suasana kantor yang sedang kurang kondusif.
Keinginan Shien untuk menerbitkan satu buku baru sebelum dirinya hiatus dari pekerjaannya untuk waktu yang tidak ditentukan, membuat semangatnya tidak menurun. Itulah yang membuat Shien tetap tenang meskipun perasaan marah masih bercokol di hatinya. Secangkir cokelat panas Shien andalkan untuk menjadi mood booster, menemaninya dalam memenuhi semua daftar keinginan yang sudah ia list.
Shien mengetuk-ngetuk sendok kecil pada bibirnya yang sedikit memucat, lipstick warna teracota yang semula menghiasinya nampak pudar tergerus minuman cokelat panas itu. Dia menyilangkan kakinya anggun, sementara matanya mengamati tetesan hujan yang turun dengan cepat, membasahi setiap objek yang ada di luar sana.
Halaman kerja yang semula kosong di dalam tablet itu kini terdapat tulisan yang berderet rapi, berisi rancangan atau garis besar yang akan menjadi cikal bakal buku barunya. Shien benar-benar harus memulainya dari awal lagi.
Detik berikutnya, Shien meletakkan sendok kecilnya ke atas tatakan cangkir cokelat panasnya. Dengan pandangan bosan, Shien menggulir layar berukuran 10,2 inchi itu ke atas dan bawah. Begitu terus berulang-ulang selama beberapa saat, sebelum kemudian gerakan jari telunjuknya berhenti. Dia memperhatikan detail garis besar untuk buku terbarunya itu. Tapi meskipun demikian, Shien belum bisa mengembangkan atau memikirkan akan seperti apa jadinya rancangan tersebut ke depannya saat ini. Otaknya sudah terlalu semrawut. Rasanya kepala Shien seperti mau pecah karena dipenuhi berbagai hal yang belum terselesaikan.
Shien lantas mematikan layar tabletnya kesal, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan gerakan sedikit kasar. Shien meraih cangkir cokelat panasnya, dan ia baru sadar ternyata cairan berwarna coklat pekat dan sedikit kental di dalam cangkir tersebut sudah habis.
Shien memijat tengkuknya yang sedikit kaku. Kemudian dia beranjak dan memesan secangkir cokelat panas yang lain untuk menemaninya beberapa jam ke depan. Shien membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya.
Menghembuskan napas panjang setelah ia mendaratkan pantatnya di stool bar. Shien berharap ada Langit di sini sekarang. Tapi, sayang sekali laki-laki itu masih belum dapat ia hubungi sampai saat ini. Dan menurut perhitungan, seharusnya Langit sudah pulang dari Yogyakarta karena saat itu Langit mengatakan hanya sampai empat hari di sana.
“Kelihatannya stress banget, Mbak?” Komentar seorang Barista di balik meja pemesanan yang juga merangkap sebagai tempat meracik berbagai jenis minuman mulai dari kopi, cokelat panas, sampai ice blended yang disediakan Cafe yang didesain sangat cozy dan instagramable itu, membuat kalangan muda menggandrunginya.
Shien tersenyum kecut. Tidak bersemangat untuk menanggapinya. Ia terdiam mengamati si Barista yang sedang mengambil bubuk cokelat dari tempatnya.
“Just enjoy.” Saran seseorang yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Shien. Bukan si Barista, melainkan seorang laki-laki tampan berwajah Asia si empunya Cafe, Jackson.
Jackson tersenyum manis pada Shien, rambutnya yang semi basah terkena air hujan membuatnya terlihat lebih maskulin. Dia lantas berjalan ke balik meja bar, menginstruksi Barista untuk bergeser dan mengambil alih pekerjaannya membuat minuman untuk Shien.
Aroma cokelat setelah bercampur dengan air panas, seperti berjalan menyebar ke bawah hidung Shien dibawa oleh asap mengepul yang ditimbulkannya. Tidak sampai lima menit, cokelat panas yang Shien pesan selesai.
“Spesial buat si cantik. I hope this will make you feel better.” Jackson menyodorkan cokelat panas tersebut ke arah Shien.
“Thanks.” Ucap Shien datar, lalu kembali ke mejanya. Ia kemudian menyeruput minuman cokelat itu, setelah sebelumnya mengendus dan menikmati aroma cairan tersebut.
Benar kata Jackson. Cokelatnya berbeda dengan yang sebelumnya ia minum. Kali ini rasanya jauh lebih halus dan aromanya semakin harum karena di dalamnya terdapat rendaman kayu manis. Menenangkan saat menghirupnya, juga menggugah selera Shien untuk meminumnya. Cokelat panas yang ini sangat cocok diminum saat suasana hujan seperti ini.
“What’s wrong?” Jackson menghampiri Shien tidak lama setelah gadis itu kembali ke tempatnya semula.
Shien mendengus malas. “Cuma nongkrong di Cafe dan minum cokelat, apa harus ada masalah?” Sahutnya ketus.
Sementara Jackson terdiam santai sambil menyeruput kopi miliknya yang tadi ia bawa, sudah terbiasa dengan sikap dingin Shien yang sudah dikenalnya sejak gadis itu masih berusia tujuh belas tahun.
“Jangan memendam masalah sendiri.” Tegur Jackson, seakan sangat mengetahui kepribadian Shien yang satu ini.
__ADS_1
“Hmm.” Sahut Shien tanpa minat sambil mengaduk cokelat panasnya dengan stik kayu manis yang menjadi topping minuman tersebut.
“Kalau gitu, ayo sharing.” Seru Jackson penuh harap.
“Aku gak mau berbagi apapun sama kamu.” Balas Shien seraya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, memeriksa siapa tahu ada pesan atau panggilan masuk dari seseorang yang Shien jadikan tempat untuk berbagi setelah ia mengenalnya, Langit. Tapi, nihil. Tidak ada notifikasi apapun yang masuk di ponselnya.
Jackson mendesis sebal, lalu bertopang dagu, memandang makhluk cantik berhati dingin yang ada di hadapannya. “Si tomboy bohong, kan?” Tanyanya, membuat Shien mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud dari pertanyaan laki-laki itu.
“You have a lover.” Jelas Jackson kemudian, nada suaranya terdengar tidak terima, dan juga tidak ingin mempercayainya.
“That’s right. Why?” Jawab Shien jujur dan sangat santai, membuat Jackson langsung cemberut seketika. Sejurus kemudian, ia menggebrak meja hingga membuat Shien terlonjak kaget walaupun gebrakannya tidak terlalu keras.
“Kenapa? Gadis kecil, aku ngejar-ngejar kamu selama delapan tahun. Apa gak keterlaluan kamu malah milih orang yang baru?” Jackson bersungut-sungut, tidak terima ia dikalahkan oleh orang baru begitu saja dan dengan mudahnya.
Shien terdiam sebentar untuk mengambil napas, sebelum kemudian ia menjawab. “Sorry, tapi om-om tua kayak kamu sama sekali bukan tipe aku.
Jackson terperangah tak percaya akan jawaban Shien. Gadis itu masih saja menganggapnya tidak serius, sama seperti tahun-tahun sebelumnya saat ia meminta Shien untuk menikah dengannya.
“Elsa, empat tahun lebih tua mana bisa dibilang om-om?” Tapi, Jackson lebih tidak suka dirinya disebut om-om.
“Wajah kamu emang udah kayak om-om, kok.”
Dan Shien benar-benar sudah menjatuhkan tingkat kepercayaan dirinya ke tingkat paling rendah. Jackson tahu Shien hanya berkelakar, tapi tetap saja ia tidak terima. Usianya yang sebentar lagi menginjak kepala tiga, membuat Jackson menjadi sedikit sensitif jika ada seseorang yang mengatainya tua.
“Elsa aku punya segalanya.” Jackson kembali pada pembahasan awal yang cukup membuatnya jengkel. “Aku mapan, kaya, ganteng banget, body goals, berpendidikan, pasti bertanggung jawab.” Dia mengangkat jarinya satu per satu. “Jadi apa kelebihan dia sampai-sampai kamu membuka hati untuknya?” Jackson masih tidak bisa menerimanya. Tapi, kepribadiannya yang jenaka membuat Shien selalu menganggapnya tidak serius. Seperti saat ini, Shien tetap mengira jika Jackson sedang becanda dengannya.
“Dia punya sesuatu yang kamu gak punya.” Tutur Shien sambil menahan tawa untuk kalimat yang akan ia lontarkan selanjutnya.
“What is that?” Tanya Jackson penasaran.
“Dia lebih muda dari kamu.” Jawab Shien penuh ledekan walaupun diucapkan dengan nada dingin. Gadis itu lalu menyeruput cokelat panasnya yang mulai mendingin. Sudut bibirnya terangkat sedikit di balik cangkir.
“ELSA.” Teriak Jackson kesal. Shien hanya tertawa dalam hati.
Meletakkan kembali cangkirnya. Shien berniat untuk menyahuti Jackson dengan kalimat ledekan lainnya. Tapi, baru saja ia membuat ancang-ancang untuk membuka mulut, ponselnya tiba-tiba berbunyi tanda pesan chat masuk.
Nama Langit muncul di layar.
Sedikit terkejut, tapi tidak bisa dipungkiri jika hatinya terlonjak kegirangan. Namun ia tetap mengendalikan dirinya agar Jackson tidak melihat keantusiasannya saat Shien membaca pesan dari Langit.
“Aku di apartemen kamu sekarang. Kamu di mana? Aku ke kantor, tapi kamu gak ada.”
Dan tidak butuh waktu lama untuk Shien membalas pesan tersebut. Shien mengatakan bahwa ia akan pulang segera menemui Langit di sana.
Shien kemudian buru-buru merapikan semua barangnya, lalu berpamitan pada Jackson untuk pulang. Laki-laki itu lantas menawarinya tumpangan karena Shien tidak membawa mobil, tidak tega juga membiarkan Shien menunggu taksi di tengah hujan seperti ini.
Shien berpikir sebentar, mempertimbangkan tawaran Jackson, dan sejurus kemudian ia menerima tawarannya dengan syarat jika itu tidak merepotkan Jackson.
*********
Shien mengambil langkah besar begitu ia keluar dari lift yang membawanya sampai ke lantai di mana unit apartemennya berada, walaupun ia harus berjalan terpincang karena rasa sakit di kakinya. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Langit yang sudah empat hari ini sangat dirindukannya.
Laki-laki itu sudah berada di dalam apartemen Shien sekarang. Mereka bertukar passcode sehingga keduanya memiliki akses masuk apartemen satu sama lain.
Dilihatnya Langit yang tengah berdiri memunggunginya di depan rak buku dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana jeans yang dikenakannya.
Shien memeluk Langit dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di sepanjang perut laki-laki itu.
Namun, tanpa pernah Shien duga, Langit melepaskan tangan Shien dari perutnya. “Minggir kamu!” Langit berbalik, lalu mendorong tubuh Shien dengan kasar, sehingga membuat gadis itu terjatuh dan punggungnya membentur rak buku cukup keras. Kakinya yang sakit terasa semakin sakit akibat tekanan yang ditimbulkan, mungkin lukanya kembali berdarah.
“Langit, kamu kenapa?” Tanya Shien bingung, juga terkejut dengan sikap Langit yang tiba-tiba memperlakukannya sekasar ini. Hatinya berdenyut nyeri, disusul dengan air matanya yang mulai menggenang.
********
To be continued. . . . .
__ADS_1