
********
Setelah menikmati acara obrolan sore bersama di ruang tamu dan malam tiba, Biru mengajak mereka untuk pindah lokasi ngobrol di halaman bagian belakang rumah sekalian makan malam.
Biru dan Langit menyiapkan menu shabu-shabu di gazebo untuk makan malam mereka, sementara Jingga mengajak Shien duduk di ayunan yang tidak jauh dari sana karena masih tidak tahan dengan aroma daging mentah.
Jingga masih menjadi orang yang paling banyak bicara. Dia seperti si pendongeng dan Shien adalah penontonnya. Banyak hal yang Jingga bicarakan di sana sembari menunggu shabu-shabunya matang, dan Shien hanya menanggapinya dengan kata ahh, ohh, iya, tidak, hmm, atau bahkan hanya anggukkan atau gelengan kepala. Tapi Jingga tidak kesal sama sekali, karena ia sudah tahu dari cerita Langit jika gadis yang sedang duduk di sampingnya itu pendiam dan tidak mudah bergaul. Maka dari itu, Jinggalah yang harus lebih banyak bicara untuk mendekatkan diri dan menghilangkan kecanggungan.
Jingga juga menceritakan awal mula pertemuannya dengan Langit, hingga segala hal yang pernah mereka berdua lalui bersama selama persahabatan itu terjalin. Shien mendengarkannya dengan seksama. Walaupun yang Jingga ceritakan kurang lebih sama dengan yang pernah Langit ceritakan padanya dulu, tapi Jingga menceritakannya dengan gaya yang berbeda sehingga membuat Shien tidak bosan meski ia harus mendengarnya dua kali.
“Langit itu gak pernah sial. Pernah nih, ya. Waktu kami kelas dua belas. Langit coba-coba ngerokok dan ketahuan sama aku. Terus, aku ambil rokoknya dan masukin ke tas. Ehh, tiba-tiba di sekolah ada pemeriksaan. Aku kena hukuman, dong, gara-gara guru BK nemuin rokok di tas aku. Ayah sampai dipanggil ke sekolah, dan selanjutnya aku gak dikasih uang jajan selama sebulan full.”
Jingga menggerutu tak jelas kala mengingat kejadian itu. Berusaha melindungi Langit, ehh malah dirinya sendiri yang tertimpa sial. Beruntung dirinya anak pintar dan katanya itu adalah kesalahan pertama, sehingga pihak sekolah saat itu tidak memberikannya hukuman berat, hanya membersihkan toilet selama satu minggu.
Shien diam-diam tersenyum geli mendengar cerita Jingga. Pantas saja persahabatan Jingga dan Langit terjalin dengan sangat baik, mereka begitu saling melindungi dan tidak menjerumuskan.
Hening sejenak mengambil alih. Barulah setelah Jingga menyelesaikan gerutuan tak jelasnya, gadis itu kembali bercerita.
“Ehh, iya. Kamu mau tahu, gak? Kalau Langit itu. . . .” Jingga menggerakkan tangannya, mengisntruksi Shien agar mendekatkan telinga padanya. Shien merengut bingung, tapi ia tetap menurutinya.
“Orang mesum.” Bisik Jingga. Shien tidak terkejut, ia tahu jelas satu hal ini. Itulah kenapa ia menjuluki laki-laki itu dokter cabul.
“Dia udah nonton blue film sebelum tujuh belas tahun.” Sambung Jingga seraya menarik diri, bibirnya terlipat ke dalam menahan tawa saat ingatannya melayang jauh pada kejadian sepuluh tahun lalu. Tepatnya, saat ia dan Langit masih berusia enam belas tahun.
Shien terperangah mendengar penuturan Jingga barusan. Benar-benar gila, pantas saja isi otak Langit hal kotor semua.
“Dari mana kamu tahu?” Dan ini adalah kali pertamanya Shien mengajukan pertanyaan pada Jingga karena cukup penasaran.
“Waktu itu kami mau belajar bareng di rumah Langit, dan kami biasa belajar di kamarnya. Nah, pas aku mau masuk kamar, ehh kamarnya dikunci dan itu bukan kebiasaan Langit, terus aku ngiranya Langit mau bunuh diri karena stress akibat tuntutan tugas sekolah.” Cerita Jingga terhenti sejenak saat tiba-tiba Shien menyelanya.
“Berpikiran sempit. Kamar itu privasi, semua orang boleh menguncinya.” Shien berujar dingin dan realistis seperti biasanya. Selain itu, Shien sedikit cemburu karena Jingga yang lebih dulu memasuki kamar Langit.
Jingga memutar bola matanya malas seraya menghembuskan napas kesal. “Karena waktu itu banyak berita anak SMA yang bunuh diri, makannya aku jadi kepikiran ke sana.” Sanggahnya kemudian.
“Mau tahu lanjutannya atau enggak?” Tanya Jingga yang sudah sedikit hilang kesabaran menghadapi patung es diberi nyawa itu.
“Kalau kamu gak keberatan.” Jawab Shien gengsi, lalu menyesap jus yang sejak tadi dipegangnya.
Jingga mengerjap takjub dengan mulut sedikit menganga. Heran saja kenapa Langit bisa tahan dengan gadis seperti ini?
Karakternya berbanding terbalik dengan Langit yang super supel, ceria, interaktif, dan mudah bergaul. Sementara Shien begitu dingin dan jutek. Dan bagaimana bisa gadis itu juga tertarik pada Langit yang menurut Jingga sangat cerewet?
Tapi, mungkin itulah yang membuat mereka saling tertarik, layaknya dua kutub magnet yang saling berlawanan akan saling tertarik mendekat. Menurut Jingga, mungkin seperti itulah jalan cerita Langit dan Shien.
“Sampai di mana tadi?” Tanya Jingga yang lupa sudah sampai di mana tadi ia bercerita.
“Ngira Langit mau bunuh diri.” Jawab Shien datar. Jingga ber-ohh ria, kemudian melanjutkan ceritanya.
“Nah, abis itu aku ambil kunci cadangan. Pas pintunya aku buka, ehh Langit lagi duduk di depan laptop pake headphone. Dari kejauhan, Langit kayak lagi nonton pertandingan gulat, tapi ternyata gulat di atas ranjang. Gila gak tuh, Shi? Mana abis itu kabel headphonenya lepas, terus aku denger suara desahan sama erangan keras banget. Ihh malu-maluin kalau diingat-ingat sekarang.” Jingga langsung menutup kedua telinganya yang seketika terasa panas.
“Dan lebih gak warasnya, Langit bilang ke aku kalau itu trend, makannya aku gak jadi ngaduin dia sama kakaknya.” Lanjut Jingga dengan wajah yang sudah memerah menahan malu. Walaupun ia sudah menikah, tapi bagi Jingga melihat film biru adalah hal yang memalukan dan sangat aneh.
“Dan kamu percaya gitu aja?” Tanya Shien dengan tatapan mencibir.
Jingga mengangguk lucu. “Waktu itu aku masih kurang paham sama hal-hal kayak gitu.”
“Ternyata kamu gak sepintar yang Langit ceritain.” Sahut Shien terdengar meledek.
Jingga mendengus, kemudian melakukan pembelaan diri. “Itu gak ada hubungannya. Aku tumbuh dan berkembang sesuai tahapan, makannya saat waktunya tiba aku baru ngerti itu.”
Shien hanya mengedikkan bahu, masih dengan tatapan meledek. Ternyata Jingga di luar ekspektasinya, dilihat dari wajah teduh dan penampilannya yang anggun, Shien mengira gadis itu akan bersikap kalem dan diplomatis seperti nona muda dalam film, mengingat Jingga adalah orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Tapi ternyata tidak.
Dalam banyak hal, Jingga mirip dengan Langit, karakter mereka seperti kelinci energizer yang kelewat berisik dan kepoan sehingga mampu mencairkan kebekuan yang mungkin terjadi karena Shien yang pendiam.
Shien berpikir, mungkin karena itulah mereka tidak cocok menjadi pasangan. Langit dan Jingga terlalu mirip. Seperti medan magnet, kutub yang identik akan saling menolak satu sama lain.
“Ohh iya, Shi. Kamu belum ada rencana jadi seperti aku?” Tanya Jingga, membuuat Shien menautkan alisnya tanda tak mengerti, namun detik berikutnya ia mengerjap paham setelah melihat perut Jingga yang sedikit membuncit itu.
“Hamil?” Sahut Shien dengan polosnya. Gadis itu lantas tersenyum geli dengan wajah dinginnya. “Aku gak segila itu.” Lalu melemparkan pandangannya pada bangunan kecil yang disebut gazebo, yang berada tepat di seberang ayunan yang sedang ia dan Jingga duduki saat ini.
“Menikah, jadi istri, dihamilin, baru hamil.” Sahut Jingga nyeleneh karena Shien rupanya salah tanggap, rencana yang dimaksud Jingga adalah menikah seperti dirinya.
Shien menoleh sambil mengerjap takjub. Dia tidak menyangka jika Jingga bisa bicara sevulgar itu pada orang baru seperti dirinya.
“Maksud aku menikah, Shi.” Jelas Jingga, membenarkan jawaban Shien yang salah tanggap. “Atau jangan-jangan kalian berencana membuat bayi dulu sebelum menikah?” Tambahnya menebak-nebak seiring dengan matanya yang memicing.
“Jangan gila. Kami bukan orang yang akan menentang adat ketimuran kita.” Balas Shien tak terima, walaupun sebenarnya dalam hati ia merasa tidak tahu malu sudah mengatakan itu. Pasalnya, ucapannya itu bertentangan dengan apa yang sudah dilakukannya bersama Langit. Walaupun ia dan Langit tidak tidur bersama, tapi mereka berpelukan dan berciuman sesuka hati. Bukankah itu sudah menentang budaya ketimuran karena gaya berpacaran mereka mengikuti budaya Barat yang seharusnya tidak dilakukan, karena ia dan Langit sebagai warga Indonesia seharusnya sangat menjunjung tinggi moralitas?
“Bagus, deh. Aku cuma takut kalian kebablasan.” Ujar Jingga sambil melirik leher Shien yang ditutupi plester, yang tidak sengaja terlihat karena rambut gadis itu tertiup angin malam. “Karena aku yakin, kalian gak cuma pegangan tangan doang kalau lagi pacaran.” Sindirnya terdengar penuh ledekan. Selain itu, Jingga juga berpengalaman mengalami masa pacaran nakal ala budaya Barat dengan suaminya. Makannya ia berani meledek Shien seperti itu.
“Sok tahu.” Shien mencoba mengelak, namun wajahnya tampak bersemu-semu malu. Membuat Jingga yang melihatnya tersenyum geli dan semakin tergelitik untuk menggoda gadis itu.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, kamu bisa nutupin itu pake make up. Kalau pake turtleneck terlalu panas, dan plester kayak gitu terlalu jelas.” Goda Jingga yang memberikan tips menyembunyikan rahasia nakal sambil menahan tawanya, sehingga membuat bola mata Shien melebar dan otomatis tangannya terangkat menutupi bagian love bite akibat ulah Langit di lehernya.
“Ini. . . .”
“Hickey, love bite. Kamu gak bisa bilang itu bekas gigitan serangga, alasan klasik.” Sambar Jingga penuh cibiran, menghentikan Shien yang baru saja membuka mulutnya untuk berdalih.
Jingga mendesis pelan sambil geleng-geleng kepala. Tidak menyangka jika sahabatnya itu sama bobroknya dengan suaminya. Jingga tahu hubungan Langit dan Shien belum terjalin cukup lama, tapi Langit sudah berani melakukan hal seperti itu pada Shien.
Shien mendengus seraya membuang pandangannya dari Jingga dengan wajah yang terasa memanas, mungkin rona merahnya semakin kentara sekarang.
“Pokoknya, lain kali jangan pake plester lagi. Kamu bisa pake tips yang aku katakan tadi.” Jingga menaik turunkan alisnya, belum puas menggoda Shien.
Sementara Shien hanya memejamkan mata sambil menutup kedua telinga menggunakan telapak tangannya. Tidak ingin mendengar Jingga terus menggodanya. Menyebalkan, di mata Shien, Jingga adalah Langit versi perempuan sekarang.
Dan selang beberapa detik setelah Jingga melontarkan kalimat godaannya, Langit menghampiri dan meminta mereka untuk segera pindah ke gazebo karena shabu-shabunya sudah siap.
Jingga berseru riang dan langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendahului Shien dan Langit.
“Wajah kamu merah. Kamu baik-baik aja, kan, Shi?” Tanya Langit khawatir seraya menyentuh kening Shien, takut-takut gadis itu demam.
“I’m okay.” Jawab Shien sambil menepis tangan Langit yang bertengger di dahinya. “Malam ini panas banget.” Dalihnya kemudian seraya mengipasi diri dengan tangan.
“Masa, Shi? Menurut aku biasa aja.” Langit merengut heran.
Shien meringis. Begitu ada celah, dia langsung mengalihkan pembicaraan. “Mereka udah nunggu, ayo.”
Lantas Shien beranjak dari duduknya dan berjalan menuju gazebo. Tidak mungkin, kan, ia mengatakan kalau wajahnya memerah karena Jingga baru saja menggodanya habis-habisan?
********
Mereka duduk lesehan dengan mengelilingi kompor portable dan panci sup yang diletakan di tengah-tengah. Asap yang mengepul mengeluarkan aroma tersendiri dari kuah kaldu yang gurih dan rebusan menu ala Jepang itu, membuat siapa saja yang menciumnya ingin segera menyantap makanan tersebut.
Jingga yang paling bersemangat, gadis itu bahkan mendapat giliran pertama untuk mencicipi dan menuangkan menu rebusan khas Jepang itu ke dalam mangkuknya. Dengan tidak enak hati, Biru meminta Langit dan Shien untuk memaklumi Jingga karena gadis itu sedang mengandung.
“Shien, boleh minta tolong ambilin udangnya?” Pinta Jingga saat Shien mendapat giliran.
“Biar Shien isi mangkuknya dulu, Ji. Kamu nanti aku yang ambilin.” Tegur Biru yang merasa tidak enak hati karena Jingga menyuruh-nyuruh tamu. Jika itu Langit, Biru tidak akan sungkan. Tapi Shien adalah orang baru.
“Gak apa-apa, kok, kak.” Ujar Shien yang melihat wajah Jingga merengut lucu. Lantas ia mengambilkan udang untuk Jingga yang disambut binar senang olehnya.
Sementara Langit yang mendengar Shien memanggil Biru dengan sebutan kak hanya bisa mendengus. Langit juga lebih tua darinya, lantas kenapa Shien memanggilnya dengan sebutan nama?
Shien lantas menoleh dengan kening berkerut. “Aku ngikutin Jingga.” Jawab gadis itu seadanya. Memang tidak ada alasan yang spesial, kok. Lagipula itu hanya panggilan, kenapa Langit mempermasalahkannya? Seperti anak kecil saja.
“Terus, kenapa aku gak dipanggil kakak juga?” Tanya Langit lagi.
“Itu cuma panggilan. Jangan kekanak-kanakan.” Sahut Jingga sambil melempar Langit dengan kotak tissue dan tepat mengenai kepalanya. Langit sontak mendengus seraya mengusap-usap kepala yang sebenarnya tidak begitu sakit.
“Lihat, kekanak-kanakan gini, mana pantas dipanggil kakak?” Timpal Shien, membuat Biru dan Jingga menahan tawa mendengarnya. Benar kata Langit, gadis itu benar-benar buta romantis.
Sementara Langit hanya mendengus sebal, lalu melahap makanannya dengan kasar.
Mereka menikmati shabu-shabunya sambil berbincang ringan, Biru dan Langit membahas pekerjaan mereka di rumah sakit yang cukup sibuk. Mendengar suami dan sahabatnya membicarakan pekerjaan, seketika membuat Jingga merindukan ruang bedah. Gadis itu hanya bisa mendesah dan gigit jari karena Biru pasti tidak akan mengizinkannya untuk kembali ke rumah sakit selama ia hamil.
“Shien, kamu bisa pake dua tangan sekaligus?” Tanya Biru yang cukup takjub saat melihat Shien menggunakan sumpit untuk mengambil sayuran dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan menuangkan kuah kaldu untuk Langit. Dan menurut Biru, orang yang bukan kidal akan cukup kesulitan menggunkaan sumpit dengan tangan kiri, tapi Shien mampu melakukannya.
“Emm.” Shien mengangguk santai.
“Apa itu semacam Ambidextrous?” Tanya Jingga yang ikut penasaran dengan kemampuan Shien menggunakan kedua tangannya. Langit yang juga baru mengetahuinya ikut mempertajam pendengarannya menunggu jawaban Shien.
“Bukan.” Jawab Shien singkat, seperti biasanya.
“Tapi kamu bisa menggunakan kedua tangan kamu untuk pekerjaan yang berbeda.” Sahut Langit dengan raut wajah heran. Karena yang ia tahu, orang yang dianugerahi kemampuan untuk bisa mengerjakan dua pekerjaan dalam waktu bersamaan dengan kedua tangannya itu dinamakan Ambidextrous. Lantas kenapa Shien menjawab sebaliknya?
“Awalnya aku kidal. . . .” Shien kemudian menceritakan bahwa ia melatih tangan kanannya karena ia kidal. Banyak orang menganggap bahwa tangan kiri itu membawa asosiasi keburukan atau lebih sering dikatakan dengan tangan berdosa untuk melakukan pekerjaan terutama makan. Jadi, karena itulah Shien melatih tangan kanannya hingga akhirnya ia bisa menggunakan kedua tangan dengan sama baik untuk melakukan berbagai tugas.
“Wahh, kalau gitu aku juga bisa melatih tangan kiriku biar lebih banyak gunanya.” Ujar Jingga sambil terkikik geli, lalu kembali beralih pada makanannya.
“Bener, tuh. Plus, kalau tangan kanan terluka, kita gak akan kerepotan.” Timpal Biru.
“Dihh, daripada belajar itu. Mending kalian belajar buat jadi orang tua yang bener dulu aja, deh. Takut-takut nanti Winter ikutan sengklek kayak orang tuanya.” Cibir Langit yang langsung dibalas delikan mata tajam oleh pasangan itu.
Sementara Shien hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka bertiga yang terkadang akur, tapi tak lama saling melempar ledekan bahkan bully-an. Konyol memang. Mungkin seperti inilah rasanya memiliki teman, seketika sudut hati Shien menghangat melihat mereka bertiga.
“Ohh, iya. Kata Bibi, kalian ke sini naik motor, bener?” Tanya Jingga setelah beberapa saat hening. Langit membenarkan.
“Si tukang modus. Gak mikir kalau pulang dari sini itu malem? Dia bisa masuk angin.” Tegur Jingga seraya mengedikkan dagunya ke arah Shien.
“Kan pake jacket, Ji.” Sanggah Langit.
“Sengaja, kan, pake motor buat nyuri kesempatan?” Tembak Jingga dan tepat sasaran hingga membuat Langit nyaris tersedak kuah kaldu. Buru-buru Langit mengambil gelas minumnya.
__ADS_1
“Sayang. . . .” Biru menyentuh lembut lengan sang istri, bermaksud menegurnya untuk tidak berpikiran negatif. Heran saja, semenjak hamil, otak istrinya itu jadi tak terkondisikan. Padahal, biasanya Jingga penuh dengan pikiran positif dan bijaksana. Tidak asal sembur seperti ini.
“Aku bener, kok.” Sahut Jingga sengit sambil menghempaskan tangan suaminya.
“Kamu harusnya bawa tas ransel, Shi, buat nutupin bagian depan kamu. Cowok itu, walaupun terlihat kalem, tetap aja modusnya banyak. Kayak dua orang ini, nih.” Cerocos Jingga seraya melirik Biru dan Langit bergantian, menyindir. Dan Biru hanya bisa menghembuskan napas untuk memupuk kesabarannya. Sementara Langit hanya mendengus sebal.
“Aku juga dulu kayak gitu kalau berangkat sekolah bareng Langit pake motor.” Sambungnya kemudian.
“Dihh, dada rata kayak gitu sok-sokan dihalangin.” Cibir Langit, membuat Jingga langsung melotot kesal ke arahnya.
“Enak aja.” Serobot Jingga tak terima.
“Emang kenyataannya kayak gitu, kok. Aku pernah gendong kamu, dan itu rata kayak dadanya Biru.” Sahut Langit tak mau kalah.
“Si tikus mesum, jadi kamu merasakan itu?” Jingga berteriak kesal.
“Mana mungkin enggak, kalau digendong kan tubuh kamu nempel.” Balas Langit penuh ledekan.
Jingga menggeram kesal, lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Langit yang duduk di sebelah Biru.
“Dasar tikus mesum.” Teriak Shien lagi diiringi dengan tarikan keras di rambut Langit, hingga membuat laki-laki itu terkesiap di tempatnya karena Jingga menyerangnya tanpa aba-aba.
Masa bodoh, pokoknya Jingga hanya ingin menjambak rambut Langit saat ini juga karena sudah membuatnya kesal.
Langit yang tidak mungkin bisa melawan wanita hamil hanya bisa mengaduh kesakitan sambil berusaha menahan tangan Jingga agar tidak menjambak rambutnya semakin keras. “Ji, lepasin, ya ampun sakit. Aku cuma becanda.”
“Becanda mulutmu. Iiihh, Langit kamu ngeseliiiin.” Jingga menarik rambut Langit semakin kencang, hingga membuat laki-laki memekik kesakitan.
“Lepasin aku, dasar kucing garong.” Teriak Langit kesal. Kalau tidak ingat ada bayi di dalam perut Jingga, sudah dipastikan Langit akan balas menjambak rambut panjang gadis itu.
“Apa kamu bilang? Udah ngelecehin aku, sekarang kamu bilang kucing garong?” Jingga mengerahkan semua tenaga untuk menarik rambut Langit, membuat sebagian surai hitam laki-laki itu rontok di sela-sela jari-jari tangannya.
“Kapan aku ngelecehin kamu?” Tanya Langit tak terima, dia terus meringis saat tarikan tangan Jingga semakin kuat di rambutnya.
“Kamu bilang dada aku rata.” Tidak cukup dengan menjambak rambut, Jingga memukuli bahu Langit dengan keras. Hancur sudah kesan anggun yang dibayangkan Shien akan gadis itu.
Melihat pertarungan sengit istri dan sahabatnya yang seperti predator sedang memburu mangsa di depannya itu membuat Biru geleng-geleng kepala. Pasalnya, ia sudah terbiasa melihat mereka seperti itu. terakhir kali Jingga memukuli Langit saat gadis itu tidak sengaja menemukan permen karet durex di dalam mobil milik Langit yang sebenarnya itu milik Bisma yang tertinggal. Jingga memukulinya habis-habisan karena mengira Langit sering jajan di luar.
Sedangkan Shien malah tercenung kaku dengan kerjapan mata takjub di tempatnya. Bisa-bisanya mereka berkelahi seperti anak kecil karena hal semacam itu.
Baik Biru ataupun Shien, keduanya sama sekali tidak ada yang tertarik untuk memisahkan pasangan sahabat yang katanya bagai kepompong itu. Mereka hanya memandangi Jingga dan Langit dengan rahang sedikit terbuka.
“Mereka udah biasa kayak gini. Lanjutin makan aja.” Ujar Biru pada Shien, membuat gadis itu semakin melongo.
Mungkin hanya Biru satu-satunya suami yang membiarkan istrinya berkelahi, dimana suami lain mungkin akan berusaha untuk memisahkan.
“Aku cuma becanda, Ji.” Langit masih berusaha melepaskan tangan Jingga dari rambutnya. Mubadzir sudah perawatan rambut Langit dengan harga puluhan juta itu. Rambutnya mungkin hampir botak sekarang.
“Bi, kucing garong lo nih. Aww, Ji, lepasin.” Teriak Langit mengadu. Biru hanya memutar bola matanya malas seolah mengatakan, siapa suruh becanda keterlaluan dengan ibu hamil? Sudah tahu Jingga itu sangat sensitif sekarang. Terkadang dia bisa menjadi anak kucing yang imut, tapi dia juga bisa berubah menjadi kucing garong dalam sekejap.
“Coba ulangi sekali lagi.” Jingga menggeram semakin kesal. Sementara Langit terus mengaduh dan memohon ampun.
Biru berdecak, lalu dengan santai ia mendekati dan memeluk perut Jingga dari belakang. “Sayang, jangan gini.”
Tapi sepertinya Jingga tidak menyukai apa yang dilakukan Biru, gadis itu malah memberontak. “Awas, kak. Aku masih mau hajar dia.” Pekiknya kemudian.
“Sayang, ingat Winter.” Biru mengelus lembut perut Jingga dalam pelukannya.
Dan barulah setelah mendengar nama Winter disebut, Jingga melepaskan tangannya dari rambut Langit. Namun, raut wajahnya masih menampakkan kekesalan penuh. Deru napasnya naik turun hingga hidung mancungnya terlihat kembung kempis, dan matanya nyalang tajam ke arah Langit yang rambutnya sudah awut-awutan itu.
“Udah, jangan terlalu kesal sama orang.” Biru mengecup pelipis gadis itu, berusaha membuatnya tenang.
“Katanya, kalau ibu hamil kesal berlebihan sama seseorang. Anaknya bisa mirip sama dia lho, Ji.” Biru mengingatkan mitos yang pernah ia dengar dari orang tuanya.
“Kamu mau, Winter kita mirip Langit?” Ujar Biru seperti sedang menakut-nakuti anak kecil.
“Ya gak mau, lah. Kan dia bukan bapaknya.” Sahut Jingga ketus.
“Kalau gitu udahan kesalnya, hem?” Tutur Biru hati-hati sambil mengelus lembut kepala istrinya itu.
Jingga mendengus. Saling melempar tatapan kesal sebentar dengan Langit, dia kemudian bergerak ke tempat duduknya semula. “Aku mau minum.” Pintanya kemudian, dan Biru dengan sigap langsung mengambilkan jus segar untuk istri tersayangnya itu.
Sementara Shien yang melihat penampilan Langit awut-awutan dengan wajah merengut itu hanya menatapnya kaku. Antara ingin tertawa, tapi tidak tega.
“Are you okay?” Tanya Shien ragu. Ia ikut meringis melihat penampilan lelaki tampannya itu.
“It's not fine.” Sahut Langit, masih dengan wajah ditekuk masamnya. Sebagian rambutnya rontok, bagaimana bisa baik-baik saja? Huuh.
********
To be continued. . . .
__ADS_1