So In Love

So In Love
EP. 104. Sesuatu yang Disembunyikan


__ADS_3

********


Walaupun tiba di Dufan sore hari, tetapi tidak mengurangi kebahagiaan serta semangat Langit dan Shien untuk berjalan-jalan di sana. Mereka tidak menaiki wahana ekstrim yang menguji adrenalin karena Shien tidak cukup berani untuk menaiki itu. Keduanya hanya mencoba beberapa wahana ringan, namun tetap membuat senyum di wajah mereka merekah. Karena berdua bersama orang yang dicintai, apapun yang dilakukan terasa lebih menyenangkan.


Langit membawa Shien ke wahana Ice Age. Ia benar-benar menyesal karena satu tahun yang lalu ia mengabaikan hal ini, di saat Shien sangat menginginkan untuk masuk ke wahana tersebut.


“Makasih ya, Lang. Kamu udah nunjukin kalau Dufan ternyata seseru ini.” Ujar Shien dengan senyum merekah yang tidak menyurut sedikit pun dari bibir kemerahannya.


Setelah bermain di Dufan, mereka berjalan sambil bergandengan tangan di pinggir pantai dengan masing-masing memegang minuman bubble di tangan mereka yang bebas. Mereka berniat untuk menikmati matahari terbenam dan festival kembang api terlebih dahulu sebelum pulang.


“Justru aku minta maaf, Shi, karena udah ngecewain kamu waktu itu. Aku udah ngerusak pengalaman pertama kamu tentang Dufan.” Sahut Langit merasa bersalah, hatinya kembali meringis mengingat bagaimana hancurnya perasaan Shien satu tahun yang lalu.


“Tapi kamu udah memperbaikinya hari ini. Dan aku pikir ini dua kali lipat lebih menyenangkan.” Shien menghentikan langkahnya dan otomatis membuat Langit melakukan hal yang sama.


Shien tersenyum menatap mata Langit yang tampak sendu. “Kamu tahu kenapa?” Tanyanya kemudian. “Karena aku bersama kamu. Karena setiap waktu yang aku habiskan bersama kamu, selalu menjadi waktu terindah yang aku miliki, and I want to be with you for a thousand times and more.”


Langit tersenyum geli sekaligus haru. Mendadak hatinya seperti ditumbuhi ribuan bunga yang bermekaran. “Me too. Do you know? The most beautiful thing in this world is being with you, Shienna.” Ia lantas melepaskan genggaman tangannya dari tangan Shien, lalu dengan cepat memeluk tubuh gadisnya itu, tanpa sadar jika mereka sedang berada di tengah-tengah khalayak ramai. “And loving you is the most beautiful thing that I’ve ever have in my life. I love you. I’m so in love with you.”


“Lang, ta-tapi ini di depan umum, banyak yang lihat. . . .” Shien mencoba menyadarkan.


“Biarin. Lagian aku peluk istri aku sendiri, bukan istri orang.”


“I-iya tapi aku malu, Lang.”


Namun bukannya melepas pelukan itu, Langit malah semakin mengeratkan pelukan tangannya di sepanjang pundak Shien sehingga membuat semua orang yang juga sedang menunggu matahari terbenam, memperhatikan mereka dengan senyuman tipis. Entah merasa romantis atau geli dengan adegan itu.


Sejenak Shien terdiam, hingga akhirnya ia tersenyum dan mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Langit.


“I love you too.” Ucapnya berbisik.


Cukup lama keduanya berpelukan, sampai akhirnya mereka melihat langit mulai menjingga karena matahari bersiap untuk kembali ke peraduan, barulah Langit mengurai pelukannya dan mengajak Shien untuk duduk di salah satu bangku yang berada di pinggir pantai.


Keduanya menyaksikan matahari terbenam yang selalu menghadirkan pemandangan romantis dan juga memukau bagi setiap mata yang memandangnya.


“Shien. . . .” Panggil Langit setelah beberapa saat tak ada percakapan di antara mereka.


“Hum?” Sahut Shien tanpa mengangkat kepalanya yang bersandar manja di bahu Langit.


“Kamu tahu apa yang lebih cantik dari sunset?”


“Emm. . . .” Shien menggantungkan ucapannya, berpikir. “Aku?” Lalu mengangkat kepalanya agar bisa menjangkau pandangannya dengan Langit, ia tersenyum geli.


Langit mendengus. “Ngerusak suasana kamu, tuh.” Gerutunya dengan bibir mengerucut lucu.

__ADS_1


“Aku tahu kamu bakal ngegombalin aku kayak gitu.” Ledek Shien sambil menjulurkan lidahnya.


Langit mendesis, lalu dengan gerakan cepat ia menyambar bibir kemerahan Shien sekilas, merasa istrinya itu sangat menggemaskan.


“Ihh. . . .” Shien sontak memukul pelan lengan Langit karena sudah berani mencuri ciuman darinya. Sementara Langit hanya terkekeh, lalu menarik bahu dan kepala Shien agar kembali bersandar padanya.


“Lang. . . .” Panggil Shien sambil menautkan jemarinya dengan jemari tangan Langit.


“Hum?” Sahut Langit membenamkan ciumannya dalam-dalam di puncak kepala Shien.


“Kalau waktu itu aku beneran pergi dari dunia ini, kamu mau nikah sama siapa?” Tanya Shien yang mendadak penasaran untuk menanyakan hal seperti ini.


Langit mendesah berat, lalu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Shien. “Aku pasti gak bakalan kepikiran buat nikah sama orang lain selain kamu. Aku gak yakin bisa mencintai orang lain selain kamu, dan aku juga gak mau mencintai orang lain. Selain itu, aku juga gak yakin bisa ngelanjutin hidup aku kalau sampai itu terjadi.”


“Tapi kamu masih bisa move on dari Jingga.” Cebik Shien tak percaya. Langit mendengus jengkel karena Shien tidak menganggapnya serius.


“Itu karena kamu berbeda, Shi. Kamu udah ngambil sebagian bahkan hampir seluruh hati aku.” Ada helaan napas sejenak sebelum kemudian Langit melanjutkan kalimatnya. “Karena itu, aku gak bisa kalau harus hidup tanpa kamu walaupun cuma satu detik.”


Shien mengulum senyum geli, kemudian mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit. “Gombal.”


“Ihh, ngeselin. Cium, nih?” Dengus Langit sebal dan gemas sekaligus.


“Coba aja kalau berani, nih. . . .” Tantang Shien sambil memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya pada Langit.


Jelas Shien tergelak kencang saat merasakan sengatan geli di pinggangnya. Ia sampai mendekap tubuh Langit agar posisi duduknya tidak merosot karena tubuhnya terasa lemas.


Tenaganya yang kalah kuat dengan Langit membuat Shien tidak bisa melawannya. Ia hanya terus tertawa di tengah-tengah rasa geli yang membuat perutnya kaku.


“Lang, geli. . . .” Rengeknya. Berkali-kali Shien meminta Langit utuk berhenti, tapi laki-laki itu sepertinya terlalu senang melihat ekspresi sang istri yang tertawa lepas.


“Kamu sendiri yang nantangin.” Ledek Langit. Kali ini menghujani wajah Shien dengan ciuman hingga membuat gadis itu semakin tergelak kencang.


“Ampuun, aku capek. . . .” Shien menahan kedua sisi wajah Langit agar berhenti menciuminya.


Melihat wajah sang istri yang sudah memerah dengan napas terengah, Langit perlahan menghentikan gerakan tangannya di pinggang Shien.


“Cium dulu.” Pinta Langit seraya mengelus pinggang Shien seduktif hingga membuatnya mendesah tertahan.


Sedikit mendengus, ia lantas mendekatkan wajahnya, kemudian memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Langit sebanyak sepuluh kali.


“Udah. . . .” Shien menekap mulut Langit menggunakan telapak tangan untuk menahannya yang sepertinya masih belum puas dengan ciuman yang ia berikan. “Kalau mau lebih, bayar. . . .” Kelakarnya kemudian hingga membuat Langit terkekeh gemas, lalu membawa tubuh Shien ke dalam pelukannya.


“Kamu kok jadi ngesilin gini, sih, Shi?” Langit mengeratkan pelukannya sehingga membuat tubuh Shien yang dingin karena terpaan angin malam menjadi terasa lebih hangat.

__ADS_1


“Kan diajarin kamu.” Shien meledek. Langit mendengus geli, semakin gemas dibuatnya.


Sejenak keduanya terdiam dalam posisi seperti itu, membiarkan deburan ombak menjadi pengiring keromantisan mereka. Langit merasa hatinya menghangat. Hanya dengan duduk berdua sambil mendekap Shien seperti ini saja sudah membuatnya bahagia. Ia bahkan rela jika waktu harus berhenti saat ini juga.


“Shi. . . .”


“Hmm.” Sahut Shien tanpa mendongak. Gadis itu terlalu nyaman menyandarkan kepalanya di dada Langit yang bidang.


“Aku mau kamu cerita sama aku.” Ucap Langit dengan tangan yang tidak berhenti membelai rambut panjang Shien sejak tadi.


Shien mengerjap, keningnya berkerut, gagal mencerna maksud ucapan Langit.


“Cerita?” Tanya Shien memastikan, kali ini ia mengangkat kepalanya hingga pandangannya bertemu dengan tatapan Langit yang teduh. Sementara Langit hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


“Cerita apa?” Tanya Shien bingung. Seingatnya, ia tidak memiliki sesuatu yang harus diceritakan pada Langit karena selama ini ia selalu terbuka.


“Masa lalu kamu. Masa kecil kamu, tentang kamu yang tinggal terpisah dari Shanna dan dirawat Tante Hilda.” Jawab Langit hati-hati. Ingatan tentang ucapan Mama Risa satu tahun lalu yang mengatakan jika masa kecil Shien itu berat cukup mengganggu pikirannya.


Sebenarnya bisa saja ia langsung bertanya pada Papa atau Mama mertuanya, tapi ia lebih memilih untuk mendengarnya langsung dari Shien. Sudah lama ia ingin menanyakannya, dan saat ini sepertinya adalah waktu yang tepat. Bukannya Langit ingin membuka luka lama, hanya saja ia ingin dan harus tahu semua hal tentang istri tercintanya itu.


Shien terdiam, raut wajahnya berubah sendu. Bagaimanapun, saat itu adalah titik terberat dalam hidupnya. Tetap akan sedih jika diingat. Tapi berhubung ia sudah berdamai dengan kenyataan, Shien tidak keberatan untuk menceritakan semuanya pada Langit.


“Gak apa-apa kalau kamu gak mau cerita.” Langit sudah bersiap membawa kepala Shien untuk kembali bersandar di dadanya. Melihat perubahan wajah Shien yang tampak sedih, Langit mengira jika Shien keberatan untuk bercerita padanya. Namun tanpa ia duga Shien malah menggeleng sambil menyunggingkan senyumnya tipis.


“Kamu aja udah cerita semua tentang kamu ke aku. Sekarang giliran aku. . . .”


Seperti air yang mengalir, semuanya keluar dari mulut Shien. Ia menceritakan kepada Langit tentang ketidakadilan yang pernah diterimanya saat masih kecil, tentang dirinya yang terkurung di rumah seperti burung dalam sangkar, tentang dirinya yang tiba-tiba kehilangan perhatian dari orang tuanya, sampai kepada dirinya yang pernah menjadi korban pelampiasan emosi orang tuanya hingga terkena aphasia dan mental illness. Langit mendengarkannya tanpa ada satu pun yang terlewat. Sesekali ia mengepalkan tangannya emosi, tidak percaya atas cerita Shien.


“Tapi semuanya berubah. Semuanya baik-baik aja sekarang.” Pungkas Shien seraya menghela napasnya dalam-dalam untuk menahan air matanya yang sudah menggenang agar tidak jatuh.


Sudut hati Langit meringis pilu. Ia kira dirinyalah yang paling tersiksa karena kehilangan Ibu di usia dini dan melihat kematiannya yang mengenaskan secara langsung di depan mata. Tapi ternyata hidup Shien jauh lebih berat, dan Langit semakin merasa bersalah karena pernah menyakiti hati Shien.


Namun di samping itu, Langit merasa bangga dan kagum sekaligus karena kebesaran hati Shien yang bisa menerima orang tuanya kembali sehingga bisa berdamai dengan kenyataan. Shien juga begitu kuat karena sudah mampu melewati masa-masa sulit itu. Langit juga harus berterima kasih pada Tuhan yang sudah menguatkan Shien, karena jika tidak begitu, mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan Shien dan tidak akan merasa seberuntung ini dalam hidupnya.


Langit lantas kembali membawa Shien ke dalam dekapannya, lalu membenamkan ciuman di puncak kepala gadis itu lama-lama. “Terima kasih sudah bertahan, Supergirl.”


Dan sekali lagi, Langit bersumpah tidak akan menyakiti hati Shien. Ia akan selalu mencintai dan melindunginya sebesar dan sekuat kemampuannya sebagai laki-laki.


Tapi. . . .


Ada satu hal yang ia sembunyikan selama dua bulan pernikahannya dari Shien. Tapi Langit ragu untuk mengatakannya sekarang, dan sepertinya ia akan mencari waktu yang tepat untuk itu. Tidak saat ini.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2