
********
Satu tahun berlalu sudah. Sedikit, ada yang terlihat berdeda dari kamar bercat dinding warna merah muda itu.
Aroma farfum yang sangat feminim menyambut indra penciuman Shien begitu ia membuka lebar-lebar pintu kamar Shanna. Masih menyengat seperti biasa, wangi khas Shanna.
Netra jernih seperti biji kacang almondnya menggerayangi setiap sudut kamar, berusaha menemukan sosok yang sedang bermalas-malasan di tempat tidur sambil terbahak-bahak atau terkadang menangis tidak jelas karena drama Korea yang sedang ditontonnya.
Tapi Shien tidak menemukannya. Shien hanya menemukan beberapa poster boy group K-Pop yang tertempel pada dinding kamar Shanna serta ratusan foto polaroid dari member boy group tersebut.
Ini masih seperti mimpi bagi Shien. Mimpi paling buruk dari yang terburuk yang pernah ia alami. Tidak pernah sekali pun Shien berpikir akan kehilangan sosok bersuara cempreng yang terkadang membuat telinganya sakit, sosok yang sering menjahilinya sampai membuat Shien kesal, sosok yang selalu membuat kamarnya yang rapi menjadi berantakan, dan. . . ., Shien tidak pernah melihat kamar Shanna serapi ini. Sebuah ruangan yang sering Shien sebut kandang domba itu sekarang. . . .
“I miss you. . . .” Bisik Shien lemah seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang milik Shanna. Ia lantas meraih bingkai foto yang tergeletak rapi di atas nakas, foto kebersamaannya dengan Shanna dan juga Nathan saat piknik di taman rumah sakit waktu itu. Posisi Shanna di tengah, dan dia yang tersenyum paling cerah. Senyum yang selalu membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang ada di sekitarnya, dan itu hanya milik Shanna.
Kakaknya adalah bunga musim semi yang selalu membawa keceriaan. Bahkan pada saat-saat terakhirnya.
Air mata Shien tahu-tahu sudah jatuh. Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ternyata satu tahun di Amerika tidak benar-benar membuatnya bisa berdamai dengan kenyataan. Itu hanya membuatnya terhindar dari kesedihannya sementara.
“Shi. . . .” Panggilan dari suara lembut seseorang membuat Shien buru-buru menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Shien mendapati Mama bergerak menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya dan mengusap pundaknya lembut. Seulas senyum hangat terlukis di wajahnya. Wanita itu selalu terlihat jauh lebih tegar daripada Shien. Tapi, tidak tahu bagaimana di dalam hatinya. Mungkin saja wanita itu hanya berpura-pura kuat.
“Ayo, Shi. Nathan udah nunggu di bawah.” Ujar Mama, masih dengan suara lembutnya.
Shien mengangguk pelan, lalu beranjak dari duduknya. Shien menatap seluruh ruang kamar itu sekali lagi, membayangkan semua kenangannya yang indah yang pernah ia habiskan bersama Shanna, kemudian menutup pintu kamar itu.
__ADS_1
Shien tidak akan melupakan apapun. Shien akan terus membawa kenangannya bersama Shanna.
Dan Shanna akan selalu menjadi bagian dari diri Shien, untuk selamanya.
********
Hari ini tepat satu tahun kepergian Shanna kurang dua hari. Shien baru saja kembali dari Amerika tadi siang, dan ia sudah berjanji untuk datang berziarah bersama Nathan yang juga baru kembali dari Pakistan.
“Hai, Sha. Kami kembali. . . .” Sapa Nathan dengan seulas senyum menghiasi wajahnya. Sedikit banyak, ada yang berubah dari pusara Shanna. Gundukan tanah merah itu, kini ditumbuhi rumput hijau yang sengaja dirawat. Nathan meletakkan setangkai bunga tulip merah di sana.
“Gara-gara adik kamu dandannya lama sampai bikin aku telat datang.” Nathan melirik Shien sekilas, sehingga membuat gadis itu melempar dengusan sebal padanya.
“Enak aja. Kak Nathan nih yang nyetirnya lelet, jadinya kami kesorean deh, Kak.” Sanggah Shien seolah sedang mengadu pada Shanna, ia lantas ikut berjongkok di sebelah Nathan dan meletakkan satu tangkai bunga tullip miliknya, persis di sebelah bunga milik Nathan.
“Ihh, nuduh. Kamu tuh yang bikin kita telat. Kalau gak dandan kelamaan, kita gak bakalan kejebak macet. Terus kalau gak kejebak macet, aku gak mungkin nyetirnya lelet.” Nathan mendumel tak terima.
Dari Shanna, mereka belajar banyak hal. Terutama mengenai keihklasan, hingga akhirnya mereka bisa menerima kepergian Shanna. Mereka juga menyadari bahwa dalam hidup itu selalu diiringi perjumpaan dan perpisahan.
Shien bahkan meminta Nathan untuk kembali meraih cintanya yang baru. Tapi Nathan malah marah. Bukan marah, sih. Lebih tepatnya menegur Shien karena mengira gadis itu memintanya untuk melupakan Shanna.
Tapi bukan seperti itu maksud Shien.
Shien tidak meminta Nathan untuk melupakan Shanna. Shien bahkan mengancam akan memukul Nathan menggunakan strap heelsnya kalau sampai Nathan berani melakukan itu.
Tapi karena Nathan masih hidup.
__ADS_1
Nathan masih harus melanjutkan hidupnya dan masa depannya masih panjang.
“Pulang yuk, Kak.” Shien bangkit berdiri, disusul Nathan setelahnya.
Keduanya menoleh ke arah pusara Shanna untuk kesekiankalinya, membiarkan semua kenangan indah bersama Shanna kembali berputar di kepala masing-masing. Termasuk kenangan masa kecil mereka yang begitu indah.
“I’ll always love you.”
“I’ll always love you.”
Bisik mereka bersamaan, lalu kembali berbalik dan bergerak keluar dari area pemakaman.
“Shien, ayo lari sampai ke parkiran. Yang kalah traktir makan sepuasnya.” Ajak Nathan menantang.
“Call.” Sahut Shien berani.
Shien sudah lebih sehat sekarang, walau masih harus mengkonsumsi obat imunosupresan untuk pemulihan jangka panjangnya. Berkat Shanna, Shien bisa melakukan semua hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan. Empat bulan ke belakang bahkan Shien sudah melakukan tour keliling dunia bersama Mama dan Papa. Dengan kata lain, Shanna sudah mewujudkan hampir semua mimpi-mimpi Shien.
“Siap, ya?” Nathan memberi aba-aba. Shien mengangguk.
“Satu. . . , lari.”
“Ihh, curaaang.” Teriak Shien kesal karena Nathan berlari mendahuluinya. Padahal, hitungan laki-laki itu belum sampai di angka tiga.
Shien menghentakkan kakinya kesal. Namun sejurus kemudian, gadis itu ikut berlari menyusul Nathan yang sudah beberapa langkah lebih jauh darinya.
__ADS_1
********
To be continued. . . .