
********
“Shien. . . .”
“Kakak. . . .”
Shien yang terbaring di ranjang pasiennya terbangun, matanya berbinar bahagia kala melihat sosok yang selama ini sangat dirindukannya. Shanna.
Shanna tersenyum cerah, secerah dress putih selutut yang dikenakannya. Ia lantas merentangkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh sang adik.
“Jahat.” Umpat Shien langsung. “Kenapa kakak ninggalin aku ke tempat yang gak bisa aku ikutin?” Protesnya sambil terisak.
“I miss you.” Shanna tak mengindahkan protes yang dilayangkan Shien. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh sang adik.
Shien mendengus sembari memukul punggung Shanna pelan. “Bodoh. Aku lebih merindukan kamu, Kak.”
Shanna terkekeh pelan, lalu mengurai pelukan mereka dan duduk tepat di samping Shien. “Kamu baik-baik aja, kan, Shi?” Tanyanya sambil menyampirkan anak rambut Shien yang sedikit berantakan ke belakang telinga. “Kamu bahagia, kan?”
“Berkat kamu. Aku bisa ngewujudin semua mimpi-mimpi aku, Kak.” Jawab Shien menatap Shanna dengan tatapan sendu. “Ohh, iya. Aku udah nikah sama Langit. . . .”
“Aku tahu. Kamu cantik banget pake gaun pengantin itu, Shi. You’re so beautiful, like a Princess. Tapi Langit memperlakukan kamu dengan baik, kan?” Sela Shanna dan bertanya seolah ingin memastikan.
Shien mengangguk yakin sambil tersenyum. “Lebih baik dari yang aku kira. Aku sama dia juga udah. . . .”
“Punya bayi-bayi yang lucu?” Sambar Shanna seolah mengetahui apa yang hendak diucapkan Shien.
Shien tersenyum, lalu sedikit mendesis. “Aku belum lihat mereka.”
“Mereka sehat. Cantik dan ganteng, mirip kamu sama Langit.” Shanna mencubit gemas sebelah pipi Shien. “Kamu harus hidup lebih baik dan lebih kuat demi mereka.” Tuturnya sambil mengusap kepala Shein penuh sayang. “Dan bahagia juga tentunya.”
“Shanna, ayo pulang.” Sosok laki-laki berpakaian serba putih yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Shien otomatis mengalihkan atensi dua saudara kembar itu ke arah kedatangannya.
Dahi Shien mengernyit bingung, merasa tidak mengenal sosok tersebut meski terlihat sedikit familier. Ia lantas menatap Shanna seolah meminta jawaban akan siapa sosok tersebut.
“Kak Shawn.” Sahut Shanna yang mengerti kebingungan Shien.
__ADS_1
Shien lantas menatap lekat-lekat Shawn yang kini berjalan menghampirinya sambil mengulas senyuman hangat. Senyum Shawn sangat mirip dengan senyum milik Shanna.
“Kerja bagus, Supergirl. Selamat udah jadi ibu.” Shawn mengacak rambut Shien gemas dan bangga sekaligus. “Adik kecil kakak udah jadi wanita dewasa sekarang.”
“Tapi sayang kalian gak ada di sisi aku.” Keluh Shien sedih.
Shawn tersenyum. “Kita akan bembali bersama, di kehidupan berikutnya.”
“Dan sekarang kami harus kembali. Kamu juga, Shienna. Pertemuan kita cukup sampai di sini.” Sambung Shawn seraya mengulurkan tangannya pada Shanna untuk membantu gadis itu turun dari ranjang pasien Shien.
“Kalian mau ke mana?” Tanya Shien yang tidak rela melihat kedua kakaknya bersiap pergi.
“Kembali ke tempat yang seharusnya.” Sahut Shawn dengan senyum tenang yang tidak menyurut sejak tadi. Sementara Shanna hanya menyunggingkan senyuman cantik ke arahnya.
“Aku boleh ikut?” Tanya Shien, kakinya sudah terjulur menyentuh lantai dan turun dari ranjang rumah sakit.
“Boleh. . . .” Ucap Shawn, Shien langsung tersenyum semringah mendengarnya. Ia lantas berlari untuk menghampiri mereka yang sudah berdiri di ambang pintu, namun kalimat Shanna menghentikan langkahnya. “Tapi. . . , kamu yakin tega ninggalin mereka yang menggantungkan kebahagiaannya sama kamu?”
“Sayang, kamu mau ke mana? Kami masih butuh kamu.” Shien sontak menoleh saat tiba-tiba mendengar suara Langit di belakangnya. Entah kapan datangnya, Shien tahu-tahu mendapati Langit sudah berada di ruang rawatnya, sedang berdiri sambil menatapnya sedih dengan seorang bayi di dalam gendongannya, sementara satu bayinya berada di stroller.
********
Langit yang sejak semalaman terjaga di samping ranjang pasien Shien sontak beranjak dari duduknya begitu merasakan gerakan tangan Shien yang sudah lebih dari delapan jam tidak lepas dari genggamannya. Hatinya semakin bungah kala melihat Shien membuka matanya perlahan. Ia lantas menekan tombol transmitter calling untuk memanggil Dokter agar segera memeriksa kondisi Shien.
Shien sempat dinyatakan kritis karena pendarahan hebat yang dialaminya pasca melahirkan. Perasaan Langit sangat kacau tadi malam. Ia bahkan belum melihat anak-anaknya yang ditempatkan di ruangan khusus bayi.
Langit sangat bahagia karena kedua anaknya sudah lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Tapi ia hanya bisa fokus pada Shien yang tidak sadarkan diri setelah melahirkan anak-anak mereka. Langit benar-benar takut jika Shien akan pergi meninggalkannya, ia bahkan tidak berhenti menangis, memperlihatkan seberapa rapuh dirinya tanpa Shien.
Orang tua dan kakaknya, bahkan Biru dan Jingga, serta Nathan terus menenangkan Langit dengan mengatakan bahwa Shien pasti akan baik-baik saja. Tapi Langit tidak bisa. Tidak sebelum benar-benar melihat Shien mendapatkan kesadarannya kembali.
“Langit. . . .” Satu kata itu keluar dari mulut Shien begitu matanya terbuka sempurna. Bola matanya berotasi memperhatikan sekitar, ruangan yang sama persis seperti yang ada di dalam mimpinya tadi.
Shien ingat, sebelum ia terbangun, ia melihat wajah Langit yang begitu sedih hingga cukup membuat hatinya sakit. Begitu pun dengan suara tangisan bayi yang terdengar memilukan hingga akhirnya ia memilih untuk berlari ke arah suami dan anak-anaknya. Sebelumnya Shien mengira jika itu bukan mimpi. Tapi menyadari ia terbangun di ranjang rumah sakit dengan Langit di sampingnya, Shien sadar jika yang dialaminya barusan hanyalah mimpi. Mimpi yang cukup sedih, tapi cukup mengobati kerinduannya pada kedua kakaknya.
Air mata Langit mengalir lagi. Ia lantas mengusap dahi Shien dengan penuh kasih sayang, lalu mendaratkan ciuman dalam-dalam di sana. “Shi, kamu sempat kritis selama beberapa jam.” Ucap Langit sambil terus menangis, tangannya lantas terulur mendekap tubuh Shien. “Aku pikir kamu mau ninggalin aku sama anak-anak kita.”
__ADS_1
Shien terdiam, membiarkan Langit menyelesaikan tangisnya hingga laki-laki itu merasa tenang.
“Aku gak mungkin ninggalin kalian. Aku gak bisa dan gak akan rela ngebiarin anak-anak aku dirawat sama ibu tiri.” Shien terkekeh pelan, mentertawakan kalimatnya sendiri sambil mengusap lembut kepala Langit.
Langit mendengus jengkel karena bisa-bisanya Shien tertawa setelah membuat dirinya panik dan ketakutan setengah mati.
“Aku sayang kamu, Shi. Jangan nakutin aku kayak gini lagi.” Langit menarik diri hingga kini pandangannya terkunci dengan mata jernih Shien yang tampak sayu. “Promise that you will never leave me.” Pinta Langit kemudian dengan bola mata yang menggenang.
Shien tersenyum tipis, lalu menyeka air mata yang jatuh mengalir di pipi suaminya itu. “I promise, I will never leave you, and I will stay here with you.” Lalu menarik kedua sisi wajah Langit untuk kemudian mendaratkan satu kecupan di bibirnya lama-lama. “I love you, Langit. And I will always do, till death do us part.”
“I love you too. And there’s no one who loves you like I do. I’m so in love with you, Shienna.” Balas Langit, kemudian mencium bibir Shien, tidak bisa lama-lama karena baru saja bibir mereka saling menempel, Dokter Alice dan seorang Perawat datang ke ruang rawat Shien. Alhasil, Langit dengan cepat menarik diri dan tersenyum kikuk pada Dokter Alice.
Tidak menunggu waktu lama, Dokter Alice kemudian mulai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Shien. Ia mengatakan jika Shien baik-baik saja, namun Shien harus beristirahat total dan dirawat di rumah sakit selama setidaknya satu minggu atau lebih sampai kondisinya benar-benar pulih.
“Ohh, iya. Anak aku?” Tanya Shien yang baru teringat tentang keberadaan mereka. “Mereka di mana? Mereka sehat sama normal, kan?” Tanyanya lagi seraya menatap Dokter Alice dan Langit bergantian. Raut wajahnya berubah sedikit cemas, khawatir ketakutannya selama ini akan terjadi.
Dokter Alice tersenyum geli melihat wajah Shien yang mendadak panik. Begitu pun dengan Langit.
“Keduanya baik-baik saja. Mereka laki-laki dan perempuan, normal dan sehat. Selamat Anda sudah menjadi Ibu.” Ujar Dokter Alice, lalu melirik Langit yang berdiri di sebelahnya. “Dan Ayah.”
Shien menghembuskan napas lega mendengarnya, lalu menggumamkan ribuan syukur kepada Tuhan di dalam hati karena Dia sudah mengabulkan doa yang selalu Shien minta setiap waktu, yaitu membawa anak-anaknya ke dunia dalam keaadaan selamat dan sehat.
“Sayang, Nak. . . .” Terdengar suara Mama yang masuk tergopoh-gopoh setelah Langit memberitahunya bahwa Shien sudah sadar. Wanita paruh baya itu semalaman menjaga cucu-cucunya di ruang tunggu, hatinya meringis pilu karena dua anak kembar yang baru lahir itu belum bertemu orang tuanya. Tapi Mama juga tidak bisa menegur atau memarahi Langit. Beliau maklum karena Langit pasti sangat terpukul mendapati kondisi Shien.
“Shien, ya ampun akhirnya kamu sadar.” Serunya sambil menghambur ke arah Shien. “Terima kasih sudah bertahan dan berjuang melahirkan cucu-cucu Mama ke dunia, sayang”
Shien hanya tersenyum di dalam dekapan Mama. “Maaf membuat Mama khawatir.” Ucapnya sambil menahan tangis.
Entah bagaimana Shien harus menggambarkan perasaannya. Yang jelas, ia sangat bahagia. Bahagia karena dikelilingi keluarga yang begitu menyayanginya, dan kini ditambah dua anaknya dan Langit, membuatnya semakin merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Hanya satu mimpinya saat ini, yaitu menghabiskan waktu bersama mereka selama sisa hidupnya, apapun yang terjadi.
********
To be continued. . . .
__ADS_1