
********
Menjelang persalinan yang diperkirakan satu minggu lagi, Dokter menyarankan Shien untuk melakukan teknik relaksasi sehingga bisa mengurangi kecemasan Shien yang takut melahirkan. Shien juga mengikuti kelas persalinan karena di sana para ibu hamil dilatih untuk mengendalikan rasa sakit ketika bersalin dan diberi tahu mengenai pilihan metode persalinan yang bisa ibu hamil jalani.
Langit yang tidak ingin melihat istrinya kesakitan melahirkan dua anak sekaligus, menyarankan Shien untuk operasi caesar, begitu pula dengan Mama yang menyarankan hal yang sama. Tapi Shien menolak saran tersebut, ia dengan yakin menjawab bahwa ia pasti bisa melahirkan secara normal.
“Sayang, kamu yakin mau normal?” Tanya Langit yang malam itu sedang membantu Shien mengemas barang-barang ke dalam tas untuk dibawa ke rumah sakit nanti saat Shien melahirkan. Rencanya mereka akan tinggal di rumah sakit tiga hari sebelum hari perkiraan lahir Shien tiba.
“Hmm.” Sahut Shien sambil menutup resleting satu tas berisi perlengkapan bayi yang sudah selesai dikemasnya. “Lagian Dokter bilang aku bisa, kok.” Sambungnya meyakinkan.
“Tapi aku yang takut, sayang.” Setelah selesai mengemas barang-barang yang akan di bawa ke dalam tas, Langit lalu beringsut mendekati Shien, kemudian mengusap-usap perut Shien dan menciumnya.
Shien mengernyit bingung, padahal sebelumnya Langit yang selalu menenangkannya setiap kali Shien mengeluh takut melahirkan. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi Langit yang cemas?
“Kan aku yang mau ngelahirin. Kenapa kamu yang takut?” Tanya Shien sambil mengusap kepala Langit yang masih berada di depan perutnya.
Langit menarik diri, lalu menatap Shien dengan tatapan cemas. Ada gurat kegelisahan di wajahnya. “Aku cuma takut. . . .” Ia lantas menjatuhkan kepalanya di bahu Shien. “Takut terjadi apa-apa sama kamu.” Cicitnya kemudian, mengungkapkan kegundahan hatinya.
Menghembuskan napasnya pelan, Shien lantas mengulurkan tangannya, lalu mengusap-usap punggung Langit. “Percaya sama aku, Lang. Aku pasti bisa membawa anak-anak kita ke dunia ini dalam keadaan baik-baik aja.”
“Tapi kalau kamu gak kuat normal, kamu harus turutin apa kata aku. Metode apapun itu walaupun bukan dengan cara normal, kamu tetap akan menjadi ibu yang seutuhnya untuk anak-anak kita.” Ujar Langit, mengingat kebanyakan wanita selalu berpikir dan merasa telah menjadi wanita seutuhnya ketika mereka dapat melahirkan anaknya secara normal, termasuk Shien.
Shien mendorong dada Langit untuk menciptakan sedikit jarak di antara mereka sehingga kini ia bisa bersitatap dengan suaminya. “Everything’s gonna be okay. Trust me, hum?”
Langit kemudian menyentuh sebelah pipi Shien, lalu membelainya lembut. “Yang kuat kamu ya, Shi. Maaf karena perbuatan aku, kamu harus berjuang sampai seberat ini.”
Shien mendengus geli sambil menyentuh tangan Langit yang berada di pipinya. “Apaan, sih? Aku ngerasa kalau semua ini berat.”
Mendengar itu, Langit lantas tersenyum usil. “Kalau gitu, habis si kembar lahir siap dong buat anak ketiga, keempat, dan seterusnya?”
“Ihh.” Shien tersenyum jengkel sekaligus gemas seraya mendaratkan cubitan besar di perut Langit yang berotot. “Yang ini aja belum lahir, kamu udah mikirin punya anak lagi.”
Sementara Langit yang mendengar itu hanya terkekeh geli diiringi ringisan ngilu akibat cubitan tangan Shien yang ditimbulkan. Ia lantas membungkukkan sedikit tubuhnya, menghadapkan wajahnya tepat di depan perut Shien yang buncit.
“Baik-baik kalian ya, Nak.” Langit menempelkan telinganya tepat di perut Shien, tangannya tak tinggal diam mengelus-elusnya. “Mohon kerja samanya, ya, sayang. Jangan buat Mama kalian terlalu kesakitan nanti.” Lalu mencium perut buncit itu lama-lama.
Sedangkan Shien yang menyaksikan itu hanya tersenyum dengan rasa haru yang mendadak menyelimuti hatinya. Sampai saat ini, Shien masih belum percaya jika dirinya dan Langit akan sampai ke sini.
“Aduh, ssssh. . . .” Shien tiba-tiba meringis saat merasakan nyeri di perutnya.
“Ehh, kamu kenapa?” Langit yang panik langsung menarik diri, lalu mengusap-usap perut Shien. “Kontraksi lagi?” Tanyanya, mengingat beberapa hari belakangan ini Shien sering mengalami kontraksi palsu. Tapi justru itu membuat Langit panik karena siapa tahu saja itu bukan kontraksi palsu dan Shien siap melahirkan, karena Dokter mengatakan jika perkiraannya itu bisa saja mndur atau bahkan maju.
“Iya. Tapi aku gak tahu ini palsu atau bukan, soalnya lebih sakit dari sebelum-sebelumnya.” Keluh Shien terus meringis kala rasa nyeri itu datang lagi, detik berikutnya menghilang, kemudian datang lagi.
“Kita langsung ke rumah sakit aja gimana? Aku panggil Mama ke kamarnya, ya?” Tanya Langit dengan wajah panik, pun dengan rona cerah yang biasa ditampilkannya menjadi berubah sedikit pucat.
“Nanti dulu aja, deh. Sakitnya sebentar-sebentar hilang, terus ada lagi, gak terlalu sering. Aku gak yakin kalau ini waktunya. Biasanya juga datang dan pergi soalnya kalau kontraksi palsu.” Sahut Shien sambil mengusap-usap perutnya, berharap agar bayi-bayinya tenang di dalam sana. “Dulu Dokter Alice bilang, kalau perut aku kontraksi disuruh jalan-jalan biar rileks.”
“Ya udah, kamu mau jalan-jalan?” Tanya Langit memandang Shien ragu.
Shien mengangguk. “Di halaman rumah. Kamu temenin, ya?”
Langit kemudian beranjak dari duduk lesehannya, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Shien berdiri.
“Sebentar, aku ambil baju hangat kamu dulu.” Ucap Langit seraya bergerak ke arah lemari untuk mengambil baju hangat Shien.
Shien tersenyum melihat itu. Sejak mereka kembali berbaikan, apalagi setelah mereka menikah. Tidak ada satu hari pun Langit tidak perhatian padanya. Hal itu membuat Shien semakin dibuat jatuh cinta pada Langit setiap waktu.
__ADS_1
“Ayo.” Shien menggamit lengan Langit sesaat setelah ia mengenakan cardigan warna peach yang diambilkan laki-laki itu untuknya tadi.
“Lho, kalian mau ke mana?” Tanya Mama yang kebetulan baru saja keluar dari kamar yang ditempatinya di rumah Langit.
“Perut Shien sakit, Ma. Katanya mau jalan-jalan di luar sebentar, mungkin kontraksi palsu lagi kayak kemarin-kemarin.” Langit menyahuti pertanyaan mertuanya itu.
“Sakit? Sakitnya kayak gimana, Shi?” Tanya Mama lagi dengan raut wajah berubah panik.
“Kayak kemarin aja, Ma. Cuma mulasnya makin kuat. Aku gak tahu ini kontraksi palsu atau bukan.” Jawab Shien tenang, tapi sedetik kemudian ia meringis lagi saat merasakan punggung bawahnya mengencang hingga menjalar ke seluruh bagian perut. “Tapi sakitnya gak sering, Ma.” Tambah Shien.
“Tapi kamu ada lihat flek, gak?” Mama menghampiri Shien yang masih berdiri di ambang pintu kamar, lalu tangannya terulur untuk mengelus-elus punggung bawah Shien yang sering dikeluhkan sakit akhir-akhir ini.
Shien terdiam sambil mengingat-ingat. “Ohh iya. Tadi sore waktu aku pipis, ada flek di celana aku. Aku lupa bilang, soalnya gak ngerasain apa-apa.” Terangnya kemudian, membuat Mama dan Langit yang awalnya sudah panik menjadi semakin panik.
“Ya ampun, Shi, kok kamu ceroboh? Itu mungkin kamu mau ngelahirin.” Tegur Mama khawatir. “Kalau gitu, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, gak usah nunggu sakitnya sering.”
“Tapi kalau ini cuma kontraksi palsu gimana?” Tanya Shien tak yakin.
“Ya gak apa-apa, Shi. Lagian kamu tetap harus periksa, katanya tadi ada flek. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Udah tunggu dulu di sana, aku ambil kunci mobil dulu sama tas bayi yang tadi.” Langit menunjuk sofa yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri, lantas dengan cepat ia melepaskan tangan Shien dari lengannya, lalu bergegas kembali ke kamar.
“Ma. . . .”
“Bener kata Langit.” Mama menyela ucapan Shien yang tampak seperti ingin protes. “Kalau gitu, Mama ke kamar dulu buat bangunin Papa.”
Shien hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah, menatap Mama yang juga beranjak masuk ke kamar.
“Lho, kok malah ke kamar? Aku bilang kamu tunggu aku sambil duduk di sofa, Shi.” Tanya Langit dengan kening mengernyit. Padahal, baru saja ia akan melangkah keluar dari kamar, tapi ia malah mendapati sang istri masuk.
“Aku mau ke kamar mandi dulu.”
“Mau ngapain?” Tanya Langit.
“Kenapa?” Sambar Langit tak sabaran, lalu meletakkan tas berisi perlengkapan bayi yang ditentengnya ke atas tempat tidur sebelum kemudian menghampiri Shien yang berdiri tidak jauh darinya.
“Kayaknya aku pipis di celana.” Ucap Shien sedikit malu mengatakannya. Beberapa saat yang lalu, ia merasakan seperti ada air yang keluar dari area intinya tanpa bisa dikontrol.
Langit mengerjap antara bingung dan cemas sekaligus. “Hah, pipis di celana gimana?”
Shien mendengus, apa itu harus dijelaskan? Huuh. Shien bahkan sudah merasa celananya sangat basah sekarang. Itu terus mengalir dan rasanya sulit untuk ditahan.
Detik berikutnya, mata Langit terbelalak begitu melihat air yang mengalir di kaki Shien.
“Shi, itu bukan pipis. Itu air ketuban kamu pecah.” Ucap Langit panik, sementara Shien hanya terdiam dengan wajah bingung. Terang saja karena ini adalah kali pertama bagi Shien, jadi ia belum tahu seluk beluk hal ini sehingga sulit untuknya mendeteksi bahwa air ketuban sudah pecah, ditambah Shien tidak merasakan apa-apa.
********
Shien sudah dibawa masuk ke ruang bersalin tidak lama setelah Langit membawanya ke rumah sakit, karena setelah diperiksa, Shien sudah mencapai pembukaan tujuh, dan tidak butuh waktu lama juga bagi Shien untuk sampai di pembukaan sembilan.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Mama, Papa, Langit, dan juga Papa Wijaya, semuanya terjaga untuk menyambut kelahiran anak dan cucu kembar mereka.
Meski sebelumnya dihantui rasa takut melahirkan, nyatanya Shien sangat tenang saat menghadapi pembukaan lahiran dalam proses persalinan normalnya. Justru sebaliknya, Langit yang semula selalu menenangkan Shien, kini laki-laki itu terlihat sangat tegang dan cemas, keringat dinginpun tampak tidak berhenti mengalir melalui sisi wajahnya.
Sesuai keinginan Shien sebelumnya. Selain Langit, ada Mama yang berdiri menemaninya di ruang bersalin.
“Jangan takut, ya, sayang. Semangat. Mama gak sabar buat ketemu mereka.” Ujar Mama menyemangati sambil menggenggam tangan Shien, seolah menyalurkan kekuatannya melalui genggaman tersebut. Shien dengan wajah lelahnya hanya mengangguk seraya mengulas senyuman tipis.
“Oke, sudah siap.” Seru Dokter Alice setelah memeriksa Shien dan sudah mencapai tahap pembukaan sempurna.
__ADS_1
“Semangat, sayang. Kamu pasti bisa.” Langit yang sejak tadi terdiam tegang ikut menyemangati sambil mengusap-usap rambut Shien yang sedikit basah karena keringat. Ia lantas mencium kening Shien penuh sayang sebelum kemudian Dokter memberi instruksi pada Shien untuk mulai mengejan.
Dan detik berikutnya, suara teriakan Shien antara menahan sakit dan berusaha mendorong anaknya keluar menggema di ruang bersalin yang cukup besar itu.
Terkadang Shien merintih dan menangis sambil mencengkram tangan Langit saat rasa sakit yang luar biasa itu kembali ia rasakan. Namun Shien tidak mengeluh sedikit pun. Tidak ada sebersit pikiran pun ia ingin menyerah untuk melahirkan anak-anaknya meski ia harus menahan sakit yang tak bisa digambarkan.
Melihat sang istri yang sedang berjuang dengan susah payah untuk melahirkan anak-anak mereka, rasanya Langit ingin menangis, air matanya tahu-tahu sudah menggenang di pelupuk matanya, tapi Langit berusaha menahan itu agar tidak tumpah. Dan Langit kembali menggumamkan janji di hatinya bahwa ia tidak akan pernah menyakiti hati Shien. Tidak, bahkan jika hanya berpikir untuk itu.
“Ayo, Shien. Kamu kuat, sayang.” Langit kembali menyemangati saat melihat Shien yang terlihat mulai kelelahan dan berhenti mengejan, padahal dokter terus menginstruksinya untuk terus melakukan itu.
Shien mengangguk, tidak sanggup berbicara lagi. Ia lantas meraup udara banyak-banyak sebelum kemudian kembali mengejan dan kali ini mengerahkan seluruh tenaganya yang ia mampu, hingga tidak lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar nyaring memenuhi ruang bersalin itu.
Mama bernapas lega untuk sejenak. Sementara Langit masih tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Shien yang wajahnya terlihat semakin memucat dan kelelahan. Untuk saat ini, Langit tidak terlalu mempedulikan anaknya yang dibawa oleh salah satu Perawat untuk dibersihkan.
Shien tampak bernapas terengah-engah, kembali meraup udara banyak-banyak untuk melingkupi paru-parunya. Matanya terpejam sejenak, merasakan kelegaan. Namun sejurus kemudian ia teringat masih ada satu bayi lagi yang harus ia lahirkan.
Dokter Alice kembali memeriksa bayi kedua dan membenarkan posisinya sembari menunggu Shien beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya dan memastikan gadis itu siap untuk melahirkan bayi keduanya.
Tidak menunggu waktu lebih lama lagi, Dokter Alice melakukan proses persalinan bayi kedua. Shien melakukan hal yang sama seperti tadi, dan tidak sampai lima menit, tangisan bayi laki-laki yang terdengar lebih nyaring dari bayi pertama mereka yang berjenis kelamin perempuan, kembali menggema di ruangan itu.
Langit tersenyum haru diiringi air matanya yang tahu-tahu sudah meleleh. Ia lantas menciumi punggung tangan Shien. “Kamu berhasil, sayang. Mereka udah lahir. Anak-anak kita.”
“Selamat, sayang. Kamu udah jadi Mama sekarang.” Mama menimpali dengan bangga. Perasaan haru menyeruak di hatinya sehingga membuat Mama tidak tahan untuk tidak menangis.
Sementara Shien yang merasakan tubuhnya sangat lemas karena tenaganya seperti habis terkuras hanya bisa tersenyum dan tidak sanggup berbicara. Shien juga merasakan kepalanya pusing.
“Terima kasih, sayang, sudah berjuang untuk membawa anak-anak kita lahir ke dunia.” Langit mendaratkan satu kecupan dalam-dalam pada kening Shien yang berpeluh, seolah itu adalah sebuah penghargaan untuk sang istri yang sudah berhasil melahirkan anak-anaknya ke dunia.
“Langit. . . .” Ucap Shien dengan suara lemah, bibirnya terlihat semakin pucat hingga tampak kebiruan.
“Hum? Ada apa?” Tanya Langit menarik diri untuk mempertemukan pandangannya dengan Shien. Tampak raut wajah Shien tidak baik-baik saja, dahinya mengerut seperti menahan sakit.
“Sakit. . . .” Jawab Shien, tangannya yang ada di dalam genggaman Langit terasa dingin dan mulai melemah.
Langit yang semula merasa lega, kini kembali panik dan bingung sekaligus. Saat melahirkan anak-anaknya, Shien tidak mengeluh sakit atau apapun itu. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba ia mengeluh sakit?
“Perut aku sakit.” Ucap Shien lagi.
“Ya?” Sahut Langit. Tapi detik berikutnya, suasana mendadak lebih panik saat Langit melihat Shien tiba-tiba tidak sadarkan diri. Begitu pun dengan Mama yang terkejut bukan main.
“Sayang. . . .” Langit mencoba memanggil istrinya. Tangannya yang masih menggenggam tangan Shien tampak gemetar.
“Dokter?” Langit melirik Dokter Alice seolah meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada istrinya. Wajahnya terlihat sangat cemas, ia hampir menangis lagi. Sementara jantungnya sudah berdegup tidak karuan, bayangan burukpun seketika berkelebat memenuhi kepalanya, tapi dengan cepat Langit menepis itu.
“Rahim tidak dapat berkontraksi, pasien mengalami pendarahan hebat.” Ujar Perawat yang memeriksa kondisi Shien.
Dokter Alice yang tetap berusaha tenang mengangguk, lalu meminta Langit dan Mama untuk keluar dari ruang bersalin karena Shien butuh penanganan lebih lanjut. Dokter Alice mengatakan pada Langit dan Mama untuk tetap tenang dan banyak berdoa untuk keselamatan Shien.
Meraup wajahnya kasar. Langit merasa hatinya benar-benar hancur. Shien sudah berjuang mati-matian untuk membawa anak-anak mereka lahir ke dunia. Haruskah Tuhan membuatnya kesakitan lagi setelah itu? Kenapa? Kenapa bukan ia saja yang menggantikan sakitnya? Shien sudah terlalu banyak berkorban.
Di luar ruangan, Langit tidak berhenti menggumamkan doa di dalam hatinya. Ia memohon dengan sangat agar Tuhan membuat Shien baik-baik saja.
Ia memohon dengan sangat agar Tuhan memberi kesempatan pada dirinya dan Shien untuk membesarkan anak-anak mereka bersama-sama.
“Kamu bilang aku harus percaya sama kamu kan, Shi?” Gumam Langit dalam hati sambil menatap nanar pintu kaca di hadapannya dengan mata yang berlinang-linang. “Aku percaya sama kamu, Shi. Kamu pasti bisa bertahan demi anak-anak kita, demi aku juga. Aku sama anak-anak butuh kamu, Shi. Aku mohon, tetaplah kuat.”
********
__ADS_1
To be continued. . . .