
Tolong dibacanya setelah buka aja. 😁
********
“Shien, mana cincin yang pernah aku kasih waktu itu?” Tanya Langit sambil menadahkan tangannya. Mereka masih anteng dengan posisi sebelumnya, dimana Shien duduk di pangkuan Langit.
Dahi Shien mengernyit bingung. “Ada. Buat apa? Kok diminta lagi?”
“Mau aku jual lagi, sini cepetan.” Jawab Langit sekenanya.
“Kenapa? Kamu bangkrut?” Langit memutar bola matanya malas sambil berdecak kecil karena Shien malah menanggapinya.
“Kalau aku bangkrut dan jadi dokter miskin, kamu mau apa? Mau bilang nyesel udah nerima aku? Hem?” Tanya Langit sambil merapikan rambut Shien yang sedikit berantakan.
Mendengar pertanyaan itu, lantas Shien tergelitik untuk menjahili makhluk tampan yang ada di hadapannya ini. “Ya. . .iya lah. Mana mau aku sama cowok bangkrut.”
Langit mendengus dengan sorot mata yang tidak lepas menatap wajah Shien saat ini. Gadis itu terlihat menahan tawa dengan wajah bersemu merah, sungguh menggemaskan.
“Selain penyakit jantung, aku punya penyakit lain soalnya.” Imbuh Shien.
Kening Langit terlipat dalam. “Penyakit apa?” Tanyanya dengan raut wajah serius.
“Penyakit takut diajak hidup susah.” Ujar Shien hingga membuat Langit tergelak pelan. “Kepala aku bisa pusing kalau lihat uang sedikit.”
Belajar dari mana Shien hingga bisa berbicara sekonyol ini? Dimana gadisnya yang dulu selalu memasang wajah sedingin es dan berbicara seperlunya? Langit tak menyangka jika Shien bisa bergurau seperti ini. Benar-benar penuh kejutan.
“Jadi kamu mau sama aku karena uang aku, gitu?” Balas Langit.
“Yaa gitu, deh.” Sahut Shien dengan senyum dan tatapan meledek. Sambil mengelus lembut salah satu sisi wajah Langit, gadis itu kembali berujar. “Makannya kamu kerja yang rajin, soalnya pacar kamu ini matre. Baru tahu, kan?”
Langit mendengus geli, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi untuk membalas ucapan Shien yang konyol itu. Lantas yang ia lakukan adalah menggigit hidung Shien dengan gemas.
“Hiiish, jorok.” Shien memukul pelan pundak Langit, lalu mengusap hidungnya yang sedikit basah. Sementara Langit hanya menjulurkan lidahnya meledek.
Terdiam sebentar seraya menarik napasnya, tangan Langit kemudian terulur untuk meraih satu tangan Shien yang berada dipundaknya untuk ia genggam.
“Kamu tenang aja. Aku akan menghasilkan banyak uang setiap harinya dan memastikan kamu sama anak-anak kita nanti gak bakalan kekurangan.” Tutur Langit berubah serius, padahal Shien hanya bergurau. Lalu dikecupnya punggung tangan Shien dalam-dalam.
Tapi sepertinya sikap jahil dan konyol Langit sudah menulari Shien. Karena setelah Langit mengatakan itu, Shien langsung tersenyum jahil dan kembali meledeknya. “Aku belum ada bilang mau nikah sama kamu, tuh.” Lalu menjulurkan lidahnya, persis seperti yang dilakukan Langit tadi.
“Shienna. . . .” Dan jika Langit sudah memanggilnya dengan nama lengkap, perasaan Shien mulai tidak enak seiring dengan tatapan mengerikan yang dihunuskan laki-laki itu padanya, membuat Shien merinding saat melihat itu.
“Langit.” Shien mengusap penuh wajah Langit untuk menghilangkan ekspresi itu, tapi Langit malah tersenyum miring. Detik berikutnya, suara pekikan terdengar saat Langit tiba-tiba membaringkannya di atas sofa dan mengapit tubuh gadis itu diantara kedua lututnya.
Lalu gelitikan kecil Langit berikan di kedua pinggang Shien hingga membuatnya tergelak kencang dan menggelinjang layaknya cacing kepanasan.
“Ampuun, Langiiit.” Rengek Shien. Namun Langit malah semakin gencar menggelitikinya. Ia selalu suka melihat tawa lepas Shien seperti ini.
Shien mengerang sekaligus menggeliat di bawah kungkungan Langit. Wajahnya memerah karena menahan rasa geli yang menyerangnya tanpa jeda.
“Langit. . . , perut aku kraaam.” Suara Shien terdengar putus-putus karena deru napasnya yang tersengal akibat mulai kehabisan tenaga. Satu tangannya dengan susah payah menahan tangan Langit agar berhenti menggelitikinya, sementara tangan yang lain menahan dressnya agar tidak terangkat lebih tinggi.
“Makannya jadi orang jangan ngeselin.” Langit menghentikan kegiatannya, lalu ia menjatuhkan tubuhnya di sebelah gadis itu, dan membawanya ke dalam dekapannya.
Shien sedikit tersentak, namun tetap membiarkannya. Sejenak mereka terdiam. Shien sibuk menetralkan napasnya yang masih memburu cepat seiring dengan dadanya yang naik turun seirama. Sementara Langit asyik menciumi dan mengendus rambut Shien yang beraroma lembut dan manis.
“Udah lepasin, aku mau ambil cincinnya.” Pinta Shien sambil mendorong dada Langit yang bidang.
“Ya udah sih ambil aja. Kan tasnya di bawah, gak perlu bangun juga bisa.” Sahut Langit seraya mengedikkan dagunya ke arah tas Shien yang tergeletak di bawah sofa.
“Kalau kayak gini, gimana cara ngambilnya?” Dengus Shien sembari memukul pelan lengan Langit yang masih enggan untuk melepaskan lilitannya pada tubuh Shien.
“Aku aja yang ambil. Dimana?” Tanya Langit. “Dompet.” Shien menyahutinya singkat.
__ADS_1
“Eungh. . . .” Gadis itu melenguh tatkala tubuh Langit yang besar dan menjulang tinggi tak sengaja menimpanya saat laki-laki itu bergerak untuk mengambil dompet dari dalam tas Shien.
“Shien, kamu sengaja godain aku?” Tanya Langit sesaat setelah dirinya berhasil mengambil dompet milik Shien. Ia lantas menyusupkan tangannya di bawah leher Shien untuk dijadikannya sebagai bantalan, lalu kembali menarik tubuh gadis itu agar menghadapnya.
Sementara Shien yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya mengerjap bingung. Kapan ia menggodanya, coba?
“Suara tadi. . . .” Langit berbisik tepat di telinga Shien hingga bibirnya yang hangat tak sengaja menyentuh daun telinganya, membuat gadis itu bergidik. Antara geli dan seperti ada aliran listrik kecil yang menyengatnya.
“Ihh, Langiiiit.” Shien mendaratan satu cubitan panas di perut berotot milik Langit begitu otaknya menangkap apa maksud dari laki-laki itu. Cih, itu kan reaksi alami karena ia ditimpa beban berat, kenapa Langit berpikiran seperti itu? Dasar cabul.
“Coba ulangi.” Pinta Langit diiringi senyum penuh ledekan.
“Apaan, sih?” Sahut Shien ketus, antara kesal dan malu sekaligus. Tangannya lantas terulur merampas dompetnya dari tangan Langit untuk mengalihkan perhatian laki-laki itu agar berhenti menggodanya dan berbicara nyeleneh.
“Otak kamu, tuh.” Shien memukul kepala Langit dengan dompetnya. “Banyakin minum Biolysin biar smart. Jadi otak kamu bersih gak cabul melulu isinya.” Gerutunya dengan tangan sibuk mencari-cari benda kecil dan berkilauan itu di dalam dompetnya.
Langit yang mendengar gerutuan Shien hanya bisa mendengus dengan bibir yang mengerucut lucu. Tapi matanya tampak berbinar, melihat wajah kesal Shien yang sedang menggerutu, itu sangat menggemaskan. Rasanya, ingin sekali Langit mengurung gadis yang berada dalam dekapannya ini di dalam kamar seharian penuh, atau selamanya kalau bisa.
“Nih. . . .” Shien menyerahkan cincin yang beberapa waktu lalu diberikan Langit padanya.
Langit menerima cincin tersebut, lalu memperbaiki posisi tidurnya dan Shien agar lebih nyaman. “Tangan kiri.” Lalu menadahkan tangannya, meminta Shien menyerahkan tangan kirinya.
Langit meraih tangan kiri Shien begitu dia mengulurkannya. “Shien, cincin ini udah aku kasih kutukan.” Dan dengan gerakan perlahan, Langit menyematkan cincin tersebut di jari manis Shien.
“Kamu gak bisa nikah sama cowok manapun selain aku.” Imbuh Langit begitu cincin tersebut terpasang sempurna. Shien mendengus geli mendengar itu. Langit ini benar-benar pandai bicara.
“Mulai sekarang, kamu udah kena kutukan Langit. Dan selamanya, kamu gak akan bisa lepas dari aku, sekuat apapun kamu berusaha ingin melepaskan.” Shien merasakan tangannya terangkat, detik berikutnya bibir Langit yang lembut dan lembab mendarat tepat di punggung tangannya.
“Sekarang giliran kamu.” Ucap Langit kemudian, membuat Shien terdiam sesaat dengan ekspresi bingung. Tapi kemudian Shien mengerti begitu Langit merogoh saku bagian belakang celana jeans yang dikenakannya, lalu mengeluarkan benda berkilauan yang sama dengan miliknya.
“Ini?” Shien menatap Langit penuh tanya saat ia menerima cincin dengan ukiran namanya di bagian dalam.
Langit mengangguk pelan dengan senyum tipis tersungging di bibir kemerahannya. “Itu cincin pasangan.”
Gadis itu mengerti. Tanpa menunggu lagi, ia kemudian menyelipkan cincin itu di jari manis Langit, lalu menatapnya sebentar dengan sorot mata berbinar.
“Selamat, Shien. Kamu udah jadi tunangan aku sekarang.” Ucap Langit dengan senyum semringah menghiasi wajahnya. Shien mendongak dan ikut tersenyum. Shien tidak percaya ini. Dia bahkan tidak geli saat mendengar bahwa dirinya sendiri sudah bertunangan dengan laki-laki yang di hadapannya sekarang. Padahal, baru beberapa jam yang lalu Shien mengutarakan perasaannya.
Tidak jauh berbeda dengan Shein, Langit pun sama tidak percayanya. Tidak peduli jika ini terlalu cepat. Karena Langit tahu, Shien adalah satu-satunya orang yang tepat untuknya, satu-satunya orang yang diinginkannya. Baik sekarang ataupun nanti, Shien tetap akan menjadi pilihannya, dan tidak akan ada yang bisa menggantikan tempatnya. Langit sangat yakin akan hal itu.
“Gak keberatan, kan, kalau acara tunangannya sambil rebahan kayak gini?” Shien tersenyum geli, lalu menggeleng. Ini sudah lebih dari cukup. Bisa berada di samping Langit saja, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar bagi Shien.
“Biar beda dari yang lain.” Imbuh Langit diiringi kekehan geli setelahnya.
Shien mencebik dengan tatapan meledek. “Bukannya gak mau keluar modal?”
“Hiish, jangan ngerusak suasana, doong.” Langit berpura-pura cemberut. Sementara Shien hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
Sejenak mereka terdiam dengan pandangan saling beradu. Satu tangan Langit yang bebas lantas terulur untuk mengusap rambut Shien yang halus. Langit sangat menyayangi gadis ini, ia berjanji tidak akan melukainya sedikit pun.
“Shien. . . .” Panggil Langit dengan tatapan teduh.
“Hem?” Sahut Shien sembari menggeser tubuh dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Langit.
“Makasih, ya.” Langit membiarkan bibirnya terbenam diantara rambut halus dan wangi milik Shien. Gadis itu sudah mewujudkan salah satu impiannya. Langit tidak pernah merasa sebahagia ini, dan merasa tidak bisa lebih bahagia lagi.
Shien mengernyitkan keningnya tak mengerti. “Makasih? Untuk?”
“Memilih aku.” Jawab Langit, lalu mencium tangan Shien yang sejak tadi asyik bermain-main di dagunya.
Shien hanya tersenyum tipis seiring dengan tatapannya yang berkilat-kilat, seolah berusaha menyampaikan sesuatu melalui sorot matanya itu. “Aku juga.”
Ya, Shien lebih bersyukur lagi karena Langit telah memilihnya. Terlebih, mencintainya setulus hati. Shien bisa merasakan itu.
__ADS_1
“Shien.” Panggil Langit lagi. Satu tangannya mengelus lembut sisi wajah Shien, menatap lekat-lekat pantulan wajahnya sendiri di dalam kedua bola mata jernih milik gadis itu.
“The story of our love is only beginning. Let’s write our own happy ending.” Shien membalas penuturan Langit itu dengan satu angukan kepala tanpa ragu.
Langit tersenyum senang, lalu mencium kening Shien dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Berusaha menyalurkan cinta yang berkembang begitu pesat di dalam hatinya melalui ciumannya itu.
“Boleh cium ini, gak?” Tanya Langit setelah menarik diri, ibu jarinya mengusap-usap lembut bibir kemerahan milik Shien yang sedikit memucat itu.
Shien mendengus, tangannya refleks memukul pelan lengan Langit. Sudah berapa kali mereka melakukannya hari ini? Apa masih perlu izin lagi? Tapi tetap saja, ditanya seperti itu membuat wajah Shien memanas hingga semburat merah terbit di pipinya.
“Gak boleh.” Sahut Shien dengan sorot mata mencibir.
“Lho, kok gitu?” Protes Langit dengan kening mengkerut.
“Kan kamu nanya, ya jawabannya terserah aku.” Sahut Shien sambil tersenyum kesal. Sebenarnya Langit ini sedang meminta izin atau memberitahunya? Ck, dasar. Apa-apaan, coba?
“Tapi kamu cuma boleh jawab dengan dua kata ini. Yang pertama, boleh.” Ujar Langit sambil mengangkat ibu jarinya-berhitung. Laki-laki itu terdiam sebentar seraya menahan senyumnya, sebelum kemudian ia melanjutkan kalimatnya seiring dengan jari telunjuknya yang ikut terangkat. “Dan yang kedua, bisa.”
“Itu bukan pilihan.” Shien mendengus. Ada-ada saja setiap kata yang bisa keluar dari mulut laki-laki ini.
Sementara Langit hanya terkekeh mendengar itu. Dan tidak butuh waktu lama bagi Langit untuk mendekatkan wajahnya, lalu mempertemukan bibirnya dengan bibir Shien.
Shien yang sudah terbiasa dengan ciuman Langit otomatis memejamkan matanya. Menikmati benda lembut dan lembab itu memagut bibirnya.
Sapuan lembut yang diberikan Langit selalu terasa memabukkan, hingga membuat tubuhnya mematung tak berdaya.
Merasakan gerakan bibir Langit semakin menuntut, Shien memilih untuk membuka bibirnya hingga laki-laki itu bisa mengeksplor rongga mulutnya. Lidah mereka membelit saling membutuhkan.
Satu-satunya alasan tautan bibir mereka terlepas adalah karena pasokan oksigen di dalam rongga paru-paru mereka mulai menipis. Namun tak lama setelah itu, bibir mereka kembali menyatu.
Kali ini tangan Langit tidak tinggal diam. Satu tangan yang semula ada di pinggang ramping Shien perlahan bergerak ke belakang, mengelus punggung gadis itu, menjalar ke pundak, lalu menarik tubuhnya agar semakin dekat. Jarak mereka sangat tipis hingga keduanya saling merasakan debaran jantung satu sama lain.
“Lang. . . .” Shien merintih pelan saat ciuman Langit turun menuju leher, tepat di bawah cuping telinganya. Tanpa sadar, laki-laki itu meninggalkan hickey di sana.
Menggigit bibir bawahnya. Sentuhan, sesapan, kecupan-kecupan lembut, serta gigitan kecil yang dilakukan Langit pada lehernya membuat sekujur tubuh Shien merinding. Tidak hanya itu, tubuhnya melemas seketika seiring dengan kewarasannya yang mulai ikut terkikis.
“Jangan. . . , di sana.” Shien menahan kepala Langit saat merasakan bibir laki-laki itu mulai menyentuh leher bagian depannya. Shien tidak ingin Langit itu meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Itu terlalu terbuka.
Bersamaan dengan deru napasnya yang memburu, Langit menatap Shien yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sayu, lalu mendaratkan kecupan singkat di ujung hidung gadis itu. Sementara sebelah tangannya sudah bergerak lagi membuka resleting dress yang dikenakan Shien, kemudian menurunkan dress itu hingga sebatas dada.
Langit menurunkan ciumannya ke bahu hingga merambat ke tulang selangka, memberinya kecupan-kecupan halus hingga timbul tanda kemerahan di sana.
Seolah kehilangan akal sehat, Shien menjadi sedikit agresif dengan meremas rambut Langit, lalu menekan kepala laki-laki itu agar terus memperdalam ciuman di atas kulitnya.
TING. . . . TONG . . . .
Shien mengangkat wajah Langit saat suara bel terdengar begitu nyaring di telinganya.
“Gak apa-apa, paling petugas laundry.” Ujar Langit, mengingat tadi pagi ia menyerahkan pakaiannya pada petugas laundry.
“Tapi. . . , eungh. . . .” Langit dengan cepat menyambar bibir gadis itu untuk menghentikannya berbicara. Memberikan ******* serta gigitan kecil, menggoda Shien agar tertarik membalasnya. Tapi suara dentingan bel itu tidak berhenti. Benar-benar mengganggunya hingga membuat Langit menggeram kesal. Dan mau tidak mau, dengan sangat terpaksa ia harus menghentikan kegiatannya.
“Siapa, sih?” Langit menggerutu kesal, lalu bangkit dari pembaringannya, buru-buru ia merapikan kembali baju Shien yang sempat diturunkanya.
“Tunggu sebentar.” Ucap Langit seraya mengusap kepala Shien dengan sayang. Gadis itu hanya mengangguk.
Menyugar rambutnya frustrasi, Langit lantas berjalan menuju pintu untuk melihat siapa orang yang sudah mengganggu moment kebersamaannya dengan Shien tadi.
“Bunda?” Gumamnya lirih dengan sebelah alis terangkat begitu ia melihat wanita paruh baya sedang berdiri di depan pintu unitnya dari layar intercom.
********
To be continued. . . .
__ADS_1