
********
“Hai.”
Sapaan lembut seseorang belum cukup menarik perhatian Shien untuk meresponnya. Gadis itu masih sibuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya di ruangan serba putih yang sudah tidak asing lagi baginya.
Matanya memperhatikan sekitar. Shien bisa melihat dan merasakan alat-alat medis itu menempel di tubuhnya.
Ingatannya menerawang, mengorek-ngorek memori terakhir kenapa ia bisa kembali berbaring di ruang ICU, dan ia ingat saat itu ia mengalami serangan jantung dengan rasa sakit yang luar biasa. Kepala Shien juga dipenuhi pertanyaan tentang hari apa sekarang dan tanggal berapa? Entah hanya perasaannya saja atau bukan, tapi Shien merasa ia sudah tidak sadarkan diri cukup lama.
Setelah itu, Shien memperhatikan lekat-lekat seorang Dokter yang sedang tersenyum cerah ke arahnya. Shien tahu walaupun Dokter yang sedang berdiri di sampingnya itu memakai masker.
“Kenapa?” Tanya Dokter itu yang melihat Shien mengerjap lugu dan terus memperhatikannya. “Bingung kalau aku manusia, malaikat, atau bidadari?”
Shien kembali mengerjap mendengar Dokter itu terus berceloteh. Sementara Perawat yang bediri di samping Dokter tersebut hanya memutar bola matanya malas. Sudah biasa melihat kepercayaan diri melampaui batas yang dimiliki beberapa Dokter di rumah sakit ini.
“Jawabannya yang ketiga.” Lanjut Dokter tersebut seraya mengacungkan tiga jarinya. “Aku bidadari dunia.” Ucapnya bangga.
Shien yang masih belum menemukan jawaban dari kebingungannya kenapa ia bisa kembali ke ruang ICU dan sudah berapa lama ia tidur malah semakin dibuat bingung dengan celotehan tidak jelas Dokter aneh di depannya.
Dan dari sorot matanya yang penuh energi, sepertinya Shien cukup tahu siapa dia. Jingga.
“Kak Nathan?” Dan tanpa Shien sadari, orang yang pertama ia tanyakan keberadaannya adalah Dokter tampan itu. Mungkin karena Shien tidak terbiasa melihat Dokter selain Nathan saat ia terbangun dari ketidaksadarannya.
Jingga berdecak tak percaya. “Kalau Langit tahu yang pertama kamu tanyain itu cowok lain pas kamu sadar, gak tahu deh dia marahnya kayak apa nanti.”
Shien tak menyahuti. Ia masih menunggu jawaban Jingga atas pertanyaannya.
“Katanya Dokter Nathan masih di ruang bedah. Tapi aku juga termasuk tim dokter yang ikut menangani kamu.” Jawab Jingga akhirnya, meskipun Shien masih dibuat bingung kenapa Jingga tiba-tiba menjadi salah satu dokter dalam tim yang menanganinya. Pasalnya, Shien tahu betul siapa saja tim dokter yang menanganinya, dan sebelumnya Jingga tidak termasuk. Tapi Shien tidak ingin terlalu memikirkannya, karena setiap orang yang masuk dalam tim terkadang bisa diganti.
“Bukannya kamu di Korea?” Tanya Shien dengan kening berkerut bingung, nada suaranya masih terdengar lemah. Sangat lemah sehingga terdengar seperti berbisik.
“Tiga minggu yang lalu aku dan kak Biru kembali ke Indonesia.” Jawab Jingga senang. “Sama bayi kami juga.” Imbuhnya tak kalah bahagia. “Aku kembali ke rumah sakit seminggu yang lalu, kalau kamu mau tahu.” Gadis itu lalu nyengir lebar di balik masker, sehingga membuat eye smilenya terukir cantik.
Shien kembali terdiam, pandangannya jatuh pada perut Jingga yang sudah tidak membuncit lagi. Namun sejurus kemudian, matanya yang sayu seketika membulat sempurna. Jika Jingga saja sudah kembali dari Korea dan kembali bekerja, maka sudah berapa lama pula Shien terbaring tak sadarkan diri dan mengkhawatirkan semua orang?
“Kalau gitu, aku udah tidur berapa lama?” Tanya Shien akhirnya.
“Katanya, kamu kembali koma lebih dari dua minggu setelah serangan jantung saat itu. Peluang hidup kamu sangat rendah, tapi beruntung donor datang di waktu yang tepat.” Jelas Jingga singkat. Bagaimanapun, ia tidak boleh membuat pasien yang baru sadar berpikir terlalu banyak.
Shien malah tambah bingung dengan penjelasan Jingga. Bukan. Lebih tepatnya, ia ragu dengan apa yang Jingga katakan barusan.
“Donor?” Tanya Shien memastikan pendengarannya tidak salah.
Jingga mengangguk untuk kemudian kembali menjelaskan. “Iya, Shien. Tiga hari yang lalu, kamu baru saja menjalani prosedur transplantasi. Operasinya berjalan lancar, dan itu lebih baik karena kamu sudah siuman sekarang.”
Shien menatap Jingga dengan tatapan tak percaya. Tapi perasaan bahagia menyelimuti hatinya. Ia tidak menyangka, ternyata Tuhan benar-benar mengirimkan jantung baru untuknya, di saat ia sangat ingin hidup lebih lama bersama semua orang yang disayanginya. Shien benar-benar berterima kasih.
“Mulai sekarang, kamu gak perlu khawatir lagi tentang penyakit kamu. Selamat sudah mendapatkan jantung baru, Shien.” Tambah Jingga berujar tulus dan ikut bahagia tentunya.
“Maaf, Dokter. Kamu harus harus memeriksa pasiennya dulu.” Perawat yang berdiri di samping Jingga mengingatkan karena sedari tadi Jingga terus mengajak pasien berbicara.
Jingga menepuk jidatnya sendiri. “Hampir aja lupa. Aku kesenengan lihat kamu bangun, sih, Shi.” Dokter cantik itu lantas terkekeh kecil.
Setelah itu, Jingga mulai memeriksa keadaan Shien. Gadis itu juga mengatakan pada Shien bahwa dia masih harus tinggal beberapa hari di ruang ICU untuk menjalani opname dan beberapa prosedur pemeriksaan lain pasca operasi.
********
Satu minggu berlalu, Shien masih berada di rumah sakit. Memang dalam normalnya, kemungkinan besar pasien pasca transplantasi harus tetap di rumah sakit selama satu atau dua minggu sebelum kemudian tinggal di pusat transplantasi untuk menjalani pemantauan setelah meninggalkan rumah sakit nanti.
Keadaan Shien semakin membaik. Tidak ada penolakan tubuh terhadap jantung baru ataupun gejala infeksi pasca operasi. Mama, Papa, dan Langit masih selalu yang menemaninya.
Siang itu Shien duduk di kursi roda sambil melihat pemandangan di luar melalui jendela ruang rawatnya dengan Langit yang berdiri di belakangnya sedang berusaha mengikat rambut gadis itu.
Shien tampak mengunyah bosan potongan apel yang beberapa saat lalu disiapkan Mama. Berulang kali juga desahan pelan terdengar dari bibir Shien.
“Ma . . . .” Panggil Shien menoleh ke arah Mama yang sedang duduk di sofa bersama Papa, membuat Langit yang nyaris menyelesaikan ikatan di rambut Shien gagal kembali karena kepala Shien yang bergerak. Tapi ia dengan sabar mengulanginya.
“Kenapa, Shi?” Sahut Mama ikut menoleh untuk menjangkau pandangannya dengan Shien.
“Kak Shanna masih lama ya pulangnya?” Tanya Shien. Pertanyaan yang sama yang selalu ia ajukan setelah ia sadar satu minggu yang lalu.
Dari semua orang yang mengunjunginya di rumah sakit, hanya Shanna yang belum ia lihat keberadaannya. Shien ingat terakhir kali melihat Shanna adalah tiga minggu yang lalu sebelum ia terkena serangan jantung. Shanna berpamitan karena hendak pergi ke Pare saat itu.
Dan saat ia menanyakan Shanna pada Mama satu minggu yang lalu, Mama mengatakan jika Shanna sedang menjalani semacam pelatihan untuk program pengembangan tempat lesnya di Inggris.
“Mama, kan, udah bilang kalau Shanna di perginya tiga minggu. Ini baru dua minggu, Shi.” Jawab Mama seraya menghampiri Shien dan meminta Langit untuk menyerahkan ikat rambut, lalu mengambil alih pekerjaannya mengikat rambut Shien. Mama merasa gregetan sendiri karena Langit tak kunjung selesai.
“Iya, tapi kenapa dia gak telepon aku?” Protes Shien. Padahal, ia ingin berbagi kebahagiaannya yang sudah mendapatkan jantung baru pada Shanna. “Padahal aku mau cerita kalau sekarang aku udah sembuh.” Gumamnya pelan, ia menunduk sedih menatap beberapa potongan apel di pangkuannya yang mulai berubah warna menjadi coklat.
“Kakak kamu sibuk banget di sana. Lagian Mama udah kasih tahu dia dulu. Kakak kamu bilang, dia seneng banget.” Balas Mama yang kini selesai mencepol rambut Shien.
“Kok Mama gak cerita kalau Mama telepon kak Shanna?” Shien kembali protes sambil menoleh ke belakang.
“Kamunya lagi tidur.” Mama menyentil hidung Shien gemas.
“Harusnya Mama bagunin a–”
“Nanti juga kakak kamu pulang.” Mama menyela ucapan Shien, lalu menangkup kedua sisi wajah putri bungsunya itu sambil mengelusnya lembut. “Kamu ini aneh banget tahu, gak? Kalau kakak kamu ada juga pasti kamu cuekin. Giliran gak ada, kamu tanyain.”
“Bukan aneh. Aku tuh ka–” Shien tidak melanjutkan kalimatnya. Setelah itu ia hanya menatap Mama dengan wajah merengut.
Mama tersenyum geli melihat Shien yang masih gengsi mengungkapkan perasaannya. “Kangen? Ngaku aja deh. Kamu kangen, kan, sama Shanna.” Ledeknya seraya menjawil hidung Shien gemas.
__ADS_1
“Bukan kangen. Aku cuma mau lihat dia aja.” Koreksi Shien. Mama hanya mendengus geli mendengarnya.
“Kak Nathan juga gak ada. Katanya dia yang operasi aku? Tapi kenapa dia gak bertanggung jawab dalam proses pemulihan aku?” Gerutu Shien sebal, kemudian memalingkan wajahnya dari Mama.
“Shien, sejak kapan kamu jadi cerewet gini?” Kali ini Langit ikut angkat bicara.
Laki-laki itu lantas berjongkok dengan satu kaki di hadapan Shien. “Terus yang ditanyain cowok lain lagi. Kamu gak lihat aku masih di sini?” Langit mendumel sebal, kemudian satu tangannya terulur untuk menarik hidung Shien cukup keras.
“Aku lihat, tapi bosan.” Sahut Shien jahil seraya menjulurkan lidah setelah Langit melepaskan cubitan dari hidungnya.
Mama yang melihat tingkah mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Kemudian ia beranjak dengan membawa serta piring berisi buah dari pangkuan Shien dan kembali duduk di sofa bersama Papa setelah sebelumnya memberi usapan lembut di puncak kepala gadis kecilnya itu.
“Ihh, ngeselin.” Langit pura-pura merajuk. Shien hanya mengedik tak peduli.
“Kalau bosan, kamu tinggalin aja, Shi.”
Seseorang yang baru saja Shien tanyakan keberadaannya tiba-tiba muncul.
Nathan masuk ke ruang rawat Shien dengan sebuket bunga mawar campuran di tangannya. Laki-laki itu bergerak menghampiri Shien dengan senyum hangat tertarik lebar di bibirnya sesaat setelah ia menyapa orang tua Shien terlebih dahulu.
“Aku punya banyak teman yang recomended buat gantinya. Gak bakalan nyesel deh kalau kamu ninggalin dia.” Sambungnya sambil menoyor kepala Langit dari samping, sehingga membuat tubuh Langit yang masih berjongkok itu sedikit limbung.
Langit mendelik seraya melempar tatapan tajam pada Nathan. Dan Nathan langsung membalasnya dengan tatapan penuh ledekan.
“Jangan ngomong yang aneh-aneh lo.” Sahut Langit sambil bangkit berdiri.
“Bodo.” Balas Nathan, lalu tatapannya beralih pada Shien yang juga sedang menatapnya jutek.
“Selamat, ya, Shi, udah dapat jantung baru.” Ucap Nathan sambil menyerahkan buket bunga yang dibawanya. “Kamu gak akan kesakitan lagi mulai sekarang.” Laki-aki itu mengusap puncak kepala Shien penuh sayang.
Shien terdiam, masih menatapnya kesal. “Dokter gak bertanggung jawab.” Ia memukul Nathan dengan buket bunga. Sedangkan Nathan hanya terkekeh pelan.
“Maaf. Aku ada seminar di luar kota.” Jelas Nathan, persis yang Perawat katakan saat Shien menanyakan keberadaannya dulu. “Lagian, kan, ada Dokter Jingga yang jadi pengganti sementara aku.”
“Iya, tapi dia lebih cerewet dari kamu, Kak.” Adu Shien, terdengar sedikit manja hingga membuat Langit mendelik sebal ke arahnya. Pasalnya, Shien tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu padanya selama ia mengenal gadis itu. Cih.
“Jadi kamu lebih suka aku, nih?” Tanya Nathan tersenyum penuh arti.
Langit langsung melotot tajam, tapi ia dibuat terperangah setelah melihat Shien mengangguk.
“Shi. . . .” Langit menggeram tertahan. Wajahnya merengut karena cemburu, apalagi saat Shien menyahuti ucapan Nathan.
“Sedikit.” Ucap Shien.
Nathan sedikit mendesis. “Sedikit atau banyak, tetap aja lebih suka. Sini peluk dulu.” Laki-laki itu merentangkan tangannya.
Shien memandang tangan itu beberapa saat seraya melirik Langit sekilas menggunakan ekor matanya, kemudian menyeringai tipis sebelum akhirnya menyambut pelukan Nathan.
“Shien.” Langit semakin terperangah karena Shien berani memeluk laki-laki lain di hadapannya. Tapi Langit juga tidak bisa protes. Ia sudah berjanji tidak akan cemburuan lagi. Tapi kalau seperti ini mana bisa tidak cemburu?
Nathan dan Shien mengurai pelukan mereka, kemudian tertawa melihat wajah Langit yang merengut kesal.
“Pinter-pinter aja deh, Shi, bujuk pacar posesifnya.” Nathan mengedikkan dagu ke arah Langit. Shien hanya mencebik.
Setelah itu, Nathan lantas berpamitan dan mengatakan pada Shien kalau mereka akan bertemu lagi nanti malam saat kunjungan pasien.
Selepas kepergian Nathan, Shien menoleh ke arah Langit yang masih berdiri di samping kirinya dengan wajah ditekuk masam, pandangannya lurus menatap ke luar jendela, enggan menatap Shien.
“Hei. . . .” Shien menarik ujung dari pinggiran seragam scrub yang dikenakan Langit. Tapi laki-laki itu tetap bergeming.
Sementara Shien, gadis itu sama sekali tidak menyesal sudah menjahili kekasihnya itu. Terlalu lama berada di rumah sakit tanpa melakukan kegiatan apapun membuatnya bosan. Shien juga belum bisa menjalani fisioterapinya yang belum tuntas karena kondisinya masih belum memungkinkan untuk melakukan itu.
“Lang. . . .” Kali ini Shien memberi cubitan di paha Langit, sehingga berhasil membuatnya menoleh.
Shien tersenyum tipis, lalu dengan wajah tanpa dosa ia bertanya. “Kenapa? Cemburu?”
Langit mendengus seraya meraup udara banyak-banyak guna menahan kedongkolan yang bercokol di hatinya. Sejurus kemudian, Langit memasang senyum yang dibuat-buat selebar mungkin. “Enggak, kenapa aku harus cemburu? Aku malah seneng lihat pacar aku peluk-pelukan sama cowok lain di depan mata aku sendiri. Lain kali gitu lagi, ya, Shi.” Sindirnya dengan penuh penekanan pada kalimat yang ia ucapkan.
Shien menahan tawanya melihat ekspresi Langit yang dibuat-buat itu. “Ya udah, kalau gak cemburu sini jongkok.” Pinta Shien seraya menarik ujung pinggiran baju Langit sekali lagi.
Langit berdecak kesal, tapi tetap menuruti permintaan gadisnya itu. “Ngapain, sih?” Ia berujar sewot.
Shien tersenyum geli, sudah lama sekali ia tidak becanda seperti ini dengan Langit. Ia bahkan tidak ingat kapan tepatnya melakukan itu. Mungkin sebelum kepergian Langit ke Yogyakarta beberapa bulan yang lalu? Atau. . . , entahlah, itu sudah lama sekali.
Menghembuskan napas pelan. Untuk membujuk Langit dengan kata-kata mungkin cukup sulit atau bahkan tidak akan berhasil. Shien juga tidak pandai berkata-kata manis seperti Langit yang mampu melelehkan hatinya hanya dengan kata-kata, maka jalan satu-satunya selain itu adalah skinship.
Lantas dikecupnya pipi Langit yang sedang merajuk itu, cukup lama, hingga Shien melihat senyuman tipis terbit dari bibir manis laki-laki itu. “Maaf, aku becanda buat ngerjain kamu tadi.” Bisiknya pelan.
Hembusan napas hangat menerpa sisi wajah Langit, dan ia tahu kalau saat ini Shien sedang merayunya. “Becanda kamu ngeselin.” Langit masih melayangkan tatapan sewot. “Aku gak suka.” Wajahnya kembali merengut seperti anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya karena tidak diberi jajan.
“Ya udah, maaf lagi.” Kali ini Shien mendaratkan kecupan di pelipis Langit.
“Tapi itu gak cukup.” Langit berbisik seduktif.
Shien memutar bola matanya malas. Seketika ia menyesali tindakannya yang malah memancing Langit untuk meminta lebih. Bukannya Shien tidak mau, hanya saja di belakang mereka ada Mama dan Papa duduk di sofa sedang menonton televisi.
“Ada Mama sama Papa.” Shien menoleh ke arah orang tuanya berada sekilas.
“Mereka gak lihat.” Lantas tanpa meminta persetujuan Shien, Langit dengan cepat menyambar rahang bawah Shien sebelum kemudian melayangkan ciuman di bibir sedikit pucat yang sudah lama tidak disentuhnya.
Langit melesakkan lidahnya, memagut dengan penuh perasaan. Mereka saling membalas ciuman, mencari kepuasan lain.
Saat tangan Langit merayap dan mulai mengelus lembut pinggang Shien, suara deheman keras Papa di seberang sana menghentikan kegiatan mereka seketika.
__ADS_1
“Shien, bantuin Mama pilih model tas di olshop sini.” Mama setengah berteriak. Terlihat kepala wanita itu melongok sedikit untuk memastikan kedua anak muda yang tidak tahu tempat itu sudah menghentikan aksinya.
Ck, mereka benar-benar. Mama dan Papa hanya bisa menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Ternyata anak yang pendiam tidak benar-benar sediam itu di belakang, dan mungkin anak yang pendiamlah yang harus lebih diawasi.
Shien sedikit berdehem untuk kemudian ia berucap gugup. “I– iya, Ma.”
********
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Shien sudah duduk di taman samping rumah sakit. Ia menikmati cahaya matahari pagi yang cukup menghangatkan apa saja yang diterpanya, termasuk tubuh Shien.
“Where are you?” Berulang kali Shien menghembuskan napas bosan. Pandangannya tertuju pada ponsel yang sedari tadi digenggamnya. Ia menunggu panggilan dari seseorang yang dirindukannya setiap hari, Shanna.
Puluhan kali ia berusaha menghubungi kakak kembarnya itu setiap hari, tapi nomornya tidak aktif. Maka dari itu, Shien hanya bisa menunggu Shanna meneleponnya seperti ini.
“Morning.”
Shien tersentak saat merasakan sesuatu menempel di pipinya. Satu kotak jus apel.
“Kak Biru?”
Laki-laki dengan segala pesonanya itu tersenyum hangat. “Boleh duduk di sini?”
“Sebenarnya aku lebih suka jus jeruk.” Cebik Shien tak mengindahkan pertanyaan Biru, tapi gadis itu tetap mengambil jus apel tersebut dan mulai menancapkan sedotan untuk kemudian meminumnya.
“Maaf aku gak tahu. Tapi Jingga suka itu.” Ujar Biru seraya bergerak dan duduk di sebelah Shien. “Dan aku cuma beli sesuatu yang Jingga suka.”
Shien mendengus malas. “Bucin.” Cibirnya.
Biru tersenyum geli. “Kayak yang ngomongnya enggak.” Laki-laki itu tak kalah mencibir. Ia lantas melempar pandangannya pada sekawanan burung gereja yang hinggap di rumput untuk mencari makanan.
Sementara Shien memilih untuk tidak menyahuti dan hanya mengedikkan bahunya.
“Ngomong-ngomong, selamat atas jantung barunya.” Ucap Biru kembali menoleh ke arah Shien. “Maaf terlambat ngucapin dan belum sempat jenguk kamu.”
“Makasih, Kak. Gak apa-apa, kok. Aku tahu, Jingga bilang suaminya sibuk banget.” Sahut Shien, mengingat Jingga bercerita padanya kalau Biru sangat sibuk karena sudah meninggalkan pekerjaannya hampir empat bulan.
Biru hanya terkekeh pelan. Ia bisa menebak jika istrinya itu pasti sudah menggosipkan dirinya di belakang bersama Shien.
“Ohh, iya. Selamat juga buat kamu karena udah jadi Ayah.” Ujar Shien.
Biru tersenyum dan mengangguk. “Semoga bisa cepat nyusul jadi Ibu juga kayak Jingga, ya.” Tuturnya penuh pengharapan. “Udah baikan, kan, sama si brengsek Langit?” Taya Biru memastikan. Ia tahu apa yang sudah terjadi karena Langit menceritakannya setelah acara syukuran putrinya, Winter, beberapa waktu yang lalu.
“Sesama orang brengsek, apa itu baik saling menghina?” Cibir Shien cukup menohok, sehingga Biru tidak bisa melawan ucapannya. Sadar jika dirinya juga pernah sama brengseknya dengan Langit. Bahkan mungkin lebih.
“Tapi kalian udah baikan, kan?” Biru memilih untuk tidak menanggapi cibiran Shien.
“Kepo.” Sahut Shien, membuat Biru mendengus.
“Aku cuma mau mastiin aja, sih. Takutnya kalau kalian putus dan gak balikan lagi, Langit rebut Jingga dari aku.” Ujar Biru. “Soalnya, walaupun Jingga udah jadi ibu-ibu sekarang, dia masih cantik bahkan ngalahin kamu yang masih gadis.” Tambahnya sombong.
Shien mendelik sebal. Pasangan suami dan istri ini, baik Jingga maupun Biru, keduanya memiliki tingkat kepercayaan diri di luar batas. Cih.
“Gak akan aku biarin.” Sahut Shien ketus.
“Itu bagus. Kalau bisa, lebih baik kalian menikah secepatnya.” Saran Biru. Walau bagaimanapun, ia ingin sahabatnya, Langit, juga segera menikah dan memiliki anak seperti dirinya.
“Well, thanks for your suggestion.” Ucap Shien tak berminat. Ia memang belum berpikir untuk menikah. Lebih tepatnya, belum siap.
“Okay, kalau gitu aku duluan.” Pamit Biru setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Shien hanya mengangguk tak peduli. Toh, dari tadi ia sendiri dan tidak datang ke sini bersama Biru.
“Oh, iya, Shi.” Biru kembali berbalik, padahal ia baru saja mengambil dua langkah maju.
Shien mengangkat sebelah alisnya sebagai tanggapan.
“Kalau kamu butuh teman buat cerita, kamu bisa datang sama aku dan Jingga. Kamu bisa anggap kami seperti kakak kamu.” Tutur Biru penuh kesungguhan dan ketulusan, sebelum kemudian laki-laki itu beranjak dari hadapan Shien.
Gadis itu mengerjap, lalu mengerutkan keningnya seraya mengulang kalimat yang Biru ucapkan barusan untuk mencernanya.
********
Setelah hari semakin siang dan matahari semakin terik, Shien memutuskan untuk kembali ke ruang rawatnya. Ia berjalan sendiri dengan bantuan tongkatnya.
Pintu lift terbuka tepat di lantai tempat ia dirawat. Tapi begitu ia keluar dari lift, kakinya menendang sebuah dompet kulit berwarna hitam.
“Nathaniel Euginius?” Gumam Shien saat ia membaca nama yang tertera pada kartu identitas sesaat setelah ia mengambil dan membuka dompet tersebut. Ternyata iu adalah milik Nathan.
Shien tersenyum kecil, beruntunglah Nathan karena yang menemukannya adalah orang baik seperti dirinya. Ia lantas bergegas menuju ke ruang kerja Nathan untuk mengembalikan dompet tersebut.
Sesampainya di sana, ia melihat ada Papa yang tampak sedang berbicara serius dengan laki-laki itu. Shien yang penasaran mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih menguping melalui celah pintu kaca yang sudah sedikit ia buka.
“Sampai kapan kita mau nyembunyiin ini dari Shien, Om?” Shien mengernyitkan keningnya bingung mendengar pertanyaan Nathan. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Tapi ia memutuskan untuk menyelesaikan acara ngupingnya terlebih dahulu.
“Om gak tahu. Om takut terjadi sesuatu sama Shien kalau sampai dia tahu yang sebenarnya.” Sahut Papa. Terdengar nada kekhawatiran, ketakutan, kebingungan, dan kesedihan di sana. “Kamu sendiri juga bilang kalau Shien gak boleh terguncang.”
“Iya. Tapi kita bisa memberitahunya secara perlahan-lahan dan hati-hati, Om. Terlalu lama menyembunyikan ini juga gak baik.” Balas Nathan. “Shien terus menanyakan keberadaan Shanna dan kita gak bisa terus menyembunyikan kenyataan kalau Shanna yang udah mendonorkan jantungnya untuk. . . . .”
Nathan tidak melanjutkan. Suaranya tercekat begitu mencapai kalimat terakhir, sehingga nadanya tergantung begitu saja.
Rongga dada Shien berontak. Saat ini, ia hanya berharap pendengarannya salah. Dompet milik Nathan di tangannya terjatuh begitu saja. Pun dengan tongkat yang ia jadikan sebagai penopang tubuhnya ikut terlepas seiring dengan tubuhnya yang melorot ke lantai.
“Tunggu sebentar lagi. Shien putri Om satu-satunya sekarang. Tuhan sudah mengambil Shawn dan Shanna, Om gak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama Shien setelah dia mengetahui kebenarannya.”
Shien menutup kedua telinganya. Tidak ingin mendengar apapun lagi.
__ADS_1
********
To be continued. . . .