So In Love

So In Love
EP. 48. Kesal


__ADS_3

********


Sore itu adalah acara ngopi berdua yang romantis. Hanya ada Langit dan Shanna. Menikmati secangkir kopi hangat, ditemani kudapan dan sayup-sayup udara terbuka dari teras balkon di kedai kopi rumah sakit, sambil mengobrol ringan.


Setidaknya Shanna masih berpikir seperti itu hingga akhirnya wajah tak asing itu muncul. Dengan rambut berkibarnya, tanpa undangan, dia duduk di antara Langit yang menyambutnya dengan senyuman hangat dan Shanna yang langsung manyun. Tatapan jutek lantas Shanna lemparkan pada Terry yang meninggikan dagu tak acuh.


“Emang kalau jodoh tuh hati kita pasti terhubung, ya.” Ujar Terry riang sambil melempar senyum semanis mungkin pada Langit, memamerkan lesung pipit buatan yang semakin memperindah senyumnya. Tapi menurut Shanna, apapun yang palsu itu tidak menarik sama sekali. Orang-orang yang mempermak tubuhnya sedemikian rupa padahal tidak cacat, itu adalah tanda orang yang tidak bersyukur atas pemberian Tuhan.


Shanna lantas mengamati lekuk tubuh Terry dari ujung rambut hingga kaki. Selain banyak permak di wajahnya, Shanna yakin bahwa bagian dada dan belakang Terry silikon semua. Kedua bagian itu menyembul seperti buah kelapa, Shanna sangsi jika itu asli.


“Tadi aku nyariin kakak ke bangsal anak, tapi staf di sana bilang kakak lagi keluar. Mungkin karena feeling aku yang kuat kali ya, gak nyangka bisa nemuin kakak di sini.” Sambungnya menerangkan. Shanna berkomat-kamit tidak jelas dan mencibir dalam hati. “Kakak kakak, lo adiknya Langit dari mana? Dasar jelangkung genit.”


“Haha, kamu ada-ada aja.” Balas Langit sedikit kagok diiringi tawanya yang kaku.


“Emang lo mau ngapain nyariin Langit?” Shanna melirik sengit. Ia tidak menyangka ternyata Terry bergerak cepat untuk proses pedekatenya, Terry bahkan sampai datang ke rumah sakit untuk menemui Langit seperti dirinya.


Ahh, sialan. Belum juga mengetahui saingan tersembunyi yang disukai Langit, sekarang malah bertambah satu saingan yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang dengannya. Shanna sangat terganggu.


Duhh, Shanna merasa kopinya jadi bertambah pahit karena kehadiran Terry di sana.


“Iya, kamu ada apa nyariin aku ke rumah sakit, Ry?” Timpal Langit.


Mendelik sekilas dengan tatapan sebal ke arah Shanna, Terry kemudian beralih menatap Langit dengan memasang wajah manisnya yang dibuat-buat. “Tadinya aku mau ngajak kakak minum kopi bareng. Sekalian nostalgia waktu kita sekolah dulu gitu. Aku agak bosan di sini, teman-teman pada sibuk. Gak tahu harus hubungin siapa buat diajak jalan, ehh keinget kakak. Tapi, sayang banget udah keduluan.” Jelasnya panjang lebar seraya mendelik ke arah Shanna begitu kalimat terakhirnya terlontar.


Terry memasang wajah keruh. Delikan matanya tadi seolah menyalahkan Shanna atas batalnya rencana indah yang sudah ia rancang untuk pendekatannya dengan Langit.


Shanna menggeram tertahan. Terry benar-benar sok akrab dan tidak tahu malu. Namun, sejurus kemudian seringai licik tersungging dari bibirnya.


“Teman-teman lo pada sibuk, tapi lo sendiri luntang-lantung kayak gak ada kerjaan. Udah di drop out dari industri hiburan lo? Ck, pantesan.” Sindir Shanna dengan cibiran penuh. Sementara Langit hanya terdiam, menyaksikan dua gadis di depannya yang katanya saudara sepupu dan seharusnya akur, tapi nyatanya aura permusuhan kentara sekali di antara mereka. Langit tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka, dia tidak peduli. Langit hanya ingin menghabiskan kopinya sebelum kembali bergelut di ruang operasi nanti.


Sebenarnya jika Shanna bukan temannya, Langit akan menolak ajakannya tadi untuk ke kedai kopi bersama.


“Heh!” Terry melotot layaknya pemeran antagonis dalam drama Korea. Jika Shanna adalah agensi yang menaungi gadis itu, Shanna berjanji akan mendaftarkannya ke PH yang mengadakan casting untuk peran yang banyak membutuhkan adegan melotot. Itu lebih baik daripada Terry nyinyir dalam acara variety show tidak berkualitas yang terkadang menyakiti hati orang dan mereka sebagai pelaku hanya menganggap becanda, miris sekali acara TV Indonesia jaman sekarang.


“Apa?” Sahut Shanna dalam posisi menantang lawan bicaranya itu.


“Dan asal lo tahu. Langit itu juga orang sibuk.” Imbuh Shanna. Dia akan memasang tembok beton, sehingga tidak memberi celah akses untuk Terry bertindak menyebalkan.


Terry menggeram, tapi masih tetap memperlihatkan senyum cantiknya. Sorot matanya nyalang tajam yang dibalas tak kalah tajamnya oleh Shanna. Jika dalam film robot, mungkin dari bola mata mereka sudah mengeluarkan sinar merah dan biru.


“Kalian ngapain, sih?” Tanya Langit bingung dan juga mulai merasa tidak nyaman.


“Sekalian udah di sini, kamu gabung aja, Ry.” Langit menambahkan kalimatnya yang langsung disambut senyum semringah oleh Terry. Uhh, ingin rasanya Shanna menyiram kopi dalam cangkirnya ke wajah gadis itu.


“Tapi. . . .” Shanna ingin protes, begitu juga dengan Terry yang terlihat sudah membuat ancang-ancang membuka mulut dengan suara kosong.


“Aku ke toilet dulu. Kamu pesen aja, Ry. Nanti tagihannya masukin aja ke pesanan aku. Lagian kalau kamu butuh teman, sebenarnya bisa ajak Shanna atau Shien. Gak usah nyari aku. Kalian kan sepupuan.”


Hati Shanna bersorak mendengar penuturan Langit. Rasanya, Shanna ingin mengolok-olok Terry yang sekarang memasang wajah cemberut. Rasakan itu.


Lalu secepat kilat, tanpa membiarkan dua gadis itu mengeluarkan pendapat mereka, Langit beranjak dari duduknya dan melesat menuju toilet. Lebih baik Langit menghubungi gadisnya, Shien. Langit ingin tahu apakah pesawatnya sudah take off atau belum, mengingat Shien mengatakan akan pulang sore ini dari Bali. Ahh, Langit sudah merindukannya lagi. Padahal, dini hari tadi ia baru bertemu dan sempat berciuman dengan gadis itu di kamar hotel.


“Pesen sana.” Ucap Shanna yang risih karena Terry terus memelototinya.


“Gue mau ngomong sama elo.” Ujar Terry setelah memastikan Langit benar-benar hilang dari pandangannya. Ini pertama kalinya Shanna melihatnya serius.


“Apaan?” Sahut Shanna ogak-ogahan. Dia masih tidak percaya pada Terry.


“Oke, gue langsung aja.” Terry berdehem dan memasang wajah seriusnya. “Gue suka sama kak Langit. Bahkan dari dulu. Dan gue tahu, lo juga suka sama dia. Iya, kan?”


“Terus, apa masalahnya sama lo?” Tanya Shanna santai, tidak ingin mengelak dengan penuturan Terry mengenai perasaannya pada Langit itu memang benar adanya.


“Jelas masalah, lah. Gue mau lo nyerah duluan dan jauhin dia. Lo udah sering main-main dan gonta-ganti cowok, dia gak pantas buat cewek kayak lo.” Tuding Terry dengan telunjuk terangkat dan mmengarah ke wajah Shanna.


Shanna tersenyum menyeringai. “Terus, dia pantas buat lo, gitu?” Tanyanya dengan tatapan merendahkan.


“Lo gak berhak menentukan siapa yang pantas buat Langit.” Sambung Shanna, membuat Terry menggeram.


“Lagian. . . .” Shanna menatap Terry dengan tatapan mencibir. “Lo yakin banget Langit bakalan tertarik sama lo. Dia aja lupa pernah satu sekolah sama elo.” Lalu tersenyum mengejek.


Terry semakin menggeram tertahan dengan kedua tangan mengepal di bawah meja. Sial. Shanna menindasnya.


“Dan maaf, lo gak bisa ngatur-ngatur perasaan gue.” Sambung Shanna sesantai mungkin seraya memainkan layar ponselnya. “Soal Langit. Gue gak akan nyerah, Ry. Gue akan terus berjuang, walaupun dia udah punya seseorang yang dia suka. Siapa pun itu, gue akan berusaha agar hatinya berpaling.”


“Jangan harap, lo gak bisa ngelakuin itu.” Nada suara Terry terdengar mengancam. Namun, Shanna hanya mengedik tak peduli. Yaaa, anggap saja ucapan Terry itu angin lalu.


“Gue baik ngingetin lo dari sekarang buat menyerah. Takut-takut lo nyesel nantinya.” Ujar Terry percaya diri.


Shanna berdecih diiringi senyuman sinis.


“Dan simpan aja kala-kata itu buat diri lo sendiri.” Sambarnya sambil beranjak.


“Ohh iya, tadi Langit chat gue, katanya dia udah kembali ke rumah sakit. So, gue juga pamit dan nikmati sendiri acara ngopi sore lo.”


Shanna kemudian pergi meninggalkan Terry sambil tersenyum puas. Puas karena dirinyalah yang berhasil membuat Terry jengkel. Cih, siapa dia berani menindasnya? Dalam hidupnya, Shanna hanya boleh menindas, tidak boleh ditindas.

__ADS_1


********


Shien turun dari mobil dan berjalan masuk ke kantor Snow Candy dengan langkah malas-malasan. Bagaimana tidak? Setelah masa liburan selesai, ia harus kembali pada kenyataan yaitu bekerja, berkutat dengan beberapa berkas, melakukan rapat, dan berbagai tugas lainnya yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai Wakil Direktur.


Perasaan liburan yang menyenangkan itu sulit dihilangkan sehingga membuat semangat Shien untuk kembali bekerja jadi sedikit turun. Namun, Shien tidak boleh membiarkan perasaan itu berlarut-larut yang bisa saja mengakibatkan pekerjaannya menjadi berantakan.


Office Girl menyodorkan tiga gelas teh hangat ke arah Tante Hilda, Fina, dan Shien yang tengah membahas sesuatu di ruangan Tante Hilda.


“Jackson William itu Travel Writer bukan penulis buku sastra anak-anak, kenapa kita kerja sama dengan dia?” Tanya Shien, tampak raut penolakan terpancar jelas di wajahnya.


Tante Hilda refleks memukul kepala Shien menggunakan ballpoin mahalnya hingga membuat sang keponakan mengaduh kesakitan. “Kamu tahu siapa dia?”


“Tahu, dia termasuk ke jajaran penulis terkenal di National Geographic Traveler, tukang luntang-lantung dari satu negara ke negara lain kayak gelandangan high class, punya bisnis semacam Liblary Cafe di beberapa negara, tukang tindas, dan dia adalah murid kesayangan Tante waktu dia ngambil program Magisternya di Harvard.” Cerocos Shien, membuat Tante Hilda dan Fina mengerjap seolah tak percaya. Pasalnya, tidak biasanya Shien banyak berbicara seperti ini.


“Aku gak nyangka dia masih hidup.” Sambung Shien seraya membolak-balik naskah yang ada di tangannya.


“Gak baik ngomong kayak gitu Shien.” Tegur Tante Hilda yang otomatis membuat Shien mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Pada dasarnya, Shien adalah gadis yang cukup takut dengan teguran orang tua.


“Tante tahu kamu gak suka sama dia. Tapi, tolong tetap profesional.” Imbuh Tante Hilda penuh ketegasan sebagaimana pemimpin pada umumnya.


Sementara Fina hanya menautkan alisnya tanda tak mengerti dengan percakapan Tante Hilda dan Shien.


Wait.


Tidak suka. . . , itu berarti Shien mengenal Jackson William? Si Writer Traveler yang terkenal dengan segudang penagalaman unik, prestasi, dan ketampanannya? Mulut Fina gatal ingin bertanya, tapi waktunya tidak tepat.


“Iya, Tante, Maaf.” Ucap Shien langsung menegakkan posisi duduknya. Walaupun suasana kerja di Snow Candy terkesan santai, tapi Tante Hilda sangat menekankan pada keprofesionalan semua staf dan karyawannya.


“Oke. Kembali ke Jackson. Kamu udah baca naskahnya, kan?” Tanya Tante Hilda, sepertinya wanita itu memang tidak suka memperpanjang masalah, Shien bersyukur untuk itu.


Shien mengangguk, matanya menatap lurus pada halaman awal naskah yang menuliskan judul “Pray, Dream, and Loves”, naskah yang berisi catatan perjalanan si penulis yang akan diterbitkan menjadi sebuah novel. Di naskah tersebut tertuang rekaman pertemuan penulis dengan anak-anak yang berada di wilayah konflik di Yaman, Pakiskan, dan Vietnam. Secara keseluruhan naskah tersebut menceritakan mengenai suka duka, impian, dan harapan anak-anak yang ada di wilayah konflik.


Shien akui, Jackson William memang pandai menorehkan tinta menyampaikan apa yang dialami, saksikan, dan direnungkannya. Kisah perjalanan seperti ini akan membuat siapa saja melek makna akan traveling yang sesungguhnya. Esensinya, traveling bukan sekadar jalan-jalan, bukan melulu deskripsi akan keindahan alam yang dikunjungi, namun juga meresapi potret dan budaya destinasinya.


“So?” Tante Hilda seperti meminta pendapat Shien akan naskah tersebut.


“Ini akan menjadi sebuah karya yang penuh pembelajaran dan membuka mata banyak orang bahkan dunia untuk menaruh lebih banyak perhatian pada anak-anak di daerah perbatasan yang notabenenya mereka adalah generasi penerus yang harus dilindungi.” Jelas Shien serius.


“Ini juga akan sangat mengguntungkan perusahaan. Dalam artian, hanya jika karya ini sukses dan mendapat respon positif dari pembaca.” Lanjutnya penuh penekanan. Lalu, Shien meletakkan naskah itu ke atas meja.


“Buku mana dari Jackson William yang gak sukses setelah terbit?” Pertanyaan Tante Hilda sebenarnya bukanlah pertanyaan, melainkan untuk membungkam mulut Shien agar tidak meremehkan penulis pilihannya itu. Dan Shien memang tidak bisa menjawabnya.


“Jadi, kapan ini mulai digarap sama tim editor?” Tante Hilda tersenyum dengan pertanyaan Shien yang sebenarnya adalah persetujuan bahwa gadis itu sudah tidak masalah jika Snow Candy berkerja sama dengan Jackson William.


“Dia datang ke Indonesia empat hari lagi dan meeting akan segera dilaksanakan.” Jawab Tante Hilda.


“Kalau Tante yang yang urus dia bukannya lebih mudah?.” Protes Shien, mengingat Tante Hilda adalah guru besarnya. Lagipula, sebelumnya Tante Hilda yang sudah melakukan perjanjian kerja sama dengan si penulis itu.


“Shien, sebenarnya yang atasan itu Tante atau kamu?” Sambar Tante Hilda, berhasil membuat keponakannya tak bisa berkutik seketika. Shien hanya bisa menghembuskan napas pasrah.


“Okay, I think that’s all for today. Any question?” Tante Hilda menutup pembahasan. Fina dan Shien menggeleng sebagai jawaban. Tante Hilda tersenyum puas.


Namun, wanita itu kembali menahan Fina dan Shien saat mereka hendak beranjak untuk keluar dari ruangannya.


“Kalian ingat kalau minggu depan Tania nikah?” Tanya Tante Hilda, mengingatkan jika salah satu penulis buku yang bekerja sama dengan Snow Candy yang cukup dekat dengan mereka dan juga salah satu penulis yang mengantongi penghargaan Medali Newbery seperti Shien.


“Iya. Tapi, Tante gak mungkin, kan, nyuruh kami datang ke Amerika buat kondangan?” Sahut Shien, mengingat Tania yang tinggal di Amerika.


“Tania udah kembali ke Indonesia, Shi. Kalau kamu lupa, dia setanah air sama kita.” Fina memberitahu. Shien jelas tidak tahu informasi ini karena sudah tidak masuk kantor lebih dari satu minggu.


“Dan Tante mau kalian datang sekaligus mewakili Tante.” Ujar Tante Hilda, beliau kemudian menjelaskan alasan dirinya tidak bisa hadir karena harus pergi ke Amerika untuk mengunjungi kantor cabang di sana.


“Tante juga udah siapin gaun buat kalian. So, gak usah repot-repot nyiapin gaun lagi.” Lanjut Tante Hilda, membuat Fina dan Shien membelalakkan matanya.


“Fina juga pake gaun?” Tanya Shien memastikan.


“Udah jelas dress codenya gaun warna peach untuk perempuan.” Jawab Tante Hilda yang sontak membuat Fina menelan ludah.


Seandainya saja Shien sedang meneguk tehnya, mungkin seluruh isi mulutnya akan muncrat dan menghantam wajah Fina. Berutungnya tidak. Jadi, Shien bisa tertawa puas. Sesuatu yang sangat jarang dilakukannya kecuali sedang bersama Langit.


Imajinasi Shien lebih cepat bergerak membayangkan Fina yang bahkan tingkah lakunya jauh dari feminim itu harus mengenakan gaun yang notabenenya akan membuat anggun si pemakai. Terbayang sudah ekspresi Fina di balik gaunnya. Pasti menggerutu.


“Puas banget ketawanya.” Fina menimpuk Shien dengan bantal sofa.


Shien memegangi perutnya yang sakit. Tawanya juga belum bisa berhenti hingga sudut matanya berair. Lalu, susah payah ia berucap. “Fina pakai gaun? Apa bedanya sama si Reno dikasih kebaya? Haha.”


“Ihh, Shieeeen.” Fina berteriak kesal sambil memukuli Shien menggunakan bantal. Sementara Tante Hilda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua anak gadis itu.


Ini pertama kalinya dia melihat Shien tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ada rasa bahagia dan juga gelisah melihat itu. Namun, entah gelisah karena apa. Tawa lepas Shien membuat hatinya mellow.


“Haha, iya Fin, iya.” Shien berusaha keras meredam tawanya.


“Kalian bisa ambil gaunnya di Lisa’s Boutique. Tinggal sebutin aja nama Tante.” Tante Hilda lalu membagikan lokasi butik milik temannya melalui grup chat yang anggotanya hanya ada mereka bertiga.


“Oke. Kalu gitu kami permisi dulu, Tan.” Pamit Shien. Tante Hilda mengangguk. Namun, sebelumnya dia menyampaikan pesan dari orang tua Shien agar gadis itu pergi ke rumah sakit menemui dokter Nathan untuk memeriksa kondisinya pasca liburan kemarin.

__ADS_1


********


Shien nampak terkejut saat mendapati bunga Camelia merah di hadapan wajahnya begitu ia keluar dari ruangan dokter Nathan. Terlihat si pemberi bunga tersenyum lebar ke arahnya.


“Ngagetin tahu, gak?” Omel Shien sambil mengelus dadanya sebelum kemudian gadis itu menerima buket bunga yang diberikan Langit untuknya.


“Namanya juga surprise.” Sanggah Langit, sebelah tangannya lantas terulur untuk merangkul pundak Shien, lalu mereka berjalan menuju lift.


Mengetahui Shien akan datang ke rumah sakit. Langit dengan sengaja membeli bunga dan menunggu di luar ruangan dokter Nathan untuk mengejutkan gadis itu.


“Kamu baik-baik aja, kan, Shi?” Tanya Langit terdengar khawatir.


“I’m fine.” Jawab Shien dengan seulas senyum tipis tersungging dari kedua sudut bibirnya setelah mereka memasuki salah satu lift yang tersedia di gedung rumah sakit itu.


Langit ikut tersenyum diiringi helaan napas lega, lalu mengacak-acak rambut Shien gemas. Kebiasaan Langit yang satu ini selalu sukses membuat hati Shien begejolak.


“Ohh iya, besok sepulang kerja kamu ada acara, gak?” Tanya Langit sambil menatap lekat-lekat wajah Shien.


Gadis itu menggeleng gugup, masih belum bisa menenangkan jantungnya yang berdetak terlalu cepat. Jarak mereka memang semakin terkikis setiap harinya, tapi Shien terkadang masih merasa gugup saat sedang bersama Langit, ditambah perlakuan laki-laki itu yang bisa saja membuat hati Shien meleleh.


“Aku mau ajak kamu ketemu Jingga soalnya.” Tutur Langit yang beberapa waktu lalu menceritakan Shien pada Jingga, dan itu terjadi karena mulut Biru yang kompor sehingga berhasil membuat Jingga mendesak Langit untuk bercerita.


“Lho, kok mendadak?” Shien sedikit terkejut dengan pemberitahuan Langit yang mendadak. Dia, kan, belum siap.


“Aku udah ngerencanain ini dari beberapa hari yang lalu, kok.” Balas Langit santai.


Shien memutar bola matanya malas. “Ngasih tahu akunya yang mendadak.” Terangnya kemudian.


“Kalau mendadak tuh satu jam atau lima menit sebelum waktunya ketemuan. Ini aku ngasih tahunya sehari sebelum, jadi gak termasuk mendadak, lah.” Bela Langit pada dirinya sendiri, sehingga membuat Shien yang mendengarnya gemas ingin menjambak rambut Langit.


“Terserah kamu, deh.” Sahut Shien, ia malas berdebat dengan Langit yang ujung-ujungnya akan kalah juga. karena laki-laki itu sangat pandai bicara.


“Jadi, kamu setuju, kan?” Tanya Langit lagi, kali ini pandangannya beralih sejenak pada tanda lift yang menunjukkan di lantai mana mereka berada.


“Walaupun aku jawab enggak, ujung-ujungnya kamu tetap maksa aku bilang iya.” Sindir Shien, mengingat sikap Langit yang sangat mendominasi dan otoriter padanya. Jujur, sebenarnya Shien merasa sedikit terkekang dengan sikap Langit yang seperti itu. Tapi, Shien mencoba maklum. Mungkin seperti itulah cara Langit menyayanginya. Shien tidak ingin protes yang bisa saja menyinggung perasaan Langit.


Langit nyengir lebar. Dia sadar jika dirinya selalu bersikap semaunya pada Shien. Tidak peduli gadis itu kesal atau tidak, dan suka atu tidak. Entah dari mana sifat jelek itu berasal, yang jelas Langit tidak suka jika Shien membantahnya.


“Besok aku jemput kamu di kantor, ya.” Ujar Langit yang dibalas anggukan oleh Shien.


Mendesah pelan, Shien harus memutar otaknya dari sekarang untuk mencari alasan yang akan diberikan pada kedua orang tuanya besok.


Tak lama, terdengar bunyi dentingan lift yang menandakan jika lift tersebut sudah tiba di lantai tujuan. Langit dan Shien bergegas keluar dari lift saat pintilu geser itu terbuka.


“Lho, ini bukan lobby.” Shien yang baru sadar mereka turun di lantai tiga sontak menghentikan langkahnya.


“Kamu ikut aku dulu. Selesai aku kerja, kita jalan-jalan sebentar sekalian makan malam.” Ucap Langit, lalu menggenggam tangan Shien dan menuntun gadis itu berjalan menuju ruangannya.


Shien mendengus karena lagi-lagi Langit memberi pemberitahuan mendadak dan memutuskan segalanya sendiri. “Reno gimana?”


Mendorong pintu ruangannya yang terbuat dari kaca, Langit kemudian menjawab. “Ya kamu bilang aja pergi sama aku.”


Shien cemberut, mudah bagi Langit mengatakan itu. Hubungan mereka masih belum diketahui orang tuanya, dan tidak akan baik jika Papa dan Mama mengetahuinya dari laporan Reno.


Huuh, sepertinya Shien harus menggunakan alasan pergi bersama Fina hari ini untuk mengelabui Reno.


“Terus, aku nunggu di sini sendirian?” Tanya Shien sesaat setelah ia mendudukkan dirinya di sofa. Pandangannya mengedar ke seluruh sudut ruangan Langit yang rapi dan bersih. Ini pertama kalinya Shien masuk ke ruang kerja Langit, jadi tidak heran matanya menggerayangi ruangan tersebut.


“Iya. Sebentar, kok. Aku cuma butuh dua jam buat operasi dan satu jam buat periksa pasien.” Nada suara Langit terdengar seperti seorang Ayah yang membujuk anaknya yang tidak ingin ditinggal pergi bekerja.


“Gak keberatan, kan?” Langit mengelus lembut sisi wajah Shien. “Hem?”


Menghembuskan napas cepat, Shien kemudan mengangguk tidak ikhlas. Jelas saja, duduk tiga jam di dalam ruangan tanpa melakukan apa-apa, itu akan sangat membosankan.


“Kalau kamu bosan, kamu bisa streaming dulu.” Langit menyerahkan ponselnya yang sudah dilengkapi aplikasi streaming film berbayar.


Shien menerima ponsel tersebut dengan hatu yang dongkol. Ia benar-benar merasa diperlakukan seperti anak kecil sekarang.


“Terus, di dalam laci meja ada banyak makanan. Kamu boleh makan semuanya sambil nonton.” Sambung Langit seraya menunjuk mejanya.


“Pintunya aku kunci. Takut kamu kabur dan biar gak ada orang lain masuk.” Imbuhnya kemudian, membuat Shien kesal seketika. Apa-apaan coba laki-laki ini?


“Langit, kamu pikir aku anak kecil?” Protes Shien akhirnya. Diiming-imingi dengan ponsel, makanan, kemudian dikunci di dalam ruangan. Apa itu tidak keterlaluan? Shien bukanlah bocah berusia lima tahun.


“Iya, kamu anak kecil. Makannya harus nurut.” Sahut Langit sambil tersenyum geli. Shien hanya menekuk masam wajahnya.


“Aku pergi dulu, baik-baik di sini.” Langit mengelus lembut puncak kepala Shien.


“Ya udah sana.” Usir Shien bete.


“Kalau wajahnya cemberut gini makin gemesin tahu gak, Shi?” Goda Langit yang dengan cepat menyambar bibir Shien, lalu bergegas berdiri dari duduknya dan langsung ngacir keluar dari ruangan sebelum Shien melayangkan kalimat protesnya.


“Benar-benar.” Shien menggeram tertahan, bisa-bisanya Langit mencuri ciuman di saat dirinya sedang kesal begini.


Sementara itu, seseoarang menatap ruangan Langit dari kejauhan dengan penuh amarah. Kedua tangan yang menggantung di sisi pahanya mengepal, tatapannya nyalang tajam. Kilatan mata itu menunjukkan jika ia sangat tidak menyukai pemandangan yang dilihatnya beberapa saat lalu sebelum si pemilik ruangan masuk bersama seorang gadis sambil bergandengan tangan mesra.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2