So In Love

So In Love
EP. 21. Membohongi Diri Sendiri


__ADS_3

********


“Terima kasih, Mas.” Ucap ibu-ibu yang menjajakan topi pantai dan aksesoris lainnya pada Langit karena sudah membeli barang dagangannya. Topi pantai untuk Shien.


Langit berbalik saat mendengar bunyi pintu mobil menjeblak. Ia tertegun begitu melihat Shien turun dari mobil dengan midi dress yang senada dengan outfit yang ia kenakan saat ini. Gadis itu terlihat sangat manis dan cantik, hingga membuat mata Langit enggan beralih untuk melihat objek lain yang ada di sekitarnya.


Tak lantas menegur, Langit masih betah menatap Shien yang asyik mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia memperhatikan perubahan ekspresi Shien, gadis itu tampak tersenyum takjub, lalu tersenyum kecut, entah dia sedang memikirkan apa hingga raut wajahnya berubah sedih.


Shien terlihat seperti anak yang kesepian dengan segala kesedihan yang tertumpuk di hatinya. Entahlah, itu hanya perasaan Langit. Rasanya, Langit ingin sekali memeluknya.


Langit kemudian dengan mantap mendekati Shien yang masih bergeming di tempatnya. Ia tersenyum geli, sepertinya Shien benar-benar tenggelam dalam lamunannya hingga gadis itu tak menyadari Langit sudah ada di hadapannya, bahkan sudah memakaikannya topi.


“Ayo.” Seru Langit, membuat gadis itu terbangun dari lamunannya. Tapi ia masih bergeming dengan mata tertuju pada seulas senyum simpul yang tersungging di bibir Langit. Entah mungkin terdapat magis, hingga Shien betah untuk berlama-lama memandanginya.


“Aku emang ganteng. Udah, nanti aja lagi ngeliatinnya.” Langit menjawil ujung hidung Shien.


“Hiish.” Shien mendaratkan cubitan kecil di pinggang Langit dengan kesal dan malu sekaligus karena sudah terpergok memperhatikan Langit. Itu bukan keinginannya, tapi matanya bergerak sendiri tanpa perintah dan melihat Langit dengan sebegitunya.


“Wajah kamu merah, tuh.” Ledek Langit lagi sambil menunjuk wajah Shien yang terasa semakin memanas.


Dan satu pukulan mendarat di dada bidang Langit. Shien mencebik lucu dengan wajah merengut. Benar-benar menyebalkan. Langit sudah menggodanya hampir setengah hari ini. Rasanya Shien ingin menangis.


“Ngeselin.” Cebiknya.


“Apa? Aku ganteng?” Shien menggeram tertahan, lalu menghentakkan kakinya pada paving block tempat ia berpijak.


“LANGIT.” Kemudian berteriak kesal.


“Haha. Udah, ahh, ayo.” Seraya terkekeh, Langit meraih telapak tangan Shien dengan lembut untuk digenggamnya, lalu menariknya keluar dari pelataran parkir untuk membawa gadis itu masuk ke pantai.


********


Aroma segar yang bercampur bau garam yang khas tercium semakin kuat begitu Langit dan Shien menginjakkan kakinya di pesisir pantai.


Pantai Santolo yang memiliki bentang luas hamparan pasir putih lembut dan bersih dikelilingi deretan perbukitan acap kali disebut sebagai surga tersembunyi di daerah selatan Garut. Pesona keindahannya terasa alami karena kawasannya masih bersih dan rapi, hingga membuat siapa saja yang datang terpikat akan keindahannya.


Langit sedang cerah, tanpa panas yang menyengat.


Suasana pantai yang tenang dengan semilir angin pantai yang menyejukkan, deburan ombak yang tak terlalu besar, serta udaranya menempel erat di kulit membuat siapa saja betah berlama-lama menikmatinya. Termasuk Shien.


Gadis itu menghela napas dengan senyum semringah menghiasi wajahnya yang biasa terlihat dingin. Shien tak jemu melekatkan pandangannya ke batas-batas horizon. Langit biru yang membentang dengan sedikit awan, ombak yang menepi dan beranjak, burung camar dan kapal-kapal kecil di tengah laut sana menambah kesan eksotis. Hatinya seketika menjadi tenang, wajahnya berbinar bahagia. Rasanya Shien ingin menangis kagum akan keindahan yang disuguhkan.


Walaupun ini bukan pantai di Bali, Labuan Bajo, Lombok, atau pantai terkenal lainnya. Tapi Shien sangat senang.


Shien menatap sebuah keluarga kecil saat melintas. Anak perempuan yang berusia sekitar enam atau tujuh tahun tengah bermain istana pasir bersama sang ayah, sementara ibunya sibuk memotret kebersamaan mereka. Terlihat bahagia. Shien ikut tersenyum karenanya.


Shien tak percaya. Inilah salah satu impiannya selama ini. Ini adalah salah satu hal yang pernah ia tulis dalam daftar keinginannya. Hanya saja, tidak ada Papa dan Mama yang menemaninya, begitu pula kedua saudaranya.


Shien membiarkan rambut sebahunya dimainkan angin. Langit yang sejak tadi menggandeng tangan Shien menoleh, lalu tersenyum memandang wajah berbinar gadis itu. Langit berjanji, ia akan melakukan apa saja untuk membuat gadis itu tersenyum lepas seperti saat ini.


“Suka?” Tanya Langit, membuat Shien tersadar. Laki-laki itu terus menuntunnya untuk melangkah lebih jauh menuju bibir pantai. Sementara Shien hanya mengangguk dan tersenyum tipis ke arahnya.


“Makasih.” Ucap Shien terdengar tulus. Ya, terima kasih sudah memberikan Shien pengalaman pertamanya menginjak pantai. Tapi Shien hanya bisa mengatakan itu dalam hati.


“Makasih aja, nih?” Tanya Langit sesaat setelah mereka berhenti melangkah dan berdiri di bibir pantai. “Aku traktir kamu makan siang.” Sahut Shien, namun Langit menggeleng tak setuju hingga membuat gadis itu menautkan alisnya heran.


“Cium, doong.” Ucap Langit seraya mendekatkan dan menunjuk pipinya sendiri. Shien bengong sesaat, kemudian mendengus. “Ogaah.” Gadis itu mendorong wajah Langit agar menjauh.


Langit berpura-pura merengut. “Dasar cewek buta romantis.” Cebiknya kemudian, tapi Shien tak mengindahkannya.


“Udah, lepas.” Gadis itu lantas menyentak tangan Langit pelan, hingga membuat genggaman tangan mereka terlepas, untuk kemudian ia berjalan sedikit menjauh dari Langit.


Shien melepas sandal jepit yang dikenakannya. Ia ingin merasakan telapak kakinya menyentuh pasir putih yang halus itu seiring dengan air laut yang jernih menyentuh kulitnya.


Gadis itu kembali tersenyum, kagum melihat genangan air yang maha luas tak berujung itu. Ia lantas berjongkok, tangan mungilnya menyentuh pasir, menjumput, lalu meremah-remah pasir itu seperti anak kecil yang ia lihat tadi tengah membangun istana pasir. Ternyata menyenangkan.


Langit yang berdiri tak jauh di belakang Shien tak lantas menghampirinya. Ia lebih memilih untuk mengamati gadis itu sejenak, lalu tersenyum geli. Shien terlihat seperti orang yang baru pertama kali datang ke pantai. Begitulah pikir Langit.

__ADS_1


Mengeluarkan ponsel dari saku celananya, Langit lalu memotret gadis yang sedang bermain-main dengan pasir itu dari belakang. Ahh, ia ingin mengambil foto Shien dari depan agar wajahnya terlihat. Tapi pasti gadis itu akan marah kalau ia melakukannya.


“Shien.”


Shien menoleh. Rambutnya berkibar. Dia hafal betul suara itu. Suara yang selalu megganggunya belakangan ini, namun terdengar menenangkan.


“Emmh. . . .” Matanya seketika terpejam saat tiba-tiba Langit dengan jahil mencipratkan air laut ke wajahnya. Laki-laki itu lantas terkekeh puas, tanpa merasa bersalah, lalu tangannya terulur mengelus lembut pipi Shien yang halus. Seiring waktu, ia semakin menyayangi gadis ini sampai dia tak mau meluakainya sedikit pun. Rasa sayang Langit sudah sangat dalam walaupun ia belum lama mengenal Shien. Bagaimana bisa? Langit juga tak mengerti. Hati manusia terkadang tak bisa dinalar.


“Langit.” Panggil Shien. Langit mendongak, memandangnya penuh tanya.


“Ini. . . .” Shien tersenyum geli dan puas sekaligus saat ia berhasil melumuri wajah Langit dengan pasir. Seumur hidupnya, ia tak pernah becanda dengan orang lain seperti ini.


“Shieen.” Mata Langit memicing. Sementara Shien mengedikkan hidungnya seolah meledek, satu sama.


Sepertinya sifat jahil Langit sudah menular pada Shien, karena setelah itu Shien sekali lagi megusap wajah Langit dengan tangannya yang berlumuran pasir, hingga membuat wajah laki-laki itu semakin kotor dan terlihat lucu. Shien sampai menahan tawanya.


Langit mendengus, lalu gelitikan kecil ia berikan di kedua sisi perut Shien, membuat gadis itu tertawa lepas hingga berbaring di atas hamparan pasir, tak tahan dengan rasa geli yang ditimbulkan.


“Langit, stop it.” Shien memukul tangan Langit agar laki-laki itu berhenti menggelitiki perutnya.


“You can’t stop me.” Langit semakin gencar menggerakkan kedua tangannya di sisi perut Shien hingga rasa geli itu semakin menjadi, begitu juga dengan tawa Shien yang terdengar semakin kencang.


Langit tersenyum di sela-sela kegiatannya. Ternyata seperti ini saat Shien tertawa. Ini pertama kali ia melihatnya selama ia mengenal Shien. Gadis itu tertawa dengan sangat polos, seperti anak kecil.


“Maaf, aku gak becanda lagi.” Shien mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V dengan raut wajah memelas, napasnya tampak terengah karena terlalu banyak tertawa.


Tangan Langit berhenti bergerak, lalu terulur untuk membantu Shien bangun.


“Ngeselin.” Shien menggerutu seraya membersihkan rambutnya yang terkena butiran pasir. Topi yang dikenakannya sudah tak terlihat lagi karena terbawa angin.


“Aku baru tahu, ternyata kamu bisa jahil juga.” Langit membantu Shien merapikan rambutnya yang berantakan. “Tapi aku suka. Apalagi kalau kamu manja sama aku. Uhh, pasti makin sayang.” Shien berdecak malas saat Langit mulai mengeluarkan kalimat godaannya.


Lalu, tanpa mempedulikan ucapan Langit, Shien memilih untuk beranjak dari duduknya. Ia lebih baik menikmati panorama pantai sendirian, daripada bersama Langit yang hanya akan menggodanya seharian.


“Mau kemana?” Langit menahan lengan Shien yang hendak beranjak pergi. “Kita main sebentar.” Dan suara pekikan Shien terdengar begitu Langit menarik tubuh gadis itu sedikit ke tengah laut, lalu melemparnya hingga membuat Shien terbatuk-batuk karena air laut masuk ke dalam hidung serta mulutnya.


Pada akhirnya, mereka terhanyut bermain air dan berkejaran dengan ombak. Sesekali saling menjahili, lalu tertawa bersama setelahnya.


Mereka menghabiskan sisa waktunya hari itu dengan bermain air, menaiki perahu nelayan untuk menikmati sensasi ombak pantai selatan yang menantang pemandangan birunya laut sejauh mata memandang. Biota laut pun ikut mereka amati dari atas perahu sambil menikmati panorama sekitar ditemani sejuknya pepohonan yang menghijau.


Liburan yang sederhana, tapi membuat hati mereka bungah. Terutama Shien. Ia tidak pernah memiliki pengalaman liburan seperti ini sebelumnya.


“Kapan pulang?” Tanya Shien sesaat setelah mereka turun dari perahu. Lalu dengan sabar, Langit membimbing Shien berjalan di atas hamparan karang.


Langit sendiri tak terlalu ingin menggubris pertanyaan Shien. Yang jelas, ia ingin menahan Shien berlama-lama bersamanya, karena susah sekali mengajak Shien untuk bisa seperti ini. Ia juga sangsi jika Shien tidak akan lagi berusaha menghindarinya setelah pulang dari sini.


Langit heran. Padahal jelas ia melihat Shien yang sepertinya juga menyukainya. Tapi kenapa gadis ini selalu berusaha menghindarinya?


“Kita makan dulu.” Lalu Langit membawanya menuju restoran seafood terdekat. Shien tak protes. Seharian bermain membuat perutnya kelaparan. Ia harus makan yang banyak untuk mengganti semua energinya yang tadi terkuras.


********


Hari semakin sore, tapi tak ada tanda-tanda Langit akan mengajak Shien pulang. Laki-laki itu malah membawa Shien kembali ke pantai dan duduk di ayunan panjang yang terbuat dari kayu.


Ayunan tersebut tepat menghadap ke pantai. Sangat cocok dijadikan tempat bersantai sambil menikmati keindahan panoramanya setelah lelah seharian bermain.


“Kapan kita pulang?” Tanya Shien untuk yang kesekian kalinya.


“Kita lihat sunset dulu.” Sahut Langit sambil menyampirkan selendang pantai yang tadi di belinya selepas keluar dari restoran. Ia menyelimuti Shien untuk melindunginya dari angin laut sore yang berhembus semakin kencang, lalu ia bergerak duduk di sebelah gadis itu.


“Gak apa-apa, kan?” Tambah Langit. Shien hanya mengangguk lemah. Mau bagaimana lagi? Seandainya mau pulang sendiri pun, Shien tak tahu arah jalan pulang. Ini adalah kali pertamanya ia berkunjung ke daerah ini, dan Shien buta arah, juga tak bisa membaca google map. Ahh, jangan lupakan ponselnya masih disimpan Langit.


Sejenak mereka terdiam menyelami pikiran masing-masing. Hanya suara hembusan angin dan deburan ombak yang terdengar, begitupula dengan suara sekawanan burung yang hendak kembali ke sangkarnya.


“Shi. . . .” Shien menoleh saat Langit tiba-tiba bersuara.


“Apa yang aku katakan di kamar kamu waktu itu. . . .” Langit menghela napas dalam-dalam sebelum kemudian ia melanjutkan kalimatnya. “Aku serius.” Kemudian meraih tangan Shien untuk ia genggam.

__ADS_1


Shien bergeming. Ia tidak bodoh untuk tidak mengerti kata-kata mana yang dimaksud Langit.


“Jadi, apa kamu bisa menerima perasaan aku, Shi?” Tanya Langit dengan sorot mata penuh harap. Ibu jarinya terus bergerak, mengusap-usap punggung tangan Shien dengan lembut.


Shien mengerjapkan matanya. Langit begitu tergesa-gesa, seolah tidak pernah mengenal istilah slow but sure.


“Emm. . . ., kayaknya aku gak. . . . .”


“Gak usah jawab sekarang. Aku tahu, kamu masih ragu.” Langit buru-buru menyambar ucapan Shien. Ia tahu jawaban yang akan dilontarkan gadis itu, tapi Langit tidak mau menerima penolakan.


Langit yakin, gadis itu hanya ragu dengan perasaannya sendiri dan ia hanya perlu meyakinkannya bahwa gadis itu juga sudah jatuh cinta padanya.


“Tapi aku gak ragu.” Sanggah Shien, membuat raut wajah Langit berubah muram.


“Tapi kamu udah jatuh cinta sama aku.” Sela Langit dengan yakin, genggaman tanganya semakin erat seiring dengan Shien yang berusaha melepaskannya.


“Jangan ngaco kamu.” Seru Shien seraya memalingkan wajahnya, tak berani membalas tatapan Langit secara terang-terangan.


“Aku bisa buktiin.” Langit meraih bahu Shien untuk membawa gadis itu kembali menghadap ke arahnya.


“Aku punya teman. . . .” Langit kembali menggenggam tangan Shien.


“Dia dokter spesialis bedah jantung.” Shien memandang Langit penuh tanya. Ia gagal mencerna apa yang tengah Langit ceritakan sekarang. Apa korelasinya, coba? Kenapa Langit tiba-tiba membahas temannya? Aneh sekali.


“Dia bilang, setiap orang memiliki detak jantung yang berbeda.” Langit lalu tersenyum, seketika ia mengingat Jingga yang selalu menganggap detak jantung adalah keajaiban. Ahh, tapi bukan itu poin pentingnya.


“What do you mean, Langit?” Tanya Shien, ia sama sekali tak mengerti apa yang diucapkan Langit.


“Let me give you a hug.” Shien dibuat terkejut saat Langit tiba-tiba menarik dirinya ke dalam pelukannya, otaknya terasa membeku hingga Shien tak bisa melakukan perlawanan.


“Sebentar.” Langit mengeratkan pelukannya, sangat erat hingga tubuh mereka merapat. Sambil memejamkan matanya, Langit merasakan debaran jantung Shien.


“Dengar. Tapi detak jantung kamu dan aku sama.” Langit tersenyum saat merasakan irama jantung Shien yang sama dengannya. “Kamu bisa bohong, tapi tubuh kamu gak bisa.” Sambungnya kemudian.


“Jangan konyol.” Lirih Shien yang ingin mengelak sambil berusaha mendorong dada Langit agar melepaskan pelukannya.


“Pikirkan ini baik-baik, Shi.” Ucap Langit sesaat setelah ia melepaskan pelukannya.


“Tapi aku. . . .”


“Aku akan nunggu kamu buat ngeyakinin hati kamu, Shi.” Langit kembali menyela kalimat yang hendak dilontarkan Shien. Langit tak akan memberi gadis itu kesempatan untuk menolaknya. Langit tidak peduli, biarlah ia dikatakan egois. Bagaimanapun caranya, ia akan membuat Shien berada di sisinya selama-lamanya, walaupun ia harus memaksa.


Shien hendak membuka mulutnya untuk menyahuti ucapan Langit, tapi laki-laki itu dengan cepat membungkam mulutnya dengan satu kecupan singkat pada bibirnya.


“Kalau kamu cuma mau ngeluarin kata-kata penolakan. . . .” Langit mengusap bibir Shien dengan ibu jarinya seraya menatap tajam gadis itu. “Kamu lebih baik diam, karena aku gak akan menerima penolakan dari kamu.”


Ucapan Langit yang tegas terdengar tajam di telinga Shien hingga membuat gadis itu membeku, tak berani melarikan pandangannya dari tatapan Langit yang serius.


Mereka berpandangan cukup lama, hingga akhirnya Langit mendekat, mengikis jarak diantara mereka.


“Aku tegasin sekali lagi, jangan membohongi diri sendiri , Shien.” Lalu tangannya menjalar membelai sisi wajah Shien, hingga berakhir mencapai tengkuk gadis itu, kemudian menariknya perlahan.


Bibir mereka menyatu diiringi dengan matahari yang perlahan bergerak untuk kembali ke peraduannya. Langit memagut bibir Shien, memberikan sapuan lembut dengan lidahnya. Ciuman yang begitu lembut namun dalam, sedalam perasaan Langit pada Shien.


Shien jelas terkejut dengan ciuman Langit yang tiba-tiba itu. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia juga turut menikmatinya. Menikmati ciuman manis laki-laki yang kini memeluknya itu.


Tapi kenapa ia menikmatinya? Sudah jelas ia ingin menolak Langit, bukan? Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Shien merasakan bimbang dalam hatinya. Tapi bibirnya sangat menikmati cara Langit menciumnya. Begitu lembut, hangat, dan manis, hingga ia tergoda untuk membalasnya.


Pada akhirnya Shien terbuai dan menutup matanya. Lalu tanpa sadar, Shien pun menggerakkan bibirnya. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, Shien hanya mengikuti nalurinya saja.


Langit yang merasakan gerakan dari bibir Shien, lantas semakin melancarkan aksinya mencium bibir gadis itu. M*elumatnya dalam-dalam, menikmati setiap inci bibir Shien yang sangat manis.


Shien pun tak lagi pasif. Dibalasnya ciuman Langit dengan semakin intens, ia bahkan mengalungkan tangannya di sepanjang leher laki-laki itu. Shien membuka sedikit mulutnya agar Langit dapat menciumnya lebih dalam.


Di sela-sela kegiatan ciuman itu, Shien menggerutu dalam hati karena otak dan tubuhnya sudah tidak sinkron.


********

__ADS_1


To be continued. . . . .


__ADS_2