
********
Sore itu, Nathan dan Shanna berjalan-jalan di sekitar taman yang ada di samping rumah sakit. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Keduanya hanya berjalan bersisian dengan pikiran masing-masing yang entah menerawang ke mana.
Sudah hampir tiga bulan berlalu, Shien masih betah dalam tidur panjangnya. Dan kegiatan inilah yang sering Shanna lakukan setiap sore hari setelah mengajak ngobrol Shien di ruang ICU.
Setiap hari Shanna mengelilingi rumah sakit. Ia sampai hafal seluk-beluknya. Shanna mungkin bisa menjadi tour guide di rumah sakit ini sekarang.
“Kapan Shien bangun?” Tanya Shanna pelan diiringi hembusan napas berat setelahnya.
Nathan bungkam seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas dokternya. Pertanyaan yang sama, yang setiap hari Shanna ajukan, dan ia tidak bisa menjawabnya.
“Apa yang akan kamu lakukan saat Shien bangun?” Nathan balik bertanya, pandangannya turun sejenak pada kakinya dan Shanna yang mengambil langkah senada.
“Minta maaf, tentu saja. . . .” Jawab Shanna lirih, ekspresi sedih di wajahnya kembali muncul. “Aku kakak yang jahat, ya?” Lalu tersenyum kecut.
Nathan memutar bola matanya malas. “Sha, mending kamu bikin tulisan ‘aku kakak yang jahat’ di sini biar semua orang bisa baca.” Ujarnya sambil menyentuh kening Shanna menggunakan jari telunjuk. Rasanya Nathan bosan sendiri mendengar hal itu setiap hari. Sementara Shanna hanya mendengus mendengar penuturan Nathan.
“Kira-kira Shien maafin aku, gak, ya?” Shanna kembali bertanya. Hatinya dihantui rasa takut akan hal itu.
“Eum. . . .” Nathan berpikir dengan pandangan menerawang, bibirnya yang kemerahan terlipat ke dalam. “Kalau aku jadi Shien, aku gak mau maafin kakak kayak kamu.” Ucapnya tersenyum jahil, membuat Shanna langsung mengerucutkan bibinya lucu. “Tapi Shien itu agak bodoh. Dia tuh lebih sering berpikir pake hati daripada otaknya.” Imbuh Nathan. “Jadi pasti dia bakal maafin kamu dengan mudah.”
Shanna tersenyum geli. Yang dikatakan Nathan memang benar sifatnya Shien. “Semua ini pasti juga berat buat kamu, kan, Kak?”
Nathan mengernyitkan dahinya, gagal mencerna maksud dari pertanyaan Shanna.
“Shien orang yang kamu cintai selama ini. Kondisinya yang seperti ini, pasti jadi pukulan berat juga buat kamu.” Terang Shanna. “Maaf, karena aku semuanya jadi kayak gini.” Sambung Shanna lirih.
Nathan mengerjap, mulai mengerti maksud ucapan gadis yang sedang berjalan di sisinya itu. Ia lantas berdecih geli. Bagaimana Shanna bisa berpikiran seperti itu? Selama ini ia sering mengirimkan kode rasa sukanya pada Shanna. Apa Shanna tidak menangkapnya sedikit pun? Cih, Shanna malah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Emm. . . .” Nathan menganggukkan kepalanya pelan. “Tentu saja ini juga pukulan berat buat aku. Shien, kan, udah aku anggap adik sendiri. Jelas aku juga sedih dan gak tega lihat kondisinya yang kayak gini.” Lanjutnya penuh penekanan.
“Adik apanya? Aku tahu kamu suka sama dia.” Cebik Shanna, membuat Nathan menghentikan langkahnya.
“Bodoh.” Ucap Nathan seraya menarik salah satu sudut bibirnya. Shanna yang sudah berjalan beberapa langkah di depan Nathan ikut menghentikan langkahnya, lalu berbalik dengan sebelah alis terangkat.
“Apa itu yang kamu pikirkan?” Tanya Nathan memandang Shanna dengan tatapan sebal.
“Apa aku salah?” Sahut Shanna. Nathan mendengus, lalu bejalan mendekati gadis itu.
“Kamu emang gak pernah pintar dari dulu.” Cibir Nathan sambil mengetuk-ngetuk dahi Shanna.
“Bahasa tubuh, cara bicara, ekspresi, kamu gak ngerti semua itu?” Shanna mengangguk pura-pura mengerti. Padahal, ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Nathan.
Nathan kembali mendengus, lalu menoyor kepala Shanna pelan. “ Apa aku pernah bilang kalau aku suka sama Shien seperti kamu mengatakan suka sama Langit?”
Shanna menggeleng polos sebagai jawaban.
“Apa kamu pernah lihat aku jalan berdua sama Shien?”
“Kamu sering berduaan di ruang kerja sama dia.” Sahut Shanna.
Sekali lagi, Nathan menoyor pelan kepala Shanna. “Bodoh, kamu tahu itu konsultasi antara Dokter dan pasien.” Shanna hanya nyengir kaku mendengarnya.
“Tapi aku masih ingat kalau kamu bela-belain jadi Dokter demi Shien. Kamu juga nulis itu di pohon harapan. Kalau bukan suka, terus apa namanya?” Ujar Shanna menyanggah.
“Terus, siapa yang setiap ulang tahun, wishesnya mau seorang Dokter hebat yang bisa nyembuhin Shien?” Balas Nathan sedikit kesal.
“Itu aku.” Jawab Shanna cepat. Bahkan sampai ulang tahunnya yang kemarin, harapannya tidak pernah berubah.
“Jadi, sebenarnya demi siapa aku bela-belain jadi Dokter, padahal mimpi aku selama ini adalah jadi Pilot?” Nathan mencondongkan wajahnya ke arah Shanna, sehingga membuat Shanna mengambil sedikit langkah mundur.
“Eung. . . .” Shanna memandang Nathan ragu, kemudian menunjuk dirinya sendiri.
“Kesimpulannya, siapa yang aku suka?” Tanya Nathan lagi sambil kembali bergerak mendekati Shanna.
Shanna mengerjap, dahinya berkerut seperti sedang berpikir keras. “Jadi kalau kamu gak suka Shien, siapa yang kamu suka?”
Nathan terperangah tak percaya. “Udah jelas kayak gini, masih belum ngerti juga?” Tanyanya kesal. Sementara Shanna hanya menggeleng.
“Ngomong sama orang bodoh emang gak bisa pake kode-kodean.” Gumam Nathan pelan, lalu berjalan meninggalkan Shanna.
“Oyy, Nathaniel, kamu ngomong apa, aku gak denger?” Tanya Shanna setengah berteriak, kemudian mengejar Nathan dan kembali menyamakan langkahnya.
“Kamu ngomong apa?” Shanna masih menagih jawaban setelah ia berhasil mensejajarkan dirinya dengan Nathan.
__ADS_1
Laki-laki itu hanya mengedikkan bahu dan terus berjalan ke arah kolam air mancur yang ada di taman tersebut.
“Jadi, siapa orang itu?” Tanya Shanna lagi seraya menaik turunkan alisnya.
“Kamu, kamu, kamu. Apa masih gak ngerti juga? Dasar bodoh.” Sahut Nathan bersungut-sungut, masih dengan kekesalannya. Ia menghentikan langkahnya sejenak, menatap Shanna yang memasang ekspresi bingung. Mungkin gadis itu terkejut.
“Ya?” Shanna mengerjap, speechless.
Nathan diam tak menyahuti. Seketika suasana di antara mereka menjadi sedikit kikuk.
“Ehem.” Nathan berdehem. “Itu kolam air mancur harapan. Kata orang, kalau kita melempar koin ke sana dan mengucapkan harapan kita, maka harapannya akan terkabul.” Ia buru-buru mengalihkan pembicaraannya seraya menunjuk kolam air mancur yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri sekarang.
“Kamu punya harapan? Mau coba?” Tambah Nathan.
“Ta-tapi. Tadi kamu bilang. . . ..”
“Let’s try it.” Nathan menyela kalimat yang hendak diucapkan Shanna dan buru-buru menarik tangan Shanna untuk membawanya ke kolam air mancur.
Jujur, sebenarnya Nathan belum siap dan tidak berniat mengungkapkan perasaannya pada Shanna. Nathan takut jika ia melakukannya, hubungannya dengan Shanna akan menjauh. Karena Nathan tahu, hati Shanna bukan untuknya. Tapi itu sudah terlanjur, dan Nathan belum siap untuk menerima penolakan. Maka dari itu, ia cepat-cepat mengalihkan perhatian Shanna.
“Aku tahu, ini cuma mitos yang dibuat-buat. Tapi gak ada salahnya kita mencobanya. Just for fun.” Tutur Nathan seraya menyerahkan uang koin pada Shanna.
“Hidup di luar negeri gak membuat pikiran primitif kamu hilang, ya, Kak? Dulu pohon harapan, sekarang ini.” Cibir Shanna, namun ia tetap menerima uang koin itu.
“Aku bilang ini cuma buat hiburan.” Sahut Nathan tak terima. Shanna hanya mencebik, lalu melempar uang koin tersebut dan mengucapkan harapannya.
“Aku cuma mau melihat Shien hidup dengan baik. Aku gak harus melihatnya sepanjang hidup aku. Hanya saja, biarkan Shien hidup.” Tutur Shanna, wajahnya kembali berubah sedih.
“Aku mau harapan Shanna terkabul.” Timpal Nathan. Keduanya lantas saling menoleh, lalu melempar senyuman geli.
********
“Shien, ini udah tiga bulan. Apa kamu gak bosan tidur terus?” Tanya Langit sambil menggenggam tangan Shien yang terlihat mulai kurus. Ia tidak pernah absen menemui dan mengajak ngobrol Shien, walaupun ia hanya berbicara sendiri.
“Ohh, iya. Buku baru kamu udah rilis, lho. Fina bilang, bukunya habis terjual dan dapat medali penghargaan yang aku gak tahu namanya itu. Kamu bener-bener hebat. Tapi sayang, dulu peluncuran bukunya kamu gak hadir. Semua orang yang datang berharap banget dapat tanda tangan kamu padahal. Aku juga beli sepuluh buku. Kamu bangun, doong, biar aku bisa dapat tanda tangan eksklusif dari kamu.” Setiap hari Langit tidak pernah kehabisan cerita untuk diceritakan pada Shien.
“Kamu mau tidur berapa lama lagi?” Suara Langit tiba-tiba melirih seiring dengan air matanya yang mulai menggenang di pelupuk mata. “Kamu pernah bilang kalau kita bisa ketemu lagi setelah aku percaya sama kamu. Sekarang aku udah percaya sama kamu dan aku sadar semua itu salah. Tapi kenapa kamu masih belum mau bangun?” Langit teringat mimpinya tiga bulan lalu sebelum Shien mengalami kecelakaan. Mungkin ini juga maksudnya saat Shien mengatakan jika dia tidak akan pergi ke mana-mana dan tetap berada di tempat yang masih bisa Langit lihat.
Iya. Tapi itu hanya raganya saja.
“Bangun, Shi.” Langit sekuat tenaga berusaha menahan tangisnya, tapi tidak bisa, perlahan air matanya menetes, mengalir di wajahnya yang terlihat lelah. “Aku mohon. Jangan hukum aku kayak gini terus-menerus.” Ia lantas mencium punggung tangan Shien. Langit juga bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menyangsikan Shien lagi seumur hidupnya.
Namun, bagaimanapun cara Langit memohon Shien untuk bangun dan terus meminta maaf atas semua kesalahannya. Shien tetap bergeming dalam tidur panjangnya.
Entah sampai kapan Tuhan akan menahannya. Langit hanya bisa berharap jika Dia mengembalikan Shien padanya secepatnya.
********
Malam harinya, Langit tampil rapi dengan gaya kasualnya sambil mengemudikan mobil menuju restoran yang western yang lokasinya dikirimkan Papa sesaat setelah laki-laki paruh baya itu menghubungi dan meminta Langit untuk menemaninya makan malam bersama koleganya. Langit sebenarnya sangat malas, tapi karena Papa mengancam dengan dua kata ‘anak durhaka’, membuat Langit tidak bisa menolak permintaannya.
Turun dari mobil, Langit lantas bergegas masuk ke restoran di mana Papa dan koleganya sudah menunggu. Ia memang sedikit terlambat datang karena sebelumnya harus menyelesaikan operasi terlebih dahulu pada pasiennya.
Membuka pintu dari ruang private restoran yang sudah direservasi itu. Didapatainya Papa, seorang wanita paruh baya dengan penampilan menor, dan Terry. Langit cukup terkejut dan terheran-heran akan kehadiran gadis itu di sana.
Ribuan penyesalan ia gumamkan dalam hati. Seharusnya ia tadi menolak permintaan Papa walaupun diancam dengan kalimat anak durhaka daripada harus bertemu dengan Terry.
Hampir setiap hari Terry datang ke rumah sakit menemui dan terus merayunya seperti perempuan murahan. Tidak hanya itu, Terry terus mengatakan pada Langit bahwa percuma saja menunggu Shien karena dia tidak memiliki harapan hidup lagi. Hal itu jelas membuat Langit muak melihat Terry.
Dan sialnya. Kenapa ia harus bertemu juga di sini sekarang?
“Maaf terlambat.” Ucap Langit dengan senyum dipaksakan. Hanya untuk menjaga sopan santunnya di hadapan wanita paruh baya yang mungkin kolega Papa.
Wanita paruh baya itu membalas senyumnya ramah dan mengatakan tidak apa-apa. Memaklumi karena Langit adalah seorang Dokter yang terkadang tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya seperti orang yang bekerja di kantoran.
Papa lantas mengenalkan wanita paruh baya yang ada di hadapannya adalah Tera, Direktur dari perusahaan kontraktor yang akan berkerjasama dengan perusahaannya untuk proyek pembangunan perumahan di Bali. Beliau juga menambahkan jika yang duduk di sebelah wanita itu adalah Terry, putrinya.
“Kami udah kenal, kok, Om. Kak Langit itu kakak kelas aku di SMA. Kami juga dekat. Iya, kan, Kak?” Ujar Terry sok akrab. Langit hanya mengangguk tanpa minat, dan tak berniat untuk membalas sapaan basa-basi Terry.
“Benarkah?” Tante Tera berekspresi pura-pura terkejut, seolah tidak tahu.
“Itu bagus. Kalian bisa ngobrol tanpa canggung sementara kami membahas pekerjaan. Iya, kan. Pak?” Lalu beralih menatap Papa Wijaya meminta persetujuan. Papa hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.
Setelah itu, Papa mengatakan untuk memulai makan malam karena semuanya sudah berkumpul.
Dan sebagian besar perjalanan makan malam itu diisi dengan pembicaraan Papa dan Tante Tera yang membahas mengenai proyek kerja sama mereka. Tante Tera mengatakan sangat beruntung karena perusahaannya bisa bekerjasama dengan perusahaan milik Papa yang sudah mendunia.
__ADS_1
Langit hanya bungkam dan fokus dengan makanannya meski berulang kali Terry berusaha mengajaknya berbicara. Tapi ia enggan menyahutinya. Langit terus menjejalkan potongan daging steak ke dalam mulutnya hingga penuh demi agar tidak perlu meladeni Terry.
“Ohh, iya. Nak Langit apa gak tertarik buat ikut menjalankan perusahaan sama Pak Wijaya?” Langit mengerjap, sedikit terkejut ketika Tante Tera tiba-tiba bertanya padanya. Lantas dengan buru-buru ia menelan habis semua daging di mulut yang belum tercacah dengan baik hingga membuat tenggorokannya sedikit sakit saat menelannya.
“Ehem.” Langit berdehem, lalu mengambil minum untuk mendorong makanan yang serasa tersendat di tenggorokannya. “Aku gak tertarik sama bisnis, Tan.” Kemudian menjawab singkat. Pertanyaan seperti ini sudah bosan ia dengar setiap kali ia bertemu dengan kolega Papa. Rasanya ia sangat bosan menjawabnya.
Menurut Langit, semua kolega Papa itu sangat berpikiran kolot yang selalu mengharuskan jika anak seorang pemilik perusahaan, maka harus mengikuti jejaknya juga. Padahal, setiap anak itu memiliki mimpi dan jalan masing-masing. Dan beruntung ia memiliki orang tua yang tidak otoriter, yang selalu mendukung apapun keputusannya asalkan itu tetap berada di jalan yang benar dan tidak melenceng.
“Sama kayak Terry. Tante suruh dia ambil jurusan bisnis biar bisa ikut Tante ke perusahaan, eh anaknya gak tertarik.” Ujar Tante Tera seraya melirik Terry yang duduk di sampingnya. Sementara Terry hanya tersenyum malu-malu.
“Tidak semua anak berkeinginan untuk mengikuti jejak orang tuanya. Saya tidak pernah keberatan Langit memilih menjadi Dokter. Lagipula itu bukan profesi yang buruk.” Timpal Papa. Tante Tera tertawa anggun, lalu membenarkan penuturan Papa.
“Tapi Langit udah punya pacar?” Tante Tera kembali mengajukan pertanyaan.
“Punya, Tante.” Jawab Langit tegas, membuat Terry yang mendengarnya menggeram dalam hati, kedua tangannya mengepal keras di bawah meja.
“Wahh, udah punya, ya? Pasti beruntung banget yang jadi pacar kamu. Tante jadi penasaran. Pasti anaknya cantik.” Ujar Tante Tera sembari memasang senyum dipaksakan.
“Pacarnya Shien, Ma.” Ucap Terry.
“Shien? Shien keponakannya Mama?” Tanya Tera kembali berpura-pura terkejut.
“Bu Tera mengenal Shien?” Tanya Papa penasaran. Meskipun tadi wanita itu mengatakan jika Shien keponakannya, tapi Papa hanya ingin memastikan.
Tante Tera kemudian dengan semangat mengatakan jika Shien adalah keponakannya. Tidak lupa dengan embel-embel dengan mengatakan Shien sakit sejak kecil, seolah itu adalah sebuah dosa.
“Tapi Shien masih terbaring koma sekarang.” Tante Tera memasang wajah sedih.
“Apa kamu gak apa-apa nunggu Shien yang gak tahu kapan bangunnya, Lang?” Pertanyaan Tante Tera sontak membuat Langit dan Papa megerutkan dahinya.
“Maksud Tante, Dokter mengatakan kalau kemungkinan Shien untuk bangun sangat kecil.” Tante Tera buru-buru memperbaiki ucapannya. “Dan seandainya Shien bangun, kemungkinan dia gak akan hidup normal kembali.” Lanjutnya, seolah sengaja mengatakan hal itu. Langit mendengus penuh kekesalan.
“Banyak kasus seseorang terbangun dengan kondisi normal setelah kecelakaan parah dan koma seperti Shien.” Sahut Papa yang merasa tidak suka dengan penuturan Tante Tera yang jelas akan membuat sang anak sedih mendengarnya.
“Iya, Pak Wijaya benar. Tapi harapannya sangat kecil.” Sanggah Tante Tera. Diam-diam ia mencengkram garpu di tangannya geram karena Papa membela Shien yang sudah sekarat itu.
“Sekecil apapapun, itu tetap harapan. Dan tidak ada yang tahu jika harapan kecil itu bisa terjadi. Apalagi jika Tuhan sudah turun tangan, maka tidak ada yang tidak bisa terjadi.” Balas Papa bijak.
“Iya, tapi. . . .”
“Sepertinya Bu Tera tidak mau keponakannya terbangun.” Sindir Papa menohok, membuat wajah Tante Tera menegang.
“Saya cuma becanda.” Imbuh Papa diiringi kekehan yang dipaksakan. Tante Tera ikut terkekeh canggung.
“Pak Wijaya ini. Setiap hari saya berdoa untuk kesembuhannya. Jadi mana mungkin saya tidak menginginkan itu.” Tutur Tante Tera penuh kepalsuan, kemudian meminum air untuk menetralkan kekesalannya. Ia kira orang kaya sekelas Pak Wijaya sangat mementingkan latar belakang termasuk kondisi seseorang yang menjadi pasangan anaknya seperti orang kebanyakan. Tapi ia tidak menyangka jika Pak Wijaya adalah orang yang sangat baik dan bijaksana. Cih, sungguh beruntung keponakan tirinya itu.
“Eung, maaf. Kayaknya aku gak bisa ikut makan malam sampai selesai.” Ucap Langit tiba-tiba. “Ada panggilan darurat dari rumah sakit.” Lanjutnya memberi alasan yang sebenarnya adalah bohong. Langit hanya tidak tahan berada satu ruangan dengan pasangan Ibu dan anak yang sama-sama suka membuat Shien terlihat buruk.
“Kalau gitu kamu harus segera pergi, Lang.” Ujar Papa sambil mengusap pundak Langit sebentar, membuat Langit langsung mengangguk. Lalu dengan cepat beranjak meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan atau melirik lagi pada Tante Tera maupun Terry.
********
“Kak, tunggu.”
Langit terperanjat ketika seseorang tiba-tiba menarik lengannya saat ia baru saja membuka pintu mobil. Terry.
Langit mendengus kasar. Ternyata gadis itu mengikutinya.
“Kamu sengaja, kan, pergi lebih dulu?” Tembak Terry.
“Iya atau enggak, itu bukan urusan kamu. Lagian makan malam ini juga gak ada urusannya sama aku.” Sahut Langit sambil menghentak kasar tangan Terry hingga terlepas dari lengannya.
“Pasti karena Shien lagi, kan?” Tanya Terry, lalu berdecih sinis. “Apa bagusnya, sih, tetap nungguin dia? Shien itu udah sekarat, gak bisa apa-apa. Dan kalaupun dia bangun, dia bakalan jadi orang cacat.”
“Udah selesai?” Tanya Langit dingin. Wajahnya merah padam, tatapannya tajam penuh kemarahan, membuat Terry yang mendapat tatapan itu ketakutan dan sedikit memundurkan tubuhnya.
Langit tersenyum setan. “Siapa kamu berani-beraninya ngomong kayak gitu? Kamu harus tahu ini. Seandainya kamu adalah gadis terakhir yang ada di dunia ini. Aku gak akan melirik kamu sedikit pun apalagi milih kamu.” Ia lantas memandang Terry seolah dia adalah makhluk paling menjijikan di dunia.
“Sekali lagi kamu berbicara sembarangan tentang Shien dan gangguin aku. Kamu bisa lihat akibatnya nanti.” Ujar Langit terdengar penuh ancaman, kemudian dengan cepat masuk ke mobilnya. Meninggalkan Terry yang mematung dengan kemarahan membuncah di hatinya.
Terry lantas tertawa sarkas. Ia tidak percaya kalah saing dengan orang sekarat seperti Shien, yang hidupnya mungkin sudah berada di ujung tanduk.
********
To be continued. . . .
__ADS_1