
BTW, makasih yang udah bersedia like, vote, dan ngasih hadiah. Terlebih kepada yang udah mau baca cerita ini. Makasih banyak-banyak. 😉
********
Di ruangannya, Shien memainkan koin Australia yang ia dapatkan dari Langit dengan cara terus memelintirnya.
Pandangannya tampak kosong, menatap lurus koin yang terus berputar. Sementara pikirannya melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu, saat Langit tiba-tiba menciumnya.
“Sialan.” Shien menyentak meja hingga koin yang tengah berputar itu berhenti dan terpental ke ujung meja, nyaris saja terjatuh.
Langit benar-benar brengsek. Siapa dia berani menciumnya sembarangan? Langit bahkan belum lama mengenalnya. Perasaan dongkol itu masih bersemayam di hatinya.
Shien menerka-nerka, mungkin Langit adalah laki-laki yang suka menggoda setiap gadis atau laki-laki itu tertarik padanya.
Jika itu yang pertama. Apa dia juga melakukan hal seperti tadi pada kakaknya, Shanna? Memang sialan, itu tidak boleh dibiarkan. Kalau seperti itu ia tidak boleh membiarkan Langit mendekatinya ataupun kakaknya. Ia harus menaburkan garam di sekitar kantor dan rumahnya agar laki-laki itu tidak berani mendekat lagi.
Dan jika itu yang kedua. Sebelumnya, bukan dia terlalu percaya diri. Tapi Shien hanya membuat dugaan sementara.
Maka, jika Langit tertarik padanya, itu tidak benar dan tidak boleh terjadi. Shanna menyukainya dan sejak awal Shien tidak pernah ingin mengikat dirinya dengan siapapun. Jika itu terjadi, itu berarti Shien harus membatasi diri untuk tidak dekat-dekat dengan Langit mulai sekarang.
Shien menggelengkan kepalanya, berusaha menepis dugaan yang kedua. Lagipula, mana mungkin Langit menyukainya. Seorang gadis yang berpenyakit seperti dirinya? Jika ia menjadi Langit, ia akan lebih memilih Shanna atau gadis lain yang jelas lebih baik. Tepatnya, lebih sehat dan lebih segalanya.
Ya, Shien harus membuang dugaan yang kedua. Dan itu berarti, Langit memang sialan karena laki-laki itu sudah berani menggodanya.
Shien mengacak-acak rambutnya. Pikirannya kacau, rasanya pening sekali mengingat kejadian tadi. Sekarang ia ingin pulang saja dan lebih baik bekerja dari rumah. Masa bodoh dengan jamuan makan malam yang akan dihindarinya.
Tapi, tunggu. . . .
Sebelum ia beranjak dari ruangannya. Shien harus menegur seseorang terlebih dahulu. Fina.
Dimana gadis itu sekarang? Shien harus membuat perhitungan padanya. Jika bukan karena Fina meninggalkannya, kejadian Langit yang menciumnya tidak akan terjadi.
********
Lain halnya dengan Shien.
Langit yang baru saja selesai bergelut di ruang operasi, langsung berlari ke ruangannya dan menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Lalu, laki-laki itu mencari kontak Shien dan mulai menghubunginya.
Masih dengan posisi duduk di atas meja, Langit menyugar rambutnya frustrasi, sebab Shien tak kunjung menjawab panggilannya.
“Sialan.” Langit mengumpat untuk dirinya sendiri. Shien pasti benar-benar marah padanya. Apalagi jika diingat dengan tamparan dan wajah merah padam gadis itu.
Seandainya saja ia tadi cepat tersadar, seandainya saja tadi tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit. Langit pasti tadi langsung mengejarnya dan meminta maaf.
Sekarang, apa yang dipikirkan Shien tentangnya? Mungkinkah Shien berpikir ia laki-laki mesum dan kurang ajar?
Ahh, sialan.
Langit sudah menakutinya. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan dirinya. Seharusnya ia melakukannya secara perlahan sampai gadis itu mengetahui dan menerima perasaannya.
Seumur hidup, ia tidak pernah lepas kendali di hadapan gadis yang disukainya. Bahkan Jingga sekali pun, ia tidak pernah kehilangan kontrol saat bersamanya. Bahkan disaat kedekatannya melebihi dengan kedekatan saat bersama Shien.
“Aiish, shit.” Dilemparkannya ponsel dari genggamannya itu ke tempat kosong di sebelahnya, lalu berteriak frustrasi. Langit tidak benar-benar bisa menenagkan emosinya saat ini.
Sekarang ia harus bagaimana? Shien mengabaikan panggilannya. Haruskah ia pergi ke kantornya sekarang? Ya, sepertinya itu yang harus ia lakukan. Langit tidak ingin Shien berlama-lama marah padanya dan menyebabkan perjuangannya hancur begitu saja.
Ahh, tidak. Langit bahkan belum berjuang. Masa ia harus sudah kalah sebelum berjuang.
Namun, baru saja ia beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kunci mobil di atas mejanya. Tiba-tiba ketukan pintu terdengar, sehingga mengharuskan Langit untuk menoleh sambil menyahutinya dan mempersilahkan siapapun itu masuk ke ruangannya.
Begitu pintu terbuka, terlihat gadis yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya berjalan masuk seraya menyunggingkan senyum lebar padanya, Jingga.
Gadis itu terlihat cantik dengan balutan dress A-shape warna hitam dengan kombinasi kain tile bermotif bunga dan sulur, terlihat simple dan elegan. Dress itu berhasil menyamarkan perutnya yang sudah mulai membuncit. Jelas saja, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat saat ini.
Langit heran, apa di kehidupan sebelumnya Jingga pernah menyelamatkan negara? Kenapa bisa dia diberi keberkahan dengan terlihat semakin cantik bahkan saat dirinya hamil? Beruntung Langit sudah move on. Jika belum, bukan tidak mungkin ia akan semakin terpesona dengan gadis itu.
“Kamu mau pergi?” Taya Jingga begitu melihat kunci mobil di genggaman tangan Langit. “Emm.” Langit mengangguk kecil.
“Baru aja aku mau keluar. Ada apa? Tumben main kesini?” Laki-laki itu megernyitkan keningnya, heran karena semenjak menikah Jingga memang jarang bahkan nyaris tidak pernah lagi datang ke ruangannya seperti saat sebelum gadis itu menikah.
“Yaaah.” Senyum yang semula mengembang kini menyurut, raut wajah Jingga terlihat merengut begitu mendengar jawaban Langit. “Padahal aku mau ngajak kamu makan siang bareng.” Terang Jingga kemudian seraya menunjukkan tas bekal makan siang yang ditentengnya.
“Harusnya kamu telepon aku dulu sebelumnya. Aku lagi buru-buru mau keluar ini, ada urusan.” Ujar Langit, Jingga malah semakin merengut mendengarnya hingga membuat Langit bingung akan reaksi aneh gadis itu.
“Penting banget, ya?” Dan Langit menjawabnya dengan anggukkan. Ya, ini sangat penting karena berhubungan dengan masa depannya. Masa depan untuk bisa hidup bahagia bersama istri dan anak-anaknya kelak.
Langit dibuat semakin bingung saat raut wajah Jingga malah berubah sedih. Apa anak ini salah makan? Hanya karena ia menolak makan siang bersamanya, Jingga sampai hampir menangis seperti itu.
“Ji, kamu baik-baik aj. . . .”
__ADS_1
“Sayang. . . .” Seseorang menerobos masuk ke ruangan Langit tanpa permisi, hingga membuat kalimat yang hendak diucapkan Langit tergantung. Biru. Duhh, sebenarnya ada apa pasangan suami istri ini mendadak menghampirinya?
“Lho, kamu kenapa?” Tanya Biru saat melihat wajah sang istri yang merengut. Lantas dibelainya pipi gadis itu dengan sayang.
“Langit gak mau makan siang bareng sama aku.” Adu Jingga dengan rengekan manja. Padahal, gadis itu jelas tahu bahwa Langit menolaknya bukan karena ia tidak mau, tapi karena ada urusan.
“Aku bilang ada urusan, Ji. Bukannya gak mau.” Langit kembali menegaskan saat melihat Biru kini menatap tajam dirinya.
Sebenarnya ada drama apa ini? Uhh, ia benar-benar tidak ingin dilibatkan.
“Makan bareng aku aja, ya?” Oke. Langit mendapat tontonan dimana Biru tengah membujuk istrinya. Ia masih belum mengerti. Kenapa perihal makan siang saja mereka permasalahkan?
“Tapi baby maunya makan bareng sama Langit.” Seru Jingga keukeuh. Kali ini gadis itu terlihat menghentakkan kakinya ke lantai karena keinginannya tidak dipenuhi.
Ohh, sekarang Langit mengerti. Jingga berubah menyebalkan seperti kakaknya yang ngidam. Dan Langit pastikan bahwa gadis itu sekarang juga tengah mengalami gejala itu.
Tapi, tunggu. . . .
Apa katanya tadi? Bayi Jingga maunya makan bersama Langit? Ohh, Tuhan. Tolong jangan sekarang. Ia tak bisa melawan jika dihadapkan dengan ibu-ibu hamil.
“Lang. . . .” Firasat buruk, Biru tiba-tiba menoleh ke arahnya dengan tatapan memelas.
“Tolong gue, lah.” Dan itu kalimat yang tak ingin Langit dengar saat ini. “Masa lo tega ngebiarin anak gue ileran.” Langit menghembuskan napas lemah. Biru sudah membuatnya tersudut.
“Jingga cuma mau makan siang bareng lo, itu gak aneh-aneh, kok.” Terang Biru.
Langit berdecak kecil. Memang tidak aneh, tapi waktunya yang tidak tepat.
“Ya udah, iya.” Jawab Langit penuh keterpaksaan. Ia tidak mau sampai harus disalahkan jika anak mereka ileran gara-gara dirinya tidak memenuhi ngidam Jingga yang ingin makan siang bersamanya. Ahh, ibu hamil benar-benar merepotkan.
“Tapi gak mau ahh kalau terpaksa.” Ujar Jingga dengan wajah yang masih ditekuk.
Langit yang mendengar itu lantas menghela napas dalam-dalam, guna mencari kesabaran di sana. Ini benar-benar tidak adil. Yang meghamili dia suaminya, kenapa dirinya harus ikutan repot?
“Ikhlas Jingga. Udah ayo makan sekarang.” Seru Langit seraya melangkahkan kakinya menuju sofa. Jingga kemudian membuntutinya.
“Tadi kamu bilang ada urusan penting.” Langit menggeram dalam hati. Gadis itu sadar, lalu kenapa masih memaksanya?
“Gak penting-penting banget, kok.” Sahut Langit dengan berat hati serta menyunggingkan senyum yang dibuat-buat.
“Ohh, bagus, deh. Aku gak perlu merasa bersalah kalau gitu.” Ucap Jingga enteng sesaat setelah ia berhasil mendudukkan dirinya di sofa.
Benar saja, Biru kini mendelik sebal padanya. “Dalam mimpi lo.” Langit tergelak kecil sambil menangkis bantal sofa yang Biru lemparkan ke arahnya.
“Kok kamu masih di sini?” Jingga yang sedang mengeluarkan kotak bekal makan siang sejenak menoleh ke arah sang suami dengan kening berkerut.
“Lho, kenapa?” Tanya Biru menautkan alisnya bingung.
Memutar bola matanya malas, Jingga lalu berujar. “Aku bilang, baby cuma mau makan berdua sama Langit.” Jelasnya penuh penekanan, seolah ia sedang mengusir Biru secara halus.
“Ya udah, sih, kalian tinggal makan aja. Aku diem di sini nunggu kamu.” Sahut Biru seraya melipat kedua tangan di depan dadanya dengan wajah ditekuk.
Sejak tadi malam, ia sudah menahan rasa cemburunya karena Jingga bersikeras ingin makan siang berdua dengan sahabatnya itu. Cih, Jingga bahkan memasak sendiri untuk Langit. Ia benar-benar iri. Jika bukan karena bayi yang ada di dalam perutnya, Biru tidak akan mengizinkannya sama sekali.
“Gak boleh. Nanti kamu ganggu.” Sanggah Jingga. Langit yang melihat keributan kecil mereka hanya bisa menghembuskan napas lemah dan berdoa pada Tuhan agar segera mengeluarkannya dari situasi ini.
“Aku gak akan minta makanan kalian.” Balas Biru tak peduli, ia masih enggan beranjak dari tempatnya.
“Kakak . . . .” Biru mendengus kasar tatkala melihat sang istri menatapnya dengan tatapan kesal. Pada akhirnya, mau tidak mau ia harus mengalah.
“Udah, jangan merengut.” Jingga menghadiahi satu kecupan di pipi Biru.
Langit seketika melempar tutup dari kotak bekal dengan kesal. Pasangan ini benar-benar raja tega. Haruskah melakukan itu di depan matanya? Dan untuk adegan selanjutnya, Langit hanya bisa menggigit bibirnya kuat-kuat untuk meredam rasa kesalnya.
“Itu mana cukup.” Biru lantas menangkup kedua sisi wajah Jingga, kemudian mendaratkan ciuman pada kening, kedua kelopak mata, hidung, dan berakhir di bibir sebanyak tiga kali secara singkat.
“Bantu Mama makan yang banyak, sayang.” Biru mengelus lembut perut Jingga, sebelum kemudian ia beranjak pergi dengan berat hati.
“Kalian bener-bener gak tahu tempat.” Langit menggerutu dan mulai menyendok makanannya dengan kesal.
“Kamu lihat?” Jingga bertanya dengan tampang polosnya.
“Mata aku bukan pajangan.” Langit dengan gregetan memukul pelan puncak kepala Jingga menggunakan garpu yang masih belum digunakannya.
“Ya maaf, makannya kamu cepetan cari istri, dong.” Gumam Jingga terdengar tidak jelas karena mulutnya penuh dengan sayuran rebus. Langit tak menyahutinya, ia memilih untuk fokus pada makanannya.
“By the way, tadi aku nonton drakor. . . .”
Jingga yang tengah asyik dengan beef teriyakinya lantas mendongak saat Langit mulai bercerita. Aneh sekali, tak biasanya Langit mereview drakor. Karena yang Jingga tahu, Langit hanya akan menonton film aksi. Ahh, mungkin ia juga terkena drakor fever seperti dirinya.
__ADS_1
“Ceweknya marah pas si cowok nyium dia.” Rasanya Langit ingin berbagi cerita, tapi ia terlalu malu.
“Lho, kenapa?” Jingga menelan makanannya. “Nyium sembarangan kali tuh cowok.” Dan tebakan Jingga cukup tepat.
“Tapi si cowok suka sama dia.” Sambar Langit, rasanya sedikit kurang tepat jika ia dibilang mencium sembarangan. Yang lebih tepat adalah ia tidak sengaja karena tak bisa mengendalikan diri.
“Tapi ceweknya?” Sela Jingga. “Belum, kan masih tahap pendekatan. First date aja belum pernah.” Jawab Langit. Jingga langsung mendengus.
“Aku juga kalau jadi ceweknya bakalan marah kalau kayak gitu. Malah pengen nampar.” Seru Jingga bersungut-sungut, sehingga membuat Langit yang mendengarnya nyaris saja tersedak. Seandainya Jingga tahu, Langit sudah mendapat tamparan tadi pagi.
“Belum juga dibuat nyaman, udah main cium-cium aja. Tuh cowok orang mesum atau apa?” Jingga yang ikut hanyut dalam cerita lantas menusuk brokoli rebus dengan sedikit sentakkan. Langit yang melihatnya sedikit bergidik ngeri.
“Timing is everything. Cowok tuh harusnya bisa buat situasi nyaman dulu, terus ajak pergi bersama, nyatakan perasaan. Nah, habis itu boleh tuh cium-cium sampai guling-guling juga boleh.” Jingga tanpa sadar malah memberikan kiat-kiat pendekatan yang sebenarnya itu cukup berguna bagi Langit. Tapi itu sudah terlambat. Langit melewati semua langkah dan memulainya dari yang terakhir.
“Biru kayak gitu?” Seketika Langit tertarik menanyakan hal ini.
“Tentu saja. . . .” Jingga menggantungkan kalimatnya sambil menusuk-nusuk sayuran rebusnya. “Dia mana tahu tahapan. Biru maksa aku buat jadi pacarnya dulu, baru dibikin nyaman.” Lanjut Jingga, ia sedikit kesal karena tidak pernah merasakan PDKT dengan tahapan yang benar.
“Tapi kamu mau-mau aja, tuh.” Cebik Langit yang langsung membuat Jingga senyum-senyum tak jelas. “Itu . . . ., karena aku takut gak nemuin cowok yang lebih ganteng dari dia. Sayang banget kalau ditolak.” Jawab Jingga jujur.
Langit mendelik sebal, ia kurang ganteng dari mananya? Ia juga ganteng. Ingin sekali Langit berteriak seperti itu di telinga Jingga keras-keras. Ternyata mata gadis itu sudah bermasalah sejak awal. Selama dua puluh tahun di sisinya, Jingga tak pernah bisa melihat ketampanan Langit barang sedikit pun.
“Tapi dia gak pernah sembarangan nyium kayak aktor di drakor itu.” Jingga kembali pada topik drakor yang Langit ceritakan. Ia tersenyum miris saat mengingat ciuman pertamanya yang menyedihkan karena Biru akan pergi ke Amerika waktu itu.
“Aku gak percaya kalau kalian pernah pacaran sehat.” Cibir Langit, mengingat kelakuan Biru dan Jingga sekarang yang suka cium dan sentuh sana-sini di sembarang tempat. Tak peduli ada orang atau tidak di sekitarnya, yang jelas dunia hanya milik mereka berdua dan yang lainnya tak kasat mata.
“Enak aja.” Jingga melempar kotak tissue, namun Langit berhasil menghindarinya, untuk kemudian ia tergelak pelan.
“Ngomong-ngomong, itu judul drakornya apa? Aku mau tonton.” Tanya Jingga yang membuat Langit gugup seketika. Namun, ia tetap berusaha memasang ekspresi setenang mungkin agar Jingga tidak curiga bahwa dirinya sedang berbohong. CK, drama apa? Ini adalah drama nyata tentang dirinya.
“Itu. . . , aku lupa judulnya apa. Hehe.” Langit nyengir kaku. Jingga mendengus. Tapi beruntung gadis itu tak membahasnya lagi dan kembali fokus pada makan siangnya.
********
Langit kini sudah duduk di kursi belakang mobil dengan Papa. Dulu, ia sudah berjanji menemani Papa untuk menghadiri undangan makan malam di rumah kerabatnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah teman Papa, Langit lebih banyak diam dengan kepala menunduk pada ponsel yang digenggamnya. Berharap Shien membalas atau setidaknya membaca pesannya. Tapi nihil, karena sebanyak apapun ia mengirim pesan padanya dan selama apapun ia memelototi ponselnya, Shien tetap mengabaikannya.
Ahh, jika bukan karena memiliki janji pada Papa. Sepulang kerja pasti ia sudah mencari Shien. Benar-benar hari yang sangat kacau.
Panggilan darurat itu menyebalkan, Jingga dan Biru menyebalkan, Papa juga menyebalkan. Semuanya menyebalkan. Mereka semua seolah menjadi penghalang bagi Langit saat akan memperjuangkan cintanya.
Tanpa sadar, Langit meninju sisi jok captain seat yang didudukinya hingga membuat Papa menoleh ke arahnya dengan heran.
“Kamu kenapa?” Tanya Papa dengan kening berkerut. Langit tersentak, kemudian membenarkan posisi duduknya.
“Gak apa-apa, Pa. Aku sebenernya cuma males aja pergi ke acara ginian.” Kilah Langit yang sebenarnya memang benar.
Ini bukan kali pertamanya ia ikut bersama Papa menghadiri acara jamuan makan malam, dan tak pernah sekali pun acara itu menyenangkan. Ia hanya akan jadi robot sempurna di sana. Tersenyum, mengangguk, dan menjawab seadanya saat rekan Papa mengajaknya berbicara. Tidak lebih dari itu.
Jika boleh jujur, Langit lebih menyukai pesta barbeque bersama Albi dan Bian walaupun sepanjang pesta mereka hanya membahas hal-hal kotor. Tapi ia lebih suka itu.
“Cuma sebentar doang, kok.” Kata penenang ini, ia sudah bosan mendengarnya dari Papa. Benar, hanya sebentar hingga terkadang lupa waktu.
“Hmm.” Jawab Langit malas, kemudian melemparkan pandangannya keluar jendela kaca mobil. Mengamati kendaraan yang berlalu lalang di jalanan malam.
“Ayo. Udah sampai.” Seru Papa yang melihat putra semata wayangnya itu masih tenggelam dalam lamunannya dengan wajah yang ditekuk masam.
Langit kembali tersentak, lalu matanya menatap sekeliling. Ternyata mobil Papa sudah terparkir di halaman rumah yang cukup besar, walaupun tak sebesar milik Papanya. Tapi rumah di depannya ini tetap saja masuk dalam kategori elite.
Ehh, tunggu.
Langit memicingkan matanya, merasa familiar dengan lingkungan rumah ini. Lalu dengan cepat pandangannya mengitari setiap sudut pekarangan rumah ini.
Tadi pagi, bukankah ia ke sini? Langit terperangah, tak percaya ternyata rekan yang dimaksud Papa adalah orang tua si kembar Shanna dan Shien.
Senyum Langit seketika terbit. Memang kalau jodoh tidak akan kemana. Seharian ia gagal untuk mencari Shien. Ehh, sekarang ia berakhir akan makan malam di rumahnya. Duhh, Langit jadi tak sabar untuk segera bertemu dengan gadis itu. Shien pasti akan tampil cantik dengan gaun pestanya.
“Malah bengong. Ayo kita masuk.” Tegur Papa sambil menepuk pelan pundak Langit karena anak itu hanya bergeming di tempatnya setelah turun dari mobil.
“Ya ampun, anak ini.” Sekali lagi Papa menepuk pundak Langit, namun kali ini menambahkan sedikit tenaga hingga membuat anak laki-lakinya itu tersentak kaget.
“Besok kamu ambil cuti. Papa khawatir kamu jadi gila karena kebanyakan kerja.” Ujar Papa yang melihat Langit senyum-senyum tidak jelas. Padahal, jelas tadi wajahnya masih merengut. Papa mengira bahwa Langit butuh hiburan.
Laki-laki paruh baya itu kemudian berlalu dan langkahnya diikuti oleh Langit beberapa detik setelahnya.
********
To be continued . . . .
__ADS_1