So In Love

So In Love
EP. 08. Tidak Diinginkan


__ADS_3

I am comeback . . . .


Selamat membaca, besok-besok mulai up teratur again. 😉


********


Bau desinfektan khas rumah sakit menyeruak masuk di indra penciuman Shien begitu gadis itu mendapatkan kembali kesadarannya. Dengan gerakan perlahan, Shien membuka matanya, ia mengerjap kecil untuk menyesuaikan cahaya terang yang menembus netranya.


Setelah netra beningnya mampu menyesuaikan cahaya, Shien lantas mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan serba putih itu, kemudian terhenti pada pergelangan tangan kirinya yang terasa sedikit ngilu karena jarum infus yang menancap di sana.


Dengan napas yang masih terasa berat, ia lalu menggerakkan kepalanya ke kanan. Ia melenguh pelan saat merasakan sakit di kepalanya.


Raut wajahnya berubah sendu tatkala matanya menangkap sosok yang tengah tertidur dengan kepala jatuh di sisi ranjangnya. Bukan Tante Hilda ataupun Fina, tapi ibunya. Shien mengerjapkan matanya, lalu ia bisa melihat Tante Hilda yang sedang duduk di sofa, wanita paruh baya itu sedang fokus mengamati layar pada benda pipih di genggamannya, sesekali jarinya yang lentik sibuk menggulir layar dari tablet yang digenggamnya itu.


Tante Hilda yang tidak sengaja melirik dan mendapati keponakannya sudah siuman, ia langsung beranjak dari duduknya untuk kemudian berjalan mendekati ranjang Shien.


“Kamu udah bangin, Shi?” Tante Hilda menyunggingkan senyum lembutnya diiringi dengan langkah mendekat menghampiri Shien.


Mama yang terganggu dengan suara Tante Hilda lantas bergerak bangun, lalu menatap Shien dengan tatapan pilu.


Tangannya nyaris terangkat untuk mengelus kepala putri bungsunya itu, namun terurungkan tatkala Shien malah memalingkan wajahnya ke arah Tante Hilda.


“Tante panggil dokter Nathan dulu, ya.” Tante Hilda berujar seraya bergerak pergi keluar dari ruang rawat Shien.


“Kamu udah pingsan semalaman, Shi.” Ucap Mama sambil menahan tangisnya.


“Mama khawatir banget sama kamu.”


Shien bergeming. Otaknya dipenuhi pikiran mengharukan bahwa sang ibu kini ada di sampingnya. Entah Shien bermimpi atau bukan, yang jelas ia melihat wajah ibunya tengah mengkhawatirkannya.


Mama menemaninya saat ia pingsan. Ck, bukan hal bisa diharapkan Shien. Ia sudah membuang harapan itu jauh-jauh sejak dulu.


Dulu, mungkin Shien akan senang melihat Mama berada di sisinya seperti ini, tapi tidak sekarang. Shien sudah terbiasa tanpa kehadirannya. Dulu ia sering berharap Mama akan datang menemaninya setiap kali ia dilarikan ke rumah sakit seperti ini, terlebih saat ia akan akan masuk ke ruang operasi yang begitu dingin dan menyeramkan. Shien selalu berharap wanita yang telah melahirkannya itu setidaknya memberikan kata “Semangat, Mama nunggu kamu di sini.” Tapi nihil, wanita itu tidak pernah ada, meskipun ia memanggil Mama sebanyak seribu kali.


“Aku bisa sendiri.” Shien menepis tangan Mama yang hendak membantu menopang punggungnya saat ia akan bangun. Mama yang melihat penolakan Shien hanya menatapnya dengan tatapan terluka.


“Kamu butuh sesuatu? Mau minum? Mama ambilin, ya?” Tanya Mama terdengar sedikit canggung.


Shien terdiam. Kehadiran sang ibu yang tiba-tiba benar-benar membuat perasaannya campur aduk antara rindu, terharu, sedih, dan kecewa datang sekaligus. Entah Shien harus bersikap seperti apa di hadapan ibunya sekarang. Yang jelas, kekecewaan dalam hatinya terhadap wanita itu membuat Shien enggan bahkan untuk melirik ke arahnya.


“Shi . . . .”


“Dokter Nathan.” Seru Shien menghentikan gerakan tangan Mama yang hendak menyentuh lengannya saat Tante Hilda bersama dokter Nathan masuk untuk memeriksa keadaannya.


“Aku baik-baik aja, kan?” Tanya Shien di sela-sela dokter Nathan menyuntikan sesuatu pada selang infusnya.


Shien menghembuskan napas berat tatkala melihat raut wajah dokter Nathan yang sedih. Tampaknya, kondisi Jantung Shien menjadi semakin memburuk jika dilihat dari ekspresi dokter Nathan.


“Jangan memasang wajah cemas kayak gitu.” Ujar Shien seolah meledek karena seorang dokter tidak seharusnya seekspresif itu di depan pasiennya. Dokter Nathan benar-benar berhati lemah.


“Shien, Sebenarnya . . . .” Dokter Nathan menatap Shien dengan tatapan sendu.


“Aku tahu semuanya. Waktu aku gak banyak lagi, kan?” Sambar Shien memotong ucapan dokter Nathan. Gadis itu berujar dengan santai, namun nada bicaranya jelas terdengar sedih.


“Shien, kamu ini ngomong apa?” Tante Hilda menyela, ia menatap Shien tak suka. Seenaknya saja dia berbicara sembarangan seperti itu. Sementara Mama, beliau menahan tangisnya sekuat tenaga mendengar penuturan Shien. Ia tahu, keadaan Shien tidak sebaik kelihatannya.


“Jangan sok tahu, kamu cuma kecapekan.” Dokter Nathan mengusap penuh wajah Shien hingga membuat gadis itu mendengus kesal.


“Sudah aku bilang jangan memforsir diri, kenapa gak didengerin?” Omel dokter Nathan kemudian, ia sengaja mengalihkan pembicaraan. “Gadis nakal.” Shien mendelik sebal saat dokter Nathan kembali mengusap wajahnya.


“Berani-beraninya . . . .” Shien menatap dokter Nathan dengan tatapan kesal. Namun, si dokter hanya memasang tampang tak peduli. “Kenapa?” Tanya dokter Nathan seraya menjulurkan lidahnya meledek. Tante Hilda yang melihatnya hanya tersenyum geli, dokter Nathan memang pandai mengalihkan suasana.


“Tangan kamu kotor.” Jawab Shien, ia lantas mengusap wajahnya menggunakan selimut seolah sedang membersihkan kotoran di sana.


“Kalau kamu udah sembuh, kamu pasti bakalan kangen belaian tangan aku.” Seru dokter Nathan mennggodanya. Shien hanya berdecih geli mendengar itu.


“Belaian jidatmu.” Gerutu Shien tak jelas, masih dengan wajah kesalnya. Dokter Nathan yang melihat itu hanya tersenyum geli, Shien begitu menggemaskan walaupun dengan raut wajah judes seperti itu.


“Shien, jangan begitu.” Tegur Tante Hilda melihat perangai keponakannya yang sangat tidak ramah itu. Namun, Shien tak mengindahkannya sama sekali. Gadis itu sibuk memperhatikan dokter Nathan yang kini tengah memasang ekspresi mencibir ke arahnya dengan menjulurkan bibir bawahnya sambil menyeringai. Dokter ini benar-benar menyebalkan. Seumur dua puluh lima tahun hidupnya, Shien tidak pernah menemukan dokter seaneh Nathan.


********


“Shi . . . .” Panggil Tante Hilda membuat Shien yang tengah fokus dengan tabletnya menoleh. “Tante kayaknya gak bisa nemenin kamu. Ada urusan di kantor yang gak bisa ditinggalin.” Ujar Tante Hilda terlihat sedikit menyesal.

__ADS_1


“Gak apa-apa, Tan. Aku kan udah biasa sendiri, lagian aku juga udah gak apa-apa. Infusnya juga udah dilepas.” Jawab Shien tanpa sadar, membuat Mama yang sejak tadi hanya duduk terdiam di sofa merasa sedih mendengarnya.


“Hari ini Mama kamu yang nemenin, Tante pergi dulu.” Ujar Tante Hilda seraya mengelus lembut rambut Shien sebelum kemudian ia beranjak dari ruang rawat keponakannya itu.


Suasana sangat hening selepas kepergian Tante Hilda. Shien kembali sibuk dengan tabletnya, sementara Mama hanya diam memperhatikan gadis yang mengenakan pakaian pasien itu.


Wanita paruh baya itu tampak ragu untuk memulai pembicaraan. Pasalnya, sejak tadi Shien mengabaikannya seolah ia tidak ada walaupun Mama berusaha untuk berbicara padanya. Jika ditanya apakah Mama sedih atau tidak? Jawabannya jelas sedih, siapa yang tidak akan sedih diabaikan anak sendiri? Tapi ia tidak marah. Mama sadar, Shien bersikap seperti itu bukanlah tanpa sebab.


“Mau ke mana?” Mama refleks bertanya dan beranjak dari duduknya tatkala melihat Shien turun dari ranjangnya.


“I’m going to get some air.” Jawab Shien datar tanpa menoleh ke arah Mama sedikitpun. Ia terus melangkah mendekati pintu.


“Shien, tapi mama mau bica . . . .” Mama berusaha menahan Shien, tapi gadis itu kembali tak mengindahkannya. Shien bahkan sudah menghilang di balik pintu saat ini.


Mama kembali mendudukkan dirinya di sofa, ia menatap nanar ranjang pasien yang menjadi tempat Shien berbaring.


Matanya lantas terpejam seiring dengan air matanya yang jatuh. “Maafin Mama, Shien.” Ucapnya dengan suara berat.


Mama mengusap pipinya yang basah saat suara deritan pintu ruang rawat Shien terdengar, ia memasang senyumnya, mengira Shien sudah kembali. Buru-buru Mama beranjak dan menatap ke arah pintu.


“Shi . . . .” Senyum Mama perlahan memudar tatkala yang didapatinya bukanlah Shien, tapi putri sulungnya. Shanna.


Gadis itu datang dengan sebuket bunga tulip warna merah yang melambangkan cinta tanpa batas, bunga yang pernah ia dan adiknya tanam di kebun belakang rumah saat masih kecil dulu. Shien sangat menyukainya.


“Lho, Shien mana, Ma?” Tanya Shanna dengan alis mengernyit karena tak mendapati adiknya ada di sana.


“Katanya mau cari udara segar.” Jawab Mama yang kembali duduk. Shanna hanya ber-ohh ria seraya melangkahkan kakinya mendekati nakas untuk meletakkan bunga yang dibawanya.


“Mama udah bujuk Shien buat ikut pulang?” Tanya Shanna. Mama tak menjawab, ia hanya menghembuskan napas beratnya dengan raut wajah sedih.


Dari diamnya sang ibu, Shanna sudah bisa menebak jawabannya. “Shien gak mau bicara sama Mama.” Tutur Mama kemudian seraya tersenyum getir.


“Pelan-pelan aja, Ma.” Shanna menghampiri Mama, kemudian berhambur memeluknya. Air mata wanita paruh baya itu tampak berlinang-linang, mengingat semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada putri bungsunya itu.


“Biar aku bantu bujuk dia buat ikut pulang.” Imbuh Shanna setelah melepaskan pelukannya.


“Sekarang aku keluar dulu. Telepon aku kalau Shien udah kembali.” Shien lantas beranjak dari duduknya.


“Lho, kamu mau kemana?” Tanya mama dengan kening mengernyit bingung.


“Jangan gangguin Prof. Biru, dia udah punya istri, Sha.” Tegur Mama.


“Lagian kamu ini gak tahu malu banget, jadi anak cewek kok pecicilan gitu.” Tambah Mama. Ia tak habis pikir dengan anak gadisnya yang satu ini, entah turunan dari mana sikap Shanna begitu pecicilan dan tak tahu malu mendekati setiap laki-laki tampan. Tapi walaupun begitu, tak pernah ada satu pun yang pernah dipacarinya.


“Bukan pecicilan, Ma. Itu namanya usaha buat nyari yang terbaik dari yang terbaik.” Shien berdalih, membuat Mama geleng-geleng kepala seraya berdecak geli mendengarnya.


“Dan Mama tenang aja, kali ini bukan Prof. Biru atau cowok lain yang udah punya pasangan. Dia ganteng dan jomblo.” Jelas Shanna kemudian dengan mata berbinar membayangkan wajah Langit. Ekspresi wajahnya seperti ia baru saja mendapatkan mainan baru.


“Jangan main-main terus Shanna.” Mama memperingati. Jelas, kerena usia anak gadisnya itu tidak muda lagi jika terus bermain-main.


“Mama tenang aja, ini yang terakhir.” Sahut Shanna dengan yakin. Mama hanya menatapnya tak percaya diiringi decakan geli.


“Aku pergi dulu.” Pamit Shien seraya berlalu dari hadapan Mama.


“Kamu mending cari adik kamu daripada keyaban gak jelas.” Mama setengah berteriak saat Shanna sudah sampai di ambang pintu. Tapi gadis itu tak mengindahkannya sama sekali.


********


Shien berjalan menuruni tangga darurat dengan langkah gontai. Merasakan dadanya sesak, ia lantas memilih duduk di salah satu anak tangga dengan kepala yang bersandar pada railing tangga.


Shien terdiam, lantas ia tersenyum kecut. Kehadiran ibunya yang tiba-tiba benar-benar membuat semua kenangan di masa lalunya terputar di benak Shien layaknya sebuah video.


Shien mengerjapkan mata seraya menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan bayang-bayang wajah kedua orang tua yang kini memenuhi pikirannya. Wajah yang tidak pernah lagi memancarkan kehangatan yang selalu Shien harapkan selama hidupnya dari kedua orang tuanya itu. Terlebih Papa.


Papa selalu mengabaikan Shien sejak ia divonis mengalami PDA (Patent Ductus Arterious/kelainan jantung bawaan) dengan bukaan lebar sehingga menyebabkan gagal jantung yang disebabkan karena kelahiran prematur karena dia dan Shanna lahir sebelum waktunya. Hal itu juga dikaitkan dengan kondisi dan kesiapan tubuh bayi yang belum sempurna. Namun walaupun begitu, pertumbuhan Shien tidak terhambat, justru gadis itu tumbuh dengan baik seperti anak normal pada umumnya.


Entah persepsi Shien yang berbeda tentang kasih sayang orang tua, tapi yang jelas, yang ia tahu sejak kecil orang tuanya memperlakukannya sangat berbeda dari kedua saudaranya. Ia menyimpulkan bahwa kenyataan ia mengidap penyakit jantunglah yang menyebabkan orang tuanya pilih kasih.


Sebelumnya memang semua perhatian orang tuanya hanya tercurahkan pada Shien seorang. Mama akan selalu menemaninya sepanjang Shien menjalani homeschooling, menemaninya saat ia masuk rumah sakit, membacakan dongeng sebelum tidur, dan lainnya. Begitupula Papa yang selalu mengajaknya bermain selepas beliau pulang kerja. Namun, hal itu hanya terjadi sampai usia Shien enam tahun.


Karena terlalu fokus memperhatikan dan merawat Shien yang terus sakit-sakitan, sering pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, hal ini membuat dua anaknya yang lain Shawn dan Shanna kurang terperhatikan sehingga terjadi masalah dengan sekolah mereka seperti nilai akademik yang sangat merosot.


Alhasil, orang tuanya memutuskan menyewa suster dan pengasuh untuk merawat dan memperhatikan Shien. Pada awalnya, mereka menyewa suster dan pengasuh hanya untuk membantu karena sulitnya mereka membagi waktu dalam mengurus ketiga anaknya.

__ADS_1


Namun seiring berjalannya waktu, orang tua Shien malah ketergantungan dan seolah menyerahkan Shien pada pengasuh sepenuhnya. Sejak saat itulah interaksi antara Shien dan orang tuanya mulai menjauh. Perlahan, Shien kehilangan kasih sayang dan perhatian yang biasa orang tuanya berikan. Selanjutnya, hanya Shawn dan Shannalah yang diberi perhatian penuh. Sementara Shien dibiarkan dengan pengasuh. Segala hal yang biasa dilakukan Mama dan Papa, semua diambil alih oleh bibi pengasuh.


Papa yang setiap hari menemuinya setelah pulang kerja dan meminta Shien untuk menceritakan semua kegiatan yang dilakukan selama di rumah, tidak dilakukannya lagi. Pernah beberapa kali Shien menyambut kedatangan Papa saat beliau pulang bekerja, namun Papa mengabaikannya. Awalnya Shien mengira mungkin Papa sedang lelah, ia memaklumi dan berpikir untuk menyambut Papa keesokan harinya.


“Shien, masuk ke kamar dan cerita sama bibi aja, ya.” Itulah yang selalu Papa ucapkan begitu Shien menyambut dan meminta Papa mendengarkan ceritanya. Padahal, ia sangat ingin menceritakan kisah dari buku cerita yang baru saja selesai dibacanya.


“Ceritanya besok aja, ya. Papa capek hari ini.” Bujuk Papa, dan Shien hanya bisa mengangguk. Sementara laki-laki itu berlalu dari hadapan Shien menuju kamar Shawn dan Shanna. Selalu seperti itu, hingga akhirnya Shien berhenti menunggu sang ayah. Laki-laki itu tidak pernah memenuhi ucapannya.


Tidak hanya itu, Mama yang biasa memperhatikannya setiap saat juga tidak melakukan itu lagi. Setiap pagi Mama akan sibuk mengurus kedua saudaranya Shawn dan Shanna yang hendak berangkat sekolah, lalu mengantar dan menunggunya hingga mereka pulang.


Belum lagi jika Shawn dan Shanna melakukan ekstrakurikuler ataupun bimbel di luar sekolah, pasti wanita itu akan datang di sore atau menjelang malam hari. Shien tidak lagi ditemaninya saat ia homeschooling. Tidak hanya itu, Mama juga tidak lagi menemaninya di rumah sakit saat ia pingsan. Mama hanya cukup bertanya keadaannya pada bibi. Padahal, saat itu Shien merengek ingin Mama menemaninya, tapi wanita itu tidak bisa datang dengan alasan harus menghadiri pentas drama Shanna atau menemani Shawn yang saat itu mengikuti kompetisi renang di sekolahnya.


“Shien sama bibi dulu, ya. Nanti Mama datang . . . .” Begitulah Mama menenangkannya melalui saluran telepon. Dan Shien hanya mempercayainya, walaupun sebenarnya Mama tidak pernah datang setelah itu. Pada akhirnya, Shien tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Mama saat ia harus dirawat di ruangan yang bau dengan obat-obatan itu. Ia mulai terbiasa sendirian.


Shien menjadi anak yang kesepian dan kekurangan kasih sayang sekaligus. Setengah hari ia habiskan untuk belajar bersama guru homeschoolingnya, lalu sisanya ia habiskan untuk membaca buku cerita sebanyak yang ia mampu. Hal itu semata-mata Shien lakukan untuk menghibur dirinya sendiri, sehingga ia dapat melupakan sejenak mengenai sikap orang tuanya yang tiba-tiba mengabaikannya. Tak ada yang dapat ia lakukan selain itu karena ia juga tidak memiliki teman, walaupun ia ingin bermain. Shien juga tidak mengenal siapapun anak-anak yang ada di sekitar kompleks perumahannya karena sejak dulu ia dilarang keluar dari rumah.


Pernah sekali ia mengendap-endap keluar rumah karena Shawn dan Shanna mengajaknya untuk bermain di taman kompleks. Namun, hal itu berakhir dengan Shanna yang terluka akibat terjatuh didorong oleh anak-anak yang hendak menjahili Shien. Walaupun tengil, Shanna adalah kakak yang baik yang selalu siap melindungi adiknya.


“Papa udah bilang kamu diam di rumah aja. Lihat akibatnya kalau kamu bermain di luar, kak Shanna jadi terluka karena kamu. Tubuh kamu lemah, itulah kenapa Papa melarang kamu keluar rumah. Kamu gak bisa melindungi diri kamu sendiri, Shien.” Dan inilah pertama kalinya Shien melihat Papa marah padanya, ia bahkan sampai terperanjat kaget karena baru saja Papa berbicara dengan nada tinggi.


Tidak ada yang membelanya saat itu karena Mama tengah mengurus Shanna yang terluka.


Mendengar penuturan Papa, Shien jadi merasa bersalah pada Shanna. Sejak saat itulah ia tidak pernah ingin keluar dari rumah lagi walaupun Shawn dan Shanna mengajaknya.


Tidak hanya itu, Shien juga tidak pernah diikutsertakan dalam acara jalan-jalan saat liburan sekolah tiba. Orang tuanya hanya sibuk mengajak Shawn dan Shanna jalan-jalan, sementara Shien ditinggalkan di rumah dengan alasan takut ia kecapekan dan tiba-tiba pingsan. Setelah beranjak dewasa, Shien dapat mengartikan ucapan Papa yang mungkin beliau tidak ingin kerepotan membawa anak yang sakit seperti dirinya dan bisa saja menghancurkan acara jalan-jalan keluarga jika ia tiba-tiba terkena serangan jantung. Ck, Shien hanya bisa tersenyum kecut.


“Tunggu Shien sehat, ya.” Mama selalu membujuknya dengan kalimat itu. Dan Shien sadar, ia tidak pernah bisa jalan-jalan. Kapan ia bisa sehat?


“Nanti pulangnya Mama sama Papa beliin buku baru buat Shien.” Untuk yang ini Mama tidak berbohong, bahkan Shien memiliki perpustakaan di dalam kamar saking banyaknya buku cerita yang ia miliki. Yaa, mungkin buku cerita itu pengganti liburan untuk Shien.


Seolah tak cukup dengan itu, selain pilih kasih, orang tua Shien semakin mengabaikannya dan bersikap dingin tatkala Shawn kehilangan nyawanya saat mereka berlibur di villa keluarga.


Saat itu Shien tengah bermain mengambil bunga liar yang ada di sisi danau buatan, namun tak sengaja ia menjatuhkan kalung kesayangan yang diberikan Papa saat ulang tahunnya yang ke enam.


Melihat wajah sedih sang adik, Shawn dengan senang hati menawarkan diri untuk mencari kalung milik Shien ke dalam danau. Pada awalnya Shien tidak menyetujui, namun Shawn meyakinkan adiknya bahwa dia adalah perenang yang hebat.


“Kamu tahu, kakak juara satu di kompetisi renang kemarin.” Itulah kalimat terakhir yang ia dengar dari kakaknya Shawn, sebelum kemudian anak laki-laki berusia dua belas tahun itu menceburkan dirinya ke dalam danau buatan.


Lama Shien menunggu, ia terus melihat ke arah sungai dengan perasaan cemas. Namun, sudah lebih dari satu jam Shawn tak kunjung muncul ke permukaan. Shawn tidak kembali. Dia sudah tenggelam.


Kepergian Shawn yang tiba-tiba jelas membuat kedua orang tuanya shock dan tidak terima. Jelas saja, Shawn adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu yang diharapkan menjadi penerus yang handal untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif milik Papa Shien. Dan seketika itu harapannya hancur begitu saja. Shawn sudah tidak ada.


“Ambil Shien sebagai gantinya.” Teriak Mama histeris. Tampak wanita itu tengah ditenangkan oleh Papa di dalam kamar. Entah sadar atau tidak. Tidak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu. “Kenapa harus Shawn yang diambil?” Lanjutnya seperti orang kesetanan.


Shien yang tak sengaja mendengarnya merasa ada sebuah tombak yang menghujam di ulu hatinya, ia merasakan dadanya teramat sakit. Bukan karena serangan jantung, melainkan karena apa yang didengarnya barusan dari mulut sang ibu.


Shien merasa sedih, secara tidak langsung Mama sudah terang-terangan mengatakan bahwa Shien adalah anak yang tidak diinginkan. Entah Shien salah mencerna karena saat itu usianya baru sembilan tahun, tapi seperti itulah ia mengartikannya sampai sekarang.


Belum cukup ucapan Mama yang sangat menusuk hatinya. Malam hari Papa datang ke kamar dan memarahinya habis-habisan. Laki-laki itu terus menyalahkan Shien atas apa yang sudah menimpa kakaknya Shawn.


“Lihat kakakmu, Shien. Papa sudah bilang kamu di rumah aja.” Shien hanya menunduk takut melihat Papa memarahinya.


“Kenapa kamu gak dengerin Papa?” Papa bahkan dengan geram mengguncang bahunya. Shien semakin ketakutan. Saat itu bahkan ia berdoa pada Tuhan agar ia terkena serangan jantung dan pingsan agar bisa menghindari situasi ini. Tapi, sayangnya itu tidak terjadi.


“Hanya karena kalung bodoh ini. Kenapa kamu harus menukar hidup Shawn dengan ini?” Tubuh Shien semakin gemetar tatkala Papa melemparkan kalung milik Shien dengan keras ke lantai. Kalung itu ditemukan dalam genggaman tangan Shawn yang sudah terbujur kaku begitu anak laki-laki itu ditemukan.


“Dari dulu kamu hanya bisa menyusahkan orang lain, Shien.” Kali ini Shien benar-benar seperti ditikam ribuan pisau tepat di hatinya walaupun Papa mengucapkan itu tanpa sadar.


“Mulai sekarang, jangan pernah sekali-kali lagi kamu keluar dari rumah. Dan jangan berharap bisa berteman dengan siapapun. Kamu hanya akan merepotkan mereka kalau kamu memilikinya.” Tambah Papa sebelum kemudian ia keluar dari kamar Shien dan menutup pintu keras-keras.


Kata-kata yang Shien dengar dari mukut kedua orang tuanya saat itu benar-benar menyakiti hatinya. Teramat sakit, hingga anak yang masih berusia sembilan tahun itu kesulitan untuk menangis. Shien juga sangat sedih dan merasa bersalah karena telah kehilangan kakaknya, tapi tidak seharusnya Mama dan Papa mengatakan hal semacam itu.


“Papa kamu gak sungguh-sungguh, sayang.” Bibi pengasuh dengan cepat menghampiri dan memeluk untuk menenangkan gadis kecil yang terlihat shock itu, wajah Shien sangat pucat kala itu, seolah aliran darah berhenti mengalir pada pembuluh darahnya.


Tak lama setelah itu, Shien kehilangan kesadaran dan tahu-tahu ia sudah berada di rumah sakit.


Akibat kejadian itu, Shien mengalami trauma psikologis hingga ia kesulitan bicara (aphasia), gadis kecil itu terus berkutat dengan rasa sedihnya dan menyalahkan dirinya sendiri. Terkadang ia pingsan saat ingatan buruk tentang kematian Shawn dan segala ucapan orang tuanya muncul. Namun, keadaan Shien yang seperti ini tak membuat orang tuanya memperhatikannya. Jangankan memberi dukungan, melihat keadaan Shien di rumah sakit saja tidak. Mereka masih sibuk menangisi kepergian putra satu-satunya yang telah pergi, seolah lupa bahwa Shien juga putri mereka yang masih membutuhkan perhatian.


Melihat keadaan Shien yang kian memburuk dan tanpa adanya perhatian orang tua, sang nenek, ibu dari ayah Shien yang merasa prihatin akhirnya memutuskan untuk membawa Shien untuk tinggal bersamanya di Amerika.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


Lanjut besok, yes.


__ADS_2