So In Love

So In Love
EP. 53. Hilang


__ADS_3

Berikan komentar terbaik kalian untuk cerita ini. Boleh juga kritik dan saran. 😊


********


Shien yang tengah berkutat dengan beberapa dokumen perusahaan terpaksa harus menghentikan perkerjaannya tatkala ia merasakan sakit di dadanya. Ia lantas menatap jam tangan pintarnya. Benar saja, detak jantungnya di bawah normal. Shien khawatir jika kondisinya semakin memburuk karena sakit di dadanya lebih sering terjadi beberapa hari belakangan ini.


Menyingkirkan semua dokumen ke samping, Shien kemudian memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan merebahkan kepalanya pada meja kerja setelah sebelumnya ia meminum air putih. Cara ini lebih baik daripada meminum obat pereda nyeri. Shien terkadang bosan meminumnya.


Napasnya terlihat sesak, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Shien lalu memejamkan matanya erat-erat hingga keningnya ikut berkerut menahan rasa sakit.


Hingga tiga puluh menit berlalu, rasa sakit di dada Shien perlahan mereda, dan gadis itu tertidur. Bahkan sampai jam makan siang tiba, Shien masih belum terbangun. Dering ponselnya yang terus berbunyi pun tidak mengganggunya sama sekali.


Sementara itu di luar ruangan Shien. Langit yang memang sudah sepakat untuk makan siang bersama dengan Shien, hendak menyusul gadis itu ke ruangannya karena setelah beberapa saat menunggu di bawah, Shien tak kunjung datang dan panggilannya diabaikan.


Langit dibantu Fina dan membimbingnya masuk ke ruangan Shien. Fina yang melihat Shien tertidur hendak membangunkannya, tapi Langit dengan cepat mencegahnya dan memberi isyarat untuk diam dan membiarkan gadisnya tetap tidur.


Fina menurut, lalu mendengus iri karena Langit menunjukkan perhatian berlebih di depan jombo seperti dirinya. Fina lantas meninggalkan Langit dan mengatakan kalau Langit dan Shien harus mentraktirnya makan makanan enak karena selama ini ia sudah membantu mereka pacaran sembunyi-sembunyi dari Tante Hilda dan orang tua Shien. Langit tergelak tanpa suara dan langsung menyetujuinya.


Setelah Fina pergi dan pintu ruangan kembali tertutup, Langit kemudian duduk di depan Shien. Dia ikut merebahkan kepalanya pada meja dan menatap wajah cantik Shien yang terlihat sedikit pucat itu. Posisi kepala mereka saling berhadapan.


Satu jari telunjuknya terulur untuk merapikan anak rambut Shien yang cukup mengganggu di sela-sela ia memandangi wajah gadisnya itu.


Selesai dengan rambut, telunjuk Langit beralih menyentuh dahi Shien yang tampak berkerut dalam. Langit bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang Shien mimpikan hingga keningnya mengernyit seperti itu?


Langit mendekatkan wajahnya, kemudian mendaratkan ciuman di kening Shien dalam-dalam sambil memejamkan matanya, seolah sedang berusaha menyalurkan seluruh cinta yang kian bertambah besar di dalam hatinya melalui ciuman itu.


“Cabul. . . .”


Langit yang nyaris saja mencium bibir Shien langsung menarik diri begitu ia mendengar gadis itu tiba-tiba bersuara. Gadis itu terbangun saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningnya.


“Sembarangan.” Protes Langit seraya merebahkan kepalanya kembali dengan sebelah tangan terlipat sebagai penyangga.


“Kenyataan.” Shien mencibir laki-laki yang ada di depannya itu. Suaranya masih terdengar lirih, khas orang bangun tidur.


Langit yang mendengar itu hanya mendengus sambil mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Shien menyunggingkan senyum geli, namun sangat tipis hingga nyaris tak terlihat.


“Pantesan aku telepon gak dijawab. Ternyata malah tidur.” Ujar Langit, membuat pupil mata Shien melebar saat teringat akan janjinya untuk makan siang bersama Langit hari ini.


Shien sedikit meringis untuk kemudian berucap. “Maaf, aku ketiduran.”


Lantas gadis itu memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman, sehingga saat ini ia dan Langit saling pandang dengan jarak yang lebih dekat.


“Masih ngantuk?” Tanya Langit sambil mengelus pipi Shien lembut.


Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Kok kamu bisa masuk?”


“Bisalah, kan pintunya gak dikunci.” Jawab Langit berkelakar.


“Ihh. . . .” Shien mendengus, satu tangannya yang bebas ia layangkan, bermaksud untuk memukul lengan bahu laki-laki tampan yang ada di hadapannya itu. Namun, dengan sigap Langit menahan, lalu menggenggam tangannya.


Untuk sejenak, keduanya sama-sama terdiam dengan mata yang saling berpandang.


Langit terdiam sambil mengecupi punggung tangan Shien, keningnya sedikit mengernyit saat ia merasakan sesuatu yang kurang dari tangan gadisnya. Sementara Shien terdiam karena sentuhan bibir Langit di tangannya yang selalu sukses membuat jantungnya berdebar tak karuan.


“Lang. . . .”


“Cincin kamu mana?”


Belum sempat Shien mengucapkan kalimatnya, Langit sudah lebih dulu menyambarnya dengan pertanyaan.


Pantas saja Langit merasa ada yang kurang, ternyata Shien tidak memakai cincin pemberiannya.


Shien terdiam sebentar sambil mengerjap, lalu menarik tangannya dan beranjak untuk duduk dengan tegap.


Langit melakukan hal yang sama, sorot matanya tidak lepas mengawasi wajah Shien, menunggu jawaban dari gadis itu.


“Eung. . . .” Shien menggigit kuku ibu jarinya. Gadis itu menatap Langit dengan ekspresi aneh sehingga membuat Langit menyipitkan matanya curiga.


“Hilang, ya?” Tebak Langit dan tepat sasaran.


“Sebenarnya bukan hilang. . . .” Shien mencoba menjelaskan, tangannya lantas meraih ballpoin dan memainkannya dengan menekan berulang-ulang bagian kliknya.


“Tapi gak ketemu, aku lupa nyimpan.” Sambungnya dengan sudut bibir yang sedikit tersungging kaku.


Langit terperangah tak percaya. Hilang dan tidak ketemu apa bedanya? Lantas ia menghunuskan tatapan tajamnya pada Shien hingga membuat gadis itu berusaha melarikan diri dari pandangannya, takut.


“Kenapa bisa lupa nyimpan? Kamu lepas cincinnya?” Tanya Langit dengan tangan bersedekap di dada, siap menginterogasi gadis itu.


“Hei, lupa itu manusiawi.” Shien mencoba membela diri, lalu terdiam sebentar, memikirkan kenapa cincinnya itu bisa hilang, padahal jelas-jelas ia ingat terakhir kali meletakannya di atas meja rias tadi malam sebelum pergi membersihkan diri ke kamar mandi.


Shien memang lupa memakainya kembali, tapi ia masih melihat cincinnya tergeletak di atas meja rias sebelum ia beranjak tidur dan berniat untuk memakainya kembali di pagi harinya. Namun, saat Shien hendak memakainya kembali tadi pagi, ia sudah tidak menemukan cincinnya ada di sana. Shien sudah berusaha mencarinya, tapi hasilnya nihil.


“Dan aku biasa melepas semua perhiasan kalau mau mandi.” Terangnya kemudian.


“Tapi kamu seharusnya gak lupain cincin tunangan kita.” Tegur Langit kesal karena Shien tidak menjaga barang pemberiannya dengan baik.


“Lupa mana bisa pilih-pilih?” Balas Shien tak kalah kesal.


Langit mendelik seraya berdecak sebal, lalu saling melempar tatapan tajam dengan Shien.


“Tahu gak, Shi? Cincin itu penting banget buat aku. Itu sebagai tanda bahwa kamu udah jadi milik aku, itu juga tanda peringatan buat cowok di luar sana biar gak berani godain kamu, dan juga pengingat agar kamu gak jatuh cinta sama cowok lain.” Omel Langit diiringi dengan raut wajah merengut yang menandakan bahwa laki-laki itu benar-benar kesal.


Shien memutar bola matanya jengah. Sebenarnya siapa yang mencetuskan budaya yang menjadikan cincin sebagai lambang kepemilikan? Berbeda sekali dengan sejarahnya yang megatakan bahwa pemberian cincin itu sebagai simbol komitmen.


“Jadi kalau aku gak pake cincinnya, aku bukan milik kamu lagi, gitu? Terus sekarang aku bebas kalau mau jalan sama cowok lain di luar sana?” Balas Shien telak, tapi itu malah membuat Langit semakin kesal mendengarnya.


Shien bukan tidak menjaga atau tidak menghargai barang pemberian Langit. Hanya saja, siapa yang tahu kalau benda bundar tanda cinta itu akan hilang di kamarnya sendiri? Lagipula Shien tidak menyimpannya dengan ceroboh, kok. Cincin itu hanya. . . , hilang begitu saja.


“Lho, kok kamu ngomong kayak gitu?” Langit beranjak dari duduknya, mengitari meja, lalu berdiri di hadapan gadis itu dengan bersandar pada meja.


“Kamu sendiri yang mengecap cincin itu sebagai tanda kepemilikan.” Sahut Shien dengan delikan sebal.


Langit terdiam sebentar, seolah kehilangan kata-kata untuk melawan ucapan Shien. “Bukan gitu maksud aku. . . .”


“Aku cuma takut. Takut kalau kamu gak pake cincin itu, kamu digodain cowok lain.”

__ADS_1


Shien menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan cepat. “Kamu pikir aku semudah itu?” Lantas ia berujar dingin, kemudian membuang pandangannya kesal. Kesal karena penuturan Langit yang seolah mengatakan kalau Shien itu gadis yang mudah tergoda begitu saja.


Langit kembali dibuat bungkam, lalu berdecak kecil. Merutuki dirinya sendiri yang sepertinya sudah salah berbicara.


Memejamkan mata sejenak seraya mengambil napas, Shien kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada wajah Langit yang masih terlihat cemberut itu sembari meraih tangannya. Sungguh, Shien sebenarnya tidak suka merayu orang yang sedang merajuk. Itu bukan gayanya sama sekali.


“Dengar ini baik-baik karena aku gak akan mengulanginya.” Shien terdiam sebentar, jari tangannya tidak diam memainkan ibu jari Langit yang sedikit lebih kasar jika dibandingkan dengan tangan perempuan.


“Pake cincin atau enggak. Aku tetap milik kamu. Aku udah nyerahin hati aku sepenuhnya sejak aku memutuskan untuk bersama kamu. I’m all yours, Langit.” Tutur Shien kemudian, berhasil membuat Langit tertegun dengan wajah merona. Reaksinya memang berlebihan, tapi itu merupakan gambaran hati Langit yang terasa berbunga-bunga.


Namun, sebenarnya Shien merasa geli sendiri dengan ucapannya barusan. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berpikir akan melontarkan kalimat seperti itu.


“Kamu bilang apa barusan? I’m. . . . I’m apa? Coba ulangi.” Langit memasang telinganya dengan baik, ingin mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Shien sekali lagi.


“Salah denger kali.” Balas Shien mecoba mengelak sambil mengalihkan pandangannya dari Langit.


“Shienna. . . .”


“Aku udah bilang gak akan ngulang.” Sahut Shien menegaskan. Langit kembali memasang wajah cemberut, membuat Shien gemas sendiri ingin menendangnya.


“Udah ahh, ayo berangkat sekarang. Masalah cincin nanti aku cari lagi.” Ajak Shien, mengingat mereka akan makan siang bersama tapi malah berdebat gara-gara cincin.


“Aku jadi mager deh, Shi. Delivery order, terus makan di sini aja gimana?” Saran Langit yang mendadak malas keluar, belum lagi memikirkan di luar itu sangat panas dan jalanan menuju restoran pasti macet, semakin membuatnya enggan untuk pergi.


“Kebetulan juga aku senggang sampai sore. So, aku bisa lebih lama di sini dan lihatin calon istri aku bekerja.” Ujarnya kemudian sembari mendudukkan dirinya di atas meja kerja Shien.


Laki-laki itu lalu menarik kedua lengan Shien untuk dilingkarkan di pinggangnya sendiri.


“Lihatin atau gangguin?” Cibir Shien, ia sangsi jika laki-laki itu hanya akan berdiam diri dan melihatnya bekerja.


“Kalau bosan lihatin, ya aku gangguin.” Sahut Langit santai, membuat Shien mendengus geli. Laki-laki itu kemudian meraih ponsel Shien yang tergeletak di atas meja dan mulai berselancar mencari menu makan siang di aplikasi pesan antar makanan online.


“Ohh, iya. Masalah cincin, kamu gak usah pikirin lagi. Kita beli yang baru aja.” Ucap Langit di sela-sela pencarian menunya.


Shien lantas menghembuskan napas sebal. Kenapa tidak dari tadi saja, coba? Kalau tahu begini, kan, mereka tidak harus berdebat tadi.


“Aku gak mau kalau itu gak lebih mahal dari yang kemarin.” Gurau Shien.


“Ngapain beli yang mahal, kalau nantinya kamu ilangin lagi?” Sindir Langit tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel Shien yang sedang ia gunakan untuk transaksi pemesanan makanan.


“Buat aku jual kalau lagi butuh uang.” Sahut Shien asal.


Langit mendesis dengan mata memicing ke arah gadisnya itu. “Ngeselin.” Ujarnya kemudian sembari meletakkan ponsel Shien kembali ke atas meja.


“Tapi sayang, pake banget.” Laki-laki itu lantas melingkarkan kedua tangannya di sepanjang leher Shien, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya, dan mendaratkan ciuman di puncak kepala gadis itu


“Dasar tukang gombal.” Cibir Shien.


Langit mendengus geli sesaat, lalu detik berikutnya ia menenggelamkan wajah Shien di perutnya.


“Langit, ihh.” Shien dengan cepat menarik diri. “Kalau Fina masuk, dia bisa salah paham.” Sambung gadis itu seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Salah paham gimana?” Tanya Langit berpura-pura bodoh, satu tangannya terulur membantu merapikan rambut Shien.


“Dikira lagi makan permen loli.” Jawab Shien sekenanya, membuat otak Langit menerawang, memikirkan sesuatu yang liar karena kalimat Shien yang ambigu.


Shien mengerjap, lalu detik berikutnya ia tersadar akan kalimat yang baru saja diucapkannya. Percayalah, Shien refleks mengatakan hal itu tadi.


“Apaan, sih?” Shien yang merasa malu lantas melempar pandangannya ke sembarang arah.


“Ciee, malu.” Ledek Langit yang melihat wajah Shien memerah. “Ngatain orang lain cabul, ehh sendirinya lebih cab. . . , aaaw.”


Langit memekik kesakitan saat Shien mendaratkan cubitan keras di pahanya.


“Sakit, Shi.” Langit meringis karena Shien menambah tenaganya.


Berkali-kali Langit meminta Shien untuk berhenti dan berusaha melepaskan tangannya, namun gadis itu sepertinya terlalu kesal dan malu karena Langit meledeknya.


“Shi, iya deh maaf. Aku gak ngeledek kamu lagi. Aduh, udah, dooong.” Langit memelas seiring dengan ringisan yang keluar dari mulutnya.


Mendengar Langit meringis kesakitan, Shien lantas melepaskan capitan tangan di paha Langit.


“Udah turun. Pindah ke sofa sana.” Titah Shien dengan wajah yang masih terasa panas. Ahh, bisa-bisanya dia mengatakan sesuatu yang absurd seperti itu. Ditambah posisi duduknya dan Langit sangat pas. Ahh, sialan. Shien malu sekali.


Langit dan Shien kemudian pindah tempat duduk. Keduanya saat ini duduk berhadapan di sofa layaknya tamu dan tuan rumah. Sengaja Shien tidak ingin duduk berdekatan untuk menghindari kontak fisik, Shien juga takut jika seseorang tiba-tiba masuk ke ruangannya. Walaupun yang akan masuk ke ruangannya harus melalui Fina terlebih dahulu, tapi tetap saja Shien ingin berjaga-jaga. Berduaan dengan Langit di kantor tidak sebebas saat mereka sedang berada di apartemen atau di tempat lain.


“Mana ada pacaran duduknya jauh-jauhan kayak gini?” Langit terus menggerutu dan protes pada Shien karena gadis itu keukeuh tidak ingin duduk berdekatan dengannya. Seketika ia menyesal karena memilih untuk makan siang di ruangan Shien.


Sementara Shien hanya menanggapi Langit yang sudah seperti cacing kepanasan itu dengan acuh.


Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, Shien lantas menceritakan pada Langit mengenai orang tuanya yang sudah mengetahui hubungan mereka, bahkan memergoki apa yang mereka lakukan saat di Bali. Shien juga menyampaikan pesan Papa agar Langit datang ke rumah untuk memberitahu hubungan mereka secara langsung.


Langit tidak terlalu terkejut mendengar itu. Pasalnya, pagi hari setelah ia kembali dari Bali, Papa Wijaya datang menemuinya di rumah sakit, dan langsung memukulinya dengan buku tebal karena mendapat laporan dari Om Sendy bahwa Langit menyusul Shien ke Bali.


“Papa minta kamu buat pulang ke rumah satu minggu sekali saja kamu susahnya minta ampun. Tapi pergi-pulang Bandung Bali dalam semalam demi Shien kamu sanggup. Mana di sana kamu buat malu Papa. Cium-cium anak orang sembarangan. Untung aja Om Sendy gak matahin kaki kamu atau menenggelamkan kamu ke laut.”


“Kalau mau masuk ke rumah orang itu jangan lewat pintu belakang, Lang.”


Langit meringis saat teringat Papa mengomelinya waktu itu. Ia ingat betul, telinganya sampai panas karena diceramahi nyaris satu jam tanpa jeda.


Tapi mendengar Om Sendy memintanya datang dan Shien yang terlihat lebih siap dari sebelumnya, Langit senang karena akhirnya ia bisa terbuka mengenai hubungannya dengan Shien. Mereka tidak perlu bertemu secara sembunyi-sembunyi lagi mulai sekarang.


“Ayo beritahu orang tua kita saat makan malam nanti.” Ujar Langit, mengingat Papa mengundang keluarga Shien untuk makan malam di rumahnya nanti.


“Tapi aku gak bisa ikut. . . .” Shien menyayangkan, wajahnya terlihat menyesal. Lantas ia menjelaskan pada Langit alasannya tidak bisa ikut untuk malam di rumahnya nanti karena ia sudah memiliki janji sebelumnya untuk bertemu dengan penulis yang bekerja sama dengan perusahaannya. Dan Langit hanya bisa menghembuskan napas pasrah mendengar penuturan Shien. Kalau begini, ia juga jadi tidak semangat untuk ikut serta dalam perjamuan makan malam itu. Tidak akan ada Shien di rumahnya nanti malam, ia lebih baik tidur di kamarnya atau tidak perlu pulang sama sekali.


“Dan ada sesuatu yang harus kamu ketahui. . . .” Shien menghela napas sejenak. Sepertinya ini memang saat yang tepat untuk ia membahas Shanna.


Melihat raut wajah Shien yang berubah serius, Langit kemudian memperbaiki posisi duduknya agar lebih tegap, lalu menatap Shien lekat-lekat, bersiap mendengar apa yang harus ia ketahui hingga wajah Shien terlihat serius dan gelisah seperti itu.


“Aku tahu, kamu gak terlalu bodoh untuk mengetahui kalau kak Shanna itu. . . .”


“Aku tahu, Shi. Makannya selama ini aku selalu berusaha menciptakan jarak antara aku sama dia.” Sambar Langit, memotong ucapan Shien yang baru saja akan memulai ceritanya, seolah ia tahu betul apa yang akan gadis itu bahas.


Seperti yang Shien katakan, Langit tidak bodoh untuk mengetahui perasaan Shanna padanya yang lebih dari sekedar teman. Karena itulah Langit selalu menjaga jarak dari Shanna dengan tidak menanggapi semua bentuk perhatian yang diberikan gadis itu, menyatakan perasaannya secara terang-terangan bahwa dia menyukai gadis lain, serta membuat batasan-batasan lain untuk menunjukkan pada Shanna bahwa Langit hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.

__ADS_1


Langit memang perhatian pada Shanna, dan itu mungkin membuat gadis itu salah tanggap. Tapi, sikap perhatian adalah pembawaannya, tidak hanya pada Shanna, tapi semua orang. Langit selalu ingin membuat semua orang di sekitarnya nyaman dan sebagai bentuk respek terhadap orang lain untuk senantiasa menjaga hubungan baik.


“Aku merasa bersalah.” Shien menunduk sedih.


“Dan kamu gak melakukan kesalahan.” Sanggah Langit dengan tatapan tak suka.


“Kak Shanna lebih dulu suka sama kamu.” Sahut Shien seraya mengangkat wajahnya, memandang Langit dengan tatapan sayu.


“Gak ada aturan tertulis atau aturan tetap yang mengatakan kalau kita gak boleh menyukai seseorang hanya karena kita mengetahui ada yang menyukai orang itu terlebih dahulu.” Balas Langit, membuat gadis itu terdiam tak bisa melawan kata-katanya.


Shien mendesah pelan. Memang benar apa yang dikatakan Langit. Lagipula, siapa yang lebih dulu menyukainya, itu tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk bisa bersama.


Shanna mungkin jatuh cinta pada Langit lebih dulu, tapi sejak awal hati Langit sudah jelas memilih. Hanya Shienlah yang Langit harapkan untuk hadir dalam kehidupannya dan ia tempatkan dalam hatinya.


“Kenapa? Kamu nyesel udah memutuskan untuk bersama aku? Tapi maaf Shien, kamu gak bisa menarik kata-kata atau keputusan kamu. Aku gak akan pernah melepaskan kamu sebesar apapun kamu ingin pergi dari aku.” Ujar Langit terdengar penuh penegasan, begitu juga dengan sorot matanya.


Shien menggeleng lemah. Jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama dengan Langit, mana mungkin ia menyesal. Itu adalah keputusan yang tidak akan pernah Shien sesali dalam hidupnya.


“Aku cuma gak tahu gimana caranya menghadapi kak Shanna setelah ini.” Shien terdiam sebentar untuk mengambil napas. “I just, I feel bad, you know?”


Langit lantas beranjak dari duduknya untuk berpindah ke sisi Shien, lalu membawa gadisnya yang sekarang terlihat murung itu ke dalam dekapannya.


“Kak Shanna mungkin akan kecewa dan marah sama aku setelah dia tahu ini.” Ujar Shien kemudian. Suaranya terdengar gamang.


“Aku yakin Shanna pasti mengerti dan akan menerimanya. Shanna itu orang baik dan gak berpikiran sempit.” Langit mencoba menenangkan. “Kamu benar, mungkin dia akan kecewa dan marah. Tapi itu hanya sebentar, semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.”


Shien terdiam seraya menenggelamkan wajahnya di dada Langit yang bidang, ia berharap apa yang dikatakan laki-laki itu benar, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“So, ayo hadapi Shanna bersama-sama.” Langit menarik diri, lalu menangkup kedua sisi wajah Shien hingga pandangan mereka saling beradu saat ini.


“Hem?” Tanya Langit penuh keyakinan. Shien hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.


Langit mengulum senyumnya seraya mengelus lembut sisi wajah Shien. Dan tak lama setelah itu, Langit mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir kemerahan milik Shien. Namun, saat bibir mereka nyaris saja bersentuhan, suara deritan pintu yang terbuka dari luar yang disusul teriakan histeris Fina, membuat mereka tersentak dan otomatis menjauhkan diri satu sama lain.


“Kalian pada ngapain?”


Sial, sial, sial.


Langit hanya bisa merutuki kejadian itu. Sementara Shien mati-matian mengipasi diri agar wajahnya tidak panas.


********


Malam harinya, Langit yang sudah tampil paripurna dengan style kasualnya duduk ogah-ogahan di ruang tamu bersama Papa, menunggu kedatangan keluarga Om Sendy yang diundang Papa untuk makan malam bersama di rumahnya.


“Terus aja tuh bibir dimanyun-manyunin, ganteng enggak, mirip Donald bebek iya.” Cibir Papa yang melihat wajah putra satu-satunya itu terus merengut.


“Males banget. Kak Senja boleh gak datang, tapi Papa gak bolehin aku absen. Gak adil.” Langit menggerutu, merasa Papa sudah bersikap tidak adil karena kakaknya, Senja, boleh tidak ikut makan malam keluarga ini. Sementara dirinya terus dipaksa untuk pulang dan diingatkan dari jauh-jauh hari.


“Kakak kamu itu lagi repot ngurusin bayi. Kamu ini gak pengertian banget.” Sahut Papa, gregetan sendiri dengan kelakuan anaknya yang masih suka merajuk seperti anak kecil, padahal usianya sudah dua puluh enam tahun.


“Kita makan malam sama keluarga Om Sendy lho, Lang.” Ujar Papa penuh penekanan, seolah mengingatkan bahwa sahabatnya adalah Ayah dari gadis yang Langit sukai, Shien.


“Iya, tapi percuma aja, Shien gak bakalan datang.” Balas Langit lesu.


Papa mengangguk-angguk dengan bibir mencebik. Pantas saja anaknya itu terlihat tidak bersemangat.


“Ya walaupun begitu, bukan berarti kamu harus murung kayak gini juga. Ada Om Sendy sama Tante Risa nanti, kamu nggak boleh memberikan kesan yang buruk karena malam ini kamu bertemu mereka bukan sekedar temannya si kembar atau sebagai anak Papa, tapi juga sebagai pacarnya Shien.” Tegur Papa, meminta anaknya untuk bersikap sebaik mungkin agar mendapat poin plus demi kelancaran hubungannya dengan Shien, putri bungsu sahabatnya itu.


“Iya. . . .” Sahut Langit pelan. Papa memang ada benarnya. Malam ini ia harus menunjukkan pesonanya pada orang tua Shien, sehingga mereka bisa menerimanya sebagai menantu untuk putrinya itu.


Tak lama kemudian, asisten rumah tangga menghampiri dan mengatakan pada Papa bahwa tamunya sudah datang dan sedang menuju ke sana. Lantas buru-buru Papa dan Langit berdiri untuk menyambut tamu tersebut yang sudah pasti itu adalah Om Sendy.


“Hei, selamat datang. . . .” Sambut Papa dengan senyum mengembang begitu Om Sendy datang, lalu disusul oleh Tante Risa yang berdiri di sebelahnya. Papa dan Om Sendy saling berpelukan, kemudian menyalami Tante Risa.


Langit tersenyum kaku begitu Om Sendy melihat ke arahnya dengan senyuman aneh. Mendadak ia menjadi grogi setengah mati. Berbeda sekali saat pertemuan pertamanya dulu yang terasa biasa saja.


“Apa kabar? Lama gak ketemu, Langit.” Tanya Om Sendy tersenyum menyeringai seraya menepuk lengan bahu Langit cukup keras.


Langit menelan ludahnya susah payah sebelum kemudian menjawab dengan gugup. “Ba. . baik, Om.”


Tante Risa yang melihat itu hanya menahan tawa karena tingkah suaminya yang jahil, serta wajah Langit yang biasanya terlihat jenaka kini berubah serius.


“Ngomong-ngomong, kalian datang berdua aja? Mana anak-anak?” Tanya Papa sambil celingukan karena hanya mendapati mereka berdua yang datang ke rumahnya.


“Shanna gak bisa hadir karena ada urusan. Tapi Shien ikut, dia masih di belakang.” Sahut Tante Risa, membuat Langit mengernyit heran. Seingatnya, Shien tadi mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa datang. Tapi, di dalam hatinya ia sangat senang mendengar kabar ini. Langit berpikir, mungkin Shien tadi berbohong untuk memberinya kejutan.


“Nah, itu anaknya.” Seru Tante Risa menoleh ke arah kedatangan Shien yang berjalan anggun menghampiri mereka.


Kedua bola mata Langit langsung berbinar melihatnya, begitu juga dengan kedua sudut bibirnya yang semakin tertarik membentuk senyuman lebar.


“Maaf aku terlambat. Tadi ada barang yang ketinggalan di mobil.” Ujar Shien sambil menyunggingkan senyum ramah yang tidak seperti biasanya, membuat Langit sedikit keheranan.


“Santai aja, Shi.” Sahut Papa Wijaya sambil tersenyum memaklumi.


“Terima kasih, Om.” Ucap Shien.


Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya dan tersenyum lebar pada Langit. Tapi laki-laki itu hanya bergeming dengan alis sedikit bertaut, pandangannya fokus pada cincin yang tersemat di jari manis Shien saat tadi gadis itu menggunakan tangan kirinya untuk menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


Langit mengerjap. Beberapa jam yang lalu, Shien baru saja mengatakan jika cincin pemberiannya itu hilang dan uring-uringan karena tidak bisa menemukannya. Tapi sekarang cincin itu sudah ada lagi saja. Ahh, mungkin dia sudah menemukannya. Padahal, ia berniat untuk membeli cincin baru.


“Lang, jangan dipelototin terus dong Shiennya. Nanti kalau cantiknya luntur gimana?” Suara Papa yang menggodanya membuat Langit tersentak dan langsung gelagapan.


Semua orang yang melihat Langit tampak kikuk langsung tergelak karenanya. Sementara Langit hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa suasana sangat aneh baginya.


Tak lama setelah itu, Papa mengajak mereka untuk makan malam, sehingga mengakhiri percakapan basa-basi di ruang tamu itu.


“Ayo, Lang.”


Langit kembali mengerjap, speechless karena Shien tiba-tiba meggamit lengannya. Tidak biasanya gadis itu mengambil inisiatif dan cukup berani seperti ini.


“Ehh. . , iya.” Sembari menyadarkan dirinya, Langit lantas berjalan paling terakhir menuju ruang makan bersama Shien.


Namun, ada yang aneh dengan perasaannya. Untuk pertama kalinya Langit merasa risih berdekatan dengan Shien seperti ini. Apa mungkin karena mereka sedang berada di tengah-tengah keluarga?


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2