So In Love

So In Love
EP. 110. Together, Forever (END)


__ADS_3

Sebelumnya, aku mau ngucapin banyak-banyak terima kasih sama kalian yang udah mau baca cerita ini. Seneng banget akutuh kalau ada yang mau baca.


Sama yang udah ngasih hadiah dan vote juga. Padahal, aku gak terlalu ngarepin itu. Tapi thank you so much all. Itu mungkin bentuk apresiasi kalian sama cerita ini.


Pokoknya udah ada yang baca aja aku seneng banget. Makasih lah sama kalian yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampai akhir.


Udah sampai di akhir cerita. Aku harap kalian ninggalin review dong di kolom komentar mengenai cerita ini. Mau komen yang jelek-jelek juga gak apa-apa. Tapi gak maksa sih. Hehe.


Enjoy. It's the end.


********


“Langit, wajah anak kita mirip siapa?” Tanya Shien setelah kepergian Dokter Alice dan Mama yang ikut keluar entah mau ke mana.


Langit terdiam sambil nyengir kaku, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, membuat Shien yang melihatnya mengernyitkan kening tak mengerti.


“Langit.” Tegur Shien karena suaminya itu malah terdiam sambil cengar-cengir tidak jelas.


“Aku gak tahu, Shi.” Cicit Langit memandang Shien takut-takut.


“Lho, kok gitu?” Kening Shien semakin terlipat dalam.


“Aku belum sempat lihat mereka, Shi. Dari semalem aku nemenin kamu, yang ada di pikiran aku cuma kamu, aku gak bisa mikirin yang lain.” Jelas Langit terus terang.


Shien langsung melemparinya dengan tatapan garang. “Jadi kamu udah nelantarin anak kita?”


“Ya gak gitu juga, Shi. Anak-anak ditemenin sama Mama-Papa, kok.” Langit bingung bagaimana harus menjawabnya.


“Ya tapi kamu Papanya. Papa mereka, Lang.” Sambar Shien sengit.


Menghembuskan napas pelan, Langit lantas duduk di tepi ranjang Shien, lalu menggengggam tangannya. “Maaf, Shi. Jangan marah. Jujur, aku gak bisa mikirin apa-apa tadi malam. Aku khawatir banget sama kamu, aku bener-bener takut lihat kamu yang tiba-tiba gak sadarkan diri dan kritis.” Ucapnya dengan tatapan memelas. “Kamu itu dunia aku, alasan di semua hal terbaik dalam hidup aku. Jadi saat aku melihat kamu berada di titik terlemah kamu, aku gak bisa berbuat apa-apa, Shi. Dunia aku kayak berhenti gitu aja.”


Melihat Langit yang berkaca-kaca, rasa kesal yang semula menyelimuti hati Shien mendadak berubah mellow. Ia kemudian menarik tubuh Langit ke dalam dekapannya.


“Maaf, Shi. Aku gak bermaksud nelantarin anak-anak kita.” Langit meredam isakan tangisnya dengan membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bahu Shien.


Sementara Shien sendiri mengelus-elus lembut kepala Langit, sesekali diciuminya.


“Aku yang minta maaf. Gak seharusnya aku ngomong kayak gitu sama kamu.” Shien mencium puncak kepala Langit lama-lama. Ia sadar sudah salah berbicara tanpa memikirkan perasaan Langit yang begitu menyayanginya.


“Aku cinta kamu, Shi.”


Shien hanya tersenyum tak menyahuti sambil mengusap-usap punggung Langit yang berguncang karena isakannya.


“Ya udah, kalau gitu bawa aku ketemu mereka.” Ucap Shien setelah tangis Langit mereda. Ia lantas mengusap air mata yang menggenangi wajah suaminya itu, lalu membenamkan beberapa ciuman di wajahnya hingga membuat Langit tersenyum. Pasalnya, hal seperti ini sangat jarang Shien lakukan.


“Kamu tunggu di sini, aku akan minta Perawat buat mindahin mereka ke sini.” Ujar Langit dan bersiap untuk turun dari ranjang pasien Shien, namun terurungkan saat melihat Mama masuk bersama seorang Perawat di belakangnya dengan masing-masing satu bayi dalam gendongannya.


“Mereka di sini.” Seru Mama riang seraya berjalan ke arah Shien.


“Mereka anak aku, Ma?” Tanya Shien dengan mata berbinar kala melihat bayi perempuan dalam gendongan Mama. Lebih tepatnya mungkin itu yang perempuan, Shien tidak tahu pasti yang mana anaknya yang laki-laki dan yang perempuan, ia hanya menebak dari warna pakaian yang mereka kenakan, di mana bayi yang digendong Mama memakai pakaian berwarna merah muda.


“Anak kita, sayang.” Koreksi Langit. Shien hanya tersenyum.


Perawat lantas meminta Shien untuk melakukan inisiasi menyusui dini walaupun itu sudah sedikit terlambat karena seharusnya itu dilakukan sesaat setelah bayi lahir.


“Yang mana dulu, nih?” Tanya Mama.


“Kakaknya dulu, Ma.” Langit menyahuti. “Tapi kakaknya yang mana, Ma?” Tanyanya kemudian. Karena saat itu terlalu fokus dengan Shien, Langit tidak terlalu memperhatikan bayi yang mana yang terlahir lebih dulu.


Mama mendengus geli, lalu menyerahkan bayi yang ada di dalam gendongannya pada Shien yang sebelumnya sudah membuka kancing baju pasiennya. Sementara si Perawat menyerahkan bayi laki-laki yang digendongnya pada Langit.


“Yang cewek kakaknya, Pa.” Ucap Mama seraya meletakkan bayi perempuan itu ke atas dada Shien. Bayi itu sempat merengek kecil, namun langsung terdiam begitu kulit mereka saling bersentuhan.


Perasaan haru langsung menyeruak di hati Shien, matanya berkaca-kaca, merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat pertama kali melihat dan merasakan kulit lembut anaknya. Jantungnya berdebar-debar, seluruh tubuhnya merinding seketika. Rasanya seperti ia sedang dibuat jatuh cinta lagi. Begitu pun dengan Langit. Melihat bayi yang ada dalam gendongannya dan bayi dalam pelukan Shien, ia tidak kuasa menahan air matanya. Mereka adalah hadiah paling indah yang Tuhan kirimkan untuknya setelah Shien. Ini benar-benar luar biasa.


Shien sedikit berjengit geli saat merasakan bayi mungil itu merangkak, lalu mulutnya mencari-cari dan menemukan puncak dadanya untuk minum ASI.


“Kenapa, sayang?” Tanya Langit yang heran saat mendengar Shien tiba-tiba terkikik geli. Ia lantas memperhatikan bayi perempuan mereka yang sedang menyusu dengan lahap. Beruntung Shien tidak memiliki masalah dengan ASInya sehingga bisa menyusui dengan lancar.


“Geli, rasanya aneh.” Sahut Shien meringis geli saat sensasi menggelitik sekaligus ngilu kembali ia rasakan di puncak dadanya.


“Ya emang kayak gitu, Shi.” Timpal Mama sambil mengusap kepala cucu perempuannya.


“Padahal udah biasa, kok geli sih, Shi?” Ucap Langit tanpa sadar jika di sana masih ada Mama dan Perawat.


Shien yang mendengar itu otomatis memberikan cubitan di paha Langit hingga membuatnya meringis kesakitan.


“Lagi gendong Dede, Shi, ihh.” Protes Langit sambil melirik bayi di dalam gendongannya.


“Kamu ngomongnya jangan aneh-aneh.” Geram Shien nyaris tanpa membuka mulutnya seolah memperingatkan jika mereka tidak sedang berdua di ruangan itu. Langit yang tersadar hanya nyegir lebar, memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun rapi. Sementara Mama dan Perawat hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan orang tua baru di depannya itu. Tidak lama kemudian, si Perawat berpamitan untuk beranjak setelah sebelumnya mengatakan pada Shien dan Langit untuk memanggilnya jika mereka membutuhkan bantuan.


“Ehh, kok yang ini mirip kamu sih, Lang?” Ucap Shien setelah memperhatikan bayi yang ada dalam dekapannya selama beberapa saat. Ia lantas mencoba menjangkau pandangannya untuk melihat bayinya yang berada di dalam gendongan Langit. “Dia juga. Alis, mata, hidung, bibir. Kok mirip Langit semua sih, Ma?” Protesnya kemudian seraya melirik Mama yang berdiri di samping ranjangnya.

__ADS_1


Mama yang mendengar itu tersenyum geli. “Ya udah seharusnya, Shi. Kan Langit Papanya, masa iya mereka harus mirip Nathan.”


“Maksud aku tuh, kok mereka gak mirip aku? Padahal mereka sembilan bulan di perut aku. Ini kayak duplikatnya Langit lho, Ma.” Shien nampak bersungut-sungut, bibirnya mengerucut lucu. Ia merasa jika ini benar-benar curang.


“Ini karena waktu kamu hamil, kamu sering kesel sama aku, Shi. Jadinya yang keluar mirip aku semua.” Ledek Langit sambil mengecupi kening bayi laki-laki dalam gendongannya. Namun hal itu malah membuat bayi mungil yang semula anteng itu merengek, lalu tangisan melengking khas bayi terdengar memecah ruangan itu.


“Eh, Adiknya nangis. Kakak gantian, dong, Adik juga mau mimi.” Langit menirukan suara anak kecil sambil berusaha menenangkan bayi laki-lakinya itu. Namun, sepertinya tidak ada tanda-tanda dari bayi perempuan dalam pelukan Shien ingin melepaskan puncak dada ibunya.


“Gimana nih, Ma?” Tanya Shien yang cemas dan bingung melihat bayi laki-lakinya menangis. “Gak bisa sekaligus dua, ya?”


“Ya susah dong, Shi. Tapi itu kayaknya kakak udah bobo, coba sini Mama gendong.” Mama kemudian dengan hati-hati mengambil cucu perempuannya dari pelukan Shien, setelah itu gantian Langit meletakkan bayi laki-lakinya dalam dekapan Shien, lalu menggendong anak perempuannya yang beruntung sudah tidur.


Langit lantas menatap kedua anaknya bergantian. Ya Tuhan, ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang Ayah. Ia tidak menyangka, rasanya begitu menyenangkan dan melegakan. Ada perasaan cinta yang baru dan berbeda, yaitu rasa cinta tanpa syarat. Langit merasa semua ini seperti mimpi, ia sampai tidak percaya bisa merasakan kebahagiaan yang sebesar ini.


“Ohh, iya. Kalian belum ngasih nama buat mereka.” Seru Mama mengingatkan.


“Aku belum nyiapin nama, Ma.” Sahut Shien sambil mengelus lembut kepala putra kecilnya, mulutnya yang mungil terlihat sangat lucu saat menyesap puncak dadanya kuat-kuat.


Shien terlalu fokus belajar mengenai parenting selama masa kehamilannya sampai ia melupakan hal ini.


“Ihh, kalian ini gimana masa belum disiapin?” Protes Mama karena melihat anak dan menantunya itu terlalu santai untuk urusan ini. Padahal, sebuah nama juga sebenarnya sangat penting untuk anak mereka yang baru lahir.


“Aku udah nyiapin kok, Ma.” Sahut Langit tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik sang putri dalam gendongannya.


Mendengar itu, Mama dan Shien seketika menatapnya penuh tanya.


“Dwi Shanna dan Dwi Shawn, nama belakangnya Wijaya.” Ujar Langit mantap seolah sudah menentukan nama anak mereka dari jauh-jauh hari.


Mama dan Shien nampak tertegun mendengarnya.


“Kenapa?” Tanya Shien dengan tatapan yang berubah sendu.


“Papa Sendy yang nyaranin. Lagian, aku pikir itu nama yang bagus.” Jawab Langit, mengingat ia mendiskusikan nama kedua anaknya dengan Papa mertuanya dulu. Tidak ada alasan khusus untuk pemilihan nama mereka. Hanya saja, Papa Sendy merasa jika kehadiran Shanna dan Shawn kedua ini seolah sudah melengkapi kembali keluarganya.


“Kenapa? Mama sama Shien gak setuju?” Tanya Langit.


Shien menggeleng, raut wajahnya berubah haru. “Namanya bagus, kenapa harus gak setuju?” Sahut Shien kemudian seraya memberikan ciuman di kepala putranya yang masih anteng menyusu.


“Mama juga. Namanya cocok buat mereka.” Timpal Mama menatap kedua cucunya bergantian.


“Terima kasih.” Langit mendaratkan ciuman di puncak kepala Shien dalam-dalam. “Terima kasih sudah memberikan hadiah seistimewa ini buat aku.” Sambungnya dengan nada suara bergetar, membuat Shien yang mendengarnya menitikan air mata penuh haru.


Detik berikutnya, Langit lantas beralih menatap Mama. “Terima kasih juga untuk Mama karena sudah melahirkan putri sehebat Shien.”


********


Malam harinya, Shien yang hampir seharian menyusui kedua anaknya merasa tenaganya terkuras hingga membuat tubuhnya terasa sangat lemas. Keduanya sangat kuat meminum ASI sehingga Shien tidak mendapat waktu untuk beristirahat barang sebentar saja. Bahkan untuk makan saja ia harus melakukannya seperti Tentara. Shanna dan Shawn terus tidur dan menangis secara bergantian.


Mendapati kenyataan ini, Shien jadi bisa merasakan bagaimana repotnya Mama mengurus dirinya dan Shanna dulu.


Melihat putrinya yang kelelahan menyusui kedua cucunya, Mama menyarankan untuk menggunakan pompa ASI agar bisa memberi waktu istirahat bagi Shien. Dan saran itu langsung disetujui oleh Langit yang terlihat sangat khawatir melihat wajah lelah istrinya.


“Mereka rakus, nurun dari Papanya sih. Pulang ke rumah pasti kamu makin repot, Shi, nyusuin tiga bayi sekaligus. Apalagi bayi yang paling gede, tuh. Auto pingsan kamu habis nyusuin dia.” Celetuk Senja yang sengaja datang menjenguk adik iparnya itu. Ia lantas menciumi gemas pipi Shawn yang sedang digendongnya, sementara Shanna sendiri tertidur pulas di dalam box bayinya.


Shien yang kala itu sedang makan disuapi Langit nyaris saja tersedak mendengar celetukan Senja yang dirasa cukup absurd. Sementara Mama yang sedang duduk di sofa sambil mengupas apel hanya geleng-geleng kepala, merasa sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat absurd Senja.


“Apaan sih, Kak? Ngomong tuh difilter dikit, kek. Nanti anak aku ngikutin kamu lagi.” Protes Langit melirik sebal ke arah Senja karena sudah berbicara sembarangan di depan anaknya.


“Ciyee, yang udah jadi Papa sekarang sok bijak. Padahal biasanya juga mesum.” Sahut Senja meledek. Langit mendengus sebal, ingin sekali rasanya ia menimpuk kakaknya itu dengan semua makanan yang ada di piringnya saat ini.


Langit ingin menimpali ucapan Senja, namun terurungkan saat tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka. Terlihat Biru dan Jingga masuk dengan membawa serta satu hampers di tangan masing-masing.


Jingga dengan tingkah riangnya menghambur ke arah Shien setelah sebelumnya ia menyapa Mama dan Senja terlebih dahulu.


Shien memperhatikan Jingga yang sedang berjalan riang seperti kelinci ke arahnya. Gadis itu masih terlihat sangat cantik, sama seperti dalam foto yang pernah Shien lihat di kamar Langit dua tahun yang lalu, tidak berubah sama sekali meski sudah memiliki dua anak. Apakah ini yang dinamakan dengan menolak tua? Shien jadi sedikit iri.


“Selamat udah jadi ibu, Shien. Akhirnya Winter sama Ray punya teman.” Ucap Jingga heboh sambil memeluk Shien. “Kalau bisa, nanti bayi kamu yang cewek buat Ray aja. Aku gak keberatan dia jadi menantu aku.” Sambungnya tak kalah heboh. Shien hanya tersenyum geli. Merasa ucapan Jingga terlalu kejauhan.


“Ogaaah. Kasihan anak aku nanti kalau punya mertua cerewet kayak kamu, Ji.” Langit menyahuti seraya meletakkan piring berisi makan malam Shien ke atas nakas. Ucapannya itu membuat Jingga langsung menghunuskan tatapan tajam padanya.


Sementara Biru yang ikut menghampiri sang istri hanya memutar bola matanya jengah melihat hubungan kedua sahabat yang sudah seperti kucing dan anjing itu.


“Selamat, Bro.” Biru menepuk bahu Langit yang masih saling melempar tatapan tajam dengan Jingga. “By the way, gimana rasanya nyaksiin istri sendiri ngelahirin?” Tanyanya kemudian.


Langit mendesah sambil menggelengkan kepalanya, lalu bergidik ngeri mengingat bagaimana proses persalinan Shien kemarin malam. “Rasanya kayak mau pingsan gue. Lebih ngeri dari ledakan bom waktu gue jadi Dokter relawan di daerah krisis.”


“Kalau udah tahu gimana perjuangan istri melahirkan, mulai sekarang jangan pernah mencoba menyakiti Shien, bahkan berpikir untuk itu, Lang.” Senja yang sedang menimang-nimang Shawn menimpali.


Langit tersenyum mendengar nasihat kakaknya. Tidak akan. Bahkan terbersit sebuah niat pun, Langit tidak akan pernah menyakiti Shien.


Setelah itu, Jingga mencoba mengambil alih Shawn dari gendongan Senja karena tidak mau mengganggu Shanna yang terlelap tidur.


“Duplikatnya Langit semua ini. Huuh, curang banget kalau anak-anak mirip Papanya. Padahal Mamanya yang bawa-bawa mereka di perut selama sembilan bulan.” Jingga menggerutu sendiri sambil memperhatikan wajah Shawn dan Shanna yang berada di dalam box bayi, keduanya sangat mirip dengan Langit.

__ADS_1


“Aku juga mikirnya gitu, Ji. Gak adil banget.” Sahut Shien yang masih duduk bersandar di ranjangnya. Shien masih belum bisa banyak bergerak.


“Ya udah kalau kamu merasa gak adil, nanti kita buat lagi sampai dapat yang mirip kamu.” Bisik Langit tepat di telinga Shien sambil tersenyum nakal.


“Ish. . . .” Shien mendaratkan cubitan di perut Langit. Bisa-bisanya suaminya itu berbicara vulgar di saat mereka sedang berada di tengah-tengah keluarga. Padahal, baru beberapa menit yang lalu Langit menegur Senja yang berbicara absurd. Huuh, keduanya memang sama saja.


“Gak mau nambah lagi, Ji?” Tanya Mama yang melihat Jingga menimang-nimang gemas bayi Shawn.


Jingga nyengir lebar. “Gak dulu deh, Tan. Dua aja repot ngurusnya, kebagi-bagi sama kerjaan.” Ujarnya dengan sedikit meringis, mengingat ia dan Biru masih harus merawat anak-anak mereka dengan bantuan pengasuh dan juga orang tuanya.


“Tapi aku juga pengin punya baby twins yang lucu kayak gini, Ji.” Ujar Biru sambil mencolek hidung Shawn yang sudah terlihat mancung. Bibirnya yang kemerahan juga tidak ketinggalan dari jamahan tangan Biru. “Lo kasih tahu gue caranya dong, Lang, biar sekali goals dapat dua kayak gini.”


Dan ucapan absurd Biru sontak membuat Langit meliriknya kesal. Baik saudara maupun sahabatnya, semuanya tidak ada yang beres. Kenapa mereka tidak bisa menjaga ucapannya di depan anak-anaknya? Rasanya Langit ingin mengusir mereka keluar saja.


********


Dua bulan berlalu, waktu rasanya berjalan lebih cepat. Shien masih tidak menyangka jika dirinya bisa berjalan sejauh ini dengan Langit. Padahal, hal ini tidak pernah ada di dalam rencana hidup Shien sebelumnya.


Masih terpatri jelas dalam ingatan Shien bagaimana awal pertemuannya dengan Langit, lalu saat mencoba meyakinkan diri dan melanggar prinsip hidupnya yang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melangkah maju bersama Langit.


Hidup Shien benar-benar banyak berubah sejak bertemu laki-laki tampan bernama Langit itu.


Menjadi orang tua baru memang tidak mudah. Pasti akan ada hal yang ditakuti dan dicemaskan. Tapi itu akan lebih buruk jika tidak dihadapi, serta tidak akan pernah bisa belajar jika terus terkungkung dalam rasa takut dan cemas tersebut.


Seperti halnya Langit dan Shien, mereka terus berusaha menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya, mereka melakukannya secara perlahan, bekerja sama dengan baik, saling mendukung, saling mengingatkan apabila melakukan kesalahan dalam merawat kedua anaknya, dan bertanya pada yang sudah berpengalaman jika ada sesuatu yang membuat mereka bingung atau bahkan awam bagi mereka.


Langit sangat bersyukur karena memiliki istri pintar seperti Shien yang selalu ingin terus belajar untuk menjadi lebih baik tanpa pernah mengeluh. Gadisnya yang sudah tidak lagi gadis itu benar-benar berusaha untuk menjadi ibu sempurna bagi anak-anak mereka dan juga seorang istri terbaik untuk dirinya.


Shien yang semula takut dan khawatir tidak bisa merawat anak-anaknya dengan baik, justru kini Shien terlihat sangat tanggap dan cekatan. Ia bahkan merawat kedua anaknya tanpa bantuan pengasuh. Tapi meski demiikian, Shien juga tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia juga merawat dan melayani suaminya dengan sangat baik.


Langit merasa bangga pada istrinya itu. Shien begitu sempurna, dan Langit merasa sudah menjadi orang yang paling beruntung karena ia yang berhasil mendapatkannya.


“Sekarang giliran aku.” Ucap Langit yang baru saja selesai membersihkan dirinya. Ia menghampiri Shien yang baru saja menidurkan si kembar di kamar bayi yang terhubung langsung dengan kamarnya dan Shien.


Shien tersenyum, kemudian melangkah dengan hati-hati ke arah Langit agar suara derap kakinya tidak mengganggu Shanna dan Shawn yang baru saja terlelap.


“Udah selesai mandi?” Tanya Shien dengan suara berbisik, Langit hanya mengangguk.


Shien lalu melingkarkan tangannya pada leher Langit dan mulai mencium bibir laki-laki itu dengan gerakan lembut. Dan hal itu jelas disambut baik oleh Langit, mereka saling berbalas kecupan.


“Jangan di sini.” Bisik Shien terengah saat merasakan tangan Langit mulai menggerayang di balik gaun tidurnya yang hanya sebatas paha.


Langit menatapnya sambil mengulas senyuman tipis. “As you wish.” Bisiknya kemudian. Dan tanpa menunggu waktu lama, Langit langsung mengangkat tubuh Shien sehingga membuat kaki jenjang istrinya itu otomatis melingkar erat di pinggangnya.


Bibir mereka kembali menyatu, menjadikan perjalanan mereka ke kamarnya sedikit lebih lama. Gairah yang muncul akibat ciuman panas yang mereka ciptakan membuat keduanya ingin segera memulai penyatuan mereka dan merengkuh pencapaiannya bersama-sama.


“Shien. . . .” Panggil Langit saat ia sudah mengungkung tubuh istrinya itu di atas tempat tidur. Ia menatap wajah cantik Shien lekat-lekat sambil merapikan anak rambut Shien yang cukup mengganggunya.


“Hum?”


“Terima kasih, ya. Karena kamu, sekarang aku punya hidup yang sempurna. Lebih sempurna dari yang aku bayangkan.” Ujar Langit, lalu mengecup kening Shien lama-lama, seolah menyalurkan seluruh rasa cintanya pada Shien yang semakin hari semakin bertambah di hatinya.


“Terima kasih karena udah bersedia hidup bersama aku, melahirkan anak-anak aku, dan mencintai kami begitu besar. Terima kasih, Shienna.” Lalu satu kecupan penuh cinta kembali Langit benamkan di kening Shien.


Shien menggeleng dengan senyum tipis terukir di bibirnya. “Enggak, Lang. Justru aku yang berterima kasih sama kamu. Kamu yang udah buat hidup aku sempurna. Karena tanpa kamu, aku masih menjadi Shien yang kaku, yang selalu terkurung dalam pikiran skeptisnya.” Ucapnya, lalu menangkup kedua sisi wajah Langit untuk kemudian mencium bibir suaminya itu dengan manis.


“I love you, Shien.” Ucap Langit, lalu kembali mencium bibir Shien.


“I love you too.” Balas Shien sambil menahan wajah Langit agar mereka bisa saling bersitatap.


“I’m so in love with you. . . .” Langit membalasknya kembali, kemudian menyatukan bibir mereka, saling berbalas ciuman dengan perasaan membuncah di hati masing-masing.


Tangan Langit membuka ikatan tali gaun tidur yang Shien kenakan hingga menampilkan bagian yang selalu menjadi favoritnya yang tak berpenghalang. Terlihat lebih besar dari sebelumnya, namun sayang Shien melarang Langit untuk jangan terlalu lama mengusik bagian itu atau ASInya akan keluar.


Bibir Langit lalu mulai menjamah dada Shien, memijat dan mengecup bagian itu dengan hati-hati. Tapi baru beberapa menit ia bermain-main dengan itu, tiba-tiba suara tangisan si kembar yang saling bersahutan terdengar begitu nyaring.


Shien tersenyum geli. “Anak kamu bangun, tuh.”


Langit mengerang karena kegiatannya yang sangat tanggung ini harus dipaksa berhenti. Ia lantas menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shien sejenak.


“Kayaknya besok kita harus titipin mereka sehari atau dua hari ke rumah Mama sama Papa, Shi.” Ujar Langit dengan mata terpejam seraya menghirup aroma tubuh Shien dalam-dalam.


Shien tergelak pelan mendengarnya. Sepertinya memang harus begitu, karena ini bukan kali pertama si kembar menggagalkan kegiatan menyenangkan yang akan Langit dan Shien lakukan.


Lalu, hingga beberapa waktu berikutnya, Langit dan Shien akan berlangganan menitipkan anak-anak mereka di rumah Mama dan Papa satu minggu sekali.


Bersama-sama, Langit dan Shien terus belajar. Belajar untuk menjadi yang terbaik sehingga bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing.


Dan bersama-sama, Langit dan Shien akan menghargai setiap waktu yang mereka habiskan sehingga terasa lebih bermakna.


Mereka tidak hidup bahagia selamanya. Tidak. Karena tidak ada kata selamanya untuk sesuatu yang masih berlangsung. Selalu ada badai kecil yang menerjang kehidupan mereka. Tapi bersama-sama, Langit dan Shien bisa melaluinya dengan baik.


THE END.

__ADS_1


__ADS_2