
********
“Hei. . . .” Nathan mengambil tempat duduk di tepi kolam renang, di samping Shien yang tengah asyik menatap kosong air kolam yang tenang dengan sebagian kakinya sengaja ia celupkan ke dalam air.
“Gak baik lho anak gadis malem-malem di luar.” Nathan berusaha menarik perhatian Shien yang masih terdiam tanpa minat. “Nanti ada yang nyulik.”
Shien mendengus kecil. “Di rumah sendiri siapa yang mau nyulik?”
“Orang ganteng.” Nathan menunjuk dirinya sendiri sambil memainkan alisnya.
Shien memutar bola matanya malas. Apa semua laki-laki berwajah tampan di dunia ini selalu memiliki tingkat kepercayaan diri yang melampaui batas seperti itu? Cih.
“Gak ada yang ngakuinnya, ya, sampai harus muji-muji sendiri kayak gitu?” Cibir Shien.
Nathan terkekeh kecil, lalu dengan jahilnya mencipratkan air kolam ke wajah Shien, hingga membuat gadis itu memelototinya dengan tatapan kesal dan tajam. “Jadi cewek tuh gak boleh jutek-jutek. Nanti gak laku.”
“Kamu tuh yang gak laku.” Sahut Shien kesal sambil mengusap wajahnya yang terkena cipratan air. Sementara Nathan hanya mendengus geli, lalu menatap Shien sebentar sebelum kemudian melemparkan pandangannya ke kolam renang.
“Shien. . . .” Panggil Nathan, ikut mencelupkan kakinya ke dalam air setelah sebelumnya ia menggulung celana jeans yang dikenakannya hingga sebatas betis.
“Hmm.” Sahut Shien malas, matanya mengerjap-erjap, sedikit perih karena terkena air.
“Apa gak ada kepikiran buat berobat di luar negeri? Amerika atau Jerman misalnya?” Tanya Nathan hati-hati, membuat gerakan tangan Shien yang sedang mengucek matanya seketika terhenti.
Shien lantas menoleh ke arah laki-laki itu, matanya berkedip-kedip lugu. “Luar negeri?” Tanyanya memastikan.
Nathan menganggukkan kepalanya pelan. “Walaupun tetap masih akan kesulitan mendapat donor, tapi setidaknya pengobatan di sana jauh lebih baik.”
Shien menghela napas berat, lalu menghembuskannya perlahan. Ia memalingkan kembali pandangannya, menunduk pada kolam renang sembari kakinya yang berada di dalam air mengayun pelan.
“Kenapa?” Shien tersenyum kecut, tatapannya kosong memandang air kolam yang bergerak mengombak karena ayunan kakinya. “Bukannya rumah sakit di sini juga udah yang terbaik? Atau kamu yang kehilangan udah kepercayaan diri sebagai seorang Dokter, Kak? Kamu nyerah buat ngobatin aku?” Tutur Shien skeptis.
“Bukan gitu.” Sanggah Nathan cepat. “Cuma kalau di sana kamu bisa lebih fokus sama pengobatan kamu. Gak terbagi-bagi sama kerjaan atau hal lainnya yang bisa membuat kamu jadi banyak pikiran.” Jelasnya kemudian, berharap Shien bisa mempertimbangkan sarannya.
Gadis itu terdiam dengan pikiran menerawang, hingga keterdiamannya itu menimbulkan kesenyapan di antara dirinya dan Nathan. Nyanyian binatang malampun sejenak mengambil alih percakapan.
“Aku udah bicara sama Om dan Tante. Mereka gak keberatan. Om sama Tante cuma mau yang terbaik buat kamu.” Tambah Nathan.
Shien mengangkat kepalanya, lalu memandang Nathan ragu. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya, terpancar sangat jelas melalui guratan wajah sendunya. Sesuatu yang menahan Shien untuk terus berpikir lagi dan lagi.
“Shien, apalagi yang kamu pikirkan?” Sembur Nathan yang melihat Shien tampak berat hati.
“Langit?” Tebaknya sinis. Pandangan baiknya terhadap Langit benar-benar berubah setelah melihat kelakuannya di Dufan waktu itu. “Kalau dia emang sungguh-sungguh sama kamu, dia gak akan keberatan. Dia pasti bisa nunggu kamu walaupun tanpa batas waktu.”
Shien mendesah pelan, tidak menggubris seolah membenarkan tebakan Nathan akan pikirannya.
“Selama lebih dari enam bulan setelah kita ketemu lagi, biasanya kamu akan mementingkan diri sendiri di atas siapa pun. Tapi, kenapa sekarang jadi bucin gini dan lebih mikirin dia di atas segalanya?” Cibir Nathan.
“Ihh, siapa yang bucin?” Elak Shien seraya membuang pandangannya dari Nathan.
“So?” Tanya Nathan menantang.
“I’ll think about it.” Jawab Shien tanpa berpikir lebih lama lagi.
Shien sungguh-sungguh, ia akan mempertimbangkannya.
Nathan yang mendengar itu tersenyum simpul. “Kalau gitu jangan murung lagi.” Laki-laki itu kembali mencipratkan air kolam tepat pada wajah Shien hingga membuatnya memekik kesal.
“NATHAN.” Teriak Shien kesal, lalu balas mencipratkan air pada Nathan, namun laki-laki itu berhasil menghalau wajahnya menggunakan tangan hingga air tidak mengenainya.
__ADS_1
“Lagian siapa yang murung? Dasar sok tahu.” Gerutu Shien seraya mendelik sewot.
“Om sama Tante yang bilang kalau kamu terus ngurung diri di kamar.” Sahut Nathan, membuat Shien tidak bisa mengelak lagi.
“Dih, kayak kurang kerjaan aja.” Ledeknya kemudian sambil menyenggol kaki Shien di dalam air. Shien balas menyenggolnya dengan keras, lebih tepatnya menendang kaki Nathan, tapi sejurus kemudian ia malah meringis karena menendang kaki Nathan sama saja dengan menendang tembok, kaki Shien terasa ngilu.
“Kalau sedih tuh ya cari hiburan biar gak stress.” Ujar Nathan, kini sebelah kakinya menendang-nendang kecil kaki Shien gemas. “Ehh, lupa. Shien, kan, kuper. Mana kamu tahu tempat hiburan yang asyik.” Ledeknya lagi diiringi derai tawa yang terdengar menjengkelkan, membuat Shien otomatis mendelik sebal.
“Kehilangan satu donor bukan akhir dari segalanya. Kamu gak bakalan mati karena itu.” Nathan terus berusaha menghibur gadis yang duduk di sampingnya ini. “Jadi, cukup sedihnya dan tetap optimis, hum?” Lalu dengan gemas ia mengacak rambut Shien penuh sayang.
“Ish. . . .” Shien mendengus sebal sembari menyingkirkan tangan Nathan dari kepalanya.
Sejurus kemudian, pandangannya tertuju pada sesuatu di balik flight jacket merah maroon Nathan yang terlihat menonjol dan bergerak-gerak.
Ngomong-ngomong, sejak tadi sebelah tangan Nathan juga tampak mengusap perutnya sesekali seperti ibu hamil. Hanya saja, Shien baru sadar. Satu jari telunjuknya lantas terulur, menyentuh objek bergerak di balik jacket Nathan seraya melemparkan tatapan penuh tanya.
Nathan tersenyum misterius, lalu membuka resleting jacketnya perlahan. Shien sedikit terperanjat dan refleks menjauhkan tubuhnya begitu hewan kecil berbulu dengan telinga panjang muncul dari balik jacket itu. Seekor kelinci Havana berwarna kecokelatan seperti cerutu khas Kuba, tampak tenang dalam dekapan Nathan, hidungnya mengendus-endus lucu.
“Kelinci?” Shien kembali menggeser tubuhnya, menyentuh bulu halus kelinci hias yang sudah jinak itu.
Nathan memutar bola matanya malas, lalu mengangkat kelinci tersebut untuk kemudian menciumnya gemas. “Kucing, Shi.”
“Serius.” Shien memukul punggung Nathan cukup keras, hingga membuat laki-laki itu melengkungkan tubuhnya sedikit ke belakang.
“Ya serius ini kelinci, walaupun udah gede juga gak mungkin kamu lupa bentukan kelinci kayak gimana.” Sahut Nathan sengit, gemas sendiri. Ingin rasanya ia mencelupkan kepala Shien ke dalam kolam renang agar gadis itu bisa berpikir dengan baik.
“Maksudnya, ngapain kamu bawa kelinci ke sini?” Terang Shien ikut gregetan.
Nathan membulatkan mulutnya sebentar, sebelum kemudian ia menjawab. “Buat kamu pelihara.” Lalu menyerahkan paksa kelinci tersebut ke tangan Shien, sehingga membuat Shien mau tidak mau harus memangku dan mengelus-elus kelinci itu untuk membuatnya tetap tenang.
“Kamu pikir aku kurang kerjaan?” Protes Shien dengan tatapan kesal.
“Itu lebih baik daripada ngurung diri di kamar.” Sahut Nathan, tidak memedulikan protes yang dilayangkan Shien.
“Kandangnya datang. . . .”
Shien yang baru saja membuka mulutnya untuk menyahuti Nathan seketika terurungkan saat Papa datang dari arah gudang dengan kedua tangan terlihat repot membawa kandang kelinci yang sudah sedikit berkarat dimakan usia.
“Jadi ceritanya ini surprise?” Tanya Shien, namun lebih terdengar seperti sebuah cibiran seolah mengatakan jika ia sama sekali tidak terkejut.
Jika masih anak-anak, mungkin ia akan terkejut dan berteriak kegirangan mendapat hadiah makhluk lucu berbulu yang memiliki telinga panjang itu, tapi Shien sudah dewasa sekarang. Nathan terlalu kekanak-kanakkan. Atau dia memang menganggap jika Shien adalah Shien yang dulu? Shien yang berusia tujuh tahun yang sering dipanggilnya kelinci kecil karena Shien dulu memiliki gigi kelinci pada gigi seri bagian atasnya? Huuh.
“Dihh, ngapain ngasih surprise sama kamu?” Nathan menoyor pelan kepala Shien gemas, lalu beranjak dan berjalan menghampiri Papa yang duduk di dekat gazebo untuk ikut memeriksa kandang kelinci. Detik berikutnya, Shien mengekori laki-laki itu dengan membawa kelinci dalam dekapannya.
“Kandangnya masih oke.” Gumam Papa sambil membersihkan kandang berukuran 100 x 50 cm yang terbuat dari besi itu menggunakan kemoceng karena kandang tersebut dipenuhi sarang laba-laba.
“Sementara pake kandang ini dulu, Shi. Besok-besok kita suruh Mang Udin bikin kandangnya yang lebih bagus. Papa udah ada referensinya, lho.” Ujar Papa serius dan bersemangat layaknya merencanakan proposal untuk sebuah proyek besar di perusahaannya, sementara Shien hanya terdiam tanpa minat. Mau kelincinya dilepas pun, Shien tidak akan peduli.
Setelah memastikan kandangnya benar-benar bersih, Papa lantas mengambil alih kelinci pemberian Nathan dari dekapan Shien, lalu menyuruh putri bungsunya itu untuk mengambil semua sayuran hijau dari dalam lemari es. Shien dengan langkah malas menurutinya dan pergi ke dapur yang jaraknya tidak terlalu jauh jika dijangkau dari arah gazebo.
Cukup lama mereka bertiga berbincang-bincang di luar sambil mengamati kelinci yang tidak berhenti makan itu. Ahh, bukan. Lebih tepatnya, hanya Papa dan Nathan yang menguasai obrolan.
Keduanya membahas berbagai macam kelinci hias beserta harga dan cara perawatannya, mereka sangat serius seakan-akan sedang membahas kerja sama dalam bisnis.
Sementara Shien yang sebenarnya memang sangat menyukai kelinci, gadis itu memilih untuk memberi makan kelinci dengan mengarahkan satu per satu daun selada segar yang tadi diambilnya dari lemari es ke arah mulut kelinci. Shien tersenyum tipis kala melihat kelinci tersebut memotong sayuran dengan cepat. Seketika ia teringat dengan anak kecil bernama Biel yang tadi siang ditemuinya. Cara makannya tidak jauh berbeda dengan kelinci.
Namun, Shien sesekali dibuat kesal saat Nathan tiba-tiba menyerukkan jari Shien ke arah mulut kelinci. Jelas itu membuat Shien berteriak kesal dan langsung melemparinya dengan sayuran.
Papa yang melihat pertengkaran kecil mereka hanya geleng-geleng kepala, gemas akan tingkah keduanya. Dan seketika ia teringat Shawn. Mungkin jika dia masih ada, pasti tidak akan jauh berbeda dengan Nathan karena seingatnya Shawn juga senang menjahili orang.
__ADS_1
Selain itu, Papa juga tersenyum lega karena Shien sudah tidak semurung sebelumnya.
Mereka bertiga larut keseruan bermain bersama objek berbulu halus dan mengkilap benama kelinci. Bahkan malam yang kian larut pun tidak membuat mereka segera beranjak dan menghentikan kegiatannya.
Dan tanpa ketiganya sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka tak jauh dari sana dengan penuh kebencian. Kilatan mata itu menunjukkan jika ia tidak menyukai pemandangan yang dilihatnya.
Seringai sinis pun tersungging dari salah satu sudut bibirnya yang dibalut lipstick berwarna merah terang.
********
Shien menghembuskan napasnya malas, karena begitu ia keluar dari kamarnya, ia mendapati Shanna yang juga sama-sama sudah bersiap untuk pergi bekerja dan turun untuk sarapan.
Lalu, tanpa berniat untuk memberi sapaan selamat pagi, kaki Shien yang masih dibalut sandal rumahan bergerak melangkah lebih dulu. Mengabaikan Shanna yang tengah memandang sinis padanya.
“Jangan serakah.” Ucap Shanna setengah berteriak, namun tak membuat Shien menghentikan langkahnya. Sungguh, Shien terlalu malas untuk bertengkar sepagi ini.
“Kamu udah bersama Langit, tapi masih merayu cowok lain.” Shanna menarik pergelangan tangan Shien dengan kasar hingga menghentikan langkah kaki gadis itu yang baru saja akan menyentuh anak tangga pertama.
Shien terdiam, matanya mengerjap bingung, mencoba mencerna ucapan Shanna. Seingatnya, ia tidak pernah merayu laki-laki mana pun, apalagi laki-laki lain. Garis bawahi, termasuk Langit. Shien juga tidak merayunya. Shien pikir, mungkin ada sesuatu yang salah dengan isi kepala Shanna.
“Lepasin Langit dan kamu bisa bebas sama kak Niel.” Ujar Shanna penuh perintah. Namun Shien tetap bersikap setenang mungkin. Dalam hatinya ia ber-ohh ria, jadi Nathanlah laki-laki lain yang Shanna maksud.
“Kamu sama dia lebih cocok.” Imbuh Shanna diiringi senyum meledek.
“Terima kasih saran dan komentarnya. Tapi aku gak tertarik.” Shien menghempaskan tangan Shanna yang mencengkram pergelangan tangannya. Ia kemudian buru-buru pergi, meninggalkan Shanna yang menahan geram dengan kedua tangan terkepal si sisi rok span hitam di atas lutut yang dikenakannya.
Setelah menyelesaikan sarapan dengan suasana kekeluargaan ala keluarga cemara yang sebenarnya Shien ingin sekali melewatkannya. Karena saat di meja makan, ia harus bersandiwara untuk berpura-pura baik-baik saja dengan Shanna. Ahh, Shien benar-benar tidak suka situasi ini.
Sebersit pikiran untuk pindah kembali ke rumah Tante Hilda melintas di kepalanya. Tapi, mungkin ia harus mencari alasan yang jelas dulu jika ingin melakukannya.
Shien pergi paling akhir setelah beberapa saat yang lalu Papa berangkat ke kantor, begitu pun dengan Mama yang juga sudah pergi untuk berbelanja bulanan ke supermarket ditemani Bibi.
Sepeninggal kedua orang tuanya, saat ini hanya tinggal dirinya dan juga Shanna yang enatah ada di mana, Shien tidak mau tahu dan tidak peduli.
Shien mengambil flat shoes warna khakinya dari rak sepatu, namun ia tiba-tiba mengaduh kesakitan saat sesuatu menyakiti telapak kaki sebelah kanannya yang baru saja ia masukkan ke dalam sepatu tersebut.
Serpihan beling yang entah dari mana tiba-tiba ada di dalam sepatu melukai dan menancap di telapak kakinya cukup dalam, darah segar terlihat mengalir dan berbekas pada serpihan beling yang ia cabut paksa.
Shien segera menjauhkan serpihan belingnya dan ia buang tepat ke dalam pot bunga, takut-takut tidak sengaja melukai orang lain jika ia buang sembarang.
Shien kemudian duduk di kursi teras rumah untuk memeriksa seberapa parah lukanya, namun niatnya terurungkan tatkala ia melihat Shanna keluar dari rumah dan saat ini berdiri di hadapannya dengan seringai puas.
“Kerjaan kamu, kan?” Tembak Shien langsung. Ia tertawa miris dalam hati, tidak habis pikir jika kakaknya sendiri melakukan hal murahan seperti ini. Ck, kenapa tidak membunuhnya saja sekalian?
“Ini cuma gertakan kecil. Aku bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk dari ini kalau kamu masih belum melepaskan Langit.” Sahut Shanna dengan santainya, tidak mengelak dari tudingan Shien yang ternyata memang benar. Padahal, dalam hati kecilnya Shien masih berharap jika Shanna akan menyangkal. Tapi, nyatanya gadis berambut warna-warni itu malah mengakuinya dengan enteng.
“Psycho.” Umpat Shien geram, sorot matanya menatap Shanna dengan tatapan dingin..
Shanna tertawa sarkas, tangannya bersedekap angkuh. “Whatever you say, Shienna.” Kemudian gadis itu berlalu dari hadapan Shien, berjalan melenggang menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.
Shien menghembuskan napas berat begitu Shanna dan mobilnya menghilang dari pandangannya. Ia meringis saat merasakan perih akibat luka di telapak kakinya. Tapi, hatinya jauh lebih perih dari luka itu.
Ia menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit seiring dengan cairan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Shien mengusap air mata di wajahnya yang terjatuh cepat saat dering tanda panggilan masuk di ponselnya terdengar.
Nama Fina tampak tertera di layar ponselnya yang berkedip-kedip. Buru-buru Shien menggeser icon warna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
“Shien, cepat datang ke kantor. Ada masalah sama buku baru kamu.”
__ADS_1
********
To be continued. . . .