So In Love

So In Love
EP. 47. Aku Udah Gak Nahan


__ADS_3

********


* Perjalanan bersama Papa, Mama, Tante Hilda, dan Shanna.


* Meluncurkan satu buku lagi.


* Sepuluh hal menyenangkan bersama Langit.


* Menikah.


Shien menggelengkan kepalanya dan langsung menghapus list terakhir dari daftar keinginan yang ia ketik di ponselnya. Walaupun Shien menginginkannya, tapi ia sangsi jika bisa melakukan itu. Shien tahu waktunya sudah tidak banyak lagi.


Dan juga, Shien tidak ingin terlalu kejam meninggalkan Langit dengan membawa sebagian hati laki-laki itu jika sampai dia menikahinya. Langit harus bisa mencintai orang lain setelah ia pergi.


“Lagi ngapain? Di luar dingin lho, Shi.”


Shien tersentak saat merasakan benda hangat menutupi kedua bahunya. Gadis itu menoleh dan mendapati Mama berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan bersandar pada railing balkon. Lantas, buru-buru Shien menekan tombol di bagian samping ponsel untuk mematikan displaynya.


“Lagi lihatin pemandangan aja. Aku pasti kangen banget sama tempat ini.” Jawab Shien melirik Mama sekilas, lalu kembali melemparkan pandangannya pada pemandangan yang menampilkan hamparan laut lepas, begitu indah di malam hari jika dilihat dengan mata telanjang. Angin yang berhembus berhasil membuat mini dress dan helai rambut Shien terbang tak karuan, sehingga memberikan rasa dingin dan sejuk di kulitnya.


“Kapan-kapan kita bisa kembali lagi ke sini, Shi.” Shien tersenyum getir dengan sorot mata berubah sendu. Shien tidak yakin bisa kembali lagi ke sini.


“Apalagi kalau kamu udah sembuh. Kita bisa tour keliling beberapa negara seperti yang kamu mau.” Sambung Mama, teringat Shien kecil yang selalu berangan-angan ingin melakukan perjalanan keliling dunia. Namun di balik kalimat yang diucapkannya, Mama sungguh-sungguh berharap Shien bisa segera sembuh sepenuhnya. Mama berharap donor yang tepat segera datang.


Shien menoleh, lalu mengangguk lemah diiringi seulas senyum yang dipaksakan.


Mama ikut tersenyum, tangannya terulur merapikan anak rambut Shien yang bergerak ke sana kemari. “Ya udah, yuk, masuk. Makan malamnya udah siap.” Lalu meraih pundak Shien untuk membimbing gadis itu kembali ke kamar.


********


“Jadi malam ini kita stay di kamar aja, nih?” Tanya Mama sambil meletakkan kopi yang sudah dibuatnya ke atas meja untuk Papa yang sibuk mengamati layar, sesekali jarinya sibuk mengetik pada laptop yang terletak di pangkuannya.


Tidak ada sahutan dari Papa. Begitu juga dengan Shien yang sibuk membaca naskah dari penulis yang kemungkinan siap diterbitkan, yang tentunya sudah diseleksi oleh agen sastra dan mendapat rekomendasi dari anak perusahaannya yang ada di Amerika. Perusahaan Snow Candy milik Tante Hilda memang tidak menerima pengiriman naskah yang tidak diminta. Snow Candy sangat ketat dalam menyeleksi setiap naskah yang hendak diterbitkan. Kebanyakan karya-karya yang layak diterbitkan oleh Snow Candy hanyalah penulis yang telah dipesan atau memiliki hubungan kerjasama.


“Gak asyik banget lagi liburan malah ngurusin kerjaan.” Mama memandang anak dan suaminya yang duduk berdampingan itu dengan tatapan kesal. Mama merasa kalau dirinya dianggap invisible karena resmi diabaikan.


“Kita besok pulang, lho.” Mama mengingatkan, masih dalam posisi berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada.


Papa dan Shien mengedikkan bahunya serempak, membuat Mama terperangah tak percaya. “Kalian denger Mama gak, sih? Kalian bisu?” Wanita paruh baya itu berkacak pinggang dengan wajah merengut.


“Hmm.” Lalu sahutan kompak dari anak dan suaminya terdengar begitu kalimat Mama terlontar. Namun, tetap saja itu membuat Mama tidak puas.


Mama menatap Papa dan Shien bergantian, kemudian mendengus. Kesal karena Shien begitu mirip dengan suaminya. Terlebih kebiasaan mereka yang workaholic, pendiam, dan tidak bisa berkata-kata manis. Bukan hanya itu, semua makanan yang disukai Papa adalah kesukaan Shien juga, hingga sampai dengan kebiasaan tidur yang sama persis. Dan satu lagi yang paling menarik, Papa dan Shien sama-sama mahir menggunakan kedua tangannya dengan sama baik untuk melakukan berbagai tugas.


Mama menganggap yang kembar itu sebenarnya bukan Shanna dan Shien. Tapi suami dan anak bungsunya yang sama-sama sedang mengabaikannya saat ini.


“Ke Seminyak Square, yuk! Kita kulineran sekalian beli oleh-oleh buat orang rumah.” Ajak Mama, berusaha menahan kesabarannya. Dan seandainya mereka masih mengabaikannya lagi, Mama pastikan bantal sofa melayang ke arah mereka.


“Maaf aku gak bisa.”


“Maaf, Papa gak bisa.”


Sahut pasangan ayah dan anak itu bersamaan, membuat Mama gregetan sendiri. Wanita itu menggeram tertahan.


“Apa kalian pikir cuma kalian yang punya kesibukan? Mama juga bisa cari kesibukan.” Mama mendumel, mulutnya komat-kamit tak bersuara mengeluarkan gerutuannya.


Wanita paruh baya itu lantas meraih ponsel yang tergeletak di atas sofa dengan gerakan menyentak. “Jangan cari Mama kalau kalian butuh sesuatu.” Ancamnya kemudian.


Menghentakkan kakinya kesal, Mama lantas berlalu dari hadapan anak dan suaminya untuk keluar melakukan spa yang tersedia di hotel. Mama butuh merelaksasikan tubuhnya setelah kesabarannya cukup terkuras karena menghadapi dua patung es yang diberi nyawa itu.


“Have fun.” Sahut Papa santai sebelum Mama beranjak, dan tanpa mengalihkan perhatian dari laptopnya. Sementara wanita paruh baya itu hanya bisa mendengus sebal.


Untuk beberapa saat suasana ruang tamu di kamar hotel itu hening, Papa dan Shien berkutat pada pekerjaan masing-masing. Hanya suara ketikan dari keyboard laptop milik Papa yang terdengar, sesekali terdengar pula dering notifikasi surel yang masuk dari laptop itu.


Hingga dering ponsel milik Shien yang tergeletak di atas meja mengganggu fokus Papa untuk sejenak.


“Ponsel kamu, Shi.” Tegur Papa seraya mengedikan dagunya ke arah meja karena Shien tak kunjung mengambil dan menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya. Itu sangat mengganggu Papa karena menimbulkan suara berisik.


“Ohh, iya.” Shien meletakkan tabletnya ke sofa, lalu tangannya terulur untuk meraih ponsel dan menjawab panggilan telepon yang masuk.


“Iya, Tante.” Sahut Shien begitu panggilan telepon terhubung. Ekor matanya melirik Papa sekilas, memastikan laki-laki paruh baya itu masih bergeming dalam posisinya.


“Lho, kok Tante? Baru seminggu LDRan, masa udah lupa sama suara tunangannya sendiri.” Suara orang di seberang telepon terdengar mendumel sebal, Langit.


Sengaja Shien memanggil dia Tante Hilda karena Shien tidak ingin menimbulkan kecurigaan Papa yang duduk di sebelahnya.


“Aku lagi sama Papa. Ada apa, Tan?” Dan otak Langit langsung tanggap kenapa Shien bisa memanggilnya Tante.


“Kamu, kan, bisa menjauh dulu dari Papa kamu.” Protes Langit gemas.


“Gak bisa.” Sahut Shien. Karena kalau seperti itu, yang ada Papa malah curiga.


Langit mendengus. “Kamu lagi ngapain.”


“Periksa naskah.” Jawab Shien seadanya. Memang ia sedang memeriksa naskah, kok.


“Di kamar?” Shien memutar bola matanya malas, sebelum kemudian menjawab. “Kamar mandi.” Celetuk Shien asal.


“Ihh, ditanya bener-bener, jawabnya kayak gitu.” Shien hanya mengedik tak peduli, seolah lupa jika dirinya sedang berbicara melalui telepon.


“Kamu coba keluar kamar deh, Shi.” Pinta Langit, membuat wajah Shien merengut tak mengerti.


“Mau ngapain?” Tanya Shien dengan kening berkerut dalam.


“Keluar sini.” Sahut Langit terdengar memerintah.


“Tante gak mungkin ada di Bali, kan?” Tanya Shien ragu. Jika itu benar, maka Shien berpikir Langit itu sudah gila. Dan jika Langit ada di Bali karena perkerjaan, maka Shien kegeeran karena sudah berpikir Langit menyusulnya.


“Kamu banyak bicara deh, sayang. Cepetan sini keluar!” Balas Langit gemas sendiri seraya mengakhiri panggilannya.


“Eh. . . .” Shien menurunkan ponsel dari telinganya saat Langit memutus panggilan telepon begitu saja, lalu menatap ponsel tersebut dengan ekspresi penuh tanya.

__ADS_1


“Kenapa, Shi?” Tanya Papa yang melihat anaknya bergeming menatap layar ponsel yang sudah mati itu tanpa kedip.


Shien otomatis tersentak. “Ohh. Gak apa-apa, Pa.” Jawabnya gelagapan.


Shien menggigit bibir bawahnya. Ragu-ragu ia melirik Papa yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Otaknya berputar, mencari alasan agar ia bisa keluar dari kamar hotel itu. Shien juga penasaran sebenarnya di luar itu ada apa.


Jujur, dalam hatinya Shien berharap jika Langit ada di depan pintu. Shien tidak menyangkalnya. Toh, ia memang sangat merindukan laki-laki itu. Tapi, Shien juga tidak bisa berharap berlebihan, takut-takut yang ada di depan pintu kamar itu hanya pelayan hotel yang membawa kejutan dari Langit. Mengingat Langit biasanya melakukan hal seperti itu.


“Emm, Pa. . . .” Panggil Shien ragu.


“Hem?” Papa menoleh dengan sebelah alis terangkat.


“Aku keluar sebentar.” Jawab Shien sambil meremas jari tangannya, tanda bahwa gadis itu sedang gugup. Begini akibatnya jika berpacaran lewat jalur belakang, harus pandai-pandai mencari alasan agar tidak ketahuan atau menimbulkan kecurigaan.


“Lho, mau ke mana?” Tanya Papa dengan tatapan menyelidik.


“Eung, itu, aku. . . .” Mata Shien menerawang seraya berpikir. “Mau jalan-jalan di sekitar pantai.” Sambungnya diiringi dengan senyuman kaku yang dipaksakan.


“Mau Papa temenin?” Tawar Papa yang langsung disambar cepat oleh Shien. “Gak usah.”


Wajah Papa merengut karena reaksi Shien sedikit heboh.


“Maksud aku, aku bisa sendiri, jadi gak perlu ditemenin.” Terang Shien sambil menggoyang-goyangkan kakinya gelisah.


“Ya udah, tapi jangan malam-malam pulangnya, nanti kamu masuk angin.” Pesan Papa yang dijawab anggukan oleh Shien.


“Pake baju hangat, terus ponsel jangan lupa dibawa.” Imbuhnya kemudian. “Kalau ada apa-pa, langsung telepon Papa.” Laki-laki paruh baya itu nampak khawatir membiarkan anak gadisnya keluar malam-malam sendirian.


Dan Shien lagi-lagi mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu lantas menyambar cardigan yang tadi disampirkan Mama di bahunya saat berada di balkon tadi, lalu berpamitan pada Papa sebelum kemudian ia beranjak untuk keluar.


********


Kedua bola mata Shien melebar kala ia melihat sosok tampan yang tampil trendy dengan oversized striped shirt berlengan panjang yang dipadukan dengan slim fit jeans yang dilipat sedikit hingga semata kaki, serta sneakers bermerk yang membalut kakinya, membuat penampilannya terlihat fresh walaupun sudah malam.


“Kamu. . . .” Jari telunjuk Shien terangkat menunjuk sosok tampan itu. Mulutnya sedikit menganga, seolah tidak percaya jika makhluk yang berdiri di hadapannya ini adalah nyata. Langit.


“Kenapa? Terkejut?” Tanya Langit santai seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Shien.


Shien mendorong wajah Langit agar menjauh. “Ngapain di sini?” Langit langsung cemberut mendengar pertanyaan Shien. Bukannya langsung dipeluk karena sudah tidak bertemu satu minggu lamanya, ini malah ditanya seperti itu. Huuh, gadis ini benar-benar.


“Ikut aku.” Tak mengindahkan Shien yang masih menunggu jawaban dari pertanyaannya, Langit menarik lengan Shien dan membawanya ke dalam lift. Langit berpikir, bisa ketahuan orang tua Shien jika mereka terus berdiri di depan pintu kamar hotel.


“Kamu mau bawa aku ke ma. . . .” Kalimat Shien terhenti begitu saja saat tiba-tiba Langit memeluknya setelah pintu lift tertutup. “Aku kangen banget sama kamu, Shi.”


Shien mendesah pelan, tangannya tergantung di kedua sisi pahanya, tidak membalas pelukan Langit. Bukannya tidak ingin, hanya saja Shien takut sewaktu-waktu pintu lift terbuka, lalu seseorang melihat mereka berpelukan seperti ini. Tidak. Shien tidak ingin kepergok orang.


“Shi, kamu gak kangen aku?” Protes Langit karena Shien tidak membalas pelukannya.


“Kangen, lah.” Jawab Shien dengan suara mencicit, gadis itu tersipu hingga kedua pipinya merona. Shien terlalu malu untuk mengatakan hal-hal seperti itu.


“Terus, kenapa gak peluk balik?” Langit menjauhkan tubuhnya untuk bisa menjangkau pandangannya dengan Shien, lalu melayangkan tatapan protes.


“Kan sepi.” Sahut Langit penuh penekanan, lalu mendekatkan wajahnya untuk menyambar bibir Shien. Namun, gadis itu dengan cepat menahan kedua sisi wajah Langit dan mengarahkannya pada kamera pengawas yang terletak di salah satu sudut di bagian atas lift.


Langit memanyunkan bibirnya lucu. Seketika ia ingin mengutuk si pencipta kamera pengawas atau CCTV itu.


“Lagian, kalau ada orang masuk gima. . . .”


Dan bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Buru-buru Shien melepaskan tangan Langit yang masih melingkar di pinggangnya sebelum pintu lift benar-benar terbuka dan orang di balik pintu memergoki mereka.


“Baru aja mau ngomong.” Shien bergumam sangat pelan begitu dua orang masuk ke dalam lift. Sementara Langit hanya melempar pandangannya ke sembarang arah karena malu.


********


“Kamu ada kerjaan di sini?” Tanya Shien penasaran saat mereka sudah keluar dari area hotel dan menelusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan.


“Enggak.” Langit menggeleng pelan.


“Terus?” Shien mengangkat wajahnya, bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.


“Ya aku sengaja nyusul kamu ke sini.” Balas Langit enteng. “Soalnya aku kangen sama kamu, pake banget.” Sambungnya kemudian, membuat Shien mendengus geli mendengarnya.


“Kan aku besok pulang.” Ujar Shien, sebelah tangannya sibuk merapikan rambutnya yang diterbangkan angin darat yang berhembus cukup kencang.


“Tapi aku udah gak nahan.” Langit membantu Shien merapikan rambutnya. “Kalau gak cepat-cepat ketemu kamu, aku bisa mati.” Lanjutnya, dibuat sedramatis mungkin hingga membuat telinga Shien geli mendengarnya.


“Lebay kamu.” Shien mencubit pelan pinggang Langit, nyaris seperti gelitikan hingga membuat laki-laki itu terkekeh.


“Terus, hari ini kamu gak kerja?” Tanya Shien, seolah tidak bisa menerima jika Langit mengabaikan pekerjaan demi menyusulnya ke Bali.


Langit menggeleng dengan seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya. “Aku ngambil penerbangan sore, beres kerja langsung terbang ke sini, deh.”


“Gak capek?” Shien merasa khawatir.


“Enggak. Soalnya rasa kangen aku lebih besar.” Jawab Langit singkat.


“Dasar gila.” Shien meninju pelan lengan bahu Langit.


“Iya, karena kamu.” Balas Langit sambil menarik tubuh Shien, lalu mendekapnya dari belakang, sehingga tubuh gadis itu menempel dengan tubuhnya.


Shien sedikit terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu. Namun, di sisi lain, Shien tak memungkiri berada dalam dekapan Langit itu sangat menenangkan dan menyenangkan. Dan dari jarak sedekat ini, Shien juga bisa menghirup aroma maskulin dari tubuh Langit. Memabukkan, membuat Shien ingin terus menghirupnya.


Keduanya lalu kembali berjalan menelusuri tepi pantai dengan langkah perlahan, dan masih dengan posisi back hug seperti itu.


“Seneng gak, Shi, aku datang susulin kamu?” Tanya Langit sambil menghirup aroma rambut Shien yang wangi, lalu meletakkan dagunya di atas kepala gadis itu.


Shien pura-pura berpikir, sebelum kemudian ia menjawab dengan usil. “Lumayan.” Nyatanya, dalam hati Shien sangat senang dengan kedatangan Langit.


“Ihh, ngeselin.” Langit mendengus seiring dengan wajahnya yang merengut. Shien hanya tersenyum geli mendengarnya.


Mereka terus berjalan menyusuri pantai. Shien meminta Langit menceritakan tentang dirinya karena ia merasa belum cukup tahu tentang Langit.

__ADS_1


Langit kemudian bercerita tentang keluarganya, teman-temannya, apa yang disukai dan tidak disukainya, sampai dengan kegemarannya yang gila belanja. Sesekali Shien dibuatnya tergelak dengan cerita-cerita lucu.


“Shopaholic itu bukannya termasuk gangguan kejiwaan?” Tanya Shien seraya mendongakkan kepalanya untuk menjangkau wajah Langit.


Wajah Langit merengut seiring dengan langkahnya yang terhenti. “Kamu pikir aku gila?” Shien mengangguk. “Kamu gila belanja.”


“Tapi, sekarang aku lebih tergila-gila sama kamu.” Ujar Langit, lalu menyambar sebelah pipi Shien dan membenamkan satu kecupan di sana.


Shien memutar bola matanya malas. “Dasar tukang gombal.” Cibirnya kemudian. Langit hanya terkekeh geli.


Untuk sesaat, keheningan menyusup di tengah-tengah mereka. Hanya terdengar riuh angin dan deburan ombak pantai yang meriuhkan suasana. Langit membuat posisi tubuh mereka berbalik untuk menghadap ke hamparan laut yang luas.


Menikmati dekapan Langit yang hangat, Shien juga merasakan deru napas Langit menggelitik kepalanya. Rasanya, Shien ingin mengatur waktu agar berjalan lebih lambat. Ia tidak ingin momen seperti ini cepat berlalu.


“Shien. . . .” Panggil Langit pelan. “Hum?” Sahut Shien tanpa menoleh ke arah Langit.


“Malam ini tidur sama aku.”


“Ya?” Shien mengerjap, lalu memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Langit. Pandangannya beradu dengan tatapan hangat milik laki-laki itu.


“Apa yang kamu pikirin?” Langit menyentil ujung hidung Shien dengan gemas. “Aku bukan mau nidurin kamu. Kita tidur bareng, dalam artian hanya tidur, that’s all.”


Wajah Shien seketika memanas karena Langit berhasil membaca isi pikirannya. Tidak hanya itu, kalimat terakhir yang diucapkan Langit yang terdengar vulgar membuatnya semakin malu.


Shien langsung membuang pandangannya dari tatapan Langit untuk menyembunyikan wajah malunya. Namun, detik berikutnya Shien kembali mendongak. Sudah terlanjur ketahuan dan malu, maka Shien tidak akan segan untuk menanyakan apa yang ingin diketahuinya sekarang.


“Kamu yakin hanya tidur?” Tanya Shien, kedua jari telunjuk dan tengahnya terangkat, lalu digerakannya naik turun membentuk tanda kutip.


“I’m sure. Aku masih tahu batasan buat gak ngelakuin itu sebelum menikah.” Langit tidak memungkiri jika tubuhnya menginginkannya. Tapi, Langit sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melindungi gadis yang sangat dicintainya itu. Langit tidak akan merusak Shien.


Shien melingkarkan tangannya di pinggang Langit. “Lalu, sampai di mana batasan kamu, Tuan Dokter?” Tanya gadis itu menantang, namun tatapannya penuh cibiran.


Langit tersenyum geli, Shien benar-benar terang-terangan. Bukankah pertanyaan itu terlalu berani untuk seorang gadis? Tapi, Langit lebih suka yang seperti ini daripada yang berpura-pura lugu.


“Peluk dan cium sampai sini. . . .” Langit menunduk, lalu meletakkan satu jari telunjuknya di bagian atas dada Shien, kemudian digerakannya telunjuk itu membentuk garis horizontal dari kanan sampai ke kiri.


“Mesum.” Shien refleks menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


“Dari tadi kita emang lagi bahas s*eks, kok dikatain mesum?” Langit mendengus diiringi senyuman saat mendengar ucapan Shien. “Kan kamu sendiri yang nanya duluan sampai di mana batasan aku.” Lantas langit menarik hidung Shien gemas.


“Lagian, aku udah lihat bagian itu.” Ujar Langit yang teringat akan kegiatan yang ia dan Shien lakukan saat berada di apartemennya beberapa waktu lalu.


Rasanya Shien ingin mencabik-cabik mulut Langit saat ini juga, karena kata-kata yang keluar dari bibirnya sudah membuat Shien malu setengah mati.


Melihat Shien yang malu, membuat Langit semangat untuk menggodanya.


“Kenapa?” Tanya Langit berpura-pura polos.


“STOP! Aku gak mau bahas itu lagi.” Shien menutup kedua telinga menggunakan telapak tangannya sambil menunduk malu, wajahnya yang pucat sudah sangat memerah sekarang.


Langit terkekeh pelan melihat tingkah malu-malu Shien yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.


“Iya deh iya. Gak bahas itu lagi.” Langit kemudian menarik tengkuk Shien dan membenamkan satu kecupan lembut di puncak kepalanya. Ciuman itu berlangsung lama dan dalam, sedalam rasa cinta dan rindu Langit pada gadis itu.


“So. . . .” Shien kembali mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit, walaupun masih terlihat jelas wajah tersipunya. “Tidur sama aku malam ini? Sekalian aku mau ngasih sesuatu buat kamu.”


“Gak bisa.” Jawab Shien lirih. “Papa sama Mama aku pasti nyariin.”


Langit menghembuskan napas kasar, teringat jika Shien tinggal satu kamar dengan orang tuanya.


“Ya udah, tapi jam tiga pagi kamu temuin aku di kamar.” Sebelah alis Shien terangkat tanda tak mengerti. “Aku mau pulang, besok masih harus kerja.” Sambungnya kemudian.


Shien terperangah tak percaya. Langit benar-benar gila. Dia rela pergi dan pulang ke Bali begitu saja hanya untuk menemuinya seperti ini?


“Langit, kamu kurang kerjaan, kebanyakan uang, atau emang gila?” Langit tersenyum geli mendengar pertanyaan Shien.


“Nomor tiga.” Jawabnya enteng. Shien tertawa kesal.


“Kenapa? Kamu tersentuh?” Ledek Langit.


“Sedikit.” Sahut Shien, membuat Langit mendengus.


Sejenak mereka terdiam. Mata mereka saling mengunci, bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


“Shien, give me a kiss.” Pinta Langit. “Give me one right here.” Lalu menunjuk pipi kanannya sendiri.


“BIG NO.” Sahut Shien dengan seringai jahil.


“Kalu gitu, aku yang akan memberikannya.” Balas Langit tak kalah jahil.


“Aku gak mau. . . .” Protes Shien. Namun, itu terlambat karena Langit sudah lebih dulu memajukan wajahnya dan menghujani wajah Shien dengan banyak ciuman.


Derai tawa keduanya lantas saling bersahutan di sela-sela ciuman-ciuman itu, meriuhkan keheningan yang tercipta di suasana malam tersebut. Namun, tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dari jarak jauh dengan tatapan tak terbaca.


********


“Wijaya, apa yang akan kamu lakukan kalau melihat seorang laki-laki mencium putrimu?” Tanya Papa, beliau terlihat menempelkan ponsel di telinganya.


“Apa? Kalau seseorang melakukan itu pada Senja. Aku akan memukulnya, aku bahkan akan mematahkan kakinya sekalian.”


Senyum menyeringai seketika terbit di wajah Papa. “Oke, kalau gitu jangan marah, aku mematahkan kaki anakmu sekarang.”


Wijaya terkejut di seberang telepon. “Ehh. Hey, jangan jadi orang tua yang kuno. Kalau Langit mencium Shien, itu bukan masalah besar. Ayo bahas pernikahan mereka secepatnya.”


Papa terperangah. Tidak percaya jika temannya itu sepertinya sudah mengetahuinya lebih dulu.


“Aku tidak peduli. Anak kamu harus dipukul lebih dulu.” Kemudian Papa mematikan sambungan teleponnya.


********


To be continued. . . .

__ADS_1


__ADS_2