
********
Sorry, nih. Part ini drama banget.
Happy reading, yes!
********
Langit ingin sekali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tapi kemacetan di hari Minggu menahannya untuk melakukan hal itu.
Berbagai jenis umpatan keluar dari mulutnya pada semua orang yang keluar di hari Minggu. Kenapa, sih, mereka harus menghabiskan waktu libur di luar alih-alih berdiam diri di rumah dan malah menambah kepadatan lalu lintas hingga membuat kemacetan seperti ini?
Sialan.
Percuma mengendarai mobil super canggih, tapi berjalan seperti keong. Bahkan sudah hampir sepuluh menit berlalu, mobil Langit tetap diam di tempat. Berulang kali ia membunyikan klaksonnya keras-keras, berharap kendaraan yang ada di depannya maju walau hanya beberapa senti meter.
Tidak tahukah mereka semua bahwa sekarang ia dalam misi penting? Ia harus segera meminta maaf pada gadisnya, Shien, karena sudah salah paham dan bersikap kasar.
Ahh. Shit.
Langit sangat membenci semua orang yang ada di luar saat ini, tapi lebih benci pada dirinya sendiri yang dengan mudahnya terhasut karena beberapa lembar foto.
Seandainya ia mendengarkan penjelasan Shien saat itu. Mungkin ia tidak akan melakukan hal buruk yang menyakiti hati Shien. Padahal, ia sudah bersumpah dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti Shien lagi.
Tapi, Langit begitu bodoh. Sangat bodoh sampai ia mengulangi kesalahan yang sama. Ia terus menyakiti hati Shien, lagi dan lagi.
Dan yaa. . . .
Itu sudah terlambat untuk disesali, dan Langit tidak yakin kali ini Shien akan dengan mudah memaafkannya.
Benar-benar brengsek! Langit menjambak rambutnya sendiri.
Kepadatan lalu lintas membuat Langit tiba di rumah Shien di tengah hari. Nyaris jam dua belas siang. Buru-buru ia turun dari mobil dan menutup pintunya asal, bahkan tidak sampai menutup dan kuncinya masih tertinggal di dalam.
Di kepalanya saat ini adalah secepatnya menemui Shien dan meminta maaf padanya. Namun, suasana sepi yang menyambutnya begitu ia masuk ke rumah sesaat setelah asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya.
“Silahkan duduk , Den.” Ujar Bi Sumi begitu mereka tiba di ruang tamu.
“Nyariin Non Shien, ya, Den?” Tebak Bi Sumi, ia cukup tahu hubungan mereka. Mengingat Langit sering datang ke rumah majikannya untuk menjemput atau bahkan berduaan di rumah dengan Shien.
Langit mengangguk. “Ada, kan, Bi?”
“Kebetulan Non Shiennya lagi pergi, Den. Ibu sama Bapak juga pergi. Di rumah hanya ada Non Shanna.” Terang Bi Sumi.
“Lho, tapi tadi Tante bilang Shien ada di rumah, Bi?” Sahut Langit yang teringat ucapan Tante Risa tadi.
“Iya, tadinya memang ada di rumah. Tapi Non Shien pergi beberapa jam yang lalu.” Jawab Bi Sumi terus terang. Langit terdiam sejenak sembari memandang Bi Sumi dengan tatapan menyelisik, siapa tahu dia berbohong karena diminta Shien. Tapi dari ekspresinya, tidak ada kebohongan di wajah itu.
“Kalau gitu aku pergi aja, deh, Bi.” Langit siap-siap untuk beranjak.
“Lho, gak nunggu Non Shien pulang aja, Den?” Saran Bi Sumi.
“Enggak, deh, Bi. Aku langsung cari aja.” Jawab Langit sambil melemparkan senyum hangatnya.
“Gak mau minum dulu?” Tanya Bi Sumi menawarkan. Langit hanya menggeleng sebagai jawaban, kemudian berlalu dari sana.
Namun baru beberapa langkah Langit berjalan, suara benda jatuh diiringi pekikan dari lantai atas terdengar hingga menghentikannya, lalu berbalik, saling melempar pandangan penuh tanya dengan Bi Sumi.
“Kayaknya itu dari kamarnya Non Shanna, Den. Bibi permisi buat periksa ke sana.” Ujar Bi Sumi dengan wajah sedikit panik, lalu bergerak menuju lantai atas ke kamar Shanna.
Langit yang sedikit khawatir ditambah rasa penasaranpun mengikutinya.
Sesampainya di kamar Shanna. Mereka mendapati gadis itu sedang berguling-guling merintih kesakitan di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya.
Bi Sumi bergegas menghampiri Shanna sambil berusaha menghindari pecahan gelas di lantai, ia lalu bertanya mengenai kondisi Shanna, tapi gadis itu tidak menjawab dan terus meraung-raung kesakitan. Bi Sumi lantas meminta Langit untuk memeriksa keadaannya, mengingat dia adalah seorang Dokter.
Langit pun mengangguk dan segera memeriksa Shanna. “Di mana yang sakit, Sha?”
“Aku gak tahu. Tapi ini sakit banget.” Shanna meringis seraya menahan sakitnya, ia lalu dengan susah payah meminta Bi Sumi untuk mengambil air.
__ADS_1
“Shanna, kamu harus bilang di mana letak rasa sakitnya.” Ujar Langit, bingung sendiri mau memeriksanya bagaimana jika gadis itu tidak mengatakan dengan jelas bagian mana yang terasa sakit.
Shanna yang semula meringkuk, kini mengubah posisinya menjadi telentang. Lalu meraih tangan Langit dan mengarahkannya ke bagian tubuh yang sakit.
“Kayaknya di sini.” Ucap Shanna seraya menunjukkan letak rasa sakitnya. Langit kemudian memeriksa perut bagian bawah yang ditunjukkan Shanna.
“Tunggu. Tapi kayaknya bukan di sini. Tapi di sini.” Shanna mmenunjuk bagian perut yang lain,, sedikit lebih ke atas. Langit yang notabenenya seorang Dokter, tanpa keberatan kembali memeriksa bagian yang ditunjuk Shanna.
“Di sini?” Tanya Langit memastikan.
“Bukan.” Shanna masih merintih kesakitan. “Mungkin di sini.” Lalu kembali mengarahkan tangan Langit tepat di dadanya.
********
Shien pulang dari acara peluncuran buku Jackson lebih awal karena merasa dadanya sakit. Sangat sakit bahkan untuk satu tarikan napas pendek.
Hari ini ia menemukan hal baru. Dunia benar-benar sempit, hari ini ia mendapati kenyataan bahwa Jackson adalah kakak dari Jingga. Shien mungkin tidak akan tahu jika ia tidak bertemu Jingga dan Biru di sana tadi. Dan dari sini, ia mendapatkan jawaban tentang bagaimana Langit mengetahui Jackson atau Sagara William.
Shien memasuki rumahnya tanpa semangat, lalu berjalan gontai menuju sofa, bermaksud untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak di sana. Tapi begitu mendengar suara orang merintih kesakitan di lantai atas, Shien dengan rasa penasarannya, memaksakan tubuhnya bergerak, menaiki satu per satu anak tangga yang jumlahnya lebih dari dua puluh itu.
Ia terdiam sejenak untuk mencari ruangan di mana suara itu berasal, dan ternyata kamar Shanna. Kakinya lantas bergerak ke kamar Shanna, lalu membuka pintunya yang sudah sedikit terbuka itu.
Shanna dan Langit sedang. . . , entahlah. Shien tidak bisa menebaknya. Hanya saja, bukan hal yang baik jika melihat posisi mereka berdua. Mereka berada di atas tempat tiidur, Shanna terbaring telentang, dan tangan Langit menyusup ke dalam baju Shanna tepat berada di atas dadanya.
Shien merasakan sekujur tubuhnya menegang, tangannya terkepal keras-keras, sementara darahnya mendidih di kepala.
Tepat pada saat ini, Shien ingin melempar semua garam yang ada di dapur pada dua makhluk menjijikan yang ada di depannya. Tapi hati kecil Shien mencegahnya mati-matian.
Saat menyadari Shien berdiri di ambang pintu, Langit berusaha menarik diri, tapi Shanna menahan tangannya dengan sengaja.
Shien menggeleng sambil tersenyum miris. Terlihat Langit berusaha menjelaskan sesuatu, tapi Shien tidak ingin mendengar apapun.
Shien sungguh muak melihat Langit. Ahh, bukan hanya dia, Shanna juga. Jadi, dengan segera Shien berlari sekuat tenaga ke luar rumah seraya menahan sesak di dadanya yang semakin menjadi.
Sementara itu di dalam kamar, Shanna tersenyum senang melihat rencananya berhasil. Lalu ia bangun dari tidurnya, masih dengan tangan yang menahan tangan Langit.
“Jangan pergi.” Pintanya seraya menekan tangan Langit ke dadanya. “Kamu bukannya suka melakukan ini sama Shien?”
“Shien gak pantas buat kamu. Sayang sekali, seandainya kami bukan anak kembar dan dia gak ada di dunia ini, pasti kamu cuma akan ketemu sama aku.” Rayu Shanna percaya diri.
“Lalu aku gak akan melirik kamu sedikit pun.” Sahut Langit dingin dan tajam seraya menghempaskan tangan Shien dan bangkit berdiri.
“Justru karena kamu adalah saudara kembar Shien, jadi aku gak punya pilihan lain dan tetap harus berinteraksi sama kamu. Dan jangan pernah kamu berani membandingkan diri kamu dengan Shien.” Seru Langit kesal untuk kemudian bergerak keluar dari kamar Shanna, bermaksud untuk mengejar Shien. Meninggalkan Shanna yang terdiam kesal sekaligus malu.
Namun baru saja Langit menginjakkan kakinya di lantai bawah, terdengar sedikit keributan di sana, disusul dengan semua pengurus rumah yang berhamburan keluar dengan wajah panik, meninggalkan pekerjaannya secara serempak seakan-akan sedang terjadi gempa bumi.
“Bi, ada apa?” Tanya Langit, menahan tangan Bi Sumi yang hendak berlari ke luar rumah.
“Non Shien. . . .” Ucap Bi Sumi sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar. Wanita itu tampak terengah-engah.
“Bi, yang jelas. Shien kenapa?” Desak Langit sedikit kesal karena Bi Sumi tidak jelas.
“Katanya Non Shien ditabrak orang, Den.” Jelas Bi Sumi, lalu menghempaskan tangan Langit dan berlalu dari sana.
Seperti ada yang membuat dunianya terhenti, seketika Langit terdiam mematung dengan seluruh tubuhnya yang seperti terserang meriang parah.
Tapi detik berikutnya, kesadarannya kembali. Langit langsung berlari ke luar rumah, tapi langkahnya seolah dikendalikan secara slow motion. Sangat berat dan lama untuk menghampiri Shien yang entah bagaimana keadaannya di ujung jalan sana.
Sedikit jauh dari rumah Shien berada, Langit melihat kerumunan orang yang sedang menyaksikan sesuatu yang baru saja terjadi di depan mata layaknya sebuah film aksi di layar lebar.
“Kirain bukan Shien. Tadi saya lihat dia masih di tepi jalan mau nyebrang. Tiba-tiba mobilnya anak Pak Joko nabrak dia sampai terpental jauh. Dasar sinting. Mabuk kali tuh orang.” Umpat seorang ibu-ibu yang melihat kejadian.
“Emang mabuk. Lihat aja mobilnya juga sampai nabrak pohon abis nabrak Shien. Pak RW ketok-ketok kaca mobilnya dari tadi gak mau buka.”
Desas-desus saling bersahutan terdengar di telinga Langit. Tapi, bukan itu yang Langit pedulikan sekarang. Ia hanya ingin tahu bagaimana keadaan gadisnya yang mungkin sedang kesakitan saat ini. Langit dengan perasaan berkecamuk perlahan menyeruak masuk dalam kerumunan orang di depannya.
“Permisi.” Ucap Langit memaksa, ia bahkan mendorong siapa saja orang yang menghalanginya dengan sekuat tenaga.
Setelah berhasil merangsek masuk menembus kerumunan. Saat ini Langit bisa dengan jelas melihat Shien. Dia ada di sana. Sedang kesulitan untuk bangkit, tapi kerumunan orang yang nyaris melingkarinya ini hanya diam saja.
__ADS_1
Mungkin mereka terkesima. Ohh, Langit ingin sekali meneriaki mereka karena tidak bergegas menolong Shien untuk membantu membangunkannya.
“Shien. . . .” Teriakan Langit begitu histeris, mungkin pita suara nyaris patah. Ia lalu berlari menghampiri Shien yang kini sudah berhasil bangun seraya memegangi lengannya, darah segar mengalir dari pelipis, dan sedikit lecet pada bagian wajahnya. Mungkin itu akibat benturan dengan aspal, Langit tidak bisa menerkanya dengan pasti.
“Shi. Kamu gak apa-apa? Apa yang sakit?” Ia rengkuh tubuh rapuh itu dan menyandarkannya di dadanya.
“Mana yang sakit, Shi?” Langit merasakan matanya memanas seiring dengan napasnya yang serasa tercekat, benar-benar menyakitkan melihat orang yang disayanginya terluka.
Tidak ada respon dari Shien. Gadis itu hanya terliam linglung sambil sesekali memejamkan matanya seperti menahan sakit.
Sejurus kemudian, Langit panik dan berteriak agar siapa saja menyiapkan mobil untu membawa Shien ke rumah sakit saat gadis itu terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya cukup banyak. Luka di luar tubuh Shien tidak parah, tapi Langit sangat takut Shien mengalami cedera pada organ dalam tubuhnya. Jelas sekali tandanya saat Shien muntah darah.
“Bertahan, ya, Shi.” Ucap Langit lirih.
Semua ketakukan saat ia melihat kecelakaan yang terjadi pada ibunya di depan mata enam belas tahun lalu, kini muncul kembali. Bahkan jauh lebih besar.
Shien pasti tetap bertahan hidup, kan? Dia tidak akan meninggalkannya seperti Mama, kan?
Semua itu berkelebat di benak Langit.
Tak lama setelah itu, Langit dengan cepat membopong tubuh Shien masuk ke bagian jok belakang mobil yang disiapkan Pak Yudha.
“Tetap terjaga, Shien. Jangan tidur. . . .” Ucap Langit dengan mata berlinang, sesekali cairan bening itu terjatuh jarang.
“Jawab aku, Shi. Di mana yang sakit?” Langit terus berbicara meskipun tidak mendapat respon dari Shien untuk menjaga kesadaran gadis itu yang hanya bisa mengerjap lugu. Entah apa yang dirasakannya dan seberapa besar sakitnya.
“Jangan tidur Shien. Stay with me.” Cicit Langit sambil mengawasi kesadaran Shien yang perlahan menghilang.
********
Nathan keluar dari ruang operasi pasca menangani Shien yang ternyata mengalami cedera cukup parah, malah sangat parah karena gadis itu mengalami cedera tubuh bagian dalam.
Dipandanginya secara bergantian semua orang yang harap-harap cemas menunggu Shien di luar ruang operasi. Mama dan Papa Shien, serta Langit. Laki-laki itu yang terlihat paling kacau.
“Nate, anak Tante gimana?” Tanya Mama tidak sabar untuk segera mengetahui keadaan putri bungsunya pasca kecelakaan.
Nathan terdiam dengan wajah sendu, membuat semua orang semakin cemas melihatnya.
“Nate, kamu jangan nakut-nakutin Tante, doong.” Cecar Mama, melihat raut wajah Nathan yang sangat tidak enak dipandang dalam keadaan saat ini.
“Shien mengalami benturan parah di bagian dadanya.” Nathan mulai menjelaskan.
“Nate, bisa gak kamu langsung ke intinya aja. Shien gimana?” Desak Mama gregetan. Sementara Papa yang berusaha bersikap lebih tenang, langsung menegur Mama untuk bersabar dan mendengarkan penjelasan Nathan terlebih dahulu.
“Itu menyebabkan tulang rusuk Shien pada bagian atas dada merobek pembuluh darah besar di dalam rongga dadanya. Shien mengalami diseksi aorta tipe A yang menyebabkan turunnya asupan darah ke seluruh tubuh. Kami berhasil mengangkat bagian aorta yang rusak, tapi Shien dalam kondisi koma saat ini. Shien sangat kuat, sebagian besar orang yang mengalami kondisi serupa hampir tidak bisa bertahan.” Jelas Nathan panjang lebar.
Wajah ketiga orang yang mendengar penjelasan itu menegang kaku dan memucat seolah aliran darahnya terhenti.
Papa mengerjap, tidak ingin mempercayai pendengarannya. Tadi pagi ia masih sarapan dan menonton berita bersama Shien. Itu tidak mungkin.
“Kalian jangan khawatir, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk Shien. Berdoalah agar Shien cepat kembali sadar.” Imbuh Nathan, meski di dalam hatinya ikut bergemuruh. Tapi ia tidak boleh membawa perasaan pribadi dalam pekerjaannya.
“Pa. . . .” Mama merasakan seluruh tenaganya dicabut, tubuhnya meluruh. Beruntung Papa dengan sigap menahannya hingga tidak sampai terjatuh. Baik Papa atau Mama, keduanya merasa sangat hancur mendengar jika anak perempuannya koma.
Begitu pun dengan Langit yang tak kalah hancurnya.
Langit mengusap wajahnya kasar. Merasakan kekacauan yang begitu dirasakannya. Dia tertawa pedih. Merasa semua ini adalah salahnya.
Banyak kata seandainya di kepalanya.
Seandainya saja Langit tidak salah memahami jika Shien tidak membalas perasaannya dan bermain dengan laki-laki lain di belakangnya.
Seandainya Langit mendengarkan penjelasan Shien.
Seandainya ia tersadar lebih cepat.
Langit sangat membenci dirinya sendiri. Sangat benci, sehingga dia mampu melakukan apa pun untuk membunuh dirinya sendiri.
********
__ADS_1
To be continued. . . .