
********
Aduh, Shien paling tidak suka dengan suasana ini.
Saat ini Langit, Nathan, Shanna, dan Shien dalam perjalanan menuju Dufan dengan Nathan sebagai sopir, mereka berada dalam satu mobil milik Langit.
Sepanjang perjalanan, Langit hanya diam. Dia tidak bicara sejak kejadian baju hangat dan elusan di kepala Shien yang dilakukan Nathan. Padahal, Nathan sudah meminta maaf dan mengatakan kalau ia melakukan itu hanya sebagai bentuk perhatian seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Tapi, tetap saja Langit cemburu dan tidak bisa menerima itu, dia pun memperingati Nathan untuk tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi, terutama bagian menyentuh gadisnya walaupun itu hanya sebatas elusan kepala. Nathan yang tidak ingin membuat keributan hanya mengiyakannya saja.
Sementara Shien, ia merasa tidak enak hati akan sikap Langit terhadap sahabat kecilnya itu. Apalagi Langit melempar outwear milik Nathan begitu saja tadi. Sungguh kekanak-kanakan.
Langit memandang ke luar kaca mobil dengan wajah merengut kesal.
Sedangkan Shien sendiri bingung bagaimana harus membujuk laki-laki itu. Ia merasa kagok karena di kursi depan ada Nathan dan Shanna duduk di sana.
Shien menghembuskan napas kasar. Memang bukan sesuatu yang bagus pergi bersama seperti ini. Gara-gara Shanna, rencana kencan romatisnya bersama Langit kacau dalam sekejap.
Langit semakin dibuat kesal karena Shanna yang sejak tadi terus berceloteh tiba-tiba membahas masa kecilnya dengan Nathan. Tidak hanya Langit, Shien pun dibuat kesal karenanya. Sepertinya Shanna memang sengaja ingin memperkeruh suasana hati Langit.
“Kamu inget gak, Shi, dulu kamu sama kak Niel sering main bareng ngasih makan kelinci?” Tanya Shanna, ia menoleh sebentar ke belakang untuk melihat Shien.
“Kita bertiga, Sha.” Nathan yang sedang fokus menyetir lantas mengoreksi.
“Iya, sih. Tapi aku cuma diem lihatin kalian seru-seruan.” Shanna mengerucutkan bibirnya lucu.
Sementara Shien hanya terdiam, enggan ikut campur dalam perbincangan itu walaupun ia dilibatkan. Gadis itu memutar kepalanya ke samping, dilihatnya Langit yang sedang melihat ke arah luar, Langit tampak menggigiti kuku ibu jarinya dengan kesal.
“Itu karena kamu gak suka kelinci.” Sahut Nathan, lalu menambahkan kalau ia sering menarik Shanna untuk ikut memberi makan hewan lucu itu, tapi Shanna selalu saja tidak berani denngan alasan kapok karena pernah digigit di bagian jari telunjuk saat Shanna iseng mengarahkannya ke mulut kelinci.
Shanna terus menceritakan bagaimana kedekatan Nathan dan Shien saat mereka kecil dulu, tentang Nathan yang selalu memperhatikan Shien, tentang Nathan dan Shien yang memiliki banyak kesamaan, lalu tentang hal pertama yang Shien tanyakan saat ia pulang sekolah adalah Nathan ikut bersamanya atau tidak.
Berkali-kali Shien mendengus kesal karena Shanna terus berceloteh mengenai dirinya dengan Nathan. Shanna terkesan sedang mencocokannya dengan Nathan. Menyebalkan sekali.
“Ohh, iya. Aku juga inget kamu pernah bilang cuma mau nikah sama kak Niel waktu itu.” Celetuk Shanna kemudian, membuat Langit langsung mendelik tajam pada Shien.
“Itu cuma celotehan anak kecil yang nggak berarti.” Kali ini Shien menyahuti. Kesal sendiri karena Shanna seperti menganggap hal itu sangat serius. Terlebih, ia merasakan hawa dingin dari sorot mata Langit yang kini sedang menatapnya.
Shanna meringis, lalu kembali berujar. “Iya, sih. Tapi, kalau kalian nikah kelihatannya juga cocok. Kalian banyak kesamaan, pasangan serasi deh. Apalagi kak Niel ganteng banget sekarang.”
Shien memejamkan matanya untuk menahan geram, tidak suka dengan penuturan Shanna. Ditambah dengan Langit yang terus diam dan menatapnya kesal seolah ia sudah melakukan kesalahan, Shien rasanya ingin turun dari mobil dan kembali ke rumah saja. Hilang sudah semangatnya untuk jalan-jalan menikmati Dufan yang selama ini ia impikan.
“Wahh, kamu ngeledek secara gak langsung kalau aku dulu jelek, gitu?” Nathan menimpali diiringi ringisan dan berpura-pura kecewa. Shanna mengerling jahil, lalu berkata. “Kurang lebih, ya gitu.” Gadis itu lantas terkikik geli. Sedangkan Nathan hanya mendengus mendengarnya.
“Tapi kalian bener-bener cocok, lho, kak. Kamu gak ada niatan buat nikung Shien gitu? Kamu juga perhatian banget sama Shien dibanding aku. Kamu suka sama Shien, ya, kak?” Shanna menyunggingkan senyum penuh arti, lalu menyeringai setelah ia melirik sekilas ekspresi kesal Langit dan Shien yang tengah menahan geram dari kaca spion.
Nathan tertawa garing untuk menutupi perasaannya yang mulai dongkol akan penuturan Shanna yang seperti sedang berusaha menjodoh-jodohkannya dengan Shien, dan Nathan tahu, Shanna sengaja melakukan ini untuk membuat pasangan kekasih yang duduk di belakang itu salah paham.
“Enggak, lah, Sha.” Nathan tersenyum ke arah Langit yang sedang menatapnya tajam melui kaca spion. “Lagian, menyukai sesuatu milik orang lain itu gak baik.” Sambung Nathan penuh penekanan, bermaksud memberi sindiran telak pada gadis yang duduk di sampingnya ini.
“Bahagia enggak, dapat karma iya.” Imbuhnya kemudian.
Shanna langsung terdiam dengan senyum dipaksakan sebelum kemudian ia berujar. “Hei, aku cuma becanda. Kenapa kamu nenggepinnya serius banget gitu?” Lalu berusaha terkekeh setelahnya. Nathan hanya menanggapinya dengan senyum yang sulit diterjemahkan.
Suasana yang melingkupi keempat orang itu hening seketika. Tidak ada celotehan Shanna lagi seolah gadis itu kehabisan topik pembicaraan.
Just when I think you’re gone, hear our song on the radio
Just like that, takes me back to the place we use to go
And I’ve been tryng but I just can’t fight it
When I hear it I just can’s stop smiling
I remember you’re gone, baby, it’s just the song on the radio
That we used to know
^^^Our Song^^^
^^^By: Anne Marie & Niall Horan^^^
Tidak ada lagi yang berbicara setelah kalimat terakhir Shanna itu. Nathan tampaknya sengaja menyetel lagu pada audio tape yang terhubung dengan ponselnya melalui bluetooth demi berjauhan dari senyap yang terasa sangat aneh. Mereka membiarkan lagu tersebut menjadi penguasa percakapan di antara mereka.
Nathan fokus pada kegiatan menyetirnya, Shanna terdiam menatap lurus ke depan dengan setumpuk rencana licik yang sedang ia susun rapi di kepalanya. Sementara dua orang lain yang duduk di kursi belakang, keduanya sama-sama bergeming dengan kegusaran yang masih bercokol di hati masing-masing.
Menghembuskan napas lemah, melirik ke arah Langit yang masih memasang wajah memberengutnya, Shien lantas mengambil ponsel dari tas ransel mini warna merah berlogo Cartiernya.
Shien lalu mengetik sesuatu untuk mengirim pesan chat pada seseorang. Tak lama kemudian, dering notifikasi chat terdengar dari ponsel milik Langit yang disimpan di saku depan celana jeansnya.
Mengambil ponsel dari saku celananya, Langit lantas mengernyitkan keningnya begitu ia membaca nama Shien tertera di layar sebesar 7,3 inchi itu.
Shienku :
__ADS_1
Masih marah?
Langit :
Menurut kamu?
Shien memutar bola matanya jengah seiring dengan helaan napasnya yang berat begitu ia membaca pesan balasan dari Langit.
Shienku :
What should I do?
Shien menoleh, memandang Langit dengan tatapan dingin. Tentu saja Shien tidak ingin meminta maaf karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun yang membuat laki-laki itu marah padanya.
Langit memalingkan wajahnya seraya menghembuskan napas kasar. Ia juga tidak tahu, Langit hanya sedang cemburu. Mungkin ia butuh gadis yang sedang duduk di sampingnya ini membujuknya, bukan malah bertanya seperti itu.
Langit :
Aku cemburu lihat Nathan perhatian sama kamu. Apalagi kalian deket banget waktu kecil, mana kamu bilang mau nikah sama dia segala. Jadi, gak nutup kemungkinan juga kalau Nathan suka sama kamu sekarang.
Shienku :
Aku bilang itu cuma kekonyolan anak-anak yang nggak negerti apa-apa. Dan perhatian kak Nathan itu hanya bentuk perhatian sebagai teman, gak lebih. Lagian aku juga gak dekat-dekat sama dia, apa kamu harus marah sama aku kayak gini?
Langit :
Itu menurut kamu. Gak ada yang tahu kalau di hatinya, dia mungkin ngasih perhatian sama kamu karena menganggap kamu lebih dari itu. Dan gak ada yang tahu juga kalau kamu melihat Nathan sebagai laki-laki, bukan cuma sekedar teman.
“Hhh. . . .” Shien menghembuskan napasnya kasar sambil membuang pandangannya dari Langit untuk kemudian ia mengetik pesan balasan.
Shienku :
Sama halnya kayak kamu yang perhatian sama Jingga. Kalau gitu, apa aku juga boleh berpikiran kalau perhatian kamu sama dia sebenarnya juga melebihi perhatian sebagai teman?
Shien lantas memalingkan pandangannya ke luar kaca mobil seraya tersenyum miris seiring dengan air matanya yang mulai menggenang. Apa Langit pikir selama ini dia baik-baik saja melihat sikap perhatiannya pada Jingga yang memang bisa dikatakan berlebihan itu? Langit bahkan pernah meninggalkannya begitu saja saat mereka sedang menghabiskan waktu berdua di apartemen karena satu panggilan telepon dari Jingga.
Shien tidak mempermasalahkannya karena ia tdak ingin mengundang perdebatan dengan laki-laki itu. Selain itu, karena Shien sudah memutuskan untuk mempercayai Langit sepenuhnya.
Sementara itu, Langit langsung tertohok begitu ia membaca kalimat pesan balasan dari Shien. Ia bahkan sampai tidak bisa bergerak dan mematung menatap Shien yang sudah tidak menatapnya lagi.
Langit :
Ya ampun, Shi, enggak! Jangan berpikiran kayak gitu. Percaya sama aku, hem?
Langit memperhatikan Shien yang masih melihat ke arah luar itu. Langit tahu, ia sudah kelewatan mencemburui Shien dan berpikiran buruk padanya serta Nathan. Padahal, dirinya sendiri pun tidak jauh berbeda dengan Nathan. Dan Langit juga baru disadarkan jika ternyata sikapnya itu cukup mengganggu perasaan Shien. Mungkin, harus ada yang diperbaiki setelah ini.
Tangan Langit bergerak, meraih dan menggenggam tangan Shien dengan lembut, Beruntung gadis itu tidak menolak. Shien lantas menoleh dan menatap Langit tanpa ekspresi.
Detik berikutnya, Shien merasakan sesuatu menggelitik telapak tangannya. Rupanya, Langit menuliskan sesuatu di sana menggunakan jari telunjuknya.
“M-A-A-F.” Itulah yang Shien tangkap dari gerakan telunjuk Langit saat menuliskan satu per satu huruf untuk membentuk sebuah kata.
“M-A-A-F – U-D-A-H – B-E-R-P-I-K-I-R-A-N – B-U-R-U-K – T-E-N-T-A-N-G – K-A-M-U.”
Shien menarik napasnya dalam-dalam, mencoba tenang menghadapi laki-laki pencemburunya itu. Lalu, satu tangannya yang bebas bergerak untuk mengambil ponselnya. Ia mengetik sesuatu untuk kemudian ditunjukannya pada Langit dengan cara mengarahkan ponsel miliknya ke depan wajah laki-laki itu.
“Sama kayak kamu yang minta aku buat percaya sama kamu. So, can you trust me too?”
Langit tersenyum, lalu mengangguk mantap. Ia kemudian mengangkat tangan Shien dan memberikan satu kecupan di punggung tangannya cukup lama.
“Maafin aku, Shi.” Bisik Langit seraya menangkup kedua sisi wajah gadisnya.
Shien hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu tangannya terangkat untuk menyentuh punggung tangan Langit yang berada di sisi wajahnya.
Kedua mata mereka saling terkunci cukup lama seiring dengan tawa yang tertahan di bibir masing-masing saat tidak ada percakapan yang mereka sematkan.
Hingga sejurus kemudian, Langit tiba-tiba memiringkan wajahnya untuk menggapai bibir Shien. Namun, belum sempat bibir mereka bersentuhan, mobil berguncang keras sehingga membuat keduanya otomatis menarik diri. Rupanya, Nathan yang melihat tingkah penghuni belakang dari kaca spion, sengaja melakukan hal itu. Jelas, ia tidak mau suasana yang semula sudah canggung menjadi lebih canggung lagi.
“Gak tahu tempat.” Gumam Nathan dalam hati seraya meggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Sementara Shanna yang juga menyaksikan itu hanya bisa menahan geram dengan rahang yang mengeras.
********
Ini adalah untuk pertama kalinya Shien menginjakkan kakinya di Dufan. Ia memandang sekeliling Dufan yang mampu dijangkau matanya sesaat setelah ia mendapatkan stempel dan memasuki wilayah salah satu taman bermain terbesar di Indonesia itu. Shien baru sadar setelah melihatnya dengan jelas, ternyata badut Dufan yang menjadi maskot itu adalah kera bekantan. Pantas saja hidungnya begitu besar.
Shien tersenyum semringah melihat orang-orang di sekitar yang tampak bahagia. Namun, itu tidak berlangsung lama kala suara Shanna berdengung di telinganya.
“Ehh, Lang.” Shanna merenggut manja. Dia memeluk lengan Langit, membuat Shien kesal melihatnya. “Aku mau naik hysteria.” Ujarnya semangat.
“Ayo ke sana.” Dan tanpa memberi kesempatan Langit untuk menolak atau memberi perlawanan, Shanna menarik lengan Langit dengan cepat dan berjalan menuju wahana yang cukup ekstrim itu. Wahana yang tidak mungkin Shien bisa naiki. Membayangkannya saja sudah deg-degan, mungkin jika ia menaikinya, maka Shien akan turun dalam keadaan tidak bernyawa.
__ADS_1
“Are you okay?” Tanya Nathan.
Shien mendelik dengan tatapan jengkel. “Gimana kalau kamu jadi aku?” Gadis itu menghentakkan kakinya, lalu berjalan mendahului Nathan, bermaksud mengikuti Langit dan Shanna yang sudah berjalan cukup jauh.
Alhasil, Shien menikmati pengalaman pertamanya di Dufan yang sama sekali tidak nikmat itu dengan wajah memberengut. Ia hanya berjalan gontai tak tentu arah bersama Nathan.
Shanna benar-benar bertindak di luar batasan. Dia terus menarik Langit ke sana ke mari untuk menaiki wahana ekstrim lainnya. Dan Langit, kenapa dia tidak berusaha menolak Shanna? Cih, Shien bahkan melihat dia tertawa senang setelah turun dari menaiki wahana-wahana itu. Langit seperti hanyut dalam permainan keseruan Dufan dan melupakan tujuannya untuk jalan-jalan romantis bersama Shien. Dia seperti hanya mementingkan kesenangannya sendiri.
“Haha, seru banget, ya, Lang? Harusnya kita sering-sering jalan berdua kayak gini.” Ujar Shanna bersemangat setelah mereka turun dari kora-kora dan berjalan mencari Nathan dan Shien.
“Seneng banget aku. Udah lama banget gak refreshing kayak gini.” Sahut Langit tak kalah semangat.
“Ehh, lihat. Mereka udah kayak pasangan, ya? Sayang banget Shiennya pacar kamu.” Shanna menunjuk ke arah Nathan dan Shien yang sedang mengobrol akrab sambil memakan es krim. Langit ikut memperhatikan keakraban Nathan dan Shien, sorot matanya tajam menyiratkan ketidaksukaan dengan pemandangan tersebut.
Dan yang sebenarnya Nathan dan Shien bicarakan adalah Shien yang sedang protes pada Nathan. Shien mengatakan seharusnya Nathan tidak membiarkan Shanna pergi dengan Langit jika memang dia menyukainya. Seharusnya Nathan membawa Shanna pergi untuk melakukan aksi pedekatenya. Tapi, Nathan malah menjawab ia tidak memiliki persiapan untuk itu. Lagipula, Shanna terlihat seperti orang asing di matanya sekarang. Nathan juga mengatakan kalau ia masih mempertimbangkan untuk lanjut mengejar Shanna atau tidak, walaupun ia sangat mengagumi gadis berambut warna-warni itu. Nathan berada dalam kebingungan yang besar saat ini.
Sama halnya dengan Shien. Nathan adalah orang yang sangat realistis. Shanna tidak menyukainya seperti ia menyukai gadis itu. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Nathan berpikir, untuk apa kita harus memilih cinta yang sulit? Kita haruslah memilih cinta yang akan membuat kita bahagia.
“Kehilangan daya juang sebelum berjuang, dasar pengecut.” Cibir Shien jutek. Padahal, tidak ingat saja jika sebelumnya ia bahkan sudah menyerah berkali-kali sebelum memutuskan untuk bersama Langit.
Mencibir, meledek, atau menghina orang memang paling mudah dilakukan, padahal yang menghina juga tidak kalah celanya. Manusia memang terkadang suka lupa daratan.
Nathan yang mendengar itu hanya mengedik tidak peduli. Lihat saja nanti, ia butuh waktu untuk memikirkannya.
“Shi. . . .”
Shien menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Ia lantas menyunggingkan senyum tipis begitu matanya menangkap sosok Langit tengah berjalan menghampirinya.
“Udah?” Tanya Shien. Laki-laki itu hanya mengangguk, lalu mengarahkan mulutnya, meminta Shien untuk menyuapinya es krim. Shien menurutinya.
“Lang, aku mau ke. . . .”
“Langit, ayo naik roller coaster.” Sambar Shanna cepat sebelum Shien menyelesaikan kata-katanya. Dia kembali merenggut lengan Langit dan menggelayutinya. Uhh, perut Shien mendadak mual melihat sikap kakakya yang seperti ini.
“Kamu bisa naik sendiri.” Kali ini Shien tidak tinggal diam. Cukup sudah Langitnya diculik hampir seharian. Shien melepaskan tangan Shanna, lalu bergegas menggandeng lengan Langit. Shanna mendengus jengkel dibuatnya.
“Langit mau naik wahana ekstrim, Shi. Katanya dia udah lama gak refreshing. Kamu gak mungkin, kan, mau ngajak dia naik komedi putar?” Seru Shanna mencemooh. Nathan yang melihat Shanna begitu agresif pada Langit hanya menatapnya nanar.
“Aku mau ke istana boneka.” Shien tak mengindahkan ucapan kakaknya itu. Ia menatap Langit penuh harap. Kata orang, belum sah seseorang ke Dufan kalau belum merasakan wahana istana boneka. Dan Shien ingin melihatnya.
“Ya udah kalau kamu masih mau main.” Tatapan Shien berubah kecewa karena Langit tak kunjung menyahutinya. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari lengan Langit. Tapi, Langit tidak membiarkan tangan itu terlepas.
“Let’s go.” Seru Langit, lalu berjalan bergandengan menuju istana boneka.
Shanna menggeram kesal di belakang mereka, lalu segera berjalan menyusul tanpa mempedulikan Nathan yang menatapnya sedih.
“Kenapa kamu berubah jadi orang yang seperti ini, Sha?” Nathan bergumam, prihatin.
********
Rupanya, kedongkolan Shien belum berakhir. Karena begitu ia hendak menaiki perahu yang akan membawanya masuk ke istana boneka, Shanna dengan cepat menyerobot duduk di sebelah Langit, yang seharusnya itu menjadi tempat duduk Shien.
Shien menghela napasnya dalam-dalam guna menenangkan emosinya yang entah sudah naik ke angka berapa. Shien tidak ingin membuat keributan di tempat umum. Alhasil, ia hanya bisa membiarkan hal itu dan duduk bersama Nathhan di belakang mereka.
Kedongkolannya sedikit melebur, tergantikan dengan rasa kagum begitu perahu berjalan di atas air pada arus yang tenang. Shien terkagum-kagum dengan boneka animatronik yang terlihat lucu di dalam sana.
Shien tersenyum. Bisa dikatakan, ia sedang berkeliling dunia saat ini. Shien memberi pujian penuh kepada siapapun yang sudah mencetuskan ide membangun wahana istana boneka ini. Siapa saja yang masuk ke sana, maka mereka bisa menjelajahi dan mengapresiasi budaya etnik nusantara maupun kekhasan budaya serta lagu dari berbagai negara di wahana ini.
Tapi, kesenangannya mengagumi ratusan boneka itu sirna seketika tatkala ia mendengar percakapan Langit dan Shanna di depannya.
“Bosen gak, sih, Lang? Menurut aku wahana ini ngebosenin banget, gak ada seru-serunya.” Tutur Shanna, dan sepertinya gadis itu sengaja mengeraskan suaranya.
“Kayak anak kecil aja masuk wahana kayak ginian.” Cibir Shanna seraya memandang remeh apa saja yang ditampilkan di dalam bangunan ikonik itu.
Shien lantas mempertajam pendengarannya untuk mengetahui bagaimana tanggapan langit.
“Sebenarnya, emang ngebosenin. Bikin ngantuk.” Langit lalu menguap. Sementara Shanna tersenyum puas mendengar itu. Ia tidak menyangka jika Langit akan memberi jawaban sesuai harapannya.
Shien menunduk sedih. Seketika ia menyesal sudah mendengar itu.
Dalam hati, Shien mengucapkan terima kasih pada Langit dan Shanna yang sudah menunjukkan kepadanya kalau ternyata Dufan tidak seseru yang ia bayangkan.
Shien mungkin tidak ingin menginjakkan kakinya lagi di Dufan setelah ini.
“Dari dulu, ini wahana yang paling aku hindari. Aku paling nggak suka ini.” Langit menambahkan. Entah dia sadar atau tidak saat mengatakannya, yang jelas itu membuat hati Shien berdenyut nyeri.
Hingga tanpa bisa dicegah, cairan bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Shien jatuh membasahi pipi mulusnya. Beruntung di dalam sana tidak diterangi pencahayaan ekstra sehingga air matanya yang jatuh tidak terlihat.
Kenapa Langit tidak menolaknya tadi kalau ia tidak suka? Padahal, Shien bisa pergi sendiri, kok. Shien tidak akan memaksa jika Langit tidak mau.
********
__ADS_1
To be continued. . . . .