
********
“Harus banget, ya, beliin bunga buat si bocil? Kamu aja gak pernah lho beliin bunga buat aku.” Protes Langit memasang wajah memberengut. Ia mengekori Shien yang tengah memilih rangkaian bunga yang sesuai dengan warna toga almamater Reno.
Hari ini mereka berencana untuk menghadiri wisuda Reno di kampusnya siang nanti. Maka dari itu, Shien mengajak Langit pergi ke toko bunga terlebih dahulu.
Bunga Anggrek Dendrobium warna biru menjadi pilihan Shien. Tidak menghiraukan Langit yang terus mendumel kesal, sambil sesekali menghentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil, Shien lebih memilih berbicara dengan penjaga toko untuk merangkai bunga sesuai keinginannya.
“Shienna kamu denger aku gak, sih?” Langit gemas sendiri karena Shien mengabaikannya. Pasalnya, sudah dari sepanjang perjalanan ke toko ia terus menggerutu dan meminta Shien agar tidak perlu memberi hadiah apapun untuk Reno. Mengetahui Shien akan datang ke wisudanya saja ia sudah sangat kesal karena cemburu. Padahal, ini adalah hari libur yang seharusnya digunakan untuk menghabiskan waktu berdua seharian. Huuh.
“Aku cuma ngikutin tradisi.” Sahut Shien akhirnya yang memang tidak ada niatan tersembunyi. Ia membeli bunga untuk Reno karena sudah tradisi dari zaman dahulu yang memberikan buket bunga sebagai tanda ucapan selamat atas keberhasilan seseorang yang sudah menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah. Terlebih sekarang adalah zaman milenial, zamannya media sosial di mana selfie atau wefie adalah hal yang maha penting. Jadi, jika berswafoto tanpa memeluk seonggok bunga yang dibalut flower wrap itu akan sangat tidak asyik bagi para pemegang gelar sarjana baru.
“Ya tapi aku gak suka.” Langit mendelik sebal. Penjaga toko yang melihat tingkah Langit yang merajuk itu tersenyum geli. Langit benar-benar sensi layaknya perempuan yang sedang mengalami Pramenstrual Syndrome.
“Kan bunganya bukan buat kamu.” Ujar Shien tidak peka, atau memang sengaja berpura-pura tidak peka untuk mengerjai Langit.
“Maksud aku bukan gitu lho, Shi.” Langit mendengus kesal. “Aku tuh gak suka kamu beli bunga buat cowok lain.” Imbuhnya, persis seperti anak kecil yang cemburu pada Ibunya yang lebih memperhatikan anak orang lain.
Menghembuskan napas kasar seraya memutar bola matanya jengah, Shien lantas mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompet yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya, lalu menyodorkan uang tersebut pada kasir setelah beberapa saat yang lalu rangkaian bunganya sudah selesai. Namun, dengan cepat Langit menahan tangan Shien, kemudian tanpa bicara ia mengeluarkan uang dari dompet miliknya dan membayar buket bunga yang dibeli gadis itu.
“Terima kasih.” Ucap Langit datar seraya menerima struk pembayaran dari kasir, lalu menarik tangan Shien untuk pergi meninggalkan toko rangkaian bunga tersebut.
Shien memperhatikan Langit yang masih menekuk masam wajahnya. Laki-laki itu bahkan tak kunjung melajukan mobilnya di saat mereka sudah duduk di sana selama hampir lima menit setelah keluar dari toko bunga.
Shien berdecak kecil. Ia tahu, Langit sedang merajuk padanya. Sikap kolokan dan over jealous Langit benar-benar tidak ada tandingannya.
“Reno cuma anak kecil yang udah aku anggap kayak adik sendiri.” Sebelah tangan Shien terulur untuk mengelus lembut pipi Langit, bermaksud untuk membujuknya. Namun, laki-laki itu tidak bereaksi. Dia hanya mengedikkan bahunya dengan wajah yang semakin terlipat kesal. Mau dianggap adik, kakak, atau teman, serta muda atau tua, jika mereka laki-laki, Langit tetap tidak suka jika Shien memberi perhatian mereka selain dirinya.
“Kan kamu yang bayar bunganya. Kenapa masih marah?” Shien berujar dengan suara selembut mungkin. Hal yang tidak pernah ia lakukan pada siapapun.
Shien memutar bola matanya malas. Bisa terlambat datang mereka kalau Langit masih enggan untuk pergi.
“Udah, jangan marah lagi.” Shien mendekatkan tubuhnya untuk menghadiahkan satu ciuman di pipi Langit hingga membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya, namun masih dengan wajah yang ditekuk.
Shien terdiam menatap wajah Langit yang masih memberengut, suasana hati laki-laki itu benar-benar sedang tidak baik hari ini. Lantas dengan gerakkan ragu dan memutuskan urat malunya, Shien menangkup kedua sisi wajah Langit dan menghadiahinya kecupan di kening, kedua kelopak mata, hidung, lalu pipi, dan berakhir di bibir.
Untuk di bibir, Shien menahannya cukup lama. Bahkan gadis itu memberikan jilatan dan gigitan kecil agar lidahnya bisa menyelusup ke dalam mulut Langit.
Sungguh rayuan yang manis untuk Langit hingga dia tergoda untuk membalasnya. Suasana hatinya yang semula buruk pun sudah kembali seperti semula. Mungkin lebih senang.
“Masih marah?” Tanya Shien setelah ciuman mereka berakhir, kening mereka saling menempel, tangannya mengelus wajah Langit lembut.
“Kalau masih marah, kamu mau melakukannya lagi?” Langit tersenyum menyeringai.
Shien mendengus di sela napasnya yang masih terengah. Ia lalu menjauhkan tubuhnya dari Langit. Shien yakin jika laki-laki itu sudah tidak marah karena dia sudah bisa menggodanya.
“Ayo jalan.” Perintah Shien setelah ia memasang sabuk pengaman.
“Aku masih marah lho, Shi.” Ucap Langit memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.
Shien mendelik, lalu melayangkan tasnya. “Mau dipukul?” Ancamnya.
Langit mendesis seraya memasang wajah pura-pura takut. “Galak banget sih calon istri aku.”
__ADS_1
“Ihh.” Shien memukul pelan lengan Langit menggunakan tasnya. Laki-laki itu terkekeh, lalu mulai melajukan mobilnya.
“Jemput kak Shanna dulu.” Ucap Shien memberitahu. Takut-takut Langit langsung membawa mobilnya menuju kampus Reno.
“Ngapain? Shanna, kan, bisa bawa mobil sendiri.” Protes Langit dengan kening berkerut.
“Gak tahu. Tadi dia chat aku katanya mau bareng, terus minta jemput.”’ Sahut Shien berterus terang.
Langit mendengus diiringi hembusan napas kasar. Semenjak Shanna sudah kembali bersikap seperti semula, waktunya untuk bisa berduaan dengan Shien berkurang karena Shanna selalu saja hadir di tengah-tengah mereka. Jika ditanya Langit terganggu atau tidak, maka jawabannya sangat terganggu.
“Nanti abis pulang dari wisuda Reno, kita jalan-jalan berdua, ya? Shanna biar pulang naik taksi atau minta jemput siapa lah, sopir Papa kamu kek atau teman sekantornya gitu.” Ajak Langit seraya menggerutu.
“Kenapa? Kamu keberatan kalau kak Shanna ikut?” Tanya Shien enteng. Uhh, gadis ini benar-benar tidak peka.
Langit terdiam sebentar, berpikir apakah ia harus terus terang atau tidak mengenai perasannya. Tapi, ia memang harus jujur demi kelancaran hubungannya dengan Shien. Kalau seperti ini terus, ia bisa uring-uringan setiap hari.
“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku gak keberatan kalau sesekali Shanna ikut jalan sama kita. Tapi, kalau dia selalu ada di setiap kali aku cuma mau berduaan aja sama kamu, ya aku cukup terganggu, Shi. Emang kamu yang merasa kayak gitu?”
Shien bergeming. Dalam hatinya, ia setuju dengan penuturan Langit barusan. Akhir-akhir ini ia memang sangat jarang mendapatkan waktu berdua dengan Langit. Shanna selalu ikut kemanapun Shien pergi dengan alasan bosan karena tidak ada teman untuk diajak jalan. Atau jika Shien pergi dengan Langit setelah pulang dari kantor tanpa sepengetahuan Shanna, mereka bisa bertemu tanpa sengaja. Ck, mungkin dunia memang sesempit itu.
“Kamu tahu, gak, Shi? Mana ada orang pacaran diintilin kakaknya? Shanna selalu ngikutin kita akhir-akhir ini. Jalan-jalan ke taman, nongkrong di cafe, makan siang, waktu main ke apartemen kamu, makan malam, bahkan nonton bioskop.” Langit menekuk jarinya satu per satu, berhitung. “Dan masih banyak lagi.” Tambahnya bersungut-sungut. Terserah Shien akan tersinggung atau tidak, yang jelas ia harus mengeluarkan uneg-uneg terhadap calon kakak iparnya itu. Cih, benar-benar menyebalkan.
“Tapi aku bingung gimana caranya nolak dia.” Sahut Shien yang merasa tidak enak hati jika ia menolak Shanna saat ingin ikut bersamanya.
“Ya kamu cari cara, doong.” Balas Langit sewot, membuat Shien menoleh dengan tatapan sebal ke arahnya.
“Kita berdua juga butuh privasi, Shi.” Imbuh Langit, nada suaranya merendah begitu ia tersadar.
“Iya, nanti kita cari cara biar bisa kayak dulu lagi.” Ujar Shien menenangkan, dan memang harus mencari cara untuk menolak tanpa harus menyinggung perasaan kakaknya.
Sumpah, Shien ingin mengubur dirinya saat ini juga. Tidak pernah terbersit sedikit pun di dalam pikirannya ia akan merayu seseorang sampai seperti ini. Shien bahkan ingin muntah karena kelakuannya sendri.
“Hem?” Sungguh terkutuk. Ini pertama kalinya Shien memasang puppy eyes yang jika ia melihat aktris di dalam drama Korea melakukannya benr-benar sangat menggelikan.
Langit tersenyum semringah, rasanya ada ribuan bunga yang mekar di dalam hatinya. Sikap manja Shien ini sungguh sangat langka. Langit tiba-tiba memiliki ide gila untuk merekam sikap manja Shien ini. Sayang sekali ia sedang menyetir.
“Shien, aku suka cara kamu merayu aku kayak gini.” Ucap Langit, membuat Shien merasakan wajahnya menghangat seiring dengan rona merah yang ikut timbul.
“Kalau kayak gini, aku mau sering-sering kesel, aah.” Goda Langit kemudian.
“Ish.” Shien memukul pelan dada Langit, lalu menarik diri, dan kembali bersikap normal. Langit tergelak pelan melihat wajah Shien yang kesal bercampur malu. Sungguh menggemaskan.
********
“Congratulation, Reno. . . .” Shanna selalu menjadi yang paling heboh setiap kali berkumpul dengan siapapun dan dimanapun.
Setelah acara wisuda Reno selesai, Shanna memesan tempat di sebuah cafe untuk merayakan kelulusan laki-laki yang mirip dengan idola Korea itu.
Di atas meja sudah sudah ada kue tart berukuran sedang dengan banyak lilin kecil di atasnya. Tidak hanya itu, Langit, Reno, Shanna, dan Shien juga sudah memakai topi pesta.
Keempatnya mengangkat gelas mereka yang berisi soda untuk membuka pesta.
Langit melakukannya dengan ogah-ogahan. Pasalnya, acara kencan romantis yang sudah ia rencanakan bersama Shien gagal sudah. Ia malah terjebak bersama Shanna dan Reno sekarang.
__ADS_1
“Hebat juga, Reno.” Komentar Shanna setelah menenggak sodanya beberapa teguk. “Sebenernya agak surprise juga pas denger lo lulusan terbaik.”
“Biasa aja kali, Mbak.” Reno merendah. “Tapi, thanks banget udah datang dan bikin party kecil-kecilan kayak gini. Padahal, dapet kerja aja belum. Gimana kalau gue langsung dapet kerjaan jadi Dirut di perusahaan, ya? Langsung deh nyewa ballroom yang Mulia.”
“Tenang, gak usah khawatir jadi pengangguran abis ini. Tuh, manfaatin aja Shien buat jadi orang dalam.” Shanna cekikikan. Shien hanya mendengus geli mendengarnya. Sementara Langit yang sama sekali tidak menikmati acara terus meneguk sodanya hingga tandas, lalu menambah lagi ke dalam gelasnya.
Shanna lantas menggeser kue tart polos berwarna putih pada Reno dan meminta laki-laki itu untuk meniup lilinnya. Setelah itu, Shanna bersorak heboh sambil bertepuk tangan.
“Hadiah.” Shien tiba-tiba menyodorkan map amplop berwarna coklat ke arah Reno yang duduk tepat dihadapannya. Langit yang duduk di samping Shien langsung mendelik karena gadisnya kembali memberikan sesuatu pada Reno, apa bunga saja tidak cukup? Menyebalkan.
Reno mengernyitkan keningnya dalam sambil menerima map amplop tersebut.
“Ini apa, Mbak?”
“Apa aku harus membukanya buat kamu?” Sahut Shien dengan nada dinginnya, membuat Reno langsung mengatupkan mulutnya, takut. Lalu tanpa banyak bertanya lagi ia membuka map amplop tersebut yang di dalamnya berisi sebuah surat dari perusahaan penerbitan Snow Candy yang menyatakan bahwa Reno Pratama lolos seleksi administrasi pada bagian Editorial.
“Mbak, ini. . . .” Reno masih belum bisa mencerna maksud dari surat itu.
“Papa yang minta. Tapi, bukan berarti aku langsung menuruti permintaannya. Snow Candy sangat selektif dan bukan penganut nepotisme.” Sambar Shien, menjelaskan bahwa ia mencoba merekomendasikan Reno ke perusahannnya atas pertimbangan tertentu. “Aku lihat riwayat internship kamu tahun lalu dan itu bisa dipertimbangkan. Kamu punya passion di bidang itu.”
“Tapi, aku cuma bisa bantu sampai di sini. Untuk wawancara, tes kemampuan, dan lainnya kamu tangani sendiri.” Lanjut Shien.
“Ya ampun. Thanks banget, Mbak. Ini emang impian gue banget.” Mata Reno berbinar senang sekaligus tak percaya sambil menatap surat tersebut.
Snow Candy adalah perusahaan Penerbitan besar yang katanya untuk seleksi administrasi saja sangat sulit untuk bisa lolos, hanya lulusan terbaik dari kampus ternama yang sebagian besar bekerja di sana. Sebelumnya Reno tidak pernah berpikir untuk melamar pekerjaan di Snow Candy karena mungkin riwayat pendidikannya saja sudah kalah saing. Tapi, mendengar Shien mengakui kemampuannya tadi, sekarang ia cukup memiliki kepercayaan diri untuk melangkah maju.
Shien mendengus geli dan mengatakan kalau Reno jangan senang dulu karena belum tentu dia akan lolos di tahap selanjutnya. Ucapannya itu jelas langsung membuat semangat Reno turun seketika.
“Gak usah dengerin kata-kata Shien. Lo pasti bisa, Ren.” Shanna menyemangati seraya mengacak-acak rambut Reno gemas.
“Dan kalau gak keterima, lo bisa terus jadi sopir, Ren.” Sambung Shanna, lalu tertawa keras. Reno hanya mengerucutkan bibirnya mendengar itu. Dasar, dua makhluk kembar identik itu memang sama-sama menyebalkan.
Setelah itu, mereka lantas mulai memakan makanannya karena memang sudah cukup lapar setelah tadi melewatkan jatah makan siang.
Saat sedang asyik makan sandwich, mereka dikejutkan dengan Shanna yang tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk menjangkau wajah Langit.
“Ya ampun, Lang. Kamu kayak anak kecil aja.” Ucap Shanna sambil membersihkan remahan roti isi yang belepotan di sekitar mulut dan pipi Langit.
Dunia seolah berhenti untuk sejenak. Shien mengerjap dengan wajah tanpa ekspresinya, tapi jelas sorot matanya menyiratkan ketidaksukaan. Tentu saja, siapa yang rela jika kekasih hatinya disentuh orang lain? Walaupun Shanna bukan orang lain, tapi tetap saja itu rasanya tidak benar.
“Ehem.” Langit berdehem pelan seraya menepis tangan Shanna dari wajahnya untuk kemudian ia menelan roti isinya sudah payah.
“Ahh, sorry. A-aku refleks tadi.” Ucap Shanna gelagapan sambil memundurkan tubuhnya dan kembali duduk.
“Lain kali, kamu bisa kasih tahu aja.” Sahut Langit sembari mengambil tissue yang tergeletak di atas meja untuk membersihkan mulutnya. Nada bicaranya terdengar tidak suka dengan apa yang dilakukan Shanna.
“Iya, aku minta maaf.” Tutur Shanna tak enak hati. “Maaf, Shi.” Lalu melemparkan pandangan ke arah Shien.
“Hmm.” Balas Shien berusaha memasang ekspresi setenang mungkin. “Lagian itu spontan.” Imbuhnya kemudian.
Dan bersama dusta yang masih tersisa di ujung lidahnya, Shien menggigit sisa sandwichnya dengan perasaan sedikit dongkol.
Pesta kecil-kecilan yang semula sedikit meriah seketika berubah suasana menjadi begitu canggung setelah itu.
__ADS_1
********
To be continued. . . .