So In Love

So In Love
EP. 22. Kecewa


__ADS_3

********


Sekitar jam sebelas malam, Shien selesai membersihkan dirinya di kamar mandi setelah beberapa saat yang lalu Langit membawanya pulang dari pantai. Suasana sangat canggung selama perjalanan pulang karena adegan ciuman yang tak terduga dan cukup lama itu.


Mendudukkan dirinya di depan meja rias. Shien menghela napas panjang seraya memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya yang gamang.


Tanpa Langit memberitahu, sejak awal Shien juga tahu bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada sosok laki-laki bernama Langit itu. Hanya saja, ia berusaha menyangkal setiap detiknya, membohongi diri sendiri bahwa ia tidak menyukai Langit dan tak akan membiarkan hatinya jatuh.


Shien selalu berusaha membuang perasaannya sebelum ia jatuh terlalu dalam. Tapi kenyataannya, hatinya semakin jatuh terperosok pada sosok Langit setiap harinya.


Bukan tanpa alasan Shien harus membuang perasaannya jauh-jauh pada Langit. Pertama, ia tidak ingin menyakiti hati kakaknya yang lebih dulu menyukai dan bertemu laki-laki itu. Shien bahkan merasa sangat buruk setelah tadi berciuman, ia merasa sudah mengkhianati Shanna. Tidak. Ia merasa sangat buruk setelah pergi seharian bersama Langit. Ada perasaan bersalah yang mengganjal di hatinya.


Dan yang kedua, dari awal Shien sudah mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak boleh mengikat dirinya dengan siapapun.


Shien tidak bodoh untuk tidak mengetahui bahwa kondisi kesehatannya kian memburuk setiap harinya, walaupun Tante Hilda dan dan dokter Nathan tidak memberitahunya.


Shien bukannya pesimis untuk terus berjuang bertahan hidup, tapi kenyataan bahwa hidupnya mungkin tidak lama lagi itu tak bisa disangkalnya. Dan Shien tidak ingin mengambil resiko untuk memberikan pengalaman menyedihkan pada seseorang yang dicintainya. Baik itu Langit atau siapapun juga.


Seandainya ia melangkah maju, Shien tetap akan meninggalkan Langit pada akhirnya. Lebih baik berhenti sekarang daripada ia harus membiarkan Langit tersiksa nantinya, saat nyawa Shien diambil paksa.


Ya, Shien harus membuat Langit berhenti dan menyerah padanya lebih awal. Setidaknya itu tidak akan terlalu menyakitkan karena hubungan mereka belum masuk ke tahap yang lebih jauh. Shien harus segera memberi penegasan pada laki-laki itu. Begitu juga dengan dirinya.


“Buatlah Shien semakin cantik.”


Shien tersenyum geli ketika ia membaca tulisan yang tadi di tulis Langit di atas tutup kotak obat hariannya saat mereka berada di kamar hotel beberapa jam yang lalu untuk membersihkan diri selepas kembali dari pantai.


“Aku udah kasih mantra di obat kamu.” Ucap Langit sesaat setelah dirinya mencoret-coret kotak obat harian milik Shien menggunakan spidol kecil. “Jadi, jangan bolos minum obat atau kamu akan berubah jadi jelek.”


Raut wajah Shien terlihat sendu saat mengingat itu. “Buatlah Shien sembuh.” Shien mengartikan mantra yang ditulis Langit seperti itu, yang sebenarnya adalah sebuah doa. “Jadi, jangan bolos minum obat atau kamu semakin sakit.” Langit menyemangatinya dengan metafora agar tidak menyinggung perasaannya. Tapi itu justru malah membuat Shien sedih karena merasa dikasihani. Dan Shien paling tidak suka siapapun mengasihaninya.


Ahh, hati dan pikiran Shien benar-benar semrawut hari ini.


Shien melangkah keluar dari kamarnya setelah ia meminum obat. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Shanna.


Shien menghabiskan beberapa menit lebih lama di depan pintu kamar berwarna putih itu sambil sesekali menghembuskan napas berat. Hingga sejurus kemudian, tangannya terulur untuk membuka pintu kamar tersebut dengan hati-hati agar tidak membangunkan si pemilik kamar yang mungkin sudah tertidur pulas. Jelas saja, ini sudah hampir tengah malam.


Saat Shien menginjakkan kakinya di kamar itu, dia merasa seperti sedang masuk ke dunia lain. Seperti sedang menonton konser beberapa boy group K-Pop sekaligus. Poster dengan logo bertuliskan ARMY, EXO-L, NU’EST, dan masih banyak lagi terpampang sangat besar memenuhi dinding kamar, begitupula dengan tempelan foto polaroid yang Shien tebak itu adalah member dari boy group tersebut ikut memeriahkan dinding kamar. Hanya langit-langit kamar yang bersih dari tempelan poster dan foto.


Cih, padahal wajah para idol itu sama semua. Kenapa Shanna repot-repot menempel ratusan foto? Satu foto saja padahal cukup. Itu menurut pemikiran Shien yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia K-Pop.


Shien bergidik karena banyak sekali benda-benda berserakkan di lantai kamar. Buku, album musik, bungkus bekas makanan ringan, kertas-kertas, dan yang lainnya tergeletak dimana-mana. Apakah ini masih bisa disebut kamar? Bahkan kandang sapi saja lebih bersih dari ini. Beruntung kamar Shanna tidak bau. Sepertinya Shanna masih peduli menyemprot kamarnya dengan aroma harajuku yang tercium manis dan cukup menyengat di hidung Shien. Ahh, tapi ini bukan berasal dari pengharum ruangan, melainkan farfum milik Shanna.


Sambil menghindari berbagai benda yang tergeletak di lantai, Shien berjalan dengan hati-hati ke arah tempat tidur dimana Shanna sedang tertidur dengan posisi miring sekarang.


Gadis itu lantas merangkak naik ke atas tempat tidur dengan perlahan agar tidak mengganggu Shanna.


Menggunakan sebelah tangannya sebagai bantalan, Shien pandangi punggung sang kakak yang sedang terlelap itu dengan tatapan sendu.


“Maaf.” Ucapnya lirih. Suaranya tercekat hingga tak keluar.


Maaf karena ia juga menyukai laki-laki yang Shanna sukai. Maaf karena jantungnya juga berdebar untuk dia. Maaf untuk berjalan diam-diam dengan laki-laki itu di belakangnya. Maaf karena tidak menghindar dengan baik saat laki-laki itu mendekatinya.


Shien ingin mengatakan semua itu, tapi ia tak berani. Pada akhirnya, ia hanya memendamnya dalam hati.


Shanna adalah kakak yang baik, sejak dulu dia rela melakukan apa saja untuk Shien dan juga orang yang selalu melindunginya. Shanna bahkan tidak marah saat dulu teman laki-lakinya lebih memilih untuk bermain bersama Shien merawat kelinci, alih-alih bermain sepeda dengannya.


Shien juga ingat, saat mereka pergi ke toko mainan di mall. Ada satu edisi boneka Barbie yang sangat menarik perhatian mereka. Dan mengetahui Shien menyukainya juga, Shanna mengatakan kalau Shien boleh memilikinya dan ia akan memilih yang lain. Wajahnya terlihat sedih, tapi ucapan dan sorot matanya sangat tulus.


Kali ini Shien tidak akan membiarkan Shanna terus mengalah untuknya. Shien juga ingin menjadi adik yang baik. Tidak apa-apa. Shien tidak keberatan jika nanti Langit menjadi kakak iparnya.


Asalkan Shanna bahagia. Shien tidak akan menyesalinya.


“I love you more than i can say, kakak.” Bisik Shien lirih. Jari telunjuknya terlulur mengelus punggung Shanna, hingga membuat Shanna terusik dan mulai menggeliat dari tidur lelapnya.


Merasakan seseorang menyentuh punggungnya, Shanna terbangun. Perlahan ia mengerjapkan matanya, lalu berbalik. Dilihatnya sang adik yang memandanginya dengan tatapan sendu.


“Shi?” Shanna memicingkan mata, lalu mengerjap-erjapkannya. Ia tak percaya jika Shien masuk ke kamarnya, bahkan berbaring tepat di sebelahnya. Karena yang ia tahu, Shien tidak pernah mau memasuki kamarnya dengan alasan berantakan. Yaa, memang berantakan, sih. Jika bersih, itu bukanlah kamar Shanna.


“Ehh. . . , kebangun, ya? Sorry.” Shien terlihat kikuk.


Menghela napas panjang. Shanna lantas memperbaiki posisinya, persis seperti Shien. Mereka saling berhadapan seperti objek yang di cermin.


“Baru pulang, Shi?” Tanya Shanna dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Shien bergeming. Semakin merasa bersalah karena tadi ia berdalih dengan alasan bekerja lembur saat Shanna meneleponnya, dimana ia dan Langit masih dalam perjalanan pulang beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


“Emm.” Shien mengangguk lemah. Sudut matanya mencuat ke bawah, tak berani menatap mata bening milik Shanna saat ia menjawabnya.


“Diantar Fina?” Dan sekali lagi Shien terpaksa menjawabnya dengan anggukkan diiringi dengan seulas senyum tipis yang menggetarkan kedua matanya hingga terlihat berkaca-kaca.


“Dokter Nathan bilang kalau kamu gak boleh kerja berlebihan.” Ohh, Shien menyesal sudah berbohong. Kini bahkan Shanna mengkhawatirkannya. “Kenapa gak nurut? Dasar gadis nakal.” Shanna memberi satu sentilan keras pada dahi sang adik hingga membuatnya mengerang kesakitan.


“Ngeselin” Dengus Shien sambil mengusap-usap dahinya yang terasa ngilu. Sementara Shanna hanya berdecih tak peduli.


“Mau tidur di sini?” Tanya Shanna kemudian. Lagi-lahi Shien hanya menanggapinya dengan anggukkan.


“Tumben?” Cebik Shanna.


“Mumpung masih sempat.” Sahut Shien, lalu ia menghembuskan napas berat sebelum kemudian kembali berujar. “Cause someday you’ll live without me.” Lanjut Shien dengan suara lirihnya, kemudian terkekeh pelan.


Shanna terdiam dengan wajah sebal, lalu memelototi sang adik hingga membuatnya berhenti terkekeh. Seenaknya saja Shien berkata seperti itu di saat dirinya terlihat baik-baik saja.


“Jangan meracau.” Tegur Shanna yang tak suka dengan kalimat yang diucapkan Shien. “Cepat tidur.” Sambungnya sembari melempar wajah Shien dengan guling.


Shien hanya mendengus, kemudian dengan perlahan ia jatuh tertidur di samping saudara kembarnya itu.


“Sekali lagi ngomong kayak gitu, aku pukul kamu.” Shien menggerutu sendiri di hadapan adiknya yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi, lalu dengan telaten ia menyelimuti Shien hingga menutupi lehernya.


“Kamu pasti kuat, Shien.” Bisik Shanna di telinga Shien, sebelum kemudian ia ikut tertidur sambil memeluk adik satu-satunya itu. Adik yang sangat ia sayangi hingga Shanna rela melakukan apapun untuknya.


********


Keesokan harinya, Shien terbangun dengan kepala yang sangat berat, begitupula dengan napasnya, dan dadanya terasa sangat sakit.


Shien meringis pelan karena ia merasakan ngilu di pergelangan tangan kirinya saat ia tak sengaja menyentaknya, ternyata di sana sudah tertancap jarum infus.


Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Keningnya berkerut dalam karena ternyata ia berada di kamar rumah sakit. Shien bingung, sejak kapan dan kenapa ia bisa ada di rumah sakit? Bukankah tadi malam Shien tidur di kamar Shanna? Apalagi saat ia melihat jarum jam menunjuk ke angka tiga pas. Entah sekarang jam tiga dini hari atau sore, Shien tak tahu.


Shien memang merasa sangat lelah dan lemas tadi malam, mungkinkah ia terkena serangan jantung saat tidur dan pingsan? Ahh, itu berlebihan. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


“Shi, kamu udah bangun?” Seruan heboh seseorang membuat Shien menoleh.


Shien mengernyit melihat Shanna yang sedang menatapnya sebal dan hampir menangis. “Bodoh. Apa terlalu nyaman tidur di kamar aku sampai kamu susah dibangunin?” Shanna memukul pelan bahu Shien dengan kesal dan lega sekaligus karena adiknya sudah siuman.


Shanna sangat terkejut dan ketakutan saat tadi pagi ia terbangun dan mendapati Shien masih tertidur di sebelahnya. Sebelumnya ia merasa heran karena Shien biasanya selalu lebih dulu bangun daripada dirinya.


Shanna berusaha membangunkan Shien, tapi gadis itu terus bergeming seberapa keraspun ia mengguncang tubuh Shien. Hingga lima belas menit berlalu, Shanna semakin panik dan memanggil kedua orang tuanya.


Kondisi Shien bahkan sempat kritis karena terlambat dibawa ke rumah sakit. Beruntung kondisinya kembali stabil setelah dokter memberinya penanganan.


“Jangan nangis, wajah kamu jelek banget kalau nangis.” Ledek Shien dengan suara parau, membuat Shanna mendengus.


“Kamu ngeselin tahu, gak, Shi.” Cebik Shanna sembari menyeka ingusnya menggunakan lengan baju pasien yang Shien kenakan.


“Jorok, Shanna.” Shien protes kesal dengan suara lemahnya.


“Bodo.” Sahut Shanna tak peduli. Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi dimana Papa sedang berada di sana. Sementara Shien hanya mengikuti arah gerak Shanna.


“Pa, Shien udah bangun.” Seru Shanna sambil meggedor-gedor pintu kamar mandi dengan semangat.


Papa yang sedang membasuh wajahnya di dalam sana, lantas keluar dan berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Shien.


“Sha, panggil dokter Nathan dan telepon Mama.” Perintah Papa, membuat Shanna segera bergerak keluar.


“Shi, kamu sempat kritis tadi.” Ucap Papa yang terlihat menahan tangisnya. “Papa takut banget kalau kamu gak bangun lagi.” Lalu Papa mengusap dahi Shien dengan penuh kasih sayang.


Shien tak menjawab. Gadis itu malah memalingkan wajahnya. Hatinya masih enggan untuk berdamai, walaupun sikap kedua orang tuanya sudah kembali seperti saat dirinya berusia enam tahun.


Sikap dingin orang tuanya yang terakhir ia lihat di pemakaman nenek begitu melekat di hati dan pikiran Shien, sehingga ia sangsi untuk bisa menaruh harapan lagi kepada orang tuanya.


Tak lama kemudian, terdengar suara Mama yang masuk dengan tergesa-gesa.


“Shien.” Serunya sambil berhambur memeluk Shien. Air matanya tampak berlinang-linang. “Ya ampun, Mama sayang banget sama Shien.” Lalu mencium pelipis si putri bungsu dengan penuh cinta.


Rasa bersalah kembali muncul di hatinya. Betapa ia adalah ibu yang sangat tidak bertangggung jawab, yang sudah mengabaikan anaknya, yang jelas-jelas sangat butuh perhatian dukungannya.


Mama tak bisa membayangkan bagaiamana kesulitan dihadapi Shien saat berjuang sendirian melawan penyakitnya. “Maafkan Mama.” Dan Mama hanya bisa mengucapkan kata maaf itu dalam hati. Suaranya tercekat setiap kali ia hendak mengucapkan dua kata itu, hingga nada suaranya tidak pernah keluar. Begitu juga dengan Papa yang merasakan hal yang sama.


Shien hanya menghadapi kedua orang tuanya dengan tatapan kosong. Lalu diliriknya Shanna yang sudah kembali bergabung, gadis itu hampir menangis lagi.


“Wajah kamu jelek banget, kak.” Ledek Shien sambil tersenyum lemah.

__ADS_1


Shanna mendengus sebal. “Gadis bodoh.” Cicitnya kemudian.


“Cepat sehat. Tante Hilda bilang dia mau pulang besok lusa.” Imbuh Shanna, membuat mata Shien langsung berbinar. Raut wajah datarnya berubah senang.


Melihat itu jelas membuat hati kedua orang tuanya meringis sedih. Ternyata kedudukan mereka di hati Shien sudah tergantikan dengan Hilda, tapi mereka juga tidak bisa protes untuk itu.


“Tapi, jangan harap kamu bisa keluar dari rumah walaupun Tante Hilda udah datang.” Sambung Shanna sambil menjulurkan lidahnya. Shien hanya menanggapinya dengan dengusan geli.


Tak lama setelah itu, dokter Nathan datang untuk memeriksa kondisi Shien. Dan dia juga mengatakan bahwa Shien harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan menjalani pemeriksaan lengkap.


Hal itu membuat Papa, Mama, dan Shanna sangat khawatir mendengarnya. Tapi dokter Nathan berusaha menenangkan mereka.


“Cuma periksa kesehetan. Gak usah lebay gitu ekspresinya.” Ucap Shien pada Shanna yang duduk di sebelahnya. Shanna hanya mendelik, bagaimana bisa ia tidak cemas?


“Aku baik-baik aja, kan, dokter?” Shien beralih pada dokter Nathan.


“Sekarang baik-baik aja.” Sahut dokter Nathan. “Tapi, lain kali dengerin apa saran dokter. Udah dibilangin jangan memforsir diri, malah kerja lembur sampai pingsan kayak gini. Gadis nakal.” Dokter Nathan lalu menyentil dahi Shien seperti yang Shanna lakukan tadi malam.


“Dasar dokter gadungan.” Umpat Shien seraya mengusap-usap dahinya yang sekarang terlihat sedikit membiru karena sudah dua kali mendapat sentilan keras di tempat yang sama.


“Sorry, what did you say?” Dokter Nathan menatap Shien protes.


“Dokter yang menganiaya pasiennya. Kalau bukan gadungan apa namanya?” Shien mendelik sebal.


Sementara Papa dan Mama hanya tersenyum geli melihat pertengkaran kecil mereka. Dokter Nathan sangat humble, hingga membuatnya mudah berbaur dengan siapapun. Termasuk dengan Shien yang pada dasarnya bersifat dingin dan sulit bergaul.


********


“Shien. . . .” Panggil Shanna sesaat setelah dokter Nathan keluar dari ruangan Shien. Begitupula dengan Papa dan Mama yang ikut keluar karena dokter Nathan ingin berbicara dengan mereka sebagai wali dari Shien.


“Apa kamu gak merasa kalau dokter Nathan itu mirip seseorang?” Tanya Shanna sambil meraih jeruk dari atas nakas untuk ia kupas, lalu dimakannya sendiri. Shien yang melihatnya hanya mendengus. Dia kira Shanna mengupas jeruk untuknya.


“Mirip siapa? Cowok banci yang ada di kamar kamu?” Shien kembali bertanya.


Ya, mungkin Nathan mirip salah satu anggota boy group yang fotonya ada di kamar Shanna, mengingat Nathan memiliki Korean face.


“Banci mulutmu.” Protes Shanna sambil melempar kulit jeruk pada Shanna. Enak saja idolanya dibilang banci. Tapi Shien hanya mengedik tak peduli, karena menurutnya para idol boy group itu wajahnya cantik-cantik. Ia tidak salah julukan, kan?


“Kamu masih ingat kak Niel?” Shanna kembali pada topik pembahasan. Shien terdiam, berusaha menggali informasi tentang anak bernama Niel yang mungkin masih tersimpan di memorinya.


“Yang waktu kecil aku suka bawa dia main ke rumah.” Tambah Shanna memberikan clue.


“Ohh, cinta monyet kamu itu.” Seru Shien saat memorinya berhasil mengingat.


Anak bernama Niel yang memiliki kepribadian ramah. Teman sekaligus kakak kelas Shanna di sekolah yang selalu lebih memperhatikan Shien setelah bertemu dengannya. Anak itu bahkan main ke rumahnya hampir setiap hari sebelum akhirnya dia menghilang karena pindah ke Belanda.


“Tapi dia gendut kayak beruang. Mana ada mirip dokter Nathan.” Sambung Shanna seraya mengingat-ingat bentuk wajah dan tubuh teman kecil mereka itu.


“Dan kamu udah rebut beruang aku.” Celetuk Shanna, membuat raut wajah Shien berubah serius dengan tatapan bersalah. Tapi sejurus kemudian Shanna tergelak mentertawakan ekspresi Shien yang serius. Padahal, ia hanya bergurau mengatakannya. Shanna tidak pernah merasa Shien merebut apapun darinya.


“Ekspresi kamu itu, lho, Shi.” Shien bergeming melihat sang kakak yang masih betah tertawa itu. “Aku cuma becanda, gak usah serius kayak gitu, kali.” Imbuhnya kemudian.


Tapi bukan itu maksud Shien. Ia hanya merasa tertohok dengan kalimat Shien yang mengatakan “Kamu sudah merebut beruang aku.”


“Ngeselin kamu.” Cebik Shien sembari mendorong bahu Shanna dengan tangan lemahnya.


“Tapi menurut aku wajahnya mirip, lho, Shi.” Shanna kembali ke pembahasan awal.


“Terus kenapa kalau mirip? Mau kamu taksir?” Cibir Shien, membuat Shanna mendengus.


“Ya enggak, lah. Sekarang ada Langit di hati aku, aku gak akan berpaling walaupun ketemu kak Niel lagi.” Sahut Shanna yakin. Ia tersenyum geli mengingat masa kecilnya yang selalu meminta Niel, si bocah gembul itu utnuk menjadi pacarnya. Ya ampun, Shanna baru sadar, ternyata ia sudah ekspresif sejak kecil. Tapi sekarang seleranya berbeda, ia suka laki-laki tampan dan maskulin seperti Langit.


“Walaupun kak Niel berubah jadi seganteng dokter Nathan?” Tanya Shien menantang.


“Yep. Sekarang, gak ada yang lebih menarik di mata dan hati aku selain Langit.” Jawab Shanna yakin.


“Emang kamu gak tertarik sama Langit, Shi?” Tanya Shanna tiba-tiba, hingga membuat Shien sedikit tersentak.


“Enggak.” Shien berusaha menjawab seyakin mungkin.


“Yang bener?” Goda Shanna dengan mata memicing. Shien memalingkan wajah, memilih untuk tidak menyahutinya.


“So, can i have him?” Shien mendengus mendengar pertanyaan kakaknya. “Apa hubungannya pake izin sama aku? Kalau kakak mau Langit ya tinggal ambil aja, aku gak tertarik sama sekali sama dia.” Sahut Shien.


Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya ke arah pintu, bermaksud untuk menghindari beradu pandang dengan Shanna. Tapi, Shien malah mendapati Langit tengah berdiri di ambang pintu dengan sebuket bunga mawar di tangannya, sedang menatapnya dengan tatapan kecewa.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2