
********
Ada beberapa hal yang harus kita perjuangkan dan pertahankan. Apa yang bukan milik kita, bisa kita raih. Apa yang sudah kita miliki, juga bisa terlepas dari kita. – Shien.
********
Sepeninggal Langit, Shien lantas memunguti sebagian foto yang berceceran di lantai, merapikannya, lalu kembali memandanginya satu per satu.
Shien tersenyum miris. Sungguh lucu Langit begitu cemburu dan marah padanya hanya karena beberapa lembar foto yang kebenarannya belum jelas. Tidak jelas malah.
Hingga detik ini, Shien masih tidak menyangka jika Langit lebih percaya pada insting sendiri tanpa mencoba mencari kebenarannya atau mendengar kebenarannya dari Shien.
Dengan gerakan gontai, Shien mengambil ballpoin dari dalam tasnya, lalu menuliskan penjelasan singkat pada beberapa foto di belakangnya. Berharap Langit akan membacanya nanti, jika dia memang tidak bisa atau tidak ingin mendengarkannya.
Setelah itu, Shien beranjak dari duduknya dan keluar untuk masuk ke apartemen Langit dengan membawa serta foto dan sebuah goodie bag berukuran sedang di tangannya. Di dalamnya berisi sebuah Action Cam yang sangat Langit inginkan, tapi cukup sulit mendapatkannya karena benda itu hanya dijual terbatas. Namun, Shien berhasil mendapatkannya berkat bantuan Fina. Dan tadinya Shien ingin memberikan Langit kejutan hal itu sekaligus sebagai hadiah hari jadi mereka yang ke seratus hari. Seharusnya itu hari ini, tapi rencana hanya tinggal rencana. Bukan merayakan bersama dan bersenang-senang, hari ini Shien dan Langit malah bertengkar.
Shien tersenyum geli. Merasa geli pada dirinya sendiri yang begitu bodoh dan kekanak-kanakan karena selalu menghitung hari di setiap kebersamaan mereka. Hal konyol yang tidak pernah terpikirkan akan ia lakukan dalam hidupnnya.
Itu karena Langit begitu spesial untuknya.
Aroma maskulin menyeruak di hidung Shien begitu ia memasuki apartemen Langit. Terlihat sepi. Sesuai dugaannya, Langit memang tidak ada di sana.
Sejenak Shien terdiam memandang setiap sudut ruangan. Semua kenangan kebersamaannya bersama Langit saat mereka berada di sana berputar di kepala tanpa izinnya.
Shien tersenyum, ternyata banyak hal menyenangkan yang ia dan Langit lakukan di sini. Dari yang hanya sekedar diam-diaman sambil membaca buku untuk menghabiskan waktu berdua, menonton, memasak bersama walaupun yang memasak adalah Langit dan Shien membantu mengacaukannya, becanda, bermesraan, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
Menghembuskan napas berat, Shien menyudahi nostalgianya. Shien sangsi jika semua hal menyenangkan itu akan kembali terulang dalam waktu dekat. Atau mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Tidak ada yang tahu ke depannya hubungannya dan Langit akan seperti apa. Sekarang saja sudah rusak. Sudah rusak sejak Langit tidak memberi kepercayaan pada Shien.
Shien melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, berjalan perlahan memasuki apartemen Langit lebih dalam, dan berhenti tepat di depan pintu kamar Langit, lalu membuka pintu tersebut lebar-lebar. Aroma farfum Langit lebih tercium jelas di sana.
Meletakkan foto dan goodie bag yang dibawanya ke atas meja kerja milik Langit, Shien lalu memandangi fotonya bersama Langit yang tergeletak apik di dalam bingkai foto.
Ia dan Langit tampak sangat konyol dengan penuh coretan lipstick di wajah masing-masing. Shien ingat betul kapan foto itu diambil. Foto tersebut diambil tepat di atas tempat tidur Langit saat mereka bermain permainan online, dan coretan lipstick di wajah itu adalah hukuman atas kekalahan dalam bermain.
Shien menoleh ke arah tempat tidur, menatapnya dengan tatapan sedih. Hingga tak terasa, air matanya menitik.
Shien selalu berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, tidak akan ada yang berubah. Tapi, Langit sudah berubah. Atau, pada dasarnya Langit adalah orang yang seperti itu?
“I love you and I always have.” Bisik Shien lemah seraya mengusap bingkai foto kebersamaan mereka sebentar, lalu beranjak meninggalkan apartemen Langit.
********
Langit mengepalkan kedua tangannya, tepat pada saat ini juga, Langit menyesali sudah memilih pulang ke rumahnya.
Malam itu, di ruang keluarga ia melihat seluruh keluarganya berkumpul bersama dengan bayi kecil bernama Noah yang berada di pangkuan kakak iparnya, Bintang, menjadi pusat perhatian.
Tapi bukan kedatangan sang kakak ke rumah yang membuat Langit kesal, melainkan karena Sagara juga ada di sana, di rumahnya.
“Lho, Langit, tumben kamu pulang ke rumah?”
Papa sedikit terkejut begitu melihat Langit muncul dengan penampilan dan wajah yang sedikit berantakan. Jelas, setelah keluar dari apartemen Shien, laki-laki itu mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan selama lebih dari enam jam dan tak tentu arah untuk menghilangkan kegusaran hatinya. Tapi bukan ketenangan yang ia dapatkan karena selama enam jam itu pula Langit hanya menghabiskan waktunya dengan uring-uringan tidak jelas, sehingga membuat perasaannya semakin tak karuan.
Kecewa, sedih, marah, bersalah, semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Tubuhnya yang lelah, ditambah kepalanya yang pusing berat, membuat Langit ingin membenturkan kepala sekeras-kerasnya.
Gerakan tangan Papa yang sedang memainkan rattle terhenti seiring dengan bunyi gemerincing yang ditimbulkannya juga ikut berhenti. Hari bahkan baru menjelang malam. Hari Minggu juga masih jauh. Tidak biasanya Langit sudah ada di rumah. Bahkan akhir-akhir ini, hari libur pun jarang anak itu gunakan untuk pulang ke rumah karena lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama pacarnya, Shien.
Langit tersenyum masam.
“Papa kira kamu gak bakal pulang lagi minggu ini.” Ujar Papa sedikit menyindir. “Ohh, iya. Kamu baru pulang dari Yogya, kan?” Tanyanya kemudian.
“Hmm.” Langit mengangguk dengan wajah datar. “Aku ke kamar dulu.” Pamit Langit seraya memutar tumitnya untuk beranjak, namun suara Senja menghentikannya.
“Ini ada Gara, lho, Lang. Kebetulan kamu ada di sini, katanya dia mau minjem racket tenis kamu.” Tutur Senja, menjelaskan maksud kedatangan Sagara yang ikut bersamanya ke rumah Papa.
“Ada di ruang penyimpanan barang. Ambil aja.” Sahut Langit dingin seraya beranjak dari tempatnya, meninggalkan semua orang yang menatapnya terheran-heran.
“Tapi Gara sekalian mau ngajak kamu main, Lang. Kamu masih gabung di klub tenisnya Bima, kan?” Teriak Senja, tapi Langit tak menghiraukannya. Langit malah semakin mempercepat langkah, menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Papa dan Senja saling melempar pandangan tak mengerti. Heran saja melihat Langit yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam, dia biasanya akan sangat antusias dengan kedatangan kakaknya, lebih tepatnya antusias karena keponakan kecilnya yang lucu atau paling tidak akan menjahili Biel sampai menangis begitu ia datang.
“Tuh anak kenapa, Pa?” Tanya Senja akhirnya.
Papa mengedik tanda tak tahu. “Mungkin lagi kecapekan aja, kali.” Sahutnya, lalu beranjak untuk pergi ke dapur, menemui asisten rumah tangga dan memintanya menyiapkan makan malam untuk Langit karena siapa tahu saja anak laki-lakinya itu belum mendapatkan jatah makan malam.
“Maaf, ya, Ga. Langit kadang childish banget kalau lagi bad mood.” Ucap Senja tak enak hati atas sikap adiknya yang kurang sopan. Sementara Sagara hanya tersenyum dan mengangguk memaklumi.
********
Keeseokan sorenya, Shien berdiri termenung dengan setangkup besar sayuran hijau dan wortel dalam dekapannya, memberi makan kelinci pemberian Nathan yang sudah memiliki kandang baru itu tak bersemangat. Berulang kali gadis itu menghembuskan napas berat, ada gurat kesedihan di keningnya.
Kenyataan bahwa Shannalah yang memberikan karyanya pada orang lain membuat Shien semakin sedih, tidak menyangka ia akan dikhianati kakaknya sendiri.
Shien memang sudah menduga hal ini sebelumnya, tapi Shien tidak pernah berharap dugaannya akan benar-benar terjadi.
Ia belum berbicara dengan Shanna terkait masalah ini. Gadis berambut warna-warni itu pergi entah ke mana setelah Papa menegurnya tadi malam. Ia hanya berpapasan dengan Shanna di pintu utama rumah, dia terlihat pergi dengan membawa amarahnya.
Papa yang mengetahui kondisi yang menimpa Shien dari Tante Hilda, langsung sigap menyelidiki siapa orang yang sudah tega melakukan hal seperti itu pada Shien. Dan sama halnya dengan Shien, beliau lebih tidak menyangka jika yang melakukannya adalah putri sulungnya sendiri. Alhasil, Papa menegur Shanna lebih dulu sebelum Shien memastikan kebenaran yang diduganya.
Tidak hanya mencuri tablet dan memberikan karyanya pada orang lain, Shien menemukan sesuatu yang lain saat ia diam-diam masuk ke kamar Shanna tadi malam. Shien menemukan laptop milik Shanna dengan lampu indikator LEDnya yang berkerlap-kerlip, menandakan jika laptop tersebut masih dalam keadaan hidup.
Iseng ingin mematikannya, Shien malah dikejutkan dengan layar yang menampilkan serentetan foto kebersamaannya dengan Nathan saat laki-laki itu datang ke rumah kemarin lusa. Dan semakin besarlah kekecewaan Shien padanya. Maka dari itu, ia menyimpulkan jika semua foto yang ditunjukkan Langit padanya itu berasal dari Shanna.
Saking asyiknya melamun, Shien bahkan tidak sadar jika wortel yang sedari tadi ia berikan untuk makanan kelinci, kini malah dimakannya sendiri. Shien menggigit, lalu mengunyah wortel tersebut dengan malas.
“Oyy, kelinci kecil. . . .”
__ADS_1
Teriakan seseorang tak membuat Shien tersadar dari lamunannya. Barulah setelah seruan ke tiga, gadis itu menoleh.
Pandangannya yang kosong mengerjap, sedikit speechless dan bingung. Setengah batang wortel yang bertengger di mulutnya sampai jatuh.
Dari jarak beberapa meter darinya, ia melihat Fina, Reno, dan Nathan yang berdiri tepat di tengah. Entah Shien sudah linglung atau mereka yang linglung, tapi Shien yakin jika hari ini bukan hari ulang tahunnya, bukan pula hari di mana ia mendapat penghargaan Penulis terbaik. Tapi Nathan membawa kue tart dengan banyak lilin kecil di atasnya, dan mereka bertiga heboh mengenakan topi pesta warna cerah bermotif polkadot.
Lalu, detik berikutnya Shien kembali dibuat sedikit surprise saat Fina dan Reno mengeluarkan kertas ukuran A5 dengan tulisan besar dan berwarna di atasnya.
DON’T BE SAD.
KEEP SMILING AND CHEER UP!
WE WILL ALWAYS SUPPORT YOU.
JUST BE STRONG, JUST BE BRAVE, AND BE SURE, YES YOU CAN!
Sudut bibir Shien tertarik sedikit, nyaris tak terlihat. Merasa geli sekaligus sedikit haru membaca tulisan-tulisan tersebut.
“Kalian nulis lirik lagu?” Cibir Shien sambil melangkah menghampiri mereka, tidak lupa ia menjejalkan semua sayuran dalam dekapannya itu ke dalam kandang kelinci terlebih dahulu.
“Ihh, enak aja. Se-jam tahu nggak, Mbak, kami mikirnya. So sweet gak, tuh?” Sahut Reno cepat-cepat. “Yah, kecuali yang ini, sih.” Sambungnya seraya mengangkat kertas berisi tulisan yang terakhir di baca Shien.
Shien mendengus. Sementara Reno malah terkeikik kecil.
Detik berikutnya, pandangan Shien beralih pada Nathan yang membawa kue tart, lalu mengedikkan dagu ke arah kue tersebut. Tatapannya heran seolah meminta penjelasan.
“Kue kegagalan.” Nathan berseru riang dan teramat santai, membuat Shien mendelik sebal dan ingin sekali memukul wajahnya yang sedang tersenyum cerah itu.
“Aku udah tahu dari Om kalau karya kamu dicuri orang dan gagal terbit.” Lanjutnya, lalu mengeluarkan pemantik dari saku celananya dan mulai menyalakan lilin yang berjumlah delapan itu.
“Jadi ini perayaan kegagalan?” Tanya Shien kesal. Seumur hidupnya, ia baru tahu ternyata kegagalan juga harus dirayakan. Haruskah ia bertepuk tangan juga akan nasib buruk yang menimpanya ini? Tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka bertiga. Shien sangsi jika otak mereka masih waras.
Nathan mendesis seraya pura-pura berpikir. “Yaa kurang lebih gitu, deh.” Lalu memasukkan kembali pemantiknya ke dalam saku celana setelah api pada sumbu lilin menyala.
“Kamu boleh sedih, tapi jangan terlalu lama. Gak ada gunanya. Ayo tiup.” Ujar Nathan sambil menyodorkan kue tartnya ke arah Shien.
“Anggap aja ini party buat buang sial. Cepetan tiup, kena angin, nih..” Desak Nathan dengan sebelah tangan berusaha menghalau angin agar tidak membuat api di lilinnya padam.
“Bener tuh, Shi. Istilah lainnya, gagal untuk bangkit.” Fina menimpali.
“Dan gak usah mikirin orang jahat yang nyakitin lo, Mbak. Di sekeliling lo lebih banyak orang yang ingin lihat dan berusaha membuat lo tersenyum.” Tambah Reno.
Shien tertegun dan juga jauh di lubuk hatinya ia merasa tersentuh mendengar setiap kalimat yang dilontarkan mereka. Tapi perasaan sedih itu kembali muncul di hatinya. Sedih karena orang yang sangat ia harapkan mendukungnya seperti ini justru malah tidak ada.
“Gak sekalian aja nyewa ballroom hotel.” Cebik Shien, buru-buru mengalihkan pikirannya akan Langit. Ia lantas menyondongkan wajahnya untuk kemudian meniup lilin-lilin itu susah payah hingga semuanya padam.
“Semoga Shien semakin sukses ke depannya.” Seru Fina yang langsung diamini oleh Reno dan Nathan.
“Jangan lupa lebih bahagia juga.” Sambung Nathan, lalu dengan jahil mencolek krim dari kue tart dan mencoretkannya pada pipi Shien hingga membuatnya memekik kesal dan terkejut sekaligus.
Shien lantas mengabil setangkup krim beserta kuenya ia comot, lalu melemparkannya gemas dan tepat mengenai wajah serta rambut Nathan. Alhasil, kue yang awalnya dibuat khusus, dihias sangat rapi dan penuh ketelitian itu menjadi tak berbentuk lagi.
“Aiish, sialan.” Umpat Nathan seraya mengusap krim di wajahnya menggunakan lengan baju.
“Rasain.” Belum selesai, Shien berhasil mengambil kesempatan saat Nathan lengah. Karena begitu Dokter tampan itu selesai mengusap wajahnya, Shien langsung menarik kepala Nathan, lalu menceplok wajahnya ke atas kue, membuat wajah tampan itu kini putih semua.
Pada akhirnya, mereka berempat hanyut dalam keseruan bermain lempar krim kue. Nathan dan Shien yang paling parah. Kepala dan wajah mereka nyaris kotor seluruhnya oleh krim berwarna putih itu, bahkan ada satu lilin yang tersangkut di rambut Shien.
Walaupun tidak ada tawa di bibir Shien, tapi jelas gadis itu cukup terhibur dan mampu melupakan kesedihan hatinya untuk sejenak.
“Anak-anak ayo makan kue. . . .” Suara seseorang menghentikan mereka yang masih anteng saling melempar kue, Mama.
Wanita paruh baya itu terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mulutnya sedikit menganga tak percaya, piring kertas dan pisau yang dibawanya terjatuh ke atas rumput. “nya. . . .”
Dan niatnya untuk makan kue bersamapun pupus sudah. Tidak ada yang tersisa dari kue tart berukuran sedang yang sebelumnya ia beli dengan harga mahal itu.
Seingatnya, Mama memang meminta mereka bertiga untuk menghibur Shien. Tapi bukan berarti harus bermain-main dengan makanan. Huuh.
********
Shien duduk di balkon ditemani suara gemericik air hujan yang kembali turun malam itu. Sepertinya musim penghujan mulai datang. Suasana hati Shien cukup membaik setelah kedatangan Nathan, Fina, dan Reno tadi sore.
Walaupun tidak menghilangkan sedihnya. Tapi kedatangan mereka cukup mampu membuat semangatnya untuk menciptakan karya untuk buku barunya yang sempat turun dan otaknya menemui jalan buntu, kini tidak lagi. Berkat mereka, mereka yang mendukung dan menyemangatinya. Ide untuk mengembangkan garis besar cerita yang sudah ia buat kini bermunculan.
Benar kata Reno, masih banyak orang yang ingin melihat dan membuatnya tersenyum. Lantas kenapa ia harus repot bersedih untuk orang yang sudah menyakiti hatinya?
Untuk saat ini, lebih baik Shien fokus untuk mencapai semua daftar keinginannya yang bisa ia capai dengan usahanya sendiri. Meskipun mungkin ada beberapa keinginan yang harus ia hapus dari listnya. Salah satunya untuk menikah dengan Langit.
Entahlah, rasanya itu tidak mungkin.
Tidak akan terjadi karena Shien mungkin akan pergi le luar negeri setelah buku barunya selesai, dan Shien tidak berpikir untuk kembali lagi ke Indonesia setelah itu.
Itu hanya rencana Shien saat ini. Ke depannya tidak ada yang tahu, karena rencana Tuhan terkadang tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan manusia.
Dengan semangat menyala, Shien menghidupkan tablet dan mulai mengembangkan isi ceritanya, tangannya dengan lihai membuat gambar dan mengetikkan sesuatu di atas layar pipih itu. Bibirnya yang pucat kebiruan karena sakit bercampur kedinginan mengukir senyum penuh kemenangan, walaupun itu hanya seulas senyum yang sangat tipis. Sementara tangannya terus beradu dengan imajinasi yang berkejar-kejaran. Apa yang ada di kepalanya kini berpindah ke dalam bentuk gambar dan tulisan.
Mata Shien dipenuhi dengan binar gairah yang sulit dijelaskan. Bahkan malam yang kian larut tak membuatnya merasakan kantuk dan lelah.
Hingga tiga hari berlalu, rancangan buku yang sudah dikembangkan itu sudah jadi. Bola mata berbentuk biji almondnya meninjau ulang naskah yang sudah ia buat, barangkali ada sesuatu yang kurang pas atau harus ditambahkan agar lebih sempurna.
Jemari lentik Shien lantas kembali menari-nari di atas layar. Hanya tinggal memberi judul dan buku barunya benar-benar selesai.
“The Gift Of A Friend.” Shien membaca ulang judul yang baru ditorehkannya. Ia sangat percaya diri, buku barunya ini lebih baik dari yang ia buat sebelumnya, tepatnya karyanya yang dicuri.
__ADS_1
Well, Shien harus berterima kasih pada mereka bertiga yang secara tidak langsung sudah memberinya inspirasi. Mungkin Shien harus mentraktir mereka segelas kopi setelah ini.
Berdiri dari duduknya, Shien lantas menggeliat lebar untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena selama tiga hari ini ia menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan duduk di kursi kerja di kamarnya. Papa dan Mama bahkan sangat khawatir dan terus menegurnya untuk jangan terlalu memforsir diri. Tapi bukan Shien namanya jika tidak keras kepala, semua teguran orang tuanya itu hanya masuk ke telinga kanan, lalu keluar lagi melalui telinga kirinya. Shien tidak peduli. Dan akibatnya, dadanya terasa sangat sakit sekarang.
Shien harus segera menemui Nathan untuk memeriksakan kondisinya sebelum ia berakhir di ranjang rumah sakit lagi.
********
“Aku oke, kan?” Tanya Shien setelah Nathan melepaskan jarum infus di tangannya, setelah beberapa jam yang lalu Shien harus mendapatkan cairan itu karena tubuhnya yang dehidrasi. Jelas, Shien kelelahan dan makan tidak teratur selama tiga hari ini.
“Di sini gak oke.” Jawab Nathan sambil menunjuk letak jantung Shien tanpa menyentuhnya. “Kurangi kegiatan berat dan lebih baik berhenti bekerja mulai sekarang.”
Shien mendesah pelan, lalu berucap dengan ekspresi seperti tidak rela. “Sebentar lagi berhenti kerja, kok.”
“Itu lebih baik.” Sahut Nathan santai.
“Dan satu lagi.” Nathan mengangkat satu jari telunjuknya. Sementara Shien hanya mengangkat sebelah alisnya penuh tanya.
“Jangan stress.” Sambung Nathan sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada dahi Shien.
“By the way, Shanna udah pulang?” Tanya Nathan kemudian sembari membantu Shien turun dari ranjang rumah sakit dan mengajak gadis itu untuk beralih ke ruangannya karena ada sesuatu yang harus mereka bahas terkait pengobatan Shien.
“Belum.” Jawab Shien datar, tapi dalam hatinya ia khawatir. Bagaimanapun, Shanna masih kakak yang disayanginya.
“Terus dia tinggal di mana selama ini?” Tanya Nathan lagi, raut wajahnya terlihat panik.
“Kata Papa, dia tinggal di apartemennya sepupu aku. Tahu kenapa gak mau di ajak pulang.” Jelas Shien, lalu mendudukkan dirinya di kursi ruang kerja Nathan.
“Sepupunya cewek apa cowok?” Nathan terlihat semakin panik, lalu megambil duduk tepat di hadapan Shien.
“Cowok.” Jawab Shien singkat.
“Cewek tinggal di apartemen cowok kok dibiarin, sih?” Sambar Nathan tak terima.
“Yang penting gak ngelakuin apa-apa. Lagian sepupuan.” Balas Shien.
“Tetap aja itu salah.” Sentak Nathan meninju meja kerjanya, membuat Shien sedikit terperanjat kaget.
“Ya udah kalau gak terima jemput sendiri sana.” Sahut Shien sewot seraya mengelus dada, jantungnya berdebar sangat kuat seakan siap untuk keluar dari tempatnya.
********
Sekitar jam setengah lima sore, Shien keluar dari ruangan Nathan. Cukup lama ia menghabiskan waktu di sana karena sempat-sempatnya Nathan curhat di tengah bahasan mengenai pengobatannya. Cih, benar-benar Dokter yang tidak profesional. Baru kali ini Shien menemukan Dokter yang malah berkeluh kesah pada pasiennya.
Shien mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada jam tangan pintar yang dikenakannya, tidak sabar menunggu pintu lift yang akan membawanya turun terbuka.
Shien terkesiap, tapi tidak menunjukkan keterkejutannya. Begitu pintu lift terbuka, ada sekitar enam orang di dalam sana, dua orang di antaranya adalah Langit dan Bisma, kalau tidak salah. Karena sampai saat ini Shien masih belum mampu membedakan mana Bisma mana Albi. Itu cukup normal bagi orang yang baru bertemu satu atau dua kali dan tidak terlalu memperhatikan.
Tanpa senyum atau menyapa, Shien lalu berjalan masuk dengan santai seolah tidak mengenal mereka.
Ia meremas tali tas yang ditenteng menggunakan kedua tangannya. Hatinya kembali sakit, mengingat ucapan Langit yang mengatainya tempo hari. Laki-laki itu bahkan tidak ada niatan untuk meminta maaf selama empat hari mereka tidak bertemu. Padahal, Shien sangat menantikannya.
Shien ingin segera keluar dari rumah sakit ini. Ahh, tidak. Shien tidak ingin berada dalam satu ruangan dengan Langit di mana pun itu.
Langit sudah membuatnya kecewa. Shien ingin mengakhirinya saja. Ya, semuanya sudah berakhir sejak Langit menyangsikannya.
Bergegas keluar setelah lift tiba di lantai tujuannya, namun langkahnya terhenti saat kakinya baru saja menyentuh ambang pintu. Seseorang menarik lengannya dan tubuh Shien kembali tertarik ke dalam lift.
“Lepas.” Shien menyentak cekalan tangan Langit dari lengannya, tapi tidak berhasil. Langit malah mencengkram lengannya semakin kuat hingga Shien merasakan panas di atas kulitnya.
Di dalam lift hanya tinggal mereka berdua, dan Langit membawanya turun ke lantai paling dasar. Parkiran basement rumah sakit yang kala itu cukup sepi.
Langit menyeretnya menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Tidak tahu saja jika kaki Shien masih sakit. Langit tanpa sengaja sudah membuat lukanya kembali terbuka, sehingga rasa perih itu kembali Shien rasakan di kakinya. Tapi, hatinya jauh lebih perih.
“Masuk.” Perintah Langit dingin begitu tiba di depan mobilnya.
Sementara Shien hanya bergeming tanpa ekspresi. Tubuhnya gemetar ketakutan, tapi ia berusaha menunjukkan sikap setenang mungkin.
“Shien, masuk aku bilang.” Titah Langit sekali lagi, nada suaranya sedikit membentak. Namun, Shien tetap mempertahankan dirinya untuk tidak masuk ke dalam mobil itu walaupun Langit berusaha memaksanya.
“Lepasin tangan aku!” Pinta Shien dengan tatapan marah.
Shien tahu Langit cemburu dan marah padanya. Tapi, siapa dia berani meyakitinya seperti ini? Shien tidak bersalah. Langit tidak berhak memperlakukannya dengan buruk seperti ini.
“Shien kamu sengaja bersikap seperti itu? Menunjukkan kalau hubungan kita gak baik-baik aja di depan teman aku, iya?” Seru Langit dengan tatapan dan suara yang terdengar tidak ramah dan dipenuhi emosi.
Shien tersenyum miris dalam hati. Langit sangat peduli tentang hal itu. Tapi dia sama sekali tidak peduli dengan perasaannya.
“Maaf, tapi aku gak suka berpura-pura.” Balas Shien dingin sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Langit.
“Lagian hubungan kita emang gak baik-baik aja. Dan lebih baik kita. . . .”
“SHIENNA.” Bentak Langit, menghentikan kalimat yang hendak Shien ucapkan. Dan Langit tidak akan menyukainya jika itu sampai terlontar.
“Kamu sendiri yang membuat aku memilih untuk ini.” Seru Shien sambil tersenyum getir, matanya mulai berkilat-kilat.
Selanjutnya, ia berhasil menghempaskan tangan Langit hingga terlepas dari lengannya. Namun itu membuat tas yang ditentengnya terjatuh hingga isi di dalamnya berhamburan. Termasuk tiket pesawat one way flight tujuan Berlin, Jerman, tidak luput dari pengawasan Langit begitu benda itu terjatuh.
“Shien, apa maksudnya ini?” Langit mengambil tiket pesawat tersebut.
“Bukan urusan kamu.” Shien merampas kasar tiket tersebut, lalu memasukkannya ke dalam tas bersama dengan barang lain yang ia masukan secara sembarang.
“Shien, kamu gak berencana untuk pergi, kan?” Tanya Langit hati-hati, lalu berusaha meraih tangan Shien. Namun, Shien segera beranjak berdiri setelah dirasa semua barangnya sudah masuk kembali ke dalam tas, kemudian ia berlalu tanpa kata-kata dari hadapan Langit yang masih membutuhkan penjelasan.
********
__ADS_1
To be continued. . . . .