So In Love

So In Love
EP. 11. Love You More Than Anything


__ADS_3

********


“Di mata kamu dia gimana? Apa kamu tertarik sama dia?” Sejenak Shien tertegun mendengar pertanyaan Shanna yang satu ini.


“I think he’s a good person.” Komentar Shien setelah sejenak berpikir, mencoba menilai, lalu mengira-ngira orang seperti apa itu Langit setelah beberapa kali bertemu.


“I think so, dia punya hati yang hangat. Aku suka dia.” Sahut Shanna menyetujui ucapan Shien. Senyumnya mengembang, membayangkan senyum manis dan wajah tampan Langit. Baru beberapa hari Shanna mengenalnya, tapi Langit sudah membuatnya nyaman. Ya, Shanna merasa nyaman saat berada di dekat Langit.


“Mudah banget bilang suka, baru kenal juga.” Cebik Shien.


“Baru kenal atau udah kenal lama, itu gak ada hubungannya. Lagian kita kalau jadi orang tuh harus ekspresif, kalau suka ya bilang suka, kalau enggak ya enggak.” Balas Shanna enteng. Ya, kepribadian Shanna memang percaya diri dan sangat ekspresif.


“Dan akhirnya aku menemukan orang yang bener-bener aku sukai.” Lanjut Shanna sambil meletakkan telapak tangan di dadanya, tepat dimana letak jantungnya berada. Ini pertama kalinya Shanna merasakan jantungnya berdebar karena seorang laki-laki. dan laki-laki itu adalah Langit. Walaupun ia menyukai semua laki-laki berwajah tampan di dunia ini, tapi hanya Langit yang berhasil mendapatkan hatinya.


“Diantara banyaknya cowok yang kamu goda?” Sambar Shien dengan tatapan penuh ledekan. Shanna yang mendengar penuturan adiknya lantas mendengus tak terima. “Aku bukan menggoda mereka, tapi itu proses untuk mencari yang terbaik dari yang terbaik.” Koreksi Shanna dengan percaya diri. Shien hanya menjulurkan bibir bawahnya seolah mencibir.


“Dan aku pikir, Langit yang terbaik. Aku harus mendapatkannya.” Imbuh Shanna, kedua tangannya meraih udara, membayangkan seolah ia tengah menangkap Langit.


“Gimana kalau dia gak suka sama kakak? Atau udah punya seseorang yang disukai?” Tanya Shien seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


“Aku akan menyingkirkan mereka semua dan terus berusaha mendapatkan hatinya.” Jawab Shanna dengan wajah geram, kini tangannya terlihat mencakar-cakar udara, seolah ia tengah menyingkirkan siapa saja yang berani menghalanginya untuk mendapatkan Langit. Shien yang melihat itu lantas pura-pura bergidik takut.


“Kecuali . . . .” Shanna tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada sang adik. Shien terdiam, menatap Shanna dengan sebelah alis terangkat, menunggu gadis itu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Kamu.” Sebelah alis Shien yang terangkat seketika turun, berubah dengan kernyitan dalam pada dahinya. Wajahnya terlihat bingung, gagal mencerna apa maksud perkataan Shanna.


“Kalau dia suka sama kamu dan atau kamu suka sama dia, aku akan melepaskannya buat kamu.” Terang Shanna kemudian. Kata-katanya terdengar tulus, begitupula dengan sorot matanya.


“Kenapa?” Tanya Shien heran. Rasanya penuturan kakaknya itu tidak benar.


“Karena aku kakak kamu.” Shien tertegun, lantas memandang kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Cause i love you more than anything.” Tambah Shanna sembari melemparkan senyuman tipis.


“Apa aku harus terharu? Kakakku benar-benar baik.” Shien tersenyum geli. Ia tak menyangka, kakaknya yang sombong dan terkadang suka merundung orang, bisa mengatakan hal seperti ini padanya. Tidak. Lebih tepatnya, Shanna hanya bisa bersikap baik pada Shien. Sejak dulu hingga sekarang, itu tidak pernah berubah.


“Ohh, silahkan terharu sampai nangis bombay. Orang lain gak gak seberuntung kamu yang punya kakak sebaik ini. Dia bahkan bisa merelakan cintanya. Hiks.” Shanna berujar bangga, kemudian memasang ekspresi pura-pura sedih.


Shien yang melihatnya langsung melemparkan keripik kentang yang tadi berserakkan di tempat tidur ke wajah Shanna dengan gemas dan kesal sekaligus.


“Terima kasih sebelumnya, tapi itu gak bakalan terjadi. Dan aku gak tertarik sama dia.” Sahut Shien dengan penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.


“Itu sekarang, gak tahu kalau nanti.” Cebik Shanna diiringi kerlingan mata meledek.


“You’re so annoying.” Shien mendelikkan matanya sebal.


“Udah sana pergi, aku mau istirahat.” Usirnya kemudian, membuat Shanna mendengus. Kemudian dengan terpaksa, ia beranjak dari tempat tidur Shien.


“SHANNA.” Teriak Shien kesal saat Shanna dengan jahilnya melemparkan beberapa keripik kentang ke atas tempat tidur, sehingga membuat tempat tidur itu semakin kotor.


Shanna yang diteriaki hanya menjulurkan lidahnya untuk kemudian ia ngacir keluar dari kamar Shien.


********


“Shi, bangun! Udah jam berapa ini?” Seru Mama sambil mengetuk pintu kamar Shien dengan sedikit keras. Wanita paruh baya itu ingin langsung masuk, tapi sayang pintunya dikunci.


Shien yang mendengar suara ketukan pintu tersentak, lalu terbangun dengan jantung berdebar cepat. Ahh, penyakit jantungnya membuat Shien mudah sekali terkejut.


Dengan segera, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Perasaan tadi malam ia sudah memasang alarm tepat jam lima pagi, tapi ia tidak mendengar alarm itu berbunyi. Ternyata ia hanya mengatur jam tanpa menekan tanda on.


Sialan. Rencananya untuk melakukan pelarian yang sudah ia pikirkan dengan matang lenyap sudah. Shien tetap harus ikut sarapan bersama. Makan malam tadi saja sudah terasa menyesakkan. Apalagi sarapan kali ini. Masalahnya, hari ini Papa datang dan pasti ia akan bertemu dengannya di meja makan untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya. Shien enggan bertemu dengannya, ia masih takut, marah, dan kecewa tentunya. Ahh, pokoknya ia akan kabur saja hari ini dan tak kembali. Ia akan menyewa kamar VIP rumah sakit untuk penginapannya, sehingga ia tidak perlu kawatir kalau tiba-tiba terkena serangan jantung.


Shien lantas beranjak dari tempat tidurnya dengan seribu satu kutukan, sebelum kemudian ia membuka pintu kamarnya untuk Mama. Wanita paruh baya itu sudah terlihat rapi. Memang selalu seperti ini sejak dulu.


Diam-diam Shien tersenyum miris, dulu ia sangat merindukan Mama membangunkannya di pagi hari seperti ini. Terakhir kali wanita itu melakukannya adalah saat ia berusia enam tahun, sebelum mengabaikannya.


“Kenapa kamu baru bangun jam segini? Ayo cepet mandi.” Mama sedikit berteriak heboh, lalu mendorong Shien ke dalam kamar mandi. Tapi sebelum Shien benar-benar masuk ke kamar mandi, Mama berpesan. “Hari ini gak usah masuk kerja dulu.”


Shien yang sudah ada di dalam kamar mandi memasang raut wajah bingung, merasa aneh dengan kehebohan Mama. Aneh sekali wanita itu.

__ADS_1


Shien keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya berbalutkan handuk, ia tersentak melihat Mama yang masih ada di kamarnya. Bukan. Sepertinya wanita itu kembali ke kamar Shien dengan membawa sebuah square neck dress berwarna netral yang dilengkapi dengan belt klasik. Akan terlihat feminim dan chic jika Shien mengenakannya, sesuai dengan gaya Shien selama ini.


“Kamu pake baju ini, ya.” Mama mengangkat hanger sedikit tinggi.


“Aku bawa baju sendiri.” Ujar Shien dingin dan berlalu begitu saja menuju kopernya.


Dulu ia mungkin akan senang jika Mama menyiapkan bajunya seperti ini. Tapi, tidak untuk sekarang.


Sekali lagi, Mama kembali menghembuskan napas berat. Tatapannya tampak sayu, mengikuti gerak-gerik Shien yang tengah mengambil baju dari dalam kopernya.


Ia tahu, sudah terlalu terlambat melakukan hal ini pada Shien. Bertahun-tahun ia memiliki kesempatan untuk memberi Shien perhatian lebih, tapi tak dilakukannya. Begitu pula Papa. Keduanya tidak melakukannya. Dan sekarang sudah sangat terlambat, hingga akan sulit memulainya kembali. Atau mungkin tidak bisa memulainya kembali. Shien sudah terlalu marah.


“Maafin Mama dan Papa, Shi.” Dan kalimat itu hanya bisa Mama ucapkan dalam hatinya, ia terlalu malu untuk mengutarakannya secara langsung. Apa yang dilakukannya pada Shien terlalu buruk, ia sadar akan hal itu.


Shien benar-benar menolak baju yang sudah disiapkannya. Lantas dengan hati yang sedih, ia berjalan menuju lemari untuk menyimpan baju itu, berharap suaru saat Shien mau memakainya.


“Ayo.” Seru Mama langsung menarik lengan Shien begitu gadis itu keluar dari kamar mandi setelah gadis itu mengenakan pakaiannya. Mama sangat bersemangat, bahkan tidak mengizinkan Shien untuk menyisir rambutnya terlebih dahulu.


Shien dengan wajah yang masih bingung dibawa ke ruang tengah rumah itu. Ruang tengah yang bahkan tadi malam masih melenggang sepi tanpa ada dekorasi apapun. Kini ruang tengah itu ramai dengan pita-pita, balon, dan juga sajian makanan. Terlihat juga dinding ruangan dipasang tirai rumbai backdrop warna emas. Dan yang paling terlihat nyentrik adalah dua buah kue ulang tahun berbeda warna dengan masing-masing lilin angka dua puluh lima tahun di atasnya.


Cukup lama waktu yang dibutuhkan Shien untuk mengambil kesimpulan bahwa seseorang tengah berulang tahun hari ini.


Saat melihat Shanna yang tampak tersenyum semringah dengan mengenakan topi ulang tahun kerucut motif polkadot di kepalanya sambil meniup-niup pluit lidah mini, Shien menyadari bahwa hari ini ulang tahun Shanna. Dan itu berarti, ulang tahunnya juga.


Ia menatap sendu semua dekorasi ulang tahun itu. Terakhir kali ia berulang tahun di sini hanya ditemani bibi pengasuh, sementara Mama dan Papa pergi merayakan ulang tahun Shanna di restoran dengan mengundang teman-teman sekolah Shanna. Ia selalu tertinggal, sendirian. Yaa, walapun mereka masih punya hati memberikannya hadiah.


“Happy birthday.” Seru Mama sambil mendaratkan ciumaan di kedua pipi Shien, membuat gadis itu terbengong-bengong. Ia bergeming di tempatnya, masih terkejut dengan keadaan yang menurutnya sangat kacau ini.


“Kalian gak saling ngasih selamat?” Tanya Mama yang otomatis menghentikan keasyikan yang tengah dilakukan anak kembarnya itu. Shanna yang masih asyik bermain-main dengan pluit seolah baru pertama kali melihatnya, serta Shien yang masih asyik dengan keterkejutannya.


“Selamat ulang tahun, Shien . . . .. Teet.” Shanna dengan jahi meniup pluit tepat di telinga Shien, hingga berhasil membuat sang melemparkan tatapan tajam padanya.


“Hmm. Selamat juga.” Balas Shien bergumam tak jelas. Shien mendengus kesal dengan respon sang adik.


Mama memandang mereka bergantian, tapi ia langsung maklum. Sifat Shanna dan Shien sangat berbeda 180 derajat.


Sejurus kemudian, sesosok laki-laki paruh baya muncul dari arah pintu depan. Papa.


Laki-laki yang katanya selalu menjadi sosok superhero bagi anaknya, selalu ada saat anaknya membutuhkan bantuan, selalu ada di setiap saat, sehingga memberikan ketenangan akan kehadirannya. Kini ada di hadapan Shien.


Mendadak tangan Shien gemetar melihat kedatangan Papa yang begitu tiba-tiba.


Sekali lagi, semua kenangan tak menyenangkan berkelebat di otak Shien dengan cepat hingga membuatnya pusing.


“Ambil Shien sebagai gantinya.”


“Kenapa harus Shawn yang diambil?”


“Dari dulu kamu hanya bisa menyusahkan orang lain, Shien.”


“Mulai sekarang, jangan pernah sekali-kali lagi kamu keluar dari rumah. Dan jangan berharap bisa berteman dengan siapapun. Kamu hanya akan merepotkan mereka kalau kamu memilikinya.”


Terutama kalimat-kalimat itu. Semua kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala dan begitu menancap dalam hatinya. Ahh, dadanya menjadi sesak sekarang.


“Shien.” Panggil Papa yang berjalan mendekatinya. Shien terpaku, memandang sosok itu tanpa ekspresi.


Laki-laki paruh baya itu nampa hendak memeluk Shien, namun gerakannya seketika terhenti saat Shien dengan refleks memundurkan tubuhnya.


Papa sejenak mematung, menatap putri bungsunya dengan tatapan sedih. Sebegitu marahnya kah Shien padanya hingga gadis itu bahkan enggan untuk melihatnya? Lantas ia tersenyum getir, teringat letak kesalahannya pada anak itu.


“Apa kabar, Nak? Maaf, Papa gak ikut sama Mama buat jemput kamu kemarin.” Papa kemudian dengan cepat meraih kedua tangan Shien, membuat gadis itu semakin membeku.


“Terima kasih mau kembali ke rumah ini. Welcome home.” Ujar Papa kemudian dengan penuh haru, terlihat benih-benih air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Tak lupa, bibirnya menyunggingkan senyum bahagia walaupun tipis.


Shien masih bergeming, kepalanya begitu pusing dengan perlakuan kedua orang tuanya yang mendadak berubah seperti ini. Walaupun ia menangkap ketulusan dalam kata-kata Papa, tapi hatinya terlalu terluka. Katakanlah ia pendendam karena Shien benar-benar tidak bisa semudah itu menerima mereka kembali dalam hatinya.


“Sebelumnya cukup baik.” Shien menghempaskan genggaman tangan Papa.


“Dan aku di sini cuma bertamu.” Lanjut Shien penuh penekanan.


Shien sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian berlalu pergi dengan cepat. Mengabaikan Shanna yang terus meneriakinya agar ia kembali dan mengabaikan kedua orang tuanya yang menatap kepergiannya dengan sedih. Mama bahkan tak bisa menahan tangisnya lagi. Mungkinkah ini hukuman untuknya? Hukuman untuk seorang ibu yang sudah tega mengabaikan anaknya? Ia bahkan tidak mendengar putrinya itu memanggilnya “Mama.” sejak mereka bertemu kembali.

__ADS_1


********


Shien keluar dari rumah dengan langkah cepat. Hatinya perih, diremasnya pinggiran dress yang dikenakannya seolah menyalurkan semua emosi di sana.


Shien ingin berteriak dengan keras kepada kedua orang tuanya, memuntahkan segala rasa yang selama ini hanya ia pendam dalam hatinya. Namun mendadak lidahnya kelu saat dirinya ingin melakukan itu. Mungkinkah ini karena Tuhan menjaganya agar ia tidak menambah daftar dosanya pada kedua orang tua, karena membenci mereka saja sudah durhaka?


Shien dengan cepat menghentikan taksi, lalu menaikinya dan meminta sopir untuk jalan tanpa tujuan. Entahlah, saat ini otaknya seakan menolak untuk memikirkan apa-apa.


Shien terlalu terguncang dengan semua ini. Jelas saja, hidupnya yang semula setenang air seketika bergerak mengombak tatkala kedua orang tuanya datang dan membuka luka lama.


“Maaf. Ini mbaknya mau diantar kemana?” Tanya sopir taksi karena sejak tadi ia menjalankan mobilnya tanpa tujuan.


“Mbak . . . .” Panggil sopir taksi sekali lagi saat Shien tak kunjung menyahutinya.


“Ehh . . . .” Shien tersentak. “Kantor Snow Candy, Pak.” Lanjut Shien saat ia tersadar dan mulai berpikir kembali. Ya, tempat itu satu-satunya yang ia bisa tuju sekarang. Ia butuh untuk menenangkan diri sejenak.


“Sudah sampai, Mbak.” Shien yang sepanjang perjalanan terus tenggelam dalam pikirannya kembali tersentak dengan seruan sopir taksi.


Tak lantas turun, Shien masih bergeming duduk di tempatnya. Ia mendengus saat teringat sesuatu. Ia keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa.


“Maaf, Pak. Bisa tunggu sebentar di sini? Saya ambil uang dulu ke dalam.” Tanya Shien seraya menunjuk kantornya. Sopir taksi dengan sikap ramah mengiyakannya.


Tak lama kemudian, ia kembali bersama Fina yang membuntutinya, lalu meminta gadis itu untuk membayar tarif argo taksi yang ditumpangi Shien.


“Makannya kalau mau melarikan diri tuh prepare dulu.” Omel Fina mencibir seraya berdecak geli sesaat setelah taksi yang tadi ditumpangi Shien berlalu.


“Fina, pinjami aku uang.” Tak mengindahkan cibiran Fina, Shien menadahkan tangannya pada Fina yang masih memegang dompetnya.


Fina menghela napasnya sebelum kemudian bertanya. “Butuh berapa?”


“Sepuluh lembar.” Jawab Shien enteng.


“Yang merah.” Imbuhnya tak tanggung-tanggung, membuat Fina mendengus. Namun, Fina tetap merogoh dompetnya dan menghitung uangnya untuk memastikan uang yang diminta Shien ada berjumlah sepuluh.


“Aku bayar dua kali lipat.” Seru Shien yang sontak membuat Fina mendongak ke arahnya dengan senyum semringah.


“Yang bener?” Tanyanya dengan mata berbinar.


“Tapi itu artinya riba, dan uang riba itu haram.” Fina yang tadi merasa sudah terbang tinggi di angkasa, serasa dihempaskan begitu saja. Ya, lagipula kenapa ia harus mendengarkan Shien? Dia itu ahlinya membuat orang kesal.


“Thanks. Aku kembaliin nanti malem.” Shien mengacungkan sepuluh lembar uang seratus ribuan yang baru saja disrahkan Fina.


“Kamu mau kemana?” Fina menahan lengan Shien yang hendak berlalu begitu saja setelah mendapatkan uang.


“Jalan-jalan sebentar di dekat sini. Lagian, mana bisa pergi jauh dengan uang segini.” Fina yang mendengar penuturan Shien hanya memutar bola matanya jengah. Ya, bagi Shien mungkin sedikit. Tapi itu jatah jajannya sepuluh hari.


“Hiish, udah sana pergi. Bawa ini.” Usir Fina seraya menyerahkan kartu nama miliknya. Shien yang melihat itu mengernyitkan keningnya tak mengerti.


“Kamu gak bawa apapun. Aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Kalau kamu tiba-tiba pingsan, orang yang menemukan kamu bisa langsung hubungi aku.” Jelas Fina seolah mengerti kebingungan Shien.


Tanpa banyak bicara lagi, Shien lantas merampas dengan cepat kartu nama dari tangan Fina, sebelum kemudian ia berlalu.


********


Shien berjalan masih dengan langkah sedikit pincang karena luka di kakinya belum sepenuhnya pulih. Ia tak tahu mau kemana, yang jelas hanya ingin berjalan saja. terserah langkah kakinya akan membawanya kemana.


Hingga akhirnya, langkahnya terrhenti saat ia melihat sebuah taman yang letaknya memang tak jauh dari Snow Candy. Ia baru tahu ternyata ada tempat seperti ini di sini. Sebuah taman yang cukup asri dengan lapangan basket di tengahnya, serta beberapa kursi taman di pinggirannya.


Seolah taman itu telah menghipnotisnya, tahu-tahu kakinya melangkah begitu saja memasuki taman itu.


Pandangannya mengedar, mengitari keseluruhan taman. Taman ini cukup mirip dengan taman yang ada di kompleks perumahannya. Ralat. Rumah orang tuanya. Dan Shien hanya pernah mengunjunginya satu kali ke sana yang berakhir dengan kejadian Shanna terjatuh. Sekarang ia bisa bebas bermain di manapun.


Sejurus kemudian, Shien duduk bersandar di bawah pohon akasia besar yang terletak persis di samping lapangan untuk menghindari sengatan cahaya matahari yang semakin siang kian menyengat.


Pandangannya menatap kosong ke sembarang arah. Pikirannya lantas melayang tanpa permisi memutar memori masa kecilnya. Shien tidak berusaha menepisnya, ia membiarkan otaknya memutar kenangan masa kecilnya seperti sebuah film hingga mengantarkannya tertidur. Entahlah, Shien juga tak tahu kenapa tiba-tiba matanya menjadi berat seperti ini. Mungkin ini bentuk pelarian dari perasaannya yang gamang saat ini.


Beberapa jam kemudian, Shien terbangun saat ia hampir saja menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Ia terkejut dan langsung membuka matanya seketika.


Ia mendesis pelan saat merasakan kepalanya sedikit pusing. Tidak hanya itu, perutnya juga sedikit perih. Jelas saja, ia belum makan sedari pagi. Benar kata Fina, seharusnya ia prepare dulu sebelum melarikan diri. Minimal ia makan dulu tadi. Benar-benar menyiksa diri.


“Fotosintesis . . . .” Shien yang baru saja menenangkan diri karena keterkejutannya yang terbangun dari alam mimpi secara paksa, kembali dibuat terkejut saat seseorang menempelkan sesuatu yang dingin ke pipinya.

__ADS_1


********


To be continued . . . .


__ADS_2