So In Love

So In Love
EP. 57. Makanan Pembuka


__ADS_3

Harap dinikmati walaupun alurnya sedikit lambat, jangan bosan. Cerita ini gak bakalan lebih dari 110 episode, kok. Soalnya kalau lebih, judulnya udah dipastikan bukan So In Love lagi. Tapi Tukang Bubur Naik Pangkat. 😊


********


Setelah Mama meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu, tanpa berlama-lama lagi, Langit menghampiri Shien yang sedang duduk bersandar di atas ranjang pasiennya. Gadis yang masih mengenakan seragam pasien itu terlihat sangat bosan di sana, meskipun raut wajahnya datar.


Langit merasa lega. Pasalnya, sudah terhitung empat kali ia datang ke ruang rawat Shien di sela-sela ia mengerjakan perkerjaannya, namun yang ia dapati hanyalah Shien yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasiennya. Kekhawatirannya karena takut jika gadis itu tidak bangun lagi perlahan menghilang.


Langkah Langit berhenti tepat di samping ranjang pasien Shien. Ia menyunggingkan senyum hangat pada gadis yang sedang menatapnya dengan tatapan datar itu.


Tanpa melontarkan kalimat sapaan, dengan cepat Langit merengkuh tubuh Shien dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


“Aku seneng banget kamu udah bangun.” Ujar Langit, lalu membenamkan ciumannya di puncak kepala Shien dalam-dalam.


Shien memejamkan matanya kala merasakan bibir Langit menempel lekat di puncak kepalanya. Hatinya yang sudah terpaut sepernuhnya dengan Langit mulai bisa merasakan cinta laki-laki itu melalui ciuman di puncak kepalanya itu.


“Kamu baik-baik aja, kan?” Tanya Langit seraya menarik diri, membuat sedikit jarak antara dirinya dan Shien.


Gadis itu hanya mengangguk lemah.


“Maaf.” Ujarnya lirih, membuat Langit mengernyitkan keningnya bingung.


“Lho, kok minta maaf?”


Langit melepaskan diri, kemudian duduk di sebelah Shien. Ia menatap gadis itu penuh tanya. “Minta maaf buat apa?”


Shien menghembuskan napas berat, bola mata jernihnya menatap Langit sendu. “Karena seharusnya kita kencan hari ini. Tapi, aku malah masuk rumah sakit.”


Gadis itu lantas menunduk sedih, mengingat rencana kencannya bersama Langit harus gagal karena ia jatuh sakit.


Meletakkan buket bunga yang dibawanya ke atas pangkuan gadis itu, lalu satu tangannya terulur mengangkat dagu Shien hingga pandangan mereka kembali bertemu. “Aku udah pernah bilang belum, kalau kita juga bisa kencan di rumah sakit?”


“Di rumah sakit?” Ulang Shien dengan alis terangkat sebelah seraya menepis tangan Langit yang berada di dagunya.


“Yep.” Langit mengangguk, lalu tersenyum nakal. “Malah lebih berkesan dan menantang.”


Mengerjap bingung, Shien kemudian mengerutkan dahinya. “Menantang?”


Langit menatap gemas wajah Shien yang terlihat polos. Sebelum bibirnya siap terbuka untuk mengeluarkan sebuah kalimat, Langit terlebih dahulu menariknya membentuk seringai mesum.


“Karena kita harus waspada kalau mau melakukan ini. . . .” Lalu dengan cepat ia menyambar bibir Shien yang pucat dan sedikit kering itu.


Shien sontak membelalak kaget dengan mulut terperangah tak percaya. Apa-apaan coba laki-laki ini? Bagaimana jika ada seseorang masuk dan melihat apa yang baru saja Langit lakukan? Apa ini yang dimaksud dengan waspada dan menantang menurut Langit tadi? Waspada terhadap siapa saja yang mungkin memergoki mereka sedang bermesraan, sehingga itu menjadikan tantangan tersendiri.


Huuh, dasar tikus mesum. Sejak awal, definisi kencan yang menurut Shien adalah melakukan kegiatan menyenangkan bersama seperti halnya jalan-jalan mengunjungi spot-spot yang menarik. Berbanding terbalik dengan definisi kencan menurut Langit yang hanya memikirkan skinship, skinship, dan skinship.


Skinship yang sebenarnya adalah hal yang tabu di negara kita tercinta, Indonesia, yang masih memegang teguh adat ketimuran dan agama yang kuat. Pengaruh dari negara luar yang bebas memang tidak bisa dicegah atau ditahan hingga berhasil menerobos adat dan norma yang berlaku di masyarakat. Hanya saja, itu kembali pada pribadi masing-masing. Berusaha menghindari budaya seperti itu atau tidak? Hanya diri sendirilah yang bisa menentukannya. Tapi, ingat! Selalu ada konsekuensi untuk setiap pilihan yang diambil. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.


So, jangan mengikuti cara Langit dan Shien dalam mengekspresikan cinta mereka ya pemirsah!


Langit kembali tersenyum nakal. Sebelah tangannya lantas terangkat untuk mengelus pipi Shien, lalu turun menuju bibirnya yang baru saja ia cicipi. “Gimana? Menantang, kan?” Kemudian menaik turunkan alisnya.


Shien mendengus. Lantas satu pukukan mendarat keras di lengan kekar Langit. “Ngaco kamu.” Sungutnya kesal sambil mencebik, dan hal itu justru malah membuat Langit terkekeh geli melihatnya. “Bisa gak, sekali aja kita kencan tanpa skinship?”


“Mana mungkin bisa?” Sahut Langit cepat. “Paling enggak, kan, kita harus pegangan tangan. Masa iya pacaran jaga jarak, emangnya truk?”


Shien memutar bola matanya jengah, lalu menghembuskan napasnya cepat untuk kemudian ia berujar. “Maksudnya tanpa peluk sama cium, terus tangan kamu gak menggerayang ke mana-mana.”


“Ohh, gitu. Bisa, sih. . . .” Langit megangguk-anggukan kepala. “Tapi boong.” Lanjut Langit, diirigi gelak tawa kencang setelahnya.


Shien yang melihat Langit begitu menyebalkan lantas memukulinya dengan buket bunga yang diberikan laki-laki itu hingga membuat semua mahkota bunga Mawar merah itu berhamburan, terlepas dari daun pelindungnya.

__ADS_1


“Becanda, Shi, ya ampuun.” Langit menahan lengan kanan Shien yang digunakan untuk memukulinya agar gadis itu berhenti.


Shien mendengus, lalu melemparkan buket bunga tersebut ke arah Langit yang sepertinya masih enggan meredakan tawanya.


“Iya, Shi, iya.” Langit berusaha meredam tawanya. Sementara Shien hanya mendelik sebal.


“Besok, kita kencan kelilirng rumah sakit ini. Tanpa skinship, aku janji cuma pegangan tangan doang.” Langit mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V, seolah menunjukkan keseriusan atas ucapannya.


Shien memicingkan matanya tak percaya. Karena biasanya, laki-laki itu lain di mulut lain di tindakan. Apalagi, Langit bermulut manis yang bisa saja ucapannya itu hanya digunakan untuk mengelabui Shien.


“Serius, Shi.” Ucap Langit meyakinkan.


“Tapi, kencan di rumah sakit apa yang bisa dilihat? Dari ujung ke ujung udah jelas isinya orang sakit semua.” Ujar Shien mencibir, merasa tidak ada yang menarik sama sekali dengan rumah sakit ini.


“Ihh, kamu kurang jauh mainnya. Besok aku bakalan tunjukin kalau rumah sakit ini gak kalah menarik dari John Hopkins.” Sahut Langit layaknya tour guide yang sedang memberi informasi pada wisatawan.


Shien hanya mengganggukkan kepala untuk kemudian pandangannya jatuh pada sebuah paper bag kecil yang masih menggantung di pergelangan tangan Langit.


“Itu apa?” Tanyanya seraya mengedikkan dagu ke arah paper bag kecil itu.


Langit menepuk jidatnya sendiri. “Hampir aja lupa.” Lalu mengeluarkan bungkusan itu dari pergelangan tangannya.


“Aku udah beli cincin baru.” Ujarnya sambil mengeluarkan kotak perhiasan berwarna hitam dari dalam paper bag.


Shien bergeming menatap sepasang cincin dengan model yang cukup unik yang berdiri dengan manis di dalam kotak. Cincin pasangan dengan model rantai DNA ganda atau dalam istilah lain double helix.


Tapi, cincin baru itu sepertinya sudah tidak perlu. Karena kemarin lusa, Shien sudah menemukan cincin lamanya.


Heran sekali, padahal Shien sudah menyisir seluruh ruang kamarnya bahkan sampai celah terkecil untuk mencari cincinnya, tapi tidak menemukannya sama sekali. Dan saat ia sudah menyerah untuk mencarinya, tiba-tiba saja benda kecil berkilauan itu sudah berada di bawah meja riasnya saja.


“Cantik, kan, Shi?”


“Ya?” Shien terhenyak gelagapan saat suara Langit kembali berdengung di telinganya. “Kenapa?”


Shien mengerjap aneh, lalu dengan gerakan perlahan ia mengangkat tangan kirinya yang dipasang infus, menunjukkan cincin sebelumnya yang diberikan Langit sudah kembali tersemat di jari manisnya. “Ini udah ketemu.”


Langit bergeming menatap cincin itu. Sepertinya Shanna sudah mengembalikannya.


Langit memang tidak menceritakan apa yang sudah Shanna lakukan waktu itu karena tidak ingin membuat Shien khawatir. Saat itu Langit hanya menceritakan pada Shien bahwa ia sudah mengatakan hubungan mereka pada orang tua Shien dan juga Shanna saat makan malam.


Biarlah yang terjadi sebenarnya saat itu hanya ia dan Shanna yang tahu. Langit akan menyimpannya sendiri.


“Yang itu kamu simpan aja.” Sahut Langit “Atau buang juga boleh.” Lanjutnya terdengar enteng, membuat wajah Shien langsung merengut dan segera menyembunyikan tangan kirinya ke dalam selimut. Sayang sekali jika cincin berharga puluhan juta itu dibuang. Apa Langit becanda? Dasar gila.


“Sini tangan kamu.” Langit meminta Shien untuk mengulurkan tangan kirinya yang malah disembunyikan.


Shien menggeleng. “Aku suka yang ini.” Tolaknya kemudian.


“Tapi aku gak suka, modelnya kurang greget.” Ujar Langit. “Udah sini, ahh. Jangan membantah calon suami. Durhaka.” Lantas dengan gemas ia menarik tangan kiri Shien untuk mengganti cincinnya dengan yang baru.


“Itu dalil dari mana?” Protes Shien di sela-sela kegiatan Langit mengeluarkan cincin lama dari jari manisnya. Mana ada membantah calon suami itu durhaka? Ck, ada-ada saja yang keluar dari mulut laki-laki ini.


“Tuh kan, bagusan yang ini.” Langit tak mengindahkan pertanyaan Shien. Ia tersenyum memperhatikan cincin baru pada jari manis gadisnya itu. Ia kemudian memakaikan cincin pada jari manisnya sendiri.


“Iya. Tapi sayang yang ini gak kepake. Boros kamu.” Tegur Shien.


“Ihh, kamu sendiri yang gak bilang kalau cincinnya udah ketemu. Aku sih udah terlanjur beli yang baru, gak ada niat buat boros.” Balas Langit yang membuat Shien terdiam tak bisa melawan kata-katanya. Memang ada benarnya, sih. Tapi, kan, Shien tidak tahu kalau ternyata Langit akan membeli cincin baru secepat ini.


“Sini.” Langit merentangkan tangannya. Sedangkan Shien hanya memandang tangan itu dengan kening mengernyit. “Ayo peluk.” Ucapnya lagi.


“Kan kamu udah janji gak ada skinship kayak gitu.” Shien bergerak defensif begitu Langit mendekatinya.

__ADS_1


“Kan aku bilangnya besok, kalau kamu lupa.” Langit mengingatkan dengan tatapan penuh cibiran. Bibir Shien tertarik lucu, ia kalah lagi.


“Tapi tetap aja gak mau. Aku gak mau ya kena gep lagi kayak di kantor waktu itu.” Tutur Shien, mengingat betapa malunya ia saat Fina memergokinya dengan Langit hampir berciuman.


“Gak bakalan. Tante Risa pasti masih asyik minum kopi.” Lalu dengan jahil, Langit menyambar pipi Shien sekilas.


“Ihh.” Dan perlakuan jahil Langit itu membuat Shien mendaratkan pukulan keras pada lengan bahunya hingga membuat Langit meringis.


“Pergi sana.” Usir Shien kemudian.


Langit mendesis pelan dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. “Jahatnya.” Dan Shien hanya mengedikkan kedua bahunya tidak peduli.


“Kamu belum ganti baju.” Ucap Shien seraya menyandarkan tubuhnya kembali pada sandaran ranjang. Sorot matanya tidak lepas mengamati Langit yang masih mengenakan seragam scrubnya, menandakan jika laki-laki itu baru selesai mengoperasi atau memeriksa pasiennya.


“Beres kerja aku langsung ke sini. Tapi gak bau, kok.” Sahut Langit seraya mengendus aroma tubuhnya sendiri yang memang masih wangi.


“Tapi udah makan?” Tanya Shien. Mengingat ucapan Langit yang mengatakan langsung menemuinya begitu pekerjaannya selesai. Jadi, ada kemungkinan jika laki-laki itu belum menyentuh makan malamnya.


“Belum.” Langit menggeleng pelan. “Tapi, lihat kamu bangun dan udah galak lagi, itu udah buat aku kenyang, kok.” Kelakarnya kemudian. Shien yang mendengar itu hanya mendengus geli sambil geleng-geleng kepala.


“Terus, ini suara perut siapa?” Tanya Shien dengan tatapan mencibir, bibirya terlipat sedikit karena menahan tawa. Ckckck, lain kali, gombal itu harus sedikit lebih realistis.


“Shien, itu gak sopan. Harusnya kamu pura-pura gak denger.” Protes Langit karena merasa dipermalukan. Sedangkan Shien hanya menjulurkan bibir bawahnya meledek.


“Sana cari makan.” Titah Shien masih menahan tawanya.


Langit mendengus melihat Shien yang masih saja meledeknya. “Nanti aja, deh. Nunggu Tante Risa balik.”


“Tapi. . . .” Langit lantas menoleh ke arah pintu ruangan yang masih tertutup rapat untuk memastikan tidak ada tanda-tanda seseorang akan masuk ke dalamnya. Ia kemudian memutar kembali kepalanya sembari melempar tatapan nakal pada Shien. “Aku mau makanan pembuka dari kamu.”


“Tuh, ambil aja.” Shien menunjuk jeruk yang ada di atas meja nakas menggunakan dagunya.


“Bukan itu. . . .” Langit menggantungkan kalimatnya sejenak. Shien memutar bola matanya malas. Dilihat dari senyum nakalnya, Shien tahu betul apa kalimat selanjutnya dan apa yang akan dilakukan Langit.


“Tapi ini.” Benar saja, ibu jari Langit sudah menyentuh bibir Shien, mengelusnya dengan lembut.


“Boleh ya, Shi.” Rayu Langit.


Dan Shien sudah pernah mengatakan kalau dia tidak bisa mengendalikan dirinya jika Langit sudah menyentuhnya seperti ini. Maka, tidak butuh lama untuk kepalanya mengangguk tanda setuju.


Langit tersenyum, lalu dengan segera menarik tengkuk gadis itu, dan menyatukan bibir mereka dengan cara yang sangat lembut.


Biarlah perutnya terus bergemuruh meminta jatah karena ia belum menyentuh makanan apapun sejak makan siang terakhir tadi, yang terpenting sekarang adalah mendapatkan makanan pembuka yang lebih menggugah selera dibandingkan dengan makanan enak yang ada di dunia ini, yaitu bibir manis Shien yang sedang ia pagut mesra saat ini.


Beberapa saat bibir mereka saling membalas, sibuk mengecap satu sama lain, tangan Langit juga tidak bisa diam, memeluk tubuh Shien sambil terus bergerilya ke mana-mana, hingga sesekali lenguhan kecil mereka terdengar.


Karena terhanyut dengan permainan panas yang mereka ciptakan, membuat keduanya lupa jika siapa saja bisa masuk ke dalam kamar itu. Dan tanpa mereka sadari, pintu ruangan terbuka.


Seseorang menatap mereka dengan mata terbelalak, bibirnya terbuka kecil, sementara kedua tangannya terkepal dengan gemetar di samping celana jeans yang dikenakannya. Dalam hati, ia berdoa jika yang dilihatnya saat ini hanya mimpi atau halusinasinya. Mengetahui Langit dan Shien menjalin hubungan saja sudah sangat menyakitkan, dan Shanna tidak bisa menerimanya. Apalagi sekarang ia melihat laki-laki yang disukainya dan adiknya sedang. . . .


Arghhh! Shanna tidak ikhlas. Seharusnya ia yang melakukannya dengan Langit, bukan Shien.


Lalu, tanpa pernah Shanna duga, di saat tubuhnya masih mematung menyaksikan adegan yang tidak pernah ingin ia lihat bahkan terbersit dalam pikiran pun, seseorang sudah ada di belangkangnya, menyentak tangannya dengan cepat hingga ia berbalik dan menubruk dada bidang orang itu.


Shanna mendongak agar bisa melihat wajah orang yang sudah menyelamatkannya dari situasi yang membuat tubuhnya diam tak bisa bergerak itu.


“Dokter Nathan?” Lirihnya.


********


To be continued. . . . .

__ADS_1


BTW, ini contoh cincin yang Langit kasih buat Shien.



__ADS_2