
********
Shien mendadak seperti orang linglung. Wajahnya terasa panas, tapi ujung-ujung jarinya terasa dingin. Begitu juga dengan jantungnya yang berdegup kencang tak beraturan. Padahal, sudah hampir lima menit mobil Langit berlalu dari hadapannya. Tapi Shien masih bergeming, berdiri di depan pintu gerbang rumahnya dengan tatapan kosong serta perasaan yang campur aduk. Ahh, Langit benar-benar sudah mengacaukan pertahanannya dalam sekejap.
“Shi. . . .” Panggil Langit memecah lamunan Shien yang selama perjalanan pulang terus diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tanpa Shien sadari, tiba-tiba saja mobil Langit sudah berhenti di depan pintu gerbang rumahnya.
“Ehh, udah sampai, ya?” Shien gelagapan, lantas dengan buru-buru ia membuka sabuk pengaman yang menyilang dari pundak hingga ke pinggangnya, lalu bersiap-siap membuka pintu mobil untuk turun.
“Shien. . . .” Langit kembali memanggil nama gadis itu karena terlihat buru-buru untuk turun dari mobilnya. Shien refleks langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan sayu, namun terlihat penuh tanya.
Langit tersenyum, lalu mengulurkan kedua tangannya, berharap Shien menyambutnya. Dan tanpa sadar, Shien menerima uluran tangan itu. Langit senang bukan main dan langsung menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
“Tolong ingat baik-baik apa yang aku katakan tadi.” Tatapan mata Langit sangat teduh, membuat hati Shien seketika tenang dibuatnya.
“Jangan pernah berpikir untuk nolak aku lagi.” Langit sedikit memohon, tapi nada suaranya terdengar penuh peringatan. Ia lalu menghela napasnya sejenak untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Karena aku gak nunggu kamu untuk sebuah penolakan.”
Dan lagi-lagi, Shien hanya bungkam mendengar ucapan Langit yang tegas itu. Seperti sebelumnya, saat mereka masih berada di pinggir jalan beberapa jam yang lalu.
Shien tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Langit sudah mengacaukan pertahanannya, namun Shien juga belum bisa membalas dengan jelas pernyataan cinta dari laki-laki itu.
Shien membutuhkan waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri, mencari jawaban yang tepat apa yang membuat dirinya pantas untuk bersanding dengan Langit. Si laki-laki baik hati yang nyaris sempurna itu.
Dan juga. . . , Shanna. Bagaimana Shien harus menghadapi saudara kembarnya itu jika ia menerima cinta Langit? Shanna mungkin akan sedih, dan Shien akan merasa jauh lebih buruk setelah itu.
Ahh, entahlah. Memikirkan hal itu membuat kepala bagian belakang Shien berdenyut-denyut menyakitkan, seperti mau pecah. Mendadak suara denging memenuhi kepalanya.
“I’ll be waiting. Come to me when you’re ready.” Dan diantara dengingan itu, suara Langit yang lembut kembali terdengar.
“And don’t hesitate to reach me, when you’re ready, okay?” Imbuh Langit seraya mencium kedua punggung tangan Shien yang sedang digenggamnya.
Walaupun Shien tidak menjawab, tapi di dalam otaknya ia masih bergelut dengan pikirannya untuk menyanggupi permintaan Langit itu atau tidak.
Namun, tangannya yang lagi-lagi tanpa diperintah malah langsung membalas genggaman tangan Langit lebih erat.
“Satu lagi. Aku gak akan minta kamu buat pecat bocah itu. Tapi, kamu gak boleh terlalu dekat sama dia, gak boleh ngomong sama dia lebih dari tiga kata, gak boleh lihat dia lebih dari tiga detik, gak boleh. . . .”
“Aku ngerti.” Sambar Shien, memotong ucapan Langit yang sedang memberikannya peringatan dengan posesif itu. Percayalah, Shien mengatakan ini juga di luar kesadarannya.
Kenapa selalu seperti ini? Saat bersama Langit, kenapa Shien selalu tidak bisa mengendalikan dirinya? Selalu saja seperti ini.
“Gadis baik.” Kedua mata Shien yang awalnya memandang sayu seketika mengerjap. Sekali lagi, Shien merasa jantungnya seperti akan melompat dari tempatnya saat Langit memberi satu kecupan serta elusan lembut di puncak kepalanya sebelum ia turun dari mobil.
Setelah itu, Shien berdiri mematung di depan gerbang rumah dengan mata yang terus mengawasi mobil Langit yang mulai melaju hingga benar-benar hilang dari pandangannya.
“Udah pulang, Shi?” Shien terperanjat kaget begitu ia mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya. Shanna.
Gadis berambut warna-warni itu terlihat berjalan bersisian bersama Reno yang menenteng kantong kresek putih di tangannya.
“Ya ampun, Mbak. Lo kemana aja? Gue sama Tante Fina nyariin, maen ngilang aja. Mana ponsel lo mati lagi.” Reno mengomel begitu mereka berhasil menghampiri Shien. Bagaimana tidak? Di hari pertamanya ia bekerja, Reno sudah dibuat pusing dan khawatir karena majikannya tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Laki-laki itu sampai frustrasi mencari-cari Shien di sekeliling cafe tadi.
Sempat terlintas dalam pikirannya jika Shien diculik, tapi Fina malah menoyor kepala dan mengatainya bodoh. Alhasil, ia memilih untuk memeriksa Shien ke rumah, namun tetap tak mendapatinya. Dan ujung-ujungnya Reno malah kena omel dari Papa Sendy.
“Iya, Shi. Kamu abis dari mana? Nih, kena semprot Papa karena pulang sendiri.” Sambung Shanna sembari mengacak-acak rambut Reno layaknya seekor anak anjing.
Diperlakukan seperti itu, Reno seketika merengut. Ekspresinya sangat lucu hingga membuat Shien tersenyum geli walaupun tidak terlalu kentara.
“Sorry.” Sahut Shien dengan wajah polosnya seraya membuntuti langkah Shanna untuk masuk setelah pintu gerbang terbuka.
“Lo dari mana?” Sergah Reno kesal karena Shien tak mengindahkan pertanyaannya.
“Tadi. . . .” Shien sejenak tercenung untuk mencari alasan. Bola matanya tampak bergerak-gerak gelisah. “Ada barang penting yang ketinggalan di kantor. Makannya buru-buru naik taksi buat balik ke sana.” Entah alasannya masuk akal atau tidak, hanya itu yang terlintas di pikiran Shien. Berharap Reno percaya dan tidak mempermasalahkannya lagi.
“Terus, abis itu jalan-jalan sebentar di taman.” Imbuh Shien agar semakin meyakinkan.
“Harusnya lo nunggu gue, Mbak.” Reno terus protes. Ia masih tidak terima dirinya harus terkena omelan, padahal tidak bersalah.
“Sorry, aku lupa kalau udah punya sopir.” Dalih Shien kemudian seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Reno hanya mendengus dengan mulut komat-kamit mengeluarkan gerutuannya.
“Tapi, lain kali ponsel kamu jangan sampai mati, Shi.” Shanna yang juga sempat khawatir menegurnya. Shien hanya mengangguk-angguk.
“Kalian dari mana?” Tanya Shien mengalihkan pembicaraan. Matanya menyoroti kantong kresek di tangan Reno.
__ADS_1
“Beli mie ayam keliling. Traktir nih bocil biar gak asem terus mukanya.” Shanna menarik pipi sebelah kanan Reno dengan gemas hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
Dengan kepribadian mereka yang mudah bergaul, membuat Shanna dan Reno cepat akrab walaupun mereka baru bertemu. Keberadaan Reno membuat Shanna seperti memiliki mainan baru.
“Gue bukan bocil, Mbak.” Reno mendengus tak terima seraya mengusap-usap pipinya yang terasa panas. Tapi Shanna hanya menjulurkan lidahnya meledek.
“Makan bareng, yuk, Shi, di gazebo. Aku sengaja beli lebih, nih.” Ajak Shanna sambil mengedikkan dagunya ke arah gazebo.
Tanpa banyak berpikir, Shien langsung menyetujui ajakan Shanna. Lagipula, perutnya juga sudah lapar karena tadi ia menolak ajakan Langit untuk mampir makan malam di salah satu restoran yang mereka lewati saat dalam perjalanan pulang.
********
“Thank you uncle.” Ujar anak laki-laki berusia lima tahun dengan suara khas anak kecilnya, Biel. Semburat ceria terlihat jelas di kedua matanya begitu menerima bungkusan berisi es krim dan candy bear yang sebelumya dipesan anak itu saat Langit masih di perjalanan pulang setelah mengantar Shien.
Terhitung sudah tiga hari Langit selalu pulang ke rumah orang tuanya karena harus membantu Papa mengurus keponakan kecilnya yang sengaja dititipkan oleh kakaknya, Senja, karena wanita itu masih berada di rumah sakit pasca melahirkan melalui operasi caesar.
“Makannya satu aja. Sisanya simpan di lemari es. Terus, abis makan sikat gigi, cuci muka sama kaki, lalu tidur.” Langit menasihati sambil mengacak-acak rambut Biel hingga rambut ikal setengkuknya jatuh di depan mata.
“Dua.” Pinta bocah kecil itu tampak memelas seraya mengangkat dua jari tangannya. Kepala kecilnya ikut mendongak, menatap Langit yang masih berdiri menjulang tinggi di hadapannya dengan memasang puppy eyes, jurus rayuan anak kecil yang biasanya menjadi kelemahan semua orang yang melihatnya.
Tapi tidak dengan Langit. Dengan tegas laki-laki itu menggelengkan kepalanya. “Satu atau gak makan sama sekali.” Ucap Langit tak ingin dibantah seraya merebut kembali bungkusan itu dari tangan mungil Biel.
Biel hanya bisa menunduk dengan dua bola mata yang menggenang serta bibir yang mengerucut lucu. Namun sejurus kemudian, Biel memutar kepalanya ke arah sang kakek yang tengah duduk di sofa sambil asyik menikmati kopinya.
“Kakek. . . .” Rengek Biel memelas. Sepasang mata malaikat yang berkaca-kaca itu sangat menggemaskan, membuat sang kakek tidak bisa untuk tidak luluh pada cucu pertamanya itu.
“Udah, biarin aja, Lang. Daripada Biel nangis, kamu yang repot juga nantinya.” Ujar Papa, membuat mata polos dan bening yang semula menggenang itu seketika berbinar bahagia.
Langit mendengus kasar, lalu menatap Biel yang kini tersenyum menyeringai ke arahnya seolah sedang berada di atas angin. “Tetap gak boleh.” Sahut Langit seraya menyerahkan satu buah es krim cone pada Biel, kemudian berlalu dari hadapan Papa dan keponakannya menuju dapur.
Biel kembali merengut, menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal, lalu berteriak. “Uncle peliiiiiit, pantesan gak laku-laku.”
Tapi, Langit hanya mengedikkan bahunya tak peduli sambil terus melangkahkan kakinya. Bukannya Langit tega, ia hanya menjalankan pesan sang kakak yang mengatakan untuk membatasi makanan manis yang memiliki kadar gula dan kalori tinggi itu pada Biel.
Selang beberapa lama, Langit keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang jauh lebih segar. Laki-laki itu tampil santai dengan piyama motif kotak-kotaknya.
Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, Langit berjalan menghampiri Biel yang sudah tidur di ranjang miliknya. Bocah kecil itu terlihat sangat tenang dan menggemaskan, berbeda sekali saat dia terbangun. Benar-benar cerewet dan menyebalkan.
Selama menginap di rumahnya, Biel memang lebih suka tidur di kamar Langit. Hal itu membuat Langit sedikit mengeluh karena Biel tidak bisa diam saat tidur. Tangan dan kakinya selalu bergerak kemana-mana, terkadang tidak sengaja memukul wajah Langit. Jelas saja Langit sangat terganggu dengan hal itu.
Menyandarkan punggungnya pada headbord ranjang, Langit lantas mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja nakas, lalu mulai mengirim pesan pada Shien, si pujaan hati.
Langit :
Lagi ngapain?
Langit terbelalak saat melihat tanda centang dua tiba-tiba berwarna biru, tak lama setelah pesannya terkirim. Itu artinya, Shien langsung membacanya. Ini sungguh di luar kebiasaan Shien. Biasanya Langit harus menunggu berjam-jam atau esok hari untuk Shien membaca pesannya.
Shienku :
Mau tidur.
Kenapa?
Langit :
Aku ganggu, gak?
Shienku :
Ganggu banget.
Langit mendengus dengan balasan pesan Shien. Gadis itu benar-benar buta romantis. Tidak bisakah Shien bersikap manis atau manja walaupun itu hanya pura-pura? Ck, Menyebalkan sekali.
Langit :
Aku cuma mau nanya, bibir kamu masih sakit, gak?
Shienku :
Hmm, mungkin udah rabies.
“Hiish, gadis ini. Dikira gue anjing atau apa?” Langit menggerutu dengan suara pelan agar tidak mengganggu Biel yang sedang tidur.
__ADS_1
Namun, sejurus kemudian sedikit penyesalan merayap di pikiran Langit. Semarah-marahnya ia pada Shien, tidak seharusnya Langit bersikap kasar pada gadis yang dicintainya itu. Langit berjanji, ke depannya ia akan berusaha menahan diri dengan baik dan memperlakukan Shien selembut mungkin.
Langit :
Ya udah. Aku cuma mau ingetin, jangan lupa salep yang tadi aku kasih dipake.
Terus, jangan lupa juga leher kamu dipakein plester. ✌
Beberapa menit menunggu, tak ada lagi pesan balasan dari Shien. Langit kemudian kembali mengirim satu pesan berisi ucapan selamat malam dan meminta gadis itu untuk memimpikannya, lalu kembali menyimpan ponselnya ke atas meja nakas setelah ia memasang alarm.
Setelah itu, Langit ikut merebahkan dirinya sambil memeluk tubuh kecil Biel. Sesekali ia menepuk-nepuk lembut pahanya saat bocah itu menendang-nendang selimut untuk membuatnya tenang.
Langit mendesah pelan, senyuman tipis terbit dari kedua sudut bibirnya. Pikirannya kembali dipenuhi bayang-bayang Shien yang Langit yakin bahwa sekarang gadis itu sudah mulai luluh.
Dan Langit juga yakin, kali ini Shien tidak akan berusaha menolaknya lagi. Ia hanya perlu bersabar, menunggu gadis itu siap dan jujur akan perasaannya sendiri.
Tiba-tiba suara deritan pintu membuyarkan lamunannya. Langit tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk dan berjalan mendekat ke arahnya. Langit masih bergeming dalam posisinya, bahkan saat Papa sudah duduk di tepi ranjang, tepat di sebelahnya.
“Gemesin.” Mengabaikan Papa, Langit malah menciumi pipi gembul Biel dengan gemas, sesekali mencubitnya kecil. Ahh, Langit memang sangat menyukai anak-anak. Mereka nomor dua di hatinya setelah Shien.
“Langit, cepat kamu nikah sana.” Celetukkan Papa membuat Langit langsung berbalik dan mengalihkan perhatiannya pada lelaki paruh baya itu.
Mulutnya menganga, tak percaya dengan ucapan Papa yang lebih seperti menyuruhnya membeli es krim untuk Biel. Sangat mudah.
“Cepat cari gadis yang baik dan menikah sana!” Ucap Papa sekali lagi, pandangannya sedikit meledek sambil mengulum senyum, nyaris menahan tawa.
Niat hati ingin melihat dan memastikan cucunya sudah tertidur atau belum, beliau malah disuguhi pemandangan menggemaskan interaksi anak bujang dan cucunya itu.
“Melahirkan dulu juga boleh.” Dan sikap konyol Langit sepertinya sudah menular pada Papa, hingga membuat anak laki-lakinya semakin terbelalak.
Atau mungkin Papa sudah frustrasi melihat Langit yang terus menjomblo, sementara anak teman-temannya yang seusia dengan Langit rata-rata sudah menikah dan memiliki anak.
“Bukan anak kamu saja udah lucu. Gimana anak kamu sendiri, ya, kan?” Sambung Papa kemudian sambil tersenyum-senyum tak jelas.
Langit mendengus geli mendengar semua penuturan Papa. “Papa aja yang cepat nikah sana, terus kasih aku adik yang lucu.”
Dan bukan Langit namanya jika dia tidak nyeleneh. Ucapannya sontak membuat Papa terperangah. “Bocah tengik ini, malah ngeledek orang tua.” Orang tua itu lalu mendaratkan satu pukulan keras di paha sang anak hingga membuatnya meringis tertahan, tetap menjaga nada suaranya agar tidak membangunkan Biel.
“Lagian, Papa nyuruh aku nikah udah kayak nyuruh beli bawang ke warung.” Dengus Langit seraya mengusap pahanya yang terasa panas. Benar-benar. Walaupun sudah tua, tapi tenaga Papa masih sangat kuat.
“Maksud Papa. Kamu, kan, udah cukup umur. Udah cocok juga punya anak.” Papa menghela napas sebentar. “Jangan terlalu santai dan main-main terus, cepetan lamar Shien kalau kamu suka.”
Langit yang awalnya menatap Papa dengan serius lantas mengerjap. Tunggu. Papa menyebut nama siapa tadi? Shien?
Langit mengernyitkan keningnya penuh tanya. Bagaimana Papa bisa tahu? Seingatnya, ia tidak pernah membahas atau menceritakan perihal Shien pada siapapun. Wahh, sepertinya Papa bisa menjadi cenayang jika suatu saat beliau bangkrut. Begitulah pemikiran Langit yang konyol.
“Tuh wajah gak usah melongo kayak gitu.” Cibir Papa.
“Kelihatan banget, Lang. Waktu makan malam di rumah Om Sendy, mata kamu hampir keluar dari tempatnya karena melototin Shien terus.” Terang Papa, mengingat sikap Langit yang tampak berbeda di depan Shien saat jamuan makan malam di rumah sahabatnya beberapa waktu lalu.
“Ck, kamu pikir Papa gak tahu? Papa juga lihat apa yang kamu lakukan pas mau pulang.” Papa mencebik. Sementara Langit mengerjap salah tingkah. Papa lihat yang mana? Saat dia menggenggam tangan Shien atau menciumnya?
“Cium-cium anak orang sembarangan. Kalau ketahuan Om Sendy, bisa kena pukul kamu.” Dan tidak sampai dua detik, Langit merasakan wajahnya memanas, mungkin sekarang sudah memerah.
Bagaimana bisa Papa melihatnya dan bersikap biasa-biasa saja saat itu? Ahh, benar-benar memalukan.
“Cuma cium, gak ngehamilin juga.” Balas Langit dengan suara mencicit, lalu melempar pandangannya ke sembarang arah.
“Ehh, ngomong sembarangan.” Lantas Papa memukuli lengan bahu Langit menggunakan boneka dinosaurus milik Biel dengan gemas. Kelakukan nyeleneh anaknya ini, entah diturunkan dari siapa. Benar-benar membuatnya gregetan.
“Pa, nanti Biel bangun.” Protes Langit sambil menahan boneka yang dipegang Papa agar berhenti memukulinya. Lelaki paruh baya itu hanya mendengus diiringi delikkan sebal.
“Kenapa? Bukannya Papa tadi bilang boleh melahirkan dulu?” Ledek Langit, membuat Papa geram dan gemas sekaligus.
“Ya gak gitu juga konsepnya.” Sekali lagi, Papa memukul Langit menggunakan boneka. “Papa tadi becanda. Apa kamu gak bisa bedain mana becanda mana serius?” Teriak Papa kesal. Suaranya yang naik satu oktaf lebih tinggi, membuat Biel terganggu dan merengek dalam tidurnya.
Lantas, buru-buru Langit menenangkannya dengan cara menepuk-nepuk pahanya seperti tadi. “Papa, sih. . . .” Protes Langit pelan, wajahnya merengut, sorot matanya penuh protes menatap Papa. Tapi, lelaki paruh baya itu hanya mendelik tak peduli.
“Jadi gimana?” Langit kembali menoleh ke arah Papa sesaat setelah Biel lebih tenang. Papa mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. “Mau, gak, aku buatin cucu dulu?” Papa menggeram kesal karena Langit masih betah menggodanya. Jika tidak ingat ada cucunya yang sedang tidur, Papa yakin, ia akan meneriaki Langit sambil membawa pemukul bola tenis.
********
To be continued. . . .
__ADS_1