So In Love

So In Love
EP. 66. We Love Each Other


__ADS_3

Cerita ini belum sampai pada klimaks, ya?


Harap dinikmati alurnya yang lambat. Oke, gaes? Cerita ini akan klimaks pada waktunya, kok.


Dan gak akan lebih dari 110 episode atau mungkin gak nyampe!!!


Bentar lagi tamat dan aku udah nyiapin nopel genre CEO yang judulnya Pria Kaya Banget. Waks, canda deeng candaaaa. 😅


Mau bikin genre CEO, tapi gak paham CEO kerjanya apa. Hum.🙀 Kalau ada yang tahu, silahkan komen di bawah ini.


Ehh, curcol deeng. Gaje-gaje dikit gak apa-apa kali, ya.


Happy reading, yes.


********


Sabtu pagi, bahkan terlalu pagi karena matahari pun sepertinya masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, masih saja betah bersembunyi di balik awan mendung yang terlihat angkuh. Suasana dingin dan berkabut, rintik-rintik gerimis perlahan turun dan menyapu embun yang menebal di daun-daun pada tanaman yang menghiasi pelataran rumah. Namun, itu tidak menyurutkan semangat Shien untuk pergi jalan-jalan ke Dufan bersama Langit.


Dufan. Salah satu tempat yang selama ini ingin ia kunjungi, yang selama ini hanya menjadi angan-angannya saja, sebentar lagi ia akan menginjakkan kakinya di sana. Shien terus membayangkan bagaimana penampakkan Dufan karena foto di internet saja tidak tergambarkan secara keseluruhan. Apakah Dufan itu mirip dengan Disneyland yang sering ia kunjungi di California, Amerika Serikat?


Ahh, Shien jadi tidak sabar ingin segera sampai ke sana.


Perasaannya mendadak bahagia, ia merasa ada ratusan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Senyum Shien pun mengembang tanpa bisa dicegah. Tapi, itu tidak berlangsung lama.


Shien yang sedang menunggu Langit menjemputnya sambil duduk bersilang kaki di kursi teras seketika menoleh ke arah suara pintu utama rumah yang tiba-tiba berderit. Senyum menggembang yang menghiasi wajahnya perlahan menyurut kala ia melihat Shanna keluar dari balik pintu tersebut. Gadis itu sudah tampil santai dengan white inner yang ditumpuk jacket denim dan dipadu dengan short pants jeans, serta sneakers putih ikut melengkapi penampilannya. Tidak lupa di punggungnya menggantung tas ransel dengan ukuran mini berwarrna hitam.


Dari penampilannya yang kurang lebih hampir sama dengan Shien yang hanya mengenakan kaus putih bergambar kentang goreng Mcd serta celana jeans panjang, ia yakin Shanna bukan keluar untuk melakukan ritual lari pagi yang biasa dilakukannya. Lagipula cuacanya gerimis.


Shien menghembuskan napasnya gusar dengan sorot mata terpancang pada Shanna yang bergerak semakin dekat ke arahnya. Shien sudah bisa menebak, Shanna pasti akan mengikutinya lagi. Ahh, bodohnya ia karena meminta izin kepada orang tuanya saat makan malam. Seharusnya Shien melakukannya tanpa sepengetahuan Shanna. Kalau seperti ini, ia jadi malas pergi.


“Kakak mau ke mana?” Tanya Shien, bola matanya bergerak mengikuti Shanna yang kini berjalan untuk duduk di sebelahnya, hanya meja kecil yang menciptakan jarak di antara mereka.


Shanna tersenyum penuh arti. “Ikut kamu, lah. Karena kakak yang baik itu harus bisa jagain adiknya.”


“Kakak sengaja, kan?” Tembak Shien. Dia sudah cukup sabar menahan diri atas Shanna, Shien tidak ingin berpura-pura lagi. Tidak akan ia biarkan Shanna terus mengganggunya dengan Langit.


Mendengar pertanyaan itu, membuat Shanna menyunggingkan senyum yang tak bisa diartikan. Ia lantas menyeringai dengan tubuh condong ke arah Shien. “Adik aku emang cepat tanggap, ya?” Shanna mendesis. “Well, sebenarnya aku emang sengaja. Deketin kamu biar bisa masuk ke tengah-tengah kalian, dan nunjukin sama Langit siapa yang lebih pantas buat dia.”


“Dengan cara licik kayak gini? Kamu gak akan berhasil, kak.” Sambar Shien dengan suara dinginnya, sedingin cuaca di pagi buta itu.


“Jangan terlalu percaya diri, Shien. The game has just begun.” Sahutan santai itu terdengar mengintimidasi.


“Dan aku gak mau Papa sama Mama melihat kita seperti ini. Itulah alasannya aku pura-pura baik dan menerima hubungan kalian sebelumnya. So, karena sekarang kamu udah tahu yang sebenarnya, tolong tunjukan kalau hubungan kita baik-baik saja di depan mereka.” Shanna memperingati. Walau bagaimanapun, ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir karena hubungan anak-anaknya yang renggang.


Shien tersenyum miring, namun tidak menyurutkan tatapan dingin yang terpancar dari bola mata hitam jernihnya itu. “Ck, kamu gak mau lihat orang tua kita khawatir. Lalu, kenapa kamu gak berhenti?”


“Dan satu-satunya orang yang harus berhenti itu adalah kamu.” Shanna menatap sang adik tak kalah tajam, sorot matanya penuh dengan ambisi dan kemarahan.


“Langit itu cuma kasihan sama kamu. Jadi, stop berpura-pura lemah dan jangan buat dia terperangkap dengan perasaan yang salah.” Tambah Shanna memperingati. Sepertinya Shanna sengaja mengatakan itu untuk membuat pertahanan Shien goyah.


“Aku lebih tahu Langit. He loves me just the way I am.” Shien berujar penuh keyakinan.


Shanna berdecak geli, lalu mengangkat salah satu sudut bibirnya hingga membentuk senyum meledek. “Jangan terlalu naif, Shien.”


“Aku percaya sama dia.” Sanggah Shien cepat. “


“Aku tahu, kamu yang lebih dulu suka sama Langit.” Tatapan Shien berubah sendu, ada kilatan rasa bersalah di sana. “Tapi, aku gak nyangka kalau akhirnya aku juga jatuh cinta sama dia.”


“Dan karena kamu juga jatuh cinta sama Langit, kamu rebut dia dari aku gitu aja, iya? Jadi, kamu manfaatin penyakit kamu, terus berpura-pura lemah buat dapetin perhatiannya, dan akhirnya dia merasa harus melindungi kamu.” Sembur Shanna. “Ck, kamu bahkan gak sekarat.” Imbuhnya, seolah tidak peduli dengan perasaan Shien yang merasa seperti tengah diremas hatinya mendengar kalimat itu keluar dari mulut kakak yang sangat disayanginya itu.


Shien menggeleng dengan seulas senyum tipis, berusaha untuk tetap tenang. “Gak, aku gak merebut apapun dari kamu. Sejak awal, kamu sama Langit hanya sebatas teman.”


Shanna menggeram tak terima dengan kedua tangan terkepal di atas short pantsnya.

__ADS_1


“Aku tahu, aku udah gak terbuka sebelumnya sama kamu. Itu kesalahan aku dan sekali lagi aku minta maaf.” Ujar Shien sungguh-sungguh. Shanna hanya tersenyum kecut mendengarnya.


Ya, bahwa bukan Shien ingin jatuh cinta pada Langit. Tapi, hatinya sendiri yang jelas-jelas mempersilahkan Langit untuk masuk tanpa seizinnya dan tanpa bisa dicegah.


Sekarang hatinya sudah begitu terikat dengan Langit. Shien sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada laki-laki itu. Ia tidak ingin dan tidak akan melepaskan Langit apapun yang terjadi.


“Dan aku harap, kamu bisa menerima hubungan kami. Cause we love each other.” Pinta Shien.


Shanna tersenyum sinis. “Menerima? Ck, jangan harap. Hanya karena terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Tapi, ada masanya kamu gak bisa mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan dengan semudah itu, Shi.”


“Aku gak akan menyerah, Shi.” Tegasnya kemudian.


“Apapun yang akan kamu lakukan, yang jelas, aku gak akan pernah melepaskan Langit. Gak akan pernah! Aku juga berhak mendapatkan dan menentukan kebahagiaanku sendiri.” Ujar Shien tak kalah tegas.


“Lihat aja nanti, berapa lama kamu bisa bertahan setelah ini.” Shanna menggeram, mengeratkan kepalan tangannya dengan rahang mengetat. Tidak. Ia tidak bisa membiarkan Shien memiliki Langit semudah itu. Tidak akan! Ia yang lebih dulu menyukai Langit, laki-laki itu seharusnya menjadi miliknya. Shanna harus merebut kembali apa yang seharusnya ia miliki. Dan jika itu tidak bisa, maka Shien juga tidak boleh memilikinya. Tidak Shien, ataupun orang lain.


“Shi. . . .”


Suara seseorang yang sangat familier mengurungkan niat Shien yang baru saja membuka mulutnya untuk menyahuti ucapan Shanna.


Langit, wajah laki-laki itu muncul di bawah payung kuning yang menaunginya. Tetap terlihat berkilauan walaupun di atas sana langit tengah diselimuti awan mendung.


Shien beranjak dari duduknya seraya menyunggingkan senyuman tipis tapi terlihat lembut untuk menyambut laki-laki tampan yang berstatus kekasihnya itu. Begitu pun dengan Shanna, gadis itu dengan segera merubah raut mukanya dengan wajah semringah.


“Hai, Lang. . . .” Suara Shanna tergantung begitu saja saat melihat Langit melewatinya untuk menghampiri Shien. Senyum semringahnya perlahan menyurut, berubah menjadi senyuman kecut.


“Udah nunggu lama, ya?” Tanya Langit seiring dengan senyuman hangat tersungging dari bibirnya yang sedikit kehitaman karena menggigil akibat udara dingin pagi itu.


“Lumayan.” Jawab Shien jujur, karena ia memang sudah menunggu Langit lebih dari satu jam.


“Maaf. Tadi aku bangunnya kesiangan.” Langit mendesis, lalu mengangkat dua jarinya membentuk huruf V seraya nyengir lebar. Shien hanya mendengus geli melihatnya.


Langit terkekeh, lalu meraih tangan Shien untuk ia genggam, dan dimasukannya ke dalam jacket windbreaker biru muda yang dikenakannya. “Ayo.” Serunya kemudian.


Sementara Shanna yang melihat itu tampak mengepalkan telapak tangannya erat, hingga ia merasakan kuku lentiknya yang dihiasi kutek berwarna merah dengan glitter di atasnya itu tertancap di kulit. Namun, sejurus kemudian ia membebaskannya agar telihat tenang.


“Ehem.” Shanna berdehem untuk menarik perhatian Langit dan juga Shien agar menoleh ke arahnya.


“Ehh, Sha. . . .” Langit sedikit terperanjat. Karena terlalu fokus pada Shien, ia jadi melupakan keberadaan Shanna di sana.


“Bagus, aku dianggap nyamuk.” Dengus Shanna seraya mengerucutkan bibirnya.


Shien mengangkat salah satu sudut bibirnya sedikit, memperhatikan perubahan ekspresi kakaknya yang cukup cepat.


Langit meringis sambil nyengir kaku. “Sorry, Sha.” Ucapnya seraya mengusap tengkuk. Ia lantas terdiam sebentar, mengamati penampilan Shanna yang seperti hendak bersiap pergi ke suatu tempat, sama seperti dirinya dan Shien. “Eung, kamu mau ke mana, Sha?”


“Ke tempat yang akan kalian kunjungi.” Jawabnya Shanna enteng dengan senyum semringah menghiasi wajah cantiknya.


Langit mengerjap, berusaha mencerna jawaban Shien barusan. Selanjutnya ia terdiam dengan wajah bingung, memutar otaknya untuk mencari cara agar Shanna tidak mengikkuti mereka kali ini. Ia hanya ingin mengahbiskan waktu berdua dengan Shien.


“Tenang aja, Lang. Aku gak akan jadi nyamuk di antara kalian, kok.” Ujar Shanna sambil mengibaskan tangannya ke arah wajah Langit yang bengong.


“Aku emang udah ada janji mau jalan-jalan ke Dufan bareng teman hari ini. Ehh, semalem Shien bilang kalau kalian juga mau pergi ke sana. Kebetulan yang mengenangkan, kan?” Jelas Shanna.


Shien merengut. Tadi Shanna mengatakan bahwa dia akan mengikutinya, tidak membahas apapun soal janji dengan temannya. Apa yang dia rencanakan sebenarnya?


“Jadi, aku pikir, gimana kalau kita bareng-bareng aja ke sananya? Biar tambah seru aja, gitu.” Tanyanya mengajukan saran.


Langit terdiam seraya melipat bibirnya ke dalam, bigung. Sebenarnya ia sangat tidak setuju. Ia bukan mau seru-seruan, tapi mau romantis-romantisan dengan Shien.


“Eung. . . .”


“Shien udah setuju, kok.” Sela Shanna cepat sebelum Langit menemukan cara untuk menolaknya.

__ADS_1


“Iya, kan, Shi?” Shanna menyunggingkan seringai liciknya sejenak, sebelum kemudian kembali memasang wajah ceria yang dipenuhi kepura-puraan itu.


“Ehh?” Shien mengerjap, terkejut dengan apa yang didengarnya barusan. Seingatnya, ia tidak pernah menyetujui apapun.


Langit menoleh ke arah Shien dengan kedua alis bertaut, meminta konfirmasi gadisnya itu. “Bener, Shi?”


Shien menggeleng. “Aku gak ada dengar kalau kak Shanna juga mau pergi ke Dufan sama. . . .”


“Ya ampun, Shi. Kamu lupa, ya? Tadi malam kamu setuju, kok. Bahkan semangat banget karena aku bilang perginya bareng kak Niel.” Sambar Shanna menyela kalimat yang hendak diucapkan Shien.


Shien memutar bola matanya jengah. Apa maksudnya coba Shanna berbohong seperti ini? Kalau mau ikut ya ikut saja, tidak perlu mengada-ngada.


“Niel?” Sebelah alis Langit terangkat penuh tanya. Ia melirik Shanna dan Shien bergantian, meminta siapa saja memberitahunya siapa itu Niel.


“Ehh, kamu belum tahu ya, Lang, kalau dokter Nathan itu sebenernya teman dekat kami waktu kecil?” Shanna memasang ekspresi pura-pura sedikit terkejut. “Aku kira Shien udah cerita sama kamu.” Gumamnya kemudian.


Langit melirik Shien seolah meminta penjelasan. Shien lantas mengatakan bahwa ia juga baru mengetahui jika dokter Nathan itu adalah teman kecilnya, dan ia tidak bercerita pada Langit karena Shien merasa itu adalah hal yang tidak terlalu penting untuk dibahas. Selain itu, ia juga tidak menemukan waktu untuk membahasnya, karena setiap kali ia dan Langit bertemu pasti akan membahas hal-hal lain terkait hubungannya, sehingga hal itu tersampingkan begitu saja.


“Hish, gimana bisa bilang itu gak penting? Tetap aja harusnya kamu cerita, sebagai pacar kamu, Langit juga perlu tahu siapa saja orang-orang terdekat kamu. Termasuk kak Niel.” Tegur Shanna. Shien hanya terdiam dengan memasang tatapan kesal, tidak menanggapi. Entah kenapa, ia merasa Shanna seperti tengah menyudutkannya. Dan mungkin memang seperti itu.


Di tengah rasa kesal yang menyeruak di hatinya, Shien merasakan elusan lembut tangan Langit di salam saku jacketnya. Laki-laki itu lantas menatap Shien dengan seulas senyum hangat, kemudian mengerjapkan matanya pelan, seolah mengatakan pada Shien bahwa ia tidak masalah. Jangan kesal, tidak apa-apa.


“Kamu gak keberatan, kan, Lang?” Shanna kembali bertanya dengan tatapan penuh harap.


“Selama Shien gak keberatan.” Jawab Langit ragu. Shien mendelik sebal. Langit begitu peka dengan perubahan raut wajah Shien yang sempat kesal tadi. Tapi, untuk yang ini kenapa Langit sangat tidak tanggap? Padahal, ia sudah memberi kode dengan mencubit kecil tangan Langit di dalam saku jacketnya. Berharap laki-laki itu mengerti dan menolak ajakan Shanna.


Ahh, sial. Ingin sekali Shien berteriak saat ini juga dan mengatakan bahwa ia sangat-sangat keberatan.


“Shien gak keberatan, kok.” Sahut Shanna polos. “Ehh, itu kak Niel. Kakak. . . .” Lalu melambaikan tangannya dengan semangat ke arah laki-laki tampan yang sedang berjalan ke arah mereka.


Nathan. Laki-laki itu tampil menawan dengan gaya kasualnya yang memadukan kaus putih dengan outwear berwarna coklat serta ripped jeans. Tidak kalah berkilauannya dengan Langit, baik dari segi visual atau gaya berpakaian mereka. Hanya saja, Nathan terlihat lebih matang dengan bahu dan dada yang lebih bidang dan berotot.


“Sorry, aku agak telat. Jalanan licin.” Ucap Nathan, menjelaskan alasan keterlambatan atas kedatangannya karena hujan membuat jalanan licin, sehingga ia harus cukup hati-hati saat menyetir.


“Nevermind. Lagian gak terlambat banget, kok.” Ujar Shanna memaklumi. Nathan tersenyum hangat, lalu menyoroti ketiga orang di sana satu per satu.


“So, kita pergi bareng?” Tanya Nathan memastikan ajakan Shanna yang tadi malam menelepon dan memintanya menemaninya untuk pergi jalan-jalan ke Dufan bersama Shien dan kekasihnya, Langit.


“Yep.” Sahut Shanna memaklumi. Shien yang mendengar itu hanya menggeram dalam hati dengan wajah merengut kesal. Benar-benar menyebalkan.


“Ngomong-ngomong, kalian udah saling kenal, kan?” Tanya Shanna seraya menunjuk Nathan dan Langit bergantian.


Baik Langit maupun Nathan, mereka sama-sama mengangguk. “Kami cukup sering melakukan pekerjaan sukarelawan bareng-bareng.” Ujar Nathan, namun tidak berniat menjelaskan lebih. Yang jelas, ia dan Langit memang kenal baik, tapi tidak cukup dekat untuk bisa dikatakan sebagai teman.


“Oke, bagus kalau gitu.” Seru Shanna senang. Dengan demikian, ia tidak perlu repot mengenalkan mereka lagi dan suasana canggung bisa dihindari.


“Ya udah, ayo pergi sekarang.” Seru Shanna lagi seraya menggamit tangan Nathan manja.


“Tunggu. . . .” Ucap Nathan, membuat Langit dan Shien yang hendak beranjak seketika terurungkan.


Shien merengut heran. “Kenapa, kak?”


Nathan tidak menjawab. Dia melepaskan tangan Shien dari lengannya untuk kemudian melepaskan outwear yang dikenakannya untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin.


“Kelinci kecil, apa kamu gak kedinginan?” Laki-laki itu berjalan mendekati Shien dan menyampirkan baju hangatnya sehingga menutupi bahu Shien yang rapuh.


“Jangan sampai kamu mengacaukan acara jalan-jalan kita karena masuk angin.” Lalu mengacak-acak kepala Shien gemas, membuat Shien tertegun dengan kedua bola mata membulat sempurna.


Matilah dia! Laki-laki yang berdiri merapat di sampingnya ini pasti akan marah. Itulah yang ada di dalam pikiran Shien sekarang.


Sementara Langit yang menyaksikan itu di depan hidungnya sendiri, tidak bisa untuk tidak menyembunyikan perasaan kesalnya karena melihat Nathan yang sudah berani menyentuh gadisnya, ia melotot tajam dengan wajah penuh waspada.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2