
********
Langit mengepalkan sebelah tangannya yang menggantung bebas di sampingnya, sementara tangan satunya memegang erat buket bunga mawar yang tadinya akan ia berikan untuk Shien. Niat hati ingin melihat keadaan gadis itu yang mungkin jatuh sakit karena ia membawanya bermain seharian kemarin, tapi siapa sangka ia malah tak sengaja mendengar percakapan Shien dan saudara kembarnya.
Langit membalas tatapan Shien yang kebetulan menoleh ke arah pintu. Gadis itu tampak tertegun, pandangan mereka terkunci selama beberapa detik sebelum kemudian Langit memilih untuk memutar haluan, kemudian pergi menghilang di balik pintu kamar Shien. Sementara bunganya ia jatuhkan begitu saja.
Shien yang melihat itu hanya bisa menatap kepergian Langit dengan tatapan kosong.
Sepertinya ini tidak buruk juga, kan? Langit terlihat kecewa padanya, otomatis dia akan menyerah dan menjauhinya.
“Maaf.” Lirih Shien dalam hati. Jujur, sebenarnya ia menyesal sudah mengatakan hal itu dan tidak mengharapkan Langit akan mendengarnya.
********
Langit memasuki taman yang terletak diantara rumah sakit dan kantor Shien setelah tadi ia mengendarai mobilnya dengan dengan kecepatan tinggi menuju ke sana.
Tangannya dengan lihai memantulkan bola basket yang tadi ia ambil dari bagasi mobilnya. Walaupun sore itu sedang gerimis, Langit tak mempedulikannya.
Langit begitu terkejut mendengar apa yang Shien katakan tadi. Rasanya, ingin sekali ia meneriaki dan memaki gadis itu karena perkataannya. Shien mengatakan bahwa dia tidak tertarik padanya dan menyerahkannya begitu saja pada Shanna.
Lantas kenapa Shien kemarin membalas ciumannya seolah dia memberinya harapan? Langit melakukan itu dengan segenap rasa cinta di hatinya. Lalu bagaimana dengan Shien? Apa ciuman itu tidak berarti apa-apa?
Shien seperti membawanya terbang, lalu menghempaskannya begitu saja.
“SHIT.” Langit membanting bola basketnya dengan kesal ke papan ring ketika ia terus gagal melakukan shoot. Berulang kali Langit melakukan shoot, berulang kali itu pula bolanya gagal masuk ke dalam ring.
“Sialan.” Dan sekali lagi bola yang ia lemparkan ke arah ring meleset.
Ya, sialan. Langit tahu Shien juga menaruh hati padanya. Tapi kenapa gadis itu memperumitnya seperti ini? Ahh, Shien benar-benar sudah membuat Langit kesal dan kecewa sekaligus hari ini. Tak bisakah Shien melihat ketulusannya sedikit saja? Langit sungguh tidak memahami jalan pikiran gadis itu.
Cukup lama Langit melampiaskan kekesalannya dengan bermain basket di bawah gerimis yang kian deras hingga bajunya basah kuyup. Laki-laki itu mengehntikan kegiatannya saat smartwatchnya berbunyi dan ternyata panggilan darurat dari rumah sakit.
Lalu, dengan segera Langit berlari keluar dari taman tersebut dengan suasana hati yang masih dongkol.
********
Malam harinya di ruang perawatan, Shien menghembuskan napas gusar berulang kali. Pandangannya menatap kosong pada buku sastra yang sejak tadi tak berpindah halaman barang satu lembar pun. Pikirannya kini kembali dikuasai oleh bayang-bayang Langit.
Tidak pernah Shien merasa seburuk ini sebelumnya. Kalimat yang ia katakan tadi memang sedikit keterlaluan. Terlebih, saat ia mengingat raut wajah kecewa Langit. Shien merasa sangat menyesal.
Namun, sejurus kemudian ia berusaha menepis rasa sesal itu. Shien ingin Langit menyerah padanya, itu sangat bagus jika tadi laki-laki itu mendengarnya. Ya, tidak ada yang perlu disesali. Langit datang di waktu yang tepat. Shien tidak perlu lagi merangkai kalimat penolakan untuk laki-laki itu, tadi sudah sangat jelas.
Digeleng-gelengkannya kepalanya dengan kuat untuk mengusir segala pikiran tentang Langit, hingga membuat Shanna yang melihatnya khawatir. Bahkan dia segera beranjak dari rebahannya di sofa dan menghampiri Shien.
“Kenapa, Shi? Kepala kamu sakit? Sebentar, aku panggil dokter.” Ucap Shanna dengan cemas. Telunjuknya terulur hendak memencet tombol transmitter calling yang ada di dekat ranjang pasien, namun dengan segera Shien mencegahnya.
“I’m okay. Cuma bosan aja baca buku ini.” Balas Shien berdalih.
“Aku bosan di sini. Kayaknya mau jalan-jalan sebentar di luar.” Sambung Shien sambil menyimpan buku sastra yang sama sekali tidak dibacanya itu ke atas meja nakas.
“Dan aku bisa sendiri.” Sambar Shien yang melihat Shanna hendak membantunya untuk turun dari ranjang pasien. Shien tak begitu suka semua orang memperlakukannya sedikit berlebihan. Terlebih, hanya karena ia sedang sakit. Rasanya, sangat menyedihkan. Shien ingin diperlakukan seperti orang biasa.
“Kamu mending pulang, kak.” Titahnya kemudian, mengingat Shanna sudah menjaganya seharian. Sementara kedua orang tuanya pulang sebentar untuk membawa beberapa pakaian ganti.
“Nunggu Papa sama Mama balik, baru aku pulang.” Sahut Shanna seraya mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sisi ranjang pasien.
“Lagian, aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian di sini, Shi.” Lanjut Shanna, pandangannya mengikuti Shien yang bergerak mengambil ponselnya di atas meja dekat sofa.
“Udah biasa juga.” Gumam Shien pelan hingga tak terdengar jelas di telinga Shanna. Ya, sejak kecil ia sudah biasa sendirian di ruang rawat seperti ini. Tidak masalah jika saat ini ia juga sendirian.
“Yakin gak mau ditemenin?” Tanya Shanna setengah berteriak saat Shien nyaris meraih handle pintu.
__ADS_1
Shien menghela napas panjang, lantas berbalik ke arah sang kakak. “Gak usah. Udah gede juga.” Gadis itu membuka pintu, lalu bergerak keluar.
Shanna menghembuskan napasnya kasar dengan kening yang mengernyit. Heran dengan sikap adiknya yang tiba-tiba ketus. Ck, suasana hati Shien mudah sekali berubah.
“Tidur aja, lah.” Shanna lantas beranjak naik ke ranjang pasien, merebahkan dirinya, lalu tidur dengan nyaman seolah itu adalah kamarnya sendiri.
********
“Langit?” Shien terkesiap melihat sosok Langit yang masih mengenakan seragam srubnya berbaring di kursi taman rumah sakit yang ada di bawah pohon kersen.
Laki-laki itu tertidur dengan satu lengan menutupi matanya, sementara satu lengannyaa lagi dijadikan penumumpu kepalanya sebagai bantal. Tubuh Langit yang tinggi membuat ujung kakinya melewati pembatas kursi taman.
Shien menggigit bibir bawahnya. Dia pergi ke taman rumah sakit untuk mencari udara segar dan menenangkan sedikit pikiran dan hatinya. Ehh, malah tak sengaja mendapati Langit juga ada di sana.
Sejenak, Shien bergeming mengamati wajah tidur Langit. Tampak tenang dengan tarikan napas yang beraturan.
Langit sangat manis. Walaupun sudah malam dan pencahayaan di taman rumah sakit ini remang-remang, tapi Shien seperti mendapat penerangan ekstra untuk mengamati setiap lekuk wajah Langit dengan jelas.
Garis rahang yang tegas dan terlihat halus tanpa ada sedikit bulu pun yang mengganggunya, pasti karena Langit rajin melakukan facial hair. Ahh, Langit memang paket lengkap. Bahkan laki-laki itu memiliki hidung yang mancung dengan bibir kemerahan.
Dan kemarin Shien merasakan bibir kemerahan itu menyentuh dan memagut bibirnya dengan lembut. Sangat manis dan memabukan, Shien bahkan masih bisa merasakannya sampai sekarang. Sungguh membuat hati Shien kebat-kebit mengingatnya.
Ya ampun, Shien ingin menyingkirkan Langit dari pikirannya, tapi malah semakin kepikiran. Otaknya bahkan sedang memikirkan hal mesum saat ini. Shien jadi merona sendiri.
Tapi, Shien dengan segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran mesum itu. Sungguh berbahaya, hanya dengan mengamati wajah tidur Langit saja sudah membuat hatinya goyah.
Jantungnya kembali berdegup keras, seolah ingin mendobrak rongga dadanya.
Tidak ingin membiarkan dirinya terpesona dengan sosok tampan di depannya, lantas Shien memilih memutar tumitnya untuk pergi dari taman rumah sakit. Namun, saat ia hendak beranjak dari posisinya, Shien dikejutkan dengan tangan Langit yang menarik pergelangan tangannya kasar, hingga membuatnya terjatuh duduk di sebelah laki-laki itu.
“La-Langit. . . .”
“Puas lihatin wajah aku, mau kabur gitu aja?” Sindir Langit sembari mencengkram kuat pergelangan tangan Shien yang ingin melepaskan diri.
“Lepasin, Lang.” Shien meronta. Tapi, Langit tak ingin melepaskan Shien begitu saja.
“Gak mau minta maaf?” Suara Langit terdengar dingin, begitupula dengan sorot matanya. Tatapannya sangat tajam, seolah sedang mungulitinya.
“Kenapa diem?” Langit masih menatap tajam pada Shien.
Sementara Shien yang gugup dan sedikit takut melihat Langit menatapnya seperti itu hanya bisa menundukkan kepala seraya memalingkan wajahnya.
Lidahnya kelu dengan bibir yang terkatup rapat. Shien tak mampu menjawab apa-apa ataupun membalas tatapan mata Langit yang semakin mengintimidasinya.
“Gak merasa bersalah? Hem?” Langit meraih dagu gadis itu, lalu memutarnya agar wajah Shien kembali menghadapnya lagi. Tapi, Shien masih tak berani menatapnya.
Langit berdecak. Memejamkan matanya sekilas, lalu meraup udara banyak-banyak untuk memenuhi rongga paru-parunya. Kedua matanya masih setia menyoroti Shien.
“Kenapa, Shi?” Tanya Langit tiba-tiba, membuat Shien perlahan mengangkat wajanya dan menatap mata laki-laki itu. “Kenapa kamu nyerahin aku sama Shanna?”
“Kamu ngomong apa, sih?” Shien menyentak tangan Langit yang masih bertengger di dagunya.
“Tadi sore kamu bilang kalau Shanna mau aku, dia tinggal ambil aja.” Tatapan Langit terlihat marah. “Apa maksudnya? Apa kamu pikir aku ini barang?” Sentaknya kemudian.
“Kamu gak berhak ngomong kayak gitu. Aku berhak milih, and i choose to love you, Shien.” Imbuh Langit dengan tatapan tulus.
“Kenapa aku? Kamu bisa dapetin perempuan lain yang lebih baik, Langit.”
Dan, tiba-tiba saja Langit melepaskan cengkraman tangannya. Raut wajahnya berubah muram.
Shien lantas memalingkan wajahnya, pandangannya lurus ke sembarang arah dengan tatapan kosong.
__ADS_1
“Dan yang terbaik ada di hadapan aku.” Langit kembali menghunuskan tatapan tajam ke arah Shien. Menandakan keseriusan pada kalimat yang diucapkan laki-laki itu.
Hati Shien terenyuh. Rasanya ingin sekali ia mempercayai kata-kata Langit. Tapi itu tidak boleh. Dan seandainya ia percaya, Shien tetap harus menarik diri dari Langit.
“Jangan gila.” Sahut Shien dengan nada mencemooh.
“Cowok yang nyaris sempurna kayak kamu, gak mungkin suka sama cewek penyakitan kayak aku.” Shien tersenyum kecut.
“Kamu cuma kasihan, kan, sama aku? Sama kayak yang lain.” Suara Shien tercekat begitu mencapai kalimat terakhir.
Langit menggeleng. “Jangan skeptis, Shien. Jangan kamu anggap aku sama dengan yang lain. Aku tulus suka sama kamu, bahkan sebelum aku tahu kamu sakit.”
“Percaya sama aku, Shi.” Ucap Langit pelan seraya meraih tangan Shien untuk ia genggam, namun dengan segera gadis itu menepisnya.
“Shien.” Seru Langit kesal dengan tatapan protes.
“Jangan menarik diri kayak gini, Shi.” Langit menarik kedua bahu Shien agar kembali menghadap ke arahnya. “Ini karena Shanna, kan?” Napas Langit mulai naik turun.
“Bukan.” Shien melengos. Ya, bukan sepenuhnya karena Shanna. Shien merasa dirinya tak cukup pantas untuk Langit. Dia adalah laki-laki yang baik, bahkan nyaris sempurna. Gadis penyakitan seperti dirinya hanya akan merepotkannya saja sampai akhir, seperti apa kata Papa. Shien hanya bisa menyusahkan orang lain.
Shien tidak boleh serakah untuk memiliki Langit di sisinya. Ck, lagipula untuk apa? Ujung-ujungnya Shien juga akan meninggalkannya karena usianya juga tak lagi lama. Baik Langit atau laki-laki lain, Shien tidak akan pernah memiliki seorang pangeran dalam hidupnya. Bukan, kisah cintanya tidak akan pernah berhasil. Walaupun saling mencintai, tapi mungkin tidak akan pernah bisa bersatu pada akhirnya. Shien akan menghilang, seperti buih di lautan.
“Aku tahu perasaan kamu dan aku sama, Shi.” Langit mengguncang bahu Shien, suaranya terdengar putus asa. “Kenapa kamu terus membohongi diri sendiri?”
“Kalau itu karena penyakit kamu, aku gak masalah. Itu bisa disembuhkan.” Langit membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
“Aku gak pernah keberatan sama penyakit kamu, jangan merasa rendah diri.” Langit semakin mengeratkan pelukannya.
“Jadi tolong jangan pernah berpikir untuk gak nerima aku karena itu. Be mine, Shien. Hem?”
Sebersit kehangatan muncul di hati Shien. Tak pernah ia merasa seistimewa ini sebelumnya. Tapi dengan segera Shien mendapatkan kesadarannya kembali, ia tidak boleh terlena. Sebelumnya ia sudah memantapkan hatinya untuk membuat Langit menyerah terhadapnya, begitupula dengan dirinya.
“Kamu ngomong apaan?” Shien mendorong tubuh Langit dengan keras hingga pelukannya terlepas.
“Siapa yang membohongi diri sendiri? Apa yang kamu dengar tadi itu benar. Aku sama sekali gak tertarik sama kamu.” Hati Shien rasanya tergores begitu dalam dan perih hingga membuat kedua matanya berair. Beruntung pencahayaan di taman itu remang-remang, sehingga Langit tak bisa melihatnya.
“Shien, bahkan kemarin kita berciuman. Apa itu sama sekali gak ada artinya buat kamu?”
“Itu cuma ciuman, semua orang bisa melakukannya saat terbawa suasana. Jangan salah mengartikan, Langit.” Sambar Shien, dagunya bergetar saat mengatakan semua itu, walaupun salah satu sudut bibirnya tersungging sinis.
Nyatanya, itu semua adalah bohong. Perasaan Shien sudah menjelajah jauh hingga ia tersesat, dan mungkin akan sulit untuk kembali.
“Terbawa suasana, ya?” Sahut Langit lemah dengan sorot mata terluka. Ia tak percaya kata-kata seperti itu keluar dari mulut Shien.
“Tapi aku gak sembarangan mencium orang, Shien.” Shien bergeming tak menyahuti, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia benar-benar tidak bisa berlama-lama menatap Langit saat ini. Shien takut hatinya akan goyah jika melakukannya.
“Kalau aku cowok lain, apa kamu juga akan melakukannya? Menciumnya saat terbawa suasana?” Langit menghela napas berat.
“Emm, maybe.” Dan sekali lagi Shien terpaksa bersikap acuh hanya untuk membuat Langit menyerah padanya.
“Kamu bohong, Shi.” Langit menggeleng tak percaya. Tapi Shien hanya bergeming, berpura-pura tak peduli.
Shien menghela napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan cepat. “Okay. Mulai sekarang, ayo jangan bertemu lagi.” Shien berujar santai seraya memasukkan kedua tangannya pada saku baju khusus pasien yang dikenakannya.
“Dan simpan perasaan tulus kamu buat orang lain.” Lanjutnya dengan berat hati. Ia lantas beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Langit.
“Kamu gak berhak nentuin perasaan aku buat siapa, Shien.” Teriak Langit dengan nada terdengar pilu. Namun Shien tak mengindahkannya.
Shien terus berjalan dengan langkah berat. Sekuat tenaga Shien menahan tangisnya agar tidak pecah. Namun, ketika Langit sudah jauh dari hadapannya, tangis itu pecah dengan hebat.
Nyatanya, membohongi perasaan sendiri itu lebih menyakitkan. Ditambah menyakiti orang yang sangat tulus padanya, itu membuat Shien merasa lebih buruk.
__ADS_1
********
To be continued. . . .