
********
“Shien. . . .”
Papa meyambut anak bungsunya dengan wajah berbinar, bahkan beliau sampai berpaling dari televisi yang sedang menayangkan film komedi lawas favoritnya, WARKOP DKI. Biasanya Papa selalu memasang konsentrasi penuh dan tidak mau melewatkkan satu adegan pun. Tapi tidak lagi saat Shien datang, gadis kecilnya itu secara otomatis akan menjadi pusat perhatian nomor satunya.
“Sini, Shi.” Papa mengulurkan tangan, memberi isyarat agar putrinya yang masih berdiri mematung di dekat sofa ruang keluarga itu segera duduk. Lantas ia menjangkau tangan Shien dan membimbing gadis itu untuk duduk di sofa kosong yang ada di sebelahnya.
“Kakak mana?” Tanya Shien dengan pandangan mengedar ke seluruh ruang keluarga yang cukup luas itu, mencari-cari sosok Shanna yang ia kira sudah tiba lebih dulu untuk memakan camilan malamnya. Tapi nyatanya Shanna tidak ada di sana, bahkan potongan melon segar untuk camilan malam mereka juga belum siap.
“Kakak kamu tadi bilang mau keluar sama teman-temannya.” Jawab Papa, mengingat beberapa saat yang lalu sebelum Shien datang, Shanna berpamitan padanya untuk keluar sebentar.
Shien hanya mengangguk-angguk, lalu pandangannya kembali mengedar mencari satu sosok lagi, seseorang yang paling istimewa di hati Shien di atas siapapun, Mama.
“Mama?” Tanya Shien lagi, menatap lekat-lekat Papa dengan matanya yang jernih layaknya mata seorang bayi.
“Lagi nyiapin buah di dapur.” Jawab Papa sembari mencolek ujung hidung Shien gemas. Papa lantas mengulum senyumnya. Ia sangat bahagia, hubungannya dengan Shien kian membaik setelah kepulangan mereka dari Bali. Gadis itu bahkan sudah bisa memanggil Papa dan Mama tanpa ragu seperti sebelumya. Tidak hanya itu, Shien juga mulai banyak berbicara kepadanya. Namun meskipun begitu, rasa penyesalan Papa terhadap gadis itu tetap menghantui hatinya setiap hari.
“Ohh.” Sahut Shien kembali mengangguk-anggukan kepala, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan pandangan lurus ke arah televisi yang menampilkan acting trio komedian legendaris Dono, Kasino, dan Indro, yang selalu sukses membuat siapa saja tergelak akan banyolannya yang memang sangat menghibur.
“Ohh, iya, Shi. Kata Tante Hilda, kamu lagi garap buku baru lagi?” Tanya Papa kembali membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam.
“Hmm.” Jawab Shien singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi, sesekali sudut bibirnya tersungging saat trio komedian itu mengeluarkan lawakan jenakanya.
“Udah selesai?” Tanya Papa lagi, dan kali ini berhasil membuat Shien menoleh ke arahnya dengan memasang raut wajah sedikit merengut.
“Lagi DI-GA-RAP, Pa.” Shien berujar dengan penuh penekanan. Gadis itu lantas mendengus, mengira Papa kehabisan bahan pembicaraan hingga menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.
Papa terkekeh, lalu mencubit hidung putrinya hingga membuat hidung mancung itu memerah. “Iya, tahu. Papa cuma iseng aja nanya kayak gitu.”
Shien sedikit mengerucutkan bibirnya sambil mengusap hidungnya yang sakit, membuat Papa semakin gemas melihatnya.
“Terus, kenapa belum selesai?” Papa kembali bertanya.
“Emm. . . .” Gadis itu menerawang seraya sedikit melipat bibirnya. “Ya belum selesai aja. Lagian, kan, kerjaan aku merangkap. Jadi agak lama buat ngerampungin buku barunya.”
“Kerjaan merangkap atau karena pacaran terus, makannya jadi terbengkalai?” Sindir Papa, membuat kedua bola mata Shien terbelalak, lalu mengerjap. Dari mana Papa tahu? Shien memang sibuk berpacaran akhir-akhir ini, sampai-sampai ia sedikit mengabaikan buku baru yang tengah digarapnya.
“Ihh, siapa yang pacaran? Punya pacar aja engg. . . .”
Shien mencoba berdalih, tapi Papa dengan cepat menyela ucapannya. “Lho, terus cowok yang nyusulin kamu ke Bali siapa?”
Shien terdiam sebentar, memikirkan cowok yang Papa maksud. Dan ingatannya seketika jatuh pada Langit. Tapi, bagaimana Papa bisa tahu? Saat itu ia dan Langit bertemu diam-diam, bukan?
Papa lantas sedikit meringis sambil mengerling, bermaksud meledek putrinya yang mulai memasang wajah panik. “Biar Papa tebak. Dia itu si f*ck boy yang namanya Langit. Benar, kan?”
“Papa. . . .” Bola mata Shien membelalak tak percaya.
“Kenapa? Penasaran kenapa Papa bisa tahu?” Sambar Papa.
“Yaaa, ibarat penjahat. Sepandai-pandainya dia bersembunyi, ujung-ujungnya ketahuan juga. Dan sepandai-pandainya ikan salmon berenang, akhirnya bisa berakhir di atas piring sajian sushi.” Cibir Papa, membuat wajah Shien seketika merengut lucu.
“Kami bukan penjahat.” Protes Shien, sehingga tanpa sadar sudah mengakui hubungannya dengan Langit. Papa yang mendengarnya hanya mengulum senyum penuh ledekan. Putri bungsunya ini ternyata sangat mudah terpancing, tidak perlu berbagai cara untuk mendesaknya, gadis itu dengan mudah mengakuinya sendiri.
“Iya, dan kalian anak nakal.” Balas Papa sambil menyentil ujung hidung Shien gemas.
“Papa lihat semuanya, Shi. Berani-beraninya dia cium-cium anak Papa tanpa izin.” Gerutu Papa kemudian. “Kalau bukan anaknya Wijaya, udah Papa pites dia.” Sambungnya seraya membuat gerakan seperti mematahkan ranting pohon dengan kedua tangannya. Shien yang melihat itu hanya bisa meringis, tidak bisa mengelak lagi.
“Papa. . . , marah?” Tanya Shien ragu sambil melihat wajah Papa takut-takut.
“Marah, sih, enggak. Pacaran itu wajar, kok. Kamu, kan, udah dewasa, udah dua puluh lima tahun. Dan Papa juga bukan orang tua yang kolot yang akan melarang anak-anaknya pacaran.” Papa tersenyum menatap gadis kecilnya yang sudah bertambah besar itu.
Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin gadis itu ia gendong-gendong, ia suapi saat makan, dan mendongeng ketika ingin tidur. Papa mendadak merindukan itu semua, terlebih waktu yang pernah ia habiskan bersama Shien tidaklah banyak. Dan lihatlah sekarang, gadis kecilnya itu tahu-tahu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan mulai mengenal laki-laki yang mungkin saja bisa merebut semua perhatian Shien darinya.
Dan mungkin juga sudah lebih dari sekedar mengenal, gadis kecilnya itu sudah bisa memilih hatiya akan pergi ke mana. Ahh, rasanya Papa ingin memutar waktu. Ia tidak rela putrinya beranjak dewasa begitu saja. Papa cemburu, kini tempatnya di hati Shien sudah bukan dia seorang. Ada laki-laki istimewa lainnya yang bertahta di sana.
“Tapi, Papa kurang suka dengan cara kalian yang sembunyi-sembunyi. Jadi, bilang sama Langit, kalau mau masuk ke rumah itu ya baik-baik, lewat pintu depan, jangan lewat jendela kamar atau pintu belakang.” Ujar Papa penuh dengan kalimat sindiran. Walau bagaimanapun, Papa akan lebih senang jika Langit datang langsung dan memberi tahunya bahwa saat ini dia sedang bersama putrinya.
__ADS_1
“Kalau dia gak berani, jangan harap kalian bisa bertemu secara sembunyi-sembunyi lagi. Papa akan meminta Reno buat jagain kamu 24 jam non-stop.” Lanjut Papa mengancam, sehingga membuat Shien melayangkan tatapan protes padanya.
“Ihh, mana boleh begitu. Emang aku anak kecil?” Shien mendengus mendapati sikap Papa yang mode overprotectivenya mulai on.
“Kamu emang anak kecil yang masih perlu pengawasan.” Ledek Papa sembari menarik pipi sebelah kanan Shien.
Sementara gadis itu hanya mendelik sebal ke arah Papa sambil mengusap-usap pipinya yang terasa panas.
“Makannya suruh Langit datang temui Papa dan Mama buat nunjukin keseriusan dia sama kamu. Kalian sudah cukup umur, Papa gak mau kalian hanya bermain-main dengan status pacaran.”
Sama seperti seorang Ayah pada umumnya, Papa ingin tahu dan mengenal laki-laki yang sudah berhasil meluluhkan hati anaknya. Dan tidak dapat dipungkiri jika Papa juga merasa khawatir bahwa laki-laki yang menjadi pilihan hati anaknya itu tidak bisa menjaganya dengan baik. Bukan perihal ketampanan yang utama, tapi Papa ingin tahu bagaimana sikapnya saat bertemu dengannya. Mungkin Papa terlihat mengintimidasi, tapi ia hanya ingin yang terbaik untuk gadis kecilnya.
Bagaimanapun juga, perasaan seorang Ayah lebih kuat daripada anak gadisnya yang sedang dimabuk asmara. Lagipula, Papa juga laki-laki yang sebelumya pernah berada di posisi Langit, kekasih Shien.
“Tapi jangan galak-galak.” Pinta Shien dengan suara mencicit, ekspresinya antara malu dan takut sekaligus.
“Paling Papa kerjain dikit.” Balas Papa dengan seringai jahil. “Dan Papa gak akan segan-segan minta Langit untuk jauhin kamu kalau dia gak janjiin masa depan buat kamu.” Lanjutnya berubah serius. Namun, hal itu membuat hati Shien meringis sedih.
Adakah masa depan seperti itu untuknya? Akankah Tuhan memberi kesempatan padanya untuk menikah dan hidup bersama Langit lebih lama? Shien tidak yakin.
“Ada apa, nih. Kok bahas masa depan-masa depanan?” Mama yang baru saja datang dari arah dapur dengan satu piring besar berisi potongan buah di dalamnya langsung nimbrung dan duduk di tengah-tengah antara Papa dan Shien.
“Itu lho, Ma. Yang nyusulin Shien ke Bali, terus ngajakin dia main kucing-kucingan.” Sahut Papa, masih dengan kata-kata penuh sindiran disertai lirikan mata meledek.
Mama membulatkan mulutnya membentuk tanda O sambil mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum penuh arti. Sedangkan Shien hanya bisa mendengus saat dihujani ledekan oleh kedua orang tuanya.
“Ohh, iya. Besok malam, Mas Wijaya ngundang kita sekeluarga buat makan malam di rumahnya.” Ujar Mama saat teringat akan hal itu, dan Papa mengatakan kalau ia sudah tahu karena beliau baru saja bertemu dengan Wijaya tadi sore.
“Kamu dandan yang cantik, ya, Shi. Mau ketemu calon mertua, lhoo.” Mama tersenyum meledek seraya merapikan anak rambut putrinya yang sedikit berantakan.
Shien hanya menghembuskan napas sebal dengan wajah merengut masam. “Apaan, sih, Ma?” Lantas memalingkan pandangan dari tatapan Mama yang masih betah meledeknya.
“Lagian aku gak bisa ikut. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” Lanjut Shien memberitahu.
“Ehh, mana bisa gitu.” Protes Mama.
Sementara itu bi balik dinding yang tidak jauh dari sana. Shanna mengepalkan kedua tangan di samping mini dress yang dikenakannya. Awalnya Shanna tidak ingin mempercayai kenyataan yang baru saja diketahuinya saat berada di kamar Shien beberapa saat yang lalu. Namun, tidak lagi saat tidak sengaja Shanna mendengar percakapan Shien dan orang tuanya.
Shanna menatap ketiga orang yang ada di ruang keluarga itu dengan tatapan sedih dan juga marah.
Ternyata memang benar. Shien sudah lebih dulu mengambil Langit. Tidak heran jika laki-laki itu tidak pernah absen menanyakan Shien saat sedang jalan berdua dengannya. Shanna kalah total.
Shien sudah mengambil seluruh perhatian Niel, sahabat kecil Shanna dulu. Dan Shanna harus menahan semua perasaan cemburunya, karena rasa cintanya pada Shien jauh lebih besar.
Tapi kenapa? Kenapa sekarang terjadi lagi? Shanna tidak ingin mengalah. Dia tidak ingin Langit dan Shien bersama. Tidak. Shanna tidak ikhlas.
Ini sudah terlambat, perasaannya pada Langit sudah tumbuh semakin besar. Seandainya Shien mengatakannya lebih awal, Shanna mungkin bisa mundur lebih dulu dan tidak perlu merasakan sakit seolah ia dikhianati adik sendiri, adik yang sangat disayanginya.
Shanna lantas memandang Papa dan Mama yang sedang meledek Shien dengan tatapan sedih. Mereka tahu betul jika ia menyukai Langit lebih dulu, tapi kenapa Papa dan Mama memihak Shien tanpa memikirkan perasaannya?
Selalu seperti ini.
Shanna bahkan tidak tahu apa yang membuat Shien begitu hebat sampai semua orang yang disayangi Shanna berpindah ke tangannya, dan Shien mendapatkan semua itu tanpa harus bertindak.
Apa karena Shien sakit, sehingga membuat gadis itu dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya? Semua orang memberinya perhatian dan memenuhi segala keinginannya karena Shien sakit?
Tapi ini tidak adil.
Kalau Shanna boleh jujur, selama ini Shien selalu membuatnya iri, dan juga benci. Tapi bukan benci pada Shien, melainkan kondisi tubuhnya yang sangat lemah sehingga membuat semua perhatian orang tuanya hanya tertuju pada Shien seorang saat itu.
Shanna iri karena Mama menemani Shien seharian karena gadis itu homeschooling, Mama bahkan jarang datang ke sekolah untuk mengambil raportnya. Mungkin hanya sekali dua kali. Dan Shanna juga iri pada Papa yang langsung menemui Shien saat beliau pulang bekerja.
Karena itulah, Shanna yang memang sudah kurang dalam kemampuan akademiknya dengan sengaja membuat nilai-nilainya semakin merosot dan juga berkelakuan buruk seperti berkelahi dan tidak memperhatikan guru di kelas, hingga akhirnya wali kelas memanggil orang tuanya untuk datang ke sekolah. Dan itu berhasil. Papa dan Mama memberi perhatian penuh kepadanya setelah itu.
Shanna merasa bersalah bila mengingat itu semua, perasaannya bahkan jauh lebih buruk saat melihat wajah sedih Shien karena diabaikan.
Tapi ini bukan sepenuhnya salah Shanna. Ia juga menginginkan perhatian Papa dan Mama, apa itu salah?
__ADS_1
********
“Apa kebetulan kamu punya saudara yang wajahnya sangat mirip?” Shanna tersenyum getir ketika ingatannya akan semua pertanyaan Langit tentang Shien memenuhi isi kepalanya. Gadis itu lantas memutar-mutar gelas berisi wine yang ada di tangannya dengan tatapan kosong.
Sudah lama sekali Shanna tidak menginjakkan kakinya di klub malam. Dulu ia cukup sering datang ke tempat seperti ini untuk sekedar bersenang-senang. Tapi tidak mempan untuk sekarang, suara musik memekakakn telinga diiringi suasana temaram yang biasanya sangat dinikmatinya, tidak ada pengaruhnya sama sekali saat ini.
“Shien itu gimana orangnya?”
“Ehh, aku kira kamu Shien.”
“Shien emang cuek sama semua orang, ya? Apa sama aku doang?Habisnya, dia kayak gak suka sama aku.”
“Shien kenapa susah bergaul?”
“Shien suka makanan apa? Warna sama bunga kesukaannya apa? Tempat favoritnya itu seperti apa? Terus, tipe idealnya itu cowok kayak gimana?”
“Shien ke mana? Kok dia gak ikut?”
“Shien. . . .”
“Shien. . . .”
“Shien. . . .”
Dan masih banyak lagi semua kalimat tentang Shien yang keluar dari mulut Langit. Seharusnya Shanna sadar lebih awal, bukan terus menyangkalnya. Sekarang Shanna harus bagaimana?
Shanna lantas menutup mata dengan sebelah tangan untuk menyembunyikan tangisnya. Gadis itu terisak dalam diam.
“Kenapa, Shi? Kenapa kamu gak bilang dari awal?” Shanna pernah mengatakan jika ia bisa melepaskan Langit untuk Shien, bukan? Tapi perasaannya sudah terlalu dalam sekarang, rasanya Shanna tidak bisa melakukan itu.
“Kenapa kamu bilang gak tertarik, tapi nyatanya. . . .” Shanna tersenyum sarkas dalam tangisnya. Ia merasa dibodohi.
Mengusap air mata yang membasahi wajahnya, Shanna kemudian menenggak minumannya hingga habis dalam sekali tegukan. “Brengsek kamu, Shi.”
Gadis itu lalu membanting gelas yang beberapa detik lalu terisi wine ke atas meja sampai bunyi dentingan nyaring terdengar.
“Aku gak akan nyerah buat perjuangin sesuatu yang seharusnya jadi milik aku, Shi.” Shanna masih bergumam dalam hati.
Tentu saja Shanna tidak akan menyerah semudah itu hanya karena Shien adalah adiknya. Dia akan menunjukkan pada Langit bahwa dirinyalah yang lebih pantas untuk bersanding dengannya, bukan Shien.
Lantas tanpa ragu, Shanna menenggak wine dari botolnya secara langsung. Shanna butuh alkohol untuk menghilangkan kegusaran hatinya saat ini.
Shanna membenci Shien sebanyak ia mencintainya. Ia harus apa? Dan air mata gadis itu kembali jatuh seiring dengan minuman hasil fermentasi itu mengalir di kerongkongannya.
“Gak baik buat gadis cantik mengkonsumsi banyak alhohol.” Seseorang tiba-tiba merebut botol wine yang sedang Shanna tenggak isinya.
Gadis itu otomatis menoleh dengan tatapan sebal untuk melihat siapa orang yang sudah berani menghentikannya minum. Shanna bahkan belum merasakan efeknya.
“Dokter Nathan?” Alis Shanna terangkat sebelah begitu ia mendapati sosok laki-laki tampan yang tampak berkilauan layaknya bunga yang sedang mekar, duduk di sebelahnya sambil melemparkan senyum yang sangat manis. Jika hati Shanna tidak sedang terikat pada Langit, mungkin ia akan terpesona melihat itu.
“Kembalikan.” Pinta Shanna dingin sambil berusaha merebut botol wine itu dari tangan Nathan, namun Nathan mengangkat tinggi-tinggi botol tersebut hingga Shanna kesulitan untuk menjangkaunya.
“Aku bilang kembalikan, Dokter Nathan.” Shanna mengeraskan rahang, menahan emosi. Berani-beraninya dokter adiknya ini membuatnya kesal. Mereka bahkan tidak cukup dekat, hanya sebatas kenal karena dia dokternya Shien.
“Ups.” Nathan tampak tersenyum puas, menatap cairan berwarna merah pekat itu mengalir dari bibir botol dan jatuh tepat ke lantai. Shanna yang melihat Nathan sengaja menumpahkan wine miliknya hanya menggeram kesal dan menatap laki-laki itu marah.
“Aku bisa menggantinya.” Ucap Nathan santai setelah mengosongkan botol wine Shanna. “Tapi dengan yang lebih sehat tentunya.” Sambungnya kemudian seraya meletakkan botol yang terbuat dari kaca itu ke atas meja.
Shanna mendengus, tidak menyahutinya. Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya dengan gerakan menyentak. Niat hati ingin menghibur diri, tapi dokter yang sok akrab itu malah semakin mengacaukan hatinya. Benar-benar hari yang buruk.
“Mau ke mana?” Nathan menahan lengan Shanna cepat.
“Bukan urusan kamu.” Shanna menghempaskan tangan Nathan yang bertengger di lengannya, kemudian berlalu keluar dari klub malam tersebut, meninggalkan Nathan yang memandangi punggungnya dengan sorot mata tak terbaca.
********
To be continued. . . .
__ADS_1