
********
Langit merutuki dirinya sendiri. Bukan karena merasa ceroboh, tapi karena ia tidak sadar jika ternyata masih ada satu foto kebersamaannya dengan Jingga yang masih belum ia buang. Perasaan, dulu ia sudah membabat habis semuanya begitu memutuskan untuk move on.
Dan sekarang Shien salah paham padanya gara-gara selembar foto itu. Tapi, jika Langit berada di posisi Shien, ia juga tidak mungkin tidak akan salah paham. Langit sangat mengerti itu.
“Jangan marah. Aku bisa jelasin, Shi.” Langit bangkit berdiri dengan cepat, lalu menahan lengan Shien yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
Shien memejamkan matanya singkat diiringi helaan napas dalam. Shien tidak marah. Hanya sedikit kecewa, juga kesal. Mungkin juga cemburu.
“Aku gak marah.” Ujar Shien malas. “Aku emang mau pulang aja. Mama udah nanyain.” Gadis itu tidak bohong, Mama memang sudah berulang kali mengiriminya pesan singkat yang isinya menanyakan keberadaan dan meminta Shien untuk segera pulang. Wanita itu pasti sedang khawatir sekarang karena Shien tidak pulang bersama Reno dan kabur begitu saja. Bukan kabur, sih. Lebih tepatnya, Shien sedang pacaran tapi main belakang.
“Iya, tapi nanti pulangnya aku antar. Bilang aja sama Tante Risa kalau kamu lagi sama aku. Atau biar aku yang bilang langsung sama Tante Risa, gimana?” Langit semakin kuat mencekal lengan Shien.
“Aku mau pulang sekarang.” Tak mengindahkannya, Shien berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Langit, namun tidak berhasil.
“Tapi kamu harus dengerin penjelasan aku dulu, Shien.” Seru Langit. Suaranya terdengar meninggi dari sebelumnya. “Aku gak mau kamu salah paham.”
“Aku gak ada salah paham apa-apa.” Sahut Shien seraya memalingkan wajahnya. Pandangannya mencuat ke bawah, menatap foto keakraban Langit dengan gadis cantik itu yang masih tergeletak di lantai.
“Shien. . . .” Langit menarik tubuh gadis itu dan membenamkannya ke dalam pelukannya, namun Shien berusaha menghindar.
“Lepasin aku.” Pinta Shien dengan suara lemah.
“Aku tahu kamu terkejut lihat foto itu. Kamu marah, kan?” Shien bergeming, Langit memang sangat peka. Tapi Shien benar-benar akan sedih jika dugaannya benar. Shien takut jika Langit masih mencintai gadis itu dan hanya menjadikannya sebagai pelampiasan.
“Tapi, lebih baik kamu dengerin penjelasan aku. Foto itu gak ada artinya sama sekali buat aku sekarang.” Ujar Langit selembut mungkin.
Dan pernyataan Langit di akhir kalimatnya membuat Shien merasa semakin kesal. Gadis itu lantas mendongakkan kepala, memberanikan diri untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit.
“Sebelumnya berarti banget kayaknya.” Sindir Shien ketus.
Langit yang mendengar itu, dan melihat ekspresi kesal di wajah Shien malah tersenyum.
“Makannya kamu dengerin penjelasan aku dulu biar gak cemburu.” Langit lantas menjawil ujung hidung Shien gemas. Gadis itu cemburu hanya karena selembar foto, jelas saja Langit senang bukan main.
“Siapa juga yang cemburu?” Sanggah Shien sambil menepis tangan Langit yang kini menangkup kedua sisi wajahnya.
“Kamu.” Lalu dengan gemas Langit menyambar bibir kemerahan milik Shien sekilas. Gadis itu mendengus, bisa-bisanya Langit menciumnya saat dirinya sedang kesal.
“Ayo kita duduk dulu, hem?” Tanpa menunggu persetujuan Shien, Langit membimbing gadis itu yang semula menolak ajakannya untuk duduk di tepian tempat tidur. Langit kemudian mendaratkan tubuhnya tepat di samping Shien.
Terdiam sejenak, Langit meraih satu tangan Shien untuk digenggamnya, tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Shien yang tampak kesal itu.
“Shien, kamu pasti bertanya-tanya siapa dia? Apa hubungan dia sama aku? Dan juga, kenapa bisa terlihat sangat dekat. Iya, kan?” Langit mulai angkat suara.
Langit akan menceritakan semuanya pada Shien, dia tidak ingin menyembunyikan apapun agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Namanya Jingga. Dia itu sahabat dan juga saudara ipar aku. . . .”
Semuanya keluar dari mulut Langit tanpa ada yang terlewat satu pun. Langit menceritakan kepada Shien tentang persahabatannya bersama Jingga yang sudah terjalin sejak kecil, tentang dirinya dan Jingga yang sudah tumbuh bersama hingga terbiasa dengan kehadiran masing-masing dan saling membutuhkan, tentang Jingga yang sudah membawanya keluar dari keterpurukan saat dirinya mengalami aphasia karena ibunya meninggal, tentang dirinya yang jatuh cinta pada Jingga ketika melihat gadis itu mengenakan seragam SMA, sampai pada kisah dimana dirinya harus merelakan Jingga untuk bersama dengan orang yang dicintainya, semuanya mengalir bagaikan air.
Shien mendengarkannya dengan seksama, sesekali mengerucutkan bibirnya lucu karena cemburu dengan kedekatan mereka, terlebih cinta Langit yang begitu besar untuk Jingga, Shien sangat cemburu. Gadis itu juga sedikit sedih karena ternyata cinta pertama Langit bukanlah dirinya, termasuk ciuman pertamanya, juga bukan Shien. Padahal, Langit adalah yang pertama untuk Shien.
Tapi kemudian, Shien meringis, ia berpikir jika nasib Langit miris sekali. Dia seperti Tinkerbell yang mencintai Peter Pan-nya.
Langit benar-benar memiliki hati yang besar. Tapi tetap saja, Shien sangsi jika laki-laki yang sedang menggenggam tangannya ini sudah move on dari gadis bernama Jingga itu. Terlebih Jingga adalah paket lengkap. Mendengar cerita Langit, Shien bisa menilai jika Jingga adalah gadis yang baik hati, periang, dan tentunya sangat cantik. Jangan lupakan dia juga seorang dokter spesialis jantung yang hebat.
Gadis itu seperti peri. Shien jadi insecure, bahkan hanya dengan melihat wajah Jingga di foto. Pantas saja Langit jatuh cinta padanya. Ahh, Shien merasa selera Langit jadi sedikit anjlok. Dalam artian bahwa Jingga jauh lebih segalanya daripada Shien.
“Berapa kali kamu cium dia?” Tanya Shien dengan delikan sebal. Langit hanya menjawab dengan mengacungkan satu jari telunjuknya.
“Ahh. . . .” Pekik Langit sambil menekap mulutnya selepas Shien mendaratkan satu pukulan di bibirnya menggunakan telapak tangan.
“Kok aku dipukul?” Langit menatap Shien penuh protes.
“Itu karena kamu udah berani cium aku pake bibir bekas pakai.” Langit melongo takjub. Gadis ini benar-benar cemburu rupanya, sampai-sampai bisa megeluarkan kalimat konyol seperti itu.
__ADS_1
“Aku cuma pernah cium dia di pipi lho, Shi. Mana bisa kamu bilang bekas pakai.” Laki-laki itu lantas melakukan pembelaan diri. Karena yang ia tahu dari drama Korea, yang namanya first kiss itu ya lips to lips kiss. Dan itu Shien yang mendapatkannya.
“Ini curang.” Ucap Shien pelan seraya memalingkan wajahnya.
“Pengalaman pertama aku semuanya sama kamu, tapi kamu. . . .” Shien mendesah, memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Mau bagaimana lagi? Shien bukanlah orang yang bisa melompat ke masa lalu untuk memperbaiki sejarah.
“Shien, hei. . . .” Langit meraih dagu gadis itu, lalu menariknya ke hadapannya agar pandangan mereka bertemu. Namun, gadis itu masih enggan untuk menatapnya.
Tangan Langit lantas beralih menangkup kedua sisi wajah Shien dan menatap lekat-lekat wajah gadisnya yang tampak merengut itu. Ternyata Shien sangat menggemaskan saat dia cemburu.
“Dengerin ya, Nona Shien yang kaku.” Langit terdiam sejenak sambil mengulum senyumnya. “Walaupun kamu bukan yang pertama, tapi aku pastikan kamu menjadi yang terakhir dan selamanya buat aku.”
Shien mencebik, tidak ingin terbuai dengan kalimat yang dilontarkan Langit.
“Dan jadi yang terakhir gak terlalu buruk, kan, sayang?” Langit mengusap-usap lembut sisi wajah Shien dengan ibu jarinya.
Sementara Shien sudah dibuat berdebar tak karuan mendengar kata terakhir yang diucapkan Langit. Shien seperti sedang melayang di atas gumpalan awan yang seperti kapas.
“Kamu gak keberatan kan, untuk menjadi penghuni terakhir di hati aku?” Lalu Langit membawa satu tangan Shien untuk diletakkan di dadanya.
“Shienna, I want you to be my last love.”
Shien masih bergeming. Mulut Langit benar-benar manis, sehingga setiap kalimat yang diucapkannya selalu mampu meluluhkan hati Shien. Seperti saat ini, Shien merasa kekesalannya perlahan melebur. Gila memang. Hatinya seolah benar-benar mengagumi Langit. Ahh, Shien ingin memarahi hatinya sendiri karena sudah tidak bisa dikontrol dengan otaknya.
“Cause I can’t imagine spending life with anyone else.” Lanjut Langit sembari mencium telapak tangan Shien yang tadi ia letakan di dadanya.
“Aku gak mau.” Sahut Shien dingin yang sontak membuat raut wajah Langit berubah datar dan perlahan melepaskan tangan Shien dari genggamannya. Namun itu tidak lama, karena detik berikutnya Shien berhambur memeluknya. Gadis itu melingkarkan tangannya erat pada bahu Langit.
“Antonim.” Langit tersenyum kesal, lalu merengkuh tubuh gadis itu dan mengeratkan pelukannya. “Ngagetin tahu, gak?” Dengusnya kemudian.
“Tapi aku ragu kalau kamu udah move on.” Ujar Shien, mengungkapkan kegusaran hatinya.
“Ya ampun, Shien. . . .” Langit menarik diri untuk membuat sedikit jarak diantara dirinya dan Shien. “Kalau aku belum move on, mungkin sekarang udah gangguin rumah tangga mereka.”
“Tapi kamu masih ngigau nyebut nama dia pas kamu tidur.” Sambar Shien yang merasa familier saat Langit menyebut nama Jingga tadi. Dan Shien teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat ia dan Langit terjebak di dalam lift. Laki-laki itu menyebut nama Jingga dengan raut wajah sedih. Shien masih ingat betul itu.
“Pas kita kejebak di lift, kamu ketiduran, terus teriak-teriak manggil nama dia sambil nangis.” Terang Shien bersungut-sungut, dan sedikit melebih-lebihkan.
Dulu Shien tidak masalah melihat itu. Tapi karena situasinya sekarang sudah berubah, mengingat hal itu membuatnya kesal.
“Jangan melebih-lebihkan cerita kayak tukang gosip.” Langit menarik hidung Shien gemas. Ia tahu Shien menambahkan bumbu dalam ceritanya.
“Tapi bagian ngigaunya itu bener.” Wajah Shien merengut, lalu ia mengusap hidungnya yang memerah akibat tarikan tangan Langit.
“Kamu pasti lagi mimpiin dia waktu itu.” Imbuhnya kemudian dengan bibir mengerucut lucu.
“Aku gak ingat.” Balas Langit memasang raut wajah polos.
“Ya gak bakalan ingat, lah. Orang tidur mana ada yang sadar?” Seru Shien sengit.
Langit tak menyahuti, ia hanya menatap Shien sambil senyum-senyum. “Kamu gemesin tahu kalau lagi cemburu.” Dan ditariknya sebelah pipi Shien dengan gemas, membuat gadis itu mengaduh.
“Aku gak cemburu.” Elak Shien seraya melepaskan pandangannya dari Langit untuk menghindari kontak mata dengan laki-laki itu.
“Enggak, berarti sebaliknya.” Balas Langit dengan senyum meledek, lalu kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
“Trust me.” Ujar Langit seraya membelai rambut halus Shien penuh sayang.
“Aku gak tahu gimana caranya ngeyakinin kamu. Tapi, aku mau kamu tahu satu hal ini, kenyataan kalau sekarang aku hanya mencintai kamu, selalu, setiap hari, dan setiap saat.” Shien bergeming, ia membiarkan wajahnya terbenam di dada bidang Langit hingga aroma tubuhnya yang maskulin tercium jelas. Dan rasanya sangat menyenangkan, mungkin ini yang dinamakan feromon.
“Di kehidupan berikutnya, aku pastikan kamu jadi yang pertama, terakhir, dan selamanya.” Shien hanya mencebik dalam dekapan Langit. Bingung harus terharu atau geli. Langit benar-benar memiliki mulut yang manis.
“Aku pasti. . . .” Langit menghela napas sejenak, sebeum kemudian melanjutkan kalimatnya. “Akan menemukan kamu lebih awal dan mencintai kamu lebih lama.”
“Caranya?” Tanya Shien masih dalam dekapan laki-laki itu. “Kamu mau maksa Tuhan?”
“Yang benar itu memohon.” Langit dengan gemas mencubit pelan pinggang Shien. Sangat pelan, nyaris seperti gelitikan hingga membuat Shien terkekeh.
__ADS_1
“Waktu kecil kamu kebanyakan dikasih makan permen, ya?” Shien mendongakkan kepala untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit.
Dahi Langit mengernyit, tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Shien.
“Mulut kamu ini. . . .” Shien lantas mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada bibir Langit. “Kemanisan.” Lanjutnya, membuat Langit terkekeh pelan mendengar itu.
“Aku jadi gak bisa ngebedain mana yang serius dan mana yang gombal.” Sambung Shien kemudian, tatapannya penuh dengan cibiran.
Langit meringis, ia tahu Shien sedang meledeknya. “Kalau gitu, anggap aja gombal yang serius.” Dan satu kecupan singkat mendarat tepat di bibir gadis itu.
“Hiish.” Shien mendengus seraya memukul dada Langit pelan.
“Kenapa?” Tanya Langit dengan senyum meledek tersungging di salah satu sudut bibirnya. “Lebih manis kayak gini, kan?” Lalu mengedipkan sebelah matanya, bermaksud menggoda gadis itu. Namun, Shien memilih untuk tidak menyahutinya dan membenamkan wajahnya kembali di dada Langit dengan pelukan yang semakin erat.
Langit tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk menggodanya, Shien bisa digoda habis-habisan jika ia meladeninya.
“So?” Langit membenamkan bibirnya di puncak kepala gadis itu penuh sayang. “Kamu percaya, kan, sama aku?”
“Terpaksa.” Jawab Shien, membuat wajah Langit merengut. Tapi itu tidak lama, karena Langit tahu Shien tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Shien mempercayainya.
“Terpaksa atau enggak. Kamu emang udah seharusnya percaya sama aku.” Elusan lembut Langit berikan di bagian punggung gadis itu.
“Aku sama Jingga cuma berteman, dia udah kayak saudara aku, gak lebih. Aku harap, kamu bisa menerima kenyataan itu.” Shien mengangguk dalam dekapan Langit.
“Nanti aku bawa kamu ketemu Jingga.” Dan sekali lagi, Shien hanya menjawab dengan anggukkan. Langit tersenyum lega melihatnya, Shien sangat patuh.
“Ohh, iya. Kita juga harus cari waktu buat ngasih tahu orang tua kita.” Langit membayangkan bagaimana reaksi Papanya jika mendengar ini. Beliau pasti akan sangat senang.
Sementara Shien yang mendengar itu langsung mendongak, menatap Langit dengan sorot tak terbaca. “Emmm, aku. . . .” Shien terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu.
“Tenang aja, aku akan nunggu kamu siap.” Potong Langit cepat. Ia jelas melihat ketidaksiapan di mata Shien. Entah kenapa, Langit tidak ingin menanyakannya.
Langit tidak ingin memaksa Shien, ia bisa menunggu sampai gadis itu benar-benar siap.
“Makasih kalau gitu.” Shien sedikit lega mendengarnya.
Tunggu sebentar, sampai hubungan Shien dan kedua orang tuanya kembali membaik. Dan juga, Shien perlu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Shanna. Kakaknya itu pasti akan kecewa atau bahkan marah padanya.
Shien ingin berbicara mengenai Shanna pada Langit, tapi rasanya sekarang bukan waktunya.
“Bilang makasih itu harus sama imbalannya.” Ujar Langit sambil menunjuk bibirnya sendiri.
Shien mendengus, lalu mendorong tubuh Langit hingga tercipta jarak diantara mereka. “Katanya, kalau keseringan cium-cium bisa mati.” Ucapnya asal. Sudah cukup, tidak ada ciuman lagi. Hari ini sudah tak terhitung berapa kali mereka melakukannya. Dan juga, Shien takut jika dirinya dan Langit kehilangan kendali. Terlebih mereka sedang berada di dalam kamar.
“Teori dari mana, tuh?” Langit tertawa kesal mendengar penuturan tak berdasar Shien. “Kalau yang ciumnya Drakula, aku percaya.”
Langit mendekatkan dirinya untuk menyambar bibir manis yang memabukkan milik Shien, tapi gadis itu dengan cepat menghindar dengan beranjak dari posisinya.
“Cukup untuk hari ini. Sekarang, antar aku pulang, Dokter Langit.” Ujar Shien, tak mempedulikan Langit yang memasang wajah cemberut hingga terlihat lucu.
“Tanggung banget. Sekalian udah di kamar. . . .” Langit mengelus punggung tangan Shien yang sedang digenggamnya, sorot matanya memandang Shien penuh menggoda. “Kita bisa itu dulu. . . .”
“Bisa apa?” Sela Shien kesal. Wajah gadis itu memerah, menerka-nerka maksud ucapan Langit.
“Bisa apa aja, makan atau baca buku di kamar juga gak ada larangannya. Wlee.” Langit menjulurkan lidahnya, lalu tergelak puas karena sudah berhasil mengerjai gadisnya itu.
“Ihhh.” Gadis itu lantas mencubit perut Langit penuh kekesalan. Rasanya, Shien ingin mencabik-cabik mulut laki-laki di hadapannya ini sekarang juga.
“Wajah kamu merah, tuh.” Dan Langit malah semakin gencar meledeknya. “Mikir yang aneh-aneh, kan? Haha.” Langit memegangi perutnya yang kaku karena terlalu banyak tertawa.
Shien menggeram kesal melihat itu. Menghentakkan kakinya, ia lantas berlalu pergi meninggalkan Langit sembari berusaha menghubungi seseorang.
“Reno, bisa jemput aku sekarang?” Shien dengan sengaja mengeraskan suaranya sambil terus berjalan.
Langit yang mendengarnya refleks melompat, mengejar Shien yang sudah mencapai pintu kamar. “Mana bisa kayak gitu?”
********
__ADS_1
To be continued. . . .